13 Oktober 2015
Berani Memberi dengan Sukacita
21 September 2012
Memberi dengan Motivasi yang Tulus
10 Juli 2012
Memberi dengan Sepenuh Hati
Konon Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Di manapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berkata kepada Elang, "Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!"
Elang menjawab, "Kedengarannya ide yang bagus".
Lantas keduanya turun ke bumi. Mereka melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung. Namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekatnya, Sapi berkata, "Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini".
Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, "Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?"
Sapi menjawab, "Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberi kami apapun yang kami inginkan."
Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani. Sapi menjawab, "Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan."
Kalkun tambah bingung, "Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?"
Sapi menjawab, "Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal."
Elang dan Kalkun menjadi syok berat! Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.
Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini.
Sahabat, kebaikan itu mesti dibagikan kepada sesama yang membutuhkan. Banyak orang hanya mau menikmati kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi egois. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli terhadap sesamanya.
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada begitu banyak rahmat yang Tuhan berikan kepada kita. Itulah rahmat kebaikan. Rahmat kebaikan itu bukan hanya untuk diri sendiri. Rahmat kebaikan itu mesti disalurkan bagi sesama yang membutuhkan. Tentu saja hal ini tidak segampang yang dipikirkan. Mengapa? Karena sering orang merasa bahwa kebaikan yang diberikan kepada sesamanya itu hilang begitu saja. Menjadi milik orang lain. Bukan lagi menjadi milik mereka.
Tentu saja pikiran seperti ini kurang pas, karena semakin orang memberi kepada sesamanya, semakin banyak rahmat yang diperolehnya. Apalagi kalau orang memberi dengan penuh kasih. Tuhan akan mendukung dengan rahmatNya orang yang rela memberikan apa yang dimilikinya bagi sesamanya.
Karena itu, orang beriman mesti berani memberi apa yang dimiliki bagi sesamanya yang membutuhkan. Yakinlah, apa yang kita berikan itu tidak hilang, tetapi akan membuahkan rahmat berlimpah bagi hidup kita. Mari kita berani memberi apa yang kita miliki bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih damai dan sukacita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
916
" Bagikan
02 November 2011
Memberi dengan Hati yang Tulus

Ada seorang anak yang sangat pelit. Apa yang dimilikinya tidak boleh diambil oleh orang lain, bahkan adiknya sendiri pun tidak boleh menyentuhnya. Kalau ia sedang makan sesuatu, ia tidak peduli adiknya yang berada di hadapannya sambil menadahkan tangan. Ia biarkan saja adiknya meminta kepadanya makanan tersebut. Ia akan masukkan semuanya ke dalam mulutnya.
Anak ini kemudian tumbuh dalam kesendirian. Dua adik dan satu kakaknya kurang peduli terhadap dirinya. Mereka dengan enteng saling berbagi. Mereka dengan mudah saling memberi. Ketika mereka memiliki sesuatu yang berharga, mereka akan berbagi bertiga. Sedangkan saudara mereka yang kikir itu tidak diberi bagian.
Dalam perjalanan waktu, anak yang kikir itu lebih banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Usaha-usahanya seringkali tersendat. Ia menjadi orang yang kurang sejahtera dibandingkan tiga saudaranya yang lain. Akibatnya, ia banyak mengeluh. Namun keluhan-keluhannya itu tidak menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Ia semakin terpuruk dalam hidupnya.
Sementara tiga saudaranya menikmati hidup yang sejahtera. Usaha-usaha mereka berhasil dengan begitu baik. Mereka tidak perlu mengeluh dalam hidup. Mereka juga siap membantu saudara mereka yang kikir itu, kalau ia meminta bantuan dari mereka. Namun soalnya adalah saudara yang kikir itu merasa gengsinya akan turun kalau ia meminta bantuan dari saudara-saudaranya.
Sahabat, semakin banyak orang memberi, semakin banyak orang mendapatkan kembali hal-hal yang baik. Tentu saja pemberian seperti ini dilakukan dengan sepenuh hati. Bukan dengan terpaksa. Orang memberi dengan setulus hati. Orang memberi tanpa suatu keinginan untuk mendapatkan kembali apa yang diberikan itu dalam jumlah yang lebih banyak.
