Pages

24 Oktober 2009

Hidup Ini Anugerah Tuhan

Hidup ini sering terjadi keajaiban-keajaiban. Orang mengalami keajaiban itu sebagai bentuk penyertaan Tuhan atas dirinya. Pengalaman tentang keajaiban Tuhan pernah dialami oleh murid-murid Yesus. Pada waktu Raja Herodes memerintah wilayah Palestina, ia menyuruh tentaranya menangkap para pengikut Yesus. Bahkan ada yang dibunuh.

Petrus, misalnya, ditangkap dan dipenjarakan tanpa suatu pengadilan apa pun. Petrus diawasi oleh empat regu masing-masing dengan empat prajurit. Mungkin ia dianggap sebagai orang yang paling berbahaya. Petrus tidak bisa berjumpa dengan para pengikut Yesus yang lain.

Namun para pengikut yang lain mendoakan keselamatan Petrus. Mereka berdoa dengan sangat tekun, sehingga Tuhan mendengarkan doa-doa mereka. Keajaiban pun terjadi. Meskipun tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai, Petrus pun terlepas dari penjara. Rupanya ada malaikat Tuhan yang datang untuk membebaskan Petrus yang tidak bersalah.

Sementara ia tertidur nyenyak, malaikat itu datang dan menepuk punggungnya. Rantai yang membelenggu tangan dan kakinya itu dengan mudah terlepas. Ia pun berjalan dengan bebas meninggalkan penjara. Tidak ada seorang prajurit pun yang mampu menahannya untuk pergi dari penjara itu. Ia diselamatkan oleh Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Petrus mengalami hal ini sebagai anugerah dari Tuhan bagi dirinya. Untuk itu, ia mensyukuri rahmat Tuhan itu.

Kita sering mendengar adanya keajaiban-keajaiban di jaman modern ini. Ada orang yang merasa bahwa keajaiban yang ia alami itu berasal dari dirinya sendiri. Karena itu, ia mulai membanggakan kemampuan dirinya. Ia mulai pamer. Ini berbahaya bagi kehidupan.

Sebenarnya, keajaiban itu berasal dari Tuhan. Tuhan itu sumber segala-galanya. Tuhan yang memampukan seseorang untuk memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Kekuatan dan kemampuan yang kita miliki itu berasal dari Tuhan. Dialah yang memberi kehidupan ini kepada kita.

Pengalaman Petrus dalam kisah tadi menunjukkan bahwa manusia semestinya tidak membanggakan kemampuan atau kekuatan yang ada dalam dirinya. Untuk itu, kerendahan hati sangat dituntut dari diri seorang yang beriman kepada Tuhan. Orang beriman itu mesti berani mengakui kemampuan yang dimilikinya sebagai rahmat yang datang dari Tuhan. Tuhanlah yang memberi daya kekuatan untuk kehidupan kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Artinya, kita mengakui keterbatasan kita di hadapan Tuhan. Kita membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Untuk itu, kita mesti membuka hati kita lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan di dalam diri kita. Dengan demikian kita mengalami damai dan sejahtera. Kasih Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



205

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.