Pages

Tampilkan postingan dengan label sesama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sesama. Tampilkan semua postingan

21 Oktober 2014

Mempunyai Kepedulian terhadap Sesama




Apa yang akan terjadi ketika di sekitar Anda berhimpun orang-orang yang memerlukan bantuan Anda? Anda mengusir mereka pergi? Atau Anda tergerak hati untuk membantu mereka?

Beberapa waktu lalu terjadi penangkapan Bupati Bogor Rachmat Yasin oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini menambah daftar kepala daerah yang tersangkut kasus hukum. Hampir sebagian besar kasus yang melibatkan gubernur dan wali kota atau bupati terkait dengan korupsi.

"Posisinya sekarang sudah 325 kepala daerah yang terjerat hukum. Baik masih berstatus tersangka atau sudah menjadi narapidana," kata Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan.

Tentu saja jumlah ini sangat besar. Begitu banyak kepala daerah yang ternyata bertindak tidak jujur terhadap rakyat yang telah memilih mereka. Padahal rakyat sangat berharap bahwa pilihan mereka itu akan memimpin mereka dengan penuh kejujuran. Para pemimpin itu semestinya menjalankan tugas sebaik-baiknya demi rakyat. Bukan demi diri mereka sendiri. Sayang, harapan seperti ini tidak terjadi.

Djohermansyah kuatir, kalau tidak ada perubahan sistem, jumlah kepala daerah yang terkena kasus hukum pasti bertambah banyak. Faktor mahalnya biaya kampanye pemilukada juga turut menyumbang kepala daerah untuk balik modal.

Alhasil, mereka ada kecenderungan untuk berupaya mencari uang dengan cara apa pun, hingga akhirnya harus berurusan dengan aparat hukum. "Nah, jadi kita mengkaji bahwa salah satu faktor penyebab dari proses hukum tersangkut korupsi itu suap adalah karena besarnya kewenangan kepala daerah," katanya.

Sahabat, ketika sebuah kasus korupsi terkuak, hati kita semestinya merasa sakit. Peristiwa seperti ini merupakan suatu ledakan dari penipuan terhadap hati nurani yang terjadi selama ini. Seorang pemimpin yang melakukan korupsi sebenarnya membunuh banyak rakyat yang dipimpinnya. Semestinya anggaran digunakan untuk pembangunan bagi kesejahteraan rakyat banyak. Namun anggaran itu ternyata hanya dipakai untuk diri sendiri.

Dalam berbagai berita, kita masih menyaksikan begitu banyak rakyat yang hidup dalam keterbatasan. Ada orang yang sulit sekali mendapatkanya makanan hanya untuk makan sekali sehari saja. Ada sekolah-sekolah yang lebih layak disebut sebagai kandang ayam. Ada banyak gelandangan yang begitu banyak di kota-kota. Mereka tidur di emperan took, ketika malam menjelang.

Namun di sisi lain, ada orang yang merampok uang rakyat untuk berfoya-foya. Mereka melakukan korupsi demi memenuhi keinginan diri mereka. Sungguh tragis situasi seperti ini. Hati mereka keras dan beku. Tidak punya ketergerakkan hati untuk berbagi hidup dengan sesamanya.

Orang beriman tentu saja mesti memiliki hati yang lebih peduli terhadap sesamanya. Orang beriman itu orang yang selalu mengutamakan kejujuran dalam kehidupan. Orang yang senantiasa peduli terhadap sesamanya. Orang yang selalu bekerja bagi kepentingan hidup sesamanya.

Mari kita memupuk hati kita, agar memiliki kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, semakin banyak orang memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ



1163

02 Juli 2014

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama

 
Apa yang akan Anda lakukan terhadap sesama Anda yang kurang beruntung dalam hidup ini? Anda biarkan saja? Atau Anda tergerak hati untuk menolongnya?

Andras Peto menyaksikan sendiri banyak anak yang mengalami kerusakan otak usai Perang Dunia II. Ia tidak tinggal diam. Sebagai seorang dokter, ia tergerak hatinya untuk membantu sesamanya. Ia mendirikan sebuah pusat pelatihan untuk merehabilitasi otak anak-anak yang rusak. Namun ia juga memberikan pendidikan bagi anak-anak.

Ia yakin, otak anak-anak yang rusak itu seperti suka lupa, sensori dan motorik serta ketrampilan berbahasa yang rusak akan dibangun kembali. Hal itu dapat terjadi melalui latihan yang keras.

Sekarang ini, sekitar 1500 anak mengikuti pelatihan di Institut Peto di Budapest, Hungaria. Andras Peto sendiri telah meninggal dunia pada 11 September 1967, namun karyanya tetap dilestarikan hingga kini. Anak-anak yang mengalami kerusakan otak yang mendapatkan perawatan ketika berusia enam bulan hingga empat tahun akan mengalami kesembuhan. Mereka bisa masuk ke tingkat pendidikan sekolah dasar dengan normal.

Apa yang telah dimulai oleh Andras Peto tidak sia-sia. Ia membantu banyak orang untuk keluar dari persoalan hidup mereka. Tentu saja ini sebuah karya kemanusiaan yang sangat membantu banyak orang dalam kehidupan ini.

Sahabat, suatu kepekaan terhadap sesama yang menderita menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun kepekaan itu mesti disertai dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan ini. Mengapa? Karena suatu karya tanpa cinta yang mendalam hanyalah sebuah karya sosial biasa saja. Ketika ada rintangan yang menghadang, orang akan meninggalkan karya itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha Andras Peto menjadi sungguh-sungguh bermakna, ketika ia melakukannya dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan. Ia tidak sekedar membantu anak-anak yang mengalami kerusakan otak. Tetapi dengan cinta yang mendalam, ia ingin membantu generasi muda untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti ia hadapi. Namun ia mampu melewati segala tantangan itu.

Dalam kehidupan kita di zaman modern ini, kita juga berhadapan dengan kepedihan-kepedihan. Ada banyak sesama kita yang kurang beruntung dalam hidup mereka. Ada berbagai sebab. Namun yang pasti, kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan hal-hal baik dengan penuh kasih. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Mereka mesti mendapatkan perhatian dan kasih yang mendalam.

Bagi orang beriman, membantu sesama yang berkekurangan merupakan bagian dari penghayatan iman. Iman tidak hanya ada di dalam pikiran atau hati saja. Iman mesti tampak dalam kehidupan sehari-hari. Iman mesti tumbuh dalam proses hidup manusia. Untuk itu, kita mesti melaksanakan iman dalam kehidupan yang nyata, meskipun banyak rintangan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.

Mari kita berusaha untuk melaksanakan iman kita dengan membangun kepedulian terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1115

16 Juni 2014

Memberikan Dukungan kepada Sesama untuk Maju

 
Setiap orang dipanggil untuk menuntun sesamanya menemukan hidup yang lebih baik. Sayang, tidak semua orang menyadari tugas panggilannya ini.

Suatu hari saya menyuruh seorang anak untuk menyiapkan ijazahnya. Semester yang akan datang dia mesti melanjutkan sekolah di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Untuk itu, dia mesti pulang ke kampungnya yang cukup jauh. Ia ambil waktu satu minggu untuk mengurus hal-hal yang berkenaan dengan ijazahnya itu.

Setelah satu minggu urusan ijazah itu selasai, ia pulang ke Palembang. Namun anak itu tidak langsung menyerahkan ijazahnya kepada saya. Padahal saya adalah ‘sponsor’ bagi dirinya untuk studi di perguruan tinggi. Lantas beberapa hari kemudian saya menanyakan ijazahnya. Dia lantas menyerahkan ijazahnya kepada saya.

“Nilai-nilai saya kecil-kecil. Saya takut kalau tidak diterima di perguruan tinggi,” katanya sambil masih malu-malu.

Saya menerima ijazahnya yang sudah dibuka oleh dia. Namun saya tidak sempat melihat nilai-nilainya. Saya menutup ijazah itu. Lalu saya berkata kepadanya, “Sekarang kamu ikut tes.”

Anak itu terpana mendengar kata-kata saya yang tegas itu. Ia pun berangkat ke perguruan tinggi, mengambil (membeli) formulir pendaftaran. Dua hari kemudian, ia mengikuti tes itu. Seminggu kemudian pengumuman tes. Hasilnya, sangat mengecewakan dia, meski dia diterima.

