Pages

Tampilkan postingan dengan label cita-cita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cita-cita. Tampilkan semua postingan

03 Maret 2014

Meraih Cita-cita dengan Usaha Keras



Apa yang pernah atau sedang Anda impikan dalam hidup ini? Saya yakin, Anda punya impian untuk menjadi orang yang sukses dalam hidup ini. Namun untuk meraih kesuksesan, Anda tidak bisa hanya santai-santai saja. Anda mesti berusaha keras untuk meraihnya.

Semua dimulai dari impian. Begitulah Frank Slazak ingin menjadi astronot. Ia ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi ia tidak memiliki gelar. Ia bukan seorang pilot. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger.

Dan warga itu adalah seorang guru. Frank Slazak adalah seorang guru. Hari itu juga ia mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari ia berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doanya terkabul. Ia lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padanya.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impiannya semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, ia menunggu dan berdoa lagi. Ia tahu ia semakin dekat pada impiannya. Beberapa waktu kemudian, ia menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian terseleksi menjadi 10.000 orang. Lantas Frank Slazak menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Sayang, ia tidak terpilih. Yang terpilih adalah Christina McAufliffe. Frank Slazak kalah. Impiannya hancur. Ia mengalami depresi. Rasa percaya dirinya lenyap. Amarah menggantikan kebahagiaannya. Ia mempertanyakan semuanya, ”Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?”

Selasa, 28 Januari 1986, ia berkumpul bersama teman-temannya untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, ia menantang impiannya untuk terakhir kali. Ia berkata, ”Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja, agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?”

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaannya dan menghapus semua keraguannya saat Challanger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.

Sahabat, suatu kejadian yang sangat tragis hampir saja menimpa Frank Slazak. Ia masih beruntung. Ia tidak berada di dalam pesawat Challenger itu. Impiannya mungkin menjadi kenyataan. Namun hanya sesaat saja. Tentu saja Frank Slazak merasa bersyukur tidak menjadi bagian dari misi luar angkasa itu. Ia boleh mengalami sukacita dalam hidupnya. Ia masih dapat melangsungkan kehidupannya di dunia ini.

Setiap orang punya impian untuk memiliki hidup yang bahagia. Setiap orang ingin agar impiannya itu tercapai. Ia boleh meraih impiannya. Namun orang juga mesti sadar bahwa apa yang telah diraihnya itu mesti dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Karena itu, orang mesti berusaha untuk tetap setia pada impian yang telah diraihnya itu. Setiap resiko mesti berani ditanggungnya.

Kisah tadi memberi inspirasi bagi kita bahwa sebuah cita-cita dapat diraih dalam hidup ini. Mimpi yang terus-menerus dikobarkan akan memacu seseorang untuk bekerja keras tanpa lelah untuk meraih mimpinya itu. Ketika mimpi itu tidak bisa diraih secara penuh, orang pun tidak perlu merasa frustrasi. Masih ada jalan lain yang dapat dilewati. Masih ada kesempatan lain yang dapat dilakukan untuk meraih cita-cita itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha meraih cita-cita kita. Kita mesti setia pada komitmen yang telah kita pancangkan. Dengan demikian, kita dapat meraih cita-cita sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1064

18 Mei 2011

Meraih Cita-cita dengan Usaha Keras




Semua dimulai dari impian. Begitulah Frank Slazak ingin menjadi astronot. Ia ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi ia tidak memiliki gelar. Ia bukan seorang pilot. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Frank Slazak adalah seorang guru.

Hari itu juga ia mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari ia berlari ke kotak pos. Akhirnya, datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doanya terkabul. Ia lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padanya.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impiannya semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, ia menunggu dan berdoa lagi. Ia tahu ia semakin dekat pada impiannya. Beberapa waktu kemudian, ia menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center .

Dari 43.000 pelamar, kemudian terseleksi menjadi 10.000 orang. Lantas Frank Slazak menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Sayang, ia tidak terpilih. Yang terpilih adalah Christina McAufliffe. Frank Slazak kalah. Impiannya hancur. Ia mengalami depresi. Rasa percaya dirinya lenyap. Amarah menggantikan kebahagiaannya. Ia mempertanyakan semuanya, ”Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?”

Selasa, 28 Januari 1986, ia berkumpul bersama teman-temannya untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, ia menantang impiannya untuk terakhir kali. Ia berkata, ”Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja, agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?”