Kisah di atas mau mengatakan kepada kita untuk tetap memiliki semangat untuk memberi. Sering kita mengalami kesulitan untuk memberi. Mengapa? Karena kita merasa bahwa kita tidak punya apa-apa, mengapa kita mesti memberi? Atau kita merasa apa yang kita punyai itu tidak bernilai apa-apa. Jadi untuk apa kita memberi?
Tentu saja pandangan memberi seperti ini sangat materialistis. Kita tunggu sampai kita punya sesuatu yang berharga dulu baru kita mau memberi. Padahal kita bisa memberi hal-hal lain yang tidak seharusnya barang-barang yang kita punyai. Kita dapat memberi diri kita. Kita dapat menyediakan waktu dan kemampuan kita untuk kemajuan diri sesama kita.
Kita dapat memberi teladan hidup kepada sesama kita. Teladan hidup yang baik akan mampu membangkitkan semangat hidup bagi sesama kita. Ini yang lebih berharga daripada kita mesti memberi sesuatu yang bersifat materi. Mari kita hidupkan semangat untuk memberi dari apa yang kita punyai. Kita beri pengalaman-pengalaman hidup kita bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermanfaat dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
11 September 2011
Indahnya Memberi
Pagi itu, dengan sekali sentak, setangkai bunga mawar merah muda telah pindah dari kebunnya. Ketika ditanya untuk apa, sambil ternyum, ia berkata, “Ini untuk ulang tahun cucu tersayang saya. Cucu saya itu orang baik. Saya tidak boleh melewatkan ulang tahunnya hari ini.”
Itulah tanda cinta sang nenek kepada cucunya. Baginya, sekuntum mawar itu memberikan sukacita dalam diri sang cucu. Ia pun bergembira dapat memberi hadiah dari kebun di halaman rumahnya. Begitu cucunya pulang sekolah, ia akan memberikan hadiah terindah itu kepada cucunya.
Bagi sang nenek, hidup itu adalah memberi. Menurutnya, ketika seseorang memberi apa yang dimiliki kepada orang lain sebenarnya ia tidak kehilangan apa-apa. Apalagi yang diberikan itu adalah cinta dan perhatian. Orang yang memberi cinta dan perhatian akan menuainya lebih banyak lagi.
Karena itu, setangkai mawar merah muda bagi ulang tahun sang cucu itu tanda cinta dan perhatiannya kepada sang cucu. Ia ingin membahagiakan sang cucu. Ia ingin agar sang cucu mengalami sukacita pada hari ulang tahunnya. Namun lebih dari itu, ia ingin agar sang cucu senantiasa menemukan cinta dan perhatian dari sesamanya. Ia boleh berbahagia berkat cinta dan perhatian itu.
Sahabat, pernahkah Anda mengalami sukacita, ketika Anda memberi sesuatu kepada sesama Anda? Atau Anda malahan merasa berdukacita, karena Anda merasa kehilangan ketika memberi itu? Nah, kalau Anda merasa berdukacita, Anda mesti belajar dari sang nenek dalam kisah tadi. Ia memberi dengan penuh sukacita. Ia mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.
Sering orang beranggapan bahwa ketika seseorang memberi sesuatu kepada orang lain, ia kehilangan. Sebenarnya tidak. Ketika kita memberi, memang sesuatu itu hilang. Namun maksud baik kita dan perbuatan baik kita tetap ada di dalam diri kita. Semakin banyak kita berbuat baik, kita akan menemukan bahwa kebaikan itu menjadi suatu habit, kebiasaan yang tidak bisa lepas dari diri kita lagi.
Kita kemudian bertumbuh dalam kebaikan itu terus-menerus. Yang dikenang dari diri kita adalah kebaikan-kebaikan kita itu. Kebaikan itu kemudian tumbuh dalam hidup orang lain juga. Tidak hanya menjadi milik diri kita. Mengapa? Karena pada dasarnya orang mau belajar sesuatu yang baik dari sesamanya.
