Pages

Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2011

Membangun Komunikasi Kasih



Brutalisme bisa terjadi karena miskomunikasi atau komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Peristiwa berdarah yang terjadi di Koja, Jakarta Utara, Rabu tanggal 14 April 2010 lalu merupakan salah satu contohnya. Menurut beberapa sumber, ada miskomunikasi antara pimpinan dengan anak buah di lapangan. Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik itu menyebabkan terjadinya kerusuhan. Orang tidak saling mengerti. Akibatnya, yang dilakukan adalah menyerang orang lain.

Menyaksikan hal ini, seorang penyiar radio sekaligus pembawa acara, merasa galau. Jatuhnya korban tewas dan banyaknya korban luka mengusik hatinya. Ia berkata, ”Brutalitasme ini buah dari ranting dan cabang miskomunikasi yang buruk antara aparat dan masyarakat. Akarnya adalah hukum yang tak kenal rasa keadilan, lalu ditiup angin bisik-bisik kepentingan. Ini puisi kegalauan hatiku.”

Menurutnya, ketidakadilan yang dirasakan rakyat sudah demikian dalam. Akibatnya, mudah sekali meluap menjadi kebrutalan. Ia berkata, ”Pendengar radio di mana aku siaran juga mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi? Satpol PP memang menggemaskan. Tetapi saat personelnya ada yang meninggal dunia, kita juga merasa prihatin dan simpati. Mereka juga manusia.”

Ia mengimbau para penegak hukum supaya tidak hanya bicara soal hukum formal, tetapi memperhatikan juga rasa keadilan. Ia berkata, ”Kalau negara ini cinta rakyatnya, sebaiknya aparat negara tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Lebih baik kita berdialog. Meski alot dan lama, hasilnya memuaskan dan bisa meminimalkan korban.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia komunikasi yang begitu maju. Ada alat-alat komunikasi yang dapat membantu manusia untuk menjalin komunikasi dengan sesamanya. Soalnya adalah apakah manusia sungguh-sungguh menggunakan komunikasi itu demi kebaikan? Atau manusia menggunakan alat-alat komunikasi itu untuk menindas yang lain?

Persoalan yang terjadi adalah manusia tidak sungguh-sungguh menjalin komunikasi. Dalam komunikasi itu yang terjadi hanya satu arah. Akibatnya, komunikasi yang tidak berjalan dengan semestinya itu dapat menimbulkan ketidakadilan. Pihak yang satu memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lain. Ada tindakan penindasan dalam hal ini.

Karena itu, manusia mesti mengubah pola berkomunikasi. Dengan alat-alat komunikasi yang canggih di zaman modern ini, orang mesti menggunakannya sebaik-baiknya untuk kemajuan bersama.

Untuk itu, komunikasi yang dilakukan itu mesti mendahulukan kepentingan bersama. Komunikasi yang mementingkan kedamaian bagi semua orang. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan. Namun kalau orang sungguh-sungguh mau belajar, orang akan menemukan suatu komunikasi yang membahagiakan semua orang.

Sebagai orang beriman, komunikasi yang kita lakukan mesti berlandaskan pada kasih seorang terhadap yang lain. Kita ingin membangun komunikasi, karena kita mengasihi sesama kita. Kita ingin agar kasih itu menjadi andalan dalam hidup ini. Mari kita terus-menerus membangun komunikasi kasih di antara kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang membahagiakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


731

17 Oktober 2009

Membangun Komunikasi yang Baik


Seorang remaja kelas tiga SMU sekarang memasuki usia 17 tahun. Remaja tingtinglah. Ia baru saja selesai dengan ujian akhir. Ia sudah dinyatakan lulus. Seperti remaja-remaja umumnya, ia juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia ingin menjadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik. Karena itu, setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek, Palembang, ini, ia berniat ke Jawa. Ia mau mencoba untuk mandiri. Tidak seperti sekarang, ia selalu tergantung kepada orangtuanya.

Dengan mantap, ia berkata, “Saya ingin bebas. Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orangtua. Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orangtua. Kan belum punya kerjaan. Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orangtua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orangtua.”

Namun ia punya satu persoalan. Orangtuanya tidak mau kehilangan dia. Mereka ingin. agar ia tetap tinggal di rumah. Anak itu berkata, “Kata mereka kalau mau kuliah, di Palembang saja. Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh. Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya. Padahal hati ini ingin belajar mandiri. Sampai kapan saya akan tergantung terus pada orangtua, kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mnengenai diri sendiri? Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri.”

