Pages

Tampilkan postingan dengan label ekaristi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekaristi. Tampilkan semua postingan

04 April 2015

Aliran-Aliran Air Hidup

Tubuh Tuhan lemas tak berdaya dalam penyerahan total kepada Bapa. Begitu nafas terakhir Ia hembuskan, tertunduklah kepala-Nya ingin menyatukan diri-Nya dengan dunia yang telah Ia tebus.
     
Sudah selesaikah semuanya? Tidak! Masih ada rahmat istimewa yang Ia tinggalkan bagi umat Allah yang masih mengembara di dunia ini. Ia tinggalkan aliran-aliran air hidup bagi dahaga jiwa manusia.
  
Serdadu-serdadu serta merta menombak lambung Yesus, begitu mereka tahu bahwa Yesus sudah menghembuskan nafas terakhirNya. Apa yang terjadi? Tombak itu tidak hanya menembus lambung-Nya. Tombak itu merobek juga jantung-Nya. Darah dan air mengalir membasahi tubuh-Nya dan bumi manusia.

Tentu para prajurit itu terheran memandang Yesus yang telah mereka tikam. Mereka tidak tahu artinya. Mereka hanya melaksanakan tugas. Untung ada seorang lain yang menyaksikan peristiwa itu. Ia memberikan kesaksian mengenai kebenaran itu. Ia memandang kepada Dia yang telah mereka tikam. Pada pesta Pondok Daun di Yerusalem, Yesus sudah menyatakan bahwa kehidupan akan diperoleh manusia, kalau mereka mau minum dari aliran-aliran air hidup yang mengalir dari hati-Nya.
   
“Dan pada hari terakhir pada puncak perayaan itu, Yesus berdiridan berseru: ‘Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepadaku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup...’” (Yoh 7:37-38).
    
Yesus meninggalkan aliran air hidup itu untuk dunia yang selalu haus akan kasih Allah. Dunia selalu membutuhkan seteguk air yang mengalir tenang dari hati-Nya yang lembut dan rendah hati. Air yang Dia berikan bukan air biasa seperti Musa yang memberi air kepada umat Israel di padang gurun. 
    
Yesus memberikan air yang tidak akan pernah binasa. Air yang Ia berikan itu mengalir tiada henti. Air itu merasuk setiap hati yang beku, agar menimba mata air hidup yang tidak pernah mati itu.
     
Yesus meninggalkan aliran air hidup dari hati-Nya itu untuk dunia.Siapa saja yang rindu meminumnya mesti datang kepada-Nya, karena Ia tidak pernah menolak setiap jiwa yang haus.

Dewasa Ini: Masih Ada Aliran Air Hidup
 
Setiap pagi seorang ibu selalu berdoa di depan salib di dalam gereja. Salib itu sangat besar. Tampak jelas sekali mahkota duri yang menusuk kepala Yesus. Lantas ada semacam aliran air yang mengalir dari lambung Yesus yang tertikam. Ibu itu melakukan doa itu usai misa harian. Matanya sering memandang ke lambung Tuhan Yesus yang tertikam.
   
Meski salib itu digantung agak tinggi, ia tetap mendongakkan kepala menatap lambung yang tertikam itu. Sementara itu mulutnya komat-kamit melantunkan doa-doa. Entah doa apa. Ia sungguh-sungguh khusyuk menikmati doa pagi usai misa pagi itu sementara umat yang lain khusyuk berdoa kepada Tuhan melalui Bunda Maria dengan menyalakan lilin di depan patung Bunda Maria.
   
“Ibu, mengapa ibu selalu menatap salib itu?” suatu kali saya bertanya kepadanya.

“Saya haus,” jawabnya singkat.

“Mengapa ibu haus?”

“Karena anak-anak saya kurang setia kepada Tuhan Yesus. Ada yang sering pergi ke gereja-gereja lain pada hari Minggu. Ada yang tidak mau ke gereja lagi pada hari Minggu,” tutur ibu itu memberikan alasan.
 
“Jadi?”
 
