Pages

Tampilkan postingan dengan label pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pilihan. Tampilkan semua postingan

26 Juni 2011

Ketika Orang Berani Menghadapi Pilihan Hidup


“Hidup ini pilihan”. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Sebenarnya sejak awal kehidupan ini kita sudah dihadapkan pada beberapa pilihan yang terkadang membuat kita pusing tujuh keliling. Namun semua itu tergantung dari cara kita menanggapi pilihan hidup itu. Tentu saja setiap pilihan hidup itu pasti ada resikonya.

Seorang gadis menyadari jalan pilihan hidupnya, ketika ia berusia delapan belas tahun. Waktu itu ia telah lulus dari SMA. Waktu itu saudari iparnya menganjurkannya untuk kuliah di sebuah universitas negeri. Ia dianjurkan untuk menempuh kulian Diploma III. Namun anjuran itu bertentangan dengan pikirannya. Mengapa? Karena ia telah menanamkan cita-cita untuk menjadi seorang perawat.

Ia merenungkan dua pilihan itu. Ia berpikir, kalau ia memenuhi anjuran saudari iparnya, ia akan tergantung kepadanya. Tetapi kalau ia mengikuti keinginannya, ia telah merasa berhutang kepada saudari iparnya yang telah menyekolahkannya hingga lulus SMA. Dalam kebimbangan seperti itu, ia memutuskan untuk meninggalkan rumah saudari iparnya. Ia pergi ke kota lain untuk mencari pekerjaan.

Ia berhasil. Dari hasil kerjanya itu, ia mulai menabung. Ia ingin melanjutkan sekolahnya lagi. Ia tidak hanya ingin berhenti sampai lulus SMA. Ia ingin memiliki pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Setelah beberapa tahun bekerja, ia meminta kepada bosnya untuk dapat melanjutkan kuliah di kota tersebut. Bosnya sangat mendukung keinginannya. Bahkan sang bos berjanji untuk membantu biaya kuliahnya. Hal itu menjadi motivasi yang semakin membantunya dalam kuliahnya. Empat tahun kemudian ia pun menyandang gelar sarjana. Kerja kerasnya mulai ia nikmati. Ia memiliki pendidikan yang lebih tinggi.

Sahabat, banyak anak zaman sekarang sering gampang menyerah pada situasi yang mereka hadapi. Ketika ada tantangan, mereka berhenti. Mereka tidak berani untuk maju. Mereka takut gagal dalam hidup mereka. Tentu hal seperti ini membuat kita miris. Mengapa anak zaman sekarang mudah menyerah pada tantangan hidup? Semestinya tantangan hidup itu menjadi motivasi untuk meraih cita-cita hidup.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa tantangan hidup bukan menjadi halangan bagi manusia untuk berhenti di jalan. Tantangan itu menjadi motivasi bagi dirinya untuk meraih cita-cita hidupnya. Tantangan bukanlah penghalang bagi kemajuan. Orang yang berani menghadapi tantangan itu akan berhasil dalam hidupnya. Orang seperti ini berani menghadapi resiko yang akan dihadapi.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menghidupi iman kita dalam hidup sehari-hari. Iman itu sering berhadapan dengan tantangan-tantangan. Iman sejati itu diuji dalam perjalanan hidup ini. Karena itu, orang beriman mesti berani menghadapi pilihan-pilihan hidup yang penuh resiko. Dengan cara ini, orang tetap bertahan dalam perjalanan hidup ini. Orang tetap berani untuk menghidupi imannya dalam tantangan hidup yang nyata.

Mari kita tetap berusaha untuk menghidupi iman kita dalam hidup yang nyata dengan berbagai resikonya. Dengan demikian, kita dapat menemukan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


709

13 Oktober 2009

Ketika Orang Harus Memilih


Seorang perempuan berusia 25 tahun sudah tiga tahun ini berpacaran dengan seorang pemuda. Pemuda itu pacar pertamanya. Mengingat usianya sudah masuk usia nikah, ia tidak berniat putus hubungan dengan pemuda itu. Lagi pula mencari pasangan hidup kan tidak mudah.

Tapi ada hal yang menganjal di hatinya. Pemuda itu masih ingin bebas dan senang bepergian dengan teman-teman wanitanya yang lain. Kadang hanya berdua saja. Pemuda itu sering ditelephon, dikirimi surat, bahkan sampai dicium oleh teman-teman wanitanya itu.

Pemuda itu tidak pernah memperkenalkan pacarnya dengan teman-temannya atau orangtuanya. Dia hanya bilang bahwa ia sudah punya pacar. Dia takut kalau pacarnya itu nantinya judes pada teman-temannya dan orangtuanya.

Perempuan itu itu bingung. Apakah pemuda itu dapat setia setelah menikah dengannya? Ia bergulat dengan dirinya sendiri.

Setiap orang merindukan kesetiaan dari kekasih atau sahabat karibnya. Tidak ada orang yang ingin dikhianati oleh sesamanya. Apalagi oleh orang yang ia cintai.

Ketidaksetiaan, apa pun bentuknya, akan meninggalkan rasa sakit yang begitu mendalam. Bahkan rasa sakit itu bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Dalam kisah tadi, ada kecemasan dari perempuan yang pacarnya punya banyak teman wanita. Persoalannya, apakah ia boleh mempertahankan pacarnya itu?

Sebenarnya perlu disadari bahwa masa pacaran itu bukan harga mati untuk menikah. Banyak orang menikah dengan pacar kedua, ketiga atau ke sekian. Dalam masa pacaran itu, orang belum terikat. Soalnya adalah banyak anak muda merasa bahwa masa pacaran itu sudah segala-galanya. Akibatnya, ketika ada persoalan selama masa ini, mereka sering mengalami kegoncangan dalam hidupnya. Bisa-bisa mereka frustrasi.

Karena itu, dalam masa pacaran ini semestinya orang tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk mengikat diri dengan orang tertentu. Masa pacaran itu masa untuk saling melihat-lihat. Ibaratnya orang berada dalam sebuah toko serba ada (toserba). Ada banyak pilihan. Orang tidak harus memilih salah satu dari yang dijual dalam toserba itu. Kalau cocok dengan hati, baru orang dapat memilih atau membeli. Kalau tidak cocok sama sekali, apa gunanya dipilih? Nah, kalau dipaksakan, orang akan menemukan kesulitan-kesulitan lebih besar di kemudian hari. Orang dituntut untuk pandai-pandai, ketika masuk ke dalam sebuah toserba itu.

Jadi bagi mereka yang sedang pacaran, jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Ingat, kalau sekarang Anda salah memutuskan, akan menjadi bumerang bagi Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
196