Pages

Tampilkan postingan dengan label hidup ini begitu berharga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup ini begitu berharga. Tampilkan semua postingan

04 Februari 2013

Hidup Ini Begitu Berharga

Pernahkah Anda merasa terpuruk dalam hidup ini, karena Anda merasa hidup Anda kurang bernilai? Apa yang Anda lakukan? Anda menjadi depresi atau Anda bangkit lagi?

Anda bisa bayangkan, kalau sebuah kursi goyang yang harganya US$3,000 bisa laku US$453,000? Atau sebuah mobil bekas yang ditaksir bernilai US$18,000 laku dilelang seharga US$79,500? Atau gelas biasa yang ditaksir bernilai US$500 ternyata bisa laku dengan harga US$38,000? Ada pula sebuah kalung yang bernilai US$700 bisa laku dengan US$21,1500.

Bukankah ini suatu kegilaan? Tetapi semua kegilaan itu bisa dimaklumi, karena barang-barang yang dilelang itu milik Jacqueline Kennedy Onassis. Yang membuat barang-barang tersebut laku dengan harga yang sangat mahal tentu saja bukan karena barang itu sendiri, tetapi karena siapa yang memilikinya.

Jacqueline Kennedy Onassis adalah mantan ibu negara negeri adidaya Amerika Serikat. Setelah suaminya, John F Kennedy, meninggal, ia menikah lagi dengan Onassis. Onassis adalah salah seorang terkaya di dunia. Karena itu, apa yang dimiliki atau pernah digunakan oleh Jacqueline tentu memiliki nilai yang begitu tinggi. Mengapa? Karena barang-barang tersebut digunakan pada momen-momen yang istimewa pula.

Sahabat, bagaimana dengan hidup kita? Sama seperti barang-barang lelangan milik Jacqueline Kennedy Onassis tersebut, hidup kita sungguh berharga. Bahkan semestinya jauh lebih berharga daripada barang-barang yang fana tersebut. Hal yang membuat hidup ini berharga adalah Tuhan yang memiliki kita. Tuhan yang empunya kehidupan ini.

Tuhan yang empunya kehidupan ini tidak hanya menciptakan kita. Tetapi Tuhan juga memelihara hidup kita. Tuhan menuntun hidup kita menuju keselamatan. Namun sering manusia kurang menyadari hal ini. Dosa dan kesalahan yang diperbuat manusia menyebabkan hidupnya kurang berharga. Hidupnya tidak memiliki daya yang kuat untuk melintasi perjalanan hidup ini.

Mengapa dosa dan kesalahan itu menjadikan hidup manusia kurang berharga? Karena manusia menyombongkan dirinya. Manusia merasa dirinya kuat, sehingga tidak perlu bantuan Tuhan. Manusia mau berjuang sendiri. Manusia tidak mau mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Ada dua hal yang perlu kita buat. Pertama, jangan pernah sombong, sebab yang membuat kita bernilai dan berharga bukan karena diri kita, tapi Tuhan. Orang yang sombong biasanya berada di ambang kehancuran. Orang yang sombong tidak akan bertahan dalam perjuangan hidupnya.

Kedua, ketika kita depresi karena merasa tidak berharga, ingatlah bahwa nilai kita ditentukan oleh Tuhan. Tuhan mengangkat kembali kita saat kita jatuh. Tuhan tidak meninggalkan kita berjuang sendirian dalam hidup ini. Tuhan punya cara sendiri untuk menyelamatkan kita. Karena itu, kita mesti menyerahkan hidup kita ke dalam kuasaNya. Dengan demikian, hidup kita ini tetap berharga di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

943

07 Januari 2011

Hidup Ini Begitu Berharga


Ada seorang ibu yang melahirkan anak secara normal. Namun anak yang lahir itu tidak normal. Anak itu lahir hanya memiliki pangkal otak. Ibu itu tahu dan sadar bahwa anak yang dilahirkan itu tidak akan hidup lama. Ia akan menghembuskan nafas terakhirnya. Denyut jantungnya yang normal tidak didukung oleh kondisi otak yang tidak normal. Karena itu, ia pasrah. Ia menyerahkan hidup anaknya kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu menyelenggarakan hidup bagi anaknya itu.

Yang dilakukan ibu itu adalah ia menerima kehadiran anaknya itu dengan hati yang tulus. Ia memberinya susu. Ia merawatnya. Ia mengajak anaknya itu berbicara layaknya anak-anak normal. Anak itu dapat menanggapi dirinya. Ia membalas kasih mamanya dengan senyum yang indah. Setiap hari hal itu terjadi. Ibu itu sangat bahagia menyaksikan kondisi anaknya.

Satu tahun kemudian anak itu meninggal dunia. Dalam damai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Seutas senyum bahagia tersungging di wajah anak itu. Bagi sang mama, saat kematian itu menjadi saat yang sangat mengharukan. Ia menangis. Ia merasakan kehilangan yang luar biasa. Senyum kasih anaknya telah pergi untuk selamanya. Ia tidak dapat memberinya kasih lagi.

Namun beberapa hari kemudian, ibu itu menemukan sukacita. Mengapa? Karena kasih yang ia berikan bagi anaknya itu tidak sia-sia. Kebahagiaan ternyata telah menemani hari-hari hidup anaknya yang singkat itu. Ia bersyukur, ia boleh dipercaya oleh Tuhan untuk memelihara dan mengasihi buah hatinya. Hidup itu begitu indah. Hidup itu berharga.

Sahabat, hidup yang indah dan berharga itu menjadi semakin berharga ketika ada kasih yang menyertainya. Hidup tanpa kasih, kata orang, bagai sayur tanpa garam. Untuk memiliki kasih yang sejati, orang mesti berani mengorbankan hidupnya. Korban itu mesti ditampakkan dalam perbuatan yang nyata.

Kisah tadi menunjukkan bahwa korban itu tidak sia-sia. Kasih yang ditunjukkan dalam hidup sehari-hari itu ternyata membuahkan hasil yang nyata. Anak itu mengalami sukacita dan damai. Anak itu menemukan kasih yang tulus dari sang ibu. Anak itu menemukan betapa hidup ini sungguh-sungguh berharga.

Keindahan dan berharganya hidup tidak diukur dari panjang atau pendeknya hidup seseorang. Juga tidak diukur dari kaya dan miskinnya orang. Atau tidak juga diukur dari tinggi atau rendahnya jabatan seseorang. Namun indah dan berharganya hidup seseorang diukur dari bagaimana orang menjalani hidup ini. Karena itu, ukuran yang sesungguhnya terletak pada bagaimana seseorang memaknai hidup ini dalam kasih. Kasih itu menjadi ukuran indah dan berharganya hidup ini.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa memaknai hidup ini dengan kasih yang tulus. Ketulusan kasih itu mampu membawa orang untuk tetap setia kepada Tuhan dan sesama. Orang mampu membagikan kasih itu kepada sesama yang dijumpainya dalam hidup sehari-hari. Mengapa? Karena hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri. Hidup kita ini juga diperuntukkan bagi sesama. Mari kita memaknai indah dan berharganya hidup ini dengan membagikan kasih kita kepada sesama. Dengan demikian, hidup ini semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