“Saya berada di nomor urut 23 dari bawah. Sangat mengecewakan!” katanya kepada saya.

Sambil tersenyum, saya berkata, “Tetapi kamu diterima! Kamu harus kuliah!”

Dia terpana mendengar kata-kata saya. Dia seolah-olah tidak percaya bahwa saya memberi kepercayaan dan dukungan yang besar bagi dirinya. Dia pun menjalani studi di perguruan tinggi itu. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia mesti bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.

Hasilnya luar biasa. Setelah empat tahun kuliah, ia meraih prestasi yang tertinggi di jurusannya. Selama kuliah, ia pun sering mengikuti berbagai lomba mewakili perguruan tingginya. Dia merasa puas dan bahagia. Dia boleh meraih cita-cita yang terpendam belasan tahun dalam dirinya.

Sahabat, memberikan motivasi kepada orang lain untuk maju dalam kehidupan ini tidak mudah. Orang mesti punya berbagai cara untuk meyakinkan orang lain bahwa kemajuan itu dapat diraih dalam kehidupan ini. Cita-cita itu dapat diraih meski ada rintangan yang menghadang dalam perjalanan hidup.

Kisah di atas menjadi salah satu contoh, bagaimana kita mesti memberikan motivasi kepada sesama kita. Banyak orang ingin meraih cita-cita dalam kehidupan ini. Namun sering mereka tidak tahu cara untuk meraih cita-cita itu. Akibatnya, mereka berhenti di tengah perjalanan hidup ini. Mereka menjadi bingung, mau berjalan ke arah yang mana.

Tentu saja motivasi yang diberikan kepada sesama kita hanya sebuah cambuk. Orang yang diberi motivasi itu mesti berjuang. Tidak boleh orang itu hanya menggantungkan bantuan dari orang lain. Orang itu sendiri mesti berjuang dalam realitas hidupnya sehari-hari. Ketika ada aral yang melintang dalam perjalanan hidupnya, orang mesti berani menghadapinya. Tentu saja orang mesti menghadapinya dengan kerja keras, bukan dengan rasa takut gagal.

Orang beriman tentu saja mesti berjuang bersama Tuhan yang diimaninya. Melalui ajaran-ajaranNya, Tuhan juga memberi motivasi dan dukungan kepada manusia untuk terus-menerus melangkahkan kaki dalam perjalanan hidup ini. Untuk itu, orang mesti berani berserah diri kepada Tuhan dalam reaalitas hidupnya sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1107

13 Juni 2014

Belajar Peduli terhadap Sesama


 
Apa yang Anda buat bagi sesama Anda yang berkekurangan? Anda biarkan saja? Atau Anda berani berkorban untuk sesama Anda?

Lo Siauw Ging, bisa disebut dokter langka di Indonesia saat ini. Dokter senior di Solo ini tidak pernah menentukan tarif untuk pasien yang datang kepadanya. Bahkan lebih banyak dari mereka digratiskan sama sekali dari biaya konsultasi maupun obat. Dia melakukan itu karena merasa ingin mengabdi kepada kemanusiaan dan tahu diri pada negara.

Di usianya yang telah mencapai 79 tahun, setiap hari rata-rata 60 pasien datang ke tempat praktik di kediamannya di Jagalan, Jebres, Solo. Ada yang datang dari kalangan kaya maupun dari kalangan miskin. Semua pasien yang datang, tidak dikenai biaya. Artinya yang mau memberinya uang sukarela, biasanya yang datang dari kalangan berduit. Mereka akan memberinya imbalan konsultasi dengan meletakkan amplop berisi uang sukarela di meja konsultasi.

Namun lebih dari 70 persen diantaranya digratiskan dari biaya konsultasi. Dokter Lo menolak menerima biaya konsultasi dari kalangan bawah. Ia hanya memberikan resep untuk dibeli sendiri oleh si pasien di apotik.

Bahkan terhadap pasien miskin, sama sekali tidak keluar biaya. Selain gratis biaya konsultasi, Dokter Lo juga memberi resep bertanda khusus untuk dibawa ke apotik yang telah ditunjuknya. Pihak apotik akan memberikan obat yang diresepkan itu kepada si pasien secara gratis. Tagihannya akan dibebankan kepada dokter Lo di akhir bulan.

“Tugas dan kewajiban seorang dokter pertama-tama harus melayani pasien. Fungsi sosial inilah yang paling utama, sesuai sumpah jabatannya. Kesehatan dan keselamatan pasien harus didahulukan, melebihi apapun juga,” katanya.

Meski demikian, Dokter Lo menampik menilai kebanyakan dokter sekarang mata duitan. Dia juga enggan menyebut telah terjadi komersialisasi profesi tersebut. Dokter Lo secara hati-hati menyebut dedikasi, keberpihakan pribadi masing-masing dokter kepada sisi kemanusiaan dan juga sistem pendidikan dokter sangat berpengaruh pada berbagai persoalan yang seakan-akan mengesankan komersialisasi itu. (Detik.com - 30/11/2013).

Sahabat, kepedulian terhadap sesama dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dari berbagai bidang kehidupan manusia. Yang penting adalah kepedulian itu memberikan kesejahteraan bagi mereka yang dibantu. Kebahagiaan menjadi target utama dalam upaya kepedulian terhadap sesama itu. Mengapa? Karena ada sejumlah orang yang mau peduli terhadap sesamanya demi ketenaran dirinya.

Kisah Dokter Lo di atas memberi kita inspirasi untuk memiliki kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Ia mendedikasikan hidupnya bagi sesamanya yang kurang mampu. Ia merasa itulah bagian dari kehidupan dirinya yang mesti ia berikan bagi sesamanya. Ia tidak ingin mengumpulkan harta hanya demi dirinya sendiri.

Kebaikan seperti ini semestinya menjadi bagian dari kehidupan manusia di zaman sekarang. Memberikan hidup bagi sesama yang berkekurangan tentu sesuatu yang mulia. Namun hal ini tidak datang dengan sendirinya. Hal ini mesti dilatih terus-menerus dalam kehidupan ini. Hanya dengan berlatih, orang akan memiliki hati yang dengan tulus mau membantu orang lain. Orang tidak menggerutu setelah membantu sesamanya.

Orang beriman adalah orang yang mesti selalu memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Hal ini menjadi suatu bentuk perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Seorang bijaksana mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman dapat menjadi tetap hidup, ketika orang berani memberi hidupnya bagi sesamanya.

Memberi hidup juga berarti orang berani melepaskan egoisme diri. Yang dipikirkan dan diperbuat adalah kebahagiaan bagi mereka yang dibantu itu. Dengan demikian, orang mampu memiliki hati yang tulus dalam hidupnya. Mari kita memupuk diri untuk peduli terhadap sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1105

22 April 2012

Membantu Sesama untuk Menjadi lebih Baik


Apa yang akan Anda lakukan ketika seorang yang sangat dekat dengan Anda membuat hati Anda kesal? Anda menyingkirkannya? Atau Anda membantunya untuk memperbaiki dirinya menjadi lebih baik?

Ada seorang ibu yang kesal luar biasa. Pasalnya, anaknya telah menipu dirinya. Uang SPP yang seharusnya dibayarkan ke sekolah, digunakan sang anak untuk beli jajan. Anaknya mentraktir teman-temannya makan di restoran. Akibatnya, tagihan untuk SPP sang anak membengkak.

Padahal ibu itu bukan seorang yang kaya. Ia seorang perempuan biasa yang hidup dari jualan makanan di pinggir jalan. Ia mesti bangun pagi-pagi untuk menyiapkan jualannya. Tidak ada orang yang membantunya, karena sudah lama suaminya meninggal dunia. Ia mesti menanggung hidup tiga orang anaknya.

Karena itu, ibu itu merasa sangat kesal begitu mendengar sang anak telah menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Ibu itu menunjukkan kekesalan hatinya dengan menghukum sang anak. Untuk sementara, ia tidak memberi uang jajan untuk sang anak. Sang anak harus menyatakan penyesalan atas kebodohan yang telah dilakukannya. Sang ibu juga memaksa anaknya untuk menjaga warung selama beberapa bulan sepulang dari sekolah.

“Ini sebagai pelajaran bagi kamu. Kamu harus sadar bahwa kita ini orang miskin. Kita harus hemat dalam hidup ini,” kata ibu itu.

