Pages

Tampilkan postingan dengan label sukacita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sukacita. Tampilkan semua postingan

13 Oktober 2015

Berani Memberi dengan Sukacita

 
Sebenarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Bukankah saat lahir, manusia lahir dalam keadaan telanjang? Artinya tidak membawa apa-apa ke dalam dunia ini. Karena itu, apa yang dimiliki itu mesti diberikan kepada orang lain dengan setulus hati.

Ada seorang anak berusia empat tahun yang suka membagi bekalnya untuk teman-temannya di Play Group. Meski tidak diminta oleh teman-temannya, ia mengulurkan tangannya yang penuh dengan makanan. Ia mau berbagai dengan mereka. Ia ingin apa yang dimiliki menjadi bagian dari teman-temannya.

Saat ditanya oleh gurunya, ia berkata bahwa ia suka memberi saja. Ia tidak ingin apa yang dimilikinya hanya untuk dirinya sendiri.

Ia berkata, “Saya mau beri saja. Tidak ada yang menyuruh.”

Kebiasaan memberi dengan hati yang tulus itu ia teruskan saat dia sekolah di Taman Kanak-kanak. Kerelaannya untuk memberi itu membuat teman-temannya menyukai dirinya. Mereka mau bergaul dengan dia. Tidak ada rasa enggap untuk bermain bersama dengan dia. Ia pun bersyukur punya teman yang banyak.

Tidak Gampang Memberi, Mengapa?

Memberi dengan setulus hati tidak gampang dilakukan oleh manusia zaman sekarang. Lebih baik orang memenuhi dirinya dengan berbagai kebutuhan hidup terlebih dahulu. Sisanya baru diberikan kepada orang lain. Prinsipnya adalah saya dulu, baru orang lain.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk memberi dengan setulus hati. Ketika orang memberi dengan setulus hati, orang akan menerimanya kembali dengan berlipat-lipat. Tentu saja bukan menerima dalam bentuk materi. Tetapi relasi yang baik akan diperoleh dalam hidup sehari-hari.

Sebenarnya orang dapat memberi dengan setulus hati, kalau orang menyadari bahwa apa yang dimilikinya itu diterima dengan cuma-cuma dari Tuhan. Andaikan Tuhan tidak memberi apa-apa kepada manusia, bagaimana manusia bisa hidup? Bagaimana bisa melakukan hal-hal yang baik dan benar dalam hidup ini?

Tuhan telah memberi manusia berbagai hal untuk kebutuhan hidup manusia, karena Tuhan ingin manusia hidup bahagia. Berbagai kebutuhan itu bukan hanya untuk milik diri seseorang saja. Tetapi apa yang dimiliki itu juga menjadi milik bersama. Artinya, orang mesti berani berbagi saat memiliki harta kekayaan yang melimpah. Kalau tidak berani berbagi dengan yang berkekurangan, apa yang ada akan diambil kembali oleh Tuhan.

Seorang bijaksana berkata, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Orang beriman mesti memberi dengan sukacita dan tanpa paksaan. Orang beriman memberi dengan cara demikian sebagai ungkapan syukur atas kasih dan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak bisa kita lihat dengan mata, maka kita membalas kasih Tuhan itu dengan memberi kepada sesama. Mari kita memberi dengan sukacita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO dan Majalah FIAT

Palembang – (masih) Kota Asap

1171

02 Oktober 2014

Hidup yang Damai membawa Sukacita

Hidup yang damai menjadi dambaan setiap orang. Namun orang sering sulit mengalaminya, karena egoisme yang berlebihan.

Di saat-saat terakhir hidup anaknya, seorang bapak mengunjungi anaknya itu di rumah sakit. Sang anak sedang mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia terserang leukimia. Terjadi pembengkakan di levernya. Sudah lama sang ayah tidak bertemu dengan anaknya. Pasalnya, sang ayah sedang merantau.

Lagi pula sang ayah pergi merantau lantaran terjadi percekcokan di antara mereka. Karena itu, beberapa bulan sebelum kematian anaknya ia sudah mendapat kabar. Namun ia tidak mau segera pulang. Ia masih merasakan sakit hati, karena diusir oleh anaknya itu. Tetapi sehari sebelum anaknya itu meninggal, ia tiba-tiba muncul di rumah sakit.

