Pages

Tampilkan postingan dengan label anugerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anugerah. Tampilkan semua postingan

12 Juli 2011

Mensyukuri Anugerah Hidup

Ada seorang pemuda yang selalu berusaha untuk mensyukuri hidup ini. Mengapa? Karena ia merasa bahwa hidup ini anugerah dari Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu memberikan hidup ini kepada manusia. Karena itu, hidup ini bukan milik manusia. Tuhanlah yang memiliki kehidupan ini. Manusia hanya diberi tanggung jawab untuk memelihara hidupnya sebaik-baiknya.

Cara pemuda itu mensyukuri hidup ini adalah dengan menjaga tubuhnya tetap sehat. Ia rajin berolahraga. Ia makan makanan yang sehat dan bergizi. Ia tidak merokok. Ia menjauhi minuman keras. Bahkan ia selalu berusaha untuk mengingatkan teman-temannya untuk selalu hidup sehat. Ia ingin agar usaha mensyukuri hidup ini tidak hanya datang dari dirinya sendiri saja. Ia ingin agar teman-temannya pun mensyukuri hidup ini.

Dengan cara begitu, ia mau mengatakan bahwa setiap orang punya kesempatan untuk merefleksikan anugerah Tuhan berupa hidup kepada manusia. Dengan mensyukuri hidup ini, manusia akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Manusia tidak perlu kuatir akan hidup ini. Mengapa? Karena Tuhan sendirilah yang menyelenggarakan hidup ini. Tuhan sendiri yang melindungi dan menyertai perjalanan hidup manusia. Inilah iman yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Dalam iman itu, ia memiliki keyakinan bahwa hidup manusia mesti selalu dipertahankan.

Sahabat, kita hidup di zaman yang serba instan dan serba gampang. Orang tidak mau susah-susah untuk menjalani hidup ini. Kalau ada persoalan, orang gampang melarikan diri. Orang tidak berani menghadapi persoalan hidupnya.

Akibatnya, manusia sering tidak kuat dalam hidupnya. Manusia pasrah begitu saja pada apa yang terjadi pada dirinya. Akibatnya, manusia kurang mensyukuri hidup ini. Kalau dirinya disakiti, ia akan membalasnya dengan menyakiti orang lain.

Untuk itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia? Pertama-tama yang harus dilakukan adalah manusia mesti berani menerima hidup ini apa adanya. Manusia mesti berani mempertanggungjawabkan kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan bagi dirinya.

Lantas manusia mesti mensyukuri hidup ini. Artinya, manusia berusaha terus-menerus untuk merawat dirinya. Orang tidak mudah jatuh ke dalam godaan-godaan yang menghancurkan dirinya sendiri. Orang mesti menjaga dan memelihara hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Tentu saja hal ini tidak mudah. Butuh waktu dan perjuangan. Orang tidak bisa mengatakan bahwa dirinya akan seratus persen berhasil dalam hidupnya. Ada berbagai hal yang mesti dilakukan untuk meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Karena itu, sebagai insan ciptaan Tuhan, kita diharapan untuk terus-menerus mensyukuri hidup ini. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

727

06 Juli 2011

Hidup Ini Anugerah Cuma-cuma


Awal April tahun lalu diberitakan hilangnya seorang anak cacat bernama Paulette Gebara Farah di kota Meksiko. Lenyapnya anak berusia emnpat tahun ini menjadi pembicaraan banyak orang di seluruh kota. Orang membicarakan peristiwa itu di jalan-jalan, restoran. Media massa di negeri itu memberitakan peristiwa menyedihkan itu. Bahkan jejaring sosial pun ikut sibuk membicarakan hilangnya anak yang tidak bisa bicara dan berjalan itu.

Gadis cilik itu tinggal bersama orangtuanya di sebuah apartemen mewah. Ibu gadis cilik yang seorang pengacara itu mengalami penderitaan atas peristiwa itu. Ia memasang poster di berbagai tempat. Ia memohon agar kalau ada orang yang menemukan putrinya segera mengembalikannya.

Ia berkata, ”Satu-satunya yang saya inginkan adalah mendapatkan anak saya kembali. Dia bocah khusus yang memerlukan orangtuanya, yang tak bisa bertahan sendiri. Dia mempunyai keluarga yang sangat mencintainya dan mau memberikan nyawa mereka untuknya.”

