Pages

Tampilkan postingan dengan label kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasih. Tampilkan semua postingan

28 Juni 2014

Mencegah Kejahatan dengan Kasih Berlimpah

 
Apa yang akan Anda lakukan berhadapan dengan kejahatan dalam hidup Anda? Anda berlaku permisif? Atau Anda berusaha mencegahnya?

Pada tahun 1978, Mary Vincent kabur dari rumahnya di Las Vegas, Amerika Serikat. Ketika itu, ia berusia 15 tahun. Setelah tiga bulan, ia siap untuk pulang dan memutuskan mencegat mobil untuk tumpangan gratis. Lawrence Singleton (60) menaikkannya ke dalam van berwarna birunya. Ia kemudian memperkosa Mary dan memotong lengannya dengan sebuah kampak. Ia melemparnya ke dalam jurang dan meninggalkannya hampir mati.

Namun Mary masih hidup. Keesokan harinya, ia ditemukan berjalan di dekat jalan raya. Ia mengangkat tangannya ke udara untuk mencegah aliran darah yang semakin deras. Singleton ditangkap dan terbukti bersalah. Namun ia hanya mendapatkan hukum 8 tahun penjara atas kejahatannya itu. Ia berulang kali menulis kepada penasihat hukum Mary mengatakan bahwa ia akan membunuh Mary ketika ia keluar dari penjara.

Mary hidup tersembunyi, penuh ketakutan terhadap ancaman Singleton. Tahun 1997, Singleton dibebaskan dari penjara. Sembilan hari kemudian ia membunuh seorang pelacur di Florida.

Sementara itu, Mary telah sembuh dari ketakutannya, menikah dan memiliki dua orang anak. Sial, ia diceraikan oleh suaminya. Kemiskinan pun menjadi bagian dari hidupnya. Ia tinggal di sebuah POM Bensin tanpa penghangat di daerah dengan musim dinginnya. Bagi Mary, ini suatu penderitaan yang luar biasa hidup bersama dua orang anaknya.

Tampaknya penderitaan itu tidak berlangsung lama. Ia kemudian menikah dengan seorang pemuda. Inilah kesempatan lebar bagi Mary untuk mulai berkarya. Bersama suami baru, Mary mulai menghabiskan hari-harinya dengan melukis. Ia melukis dirinya sendiri di hadapan sang suami. Lukisannya berkualitas tinggi. Pada 2002, bersama beberapa temannya, ia mengadakan pameran seni.

Setelah mengalami semua penderitaan, terbitlah cahaya dalam kehidupan Mary. Ia kemudian mengikuti pencalonan menjadi walikota Seatle, Negara bagian Washington, Amerika Serikat. Ia menang. Kini ia menjadi walikota yang sangat peduli terhadap karya seni.

“Ia menghancurkan seluruh hidup saya. Cara berpikir saya. Cara hidup saya. Namun saya masih mengerjakan segala sesuatu yang dapat saya lakukan. Sekarang saya berhasil mengatasinya,” kata Mary.

Sahabat, menjadi suatu penderitaan yang sulit dilupakan bagi orang yang tidak menyangka akan menjadi korban. Apalagi hal itu terjadi atas harga diri. Sesuatu yang mesti dijaga dan diperjuangkan. Hal ini berlaku bagi siapa saja, karena memperjuangkan kehidupan tidak bisa ditawar-tawar.

Kisah di atas merupakan tragedi kehidupan manusia. Suatu tragedi yang menimpa anak manusia. Akibatnya, ia menderita dalam hidupnya. Tidak hanya penderitaan fisik. Lebih-lebih penderitaan psikis yang akan terbawa terus dalam hidupnya. Namun Mary Vincent dapat mengatasi dirinya. Dalam kondisi terjepit, ia justru menghasilkan karya yang spektakuler. Ia pun kemudian menjadi seorang pemimpin yang tidak menaruh dendam.

Kita hidup dalam dunia yang sering kurang menghargai kehidupan dan martabat manusia. Kejahatan demi kejahatan sering kita saksikan dalam kehidupan ini. Orangtua menganiaya anak. Suami menghabisi nyawa istri atau sebaliknya. Perampokan sering disertai dengan kematian dari korban. Seolah-olah hidup ini begitu mengerikan. Akibatnya, banyak orang takut akan kehidupan ini.

Orang beriman tentu mengasah hati dan tingkah lakunya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Orang beriman tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh kejahatan. Sebaliknya, orang beriman senantiasa dikuasai oleh kebaikan dan kasih.

Karena itu, kita mesti senantiasa memperjuang kebaikan dan kasih di atas segala-galanya. Kita mesti mencegah terjadinya ancaman terhadap hidup manusia dengan kasih yang berlimpah-limpah. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1113

13 Juni 2014

Belajar Peduli terhadap Sesama


 
Apa yang Anda buat bagi sesama Anda yang berkekurangan? Anda biarkan saja? Atau Anda berani berkorban untuk sesama Anda?

Lo Siauw Ging, bisa disebut dokter langka di Indonesia saat ini. Dokter senior di Solo ini tidak pernah menentukan tarif untuk pasien yang datang kepadanya. Bahkan lebih banyak dari mereka digratiskan sama sekali dari biaya konsultasi maupun obat. Dia melakukan itu karena merasa ingin mengabdi kepada kemanusiaan dan tahu diri pada negara.

Di usianya yang telah mencapai 79 tahun, setiap hari rata-rata 60 pasien datang ke tempat praktik di kediamannya di Jagalan, Jebres, Solo. Ada yang datang dari kalangan kaya maupun dari kalangan miskin. Semua pasien yang datang, tidak dikenai biaya. Artinya yang mau memberinya uang sukarela, biasanya yang datang dari kalangan berduit. Mereka akan memberinya imbalan konsultasi dengan meletakkan amplop berisi uang sukarela di meja konsultasi.

Namun lebih dari 70 persen diantaranya digratiskan dari biaya konsultasi. Dokter Lo menolak menerima biaya konsultasi dari kalangan bawah. Ia hanya memberikan resep untuk dibeli sendiri oleh si pasien di apotik.

Bahkan terhadap pasien miskin, sama sekali tidak keluar biaya. Selain gratis biaya konsultasi, Dokter Lo juga memberi resep bertanda khusus untuk dibawa ke apotik yang telah ditunjuknya. Pihak apotik akan memberikan obat yang diresepkan itu kepada si pasien secara gratis. Tagihannya akan dibebankan kepada dokter Lo di akhir bulan.

“Tugas dan kewajiban seorang dokter pertama-tama harus melayani pasien. Fungsi sosial inilah yang paling utama, sesuai sumpah jabatannya. Kesehatan dan keselamatan pasien harus didahulukan, melebihi apapun juga,” katanya.

Meski demikian, Dokter Lo menampik menilai kebanyakan dokter sekarang mata duitan. Dia juga enggan menyebut telah terjadi komersialisasi profesi tersebut. Dokter Lo secara hati-hati menyebut dedikasi, keberpihakan pribadi masing-masing dokter kepada sisi kemanusiaan dan juga sistem pendidikan dokter sangat berpengaruh pada berbagai persoalan yang seakan-akan mengesankan komersialisasi itu. (Detik.com - 30/11/2013).

Sahabat, kepedulian terhadap sesama dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dari berbagai bidang kehidupan manusia. Yang penting adalah kepedulian itu memberikan kesejahteraan bagi mereka yang dibantu. Kebahagiaan menjadi target utama dalam upaya kepedulian terhadap sesama itu. Mengapa? Karena ada sejumlah orang yang mau peduli terhadap sesamanya demi ketenaran dirinya.

Kisah Dokter Lo di atas memberi kita inspirasi untuk memiliki kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Ia mendedikasikan hidupnya bagi sesamanya yang kurang mampu. Ia merasa itulah bagian dari kehidupan dirinya yang mesti ia berikan bagi sesamanya. Ia tidak ingin mengumpulkan harta hanya demi dirinya sendiri.

Kebaikan seperti ini semestinya menjadi bagian dari kehidupan manusia di zaman sekarang. Memberikan hidup bagi sesama yang berkekurangan tentu sesuatu yang mulia. Namun hal ini tidak datang dengan sendirinya. Hal ini mesti dilatih terus-menerus dalam kehidupan ini. Hanya dengan berlatih, orang akan memiliki hati yang dengan tulus mau membantu orang lain. Orang tidak menggerutu setelah membantu sesamanya.

