Pages

15 Juni 2011

Menyediakan Diri untuk Melayani Sesama





Suatu hari seorang ibu tertegun. Darah di seluruh tubuhnya terasa berdesir lebih cepat. Jarum jam menunjuk pukul 12 tengah malam.

Seorang pemuda sedang menyikat lantai. Di sampingnya tergeletak sebuah ember berisi air. Tak jauh dari situ terdapat cairan pembersih. Mata ibu itu berkaca-kaca. Ia hampir tidak bisa percaya pemuda itu adalah anaknya sendiri.

Ia tidak menyangka anaknya mau melakukan hal itu. Menyikat lantai dan mengepel. Di dadanya masih melekat “celemek” warna hijau dengan sebuah logo yang sangat dikenal: Starbucks. Sudah hampir tiga bulan anaknya magang kerja di Starbucks. Pekerjaan utamanya adalah membuat kopi dan melayani pembeli. Menjelang tutup, bergantian dengan teman-teman sekerjanya, dia menyapu, bersih-bersih, buang sampah, termasuk mengepel atau menyikat lantai.

Menyaksikan anaknya melakukan pekerjaan itu, ada rasa haru yang menyesakkan dada ibu itu. Sudah sejak lama ia ingin anaknya bekerja seperti itu. Beberapa waktu lalu ia pernah sedikit memaksa, agar sang anak melamar di salah satu restoran cepat saji terkenal. Sayang, lamarannya tidak pernah mendapat jawaban. Berkali-kali dicoba, tetapi yang terakhir jawaban yang diterima adalah mereka belum membutuhkan tenaga magang.

Ibu itu mendorong anaknya untuk magang di restoran cepat saji, karena ia ingin sang anak merasakan apa yang dirasakan para pelayan restoran. Ibu itu berkata, “Saya ingin dia berempati terhadap pekerjaan pramusaji. Sebab selama ini dia selalu berada pada posisi yang dilayani. Bagaimana rasanya jika sebaliknya, dia yang harus melayani?”

Setelah gagal magang di restoran cepat saji, sang anak akhirnya diterima magang di Starbucks. Sejak awal ibu itu sudah menyiapkan mental anaknya untuk menerima keadaan terburuk sebagai pelayan: mendapat perlakukan kasar dari pembeli.

Sahabat, seorang guru spiritual mengatakan bahwa ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Ia menyadari bahwa kedatangannya ke dunia ini untuk membawa kebahagiaan bagi manusia. Karena itu, manusia mesti diajar untuk saling melayani. Bukan hanya menunggu untuk dilayani oleh orang lain.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup untuk melayani sesama. Mengapa? Karena ketika saling melayani, kita mau menampakkan sikap kesiapsediaan untuk membantu orang lain. Karena itu, kita mesti belajar untuk saling melayani. Kita mesti belajar untuk menyediakan diri, ketika orang lain membutuhkan pelayanan dari kita.

Sering orang berpandangan bahwa menjadi pelayan itu menjadi orang rendahan. Orang yang martabatnya lebih rendah dari orang lain. Tentu saja pandangan seperti ini pandangan yang keliru. Menjadi pelayan berarti orang menyediakan dirinya untuk membahagiakan orang lain melalui pelayanannya. Orang yang dengan tulus hati mau mengabdikan hidupnya bagi sesama. Karena itu, melayani itu pekerjaan yang mulia. Suatu pekerjaan yang membahagiakan diri dan sesama.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa siap sedia melayani sesama. Artinya, kita mau menyediakan diri dengan setulus hati membahagiakan sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

699

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan mengisi