Namun para penyelidik polisi menemukan sesuatu yang aneh. Setelah menyelidiki seluruh isi apartemen itu, polisi menemukan jenazah anak itu terbungkus seprei dan terjepit di antara kasur dan tempat tidur. Masyarakat sangat marah mendengar berita itu. Pihak polisi menduga bahwa orangtua anak itu berusaha melenyapkan anak mereka yang cacat itu.

Sahabat, kehidupan manusia adalah segala-galanya. Karena itu, kehidupan itu tidak boleh dilenyapkan. Seorang anak cacat yang membutuhkan bantuan mesti diberi bantuan untuk mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Anak-anak seperti ini mesti mendapat dukungan yang khusus. Mereka mesti diperhatikan secara istimewa, karena mereka adalah buah hati dari orangtua sendiri.

Karena itu, orang akan marah begitu mengetahui kehidupan itu disepelekan. Kehidupan yang begitu berharga itu tidak boleh dilenyapkan. Martabat manusia mesti dijunjung tinggi. Ketika martabat manusia itu tidak dijunjung tinggi, yang ada hanyalah penodaan terhadap kehidupan itu sendiri.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ada penolakan terhadap kehidupan manusia. Mengapa orang sampai hati menolak kehidupan? Karena orang tidak mau repot mengurus kekurangan yang ada dalam dirinya. Orang mau lepas tangan. Orang mau menikmati hidup ini hanya untuk diri sendiri.

Karena itu, mereka merasa bahwa hidup ini hanya untuk mereka sendiri. Akibatnya, kehidupan orang lain tidak dipikirkan. Atau kehidupan orang lain dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk meraih kenikmatan dalam hidup.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan penghargaan yang tinggi terhadap hidup ini. Mengapa? Karena hidup ini adalah anugerah. Tuhan memberi kita hidup ini dengan cuma-cuma. Tuhan menghendaki agar kita memperjuangkan hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


721

05 Mei 2010

Mensyukuri Anugerah Tuhan


Ada seorang pemuda yang sedang mendalami hidup spiritual. Ia mendatangi seorang pertapa yang terkenal di kotanya. Kepada pertapa yang saleh itu, pemuda itu mengajukan permintaan, “Bapak Pertapa, tunjukkan kepadaku bagaimana saya dapat menemukan Tuhan.”

Pertapa itu bertanya, “Berapa besar kerinduanmu ini?” Pertapa itu menatap wajah pemuda itu dalam-dalam.

Orang muda itu menjawab, “Lebih dari apa pun di dunia ini.”

Pertapa itu membawa orang muda itu ke tepi sebuah danau yang ada di pekarangan pertapaan itu. Tanpa berkata apa-apa, pertapa itu masuk bersama pemuda itu ke dalam danau. Mereka masuk hingga ke leher mereka.

Kemudian pertapa itu mengangkat tangannya dan menekan kepala orang muda itu ke dalam air. Orang muda itu meronta-ronta. Ia berjuang untuk melepaskan diri dari tangan pertapa itu. Ia berteriak-teriak, agar pertapa itu melepaskan dirinya. Tetapi pertapa itu tidak melepaskan dirinya sampai ia hampir tenggelam.

Ketika mereka kembali ke pinggir danau, pertapa itu bertanya kepada pemuda itu, “Anakku, ketika engkau berada di dalam air, apa yang engkau inginkan lebih dari segala yang lain?”

Tanpa ragu-ragu pemuda itu menjawab, “Udara!”

Kata pertapa itu, “Baik, ketika engkau ingin menemukan Tuhan seperti engkau menginginkan udara, maka matamu akan terbuka terhadap keajaiban Tuhan.”

Tuhan senantiasa hadir dalam setiap langkah hidup kita. Seringkali kita tidak merasakannya. Ia hadir seperti udara yang secara otomatis kita hirup untuk kehidupan kita. Sering kita tidak peduli bahwa Tuhan selalu menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Karena itu, di saat-saat kita mengalami kesulitan dan derita, kita seringkali menganggap Tuhan jauh dari kita. Tuhan tidak peduli lagi terhadap hidup kita.

