Pages

Tampilkan postingan dengan label kesempatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesempatan. Tampilkan semua postingan

22 November 2010

Menemukan Kesempatan dalam Diri

Ada seorang pemuda yang sudah lama lulus dari perguruan tinggi. Ia sudah mendatangi berbagai perusahaan untuk melamar pekerjaan. Namun tidak ada yang mau menerimanya. Pasalnya, pemuda itu dinilai kurang kreatif dalam berbagai hal. Yang ia tahu hanya ilmunya sendiri. Padahal perusahaan-perusahaan mengharapkan dia memiliki kemampuan di bidang lain juga. Tambahan lagi, pemuda itu pun tetap berteguh pada pendiriannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menganggur.

Namun dalam situasi seperti itu ia justru mulai kreatif. Ia mulai membuka sebidang tanah peninggalan ayahnya di desa. Tanah seluas dua hektar itu ia tanami sayur-sayuran. Modal ia peroleh dari ibunya yang membuka warung di kota. Setiap bulan ia dapat menghasilkan jutaan rupiah dari jualan sayur-sayuran. Ia mengembangkan sayuran organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia.

Dengan sayur organik, banyak orang mengincar hasil kebunnya. Ia tidak perlu membawanya ke kota. Banyak orang kota mendatangi kebunnya. Mereka membelinya langsung di kebunnya. Harganya pun lebih mahal daripada sayur-sayuran yang menggunakan bahan-bahan kimia. Dengan hasil kebun seperti itu, ia dapat membiaya hidupnya. Ia juga dapat membantu adik-adiknya melanjutkan sekolah mereka.

Ia juga memiliki beberapa pegawai yang membantunya mengelola kebun sayurnya. Ia merasa gembira atas sukses yang telah ia raih. Seandainya dulu ia diterima di perusahaan, tentu saja ia masih tetap menjadi pegawai. Tetapi sekarang ia bukan sekadar pegawai. Ia seorang bos yang berhasil.

Sahabat, sering orang berpikir bahwa kesuksesan itu mendatangi dirinya. Tidak perlu mengejar kesuksesan itu. Orang cukup duduk dan menunggu kesuksesan itu bagai durian yang matang yang akan jatuh dari pohonnya. Yang dilakukan cukup berpangku tangan.

Tentu saja sikap seperti ini bukan sikap yang benar. Orang mesti mengejar dan merebut kesuksesan itu. Orang tidak bisa berpangku tangan begitu saja menunggu kesuksesan menghampirinya. Ada begitu banyak kesempatan di sekeliling kita. Bahkan kesempatan emas yang sering diidam-idamkan itu ada di dalam diri kita sendiri. Tinggal bagaimana kita membuka pintu diri kita untuk kesempatan itu.

Kesempatan itu ada di dalam diri kita. Tidak bergantung pada lingkungan, keberuntungan atau pertolongan orang lain. Kisah tadi menegaskan hal ini. Pemuda itu mesti memulai dari dirinya sendiri, kalau ia mau sukses. Dan ketika ia memulainya, ia berhasil dengan baik. Ia meraih kesuksesan itu bagi dirinya. Ia tidak perlu mengemis pekerjaan ke mana-mana untuk diberi pekerjaan.

Karena itu, orang mesti memulai merebut kesempatan itu. Orang mesti mengubah dirinya, kalau suatu kesempatan mengalami jalan buntu. Orang tidak bisa memaksakan prinsip-prinsip hidupnya yang justru menghambat dirinya dalam meraih sukses. Karena itu, kreativitas menjadi salah satu alat bantu untuk meraih kesuksesan itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berusaha menemukan kesempatan-kesempatan yang ada dalam diri kita. Kesempatan emas mesti kita olah menjadi kesuksesan-kesuksesan yang membantu kita bertumbuh dan berkembang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


25 Agustus 2010

Merebut Kesempatan untuk Hidup yang Lebih Baik



Seorang gadis melepaskan kesempatan yang begitu berharga baginya untuk membangun karier yang lebih baik. Ia ditawari untuk bekerja di perusahaan asing yang punya prospek yang sangat besar. Bahasa Inggrisnya sempurna. Ilmu dia punya. Tetapi yang membuat ia melepaskan kesempatan itu adalah hal sepele: ia tidak mau jauh dari keluarganya.

