Pages

15 Oktober 2009

Membangun Komunikasi yang Baik





Seorang remaja kelas tiga SMU sekarang memasuki usia 17 tahun. Remaja tingtinglah. Ia baru saja selesai dengan ujian akhir. Ia sudah dinyatakan lulus. Seperti remaja-remaja umumnya, ia juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia ingin menjadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik. Karena itu, setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek, Palembang, ini, ia berniat ke Jawa. Ia mau mencoba untuk mandiri. Tidak seperti sekarang, ia selalu tergantung kepada orangtuanya.

Dengan mantap, ia berkata, “Saya ingin bebas. Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orangtua. Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orangtua. Kan belum punya kerjaan. Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orangtua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orangtua.”

Namun ia punya satu persoalan. Orangtuanya tidak mau kehilangan dia. Mereka ingin. agar ia tetap tinggal di rumah. Anak itu berkata, “Kata mereka kalau mau kuliah, di Palembang saja. Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh. Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya. Padahal hati ini ingin belajar mandiri. Sampai kapan saya akan tergantung terus pada orangtua, kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mnengenai diri sendiri? Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri.”

Anak remaja itu heran, kenapa orangtuanya begitu kuatir akan dirinya.

Kebebasan itu dambaan setiap orang. Pada saat tertentu, orang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak tergantung pada keputusan orang lain, bahkan orangtua sekalipun. Mengapa kebebasan seperti ini penting? Karena masa depan seseorang itu ada di tangan orang itu. Ia butuh belajar untuk menyelesaikan segala persoalan sendiri. Ia butuh suasana di mana ia memegang kendali dalam hidupnya sendiri.

Hambatan akan kebebasan itu terjadi sering karena komunikasi yang kurang berjalan dengan baik. Dalam kisah tadi tampak bahwa orangtua kurang merestui niat baik sang anak untuk belajar mandiri. Tampaknya ada missunderstanding antara anak remaja dan orangtua. Mungkin ada ganjalan-ganjalan yang mesti dilewati dulu.

Karena itu, dalam hal kebebasan yang sangat diperlukan adalah adanya komunikasi yang baik dan lancar di antara berbagai pihak. Komunikasi yang kurang baik akan mengakibatkan salah paham. Akibatnya bisa fatal bagi hidup manusia. Kita dapat menyaksikan kurang lancarnya komunikasi telah menyebabkan rapuhnya kehidupan manusia. Relasi yang baik sulit terwujud. Ada prasangka dan kesurigaan yang terjadi di antara sesama manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun komunikasi yang baik dan lancar di antara kita. Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dan manusiawi. Untuk itu, kita mesti bekerja bersama Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kekuasaanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


198

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.