Ada seorang suami yang tega mengkhianati cintanya kepada istri dan anak-anaknya. Ia tidak peduli terhadap pergulatan hidup mereka. Bahkan ia menghabiskan uangnya di meja judi. Ia membiarkan mereka terlantar. Padahal setiap kali ia pulang ke rumah, istri dan anak-anaknya menyambutnya dengan penuh kasih sayang.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi atas diri suami itu? Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam hidup. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa Tuhan selalu membimbing langkah hidup manusia. Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya berjuang sendirian di dunia ini.

Setiap hari kita mendapatkan begitu banyak berkat dari Tuhan. Dia memberi kita makan, minum, pakaian, semangat bekerja dan teman sekerja yang baik. Dia memberi kesempatan kepada kita semua untuk membangun suatu hidup yang lebih baik.

Karena itu, mari kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang kita terima hari ini. Mari kita bawa setiap usaha kita hari ini di dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, kita selalu mendapat berkat untuk hari esok. Hari esok akan menjadi suatu kesempatan yang sangat bermakna bagi pertumbuhan iman kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


368

Bagikan

24 Oktober 2009

Hidup Ini Anugerah Tuhan

Hidup ini sering terjadi keajaiban-keajaiban. Orang mengalami keajaiban itu sebagai bentuk penyertaan Tuhan atas dirinya. Pengalaman tentang keajaiban Tuhan pernah dialami oleh murid-murid Yesus. Pada waktu Raja Herodes memerintah wilayah Palestina, ia menyuruh tentaranya menangkap para pengikut Yesus. Bahkan ada yang dibunuh.

Petrus, misalnya, ditangkap dan dipenjarakan tanpa suatu pengadilan apa pun. Petrus diawasi oleh empat regu masing-masing dengan empat prajurit. Mungkin ia dianggap sebagai orang yang paling berbahaya. Petrus tidak bisa berjumpa dengan para pengikut Yesus yang lain.

Namun para pengikut yang lain mendoakan keselamatan Petrus. Mereka berdoa dengan sangat tekun, sehingga Tuhan mendengarkan doa-doa mereka. Keajaiban pun terjadi. Meskipun tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai, Petrus pun terlepas dari penjara. Rupanya ada malaikat Tuhan yang datang untuk membebaskan Petrus yang tidak bersalah.

Sementara ia tertidur nyenyak, malaikat itu datang dan menepuk punggungnya. Rantai yang membelenggu tangan dan kakinya itu dengan mudah terlepas. Ia pun berjalan dengan bebas meninggalkan penjara. Tidak ada seorang prajurit pun yang mampu menahannya untuk pergi dari penjara itu. Ia diselamatkan oleh Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Petrus mengalami hal ini sebagai anugerah dari Tuhan bagi dirinya. Untuk itu, ia mensyukuri rahmat Tuhan itu.

Kita sering mendengar adanya keajaiban-keajaiban di jaman modern ini. Ada orang yang merasa bahwa keajaiban yang ia alami itu berasal dari dirinya sendiri. Karena itu, ia mulai membanggakan kemampuan dirinya. Ia mulai pamer. Ini berbahaya bagi kehidupan.

Sebenarnya, keajaiban itu berasal dari Tuhan. Tuhan itu sumber segala-galanya. Tuhan yang memampukan seseorang untuk memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Kekuatan dan kemampuan yang kita miliki itu berasal dari Tuhan. Dialah yang memberi kehidupan ini kepada kita.

Pengalaman Petrus dalam kisah tadi menunjukkan bahwa manusia semestinya tidak membanggakan kemampuan atau kekuatan yang ada dalam dirinya. Untuk itu, kerendahan hati sangat dituntut dari diri seorang yang beriman kepada Tuhan. Orang beriman itu mesti berani mengakui kemampuan yang dimilikinya sebagai rahmat yang datang dari Tuhan. Tuhanlah yang memberi daya kekuatan untuk kehidupan kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Artinya, kita mengakui keterbatasan kita di hadapan Tuhan. Kita membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Untuk itu, kita mesti membuka hati kita lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan di dalam diri kita. Dengan demikian kita mengalami damai dan sejahtera. Kasih Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



205