Terhadap keputusannya itu, banyak orang menganggapnya sebagai suatu kebodohan. Apalagi ketika mereka mendengar alasannya yang sepele itu. Tetapi baginya, itulah cara terbaik baginya untuk tetap dekat dengan orangtuanya. Ia lebih mencintai orangtuanya daripada membangun karier bagi dirinya sendiri. Ia memilih untuk tidak mempunyai apa-apa.

Banyak orang membutuhkan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya. Banyak orang ingin agar kariernya menanjak, sehingga mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik. Bagi mereka, kesempatan yang ada mesti direbut. Tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Kesempatan itu hanya datang sekali. Ia tidak datang untuk kedua kali.

Kesempatan itu adalah waktu, karena ia hanya datang satu kali. Setelah itu, ia berlalu ketika orang tidak menggunakannya dengan baik. Karena itu, orang mesti menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin untuk kehidupan ini. Orang tidak boleh membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Menyia-nyiakan kesempatan hanyalah suatu kebodohan dalam hidup.

Kisah gadis tadi menunjukkan lemahnya iman seseorang. Orang yang punya iman itu orang yang mampu menghadapi tantangan jaman. Orang yang berani meninggalkan kelekatan dirinya dengan hal-hal di sekitarnya. Orang yang mampu menggunakan kemampuannya untuk membangun hidup yang lebih baik bagi kesejateraan dirinya dan sesama.

Karena itu, kesempatan adalah peluang yang dapat segera diambil untuk membangun hidup yang lebih baik. Kesempatan itu keluasan yang membuka jalan-jalan baru bagi masa depan yang terang benderang. Orang yang melewatkan kesempatan begitu saja akan mengalami penyesalan dalam hidupnya. Peluang itu berlalu bersama waktu. Tidak akan kembali lagi.

Di hadapan kita berjajar pintu-pintu kesempatan yang terbuka lebar. Kita mesti masuk ke dalam pintu-pintu itu. Kita rebut kesempatan itu untuk membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Jangan kita hanya menonton dan mengagumi kesempatan-kesempatan itu. Kita maju dan menggunakannya untuk kebahagiaan diri kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha untuk merebut peluang-peluang yang berhamburan di depan mata kita. Peluang-peluang itu menjadi bekal bagi kita dalam perjalanan menuju kesejahteraan bagi hidup kita. Namun orang beriman mesti berpikir tentang hidup sesamanya. Orang beriman mesti peduli terhadap lingkungan hidupnya. Sesama bukanlah musuh yang mesti ditaklukkan, tetapi sesama adalah teman seperjalanan menuju kesuksesan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

481Rata Penuh

27 Juli 2010

Memberi Kesempatan untuk Mengalami Kasih Tuhan

Suatu hari seorang bapak menghukum anaknya dengan sangat sadis. Ia mengikat kedua tangan anaknya itu dengan plastik. Lantas ia membakar plastik itu. Anaknya menjerit ketakutan. Air mata membasahi wajahnya yang hitam manis itu. Ia melompat-lompat untuk melepaskan diri dari rasa sakit yang sangat mendalam. Namun sang ayah tidak peduli. Dengan wajah yang seram, ia bahkan menampar pipi anak gadisnya itu.

Dengan kasar ia berkata, “Orang yang mencuri harus dihukum dengan keras. Bahkan harus dipotong tangannya. Tidak boleh menangis. Kamu harus menanggung akibat perbuatanmu sendiri.”

Berkali-kali anak itu berteriak memohon ampun. Ia menjerit kesakitan. Tetapi tiada satu kata maaf pun keluar dari mulut sang ayah yang begitu dicintainya itu. Begitu plastik itu putus, karena terbakar api, anak itu langsung mencari air untuk mencelupkan tangannya. Ia berhasil. Namun tangannya terluka oleh api. Ia sangat menderita. Ia menjadi lemas melihat dua jari di tangan kanannya yang tidak bisa digerakkannya.

Sambil menangis, ia berkata, “Tuhan, kenapa semua ini mesti terjadi atas diri saya? Saya memang bersalah telah mencuri di warung tetangga. Tetapi kenapa tidak ada ampun sedikit pun buatku?”

Kisah nyata ini merupakan kisah tragis anak manusia. Manusia diberi kemampuan untuk berpikir. Namun manusia lebih dikuasai oleh emosi seaat. Manusia salah membuat suatu pendekatan terhadap suatu perbuatan. Mungkin orang kalap, karena tidak ingin kehilangan muka. Orang tidak mau malu.