Orang beriman adalah orang yang mesti selalu memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Hal ini menjadi suatu bentuk perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Seorang bijaksana mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman dapat menjadi tetap hidup, ketika orang berani memberi hidupnya bagi sesamanya.

Memberi hidup juga berarti orang berani melepaskan egoisme diri. Yang dipikirkan dan diperbuat adalah kebahagiaan bagi mereka yang dibantu itu. Dengan demikian, orang mampu memiliki hati yang tulus dalam hidupnya. Mari kita memupuk diri untuk peduli terhadap sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1105

15 April 2014

Mengasihi Seperti Tuhan Mengasihi Kita



Sudahkah Anda mengasihi saudara Anda yang paling dekat dengan tulus hati? Kalau belum, mengapa Anda belum bisa mengasihinya dengan hati yang tulus?

Suatu hari seorang ibu tiba-tiba meninggal dunia. Beberapa menit sebelumnya ia baru saja menelephone seorang temannya. Tetapi begitu selesai memutuskan hubungan telephone, ia pun merebahkan diri. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Banyak orang tidak percaya akan peristiwa itu. Orang-orang yang mendengar berita itu pun menggeleng-gelengkankan kepala. Ada yang berkata, “Begitu cepat dia pergi untuk selamanya. Tidak disangka. Dia meninggal dengan begitu damai.”

Pada hari pemakaman, ribuan orang datang melayat. Kali ini mereka datang bukan karena mereka terkejut oleh peristiwa kematian yang tiba-tiba itu. Tetapi lebih dari itu, mereka ingin memberikan penghormatan yang terakhir bagi ibu itu. Mereka mencintai ibu itu. Mereka menyanginya.

Salah seorang pelayat berkata, “Dia orang yang baik. Dia peduli terhadap sesamanya. Ia tidak memilih orang dalam bergaul. Ia bergaul dengan semua orang.”

Seorang yang lain lagi mengatakan bahwa ibu itu seorang yang beramal dengan hati yang tulus. Ia tidak mencari muka. Ia tidak mau disanjung-sanjung. Karena itu, pantaslah ribuan orang melayat saat dia meninggal dunia. Tidak sedikit pula dari para pelayat itu meneteskan air mata. Mereka merasa kehilangan seseorang yang sangat berjasa bagi perjalanan hidup mereka.

Sahabat, kebaikan seseorang tidak dinilai dari seberapa besar ia mengasihi, tetapi dari seberapa besar ia dikasihi oleh orang lain. Mengasihi berarti orang berani memberikan hidup bagi yang lain tanpa mengharapkan balasannya. Hal ini sering sulit terjadi, karena banyak orang takut kehilangan dirinya. Banyak orang takut kehilangan kasih itu. Padahal ketika orang mengasihi yang lain, orang mendapatkan kasih yang tak henti dari sesamanya itu.
  
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa perbuatan baik dalam kasih itu tinggal tetap di dalam diri orang-orang yang menerima kasih itu. Mengapa? Karena kasih itu tak berkesudahan. Kebencian, iri hati dan kesombongan akan berlalu, tetapi kasih terhadap sesama akan dikenang terus-menerus. Kasih tidak membunuh, tetapi kasih justru memberi hidup kepada manusia.

Namun kasih yang sungguh-sungguh kudus dan asali berasal dari Tuhan. Setiap hari Tuhan mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati manusia. Sering manusia melewatkan kasih Tuhan itu. Manusia tidak bisa menerima kasih Tuhan, karena mau mengandalkan dirinya sendiri. Manusia berpikir bahwa kemampuannya mampu melakukan kasih yang besar kepada sesamanya.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah manusia membuka hatinya lebar-lebar bagi hadirnya kasih Tuhan dalam dirinya. Kesombongan diri mesti dibuang jauh-jauh, karena manusia adalah makhluk yang lemah. Santo Yohanes berkata, “Di luar dari Tuhan yang adalah kasih itu sendiri, tidak ada seorang pun dari kita yang dapat benar-benar mengasihi atau dikasihi” (1Yoh. 4:7-8).

Mari kita saling mengasihi dengan mendasarkan kasih kita pada kasih Tuhan. Dengan demikian, kita boleh ambil bagian dalam kebahagiaan kekal. Tuhan memberkati. **
 


Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


1086

19 Maret 2014

Pengalaman akan Kasih Meneguhkan Hidup



Pengalaman akan kasih senantiasa menjadi milik setiap manusia dalam hidup sehari-hari. Namun ada pula manusia yang kurang begitu mengalami kasih itu. Akibatnya, menusia mengalami ganguan secara psikologis dan spiritual.

Seorang remaja putri begitu tersanjung oleh pujian dari ayahnya atas prestasi gemilang yang diraihnya. Ia mengaku, selama ini ayahnya jarang sekali memberikan pujian kepadanya. Baru kali ini sang ayah memberikan pujian yang tinggi. Ayahnya pun mentraktir dirinya di sebuah restoran ternama di kotanya.

Remaja itu berkata, “Saya bersyukur atas perhatian ayah saya yang begitu besar. Hal ini menjadi pemacu bagi saya dalam meraih prestasi yang lebih besar lagi. Meski ayah jarang memberikan pujian, tetapi sejak awal saya yakin ayah sangat mendukung saya.”

Gadis remaja itu merasakan kasih yang begitu besar dari sang ayah. Ia ingin tetap berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya. Perjalanan hidupnya masih jauh. Ia masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya. Ia ingin agar kasih sayang orangtuanya senantiasa hadir dalam setiap perjalanan hidupnya.

Sahabat, sering orang mengalami kehilangan kasih sayang dalam hidupnya. Orang merasa hidup sendiri tanpa mendapatkan perhatian yang memadai dari sesamanya. Akibatnya, orang mengalami pertumbuhan yang lambat dalam kasih sayang itu. Orang mudah merasa loyo dalam hidupnya. Orang mudah menyerah ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kasih sayang merupakan kebutuhan manusia. Pengalaman akan kasih sayang itu memberikan kekuatan kepada seseorang untuk memacu dirinya dalam kegiatan-kegiatan hariannya. Orang menjadi lebih berani untuk melangkahkan kaki untuk merebut cita-cita yang dicanangkannya.

Bagi orang beriman, kasih sayang itu bersumber dari Tuhan sendiri. Tuhan senantiasa mengasihi ciptaanNya. Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya berjuang sendirian di dunia ini. Tuhan senantiasa menyayangi ciptaanNya dengan menyertai dan membimbing ciptaanNya itu. Karena itu, orang beriman mesti menyerahkan hidupnya kepada kasih Tuhan.

Memang, tidak gampang orang berserah diri kepada kasih Tuhan. Mengapa? Karena manusia lebih mudah mengasihi dirinya sendiri. Manusia lebih mudah hidup dalam kuasa kasihnya, daripada membiarkan Tuhan menguasai dirinya dengan kasih. Manusia lebih suka berjuang sendiri dalam hidupnya.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah suatu pertobatan baru. Artinya, orang rela meninggalkan kesenangan dirinya sendiri dan menerima tawaran kasih sayang dari Tuhan. Orang tidak lagi memaksakan kehendaknya sendiri kepada Tuhan dan sesama. Tetapi orang berusaha untuk hidup dalam kehendak Tuhan. Orang berusaha untuk menumbuhkan kasih Tuhan dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih sukacita dan bahagia. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1078

12 Mei 2013

Membangun Tekad atas Dasar Kasih


 Apa yang akan Anda lakukan, bila semangat hidup Anda kian meredup? Tentu saja ada banyak cara untuk mengatasinya. Untuk itu, Anda tentu memiliki banyak strategi untuk menghadapinya.

Suatu hari seorang pemuda memutuskan untuk mengunjungi neneknya yang tinggal di sebuah desa yang jauh. Ia mesti naik bus menuju kota. Ia sendiri tidak tahu kota itu berada. Pasalnya, ia belum pernah melakukan perjalanan ke kota tersebut. Ia juga belum pernah mengunjungi desa neneknya. Ia lahir di kota yang lain. Sejak lahir, ia belum pernah ke desa sang nenek. Bahkan ia hanya melihat neneknya dari foto mamanya.

Namun pemuda itu tidak putus asa. Ia mencoba untuk melakukan perjalanan itu. Memang, awalnya ia agak pesimis. Namun ia membuat komitmen untuk mencoba melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan itu. Bermodal alamat dan rute perjalanan yang diberikan sang mama, pemuda itu menyatukan tekadnya untuk mengunjungi nenek.