Sahabat, kekesalan boleh saja hadir dalam diri seseorang. Tentu saja ketika kekesalan itu sungguh-sungguh didasari oleh suatu alasan yang jelas dan kuat. Suatu kekesalan yang tidak didasari oleh alasan yang kuat hanyalah membuat hati orang sakit. Orang menjadi sulit untuk bertumbuh dalam iman akan Tuhan.

Bila kita jatuh dalam kegagalan atau dosa, kita mesti memeriksa kehidupan kasih kita. Yang mesti kita lakukan adalah duduk bersama Tuhan. Kita minta kepadaNya untuk menunjukkan kepada kita apakah kita sedang berselisih dengan seseorang atau kita merasa kesal. Jika kita merasa kesal, kita harus hati-hati, karena iblis dapat masuk dan membuat kita tersandung.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa sang ibu punya alasan yang kuat untuk mengungkapkan kekesalannya. Namun dalam kekesalan itu, ia juga berusaha untuk mendidik sang anak. Ia ingin agar sang anak menjadi orang yang baik. Ia ingin agar sang anak menemukan jalan yang benar dalam hidupnya. Dengan demikian, sang anak tidak tersandung dalam dosa.

Orang yang percaya senantiasa mendidik sesamanya untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar. Orang beriman senantiasa mengutamakan hidup yang baik bagi sesamanya. Karena itu, setiap tindakannya menjadi kesempatan untuk memperbaiki hidup menjadi lebih baik. Tentu saja dasar dari semua itu adalah kasih terhadap sesama. “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (1Yoh 2:10). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


891

17 April 2012

Menerima Kehadiran Sesama dalam Cinta Kasih


Apa yang akan Anda lakukan kalau di hadapan Anda ada seorang yang siap untuk membunuh Anda? Anda takut? Atau Anda berusaha untuk meyakinkannya bahwa membunuh hanya memperpanjang persoalan hidup?

Ada seorang pemimpin geng paling kejam pada masanya. Ia tidak segan-segan membunuh orang-orang yang melawan perbuatan jahatnya. Ia tidak peduli terhadap siapa pun. Ia tidak takut terhadap penguasa mana pun di dunia. Orang yang masih ia hormati hanyalah sang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Ia menaruh hormat terhadap ibunya, karena sang ibu selalu menerima kehadirannya. Sang ibu tidak pernah menolak kehadiran dirinya. Setiap kali ia pulang ke rumah, sang ibu selalu memberinya makanan kesukaannya. Ia bahagia saat bersama sang ibu. Ia merasa ada orang yang mampu melindungi dan memberinya ketenangan batin.

Namun suatu ketika ada seorang saleh yang berdiri di hadapannya untuk memberikan penerangan tentang kehadiran Tuhan, pemimpin geng itu tunduk. Ia tidak sanggup untuk melukai orang saleh itu. Padahal beberapa kali ia mengancam orang saleh itu dengan pisau tajam.

“Kamu dapat memotongku sampai seribu irisan. Setiap irisan dagingku akan berkata kepadamu, ‘aku mengasihimu dan Tuhan mengasihimu,” kata orang saleh itu.

Sahabat dalam kehidupan sehari-hari kita berhadapan dengan berbagai tantangan. Kadang-kadang kita tidak berdaya menghadapi tantangan-tantangan itu. Namun kita mesti menghadapinya, karena kita mesti melakukan hal-hal yang baik bagi diri dan sesama.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup bersama Tuhan kita akan mengalami damai. Sedangkan orang yang menjauhkan diri dari Tuhan akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Tuhan yang memberi kehidupan kepada manusia. Tuhan yang menjadi penuntun dalam hidup manusia.

Dalam suatu pengajaranNya, Yesus mengatakan bahwa orang mesti mengasihi musuhnya dan berdoa bagi mereka yang menganiaya dirinya. Orang saleh dalam kisah di atas menaruh kasih kepada pemimpin geng terkenal itu. Ia tidak menolak kehadirannya. Bahkan ia menaruh sayang kepadanya.

Hal itu menumbuhkan kesadaran baru untuk menemukan Tuhan dalam hidup. Mengapa? Karena Tuhan itu kasih. Tuhan mengasihi manusia. Tuhan tidak menolak kehadiran manusia di hadapannya. Tuhan menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik. Tuhan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Untuk itu, orang beriman mesti senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang beriman mesti menyerahkan hidup kepada kuasa Tuhan. Dengan cara demikian, manusia mengalami damai dalam hidupnya. Manusia boleh mengekspresikan hidupnya dengan bebas kepada Tuhan. Manusia tidak perlu merasa takut atau cemas dalam hidupnya. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk dibaktikan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


890

04 November 2011

Menahan Kemarahan demi Kebaikan Semua

Suatu siang seorang pemuda kelelahan. Baru saja ia marah-marah terhadap anak buahnya yang melakukan kesalahan. Kepada seorang teman dekatnya, ia berkata, “Saya kesal dengan semua ini. Mengapa mereka tidak melakukan apa yang saya instruksikan? Mengapa mereka kerjakan apa yang mereka inginkan? Dan itu salah. Saya lelah dengan semua ini.”

Pemuda yang punya usaha bengkel itu merasa jengkel terhadap para karyawannya. Ia menyimpan kekesalannya itu dalam hatinya. Akibatnya, ia tidak bisa melakukan apa yang menjadi tugas-tugasnya. Hari itu ia banyak kehilangan keuntungan. Seharusnya banyak penghasilan ia peroleh pada hari itu. Akibat kemarahannya itu, ia banyak kehilangan pelanggan. Ia mesti bangkit lagi. Ia mesti berusaha untuk mengembalikan lagi para pelanggannya. Mereka lari ke bengkel lain, karena kesalahan para karyawannya.

Namun pemuda itu menyadari bahwa tenggelam dalam kemarahan tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Ia akan kehilangan semakin banyak keuntungan. Karena itu, ia mengumpulkan semua karyawannya. Ia memberikan pengarahan kepada mereka. Ia memberikan pelatihan untuk mereka, sehingga mereka dapat memperbaiki kesalahan. Dengan cara itu, dalam waktu singkat ia dapat mengembalikan lagi para pelanggannya. Suatu sukses kemudian ia raih dalam usahanya itu.

Sahabat, amarah atau kemarahan melemahkan manusia. Amarah membuat orang rugi dalam setiap usaha yang dilakukannya. Ketika Anda punya usaha yang sedang bertumbuh, Anda dianjurkan untuk mengekang kemarahan Anda. Mengapa? Karena kemarahan dapat menghilangkan kemajuan usaha Anda. Energi Anda terpusat pada diri Anda sendiri yang tidak ingin disepelekan.

Amarah biasanya berhubungan erat dengan egoisme seseorang. Mengapa seseorang itu marah? Benjamin Franklin mengatakan bahwa amarah tidak pernah terjadi tanpa alasan, tetapi jarang oleh alasan yang baik. Artinya, kemarahan atau amarah itu lebih didominasi oleh alasan yang kurang baik. Orang gampang marah, karena orang tidak mau dirinya disepelekan. Orang gampang marah, karena orang merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan yang lebih. Kalau ada orang yang kemampuannya lebih dari dirinya, ia akan marah. Ia tidak mau terima.

Dalam pengalaman hidup sehari-hari, orang bebal lebih gampang dikuasai amarah. Mengapa? Karena orang bebal tidak punya banyak akal untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya. Ia punya keterbatasan dalam hidupnya.

Sayangnya, orang bebal sering merasa diri serba tahu. Akibatnya, orang bebal biasanya merasa gampang tersaingi oleh orang lain. Sang Kebijaksanaan mengatakan bahwa orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.

Karena itu, orang beriman mesti selalu berusaha untuk menahan amarahnya. Orang beriman mesti menjadi orang yang bijak dalam hidup ini dengan mengarahkan dirinya kepada kebaikan. Kalau kita mampu menahan amarah dalam hidup ini, kita akan meraih sukses dalam perjalanan hidup kita.

Mari kita menahan diri dari rasa marah. Kita berusaha untuk menahan diri, agar kita memperoleh rahmat Tuhan yang berlimpah-limpah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


818

29 Oktober 2011

Jangan Sakiti Sesama

Ada seorang suami yang suka menyakiti istrinya. Ia memukul istrinya. Ia pernah menempeleng istrinya dengan keras. Bahkan ia pernah menghukum istrinya dengan mengikat kedua tangan dan kakinya. Ia menuduh istrinya berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal tuduhan itu kemudian tidak terbukti benar. Pernah ia menyiram istrinya dengan air panas. Persoalannya sangat sepele, yaitu istrinya lupa memberi makan anak-anak ayam peliharaannya.