Karena itu, belajar dari sang nenek dalam kisah tadi, mari kita terus-menerus menyediakan diri kita untuk memberi. Apa yang kita berikan kepada orang lain hanyalah simbol dari cinta dan perhatian kita kepada sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih indah. Dengan memberi, kita mau menjadi bagian dari hidup sesama kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
778
13 Juni 2011
Berani Memberi Hidup bagi Sesama
Tidak ada satu pun orang yang ingin mengalami penyakit gagal ginjal. Tapi jika suatu saat Anda divonis secara mendadak menderita penyakit sistem pengolahan limbah tubuh ini, hanya ada dua pilihan solusi. Cuci darah seumur hidup atau cangkok ginjal.
Seorang bernama Afaf Susilawati mengaku sangat senang dan bahagia memberikan satu ginjalnya bagi sang adik tercinta, Huda Rosdiana Biarawati. Ia tidak berpikir dua kali. Padahal keputusannya itu membuat ia harus hidup dengan satu ginjal saja. Tentu saja hal ini sangat beresiko terhadap hidupnya ke depan.
Dengan ginjal pemberian sang kakak itu, akhirnya Huda Rosdiana menjalani transplantasi ginjal dari Afaf pada 2001 silam. Huda divonis mengalami komplikasi ginjal saat berusia 19 tahun. Untungnya Huda hidup di tengah keluarga yang saling menyayangi sepenuhnya. Seluruh kakak bahkan ibunya sampai harus “berebut” untuk mendonorkan ginjal mereka.
Namun tanpa disadari yang lain, Afaf secara diam-diam langsung melakukan pemeriksaan ke dokter. Setelah pemeriksaan, dokter memutuskan ginjal Afaf yang akan dicangkokkan ke Huda tanpa bisa dicegah yang lainnya.
Huda akhirnya sukses menjalani cangkok ginjal. Namun ia hanya mampu bertahan selama 6 tahun saja. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 2007 lalu. Hal itu terjadi setelah perjuangan kerasnya melawan virus yang menyerang ginjal barunya.
Sahabat, kadang-kadang orang mesti berani memutuskan untuk melakukan sesuatu yang beresiko atas hidupnya untuk keselamatan orang lain. Tentu saja keputusan seperti ini mesti dilandasi oleh semangat cinta dan kepedulian terhadap kehidupan. Dua hal ini mesti selalu menjadi landasan berpikir, ketika orang ingin melakukan sesuatu bagi kebaikan sesamanya.
Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa kehidupan itu memiliki nilai dan makna yang sangat penting. Manusia mesti saling mendukung dalam memperjuangkan kehidupan ini. Tujuannya untuk menciptakan suatu dunia yang lebih baik dan damai. Kasih sayang yang ditunjukkan dengan mengorbankan salah satu organ tubuh yang sangat penting itu merupakan buktinya.
Cinta kasih dan kepedulian terhadap kehidupan mewujud dalam pengorbanan diri dalam kehidupan bersama. Dalam situasi seperti ini, orang menyadari bahwa ia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia hidup juga untuk kebahagiaan sesama. Ia hidup untuk memperjuangkan kehidupan banyak orang. Karena itu, korban yang ia lakukan memiliki nilai dan makna yang tinggi pula.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memberikan hidup kita bagi kebahagiaan sesama. Korban yang kita lakukan itu membantu sesama kita untuk menjalani hidup ini dalam suasana yang damai dan sukacita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih berguna bagi kehidupan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
697
25 Juli 2010
Memberi dengan Hati yang Tulus
Lantas pemuda itu meninggalkan orang-orang itu. Ia tidak tahan melihat penderitaan mereka. Namun ia kembali lagi kepada mereka dengan sejumlah makanan, minuman dan obat-obatan. Ia memberi mereka makan. Ia mengobati luka-luka mereka. Beberapa saat kemudian orang-orang itu mulai berhenti menggigil. Kaki-kaki mereka pun mulai kuat untuk melangkah. Mereka mulai tersenyum.
Uluran kasih dari sesama mampu meringankan penderitaan. Orang-orang itu pun boleh menikmati sesaat sukacita. Mereka boleh mengalami indahnya kasih Tuhan melalui tangan-tangan yang dengan tulus memberi bantuan. Bagi mereka, itulah saat yang paling indah dalam hidup mereka. Suatu saat yang telah memberi mereka kesegaran raga. Saat di mana mereka boleh mengatakan bahwa Tuhan masih ada bersama mereka.
