Pages

13 Oktober 2009

Ketika Orang Harus Memilih


Seorang perempuan berusia 25 tahun sudah tiga tahun ini berpacaran dengan seorang pemuda. Pemuda itu pacar pertamanya. Mengingat usianya sudah masuk usia nikah, ia tidak berniat putus hubungan dengan pemuda itu. Lagi pula mencari pasangan hidup kan tidak mudah.

Tapi ada hal yang menganjal di hatinya. Pemuda itu masih ingin bebas dan senang bepergian dengan teman-teman wanitanya yang lain. Kadang hanya berdua saja. Pemuda itu sering ditelephon, dikirimi surat, bahkan sampai dicium oleh teman-teman wanitanya itu.

Pemuda itu tidak pernah memperkenalkan pacarnya dengan teman-temannya atau orangtuanya. Dia hanya bilang bahwa ia sudah punya pacar. Dia takut kalau pacarnya itu nantinya judes pada teman-temannya dan orangtuanya.

Perempuan itu itu bingung. Apakah pemuda itu dapat setia setelah menikah dengannya? Ia bergulat dengan dirinya sendiri.

Setiap orang merindukan kesetiaan dari kekasih atau sahabat karibnya. Tidak ada orang yang ingin dikhianati oleh sesamanya. Apalagi oleh orang yang ia cintai.

Ketidaksetiaan, apa pun bentuknya, akan meninggalkan rasa sakit yang begitu mendalam. Bahkan rasa sakit itu bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Dalam kisah tadi, ada kecemasan dari perempuan yang pacarnya punya banyak teman wanita. Persoalannya, apakah ia boleh mempertahankan pacarnya itu?

Sebenarnya perlu disadari bahwa masa pacaran itu bukan harga mati untuk menikah. Banyak orang menikah dengan pacar kedua, ketiga atau ke sekian. Dalam masa pacaran itu, orang belum terikat. Soalnya adalah banyak anak muda merasa bahwa masa pacaran itu sudah segala-galanya. Akibatnya, ketika ada persoalan selama masa ini, mereka sering mengalami kegoncangan dalam hidupnya. Bisa-bisa mereka frustrasi.

Karena itu, dalam masa pacaran ini semestinya orang tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk mengikat diri dengan orang tertentu. Masa pacaran itu masa untuk saling melihat-lihat. Ibaratnya orang berada dalam sebuah toko serba ada (toserba). Ada banyak pilihan. Orang tidak harus memilih salah satu dari yang dijual dalam toserba itu. Kalau cocok dengan hati, baru orang dapat memilih atau membeli. Kalau tidak cocok sama sekali, apa gunanya dipilih? Nah, kalau dipaksakan, orang akan menemukan kesulitan-kesulitan lebih besar di kemudian hari. Orang dituntut untuk pandai-pandai, ketika masuk ke dalam sebuah toserba itu.

Jadi bagi mereka yang sedang pacaran, jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Ingat, kalau sekarang Anda salah memutuskan, akan menjadi bumerang bagi Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
196

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.