“Saya ingin menyegarkan rasa haus saya dari lambung Tuhan Yesus yang tertikam. Memandang saja lambung-Nya hati saya terasa disegarkan,” kata ibu itu sembari berjanji untuk membujuk anak-anaknya kembali ke Gereja Katolik.
  
Keesokan harinya, ia tetap berlutut di tempat yang sama memandang salib besar yang terpampang di sebelah kiri altar itu. Ia yakin, denganmemandang lambung Yesus yang tertikam, ia mampu menimba air kehidupan yangmengalir dari hati Tuhan Yesus.
 
“Anak-anak saya mulai sadar. Mereka mulai mau kembali ke Gereja Katolik,” cerita ibu itu suatu hari lain beberapa bulan kemudian.
   
“Reaksi ibu?”
   
“Saya senang sekali. Doa saya dikabulkan oleh Tuhan Yesus. Hari Minggu yang lalu kami sekeluarga duduk di satu deretan bangku di gereja. Usai misa saya mengajak mereka untuk berdoa .Kami bersama-sama memandang lambung Tuhan Yesus yang tertikam. Sungguh luarbiasa! Rasa haus saya sungguh-sungguh disegarkan oleh Tuhan Yesus sendiri,” tutur ibu itu sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
   
Ibu dan keluarganya kemudian setiap pagi mengikuti Misa Kudus digereja. Tidak lupa mereka berlutut di hadapan salib Yesus untuk menimba aliran-aliran air hidup yang mengalir dari lambung-Nya yang sobek oleh tombak prajurit-prajurit yang bengis.
    
Aliran-aliran air hidup itu memang masih mengalir hingga kini. Ia tidak pernah berhenti mengalir, karena kasih-Nya tak pernah putus. Ia mengasihi semua orang termasuk para pendosa yang jahat sekalipun. Aliran air hidup yang mengalir itu juga menarik setiap hati yang dahaga, karena pengembaraan yang tak berujung. Tuhan Yesus tetap menantikan setiap orang yang dahaga untuk menimba air kehidupan dari hati-Nya. **

Frans deSales SCJ

02 April 2015

Akulah Roti Kehidupan

Tubuh Tuhan tak bernyawa masih tergantung di atas salib. Dukacita telah usai, karena kemenangan telah dicapai dalam kemuliaansalib. Paripurnalah sudah pergumulan hidup Yesus dalam menuntaskan tugas perutusan-Nya ke dalam dunia.
  
Ratap tangis para perempuan yang mengikuti jalan salib Tuhan telah berubah menjadi kegembiraan. Mengapa? Karena Tuhan Yesus telah menang atas dosa. Iblis telah dihancurleburkan melalui perjalanan salib yang mengerikan itu. “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita,” sabda Yesus kepada para rasul yang dikasihi-Nya (Yoh 16:20).
 
Sukacita itu memiliki suatu dasar alasan yang kuat, yaitu karyapenebusan yang telah dituntaskan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Manusia kembali memiliki hidup berkat penyerahan diri Sang Guru kepada kehendak Bapa. “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku,” kata Yesus.
   
Suatu penyerahan diri yang menjadikan manusia menemukan kembali hakekat hidupnya sendiri sebagai citra Allah dalam persatuan dengan Allah. Dalam Tuhan Yesus, manusia berjumpa kembali dengan Allah. 
 
Tubuh yang lunglai tak bernyawa itu kini menjadi roti kehidupanbagi manusia. “Inilah TubuhKu yang diserahkan bagi kamu,” sabda Yesus ketika merayakan Ekaristi bersama para murid-Nya dalam Perjamuan Malam Terakhir (Luk 22:19).
   
Tubuh Tuhan itu kini menjadi milik manusia. Ketika manusia menerimanya sebagai santapan bagi kehidupan, manusia menyatakan kasih dansetianya kepada Dia yang telah dimuliakan di puncak gunung Kalvari. Tubuh Tuhan itu menjadi bekal perjalanan hidup manusia dalam pengembaraannya di dunia ini.
   