Rute pertama menuju kota yang terdekat dengan desa nenek itu berjalan dengan baik. Ia cukup duduk tenang di atas bus non AC hingga sampai tujuan. Begitu tiba di kota tersebut, ia langsung mencari angkutan untuk menuju desa di mana sang nenek tinggal. Kali ini ia tidak mudah menemukannya. Ia mesti menunggu agak lama. Namun kesabaran yang sering menjadi ciri khasnya membantu dirinya untukk mendapatkan kendaraan.

Benar! Ia mendapatkan sebuah kendaraan yang baik yang mengantar dirinya menuju rumah sang nenek. Ia boleh menikmati alam pedesaan yang indah. Udara yang bersih belum tercemar polusi kendaraan menjadi bagian yang menyegarkan dirinya. Ia boleh berjumpa dengan nenek. Ia bisa berbicara dari hati ke hari dengan sang nenek. Dambaan untuk berjumpa dengan sosok sang nenek akan menjadi kenyataan. Semua itu berkat tekad membara yang senantiasa hidup di dalam dirinya.

Hari-hari berada di desa sang nenek menjadi suatu kesempatan yang membahagiakan dirinya. Menumpahkan seluruh kerinduannya buat sang nenek. Ia boleh menatap mata sang nenek yang sangat mirip dengan mata mamanya. Pemuda itu menemukan sukacita hidup selama beberapa hari bersama sang nenek.

Sahabat, banyak orang ingin merasakan damai dan sukacita dalam hidup mereka. Namun sering mereka kecewa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka kurang punya tekad. Mereka kehilangan determinasi. Mereka kurang punya semangat untuk meraih damai dan sukacita dalam hidup mereka. Akibatnya, kekecewaan yang justru tumbuh dalam hidup mereka.

Kisah pemuda yang sukses berjumpa dengan sang nenek tadi menunjukkan kepada kita bahwa tekad dan komitmen mampu mengalahkan segalanya. Kelelahan dalam menempuh perjalanan jauh tidak ia rasakan. Mengapa? Karena tujuan utamanya adalah mengungkapkan kasihnya kepada sang nenek. Kasih itu mengalahkan segala-galanya. Tekad yang didasarkan atas kasih itu membuahkan hasil yang gemilang. Ia mengalami sukacita dan damai bersama sang nenek.

Dalam hidup sehari-hari, kita juga berjumpa dengan berbagai persoalan hidup. Kita mengalami betapa tidak mudahnya hidup ini. Apakah kita memutuskan untuk tetap berada di tempat? Atau kita mencari cara-cara untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup ini?

Untuk itu, kita butuh tekad dan komitmen. Tekad itu mesti terus-menerus kita tumbuhkan dalam perjalanan hidup kita. Tentu saja tekad itu tidak hanya sekedar tekad. Tetap tekad yang didasarkan atas kasih setia kepada hidup ini. Sedangkan komitmen yang kuat mesti mewarnai hidup ini. Dengan demikian, kita mampu memberikan yang terbaik bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

21 Maret 2013

Kasih Menutupi Segala Keburukan

 
Apa yang akan Anda lakukan kalau tidak ada kasih dalam hidup bersama? Anda akan biarkan saja situasi seperti itu berlangsung? Atau Anda mulai menempuh berbagai cara, agar kasih menjadi andalan hidup bersama?

Suatu hari terjadi percekcokan yang hebat antara sepasang suami istri. Pasalnya, mereka mulai kehilangan kasih. Relasi di antara mereka mulai meredup. Mereka berjuang sendiri-sendiri. Mereka kurang saling memperhatikan. Kalau mereka mulai saling peduli, itu karena mereka masih punya tanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Karena itu, mereka bertemu hanya untuk membahas tentang masa depan anak-anak mereka.

Situasi ini berjalan begitu lama. Mereka bersandiwara di hadapan anak-anak mereka. Akhirnya suatu ketika mereka memutuskan untuk berpisah. Mereka tinggal di rumah masing-masing. Mereka hanya bertemu secara berkala saja. Mereka hanya bertemu untuk anak-anak mereka. Tampaknya mereka tidak saling membutuhkan. Tiada lagi cinta yang tersisa di antara mereka.

Sahabat, kita hidup berkat kasih karunia Tuhan melalui orang-orang di sekitar kita. Kita hidup dalam sebuah ikatan yang membutuhkan kasih. Orang butuh diperhatikan. Orang butuh disapa dalam hidup sehari-hari. Ini yang semestinya selalu disadari oleh setiap orang. Situasi seperti ini yang mesti selalu diperjuangkan oleh setiap orang. Situasi seperti ini yang semestinya menjadi bagian dari setiap orang.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Akibatnya, banyak orang hidup tanpa kasih. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena dosa yang mulai menyusup ke dalam hidup manusia. Dosa mulai menggoda manusia untuk meninggalkan suasana hidup dalam kasih itu.

Dosa dapat menyebabkan gesekan, kesalahpahaman bahkan pertengkaran. Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan kasih. Nah, dalam hal mengasihi, harus ada yang memulai. Jika masing-masing bersikeras merasa diri benar, maka kasih tidak akan muncul. Harus ada seseorang yang sadar, bahwa mereka bersaudara. Persaudaraan itu didasarkan pada kasih yang mendalam.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa hidup yang tidak dikuasai oleh kasih terasa hambar. Bagai sayur tanpa garam. Tidak terjadi komunikasi yang baik. Orang hidup dalam egoisme mereka. Orang dikuasai oleh keinginan-keinginan dirinya saja. Tentu saja suasana seperti ini sangat berbahaya bagi hidup bersama. Pepatah mengatakan, untuk membangun sebuah keluarga dibutuhkan dua orang yang saling mencintai. Tetapi untuk menghancurkan sebuah keluarga, dibutuhkan satu orang egois yang hanya hidup bagi dirinya sendiri.

Untuk itu, orang beriman butuh kasih yang tulus. Orang beriman mesti memperjuangkan kasih, agar hidup dalam suasana penuh damai. Santo Petrus berkata, “Tetapi yang terutama ialah kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8). Mari kita berusaha membangun kasih yang tulus. Dengan demikian, kita mampu membawa damai dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

955

29 Januari 2013

Memiliki Kasih yang Berlimpah-limpah

Apa yang akan Anda lakukan ketika rasa cemas menguasai diri Anda? Orang mengatakan bahwa kecemasan itu menguasai diri manusia ketika manusia mengalami kekurangan kasih. Atau terjadi deficit kasih dalam diri manusia. Karena itu, yang mesti dilakukan adalah berusaha untuk memiliki kasih yang berlimpah-limpah.

Karl Barth adalah seorang teolog ternama. Ia juga salah seorang teolog Kristen yang terbesar di abad 20 ini. Suatu ketika, seusai sebuah seminar, seorang anak muda bertanya kepadanya, “Jika Anda merangkum semua pengajaran Anda, bagaimana Anda merangkumnya dalam sebuah kalimat?"

Karl Barth menjawab dengan riang dengan mengutip lagu anak-anak Sekolah Minggu, "God Loves me, this I know, for the Bible tells me so..."

Karl Barth mengatakan, lagu ini sering ia dengar waktu masih kecil. Lagu ini senantiasa disenandungkan oleh ibunya di telinganya. Ia tetap mengingat lagu itu ke mana pun ia pergi. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa manusia dapat menjalani hidup ini hanya karena Tuhan mengasihi. Kasih Tuhan tak pernah berhenti.

Karena itu, meski ia seorang teolong ternama, Karl Barth tetap membuka hatinya bagi curahan kasih Tuhan atas dirinya. Ia tidak jemu-jemu datang kepada Tuhan untuk menimba kasih Tuhan itu. Kasih Tuhan itu nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kasih Tuhan itu hidup dan menaungi hidup manusia.

Sahabat, banyak orang masih meragukan kasih Tuhan yang meresap dalam hidup mereka. Hal ini tampak dalam sikap hidup maupun perbuatan nyata. Misalnya, di saat orang merasa galau dalam hidupnya, orang serta merta meninggalkan Tuhan. Mereka pergi kepada berhala-berhala untuk meminta pertolongan. Atau mereka pergi kepada dukun untuk meramal nasib mereka. Padahal jelas-jelas berhala-berhala itu tidak bisa membantu manusia. Berhala-berhala itu tidak punya jiwa, tidak hidup.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kasih Tuhan tak pernah berhenti. Meski kita mengalami duka dan derita dalam hidup ini, Tuhan tetap setia kepada kita. Tuhan memberi kita kemampuan-kemampuan untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup kita. Yang penting adalah kita tetap bertahan untuk hidup dalam kasih Tuhan itu.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan rasa cemas atas apa yang akan dihadapi. Yang dibutuhkan adalah iman yang mendalam kepada Tuhan. Beriman berarti kita mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Beriman berarti hanya Tuhan yang memegang kendali dalam kehidupan kita ini. Bukan hal-hal lain yang mengendalikan hidup kita.