Ada begitu banyak penderitaan di dunia ini. Orang mengalami penderitaan materiil seperti tidak punya rumah yang layak, berbagai macam penyakit dan kelaparan. Mereka berjuang untuk keluar dari penderitaan itu. Namun sering terjadi kebuntuan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada ketidakpedulian dari sesama manusia. Ada hati manusia yang tertutup begitu rapat oleh penderitaan sesamanya.
Tambahan lagi ada orang-orang yang tamak dan serakah. Orang-orang seperti ini enggan memberi sedikit dari kepunyaannya untuk sesamanya. Lebih baik mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri daripada mesti memberikannya untuk orang-orang yang tidak mereka kenal.
Karena itu, sedikit pemberian akan sangat bernilai bagi hidup manusia yang mengalami penderitaan itu. Seteguk air atau segenggam nasi akan sangat berharga bagi seorang penderita lapar. Akan ada sukacita yang begitu besar, ketika orang memberi dengan tulus mereka yang membutuhkan makanan.
Sebagai orang beriman, kita semua memiliki tugas dan kewajiban untuk membantu sesama yang berkekurangan. Ketika kita membantu mereka sebenarnya kita memberi kesempatan kepada mereka untuk bersukacita. Mereka memiliki kesempatan untuk berbahagia, meski hanya sesaat.
Mari kita mengulurkan tangan kita dengan hati yang tulus. Dengan demikian, semakin banyak orang akan menemukan bahagia dan damai dalam hidupnya. Hanya dengan cara ini orang beriman mengamalkan cinta kasih dalam hidupnya. Hanya dengan memberi sesama yang membutuhkan, kita dapat mengenal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu secara lebih dekat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
449
Bagikan
14 Juni 2010
Belajar Memberi dengan Tulus
Suatu hari ada seorang janda miskin yang memasukan sejumlah uang ke dalam kotak persembahan. Ia memberikan apa yang menjadi miliki kepunyaannya. Waktu itu, Yesus menyaksikan peristiwa itu. Ia juga melihat orang-orang kaya yang memberikan uang persembahan dalam jumlah yang banyak.
Lantas Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Kalian lihat apa yang diperbuat oleh janda miskin itu? Dia memberikan seluruh yang dimilikinya. Dia juga memberikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Itulah pemberiannya yang terindah. Tidak seperti orang-orang kaya itu.”
Murid-muridNya bingung mendengarkan penjelasan Yesus. Bagi mereka, pemberian yang paling baik adalah pemberian orang-orang kaya itu. Mengapa? Karena dengan cara itu, mereka dapat membantu kebutuhan hidup banyak orang. Namun Yesus tidak setuju dengan apa yang sedang mereka pikirkan. Menurut Yesus, orang-orang kaya itu memberi dari kesombongan mereka. Mereka memberi untuk mendapatkan pujian. Mereka memberi supaya dilihat orang.
Lain dengan pemberian janda miskin itu. Ia memberikan seluruh hidupnya. Ia memberikan seluruh jerih payahnya. Karena itu, Yesus memuji pemberian janda miskin itu. Meski tidak banyak ia memberi persembahan, ia menjadi orang yang berbahagia. Ia memberikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dan Tuhan berkenan kepadanya.
Sering manusia memberi sesuatu kepada orang lain untuk dihormati. Atau orang memberi untuk diberi kembali. Ini yang diistilahkan dengan do ut des: memberi supaya diberi. Tentu saja pemberian seperti ini tidak tulus. Pemberian seperti ini mengandung pamrih, supaya dibalas dengan pemberian pula.
Karena itu, kita mesti belajar untuk memberi dengan tulus, dengan sepenuh hati. Pemberian yang dilakukan dengan tulus biasanya tidak mengharapkan balasannya. Balasan itu akan datang dengan sendirinya, kalau orang memberi dengan hati yang tulus. Pemberian yang didasari oleh rasa pamrih biasanya mengganggu hati dan pikiran orang. Orang selalu berpikir, kapan ia akan mendapatkan kembali apa yang hilang itu.