Tuhan telah menyediakan bagi manusia yang tertebus suatu rezeki yang tidak pernah binasa. “Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benardari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia,” kata Yesus kepada orang-orang Yahudi yang masih berpandangan bahwa Musa-lah yang memberi mereka manna di padang gurun.
   
Yesus memberikan jaminan kepada manusia bahwa manusia yang datang kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Apalagi kedatangan manusia itu untuk menerima tubuh Tuhan sendiri. Dunia mendapatkan hidup dari Tubuh Tuhan sendiri yang tanpa banyak kata memberikan seluruh hidup-Nya bagi manusia. 
  
“Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah Daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:48-51).
   
Yesus kembali menegaskan bahwa menyambut Tubuh-Nya dan memakan pemberian-Nya manusia tidak akan mengalami kebinasaan. Bahkan manusia akan memperoleh hidup untuk selama-lamanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, kalau manusia memiliki iman kepada Tuhan Yesus yangmemberikan diri-Nya untuk hidup manusia itu.
  
Berulang kali Yesus menandaskan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya untuk percaya kepadaNya. Ia membuka mata hati mereka untuk menerima bahwa Ia diutus oleh Bapa untuk menebus dosa manusia. Namun manusia sering kali menolak Tuhan Yesus sebagai satu-satunya penyelamat umat manusia.
 
“.... hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.... sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal,” kata Yesus kepada orang banyak yang masih mempersoalkan kehadiran-Nya (Yoh 6:29;47).
  
Karena itu, Tuhan Yesus menuntut sikap iman yang benar kepada-Nya. Keterbukaan hati manusia terhadap kehadiran Tuhan Yesus menjadi kunci utama untuk mempunyai hidup yang kekal.

Dewasa Ini: Roti Itu masih Ada

Sejak masih muda Yustinus, sebut saja begitu namanya, tidak pernah absen mengikuti Perayaan Ekaristi setiap pagi. Kalau dia tidak hadir dalam Ekaristi di gereja parokinya, itu karena ia menderita sakit berat atau bepergian jauh. Baginya, tiada hari ia lewatkan tanpa memulai dengan menyambut Tubuh Tuhan.
    
“Sudah sejak masih anak-anak saya melakukan ini. Waktu kecil saya sering menjadi misdinar setiap pagi. Mungkin pastor sampai bosan melihat saya mendampingi dia setiap pagi,” kata Yustinus yang kini berusia 80 tahun itu.
    
Meski sudah berusia 80 tahun, Yustinus masih tetap ke gereja setiap pagi. Bahkan kini ia didampingi sang istri tercinta yang juga sudah mulai mengikuti Ekaristi setiap pagi sejak 10 tahun lalu. Mereka tampak bahagia usai menyambut Tubuh Tuhan Yesus.
 
“Mungkin banyak orang masih mempertanyakan apa manfaatnya mengikuti Ekaristi setiap pagi. Saya tidak mempertanyakannya lagi, karena inilah sumber hidup saya,” tutur Yustinus yang pensiunan guru itu.
   
Bagi Yustinus, menerima Tubuh Tuhan berarti memperoleh bekal hidup bagi perjalanan hidupnya. Ia merasakan bahwa hidup tanpa Tuhan Yesus segalanya tiada berarti. Hidup bersama Tuhan Yesus memberikan makna yang mendalam bagi pergumulan hidupnya sehari-hari.
  
“Saya yakin saya selalu disertai oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak akan pernah meninggalkan saya,” tandas Yustinus sambil melempar seutassenyumnya.
  
Keyakinannya akan penyertaan Tuhan itu membuat Yustinus senantiasa setia mengikuti Perayaan Ekaristi. Ia mengaku bahwa tubuh Kristus sungguh-sungguh menguatkan perjalanan hidupnya sebagai seorang kristiani.
 
Ternyata Tubuh Kristus yang Ia sambut setiap pagi itu menguatkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat didesanya. Menurut masyarakat, Yustinus sangat rajin dalam kegiatan-kegiatan dikampungnya.
   