Istrinya tampak tenang-tenang saja. Ia tidak bisa melawan. Ia hanya bisa pasrah meski penyiksaan demi penyiksaan mesti ia terima. Bibirnya tersenyum, tetapi hatinya menangis pedih perih. Dalam hati ia berdoa agar suaminya meninggalkan kebiasaan menyiksa dirinya. Ia memohon kepada Tuhan, agar Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan suaminya. Ia juga memohon agar suaminya berubah.

Namun suatu ketika sang istri mengalami sakit di dadanya akibat dari penyiksaan-penyiksaan itu. Ia juga mulai batuk-batuk setiap malam. Ia tidak mampu menahan penyiksaan-penyiksaan itu. Ia muntah darah. Tidak lama kemudian ia menutup matanya untuk selama-lamanya. Ia meninggalkan tiga orang anaknya yang sangat disayanginya. Sedangkan sang suami meratapi kepergian istrinya. Ia menyesal telah melakukan kekerasan terhadap istrinya.

Sahabat, penyesalan selalu datang terlambat. Setelah peristiwa tragis merenggut nyawa, orang baru sadar bahwa semestinya sudah sejak awal orang tidak melakukan kekerasan. Nasi sudah menjadi bubur. Nyawa yang hilang tidak mungkin dibangkitkan lagi.

Soalnya adalah mengapa orang berani menyakiti sesamanya, bahkan orang yang sangat dekat dengannya? Karena orang tidak menyadari bahwa sesamanya itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Orang hanya mau menang sendiri. Orang merasa dirinya yang paling benar dan baik. Karena itu, orang boleh menyakiti sesamanya. Padahal tanpa alasan yang jelas pun orang tidak boleh menyakiti sesamanya. Orang punya hak untuk mendapatkan perlindungan dari sesamanya.

Karena itu, orang mesti sadar bahwa setiap kali menyakiti sesama, orang juga melukai dirinya sendiri. Kisah di atas menunjukkan hal ini. Ketika sang istri meninggal, sang suami yang menyiksa istrinya itu mengalami kehilangan. Ia mengalami kesepian dalam hidupnya. Penyesalannya tidak berguna.

Menyiksa sesama itu ibarat orang sedang menendang sebuah tembok. Orang tersebut merasakan sakit di kakinya. Mungkin kakinya terluka. Mungkin kakinya bengkak atau patah. Ia merasakan sendiri sakit itu. Ia melukai dirinya sendiri. Hatinya terluka begitu mendalam. Begitu pula orang yang menyakiti sesamanya, sebenarnya ia menyakiti dirinya sendiri.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memberikan perhatian kepada sesama kita. Kita tidak boleh menyakiti sesama kita. Untuk itu, kita perlu hindari tindakan yang menyakiti sesama kita. Dengan demikian, sesama kita mengalami sukacita dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


814

05 Oktober 2011

Mampu Menangkap Tanda-tanda Zaman



Ada seorang pemuda yang sangat peduli terhadap sesamanya. Ia menjadi sukarelawan untuk mengajar anak-anak usia sekolah di kampungnya. Di kampung itu tidak ada sekolah. Ia membuka ruang tamu rumahnya yang kecil itu menjadi sekolah. Namun tidak ada guru yang mau mengajar anak-anak itu. Padahal anak-anak itu sudah saatnya untuk menempuh pendidikan dasar. Pemuda itu prihatin. Ia tidak tega melihat anak-anak itu tumbuh tanpa pendidikan yang baik.

Selain tidak ada guru yang mau mengajar, kendala lain adalah ia sendiri tidak lulus Sekolah Dasar. Ia putus sekolah saat duduk di kelas empat SD. Hal ini menjadi salah satu penghalang bagi dirinya. Namun pemuda itu tetap punya tekad baja. Ia tidak mau menyerah. Ia mulai belajar sendiri matapelajaran-matapelajaran dasar. Ia juga mencari buku-buku untuk menjadi bahan bacaan baginya.

Setelah pemuda itu merasa mampu mengajar, ia mengumpulkan anak-anak usia sekolah itu di rumahnya. Ia mulai mengajar mereka. Ia memanfaatkan kemampuan yang ada pada dirinya untuk mengajar anak-anak itu. Ruang tamu rumahnya itu ia sulap menjadi sebuah kelas. Meski sempit, anak-anak usia sekolah itu tampak sangat bersemangat. Mereka boleh mendapatkan pendidikan dalam masa pertumbuhan mereka.

Suatu hari, kepala kampung berkunjung ke rumah pemuda itu. Ia kagum terhadap ide yang dikerjakan oleh pemuda itu. ”Apa yang mendorong Anda melakuan semua ini?” tanya kepala kampung itu

”Saya kasihan melihat anak-anak di kampung ini tidak bersekolah. Mereka mesti mendapatkan pendidikan yang memadai. Mereka tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan,” kata pemuda itu.

Sahabat, masih banyak anak negeri ini yang belum mendapatkan pendidikan yang baik. Keterbelakangan menjadi salah satu sebab terjadinya hal seperti ini. Namun ada hal lain yang menjadi penyebab, yaitu kerelaan dari sesama untuk membantu anak-anak negeri ini mendapatkan pendidikan.

Kisah kerelaan pemuda di atas menjadi salah satu contoh betapa kerelaan berkorban menjadi salah satu daya dorong dalam memulai suatu tindakan. Orang tidak hanya prihatin terhadap situasi yang ada. Tetapi orang berani menyerahkan diri untuk membantu sesamanya. Orang berani mempertaruhkan hidupnya untuk sesamanya.

Inilah yang disebut dengan cinta. Cinta menuntut korban. Cinta menuntut orang mampu membaca tanda-tanda zaman. Pemuda dalam kisah di atas mampu membaca tanda-tanda zaman. Ia mencintai anak-anak di kampungnya. Ia ingin agar masa depan mereka punya tujuan dan arah. Tidak hanya berhenti di kampung terbelakang. Tidak hanya digerus oleh kemiskinan.

Ia tidak ingin anak-anak itu tumbuh seperti dirinya yang tidak punya pendidikan yang baik. Karena itu, ia berani mengorbakan dirinya. Dalam keterbatasannya, ia menjadi sahabat bagi mereka. Ia menemani perjalanan anak-anak itu meraih masa depan yang lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mampu membaca tanda-tanda zaman. Artinya, kita mesti mampu menemukan kebutuhan-kebutuhan sesama yang ada di sekitar kita. Kita berusaha memenuhi kebutuhan sesama itu dengan rela berkorban dengan penuh kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


797

04 September 2011

Menghargai Usaha Sesama




Piala Dunia 2010 sudah digelar di Afrika Selatan. Ratusan pemain dari 32 negara membuktikan aksi mereka dalam mengolah bola. Spanyol muncul sebagai kampiun. Sementara itu, banyak pula dari pemain-pemain berbakat ingin memperkuat negaranya. Mereka berkompetisi. Mereka berusaha untuk menjadi salah satu anggota dari tim mereka.

Tidak demikian dengan gelandang Inggris, Paul Scholes. Padahal ia sempat ditawari oleh pelatih Fabio Capello untuk masuk ke skuad untuk Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Ia menolak karena menghormati jasa rekan-rekannya yang telah berhasil membawa Inggris ke putaran final Piala Dunia.

Sejak Euro 2004, Scholes memutuskan mundur dari skuad tim Inggris yang berjuluk The Three Lions ini. Alasannya, ia lebih memilih berkonsenterasi bersama klubnya Manchester United. Komitmen Scholes itu pun tak sia-sia. Ia berhasil membawa "Setan Merah" meraih tiga gelar Premier League, juara Liga Champions dan juara Piala Dunia Antarklub.

Melihat performa yang cukup konsisten dan pengalaman yang dimilikinya, Capello berniat membawa Scholes ke Afrika Selatan. Selain Scholes, Capello juga memanggil bek tengah Liverpool, Jamie Carragher. Sementara Caragher mengaminkan keinganan Capello, Scholes malah menolak.