Sebagai orang beriman, kita mesti terus-menerus belajar untuk memberi dengan hati yang tulus. Mengapa? Karena pemberian yang tulus itu membuat kita bahagia. Kita tidak merasa kehilangan dengan memberi itu. Justru kita dapat bersyukur atas pemberian itu. Orang yang mendapatkan itu akan mengalami sukacita dan bahagia dalam hidupnya. Ia tidak perlu berpikir untuk mengembalikan pemberian itu.
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com408
Bagikan
01 Maret 2010
Memberi Secangkir Air bagi Yang Haus
Dengan penuh wibawa ia bertanya kepada mereka, “Mana bentuk pelayanan terbaik dan mana saat yang terbaik untuk memberikan pelayanan bagi rakyat?”
Semua ahli dan orang bijak itu memberi berbagai macam jawaban kepada raja. Namun menurut raja, jawaban-jawaban mereka tidak memuaskan di hatinya. Semua jawaban mereka sudah hal yang biasa. Tidak ada yang baru. Jadi raja memutuskan untuk mendrop semua jawaban mereka.
Lantas suatu hari sementara berjuang melawan musuhnya di medan perang, dia sengaja memisahkan diri dari para prajuritnya dalam sebuah hutan yang lebat. Lalu dia berjalan sendirian. Tanpa seorang pengawal pun. Semakin jauh ia berjalan, ia merasa lapar dan haus yang tak tertahankan. Akhirnya ia menemukan sebuah pertapaan.
Ia masuk ke dalam pertapaan itu dalam kondisi yang lemah. Seorang pertapa tua menerimanya dengan hangat dan menghidangkan secangkir air sejuk bagi raja. Ia juga diberi makan yang secukupnya. Sesudah beristirahat di tempat tidur pertapa itu, raja itu bertanya, “Manakah pelayanan terbaik yang harus aku berikan kepada rakyatku?”
Pertapa tua itu menjawab, “Memberikan secangkir air kepada seseorang yang kehausan.”
Raja mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu ia bertanya lagi, “Kapan itu dapat diberikan?”
Dengan penuh kebijaksanaan pertapa itu berkata, “Ketika dia datang dari jauh dan kesepian, sedang mencari suatu tempat yang dapat dicapainya.”
Raja itu sangat terkejut. Ternyata pelayanan yang terbaik itu sangat sederhana. Selama ini ia selalu memikirkan pelayanan yang hebat-hebat. Tetapi pada kenyataannya rakyatnya membutuhkan hal-hal yang biasa untuk mencapai kesejahteraan, damai dan ketenteraman.
Di jaman kini banyak orang menggembar-gemborkan tentang melayani sesama. Ada berbagai usaha yang hebat-hebat dengan program yang luar biasa pula untuk melayani rakyat. Ada usaha-usaha untuk membantu pengentasan kemiskinan. Pertanyaannya, apa yang sudah dicapai melalui program yang hebat-hebat itu? Mungkin sudah banyak yang dicapai. Tetapi kenyataannya adalah masih ada begitu banyak orang yang menderita kelaparan, kurang gizi. Bahkan masih juga ditemukan adanya gizi buruk di daerah-daerah tertentu. Lalu pelayanan macam apa yang sudah diberikann untuk mengentas kemiskinan itu?
Orang yang sungguh beriman itu memberikan suatu pelayanan yang tuntas, tanpa berpikir tentang dirinya sendiri. Ia tidak memikirkan apa yang akan ia peroleh setelah memberikan pelayanan bagi sesamanya yang membutuhkan pertolongan. Mungkin yang terjadi dengan persoalan gizi buruk atau busung lapar adalah persoalan kesungguhan melayani orang-orang yang miskin. Kesungguhan itu mesti tampak dalam karya yang nyata. Kesungguhan pelayanan itu mesti tampak dalam kejujuran dan kesetiaan untuk melayani mereka yang miskin dan lemah.
Hari ini kita sudah berusaha untuk melayani sesama. Karena itu, mari kita bawa semua bentuk pelayanan kita itu dalam hidup kita. Kita ucapkan syukur dan terima kasih atas penyertaan Tuhan bagi kita. Tuhan begitu baik. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
337
Bagikan