Unuk itu, kita mesti buang semua rasa cemas atau kuatir dari diri kita. Kita mesti memenuhi diri kita dengan kasih Tuhan yang bernyala-nyala itu. Dengan demikian, yang ada dalam diri kita hanyalah kekuatan kasih. Dengan kekuatan kasih itu, kita dapat melangkah maju untuk membangun hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang


938

18 Januari 2013

Memaknai Kasih yang Tak Berkesudahan

Pernahkah Anda merasa disakiti oleh kasih yang Anda berikan? Bagaimana Anda mengatasinya? Tema permenungan kita malam ini adalah Memaknai Kasih yang Tak Berkesudahan.

Ada seorang ibu yang sangat tertusuk hatinya oleh tindakan putranya. Putranya itu melarikan seorang gadis yang dicintainya. Pasalnya, orangtua gadis itu tidak merestui hubungan mereka. Ibunya merasa sangat malu atas perbuatan anaknya. Ia merasa hatinya sangat sakit. Ia sangat menyayangi putranya itu, tetapi mengapa ia melakukan perbuatan yang sangat memalukannya itu.

Namun ibu itu tidak membencinya. Ia tetap menyayanginya. Karena itu, ia mencari keberadaan putranya itu. Ia menghubungi teman-teman putranya itu. Bahkan ia mendatangi tempat anaknya pernah berada. Meski ia tidak menjumpainya, karena putranya sudah pergi dari tempat itu, ia tidak merasa sakit hati.

Ibu itu terus mencari. Ia berkata dalam hatinya, “Dia putraku yang sangat saya sayangi. Saya tidak akan membiarkan dia terlantar. Saya tidak mau dia menderita. Saya akan terus mencari dan menemukannya.”

Suatu hari, putranya menghubunginya dari suatu tempat. Ia merasa sangat gembira. Di ujung telephone, putranya meminta dikirimi sejumlah uang. Ia sudah kehabisan uang. Sang ibu dengan senang hati mengirimi putranya sejumlah uang yang dibutuhkannya. Inilah tanda bahwa ia tetap menyayangi putranya, meski suaminya cuek saja terhadap anaknya.

Sahabat, cinta yang tulus dan murni tidak berkesudahan. Cinta akan tetap berjalan terus meski hati manusia sakit seperti tersayat sembilu. Mengapa? Karena cinta yang tulus itu mengabaikan segala dukacita yang dialami. Cinta yang murni terus-menerus merasuk ke dalam hati.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ibu itu tidak peduli terhadap hatinya yang pedih oleh perbuatan anaknya. Satu hal yang ia inginkan adalah anaknya tidak mengalami penderitaan dalam hidupnya. Karena itu, ia tidak peduli akan aral yang menghadang di hadapannya. Ia tetap mencari dan menemukannya. Ia tetap menyayangi putranya dalam situasi apa pun.

Hal ini berarti kasih tidak akan pernah gagal. Tiada yang berhasil tanpa kasih. Tiada kegagalan yang dapat terjadi, ketika orang hidup dalam kasih yang tulus. Ketika orang hidup oleh kasih, orang tidak dapat gagal. Untuk itu, dibutuhkan iman untuk percaya bahwa ketika orang mengasihi sesamanya tanpa batas, orang tidak akan gagal dalam hidupnya.

Tentu saja hal ini terjadi, ketika manusia berani melepaskan diri dari egoisme dan keserakahan. Orang yang masih dipenuhi oleh dua hal ini akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan dan menghayati kasih yang murni dalam hidupnya. Santo Paulus berkata, “Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.”

Hidup dalam kasih berarti orang berani menerima sesama apa adanya. Orang tidak menolak kehadiran sesamanya, karena menyadari bahwa semua orang sama dicintai oleh Tuhan. Mari kita tumbuhkan kasih yang tulus dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

932

07 Februari 2012

Kasih yang Tulus Tumbuhkan Kebesaran Jiwa

Apa sikap Anda terhadap orang yang Anda sayangi ketika musibah menimpa dirinya? Anda biarkan saja? Atau Anda menolak kehadirannya?

Ada seorang gadis cantik yang cerdas. Setelah menyelesaikan sekolahnya di perguruan tinggi, gadis itu bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Gajinya cukup tinggi. Meski begitu, gaya hidupnya sangat sederhana. Ia jarang berfoya-foya. Ia tinggal di sebuah apartemen dekat kantornya. Hal itu ia lakukan untuk menghindari biaya mahal, kalau ia mesti tinggal di rumah ibunya yang berada di luar kota.

Di rumah gadis itu, hidup ibunya yang sudah janda. Sebagian kepala dari ibunya botak. Kulit kepalanya menampakkan borok yang baru mengering. Rambut kepalanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Wajahnya pun cacat seperti luka bakar. Ia seperti sebuah monster yang mengerikan.

Gadis itu tidak pernah tahu tentang penyebab dari kondisi ibunya. Namun ia selalu mencintainya. Ia selalu menerima kehadiran sang ibu dengan penuh kasih. Apalagi sang ibu telah membesarkan dan membiayai sekolahnya hingga selesai. Sesekali di akhir pekan, gadis cantik itu membawa sang ibu berjalan-jalan di pantai.

“Nak, apa kamu tidak malu punya ibu seperti ini? Bukankah wajah ibu jelek dan penuh koreng-koreng?” Tanya ibunya suatu hari.

Gadis itu terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang menusuk hatinya itu. Gadis itu tersenyum. Ia hanya menggelengkan kepala. Ia tidak pernah merasa malu. Baginya, sang ibu telah mengasihinya begitu tulus. Ia ingin membalas kasih yang tulus itu, meskipun sebenarnya ia tidak pernah dapat membalasnya dengan sempurna.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang nyata. Artinya, kita hidup bersama orang lain yang tidak selamanya sempurna dalam berbagai hal. Ada saja orang-orang yang dekat dengan kita memiliki cacat dalam hidupnya. Ada saja orang-orang yang kita kasihi menderita penyakit yang ganas. Ada saja orang-orang yang begitu kita kagumi jatuh ke dalam kesalahan dan dosa yang berat.

Apa sikap kita yang paling baik terhadap kondisi seperti ini? Kita menolak kenyataan seperti itu? Atau dengan lapang dada dan penuh kasih setia kita menerima kenyataan itu?

Kisah di atas sangat menyentuh hati kita. Gadis cantik itu bisa saja meninggalkan ibunya seorang diri. Bisa saja ia tidak mengakui perempuan tua itu sebagai ibu kandungnya. Namun ia tidak lakukan itu. Mengapa? Karena ia mengalami betapa kasih sang ibu memampukan dirinya untuk meraih sukses dalam hidupnya. Berkat kasih itu pula ia memiliki masa depan yang cerah dan baik.

Kebahagiaan dapat tercipta dalam hidup kita, kalau kita mau menerima kehadiran sesama kita dengan tangan terbuka. Ketika kita menerima kenyataan diri sesama yang kita cintai sebenarnya kita menerima diri kita sendiri. Ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh orang-orang yang dekat dengan kita sebenarnya juga menjadi milik kita.

Menerima cacat fisik atau psikis dari orang yang kita cinta itu butuh kebesaran jiwa. Kita mesti berani mengabaikan gengsi yang ada dalam diri kita. Hal ini bisa kita lakukan, kalau kita memiliki cinta yang tulus dan mendalam terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Mari kita tumbuhkan kasih yang tulus dalam diri kita dengan menerima kehadiran sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


867

30 Januari 2012

Bertumbuh dalam Kasih


Kita hidup berkat kasih dari Tuhan dan sesama. Karena itu, kita mesti tumbuhkan kasih itu dalam hidup ini. Hanya dengan menumbuhkan kasih itu, kita dapat meneruskan kehidupan ini.

Ada seorang duda yang sangat kaya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat ia kasihi. Mereka punya kegemaran yang sama, yaitu mengoleksi lukisan-lukisan terkenal. Mereka berkeliling dunia untuk mencari dan mengumpulkan lukisan-lukisan itu. Karya-karya tak ternilai harganya dari Picasso, Van Gogh, Monet dan banyak lainnya menghiasi dinding rumah mereka. Duda itu sangat bangga dengan keahlian anaknya memilih karya-karya bermutu.