“Bapak Yustinus itu sangat rajin, kalau ada kegiatan di kampung ini. Walaupun sudah tua, dia tetap datang untuk memberikan dukungan sewaktu anggota masyarakat lain mengadakan kegiatan,” kata Ibu Ani yang tetangga Yustinus itu.
  
Kehadirannya yang aktif dalam masyarakat di kampungnya ia timba dari Tuhan Yesus sendiri. Ia yakin, sewaktu hidup di Palestina Tuhan Yesus juga aktif di dalam kehidupan masyarakat. “Buktinya, Tuhan Yesus juga datang kepesta perkawinan di Kana. Di sana Ia sangat peduli terhadap tuan rumah yang kehabisan anggur,” kata Yustinus mengenai alasan keterlibatannya dalam kehidupan bermasyarakat.
   
Tubuh Tuhan Yesus memang menguatkan Yustinus dalam perjalanan hidupnya. Ia pun merasa tidak pernah bosan menerima Tubuh Tuhan itu meski setiap pagi ia lakukan itu. Mengapa? Karena Yesus adalah roti kehidupan. “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi,” sabda Tuhan Yesus (Yoh 6:35).
   
Yustinus tetap meyakini bahwa Tuhan Yesus adalah roti hidup yang memberi dia kehidupan kekal. Roti hidup itu telah mengajaknya untuk melibatkan diri dalam kehidupan bersama sesama. Ia menjadi peduli terhadap sesama di sekitarnya yang membutuhkan bantuannya. Berani menerima atau menyambut Tubuh Tuhan berarti berani pula memberikan diri bagi sesama. Yustinus telah mempraktikkan ajaran Tuhan Yesus yang memberikan nyawa-Nya bagi hidup dunia. Roti itu masih ada sampai sekarang! **

Frans de Sales SCJ

18 Agustus 2012

Dia Memberiku Roti Kehidupan

Banyak orang zaman kini sedang lapar. Mereka tampak beringas. Bisa-bisa sesama manusia diterkam sama mereka. Mengapa mereka begitu lapar? Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun satu hal yang jelas adalah mereka sedang kehilangan kasih. Tidak ada orang yang rela membagikan kasih kepada mereka. Padahal semakin banyak kasih itu dibagikan, semakin berlimpah ruah pula kasih itu.

Sayang, egoisme telah mengerdilkan kasih. Cinta diri yang berlebihan telah membuat banyak orang merasa lapar. Ketiadaan kasih membuat banyak orang beringas dan berusaha untuk menguasai orang lain.

Sudah lama Isabela terlunta-lunta di jalanan kota. Pakaiannya compang-camping dan kumal. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya berbau tidak sedap. Padahal ia seorang gadis cantik. Mengapa terjadi begitu? Karena harta milik kedua orang tuanya telah dirampas oleh paman-pamannya. Sejak ia kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu kecelakaan, Isabela tidak boleh tinggal di rumah warisan orang tuanya. Paman-pamannya telah menguasai rumah dan harta kekayaan lain peninggalan kedua orang tuanya.

Jadilah Isabela, anak semata wayang, seorang anak jalanan yang mengandalkan hidup dari usaha minta-minta. Ia mesti menengadahkan tangannya ke mobil-mobil yang berhenti di perempatan jalan di kala lampu merah menyala. Dengan cara begitu ia dapat mempertahankan hidupnya. Pekerjaan seperti itu ia lakukan beberapa tahun sampai suatu ketika sebuah keluarga menemukan Isabela tertidur lunglai di emperan sebuah toko.

Keluarga itu membawa Isabela ke rumah mereka. Isabela diberi makan dan minum. Lalu ia dimandikan. Itulah pertama kali ia mandi setelah diusir dari rumahnya. Ia diberi pakaian yang baru. Jadilah Isabela seorang gadis cantik yang disayangi keluarga yang sudah punya lima orang anak itu.

“Kalau saja Pak Andreas dan istrinya tidak menemukan saya, mungkin saya sudah mati. Waktu itu seharian saya tidak dapat apa-apa dari mengemis. Tubuh saya jadi lemas,” kata Isabela, sambil menitikkan air matanya, ketika membagikan pengalamannya dalam suatu pertemuan kring.