Balas dendam menjadi andalan dalam hidup. Kalau situasi ini selalu terjadi dalam hidup manusia, dunia ini akan menjadi suatu medan pertarungan tanpa henti. Yang tumbuh dan berkembang dalam hidup adalah rasa benci dan dendam.

Semestinya sang bapak lebih menahan dirinya. Semestinya ia mampu mengarahkan anak gadisnya untuk bertobat. Semestinya ia dapat menerima kenyataan atas apa yang telah terjadi. Beranjak dari sikap menerima itu, ia dapat membawa anak gadisnya itu ke arah yang lebih baik. Yang telah ia lakukan itu justru hanya meninggalkan trauma yang mengganggu pertumbuhan sang anak. Setiap kali ia mengingat peristiwa itu, ia akan merasakan suatu kepahitan dalam dirinya. Ia merasa rendah diri. Ia tidak dapat bertumbuh dan berkembang secara maksimal dalam hidupnya.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang mesti dilakukan oleh orang beriman? Orang beriman mesti berani mengambil langkah untuk mengampuni sesama yang berbuat salah. Dengan mengampuni, kita menerima kembali orang itu ke dalam hati dan budi kita. Kita memberi kesempatan kepadanya untuk dapat mengalami kasih Tuhan dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

451

Bagikan

13 September 2009

Kalau Mau Berusaha selalu Ada Kesempatan




Burung Sterna, burung kecil sejenis camar, tinggal di Afrika dan berkembang biak selama belahan bumi bagian utara mengalami musim panas. Ketika musim dingin tiba, burung laut itu melakukan migrasi, pindah ke selatan, ke Antartika, dengan menempuh jarak sejauh 15.000 kilometer untuk mendapatkan musim panas di bagian selatan. Ini merupakan salah satu migrasi terpanjang daripada yang dilakukan burung lainnya.

Dengan pindah ke selatan, mereka mendapatkan keuntungan, yaitu waktu siang hari yang lebih panjang untuk mencari makan. Pada waktu musim berganti lagi, dan musim panas mulai tiba di Antartika, burung-burung itu sekali lagi terbang menempuh jarak 15.000 kilometer kembali ke tempat asal mereka. Dengan demikian, burung Sterna bisa terus mencari makan dan mendapatkan cahaya matahari sepanjang tahun.

Musim dingin melambangkan kepasifan. Banyak binatang yang tidur panjang selama musim dingin seperti beruang, serigala dan ular. Namun burung Sterna tidak demikian. Jika musim dingin tiba, mereka pindah ke tempat lain yang lebih hangat di mana musim panas berlangsung. Dengan sayap kecilnya, burung-burung itu terbang menempuh jarak yang sangat jauh untuk mencari kehangatan dan makanan. Dalam satu tahun, mereka melakukan perjalanan dua kali, menempuh jarak 30.000 kilometer pergi pulang, agar tidak mengalami musim dingin dan dapat mencari makan.

Kisah di atas sangat menarik bagi hidup kita. Burung-burung kecil yang tampak kurang berdaya, ternyata mampu menggunakan instingnya untuk mempertahankan hidup. Tentu saja mereka telah dibekali kemampuan oleh Yang Mahakuasa, agar tidak begitu saja mati dalam kesia-siaan. Mereka mesti berusaha untuk mempertahankan hidup.

Manusia adalah makhluk yang lebih mulia dan lebih berakal budi daripada binatang. Kalau burung saja tetap dapat bertahan hidup dan terhindar dari musim dingin yang membekukan, kita tentu saja juga bisa bertahan dalam masa-masa yang sulit, asal kita mau bekerja keras, rajin dan kreatif mencari peluang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk semakin hari semakin membuka diri untuk begitu banyak peluang yang ada. Orang yang tidak berani melihat peluang dalam hidupnya itu orang yang kurang beriman. Orang begitu mudah menyerah pada nasibnya. Orang yang beriman kuat itu dengan gagah berani menghadapi berbagai tantangan hidupnya. Ia tidak mudah menyerah pada garis tangan kehidupan. Mengapa? Karena ia mengandalkan Tuhan. Di dalam Tuhan, orang beriman menemukan peluang-peluang untuk kebahagiaan hidupnya.

Mari kita tetap berusaha untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan dalam meraih sukses dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

165