Scholes menolak karena tak ingin "mencuri" posisi rekannya yang telah berhasil membawa Inggris ke putaran final. Tentang penolakannya, Paul Scholes berkata, “Pemain dalam skuad telah menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk membawa Inggris lolos. Sedangkan aku sudah lama tak membela Inggris. Aku tidak ingin mencuri posisi seseorang yang telah berjasa mengantarkan Inggris ke Afrika Selatan.”

Sahabat, inilah sikap kesatria dari seorang kompetitor. Ia menyadari diri bahwa ia mesti memberikan tempatnya kepada mereka yang telah berjuang. Ia tidak ingin merebut tempat mereka hanya untuk popularitas dirinya sendiri.

Dalam hidup ini banyak orang haus akan popularitas. Mereka berjuang habis-habisan demi merebut popularitas itu. Mereka tidak peduli bahwa akibat ambisi mereka orang lain akan mengalami penderitaan. Mereka punya prinsip, yang penting saya senang dan meraih keinginan diri saya. Yang penting popularitas diri saya terus-menerus memuncak.

Benarkah sikap seperti ini? Tentu saja orang boleh punya ambisi dalam hidup ini. Namun orang mesti sadar bahwa ambisi mesti diikuti oleh suatu kerja keras. Kalau orang tidak mau bekerja keras untuk meraih keinginannya, orang akan mengambil jalan pintas. Kalau orang punya harta yang banyak, orang akan menggunakannya untuk menghancurkan diri orang lain. Yang penting dirinya sendiri mengalami sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengajak kita untuk memiliki penghargaan terhadap orang lain. Kalau kita tidak mampu melaksanakan suatu pekerjaan, kita mesti ikhlas untuk menyerahkan kepada mereka yang mampu. Kalau kita tidak berjerih payah untuk suatu usaha, kita juga mesti fair untuk tidak memetik hasilnya. Janganlah kita menuai di tempat di mana kita tidak menanam dan merawatnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

773

29 Agustus 2011

Pentingnya Hadirnya Sesama dalam Hidup


Donald Trump seorang pebisnis sukses. Ia salah seorang milioner. Namun dalam mengelola usahanya, Donald Trump tidak bekerja sendirian. Ia membutuhkan orang-orang lain untuk meretas sukses dalam bisnis-bisnisnya. Mengapa? Karena baginya, ia tidak bisa menjalankan usaha-usaha bisnisnya itu sendirian. Ia butuh partner. Ia butuh sesamanya untuk melakukan usaha-usaha itu. Ia berkata, "Saya tidak mengetahui semuanya. Saya membutuhkan nasihat dari orang lain yang ahli di bidangnya.”

Dari Barbara Berger, presiden Ford City Market, Donald mendapatkan nasihat yang indah, yaitu ”Matahari tidak bersinar selamanya.” Artinya, ia mesti menjalin kerjasama dengan orang lain dalam berusaha. Sedangkan Ray Kroc, pendiri McDonald, memperkuat Donald dengan ilmu bisnis. Ray Kroc mengatakan bahwa semua pebisnis harus berjuang untuk memuaskan konsumen. Mengapa? Karena konsumen adalah atasan kita, yang memberikan pemasukan dan keuntungan bagi perusahaan kita. Temannya yang lain, yaitu Adam M. Aron, Chairman Vail Resort, raja property itu, Donald mendapat nasihat untuk berhubungan dengan orang baik dalam hidup ini. Donald Trump pun menyimpulkan bahwa adalah suatu kebodohan jika Anda menggantungkan sepenuhnya untuk belajar dari kesalahan Anda sendiri, karena Anda akan banyak membuat kesalahan bahkan mungkin kesalahan yang fatal.”

Sahabat, ada banyak hal mesti kita lakukan dalam hidup ini. Namun kita tidak punya kemampuan di semua bidang kehidupan. Karena itu, kita butuh orang lain. Kita butuh orang yang lebih ahli dan berpengalaman dari diri kita. Kita libatkan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan kita. Dengan demikian, apa yang kita usahakan membawa hasil yang memadai bagi banyak orang. Soalnya adalah banyak orang merasa melakukan apa saja. Banyak orang merasa sombong. Mereka merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakukan itu cukup dikerjakan sendiri. Padahal mereka tidak bisa buat apa-apa, kalau tidak dibantu oleh orang lain yang lebih ahli atau lebih mampu. Inilah kesombongan manusiawi. Suatu kesombongan yang semestinya dibuang dari kehidupan bersama. Kalau orang mau mengalami kesuksesan dalam hidupnya, ia mesti rela meninggalkan kesombongan dirinya. Ia berani meminta nasihat kepada orang lain yang lebih ahli atau lebih mampu daripada dirinya. Artinya, orang seperti ini terbuka terhadap kemampuan dan kelebihan orang lain. Ia mau mengatakan bahwa dalam bidang-bidang tertentu ia tidak mampu. Karena itu, ia meminta bantuan dari orang lain. Ia meminta dukungan dari orang lain, agar berhasil dalam usaha-usahanya. Kisah pengusaha besar tadi memberi inspirasi bagi kita untuk terus maju dalam kehidupan kita. Kemajuan itu mesti kita raih bersama orang lain, karena kita memiliki keterbatasan diri. Untuk itu, kita mesti berani membuka hati kepada orang lain. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

765

02 Agustus 2011

Penantian yang Butuh Jawaban dari Sesama



Pernahkah Anda bayangkan bagaimana seorang istri menjalani hari-hari sebagai pasangan seorang serdadu yang tengah bertugas di medan pertempuran? Bukan perkara mudah untuk menjalaninya, bukan? Terlebih, hari-hari selalu dihantui dengan ketidakpastian akan nasib orang yang dikasihi. Apalagi godaan-godaan terus-menerus membahayakan hubungan mereka.

Kisah-kisah penuh warna ini dijalani oleh Claudia Joy Holden, Denis Sherwood, Roxy LeBlanc dan Pamela Moran. Empat perempuan ini bersuamikan serdadu Amerika Serikat. Suami-suami mereka, ditugaskan di medan pertempuran.

Berbagai persoalan hidup muncul mewarnai kehidupan mereka. Dari menjalani kehidupan sebagai "single parent" atau orangtua tunggal hingga menanti ketidakpastian akan nasib suami-suami mereka. Sebuah kisah yang mengugah. Menyelami kehidupan penuh warna yang nyaris serupa dengan kehidupan nyata para pasangan tentara.

Mereka dituntut untuk tetap setia dalam penantian. Mereka mengisi penantian tak menentu itu dengan berbagai kegiatan. Mengurus anak dengan baik merupakan satu sisi kehidupan mereka. Karena itu, kehidupan mereka jauh dari kesepian. Sisi kehidupan seperti ini menjadi suatu keutamaan yang mereka jalani sehari-hari. Hasilnya adalah suatu situasi yang membahagiakan. Suatu situasi yang juga membanggakan atas tugas militer sang suami di medan laga.

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita semua juga sedang menanti. Ada yang senang menanti orang yang dicintai. Ada yang menanti hadiah dari seseorang. Saya baru saja mendapat sms dari seseorang. Ia berkata, “Tolong bantuin aku, Tuhan. Aku sekarang ini lagi nggak ada uang belanja. Aku tak tahu mau ke mana aku harus minta bantuan.”

Orang yang saya tidak kenal ini sangat membutuhkan bantuan. Ia ingin meneruskan perjalanan hidupnya yang masih panjang. Ia sedang menantikan uluran tangan orang-orang yang berkehendak baik. Ia sedang mengalami kesulitan hidup. Pantaskah ia berlama-lama menanti uluran tangan dari sesamanya? Bukankah hidupnya mesti berjalan terus? Bukankah ia tidak ingin hidupnya berhenti lantaran tidak mendapatkan sesuap nasi?

Tentu saja pesan sahabat kita satu ini membangunkan insting manusiawi kita untuk memberi dari apa yang kita miliki. Bukankah setiap manusia telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki hati yang rela memberi? Karena itu, penantian penuh harapan dari sahabat kita satu ini sudah semestinya mendapatkan jawaban. Dengan demikian, ia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya dengan senyum bahagia.

Mari kita memupuk hati kita untuk mudah tergugah oleh penantian panjang sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


745

01 Agustus 2011

Memaafkan Kesalahan Sesama


Ada seorang ibu yang merasa sangat sakit hatinya. Hatinya terluka oleh perbuatan suaminya. Suami itu sangat ia cintai. Ia menyediakan semua kebutuhan suaminya dengan penuh perhatian. Setiap kali suaminya mau pergi kerja, ia selalu menyediakan kebutuhan suaminya. Ia merasa bahwa sekali pun dalam hidupnya, ia tidak pernah lalai memperhatikan suaminya.