Sial baginya. Hanya lima menit ia berjumpa dengan anaknya. Ia berdoa untuk anaknya. Di ujung doanya, sang anak menghembuskan nafas terakhirnya. Bapak itu tidak habis pikir. Mengapa anaknya begitu cepat pergi sebelum ia sempat mengucapkan kata-kata permohonan maaf?

Ia sangat kecewa. Ia ingin berdamai dengan anaknya. Namun kesempatan itu tidak pernah ia rasakan. Pengampunan tidak pernah meluncur dari mulut anaknya. Semuanya berlalu begitu saja.

Sahabat, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita. Kita sepertinya menunggu akhir hidup kita masing-masing. Kapan akhir hidup itu tiba, kita sama sekali tidak tahu. Karena itu, yang dibutuhkan dari kita adalah kita memiliki hati yang bersih. Yang dibutuhkan adalah hidup yang baik dan berkenan kepada Tuhan dan sesama.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa berdamai dengan sesama mesti selalu tercipta dalam hidup ini. Damai itu kunci dari seluruh perjalanan hidup kita. Ketika kita mengalami damai dan sukacita, dunia ini menjadi suatu tempat yang aman bagi kita. Orang akan menyesal, kalau damai dan pengampunan tidak ia temukan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus memperjuangkan hidup yang damai. Hidup dalam damai itu menyadarkan kita akan kasih Tuhan kepada kita. Tuhan mengampuni dosa-dosa kita, karena Tuhan mengasihi kita. Karena itu, ketika kita berani mengampuni dosa dan kesalahan sesama, kita menciptakan damai bagi sesama. Hidup dalam damai akan membawa kebahagiaan bagi diri kita dan bagi semua orang yang ada di sekitar kita.

Mari kita berusaha untuk senantiasa memperjuangkan damai dalam hidup ini. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu menjadi dasar bagi kita untuk hidup dalam damai. Mengapa? Karena Tuhan itu sumber damai bagi kita. Tuhan memberikan rahmat damai itu bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1159

01 Juni 2014

Bertahan dalam Pengharapan Membawa Sukacita

 
Memiliki pengharapan merupakan bagian dari menumbuhkan iman dalam kehidupan sehari-hari. Namun sering orang mudah putus asa. Orang tidak mudah bertahan dalam pengharapan.

Seorang pemuda sedang memancing di sebuah tambak ikan. Ia berharap, hari itu ia mendapatkan banyak ikan. Ia ingin menghadiahkan ikan itu untuk mamanya yang tersayang. Hari itu, sang mama merayakan ulang tahun kelimapuluh. Setengah abad. Jadi ia ingin membuat kejutan bagi sang mama tercinta.

Sayang, hingga sore menjelang, belum banyak ikan yang ia peroleh. Rupanya ikan-ikan di tambak itu tinggal sisa-sisa. Ikan-ikan di tambak itu baru dua hari lalu dipanen oleh pemiliknya. Namun pemuda itu tetap punya pengharapan untuk mendapatkan ikan yang banyak.

Pemuda itu tidak putus asa meski setiap kali melempar pancing, ia tidak memperoleh ikan. Ia tetap tersenyum. Ketika matahari mulai tenggelam, ia pun beranjak pulang. Dengan lima ekor ikan yang ia peroleh, ia pulang ke rumah dengan gembira. Ia membersihkan ikan-ikan itu. Lantas ia membakar ikan-ikan itu. Itulah persembahan yang bisa ia berikan bagi sang mama tercinta.

Sahabat, banyak orang kehilangan harapan ketika ada aral yang melintang di hadapan mereka. Rasa putus asa kemudian menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada gairah lagi dalam hidup ini. Orang menjalani hidup ini dengan penuh pesimisme. Akibatnya menjadi jelas, yaitu orang akan mengalami stress dalam kehidupannya.

Kisah di atas memberi kita warna kehidupan yang berbeda. Kesulitan dihadapi dengan gairah hidup yang penuh pengharapan. Pemuda itu tidak mau putus asa dalam upayanya membahagiakan sang mama. Baginya, memiliki pengharapan itu jauh lebih baik daripada berhenti tidak melakukan apa-apa. Meski mendapatkan ikan yang tidak banyak, ia berbahagia. Ia boleh mengungkapkan rasa sayangnya kepada sang mama.

Orang yang memiliki pengharapan itu memberi kekuatan dan rasa aman bagi jiwa. Harapan adalah sikap yang sehat. Mengantisipasi yang baik membawa kenyamanan bagi pikiran dan hati.