Ketika musim dingin tiba, perang melanda negeri mereka. Anak muda itu pergi untuk membela negerinya. Setelah beberapa minggu, ayahnya menerima telegram bahwa anaknya telah hilang. Kolektor seni itu dengan cemas menunggu berita berikutnya. Ternyata yang dicemaskan terjadi: anaknya telah tewas ketika sedang merawat seorang temannya yang terluka. Keinginan untuk merayakan ulang tahunnya bersama anaknya sirna sudah. Ia merasa sedih dan kesepian.

Pada hari ulang tahunnya, terdengar ketokan di pintu yang membangunkan orang tua itu. Ketika ia membuka pintu, seorang serdadu berdiri di depannya dengan membawa bungkusan besar. “Saya adalah teman anak bapak. Saya adalah orang yang sedang diselamatkannya, ketika ia tewas. Bolehkah saya masuk sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan,” kata serdadu itu.

Serdadu itu menuturkan bahwa anak orang tua itu telah menceritakan padanya kecintaannya, juga ayahnya, pada barang-barang seni. “Saya adalah seorang seniman. Saya ingin memberikan pada Anda barang ini,” kata serdadu itu.

Lantas ia pun membuka bungkusan yang dibawanya itu. Ternyata di dalamnya ada lukisan foto anak orang tua itu. Memang, bukan karya yang sangat bagus dibandingkan dengan lukisan-lukisan yang telah dimilikinya. Tetapi lukisan itu cukup rinci menggambarkan wajah anaknya. Dengan terharu, orang tua itu memajang lukisan itu di atas perapian, menyingkirkan lukisan-lukisan lain yang bernilai ratusan juta rupiah.

Sahabat, apa yang sangat berharga dalam diri Anda? Jawabannya tentu saja ada banyak hal yang berharga dalam diri Anda. Namun ada satu yang sangat berharga, yaitu hidup yang penuh kasih sayang. Melalui hidup yang penuh kasih itu, Anda akan mengalirkan kebaikan demi kebaikan bagi sesama Anda.

Kisah orang tua yang kehilangan anak tadi menjadi suatu inspirasii bagi kita. Ternyata orang tua itu menjadi sedih karena kehilangan putranya. Ia mengalami duka yang mendalam begitu mendengar gugurnya sang anak di medan perang. Tetapi hidupnya kembali bersemi begitu ia menyaksikan kembali foto wajah ayahnya.

Kasihnya yang begitu besar terhadap anaknya membuat ia bersedih hati saat kehilangan sang anak. Namun kasih itu pula yang telah memberi ia kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Ia sadar bahwa hanya melalui kasih itu ia mampu membahagiakan orang lain.

Kita hidup berkat kasih yang kita peroleh dari sesama kita. Kita tidak bisa hidup tanpa kasih. Namun hidup kita menjadi semakin bermakna, ketika kita mengalami begitu besarnya kasih Tuhan atas diri kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan diri kita. Tuhan senantiasa mengasihi kita melalui penyertaanNya bagi diri kita. Mari kita tumbuhkan kasih dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


864

26 Januari 2012

Tumbuhkan Kasih yang Tak Terbatas Rata Penuh



Apa yang menjadi hal yang utama dalam hidup Anda? Diri Anda sendiri? Atau kehidupan bersama dengan semua orang?

Suatu hari seorang gadis mendatangi seorang bijak. Ia bertanya kepada orang bijak itu tentang dosis kasih yang sehat. Orang bijak itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, di zaman seperti ini masih ada orang yang peduli terhadap kasih. Bukankah kasih satu terhadap yang lain sudah semakin musnah? Bukankah kasih itu sudah terkamuflase dengan berbagai bentuk egoisme dan kepentingan diri?

“Sebenarnya apa yang kamu rasakan dari kasih itu? Apakah kamu punya masalah dengan kasih?” tanya orang bijak itu kepada gadis itu.

Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan orang bijak itu. Ia tidak siap untuk menjawab pertanyaan orang bijak itu. Bagi gadis itu, kasih itu adalah segala-galanya dalam hidup ini. Orang yang tidak mempunyai kasih tidak akan mengalami damai dalam hidupnya. Yang ada adalah permusuhan yang terus-menerus.

Setelah lama terdiam, gadis itu berkata, “Saya ingin hidup secara baik dan normal. Saya tidak ingin hidup saya dipenuhi oleh permusuhan. Saya ingin hidup saya selalu dipenuhi oleh kebaikan dan kasih.”

Orang bijak itu berdecak kagum atas jawaban gadis itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu akan menjawab seperti itu. Karena itu, orang bijak itu berkata, “Anda telah menemukan damai dalam hidup saat Anda mulai bicara tentang kasih. Anda telah mulai merajut hidup yang bahagia saat Anda mengutamakan kasih di atas segala-galanya.”

“Tetapi yang saya butuhkan adalah berapa dosis kasih yang sehat yang harus saya gunakan dalam satu hari?” Tanya gadis itu.

“Nak, dalam hal kasih, tidak ada dosis. Yang harus Anda lakukan adalah mengasihi terus-menerus tanpa batas. Ketika Anda mengasihi sesamamu, saat itu pula Anda mengalami sukacita dan damai,” kata orang bijak itu.

Sahabat, banyak orang mengalami kekeringan kasih dalam hidupnya. Akibatnya, mereka membatasi kasih itu. Mereka tidak mau melakukan hal-hal yang lebih besar dan baik bagi sesama. Mengapa hal seperti ini terjadi dalam kehidupan manusia? Hal ini terjadi karena manusia egois. Manusia melakukan sesuatu bagi sesamanya hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kasih itu tidak berkesudahan. Orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi sesamanya mesti mendasarkan perbuatannya pada kasih itu. Kasih tidak bisa dibatasi seperti dokter yang memberi dosis kepada seorang penderita sakit. Mengapa? Karena setiap orang yang melakukan kasih itu menumbuhkan kehidupan.

Orang yang mengutamakan kasih dalam hidupnya akan menemukan hidup ini begitu indah. Ia memberi hidup dengan kasih yang tak terbatas. Dari waktu ke waktu ia akan bertumbuh menjadi orang yang kaya akan kebaikan.

Memang, tidak mudah untuk bertumbuh dalam kasih itu. Mengapa? Karena orang sering dikuasai oleh egoisme. Orang dikuasai oleh kepentingan dirinya sendiri. Orang tidak dikuasai oleh kasih yang tak terbatas terhadap sesamanya.

Karena itu, orang beriman mesti selalu mengutamakan kasih dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih indah dan baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

861

16 Juli 2011

Membangun Komunikasi Kasih



Brutalisme bisa terjadi karena miskomunikasi atau komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Peristiwa berdarah yang terjadi di Koja, Jakarta Utara, Rabu tanggal 14 April 2010 lalu merupakan salah satu contohnya. Menurut beberapa sumber, ada miskomunikasi antara pimpinan dengan anak buah di lapangan. Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik itu menyebabkan terjadinya kerusuhan. Orang tidak saling mengerti. Akibatnya, yang dilakukan adalah menyerang orang lain.

Menyaksikan hal ini, seorang penyiar radio sekaligus pembawa acara, merasa galau. Jatuhnya korban tewas dan banyaknya korban luka mengusik hatinya. Ia berkata, ”Brutalitasme ini buah dari ranting dan cabang miskomunikasi yang buruk antara aparat dan masyarakat. Akarnya adalah hukum yang tak kenal rasa keadilan, lalu ditiup angin bisik-bisik kepentingan. Ini puisi kegalauan hatiku.”

Menurutnya, ketidakadilan yang dirasakan rakyat sudah demikian dalam. Akibatnya, mudah sekali meluap menjadi kebrutalan. Ia berkata, ”Pendengar radio di mana aku siaran juga mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi? Satpol PP memang menggemaskan. Tetapi saat personelnya ada yang meninggal dunia, kita juga merasa prihatin dan simpati. Mereka juga manusia.”

Ia mengimbau para penegak hukum supaya tidak hanya bicara soal hukum formal, tetapi memperhatikan juga rasa keadilan. Ia berkata, ”Kalau negara ini cinta rakyatnya, sebaiknya aparat negara tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Lebih baik kita berdialog. Meski alot dan lama, hasilnya memuaskan dan bisa meminimalkan korban.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia komunikasi yang begitu maju. Ada alat-alat komunikasi yang dapat membantu manusia untuk menjalin komunikasi dengan sesamanya. Soalnya adalah apakah manusia sungguh-sungguh menggunakan komunikasi itu demi kebaikan? Atau manusia menggunakan alat-alat komunikasi itu untuk menindas yang lain?

