Pages

24 Agustus 2009

Memiliki Hati yang Terbuka bagi Sesama





Ada seorang pasien yang dirawat di salah satu rumah penampungan Ibu Teresa di Calcuta. Menjelang akhir hidupnya, pasien itu berkata, “Semasa hidupku, aku gelandangan seperti binatang. Tidak ada yang mau peduli. Tetapi sekarang aku mau mati, kok bisa seperti bidadari. Ada yang merawat, ada yang mengasihi...”

Begitulah cara Ibu Teresa peduli terhadap penderitaan sesamanya. Ia membawa para penderita di jalan-jalan kota Calcuta ke tempat penampungan miliknya. Di sana ia merawat mereka. Ia memberi mereka kesempatan untuk menghabisi hari-hari hidup mereka secara manusiawi. Bukan seperti binatang yang tergolek lesu di sudut-sudut kota.

Kata-kata pasien itu merupakan suatu cetusan hati yang tulus dan jujur. Ia mengucapkan terima kasih atas semua pelayanan kasih dari Ibu Teresa. Suatu jamahan kasih yang memberikan pengharapan hidup bagi mereka yang menderita.

Tentang kepeduliannya terhadap sesama, Ibu Teresa berkata, “Kalau semasa hidup mereka tidak layak sebagaimana seorang manusia hidup, biarlah sewaktu mati, mereka boleh mati sebagaimana layaknya seorang manusia mati.” Menurutnya, mereka yang miskin dan menderita harus tahu bahwa kita mengasihi mereka. Mereka tidak perlu rasa iba, tetapi mereka perlu tindakan nyata.

Begitu penting perhatian kita terhadap sesama yang mengalami penderitaan. Coba kita bayangkan kalau kita adalah orang yang sedang menderita. Kita tidak punya apa-apa untuk membantu kita keluar dari penderitaan kita. Apa jadinya? Kita pasti butuh bantuan sesama. Kita perlu perhatian dari sesama. Sedikit bantuan pasti sangat bermakna bagi hidup kita.

Kisah pasien di atas menunjukkan bahwa hidup itu begitu bernilai. Kasih seorang Ibu Teresa menggerakkan hati sang pasien untuk memiliki semangat dalam meneruskan hidupnya. Hidup itu tidak bisa dimusnakan begitu saja. Hidup itu berharga di mata Tuhan.

Karena itu, Tuhan mengirim orang-orang yang memiliki hati yang terbuka oleh penderitaan sesamanya. Tuhan sendiri tidak menghendaki ada ciptaanNya yang binasa. Tuhan selalu peduli terhadap keselamatan manusia. Untuk itu, Tuhan menggerakkan manusia untuk mempunyai kepedulian terhadap sesama.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk membuka hati kita bagi penderitaan sesama di sekitar kita. Hati yang terbuka itu akan membuat kita mudah mengulurkan tangan bagi mereka yang mengalami duka nestapa.

Mari kita berusaha untuk semakin memiliki hati yang peduli terhadap mereka yang sedang menderita. Hati kita juga semestinya merasa menderita ketika menyaksikan sesama menderita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

145

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.