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaannya dan menghapus semua keraguannya saat Challanger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.

Sahabat, suatu kejadian yang sangat tragis hampir saja menimpa Frank Slazak. Ia masih beruntung. Ia tidak berada di dalam pesawat Challenger itu. Impiannya mungkin menjadi kenyataan. Namun hanya sesaat saja. Tentu saja Frank Slazak merasa bersyukur tidak menjadi bagian dari misi luar angkasa itu. Ia boleh mengalami sukacita dalam hidupnya. Ia masih dapat melangsungkan kehidupannya di dunia ini.

Setiap orang punya impian untuk memiliki hidup yang bahagia. Setiap orang ingin agar impiannya itu tercapai. Ia boleh meraih impiannya. Namun orang juga mesti sadar bahwa apa yang telah diraihnya itu mesti dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Karena itu, orang mesti berusaha untuk tetap setia pada impian yang telah diraihnya itu. Setiap resiko mesti berani ditanggungnya.

Kisah tadi memberi inspirasi bagi kita bahwa sebuah cita-cita dapat diraih dalam hidup ini. Mimpi yang terus-menerus dikobarkan akan memacu seseorang untuk bekerja keras tanpa lelah untuk meraih mimpinya itu. Ketika mimpi itu tidak bisa diraih secara penuh, orang pun tidak perlu merasa frustrasi. Masih ada jalan lain yang dapat dilewati. Masih ada kesempatan lain yang dapat dilakukan untuk meraih cita-cita itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha meraih cita-cita kita. Kita mesti setia pada komitmen yang telah kita canangkan. Dengan demikian, kita dapat meraih cita-cita sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

678

23 Januari 2010

Bekerja Keras untuk Meraih Cita-cita





Suatu hari seorang anak SD ditanya oleh ayahnya, “Nak, kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa?”

Serta merta anak itu mejawab, “Saya ingin menjadi orang yang popular. Saya ingin terkenal di seluruh dunia.”

Ayahnya tersenyum-senyum mendengar jawaban anaknya. Lantas ia berkata, “Nak, kalau kamu ingin terkenal di dunia, kamu harus mulai dari sekarang. Kamu harus membangun hidupmu mulai dari sekarang.”

Anak itu menjawab, “Baik, ayah. Tetapi bagaimana caranya, ayah?”

Ayahnya menjawab, “Kamu harus bangun pagi-pagi untuk belajar. Kamu harus rajin, baik di rumah maupun di sekolah. Nilai-nilai ujian yang kamu peroleh itu harus murni. Tidak boleh dari hasil nyontek. Kamu tidak boleh memaksa mamamu untuk memandikanmu lagi.”

Mendengar syarat-syarat itu, anak itu menjadi takut. Selama ini ia sulit dibangunkan di pagi hari. Selama ini ia malas belajar. Selama ini ia sering nyontek. Selama ini ia belum mau mandi sendiri. Jadi syarat-syarat itu terlalu berat baginya.

Setelah beberapa lama berpikir, ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, lebih baik saya jadi orang yang biasa-biasa saja. Saya masih ingin menikmati hidup ini.”

Untuk menjadi orang populer itu ternyata berat. Dibutuhkan kerja keras untuk menjadi orang yang terkenal di seantero jagat. David Beckham, misalnya, mesti berlatih lima belas jam sehari untuk menjadi seorang pemain sepakbola terkenal. Yang ia petik di puncak kariernya itu sebenarnya sudah ia bangun sejak ia masih kecil.

Kita hidup dalam dunia yang menantang. Dunia terus-menerus menawarkan popularitas kepada semua orang. Pertanyaannya, apakah generasi penerus bangsa ini mampu bekerja keras untuk meraih popularitas? Menjadi tersohor atau populer itu tidak datang dengan sendirinya. Orang mesti berusaha untuk meraih cita-cita yang tinggi itu.

Sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk senantiasa berusaha dalam meraih cita-cita kita. Orangtua yang ingin anak-anaknya berhasil dalam hidupnya mesti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anaknya. Untuk itu, kita butuh rahmat Tuhan yang dapat memberi kita semangat dalam usaha-usaha kita meraih cita-cita.

Setiap hari kita mendapatkan banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita syukuri semua kebaikan itu. Kita bawa hal-hal baik itu dalam hidup kita. Dengan demikian, kita memperoleh ketenangan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

306

Bagikan