Pages

Tampilkan postingan dengan label membarui diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label membarui diri. Tampilkan semua postingan

10 Maret 2016

Berani Membarui Diri untuk Hidup Lebih Baik

 

Membarui hidup merupakan suatu langkah yang sangat baik untuk memiliki hidup yang lebih bagi dan berguna.

Suatu hari seekor kadal kehilangan ekornya. Ekor satu-satunya itu terjepit kayu. Kadal itu sudah berusaha untuk melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Satu-satunya cara agar ia tidak mati adalah memutuskan ekor yang terjepit itu. Begitu putus, kadal itu merasa sakit sekali meski hanya beberapa tetes darah yang keluar. Meski begitu, ia merasa lega. Ia bisa lolos dari kematian yang mengancam nyawanya.

Tindakan selanjutnya adalah mengobati bekas luka itu. Bekas luka itu mesti cepat mengering, agar ia bisa beraktivitas dengan bebas. Tubuhnya kini menjadi lebih pendek. Pada awalnya kadal itu merasa tidak enak, tidak nyaman. Namun ia mulai menyesuaikan diri. Ia mesti berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup di sekitarnya.

Bersamaan dengan mengobati lukanya, kadal itu pun membarui hidupnya. Ia tidak sekedar seekor kadal yang biasa-biasa saja. Dalam hidupnya, ia ingin menjadi kadal yang lebih baik. Kalau sebelum mengalami putus ekor, ia menjadi kadal yang sok berkuasa dan sombong, kini ia mau berubah. Ia ingin menjadi kadal yang rendah hati. Ia ingin membantu teman-temannya dalam hidup bersama.

Kadal kehilangan ekor itu kemudian menjadi kadal yang sangat baik. Ia suka membantu teman-temannya yang lain. Ia tidak egois lagi. Teman-temannya pun merasa kehadiran kadal yang hilang buntutnya itu menjadi suatu rahmat bagi hidup mereka.

Manusia hidup dalam dunia yang kadang-kadang keras dan kasar. Sering orang terperosok ke dalam kesulitan hidup. Sering hal itu disebabkan oleh perbuatan mereka yang sering mengagung-agungkan diri. Akibatnya, manusia mengalami kesulitan untuk membarui hidupnya.

Kisah di atas memberi inspirasi bagi pertumbuhan hidup kita. Kita dapat menjadi orang yang baik dan benar, kalau kita senantiasa membarui diri kita. Hal-hal yang lama yang sering menghambat pertumbuhan iman kita mesti dilepaskan. Ekor kadal itu menghambat dirinya. Karena itu, mesti diputuskannya.

Memang, membarui diri itu tidak mudah. Ada rasa sakit yang luar biasa ketika seseorang melepaskan hal-hal lama yang selama ini dihidupinya. Hal-hal itu terasa menyenangkan meski hanya semu. Tetapi orang tidak boleh takut, kalau ingin hidupnya lebih baik dan berguna.

Orang beriman mesti yakin bahwa bantuan Tuhan selalu menyertai perjalanan hidupnya. “Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapatkan kekuatan baru,” kata Nabi Yesaya (40:31). Kita membarui diri kita dengan menyambut kehadiran Tuhan dalam diri kita. Dengan demikian, kita memperoleh damai dan sukacita dalam hidup ini.

Membarui hidup berarti juga menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Bukan diri sendiri lagi yang berkuasa, tetapi Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang yang berkuasa atas diri kita. Mari kita membuka hati bagi Tuhan, agar Tuhan yang meraja dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



1187

18 Desember 2009

Usaha Membarui Diri


Ada seorang murid yang belajar pada seorang guru bijak. Ia sering melanggar peraturan di tempat guru bijak itu. Misalnya, pada malam hari ia meninggalkan rumah gurunya dengan memanjat pagar tembok yang tinggi. Ia pergi ke kota untuk bersenang-senang.

Suatu malam guru bijak itu berkeliling di tempat tidur para muridnya. Dia mendapati salah satu muridnya meninggalkan tempat tidurnya. Ketika mengelilingi tembok rumahnya, ia menemukan sebuah tangga. Ia segera menyingkirkan tangga itu dan berdiri di sana semalam-malaman.

Ketika murid yang keluar itu pulang, dia tidak menyadari tangga yang dipakainya sudah diambil. Tidak ada penerang di tempat itu. Tanpa sengaja, ia menginjak kepala gurunya dan melompat ke bawah. Ia kaget setengah mati atas apa yang telah terjadi.

Guru bijak itu memandangnya lalu berkata, “Saat ini sangat dingin. Jagalah dirimu supaya jangan sampai sakit karena kedinginan.”

Sejak saat itu, murid itu tidak pernah keluar malam lagi. Ia bertobat. Ia tidak mau menyusahkan diri lagi.

Ada banyak hal yang mesti dipelajari dalam hidup ini. Pelajaran yang paling berharga datangnya dari pengalaman hidup. Sering orang menganggap remeh terhadap pengalaman-pengalaman hidupnya. Tetapi sebenarnya pengalaman hidup itu ilmu yang paling asli dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ketidaksetiaan terhadap aturan itu dapat diatasi. Sang guru bijak memberikan contoh yang baik dengan memberi kesempatan kepada muridnya untuk memperbaiki hidupnya. Ia tidak memarahinya. Bahkan ia memberikan kepalanya untuk menjadi tangga bagi muridnya yang tidak setia itu. Ia memberikan nasihat kepada muridnya dengan cara yang sangat sederhana, namun sangat mengena. Murid itu menjadi sadar akan perbuatannya yang dapat merugikan dirinya sendiri.

Pengalaman diampuni dan dikasihi sering menuntun seseorang untuk membarui dirinya. Pembaruan diri hanya bisa dilakukan, kalau orang diberi kesempatan yang seluas-luasnya. Namun kesempatan itu mesti digunakan sebaik-baiknya demi perubahan dalam hidup. Sang murid dalam kisah tadi dapat mengubah tingkah lakunya, setelah mendapat kesempatan dari sang gurunya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia gunakan sebaik-baiknya untuk kemajuan hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita juga selalu diberi kesempatan yang baik oleh Tuhan untuk mengubah tingkah laku hidup kita yang tidak senonoh di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan kasihNya yang begitu besar, Tuhan selalu memberi kita kekuatan untuk membarui diri kita. Mari kita berusaha untuk mengubah hidup agar menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

264

Bagikan