Anak remaja itu heran, kenapa orangtuanya begitu kuatir akan dirinya.

Kebebasan itu dambaan setiap orang. Pada saat tertentu, orang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak tergantung pada keputusan orang lain, bahkan orangtua sekalipun. Mengapa kebebasan seperti ini penting? Karena masa depan seseorang itu ada di tangan orang itu. Ia butuh belajar untuk menyelesaikan segala persoalan sendiri. Ia butuh suasana di mana ia memegang kendali dalam hidupnya sendiri.

Hambatan akan kebebasan itu terjadi sering karena komunikasi yang kurang berjalan dengan baik. Dalam kisah tadi tampak bahwa orangtua kurang merestui niat baik sang anak untuk belajar mandiri. Tampaknya ada missunderstanding antara anak remaja dan orangtua. Mungkin ada ganjalan-ganjalan yang mesti dilewati dulu.

Karena itu, dalam hal kebebasan yang sangat diperlukan adalah adanya komunikasi yang baik dan lancar di antara berbagai pihak. Komunikasi yang kurang baik akan mengakibatkan salah paham. Akibatnya bisa fatal bagi hidup manusia. Kita dapat menyaksikan kurang lancarnya komunikasi telah menyebabkan rapuhnya kehidupan manusia. Relasi yang baik sulit terwujud. Ada prasangka dan kesurigaan yang terjadi di antara sesama manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun komunikasi yang baik dan lancar di antara kita. Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dan manusiawi. Untuk itu, kita mesti bekerja bersama Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kekuasaanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

15 Oktober 2009

Membangun Komunikasi yang Baik





Seorang remaja kelas tiga SMU sekarang memasuki usia 17 tahun. Remaja tingtinglah. Ia baru saja selesai dengan ujian akhir. Ia sudah dinyatakan lulus. Seperti remaja-remaja umumnya, ia juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia ingin menjadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik. Karena itu, setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek, Palembang, ini, ia berniat ke Jawa. Ia mau mencoba untuk mandiri. Tidak seperti sekarang, ia selalu tergantung kepada orangtuanya.

Dengan mantap, ia berkata, “Saya ingin bebas. Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orangtua. Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orangtua. Kan belum punya kerjaan. Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orangtua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orangtua.”

Namun ia punya satu persoalan. Orangtuanya tidak mau kehilangan dia. Mereka ingin. agar ia tetap tinggal di rumah. Anak itu berkata, “Kata mereka kalau mau kuliah, di Palembang saja. Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh. Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya. Padahal hati ini ingin belajar mandiri. Sampai kapan saya akan tergantung terus pada orangtua, kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mnengenai diri sendiri? Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri.”

Anak remaja itu heran, kenapa orangtuanya begitu kuatir akan dirinya.

Kebebasan itu dambaan setiap orang. Pada saat tertentu, orang ingin menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak tergantung pada keputusan orang lain, bahkan orangtua sekalipun. Mengapa kebebasan seperti ini penting? Karena masa depan seseorang itu ada di tangan orang itu. Ia butuh belajar untuk menyelesaikan segala persoalan sendiri. Ia butuh suasana di mana ia memegang kendali dalam hidupnya sendiri.

Hambatan akan kebebasan itu terjadi sering karena komunikasi yang kurang berjalan dengan baik. Dalam kisah tadi tampak bahwa orangtua kurang merestui niat baik sang anak untuk belajar mandiri. Tampaknya ada missunderstanding antara anak remaja dan orangtua. Mungkin ada ganjalan-ganjalan yang mesti dilewati dulu.

Karena itu, dalam hal kebebasan yang sangat diperlukan adalah adanya komunikasi yang baik dan lancar di antara berbagai pihak. Komunikasi yang kurang baik akan mengakibatkan salah paham. Akibatnya bisa fatal bagi hidup manusia. Kita dapat menyaksikan kurang lancarnya komunikasi telah menyebabkan rapuhnya kehidupan manusia. Relasi yang baik sulit terwujud. Ada prasangka dan kesurigaan yang terjadi di antara sesama manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun komunikasi yang baik dan lancar di antara kita. Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dan manusiawi. Untuk itu, kita mesti bekerja bersama Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kekuasaanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


198