Pages

15 Oktober 2010

Menyambut Sesama dengan Tulus

Ada seorang teman yang selalu memperlakukan sesamanya dengan sangat baik. Ia selalu menyapa mereka dengan sapaan yang meneduhkan hati. Meskipun pagi hari ia sudah menyapa temannya, ia akan menyapa lagi begitu ia berjumpa lagi dengannya. Ia membiarkan senyumnya mengawali hari-hari hidupnya. Dengan begitu, ia berharap orang yang disapanya itu akan menemukan kegembiraan pada hari itu.

Tentang hal ini, ia berkata, ”Saya ingin hidup ini menjadi bermakna. Saya ingin setiap orang menemukan sukacita dalam hidupnya. Saya tidak ingin ada orang yang hidup di dekat saya selalu menggerutu tentang hidupnya.”

Untuk itu, teman saya itu juga mengorbankan waktu-waktu luangnya untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya. Ia tidak memilih-milih sahabat mana yang dia kunjungi. Baginya, setiap orang itu sama. Setiap orang membutuhkan perhatian yang sama. Karena itu, setiap tetangganya ia kunjungi.

Reaksi dari tetangganya sangat simpatik terhadap apa yang dilakukan oleh teman saya itu. Mereka merasa bahwa ada orang yang begitu peduli terhadap hidup mereka. Ada orang yang mengorbankan waktunya untuk mau menyapa sesamanya. Hidup mereka menjadi indah. Begitu bermakna.

Sahabat, kita sering menganggap diri kita adalah orang baik. Akibatnya, kita menunggu orang lain untuk menyapa kita. Kita menunggu orang lain memberikan perhatian kepada kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dalam hidup ini.

Ada orang yang mau menerima sesamanya dengan hati terbuka, ketika sesamanya itu memiliki kekayaan. Atau paling tidak penampilannya menggiurkan hati. Ia hanya mau menerima orang yang bungkus luarnya indah dan menarik. Misalnya, orang yang mengunjunginya itu pakai mobil mewah merek terbaru. Kalau sampai orang yang mendatanginya itu berpakaian compang-camping yang hanya menggunakan kendaraan sederhana, ia akan menolaknya.

Ini yang disebut dengan pilih-pilih orang. Padahal Tuhan menciptakan semua orang itu sama. Tuhan telah memberi harkat dan martabat yang sama. Bungkus luar yang bagus, indah dan menawan itu belum tentu sama dengan isinya. Bisa saja bungkus luar yang mempesona itu hanya suatu kamuflase. Bukankah manusia pandai berkamuflase, agar orang dapat menerima dirinya dengan baik?

Sebagai orang beriman, kita diharapkan menerima siapa saja yang datang kepada kita. Orang beriman itu orang yang tidak memilih-milih teman dalam hidupnya. Orang beriman itu tidak menyingkirkan sesamanya yang kurang menawan dan yang miskin. Orang beriman itu selalu menyambut kedatangan setiap orang ke dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa hanya dengan menerima kehadiran semua orang, kita akan dapat membahagiakan sesama. Kebahagiaan itu mesti tumbuh dari diri kita sendiri. Kebahagiaan itu mesti diciptakan dari hati yang tulus dan jujur. Hanya dengan cara demikian, dunia ini akan menjadi tempat yang aman dan damai bagi hidup manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

526

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.