Persoalan yang terjadi adalah manusia tidak sungguh-sungguh menjalin komunikasi. Dalam komunikasi itu yang terjadi hanya satu arah. Akibatnya, komunikasi yang tidak berjalan dengan semestinya itu dapat menimbulkan ketidakadilan. Pihak yang satu memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lain. Ada tindakan penindasan dalam hal ini.

Karena itu, manusia mesti mengubah pola berkomunikasi. Dengan alat-alat komunikasi yang canggih di zaman modern ini, orang mesti menggunakannya sebaik-baiknya untuk kemajuan bersama.

Untuk itu, komunikasi yang dilakukan itu mesti mendahulukan kepentingan bersama. Komunikasi yang mementingkan kedamaian bagi semua orang. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan. Namun kalau orang sungguh-sungguh mau belajar, orang akan menemukan suatu komunikasi yang membahagiakan semua orang.

Sebagai orang beriman, komunikasi yang kita lakukan mesti berlandaskan pada kasih seorang terhadap yang lain. Kita ingin membangun komunikasi, karena kita mengasihi sesama kita. Kita ingin agar kasih itu menjadi andalan dalam hidup ini. Mari kita terus-menerus membangun komunikasi kasih di antara kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang membahagiakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


731

26 Mei 2011

Mengalirkan Rahmat dan Kasih Tuhan

Hampir setiap hari kota Palembang diguyur hujan dengan deras. Inilah saatnya musim hujan. Banyak orang mengeluh tentang hujan yang deras itu. Air tergenang di beberapa tempat. Di beberapa tempat yang rendah di kota mpek-mpek ini tentu saja akan mengalami banjir. Air tergenang berhari-hari. Akibatnya, banyak orang mengalami batuk pilek. Mungkin juga ada yang terserang demam berdarah.

Di penghujung bulan Februari ini, hujan yang deras itu seolah-olah tidak mau kompromi. Pertanyaannya, apakah hujan yang datang dari awan itu tidak meninggalkan apa-apa setelah menggenangi tempat tinggal manusia? Orang yang mengalami hujan yang deras sebagai bencana akan mengatakan bahwa hujan itu tidak berguna. Hujan itu menyebabkan banjir yang mengancam nyawa manusia.

Namun kalau direfleksikan lebih mendalam, orang akan menemukan makna dari air hujan itu. Paling tidak, orang diberi pelajaran untuk menyiapkan diri menyambut musim hujan. Menjelang musim hujan tiba, orang tidak hanya duduk-duduk sambil membuang sampah ke selokan. Namun orang berusaha membersihkan selokan, sehingga air yang tercurah dari langit itu tidak tertahan.

Sahabat, seorang Nabi mengibaratkan hujan yang turun ke bumi itu dengan kasih Tuhan terhadap manusia. Dia mengatakan bahwa hujan yang jatuh ke bumi itu akan mengairi tanaman-tanaman. Hujan itu menyuburkan tanah. Hujan itu memberi kehidupan kepada manusia. Setelah itu hujan kembali ke langit.

Kehadiran Tuhan dalam hidup manusia itu tidak asal hadir. Tuhan hadir untuk memberi manusia kemampuan untuk hidup. Tuhan menyertai manusia dengan kasihNya yang besar. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian di dunia ini. Tuhan memberi rahmatNya, agar manusia memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya di dunia ini. Bukan hanya untuk diri sendiri. Tetapi rahmat dan kasih itu diberikan Tuhan untuk pertumbuhan hidup manusia.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa mengalirkan kasih kepada setiap orang yang dijumpainya. Mengapa terjadi kejahatan di dunia ini? Karena manusia tidak mengalirkan rahmat dan kasih yang diberikan Tuhan kepadanya dengan cuma-cuma. Manusia menggunakannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Akibatnya, orang lain tidak mendapatkan bagian dari kasih dan rahmat itu. Orang lain mengalami kekurangan rahmat dan kasih Tuhan itu.

Mari kita berusaha untuk terus-menerus mengalirkan rahmat dan kasih Tuhan kepada semua orang yang kita jumpai. Dengan demikian, dunia ini menjadi tempat yang aman dan damai bagi hidup kita. Kejahatan tidak perlu mengganggu hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

685

14 April 2011

Memaknai Kekuatan Kasih

Ada seorang janda yang ditinggal pergi oleh suaminya. Mereka bertengkar hebat sebelum suaminya memutuskan untuk pergi dari rumah. Bertahun-tahun tidak ada kabar berita tentang sang suami. Janda itu hidup dengan tiga orang anaknya. Ia membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang diri.

Suatu hari, setelah 15 tahun kepergian suaminya, janda itu mendengar kabar tentang suaminya yang jatuh miskin. Suaminya menjadi seorang gelandangan. Untuk mempertahankan hidupnya, ia mesti mengemis di perempatan jalan di suatu kota. Janda itu jatuh kasihan. Ia memutuskan untuk berangkat ke kota itu mencari suaminya di saat musim libur sekolah tiba. Ia membawa serta ketiga anaknya.

Dari satu perempatan kota ke perempatan kota yang lain, ia mencari suaminya. Berhari-hari mereka mencari. Namun ternyata sulit mereka temukan. Mereka pulang kembali ke kota mereka. Namun janda itu tidak bisa tenang dalam hidupnya. Ia selalu merasa bersalah. Di saat bersamaan, cintanya pada sang suami kembali tumbuh, bersemi.

Ia berkata kepada ketiga anaknya, “Mama akan terus mencari papa kalian. Mama tidak mau dia menderita.”

Musim liburan berikutnya, ia mengajak ketiga buah hatinya untuk kembali mencari sang suami. Kali ini mereka mujur. Mereka menemukan suaminya sedang mengemis di perempatan jalan. Mereka menemuinya dan mengajaknya pulang ke rumah. Mereka memberinya tempat terhormat di dalam keluarga.

Ketika salah seorang anaknya bertanya, janda itu berkata, “Mama lakukan semua ini karena mama masih mencintai papamu. Mulai sekarang kita semua tidak boleh lagi menyakiti hati papamu. Dia adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita.”

Sahabat, Tuhan adalah kasih. Tuhan yang adalah kasih itu selalu peduli terhadap kehidupan manusia. Yang dikehendaki Tuhan adalah keselamatan bagi semua orang. Karena itu, Tuhan tidak pernah memandang orang menurut suku, golongan, ras, atau agamanya. Setiap orang dikenal Tuhan secara pribadi. Setiap orang mendapatkan kasih yang sama.

Karena itu, Tuhan ingin agar kita mengarahkan seluruh hidup kita kepada kasih. Bukan kepada egoisme diri sendiri. Atau cinta akan kelompok, suku, golongan, ras atau agama sendiri. Untuk itu, manusia mesti meninggalkan kefasikkan, tipu daya hanya untuk keuntungan pribadi.

Selanjutnya, orang beriman itu mesti hidup adil dan benar di hadapan Tuhan. Kalau dua hal ini tidak ada, berarti orang hanya mengandalkan cinta dirinya. Orang tidak mengandalkan kasih yang universal yang telah diberikan oleh Tuhan. Orang kemudian memilih untuk tidak bersikap adil dan benar. Yang dipilih adalah perbuatan yang kurang senonoh yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Bagi orang beriman, kekuatan hidup ini terletak pada saling mengasihi. Dalam situasi mengasihi itu, orang rela memberi hidup bagi yang lain. Dalam saling mengasihi itu, orang akan berani berkorban bagi sesamanya. Orang berani membagi waktunya bagi kebahagiaan sesamanya. Mari kita hidup dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, kita semakin memiliki sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


654

05 Maret 2011

Senantiasa Berharap pada Penyelenggaraan Tuhan


Suatu hari seorang anak menangis tersedu-sedu di hadapan ibunya. Pasalanya, setelah menerima rapor kenaikan kelas, nilainya pas-pasan. Padahal ia sudah berjuang mati-matian. Selama sebulan penuh ia menyiapkan diri untuk menghadapi ulangan kenaikan kelas. Ia sudah mengorbankan begitu banyak waktu hanya untuk ulangan itu. Namun nilai-nilai yang diperolehnya tidak memuaskan dirinya. Sedangkan seorang temannya yang dianggap malas belajar ternyata naik kelas dengan nilai-nilai yang lebih baik. Ia marah terhadap dirinya sendiri. Ia tidak menerima keadaan dirinya.