Bagi Isabela, keluarga yang menyelamatkannya adalah pahlawan. Ia kemudian mendapatkan kasih saying yang sama dengan kelima orang anak dari keluarga itu. Ia bisa kembali ke bangku sekolah. Isabela boleh menuntut ilmu seperti anak-anak yang lain.

“Pak Andreas dan istrinya begitu menyayangi saya. Saya belum pernah mendengar keluhan mereka terhadap saya. Apa yang saya butuhkan untuk sekolah saya selalu mereka penuhi,”
tutur Isabela sambil berkali-kali mengucapkan terimakasih.

Padahal keluarga Andreas tidak pernah mengenal orang tua dari Isabela. Mereka juga tidak punya hubungan keluarga dengan Isabela. Tetapi kasih telah mempertemukan mereka. Kasih telah mengenyangkan yang lapar. Kasih telah mengumpulkan mereka dalam satu keluarga yang bahagia.

“Sebenarnya yang mendorong kami untuk mengambil Isabela waktu itu adalah Tuhan Yesus sendiri. Kami melihat dia seperti Tuhan Yesus yang sedang menderita di kayu salib,”
tutur Pak Andreas mengenai aksinya mengambil Isabela.

“Yah, apa gunanya kalau setiap pagi kami menyembut Tubuh Tuhan dalam misa harian, kalau kami tidak memperhatikan mereka yang menderita? Roti kehidupan yang kami sambut itu telah menggugah hati kami,”
Ibu Andreas menimpali.

Tindakan sepasang suami istri ini ternyata memiliki dasar iman yang kuat. Iman itu ingin mereka hidup dalam perjalanan hidup yang konkrit. Dengan demikian iman berbuahkan kasih bagi sesama yang menderita. Belajar dari Tuhan Yesus yang memberikan diriNya sebagai roti kehidupan bagi dunia, keluarga Andreas juga mengalirkan kehidupan kepada sesama yang membutuhkan.

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi,”
kata Tuhan Yesus (Yoh. 6:35). Keluarga Andreas tidak pernah merasa lapar atau haus meski mereka mesti mengeluarkan anggaran tambahan untuk Isabela yang kini sudah menjadi seorang mahasiswi itu. Justru yang mereka dapatkan adalah berlimpah-limpahnya rahmat dari Tuhan Yesus. Isabela pun belajar untuk membagikan kasih kepada sesama.

“Kalau toh suatu saat Isabela pergi dari rumah ini, kami tidak akan merasa kehilangan. Dia sudah menjadi bagian dari rumah ini. Dia sudah menjadi anak kami yang pandai pula memperhatikan sesamanya yang menderita,” kata Ibu Andreas tentang Isabela.

Kasih itu semakin berlimpah ruah ketika dibagi-bagikan kepada sesama manusia. Roti kehidupan yang dipersembahkan oleh Tuhan Yesus menjadi semakin banyak, karena roti itu dibagi-bagikan kepada semakin banyak orang. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” sabda Tuhan Yesus (Yoh. 12:24).

Tuhan Yesus adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah yang menghasilkan banyak buah. Ia mempersembahkan diri-Nya agar manusia yang sudah mati oleh dosa Adam dapat memperoleh kehidupan. Melalui Ekaristi Kudus, Tuhan Yesus memberi diri-Nya dengan cinta yang sama yang Ia tunjukkan di atas kayu salib. Pemberian cinta Yesus menjadi contoh bagaimana umat manusia mesti memberi diri bagi sesama. Pemberian diri secara total seperti yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus menjadi bagian dari perjalanan panjang peziarahan para pengikutNya.

Ketika merayakan Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya, Tuhan Yesus membagi-bagikan Tubuh-Nya sendiri, roti kehidupan, kepada murid-murid-Nya. Ia memberikan roti kehidupan itu agar manusia memiliki hidup. Yang menarik dari pemberian diri Yesus itu adalah pesan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya untuk melakukan hal yang sama. “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19).

