Pages

Tampilkan postingan dengan label kegelapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kegelapan. Tampilkan semua postingan

20 April 2013

Andalkan Rahmat Tuhan untuk Lepas dari Kegelapan

 


Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda berada dalam situasi kegelapan dan dosa? Anda akan berjuang sendiri untuk melepaskan diri Anda dari situasi itu? Atau Anda akan mengandalkan rahmat Tuhan?

Suatu ketika saya menyusuri suatu lorong yang gelap. Namun saya berjalan dengan lancar saja di lorong itu. Pasalnya, sudah beberapa kali saya melintasi lorong itu di siang hari. Jadi saya sudah agak hafal hal-hal yang ada di sepanjang lorong itu. Namun saat malam itu saya melewati lorong itu, dahi saya terbentur sesuatu. Butir-butir darah segar mengucur membasahi wajah saya. Saya agak panik. Namun saya mampu menguasai diri.

Setelah berhenti sesaat, saya meneruskan perjalanan saya. Di ujung orong itu ada seberkas cahaya. Saya merasa aman. Saya merasa ada sesuatu yang memberi harapan. Meski darah masih mengalir perlahan-lahan, saya terus mengarahkan pandangan saya ke ujung lorong itu. Seberkas cahaya itu mampu meyakinkan saya bahwa saya mampu menembus lorong yang gelap itu. Saya merasa yakin, ada sesuatu yang memberi kekuatan untuk terus maju.

Benar. Kaki-kaki saya terus melangkah hingga di ujung lorong itu. Anehnya, cahaya yang saya lihat itu ternyata tidak ada di ujung lorong itu. Cahaya itu masih jauh dari ujung lorong itu. Cahayanya berpendar-pendar hingga di ujung lorong itu. Saya merasa, cahaya itu hanyalah fatamorgana. Namun cahaya itu telah menguatkan saya untuk terus berjalan, meski darah masih mengalir dari dahi saya. Ada optimisme. Ada kekuatan untuk meraih tujuan.

Sahabat, setiap kita tentu pernah mengalami kegelapan dalam hidup. Kita merasa takut di saat kegelapan melingkupi diri kita. Kita merasa cemas. Kita merasa ada sesuatu yang mesti kita hindari, namun ternyata kita tidak mampu. Ada yang mengancam diri kita. Yang kemudian sering kita buat adalah kita lari menghindari kegelapan itu. Kita berusaha untuk menemukan terang.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti tetap tenang saat kegelapan menghadang kita dalam perjalanan hidup. Kita tidak perlu merasa takut atau panik. Yang mesti kita lakukan adalah tetap memusatkan perhatian pada apa yang semestinya kita lakukan. Dengan demikian, kita mampu melawan kegelapan itu. Kita mampu menemukan cahaya.

Dalam hidup rohani, kegelapan itu juga sering kita alami. Hal ini kita alami saat dosa menguasai hidup kita. Saat kita jatuh ke dalam dosa. Banyak orang tidak mampu menghadapi godaan-godaan dalam hidupnya. Akibatnya, mereka tidak mampu bertahan dalam kebaikan. Mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka kemudian dikuasai oleh kegelapan hidup. Mereka merasa cemas, kalau-kalau sukacita batiniah hilang dari diri mereka.

Mereka berusaha untuk keluar dari kegelapan dosa itu. Namun mereka tidak mampu berjuang sendirian. Setiap kali mereka mau keluar dari kegelapan itu, mereka jatuh kembali ke dalam dosa.

Lantas apa yang mesti dilakukan? Tentu saja sebagai orang beriman, kita butuh rahmat Tuhan untuk dapat melepaskan diri dari dosa dan kegelapan itu. Untuk itu, orang mesti membuka hatinya bagi rahmat Tuhan. Orang mesti membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan. Dengan demikian, dosa dan kegelapan itu lenyap dari dirinya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


963

12 Mei 2010

Tuhan Hadir dalam Kegelapan Hidup


Pada suatu malam sebuah rumah terbakar. Api berkobar begitu hebat. Semua anggota keluarga itu sudah keluar rumah. Tinggal salah seorang anak yang masih terperangkap di dalam rumah itu. Ayahnya tidak berani masuk kembali ke dalam rumah, karena kobaran api yang begitu hebat.

Tetapi anak itu mendapat akal. Ia berhasil melarikan diri ke atas atap rumah yang belum terbakar. Melihat anaknya berada di atas atap, ayahnya memanggil-manggil namanya. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, “Lompat! Saya akan menangkap engkau.”

Bapak itu sadar bahwa anaknya hanya bisa selamat, kalau ia berani melompat dari atas atap itu. Namun yang dilihat oleh anaknya hanyalah api, asap dan kegelapan. Anak itu sangat kebingungan. Ia mendengar suara ayahnya, tetapi bagaimana ia bisa terjun dari atas atap itu?

Ayahnya berteriak lagi, “Lompat anakku! Saya siap menangkap engkau.”

Anak itu ragu-ragu. Apalagi ia tidak bisa melihat ayahnya. Anak itu berteriak, “Bagaimana saya bisa melompat, kalau saya tidak bisa melihat ayah?”

Jawab ayahnya, “Lompat saja. Dan engkau akan selamat di tangan ayah. Jangan takut.”

Anak itu pun memberanikan diri untuk melompat. Tangan ayahnya telah terulur. Ia pun merangkul anaknya yang selamat dari bahaya api yang kian membesar.

Mukjijat sering terjadi dalam situasi kepepet. Yang dibutuhkan dari sikap seseorang adalah sikap iman. Artinya, orang mesti berani melangkahkan kaki meski dalam suasana yang mengancam hidupnya. Dalam hidup ini orang mesti berani melompat, kalau suasana hidup semakin kusut. Orang mesti berani meninggalkan rutinitas hidupnya dan mencari cara-cara baru untuk meraih kesuksesan.

Banyak orang dapat meraih kesuksesan berkat keberanian untuk melakukan suatu inovasi terhadap bidang-bidang kehidupan yang baru. Untuk itu, orang tidak bisa hanya mengandalkan apa yang sudah ada dan sudah berjalan secara rutin itu. Orang mesti berani berubah. Namun tidak berarti orang memiliki sikap plinplan, sikap yang berubah-ubah.

Iman akan Tuhan itu juga mesti membuat orang berani keluar dari kehidupan yang biasa-biasa saja. Kalau orang hidup bertahun-tahun dalam kondisi kemiskinan yang berat, ia mesti berani mencari jalan lain untuk keluar dari kemiskinan itu. Tentu sebagai orang beriman, jalan lain itu jalan yang benar. Cara-cara yang tulus. Bukan melalui kecurangan-kecurangan.

Rasanya setiap hari kita sudah berusaha keras untuk berubah. Mungkin ada di antara kita yang telah menemukan cara-cara yang baik untuk keluar dari rutinitas hidup kita. Mungkin ada yang sudah menemukan contoh-contoh yang cespleng untuk membangun suatu hidup yang lebih baik.

Atau mungkin ada yang masih kesal terhadap dirinya sendiri, karena belum mampu menemukan jalan baru menuju kesuksesan. Untuk hal ini, orang seperti ini membutuhkan suatu lompatan dalam hidupnya. Ia perlu meninggalkan cara hidup lamanya yang membosankan. Ia perlu mengubah diri, agar meraih suatu hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

375
Bagikan