Namun akhir-akhir ini ia berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia ogah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan suaminya. Ia tidak kuat lagi menghadapai tipu muslihat yang dilakukan oleh suaminya. Ia pun tidak bisa mengampuni penyelewengan suaminya. Suaminya telah melakukan perselingkungan dengan wanita lain.

Tentang hal ini ia berkata, “Saya sangat terluka. Saya tidak bisa mengampuni dia. Dia sudah menyakiti saya berulang kali. Saya tidak mau memaafkan dia. Dia tidak pantas dimaafkan.”

Yang terjadi kemudian adalah ibu ini hidup dalam penderitaan. Luka batinya begitu dalam. Sulit untuk diobati. Ia memandang suaminya sebagai musuh yang harus dienyahkan. Semua perbuatan baiknya bagi suaminya ia hentikan. Ia tidak mau melayani suaminya lagi. Suatu tragedi terjadi dalam bahtera hidupnya. Padahal hanya satu kali sang suami mengingkari cintanya.

Sahabat, ketika orang memiliki kesepakatan untuk membangun bahtera perkawinan, ada berbagai resiko yang mesti mereka hadapi. Salah satu resiko itu adalah ketika orang mesti menghadapi ketidaksetiaan dari pasangannya. Kalau orang hanya mau menang sendiri, orang akan jatuh ke dalam egoisme yang sangat besar. Egoisme itu akan menguasai dirinya. Egoisme itu akan menutup semua hal yang baik yang ada dalam diri pasangannya. Yang ia lihat dalam diri pasangannya hanyalah hal-hal buruk dan negatif. Tidak ada hal baik sedikit pun.

Karena itu, dibutuhkan komunikasi yang baik dalam kehidupan berkeluarga. Komunikasi yang baik itu mengandaikan saling pengertian dan percaya. Ketika seseorang mempercayai pasangannya, ia tidak perlu kuatir akan berita miring tentang pasangannya.

Untuk itu, pasangan suami istri mesti selalu saling belajar untuk memiliki pengertian dan rasa percaya. Dengan demikian, mereka tidak perlu saling menaruh curiga. Kasih mereka akan bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik. Buah dari kasih itu adalah saling mengampuni. Pintu hati selalu terbuka untuk memaafkan pasangannya. Luka batin tidak perlu tumbuh dalam diri salah satu pasangan hidup.

Memang, tidak gampang menerima dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Lebih gampang kita mencampakan orang yang bersalah itu. Namun ini bukan semangat orang beriman. Orang beriman itu senantiasa berusaha dengan berbagai cara untuk menerima kembali sesamanya yang bersalah dan berdosa. Tidak ada jalan buntu dalam membangun kasih dan persaudaraan. Mari kita berusaha untuk senantiasa menerima dan memaafkan sesama yang bersalah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


744

08 Juli 2011

Berani Memberi Hidup bagi Sesama




Ia tergolong siswi yang tangguh, cerdas, dan tegas. Betapa tidak? Baru SMA ia sudah menjadi pramusaji di sebuah restoran. Menurut pengakuan gadis berusia 15 tahun ini, ia harus melakukan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarganya. Ia datang dari keluarga tidak mampu. Apalagi ayahnya sudah tidak bisa bekerja lagi. Ayahnya mengalami suatu kecelakaan yang menyebabkan kedua kakinya diamputasi.

Ketika pertama kali menyaksikan kondisi ayahnya yang tak berdaya, ia tidak tahan. Ia berbisik kepada ibunya, “Bu, saya yang harus menggantikan peran ayah dalam keluarga kita. Ibu tidak usah kuatir.”

Sang ibu hanya sedih memandangnya. Sebenarnya ia tidak tega menyaksikan anak yang masih kecil itu banting tulang bekerja untuk keluarga. Namun demi kelangsungan hidup keluarga, ia pun rela. Ia masih punya dua orang anak yang mesti ia hidupi. Dua anak itu masih kecil-kecil. Mereka masih butuh pendampingan darinya.

Si sulung mesti berkorban untuk keluarganya. Ia pergi ke kota yang terdekat. Di sana ia mulai bekerja di sebuah restoran. Setiap bulan ia pulang ke rumahnya dengan segepok uang di tangan. Uang itulah menjadi biaya hidup bagi orangtua dan kedua adiknya. Ia merasa bahagia. Ia merasa senang menjalani pekerjaan itu. Hidupnya pun tetap ugahari. Tidak berubah.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang begitu menantang. Tantangan itu bisa saja datang dari orang lain di sekitar kita. Tantangan itu juga datang dari diri kita sendiri. Soalnya adalah bagaimana orang menghadapi tantangan-tantangan itu?

Kalau orang tidak berani menghadapi tantangan, ia akan terpuruk dalam kehidupan ini. Namun kalau ia kuat dan berani menghadapi tantangan, ia akan tegar menjalani kehidupan ini. Ada kreativitas yang akan tumbuh dalam perjalanan hidupnya. Ada cara-cara yang baik yang dapat ditemukan untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup.

Gadis dalam kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa tantangan hidup mesti ia jawab. Ia tidak bisa menghadapi kehidupan ini dengan menyerah begitu saja pada keadaannya. Ia mesti bangkit. Ia mesti mengambil alih tanggung jawab. Yang ia pikirkan bukan dirinya sendiri lagi. Yang ia pikirkan adalah keselamatan keluarganya. Karena itu, ia berani berkorban. Ia memberikan dirinya demi cinta yang besar kepada sesamanya. Cinta itu menjadi nyata dalam tindakan. Cinta itu tidak hanya di mulut saja.

Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita juga hidup untuk orang lain. Kita memberikan hidup kita untuk orang lain.

Ketika kita menyatakan kita mencintai sesama kita, yang mesti kita lakukan adalah berbuat baik kepada sesama itu. Kita mesti berani melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama. Dengan demikian, hidup ini menjadi bermakna bagi sesama. Mari kita berusaha untuk memberi hidup kita bagi kesejahteraan bersama melalui cinta yang nyata. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


723

21 Juni 2011

Berusaha Menjadi Orang Baik




Banyak orang berebut menjadi orang penting dalam kehidupan sehari-hari. Ada berbagai motivasi yang diungkapkan. Berbagai usaha ditempuh untuk meraih keinginan untuk menjadi orang penting. Setelah meraih keiningan itu, orang merasa bahagia. Soalnya, apakah cukup orang menjadi orang penting dalam hidup ini?

Namun menurut Ebet Kadarusman, belum cukup orang menjadi orang penting. Ia berkata, “Memang baik jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting untuk jadi orang baik.”

Tentu saja ini sebuah ungkapan yang menantang manuisa untuk semakin menjadi orang baik dalam hidup ini. Ebet Kadarusman meninggal Sabtu, 20 Maret 2010, lalu di Bandung. Ia dikenal oleh banyak pemirsa televisi lewat acara ‘Salam Canda’. Ungkapan atau pesan tadi merupakan trademark saat ia membawakan acara tersebut.

Sahabat, tentu saja pesan tadi punya makna yang mendalam bagi hidup manusia. Boleh-boleh saja orang berlomba-lomba untuk menjadi orang penting. Namun yang mesti diingat adalah orang mesti berusaha untuk menjadi orang baik dalam hidup ini. Ketika orang hanya mengejar keinginan untuk menjadi orang penting, orang bisa menempuhnya dengan cara-cara yang tidak terpuji.

Untuk itu, perlu kesadaran dalam diri manusia tentang makna kehidupan ini. Apakah orang hidup untuk mengejar cita-cita menjadi orang penting? Atau orang mesti menjadi orang baik lebih dahulu baru menjadi orang penting? Tentu saja tidak mudah menjadi orang yang baik. Orang mesti menghadapi berbagai rintangan dalam hidup ini. Orang mesti melewati tantangan-tantangan.

