Pages

Tampilkan postingan dengan label mencoba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mencoba. Tampilkan semua postingan

23 Desember 2010

Berani Mencoba Sesuatu yang Baru

Ada seorang gadis yang suka mengutak-atik alat-alat elektronik. Semua alat elektronik yang ada di rumahnya sudah pernah ia bongkar. Ia lakukan hal itu sejak ia masih kelas enam SD. Ia menyukai hal itu. Ia tidak hanya membongkar alat-alat elektronik itu. Tetapi ia juga memperbaiki peralatan yang rusak. Awalnya ia belajar dari ayahnya yang juga suka mengutak-atik alat-alat elektronik. Padahal profesi ayahnya adalah dosen ilmu sosial di sebuah perguruan tinggi.

Ketika ditanya tentang kesukaannya itu, gadis itu mengatakan bahwa ia ingin mencoba sesuatu yang baru. Ia ingin belajar sendiri memperbaiki alat-alat elektronik yang rusak. Ia berkata, ”Saya tidak harus mempelajarinya di bangku sekolah untuk memperbaiki alat-alat yang rusak di rumah sendiri. Saya belajar sendiri. Saya belajar dari buku-buku dan dari ayah saya..”

Dengan berani mencoba sesuatu yang baru, gadis itu menjadi orang yang sungguh-sungguh ahli. Ia sering dipanggil untuk memperbaiki alat-alat elektronik yang rusak. Ia menunjukkan dengan sungguh-sungguh keahliannya. Semakin hari semakin bertambah pula pelanggannya. Ia melayani mereka dengan sangat baik dan memuaskan. Peralatan elektronik yang rusak itu dapat digunakan lagi.

Sahabat, banyak orang takut mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa bahwa mencoba sesuatu yang baru itu hanyalah buang-buang waktu. Apalagi hal tersebut tidak berkenaan dengan profesi dan keahlian mereka. Takut melakukan kesalahan merupakan sebab terbesar orang tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Orang enggan untuk mengambil resiko atas apa yang dicoba itu. Orang kurang berani berhadapan dengan tantangan baru.

Mencoba sesuatu yang baru adalah suatu tantangan bagi setiap orang. Kalau orang berani berhadapan dengan resiko, orang akan dengan segera menghadapi tantangan itu. Orang tidak peduli akan kegagalan yang akan dihadapi. Bahkan kegagalan dipandang sebagai sukses yang akan diraih di masa yang akan datang.

Namun orang mesti juga memperkaya diri dengan ilmu-ilmu yang ada. Orang tidak perlu merasa rendah diri ketika mempelajari sesuatu yang baru. Orang mesti memiliki semangat untuk belajar dan belajar terus. Bekal yang dimiliki dari ilmu-ilmu dan sumber-sumber lain akan membantu orang untuk berani mencoba sesuatu yang baru.

Kisah tadi menunjukkan bahwa gadis itu memiliki semangat untuk mempelajari sesuatu yang baru. Tidak hanya itu. Ia juga belajar dari sumber-sumber lain. Ia membuka hati dan pikirannya untuk ilmu-ilmu lain yang tidak ia miliki sebelumnya. Ilmu-ilmu itu menjadi pendukung baginya dalam usahanya untuk mencoba sesuatu yang baru.

Karena itu, orang beriman mesti berani mencoba sesuatu yang baru. Artinya, orang mesti juga berani menghadapi resiko yang akan terjadi. Orang mesti berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Orang seperti ini biasanya akan sukses dalam hidupnya. Dengan demikian, orang dapat sungguh-sungguh menemukan damai dan sukacita dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ
577

02 Januari 2010

Pentingnya Mengasah Cara Memandang




Suatu hari seorang anak kecil berjalan menyusuri kampungnya sambil mencari buluh-buluh untuk dibuat seruling. Ia mematahkan sebuah buluh, memotongnya, melubanginya lalu mencoba meniupnya.

Sayang, buluh itu tidak mengeluarkan suara. Ia pun membuatnya lagi. Diambilnya sebuah buluh, dipotongnya, kemudian dilubanginya dan ia mencoba untuk meniupnya. Lagi-lagi buluh itu tidak mengeluarkan suara. Ia mencoba lagi dan lagi. Tetapi ia terus-menerus gagal lagi. Akhirnya, dengan putus asa ia membuang semua buluh itu ke dalam selokan.

Anak kecil itu berjalan kembali pulang ke rumahnya. Dalam benaknya, ia tetap bertekat untuk mencari dan menemukan buluh yang dapat ia gunakan sebagai seruling. Ia berkata, “Suatu hari Tuhan akan menolong saya menemukan sebatang buluh untuk sebuah seruling.”

Tekad anak kecil itu memang berhasil. Suatu hari ia menemukan sebatang buluh dipinggir jalan. Ia mengubahnya menjadi sebuah seruling yang indah bunyinya. Dengan suling itu, ia mulai mengembangkan bakatnya melalui alat musik tiup itu. Ia terus bermain dan suatu ketika ia menjadi terkenal di kotanya sebagai seorang pemain suling terbaik. Banyak pertunjukan yang menggunakan jasanya meniup suling.

Ia berkata kepada para penonton dalam satu pementasan, “Suling ini tidak istimewa. Saya menemukannya sebagai benda rongsokan di pinggir jalan. Saya mengambilnya dan membuatnya sebagai sebuah suling. Saya mengubahnya menjadi sesuatu yang terkenal.”

Di sekitar kita ada begitu banyak hal yang tampaknya tidak berguna. Banyak orang memandang rendah terhadap hal-hal di sekitarnya yang tidak mereka gunakan. Mereka membuangnya. Atau mereka menghancurkannya. Namun bisa jadi sesuatu yang tidak dipakai itu dapat berguna untuk kebaikan bagi banyak orang.

Kisah tadi menunjukkan bahwa sesuatu dapat menjadi berguna tergantung pada kreativitas seseorang. Cara pandang seseorang terhadap suatu benda itu pun sangat menentukan. Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah cara kita memandang sesuatu yang ada di depan mata kita.

Kalau sesuatu dipandang daru sudut yang salah, tentu akan selalu salah. Tetapi kalau sesuatu dipandang secara baik dan positif akan menghasilkan banyak hal baik bagi banyak orang. Karena itu, kita perlu memiliki cara pandang yang positif terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita.

Dengan cara pandang positif yang kita miliki, kita akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi hidup banyak orang. Orang akan mengalami sukacita dan damai, kalau apa yang kita berikan kepada mereka memiliki makna yang mendalam bagi kebaikan bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com





280
Bagikan