Pages

05 Oktober 2009

Pengaruh Lingkungan dalam Hidup Kita

Suatu hari, seorang nyonya, istri seorang tokoh masyarakat terkemuka, sedang berkunjung ke desa asalnya. Ketika sedang berjalan-jalan di lingkungan desa, ia mendapatkan segumpal tanah yang bentuknya aneh. Tanah liat itu ternyata berbau harum sekali. Diambilnya tanah liat itu lalu dibawanya pulang ke kota. Meski sudah dibawa berkilo-kilometer jauhnya, tanah liat itu tetap saja masih mengeluarkan aroma harum. Bahkan ketika tanah liat tersebut dibawa ke kamar tidur nyonya itu, seluruh ruangan dipenuhi dengan baunya yang harum.

Malam harinya, karena terdorong keingintahuan yang tak mampu ditahannya lagi, nyonya itu mengambil tanah liat tadi dan mengamat-amatinya. Kemudian ia bertanya dalam hati, “Tanah liat apa ini? Mengapa bisa begini harum? Siapa yang mengharumkannya? Dan untuk apa diharumkan?”

Tiba-tiba tanah liat itu berbicara. “Apakah nyonya benar-benar ingin tahu?” tanya tanah liat itu.

Mendengar kata-kata tanah liat itu, terkejutlah nyonya terhormat itu. Dengan gugup dan amat takut, nyonya itu menjawab, "Eh, iya. Aku ingin tahu."

"Tidak usah takut, Nyonya," kata tanah liat itu. Mendengar kata-kata tanah liat itu, nyonya itu menjadi tenang kembali.

Kata tanah liat itu, "Begini, nyonya. Saya hanyalah tanah liat biasa. Tetapi lama sekali saya ditempatkan berdampingan dengan minyak wangi dari Paris. Bahkan, saya sempat ketumpahan minyak dalam jumlah yang lumayan banyak. Karena itulah saya berbau wangi."

Kita hidup dengan orang yang memiliki berbagai watak, suku, kebiasaan yang berbeda-beda. Keberagaman itu turut mempengaruhi kepribadian kita. Lingkungan hidup di mana kita tinggal ikut berpengaruh dalam pembentukan kepribadian kita. Seseorang dapat memiliki watak yang keras juga dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia hidup. Ia tidak begitu saja lahir dengan watak yang keras. Lingkungan berperanan dalam membentuk watak seseorang.

Atau orang yang tumbuh dalam suasana kasih dan saling mengampuni akan memiliki watak seperti ini dalam perjalanan hidupnya. Ia menjadi orang yang mudah diterima oleh banyak orang, karena begitu mudah memperhatikan sesamanya yang membutuhkan pertolongannya. Ia menjadi orang yang mudah mengampuni sesamanya yang melakukan kesalahan terhadapnya.

Namun semua itu mesti mengalami proses dalam perjalanan hidup seseorang. Untuk itu, orang mesti berani mengolah kepribadiannya. Orang tidak bisa membiarkan wataknya yang keras dan mau menang sendiri terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Kita hidup bersama orang lain. Mereka juga memiliki watak yang mempengaruhi hidup kita. Ada orang yang begitu mudah menyerah pada apa yang sudah ada. Tentu hal ini mesti mendapatkan perhatian. Kita ingin menjadi orang-orang yang memiliki kepribadian yang lemah lembut dan rendah hati.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mengasah watak dan kepribadian kita. Dengan demikian kita dapat menjadi orang-orang yang mampu hidup bersama orang lain di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




188

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.