Sang ibu memandang anaknya dengan seutas senyum pengharapan. Ia tidak ingin anaknya terpuruk dalam keputusasaan. Ia ingin agar anaknya bangkit. Ia berkata, ”Nak, janganlah kamu kecewa. Masih ada hal-hal indah yang bisa kita gunakan untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Yang penting kamu lulus. Tidak usah terlalu kecewa. Tahun ajaran yang baru, kamu harus lebih baik lagi.”

Anak itu menjadi sadar bahwa hidup ini mesti terus berjalan. Hidup ini belum berakhir. Besok masih ada kesempatan untuk memperbaiki hidup. Karena itu, ia berjanji kepada ibunya untuk terus berjuang. Ia ingin sukses dalam hidupnya. Ia ingin membahagiakan dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Karena itu, sejak awal tahun pelajaran ia sudah menyusun kiat-kiat lengkap dengan strategi untuk meraih keberhasilan. Ia berusaha untuk sabar dan tekun belajar. Ia tidak ingin diganggu oleh berbagai hal yang tidak mendukung keinginan dirinya. Di akhir semester, ia meraih nilai-nilai tertinggi di kelasnya. Ia menjadi juara satu. Suatu usaha yang luar biasa telah ia torehkan dalam hidupnya.

Sahabat, kadang-kadang manusia itu mudah putus asa. Sedikit saja tantangan yang menghampirinya orang sudah menyerah. Orang tidak mau mencari cara-cara atau jalan-jalan untuk mengatasi tantangan-tantangan itu. Tentu saja sikap seperti ini bukan sikap orang beriman yang sejati. Orang yang percaya kepada Tuhan itu orang yang yakin bahwa masih ada cara-cara untuk mengatasi kesulitan hidup.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa meski hidup ini penuh dengan tantangan, orang tidak boleh menyerah. Menyerah kalah sebelum berperang menunjukkan sikap kecut hati. Orang yang besar itu orang yang berani melintasi tantangan-tantangan hidup. Orang yang tidak takut terhadap setiap bentuk tantangan yang akan menghadangnya.

Untuk itu, orang mesti memiliki iman yang besar kepada Tuhan. Orang mesti percaya bahwa di ujung jalan yang gelap itu masih ada Tuhan yang menanti kedatangannya. Di atas jalan yang licin dan berbatu-batu itu masih ada Tuhan yang akan membimbing orang untuk sampai pada tujuan hidupnya. Di atas titian jembatan yang goncang dan rapuh itu masih ada Tuhan yang senantiasa memberi semangat untuk terus maju dan berjuang.

Orang beriman itu orang yang senantiasa mempercayakan dirinya pada kasih karunia Tuhan. Mari kita membiarkan diri kita dikuasai oleh kasih karunia Tuhan. Dengan demikian, kita dapat senantiasa bangkit dari keterpurukan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ
Rata Penuh

Juga dapat dibaca di:
http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/
http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=85079&page=99
http://www.facebook.com/katolik.webgaul.net

15 Februari 2011

Kesetiaan Itu Kunci Melestarikan Cinta


Pada jaman dahulu hiduplah dua orang jendral besar, yaitu Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang tersu-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus, yang bertekad menguasai Persia.

Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia. Hal itu membuat marah Cyrus yang punya ambisi untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya. Ia mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluarganya. Mereka lalu dibawa ke ibukota kerjaaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasa. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia telah mendengar kegigihan Cagular mempertahankan wilayahnya.

Sambil memandang Cagular, Cyrus bertanya, “Apa yang akan kaulakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?”

“Kalau yang mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk yang mulia.”

Ia segera dibebaskan. Namun hati istrinya sangat terpukul. Ketika dalam perjalanan, sang istri sangat marah terhadap suaminya. Istrinya berkata dengan penuh kecewa, “Aku hanya mau melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku. Bukan demi Cyrus.”

Sahabat, masihkah kita butuh kesetiaan dalam hidup ini? Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita menyaksikan terjadi berbagai ketidaksetiaan. Ada pasangan suami istri yang mengingkari kasih setia mereka. Terjadi perselingkuhan di antara mereka. Seorang yang tenar seperti Tiger Woods ternyata mengingkari kasih setianya kepada sang istrinya. Ia tega berselingkuh dengan wanita-wanita lain.

Kisah sewot istri Cagular tadi mau mengatakan kepada kita bahwa dalam suatu perkawinan, kesetiaan menjadi tolok ukur kelangsungan perkawinan itu. Kalau pasangan suami istri tidak saling setia dan bersedia berkorban bagi yang lain, cinta mereka menjadi hambar. Cepat atau lambat, mereka tergerus oleh perceraian. Hal ini terjadi kalau masing-masing orang hanya mau menang sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau berkorban bagi cinta yang sejati.

Karena itu, orang beriman mesti berani berkorban bagi cinta yang lebih besar. Orang beriman mesti berani mendengarkan pasangannya. Orang beriman mesti berani mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan dirinya sendiri. Untuk itu, cinta itu mesti terus-menerus dipupuk dengan keutamaan-keutamaan seperti saling mengampuni dan menghormati. Dengan demikian, bahtera perkawinan itu tetap bertahan sampai akhir hayat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

615

06 Februari 2011

Tuhan selalu Punya Cara untuk Mencintai Kita

Ada seorang bapak yang mengalami kecelakaan yang hebat. Mobil yang ia kendarai menabrak sebuah tronton yang sedang melaju. Tangan dan kakinya patah. Beberapa waktu lamanya ia terbaring tak berdaya di rumah sakit. Setelah beberapa bulan dirawat, ia sembuh. Namun ia tetap lumpuh. Ia mesti menggunakan kursi roda untuk melakukan aktivitasnya.

Ketika masih dirawat di rumah sakit, ia begitu gelisah. Ia tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Ia berkata kepada istrinya, ”Sudah berkali-kali saya berdoa kepada Tuhan. Tetapi rupanya Tuhan tidak mau mendengarkan doa-doa saya. Apakah Tuhan sudah tuli? Di mana Tuhan sekarang?”

Mendengar pernyataan-pernyataan itu, istrinya tersenyum. Lantas ia berkata, ”Mengapa bapak kecewa terhadap Tuhan? Bukankah Tuhan selalu mencintaimu? Pernahkah Tuhan mencobai dan menyakiti bapak? Tuhan masih hadir menemani bapak sampai sekarang. Lihatlah anak-anakmu yang setia menjagamu. Mereka memberikan perhatian yang luar biasa terhadapmu. Ini tanda Tuhan masih mencintaimu.”

Bapak itu tidak bisa menjawab. Air matanya meleleh dan jatuh membasahi pipinya. Ia sadar, ia masih merasakan kebaikan Tuhan yang hadir dalam diri istri dan anak-anaknya. Mereka tidak meninggalkan dia terbaring sendirian. Ketika ia menjerit kesakitan, mereka selalu berusaha untuk meringankan beban penderitaannya.

Sahabat, banyak orang mempertanyakan peranan Tuhan dalam hidup mereka, ketika mereka mengalami kegetiran hidup. Mereka merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap penderitaan yang sedang mereka alami. Mereka bahkan menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Akibatnya tumbuh sikap pesimis terhadap Tuhan. Tumbuh sikap kurang percaya kepada Tuhan.

Benarkah Tuhan tidak peduli terhadap hidup manusia? Benarkah ketika manusia mengalami penderitaan Tuhan menghilang? Benarkah Tuhan membiarkan manusia berjuang sendirian dalam suasana yang kurang menyenangkan?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa cinta Tuhan selalu hadir dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian. Tuhan tetap berperan menyembuhkan penderitaan manusia melalui kehadiran orang-orang di sekitar kita. Tuhan menghadirkan diri dalam cinta dan perhatian yang begitu besar yang ditunjukkan oleh kesetiaan sesama kita.

Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menuduh Tuhan tidak peduli terhadap hidup ini. Tuduhan dilakukan oleh mereka yang kurang percaya kepada Tuhan. Orang-orang yang kurang percaya biasanya mempertanyakan kebaikan, cinta dan peranan Tuhan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti yakin bahwa Tuhan tetap peduli terhadap hidup kita melalui berbagai cara. Tuhan tidak kehabisan cara untuk mencintai kita. Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


608

11 November 2010

Menyalurkan Rahmat Kasih kepada Sesama

Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit bernama Harry. Ia tidak bisa melupakan nama ini, karena Harry menjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan koper.

Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Misalnya, ia membantu seorang wanita tua yang kopernya jatuh. Atau ia mengangkat seorang anak kecil, agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Melihat tingkah laku Harry, sang profesor bertanya, ”Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu?”

Sambil tersenyum, Harry menjawab, ”Selama perang.”

Lantas ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau. Saat itu, ia menyaksikan bagaimana satu per satu teman-temannya tewas terkena ranjau di depan matanya.

Ia berkata, ”Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya merupakan pijakan terakhir. Karena itu, saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap kaki yang saya ayunkan adalah sebuah dunia baru. Saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”

Sahabat, pernahkah Anda menyadari saat Anda mengangkat kaki-kaki Anda? Pernahkah Anda merasakan ada sesuatu yang mendorong Anda untuk melakukan sesuatu bagi sesama? Mungkin banyak orang kurang menyadarinya. Mungkin banyak orang melakukan sesuatu secara otomatis saja.

Tetapi ketika orang menyadari apa yang dilakukannya, tentu saja ada rahmat yang mengalir dari hatinya. Setiap langkah yang kita buat dalam hidup ini merupakan rahmat yang berlimpah ruah bagi banyak orang. Ada seorang yang sedang sakit yang kita jamah dengan penuh kasih akan merasakan rahmat itu mengalir ke dalam sanubarinya. Ia merasa damai. Ia merasa tenang. Ia merasa ada sesuatu yang seolah menyembuhkan batinnya yang luka.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin agar sesama kita mendapatkan rahmat kasih yang berlimpah-limpah dari diri kita. Soalnya, apakah kita mau mengalirkan rahmat itu bagi mereka? Atau kita hanya diam saja sementara sesama kita sangat membutuhkan aliran rahmat itu?

Karena itu, kita mesti dengan penuh kerelaan mengalirkan rahmat demi rahmat kepada sesama kita. Hanya dengan cara demikian, kita mampu membahagiakan banyak orang. Hanya dengan cara itu, kita mampu membawa banyak orang kepada kehidupan yang aman dan tenteram. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

548

15 Agustus 2010

Mengungkapkan Kasih Melalui Tanda-tanda

Suatu hari seorang pria berhenti di sebuah toko bunga. Matanya tertuju pada seikat mawar segar. Ia pun membeli seikat mawar. Ia ingin mengirimkan buat ibunya yang tinggal di kota tetangga. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari toko bunga itu. Ia tersenyum puas memandangi seikat mawar itu. Baginya, mawar itu menjadi ungkapan perhatiannya terhadap sang mama. Seikat mawar itu menjadi tanda cintanya kepada sang mama. Ia ingin menyatakan cintanya dengan seikat mawar segar.

Tidak jauh dari tempat ia keluar, berdiri seorang gadis kecil. Air mata membasahi wajahnya yang manis itu. Di tangannya, ia memegang selembar uang kertas seribu rupiah. Melihat gadis itu, pria itu bertanya, “Hai manis, ada apa denganmu? Ada yang bisa saya bantu?”

Gadis kecil itu berkata, “Saya ingin membeli setangkai mawar untuk mama saya yang sedang sakit. Tetapi saya hanya punya seribu rupiah. Setangkai mawar itu harganya dua ribu rupiah.”

Sambil memegang bahunya, pria itu berkata, “Ayo, ikut aku. Aku akan membelikan bunga yang kau mau.”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. Hari itu, ia dapat mempersembahkan sekuntum mawar buat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ia ingin membahagiakan mamanya. Ia memberikan cintanya bagi sang mama.

Kita hidup dalam tanda-tanda. Dua orang tadi memberi perhatian kepada orang yang mereka cinta dengan mawar yang indah dan segar. Mereka mengungkapkan cinta mereka melalui kehadiran mawar itu. Dengan demikian, mereka akan mengalami betapa cinta itu memberi kehidupan. Cinta memberi semangat kepada mereka yang dicintai.

Katakan dengan setangkai bunga merupakan ungkapan cinta yang mendalam kepada sesama. Sayang, dalam hidup ini banyak orang mulai melupakan tanda-tanda. Banyak orang lupa bahwa tanda merah yang menyala itu tanda bahaya. Orang tidak boleh menerjang tanda merah itu. Bencana akan menjadi bagian dari orang yang berani menerjang tanda merah. Orang tidak peduli lagi akan hidup ini. Akibatnya, orang gampang untuk melanggar rambu-rambu kehidupan.

Karena itu, orang mesti memiliki kesadaran dalam hidupnya bahwa orang mesti berusaha untuk mengendalikan dirinya. Orang mesti berusaha untuk meninggalkan sikap nekad dan menggantinya dengan sikap hati-hati dalam hidup ini. Orang mesti berusaha untuk mengubah cara hidupnya dari yang merusak menjadi membangun kehidupan bersama.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani untuk menunjukkan cara hidup kita yang baik terhadap sesama. Kisah tadi menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa mengungkapkan kasih kita kepada sesama. Kita mesti menggunakan cara-cara yang baik dan indah mengungkapkan kasih sayang kita kepada orang-orang yang kita cinta. Dengan demikian, kita akan menjadi orang-orang yang memiliki hidup yang baik dan berkenan kepada sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

471

27 Juli 2010

Memberi Kesempatan untuk Mengalami Kasih Tuhan

Suatu hari seorang bapak menghukum anaknya dengan sangat sadis. Ia mengikat kedua tangan anaknya itu dengan plastik. Lantas ia membakar plastik itu. Anaknya menjerit ketakutan. Air mata membasahi wajahnya yang hitam manis itu. Ia melompat-lompat untuk melepaskan diri dari rasa sakit yang sangat mendalam. Namun sang ayah tidak peduli. Dengan wajah yang seram, ia bahkan menampar pipi anak gadisnya itu.

Dengan kasar ia berkata, “Orang yang mencuri harus dihukum dengan keras. Bahkan harus dipotong tangannya. Tidak boleh menangis. Kamu harus menanggung akibat perbuatanmu sendiri.”

Berkali-kali anak itu berteriak memohon ampun. Ia menjerit kesakitan. Tetapi tiada satu kata maaf pun keluar dari mulut sang ayah yang begitu dicintainya itu. Begitu plastik itu putus, karena terbakar api, anak itu langsung mencari air untuk mencelupkan tangannya. Ia berhasil. Namun tangannya terluka oleh api. Ia sangat menderita. Ia menjadi lemas melihat dua jari di tangan kanannya yang tidak bisa digerakkannya.

Sambil menangis, ia berkata, “Tuhan, kenapa semua ini mesti terjadi atas diri saya? Saya memang bersalah telah mencuri di warung tetangga. Tetapi kenapa tidak ada ampun sedikit pun buatku?”

Kisah nyata ini merupakan kisah tragis anak manusia. Manusia diberi kemampuan untuk berpikir. Namun manusia lebih dikuasai oleh emosi seaat. Manusia salah membuat suatu pendekatan terhadap suatu perbuatan. Mungkin orang kalap, karena tidak ingin kehilangan muka. Orang tidak mau malu.

Balas dendam menjadi andalan dalam hidup. Kalau situasi ini selalu terjadi dalam hidup manusia, dunia ini akan menjadi suatu medan pertarungan tanpa henti. Yang tumbuh dan berkembang dalam hidup adalah rasa benci dan dendam.

Semestinya sang bapak lebih menahan dirinya. Semestinya ia mampu mengarahkan anak gadisnya untuk bertobat. Semestinya ia dapat menerima kenyataan atas apa yang telah terjadi. Beranjak dari sikap menerima itu, ia dapat membawa anak gadisnya itu ke arah yang lebih baik. Yang telah ia lakukan itu justru hanya meninggalkan trauma yang mengganggu pertumbuhan sang anak. Setiap kali ia mengingat peristiwa itu, ia akan merasakan suatu kepahitan dalam dirinya. Ia merasa rendah diri. Ia tidak dapat bertumbuh dan berkembang secara maksimal dalam hidupnya.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang mesti dilakukan oleh orang beriman? Orang beriman mesti berani mengambil langkah untuk mengampuni sesama yang berbuat salah. Dengan mengampuni, kita menerima kembali orang itu ke dalam hati dan budi kita. Kita memberi kesempatan kepadanya untuk dapat mengalami kasih Tuhan dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

451

Bagikan