Pages

19 Februari 2012

Menerima Rahmat Tuhan bagi Hidup

Apa yang akan Anda lakukan saat Anda merasa takut? Anda lari dari kenyataan itu? Atau Anda berusaha untuk menghadapinya dengan hati yang tulus dan tegar?

Suatu hari seorang ibu memeluk anaknya erat-erat. Sang anak sedang tenggelam dalam ketakutan yang mendalam. Selidik punya selidik, sang anak trauma terhadap kegelapan. Pernah sang anak menghilang dalam kegelapan. Ia tidak tahu mau ke mana. Semua serba gelap. Setelah mencari jalan untuk keluar dari kegelapan itu, ia menabrak tembok. Keras sekali. Akibatnya, tiga gigi bagian atasnya lepas. Darah mengucur dari mulutnya. Ia menjerit kesakitan. Namun tidak ada orang dapat membantunya.

Karena itu, setiap kali ia menghadapi kegelapan, ia menjadi takut. Sang ibu kemudian memeluknya erat-erat. Saat seperti itu menjadi saat yang nyaman bagi anak itu. Ia tidak perlu takut lagi. Ia boleh mengalami damai dalam pelukan ibunya. Kegelapan seketika lenyap.

Anak itu mengatakan bahwa bersama ibunya menjadi saat yang indah. Saat kegelapan lenyap dari dirinya. Ia merasakan ibunya sebagai orang yang telah menyelamatkan dirinya dari rasa takut. Ibunya telah memberikan rasa tenang baginya. Karena itu, setiap kali ia merasa takut ketika berada dalam kegelapan, ia berusaha untuk memeluk ibunya.

“Ibu memberikan rasa damai kepada saya. Ibu begitu baik. Ibu telah memberi kesempatan bagi saya untuk mengalami kasihnya yang tulus,” kata anak itu.

Sahabat, pernahkah Anda mendapatkan perlakuan yang kejam dari orang yang telah melahirkan Anda? Kalau Anda mengalaminya, mungkin di saat itu ibu Anda sedang mengalami depresi. Kondisi kejiwaannya tidak normal. Mungkin dia sedang mengalami tekanan kejiwaan yang luar biasa. Karena itu, dibutuhkan suatu kesabaran dalam menghadapi kondisi yang demikian.

Kisah di atas menggambarkan suatu suasana kedamaian yang dialami oleh sang anak saat dekat dengan ibundanya. Kasih yang tulus mendamaikan sang anak yang sedang mengalami trauma kegelapan. Ia memeluknya dengan cinta yang sangat menguatkan sang anak. Ketakutan itu seketika hilang saat berhadapan dengan kasih yan tulus itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita berhadapan dengan berbagai persoalan hidup. Namun kita tidak boleh gegabah dalam hidup ini. Kita mesti berani menyelesaikan persoalan-persoalan itu dengan hati yang lapang. Kita mesti tampilkan kasih yang tulus dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Hanya dengan cara itu, kita menemukan ketenangan dalam hidup sehari-hari.

Orang beriman tentu saja menumbuhkan kasih yang tulus itu dengan bantuan rahmat Tuhan. Untuk itu, orang mesti terbuka akan rahmat Tuhan. Setiap saat Tuhan mencurahkan rahmat-Nya kepada manausia. Sering manusia tidak menyadari hal ini. Manusia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Manusia lebih mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.

Mari kita berusaha untuk menerima setiap rahmat Tuhan dengan membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Dengan demikian, kita mengalami damai dan sukacita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


874

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan mengisi