Namun kalau orang tetap bertahan pada prinsip untuk menjadi orang baik lebih dahulu, orang akan mengalami hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dan berguna bagi orang lain. Orang akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang baik. Namun soal baik buruknya seseorang tentu bukan penilaian dari diri sendiri. Hal itu merupakan penilaian dari orang lain atas kinerja dan sepak terjang seseorang dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk menjadi orang yang baik. Orang yang baik itu orang yang mampu melepaskan diri dari egoisme dan cinta diri yang berlebihan. Mengapa mesti demikian? Karena orang yang baik itu mesti rela berkorban bagi sesamanya. Orang yang baik itu rela mendahulukan kepentingan dan kebahagiaan sesamanya. Orang yang baik itu mampu memberi dirinya bagi kebahagiaan sesamanya.

Mari kita berlomba-lomba menjadi orang yang baik dengan cara-cara yang baik. Hanya dengan menjadi orang baik, kita mampu menjadi pembawa kegembiraan dan harapan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


705

15 Juni 2011

Menyediakan Diri untuk Melayani Sesama





Suatu hari seorang ibu tertegun. Darah di seluruh tubuhnya terasa berdesir lebih cepat. Jarum jam menunjuk pukul 12 tengah malam.

Seorang pemuda sedang menyikat lantai. Di sampingnya tergeletak sebuah ember berisi air. Tak jauh dari situ terdapat cairan pembersih. Mata ibu itu berkaca-kaca. Ia hampir tidak bisa percaya pemuda itu adalah anaknya sendiri.

Ia tidak menyangka anaknya mau melakukan hal itu. Menyikat lantai dan mengepel. Di dadanya masih melekat “celemek” warna hijau dengan sebuah logo yang sangat dikenal: Starbucks. Sudah hampir tiga bulan anaknya magang kerja di Starbucks. Pekerjaan utamanya adalah membuat kopi dan melayani pembeli. Menjelang tutup, bergantian dengan teman-teman sekerjanya, dia menyapu, bersih-bersih, buang sampah, termasuk mengepel atau menyikat lantai.

Menyaksikan anaknya melakukan pekerjaan itu, ada rasa haru yang menyesakkan dada ibu itu. Sudah sejak lama ia ingin anaknya bekerja seperti itu. Beberapa waktu lalu ia pernah sedikit memaksa, agar sang anak melamar di salah satu restoran cepat saji terkenal. Sayang, lamarannya tidak pernah mendapat jawaban. Berkali-kali dicoba, tetapi yang terakhir jawaban yang diterima adalah mereka belum membutuhkan tenaga magang.

Ibu itu mendorong anaknya untuk magang di restoran cepat saji, karena ia ingin sang anak merasakan apa yang dirasakan para pelayan restoran. Ibu itu berkata, “Saya ingin dia berempati terhadap pekerjaan pramusaji. Sebab selama ini dia selalu berada pada posisi yang dilayani. Bagaimana rasanya jika sebaliknya, dia yang harus melayani?”

Setelah gagal magang di restoran cepat saji, sang anak akhirnya diterima magang di Starbucks. Sejak awal ibu itu sudah menyiapkan mental anaknya untuk menerima keadaan terburuk sebagai pelayan: mendapat perlakukan kasar dari pembeli.

Sahabat, seorang guru spiritual mengatakan bahwa ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Ia menyadari bahwa kedatangannya ke dunia ini untuk membawa kebahagiaan bagi manusia. Karena itu, manusia mesti diajar untuk saling melayani. Bukan hanya menunggu untuk dilayani oleh orang lain.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup untuk melayani sesama. Mengapa? Karena ketika saling melayani, kita mau menampakkan sikap kesiapsediaan untuk membantu orang lain. Karena itu, kita mesti belajar untuk saling melayani. Kita mesti belajar untuk menyediakan diri, ketika orang lain membutuhkan pelayanan dari kita.

Sering orang berpandangan bahwa menjadi pelayan itu menjadi orang rendahan. Orang yang martabatnya lebih rendah dari orang lain. Tentu saja pandangan seperti ini pandangan yang keliru. Menjadi pelayan berarti orang menyediakan dirinya untuk membahagiakan orang lain melalui pelayanannya. Orang yang dengan tulus hati mau mengabdikan hidupnya bagi sesama. Karena itu, melayani itu pekerjaan yang mulia. Suatu pekerjaan yang membahagiakan diri dan sesama.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa siap sedia melayani sesama. Artinya, kita mau menyediakan diri dengan setulus hati membahagiakan sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

699

14 Juni 2011

Hati yang Mudah Tergetar




Dr Tira Aswitama awalnya terpanggil menjadi relawan, ketika bencana tsunami meluluhlantakan Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004 lalu. Ia berkata, ”Mendengar dan melihat bencana tsunami itu hati saya tergetar. Dengan izin orangtua, saya pun berangkat ke Aceh. Padahal saya waktu itu baru diwisuda menjadi dokter.”

Tinggal di Aceh selama dua tahun itulah yang mengasah jiwa Dr Tira. Ia mengaku, di dalam dirinya memang ada ”panggilan” untuk membantu sesama. Pengalaman dari Aceh itulah kemudian membuat ia mengambil keputusan yang lebih hebat lagi, yaitu pergi bertugas ke Sudan, Afrika.

Rupanya panggilan untuk menjadi relawan adalah segalanya bagi dokter muda itu. Bahkan untuk pergi ke negeri yang sedang dilanda konflik perang saudara itu ia harus menunda pernikahannya dengan seorang pemudi yang ia cintai.

Tentang pengalamannya di Sudan, ia berkata, ”Ada pengalaman menarik, ketika saya betugas di Sudan. Saya menolong seorang ibu yang akan melahirkan di tengah gurun dengan peralatan seadanya. Tidak hanya itu, suasana di sekitar makin mencekam, karena ada peristiwa tembak-menembak karena perang.”

Karena belum berpengalaman menolong orang melahirkan, Dr Tira mengaku terpaksa menelpon dosennya di Jakarta melalui telepon satelit untuk meminta ‘bantuan’.

Sahabat Sonora, kita hidup dalam dunia yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Bencana alam yang sering menimpa dunia yang kita huni membuat hati orang tergetar untuk membantu para korban. Hati yang mudah tergetar ini mesti senantiasa dipelihara dalam hidup. Hal ini mampu membantu para korban untuk menghadapi hari-hari hidup mereka dengan lebih baik. Ada harapan dari para korban untuk melanjutkan hidup mereka.

Kisah dokter Tira memberi inspirasi kepada kita bahwa ia memiliki kasih sayang yang begitu mendalam terhadap orang lain. Kasih sayang itu mendorong dirinya untuk meninggalkan kesenangan dirinya sendiri. Ia rela mendahulukan kepentingan sesamanya. Ia memberikan dirinya untuk keselamatan hidup orang lain. Tentu saja ini suatu perbuatan yang indah yang mesti dilakukan juga oleh orang-orang lain.

Kalau dunia ini dipenuhi oleh orang-orang seperti dokter Tira, tentu dunia ini menjadi tempat yang damai. Banyak orang akan menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup mereka. Banyak orang terbantu untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam cinta kasih.

Sayang, belum begitu banyak orang yang mampu tergerak hatinya oleh penderitaan sesamanya. Banyak orang masih mengandalkan egoisme dan cinta diri yang berlebihan. Banyak orang terlalu mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa sesama manusia juga membutuhkan uluran tangan dari diri mereka.

Karena itu, hati yang mudah tergetar oleh penderitaan sesama mesti selalu dipupuk terus-menerus. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Hidup yang damai menjadi bagian dari kita semua. Tuhan memberkat. **

Frans de Sales, SCJ


698

13 Juni 2011

Berani Memberi Hidup bagi Sesama




Tidak ada satu pun orang yang ingin mengalami penyakit gagal ginjal. Tapi jika suatu saat Anda divonis secara mendadak menderita penyakit sistem pengolahan limbah tubuh ini, hanya ada dua pilihan solusi. Cuci darah seumur hidup atau cangkok ginjal.

Seorang bernama Afaf Susilawati mengaku sangat senang dan bahagia memberikan satu ginjalnya bagi sang adik tercinta, Huda Rosdiana Biarawati. Ia tidak berpikir dua kali. Padahal keputusannya itu membuat ia harus hidup dengan satu ginjal saja. Tentu saja hal ini sangat beresiko terhadap hidupnya ke depan.

Dengan ginjal pemberian sang kakak itu, akhirnya Huda Rosdiana menjalani transplantasi ginjal dari Afaf pada 2001 silam. Huda divonis mengalami komplikasi ginjal saat berusia 19 tahun. Untungnya Huda hidup di tengah keluarga yang saling menyayangi sepenuhnya. Seluruh kakak bahkan ibunya sampai harus “berebut” untuk mendonorkan ginjal mereka.

