Pages

Tampilkan postingan dengan label kehadiran sesama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehadiran sesama. Tampilkan semua postingan

13 Mei 2014

Menghargai Kehadiran Sesama

 
Sering orang kurang peduli terhadap hidup sesamanya. Orang merasa bahwa kehadiran sesamanya hanya untuk memenuhi keinginan dirinya.

Ada seorang suami yang suka menyakiti istrinya. Ia memukul istrinya. Ia pernah menempeleng istrinya dengan keras. Bahkan ia pernah menghukum istrinya dengan mengikat kedua tangan dan kakinya. Ia menuduh istrinya berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal tuduhan itu kemudian tidak terbukti benar. Pernah ia menyiram istrinya dengan air panas. Persoalannya sangat sepele, yaitu istrinya lupa memberi makan anak-anak ayam peliharaannya.

Istrinya tampak tenang-tenang saja. Ia tidak bisa melawan. Ia hanya bisa pasrah meski penyiksaan demi penyiksaan mesti ia terima. Bibirnya tersenyum, tetapi hatinya menangis pedih perih. Dalam hati ia berdoa, agar suaminya meninggalkan kebiasaan menyiksa dirinya. Ia memohon kepada Tuhan agar Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan suaminya. Ia juga memohon agar suaminya berubah.

Namun suatu ketika sang istri mengalami sakit di dadanya akibat dari penyiksaan-penyiksaan itu. Ia juga mulai batuk-batuk setiap malam. Ia tidak mampu menahan penyiksaan-penyiksaan itu. Ia muntah darah. Tidak lama kemudian ia menutup matanya untuk selama-lamanya. Ia meninggalkan tiga orang anaknya yang sangat disayanginya. Sedangkan sang suami meratapi kepergian istrinya. Ia menyesal telah melakukan kekerasan terhadap istrinya.

Sahabat, penyesalan selalu datang terlambat. Setelah peristiwa tragis merenggut nyawa, orang baru sadar bahwa semestinya sudah sejak awal orang tidak melakukan kekerasan. Nasi sudah menjadi bubur. Nyawa yang hilang tidak mungkin dibangkitkan lagi.

Soalnya adalah mengapa orang berani menyakiti sesamanya, bahkan orang yang sangat dekat dengannya? Karena orang tidak menyadari bahwa sesamanya itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Orang hanya mau menang sendiri. Orang merasa dirinya yang paling benar dan baik. Karena itu, orang boleh menyakiti sesamanya. Padahal tanpa alasan yang jelas pun orang tidak boleh menyakiti sesamanya. Orang punya hak untuk mendapatkan perlindungan dari sesamanya.

Karena itu, orang mesti sadar bahwa setiap kali menyakiti sesama, orang juga melukai dirinya sendiri. Kisah di atas menunjukkan hal ini. Ketika sang istri meninggal, sang suami yang menyiksa istrinya itu mengalami kehilangan. Ia mengalami kesepian dalam hidupnya. Penyesalannya tidak berguna.

Menyiksa sesama itu ibarat orang sedang menendang sebuah tembok. Orang tersebut merasakan sakit di kakinya. Mungkin kakinya terluka. Mungkin kakinya bengkak atau patah. Ia merasakan sendiri sakit itu. Ia melukai dirinya sendiri. Hatinya terluka begitu mendalam. Begitu pula orang yang menyakiti sesamanya, sebenarnya ia menyakiti dirinya sendiri.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memberikan perhatian kepada sesama kita. Kita tidak boleh menyakiti sesama kita. Untuk itu, kita perlu hindari tindakan yang menyakiti sesama kita. Dengan demikian, sesama kita mengalami sukacita dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT
1094

28 Mei 2013

Menerima Kehadiran Sesama

 
Apa yang akan Anda buat saat menyaksikan sesama Anda mengalami kesulitan dalam hidup ini? Anda mengusirnya pergi, atau Anda membuka hati Anda untuk menerima kehadirannya?

Berniat hendak mengubah nasib dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga, Sariam (35), tenaga kerja wanita asal Cianjur, Jawa Barat, pulang dengan kondisi cacat permanen. Hampir seluruh tubuh ibu dari tiga anak ini mengalami luka-luka akibat disiksa majikan selama tiga bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kota Jouf, Arab Saudi.

Selain dipukul dan ditendang, tubuh istri Asep Bin Entom (42) asal Kampung Karang Slawi, Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur, itu sering juga disetrika. Ia juga dipukuli dengan benda tumpul. Akibatnya, seluruh giginya rontok.

Ia berkata, “Kesalahan kecil yang saya lakukan kerap kali mendapat siksaan yang teramat sangat. Seperti menyetrika baju anak majikan tidak rapi, saya disetrika dengan setrika panas.”

Selain itu, majikan juga melarang keras dirinya memakan makanan di kulkas. Bila tertangkap tangan, selain dipukul dengan palu, gajinya pun dipotong. Ia berkata, “Meskipun baru tiga bulan bekerja, saya sudah tidak betah. Saya meminta dipulangkan ke Cianjur. Setiap malam saya hanya bisa menangis dalam setiap doa.”

Akibat sering mendapatkan siksaan, Sariam pernah dirawat inap di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah majikan. Ketika itu, adik majikan yang baik hati membawanya ke rumah sakit, karena tidak sadarkan diri setelah mendapat siksaan. Dia sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit itu selama 47 hari. Setelah keluar dari rumah sakit, dia melaporkan perbuatan majikan ke polisi setempat.

Sahabat, kemiskinan yang mendera hidup manusia memaksa manusia untuk memperjuangkan hidupnya. Manusia mesti terus-menerus berusaha untuk keluar dari situasi kemiskinannya. Manusia tidak boleh berhenti untuk berjuang. Orang yang beriman itu orang yang senantiasa bangkit dari keterpurukan hidupnya.

Namun terjadi juga kisah sedih dalam perjuangan itu. Kisah sedih Sariam menjadi salah satu bahan refleksi bagi kita. Hidup ini tidak mudah. Di saat kita berusaha untuk keluar dari keterpurukan hidup, masih saja ada kendala. Masih saja ada orang yang menghalangi-halangi usaha kita. Untuk itu, dibutuhkan suatu tekad yang membaja untuk menerjang penghalang-penghalang itu.

Kisah Sariam menampilkan suatu kesulitan yang luar biasa. Kehadirannya tidak diterima dengan baik oleh sang majikan. Tampaknya kehadirannya ditolak. Penderitaan yang mesti ia tanggung menjadi bukti penolakan atas kehadiran dirinya. Padahal ia hadir bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia hadir untuk kepentingan orang lain. Ia hadir untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Karena itu, orang beriman mesti belajar untuk menerima kehadiran sesamanya. Orang beriman mesti membuka hatinya lebar-lebar bagi kehadiran sesamanya. Memang, hal ini tidak terlalu mudah. Banyak orang masih tersandra oleh egoisme dan kepentingan dirinya sendiri. Banyak orang masih mengutamakan pemenuhan atas kebutuhan hidupnya sendiri saja. Banyak orang belum mau melihat kepentingan sesamanya.

Mari kita berusaha untuk menghargai orang lain dengan menerima kehadiran sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


974