Tuhan Yesus menghendaki agar para murid-Nya, dan juga para pengikut-Nya, membagikan roti kehidupan kepada sesama yang dijumpai dalam perjalanan hidup ini. Para pengikut Kristus itu mesti berani membagikan kasih yang dimiliki kepada setiap orang yang dijumpai. Hanya dengan membagikan kasih itu, sesama tidak akan mengalami kelaparan. Hanya dengan membagikan kasih kepada sesama, manusia akan memperoleh kasih dengan berlimpah-limpah. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51). **



Frans de Sales SCJ

21 Oktober 2009

Dipanggil Menjadi Pembawa Keselamatan



Ada seorang bernama Cikwan. Ia pernah masuk penjara, karena perbuatannya yang keji. Ia pernah menjadi perampok di Lampung. Ia pernah menjadi preman yang ditakuti. Padahal dulu ia seorang penganut Agama Katolik yang taat. Ia setia mengikuti ibadat dan Perayaan Ekaristi.

Cikwan mengaku, ia melakukan hal itu karena rasa tanggung jawabnya terhadap istri dan anak-anaknya. Ketika ia merantau di Lampung, penghasilannya tidak cukup untuk hidupnya sendiri. Akibatnya, ia nekat. Ia menjadi preman dan mulai merampok untuk mempertahankan hidupnya. Suatu ketika, ia ditangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Di penjara itu, ia bertemu dengan seorang polisi yang seiman dengannya. Ia mendapat banyak nasihat dari polisi itu. Setelah masa tahanan selesai, ia pun kembali ke kampung halamannya. Ia berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya yang sama sekali tidak tahu kegiatannya sebagai preman dan perampok. Mereka menerima kehadirannya dengan baik. Mereka mendorongnya untuk giat dalam kehidupan rohani.

Godaan untuk menjadi perampok terus-menerus mengiang di telinganya. Ia menahan diri terhadap godaan itu. Awalnya ia berhasil. Namun lama-kelamaan ia tidak bisa menahan diri. Ia jatuh lagi ke dalam dunia gelap kehidupan para preman dan perampok. Namun tidak lama ia hidup dalam dunia gelap itu. Ia dapat keluar dari situasi itu. Menurut Cikwan, hal itu terjadi karena Tuhan terus-menerus mengetuk hatinya. Tuhan memanggilnya kembali ke jalan yang benar.

Ia berkata, “Tuhan begitu baik kepada saya. Saya seorang penjahat, tetapi Tuhan mau menerima saya kembali.”

Ada kalanya manusia terperosok ke dalam kegelapan hidup. Banyak faktor mempengaruhi kehidupan manusia. Salah satu yang dialami Cikwan adalah faktor ekonomi dan tanggungjawab terhadap keluarganya. Kesulitan ekonomi membuat orang menghalalkan segala cara. Namun apa yang dilakukan oleh Cikwan bukanlah suatu solusi yang benar. Ia menyadari itu. Ia berhasil keluar dari kegelapan hidup itu.

Pertobatan selalu ada. Tuhan tidak pernah menginginkan seorang berdosa mati binasa. Yang diinginkan Tuhan adalah keselamatan orang berdosa. Di jaman Yesus, ada begitu banyak orang berdosa yang disingkirkan oleh masyarakat. Tetapi justru Yesus menerima kehadiran mereka. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa.

Ketika para ahli agama mempersoalkan tindakan Yesus yang menerima kehadiran orang-orang berdosa, Ia menjawab, “Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku menginginkan belas kasihan, bukan persembahan.” Artinya, kehadiran Yesus itu untuk membawa manusia kepada keselamatan. Ia tidak menghendaki ada orang yang tidak selamat.

Ada banyak orang berdosa di sekitar kita. Mungkin termasuk kita sendiri. Tugas kita adalah membawa semakin banyak orang kepada Tuhan. Tugas kita adalah menyelamatkan semakin banyak orang. Mari kita membuka hati kita untuk menerima semua orang berdosa yang datang kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

202