Pages

08 Oktober 2015

Terbuka kepada Bantuan Orang Lain



Ketika Anda mengalami kesulitan dalam hidup Anda, apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin, Anda akan memohon bantuan dari Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekitar Anda.

Ada seorang raja hendak pergi ke pulau seberang. Dia menemui seorang nelayan untuk membeli sebuah perahu. Si raja sangat marah, ketika nelayan itu tidak mau menjual perahunya.

Raja itu berkata, “Dasar bodoh! Apa masih kurang uang yang aku berikan kepadamu? Katakan berapa uang yang kamu inginkan, maka aku akan memberikannya padamu.”

Nelayan itu berkata, “Bukan begitu, raja. Ini adalah perahu saya satu-satunya. Jika raja ingin pergi, maka saya akan dengan senang hati mengantarkannya tanpa harus membeli perahu saya.”

Raja semakin murka mendengar kata-kata nelayan itu. Lantas raja berkata, “Aku tidak butuh bantuanmu. Kau bisa membeli perahu yang lebih besar dari perahumu sebelumnya.”

Dengan tenang, nelayan itu berkata, “Uang tidak akan bisa menjamin keselamatanmu, raja. Saya tahu betul keadaan laut dan perahu ini. Biarkan saya mengantar tuan.”

Raja semakin marah. Ia berkata, “Tidak perlu. Saya bisa membeli barang-barang demi keselamatan saya sendiri.”

Nelayan itu menyerah. Ia memberikan perahunya kepada raja. Ketika sampai di tengah lautan, turunlah hujan badai. Dengan santai raja mengeluarkan sebuah payung besar untuk melindungi tubuhnya. Beberapa saat kemudian perahu mulai penuh dengan air, dan secara perlahan raja mengeluarkan air itu.

Raja berkata dengan sombong, “Ah, semuanya dapat aku atasi dengan baik.”

Tiba-tiba ada gulungan ombak besar menghantam perahunya. Raja tidak dapat menyelamatkan dirinya. Ia tersapu bersama gulungan ombak itu. Karena kesombongan dan kekuasaan yang dia punya, hidupnya berakhir sia-sia.

Butuh Kerendahan Hati

Sering orang merasa mampu dan kuat untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Ketika orang sehat, orang membanggakan dirinya. Orang bisa melakukan apa saja untuk kehidupannya. Orang merasa tidak perlu dibantu oleh orang lain. Lantas orang pun menyombongkan diri.

Kisah di atas memberi kita contoh betapa kesombongan menghancurkan kehidupan. Seandainya raja itu rendah hati sedikit saja, ia tidak perlu hanyut dibawa gelombang besar. Seandainya ia mau mendengarkan kata-kata nelayan itu, ia tentu akan selamat. Sayang, ia hanya mengandalkan kekuasan dan uang yang dia miliki. Meski nelayan itu tidak punya uang yang banyak, dia lebih tahu tentang kondisi cuaca dan laut. Dia punya pengalaman segudang tentang kondisi laut itu.

Selama hidup ini, kita masih membutuhkan pertolongan dan nasihat dari orang lain. Meski orang itu orang yang tampaknya lemah dan tak berdaya, tetapi dia juga memiliki pengalaman tentang hidup ini. Pengalaman sering lebih banyak berbicara tentang kehidupan ini.

Bantuan dari orang lain itu tidak berarti orang lain akan menghambat impian kita untuk meraih tujuan atau cita-cita hidup kita. Namun justru mereka akan menyelamatkan mimpi atau cita-cita kita. Karena itu, dibutuhkan sikap rendah hati dari diri kita untuk menerima setiap bantuan dari orang lain.

Orang beriman mesti selalu terbuka terhadap bantuan dari Tuhan dan sesama. Tuhan punya segudang rahmat dan berkat bagi kita. Sesama punya segunung pengalaman yang kita butuhkan untuk menjadi bekal bagi perjalanan hidup kita.

Mari kita berserah diri kepada Tuhan dengan menerima bantuan yang diberikan-Nya kepada kita. Dengan demikian, kita boleh mengalami damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

Palembang – Kota Asap

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.