Namun tanpa disadari yang lain, Afaf secara diam-diam langsung melakukan pemeriksaan ke dokter. Setelah pemeriksaan, dokter memutuskan ginjal Afaf yang akan dicangkokkan ke Huda tanpa bisa dicegah yang lainnya.

Huda akhirnya sukses menjalani cangkok ginjal. Namun ia hanya mampu bertahan selama 6 tahun saja. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 2007 lalu. Hal itu terjadi setelah perjuangan kerasnya melawan virus yang menyerang ginjal barunya.

Sahabat, kadang-kadang orang mesti berani memutuskan untuk melakukan sesuatu yang beresiko atas hidupnya untuk keselamatan orang lain. Tentu saja keputusan seperti ini mesti dilandasi oleh semangat cinta dan kepedulian terhadap kehidupan. Dua hal ini mesti selalu menjadi landasan berpikir, ketika orang ingin melakukan sesuatu bagi kebaikan sesamanya.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa kehidupan itu memiliki nilai dan makna yang sangat penting. Manusia mesti saling mendukung dalam memperjuangkan kehidupan ini. Tujuannya untuk menciptakan suatu dunia yang lebih baik dan damai. Kasih sayang yang ditunjukkan dengan mengorbankan salah satu organ tubuh yang sangat penting itu merupakan buktinya.

Cinta kasih dan kepedulian terhadap kehidupan mewujud dalam pengorbanan diri dalam kehidupan bersama. Dalam situasi seperti ini, orang menyadari bahwa ia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia hidup juga untuk kebahagiaan sesama. Ia hidup untuk memperjuangkan kehidupan banyak orang. Karena itu, korban yang ia lakukan memiliki nilai dan makna yang tinggi pula.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan hidup kita bagi kebahagiaan sesama. Korban yang kita lakukan itu membantu sesama kita untuk menjalani hidup ini dalam suasana yang damai dan sukacita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih berguna bagi kehidupan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


697

12 Juni 2011

Uluran Tangan Sesama Memberi Kehidupan


Seorang ibu mengalami penderitaan luar biasa. Setelah ditinggal mati suaminya, ia mesti berjuang untuk membesarkan tiga orang anaknya sendirian. Dengan berbagai cara, ia berusaha untuk menyekolahkan tiga anaknya yang kini memasuki masa remaja itu. Ia bekerja siang dan malam tak kenal lelah.

Suatu hari ia merasa sakit di kedua payudaranya. Rupanya ada dua benjolan yang bersarang di sana. Apa yang mesti ia buat? Tubuhnya mulai terasa sakit yang tak tertahankan. Ia pun memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Hasil pemeriksaan itu sangat menyejutkan dirinya. Kedua payudaranya itu mesti dibuang, kalau ia masih mau tetap hidup.

Soalnya adalah biaya untuk operasi itu sangat besar. Ia tidak mampu membiayainya. Apalagi ia sendiri mesti membiayai tiga anaknya. Ia merasa berat. Ia merasa ia tidak berdaya. Biaya operasi yang besar selalu menghantui dirinya. Di saat-saat ia sendirian, airmatanya tiba-tiba bercucuran membasahi wajahnya.

Kadang, dalam keputusasaan ia berkata dalam hatinya, “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan akan terus hidup.”

Namun kemudian ia sadar bahwa ia seorang beriman. Orang beriman itu selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Karena itu, ibu itu berusaha terus-menerus menyerahkan hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Ia yakin, Tuhan akan membantu dirinya yang berada dalam kesulitan itu.

Benar! Tuhan membantunya. Melalui adiknya, ada seorang kaya yang peduli terhadap penyakitnya. Orang kaya itu mengirimkan cek untuk biaya operasi dan perawatannya di rumah sakit. Dengan uang itu, ibu itu dapat menjalani operasi. Ia tidak perlu kuatir akan biaya yang akan dikeluarkannya. Ia juga tidak perlu lagi kuatir akan biaya sekolah bagi anak-anaknya.

Sahabat, banyak orang merasa putus asa ketika menghadapi persoalan-peroalan dalam hidupnya. Orang merasa tidak punya jalan untuk menyelesaikan persoalannya. Jalan seolah-olah buntu. Akibatnya, orang menyerah pada keadaan. Orang tidak mau berusaha lagi.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa semestinya manusia tidak boleh putus asa dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Manusia mesti berani menghadapinya. Manusia mesti mencari cara-cara yang terbaik untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Dengan cara ini, orang dapat membahagiakan dirinya dan sesamanya.

Untuk itu, orang mesti memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Orang mesti berani mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang mesti percaya bahwa Tuhan mampu membantunya dengan berbagai cara. Tuhan selalu punya cara untuk membantu manusia yang meminta kepadaNya dengan hati yang tulus.

Karena itu, penyerahan diri secara total merupakan suatu gerakan yang mesti selalu dilakukan oleh manusia. Kalau manusia berusaha untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, ia akan menemukan damai dalam hidupnya. Mari kita senantiasa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian, damai dan sukacita menjadi bagian hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora Palembang, pukul 22.00 WIB, bagi mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya.



696

29 Maret 2011

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama


Gempa bumi di Haiti dengan korban puluhan ribu orang menggugah hati petenis putra nomor satu dunia, Roger Federer. Pria berusia 28 tahun yang tampil dalam turnamen Australia Terbuka di Melbourne itu berinisiatif mengadakan pertandingan amal untuk mengumpulkan dana.

Tentang ide mengumulkan dana bagi para korban gempa ini, Roger berkata, ”Saya punya ide bahwa kami harus berbuat sesuatu untuk membantu korban di Haiti. Lalu saya berbicara kepada beberapa petenis top dan mereka setuju bahwa kita harus berbuat sesuatu.”

Ide Federer ini diwujudkan dalam pertandingan ganda campuran yang diselenggarakan Minggu, tanggal 17 Januari 2010 lalu di lapangan utama Melbourne Park, Rod Laver Arena. Penonton dewasa dipungut biaya 10 dolar Australia (sekitar Rp 85.000), sementara anak-anak berusia di bawah 12 tahun bisa menonton gratis. Uang inilah yang kemudian disumbangkan ke Haiti.

Beberapa atlet yang bersedia untuk ikut serta dalam acara amal itu adalah Novak Djokovic, Andy Roddick, Serena Williams, Kim Clijsters dan Samantha Stosur.

Roger yang telah tiga kali juara Australia Terbuka ini berkata, ”Saya pikir, ini seperti acara tenis untuk keluarga. Mereka bisa nonton penampilan petenis-petenis top.”

Sahabat, kepedulian terhadap sesama yang menderita semestinya menjadi bagian dari hidup kita. Apalagi penderitaan yang dialami itu bukan karena ulah mereka sendiri. Bencana alam yang menelan korban tewas sekitar 50 ribu jiwa di Haiti itu memang semestinya mendapatkan perhatian dari dunia. Bangsa kita telah mengirim 75 tenaga sukarela untuk membantu korban bencana alam itu. Suatu bentuk solidaritas yang sudah semestinya dilakukan dengan hati yang tulus.

Korban bencana di mana pun selalu menggugah kepedulian kita. Solidaritas kita terhadap mereka yang menderita itu ditantang untuk direalisasikan. Tidak hanya melalui kata-kata yang diucapkan di bibir saja. Solidaritas itu menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu mengatasi segala-galanya. Kehidupan mesti senantiasa diperjuangkan dan dijunjung tinggi dalam kehidupan manusia.

Karena itu, ketergerakkan hati Roger dan teman-temannya pemain tenis top dunia menjadi contoh bagi kita semua. Dengan kemampuan yang mereka miliki mereka dapat melakukan sesuatu untuk membantu sesamanya yang sedang menderita. Mereka membantu dengan cara yang mereka miliki yang ternyata memberikan banyak sekali manfaat bagi para korban.

Sebagai orang beriman, ketergerakkan hati kita terhadap penderitaan sesama mesti selalu dipupuk dalam hidup ini. Inilah caranya kita menyatakan kasih sayang kita kepada sesama yang menderita. Inilah bentuk kita mengungkapkan kepedulian kita terhadap kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mari kita terus-menerus memupuk sikap solider dengan sesama yang sedang menderita. Dengan demikian, mereka mengalami kegembiraan batin karena diperhatikan sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

643