Sebaliknya, keadaan putus asa merupakan kondisi yang mengerikan. Kondisi ini menyedihkan bagi kehidupan manusia. Bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang hidup di sekitar kita. Orang yang kehilangan harapan berjalan dalam terowongan gelap yang panjang.

Orang beriman mesti selalu memiliki pengharapan dalam hidup. Mengapa? Karena pengharapan memberikan rasa optimis dalam hidup. Pengharapan mampu membangkitkan gairah dalam menjalani hidup ini. Pengharapan membuat orang memiliki kreativitas untuk membahagiakan diri dan sesamanya.

Mari kita menggantungkan harapan kita pada Tuhan semata. Tuhan akan melengkapi pengharapan kita dengan rahmat demi rahmat-Nya. Untuk itu, kita mesti berpasrah diri kepadaNya. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk menemukan kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/KOMSOS KAPal

1097

28 Maret 2014

Berani Memberi dengan Sukacita

Sering orang merasa bahwa apa yang dimilikinya itu mesti dipertahankan sedapat mungkin. Tidak perlu diberikan kepada orang lain. Namun ketika orang berani memberi apa yang dimilikinya untuk orang lain, orang akan mengalami sukacita.

Suatu hari seorang pemuda menemukan sejumlah orang miskin yang sangat menderita. Ia merasa terpukul atas kondisi tersebut. Bagaimana mungkin di sebuah Negara yang makmur ini ternyata masih ada banyak orang yang menderita. Pemuda itu menyaksikan orang-orang itu menggigil, karena menahan lapar. Mereka mengerang-erang kesakitan, karena luka-luka bernanah yang tak terobati.

Lantas pemuda itu meninggalkan orang-orang itu. Ia tidak tahan melihat penderitaan mereka. Namun ia kembali lagi kepada mereka dengan sejumlah makanan, minuman dan obat-obatan. Ia memberi mereka makan. Ia mengobati luka-luka mereka. Beberapa saat kemudian orang-orang itu mulai berhenti menggigil. Kaki-kaki mereka pun mulai kuat untuk melangkah. Mereka mulai tersenyum.

Uluran kasih dari sesama mampu meringankan penderitaan. Orang-orang itu pun boleh menikmati sesaat sukacita. Mereka boleh mengalami indahnya kasih Tuhan melalui tangan-tangan yang dengan tulus memberi bantuan. Bagi mereka, itulah saat yang paling indah dalam hidup mereka. Suatu saat yang telah memberi mereka kesegaran raga. Saat di mana mereka boleh mengatakan bahwa Tuhan masih ada bersama mereka.

Sahabat, ada begitu banyak penderitaan di dunia ini. Orang mengalami penderitaan materiil seperti tidak punya rumah yang layak, berbagai macam penyakit dan kelaparan. Mereka berjuang untuk keluar dari penderitaan itu. Namun sering terjadi kebuntuan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada ketidakpedulian dari sesama manusia. Ada hati manusia yang tertutup begitu rapat oleh penderitaan sesamanya.

Tambahan lagi ada orang-orang yang tamak dan serakah. Orang-orang seperti ini enggan memberi sedikit dari kepunyaannya untuk sesamanya. Lebih baik mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri daripada mesti memberikannya untuk orang-orang yang tidak mereka kenal.

Karena itu, sedikit pemberian akan sangat bernilai bagi hidup manusia yang mengalami penderitaan itu. Seteguk air atau segenggam nasi akan sangat berharga bagi seorang penderita lapar. Akan ada sukacita yang begitu besar, ketika orang memberi dengan tulus mereka yang membutuhkan makanan.

Sebagai orang beriman, kita semua memiliki tugas dan kewajiban untuk membantu sesama yang berkekurangan. Ketika kita membantu mereka sebenarnya kita memberi kesempatan kepada mereka untuk bersukacita. Mereka memiliki kesempatan untuk berbahagia, meski hanya sesaat.

Mari kita mengulurkan tangan kita dengan hati yang tulus. Dengan demikian, semakin banyak orang akan menemukan bahagia dan damai dalam hidupnya. Hanya dengan cara ini orang beriman mengamalkan cinta kasih dalam hidupnya. Hanya dengan memberi sesama yang membutuhkan, kita dapat mengenal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu secara lebih dekat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Majalah FIAT
1084

30 Januari 2014

Mengerjakan Tugas-tugas dengan Sukacita

 

Ada seorang anak yang selalu mengeluh di kala mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Ia selalu merasa sulit. Akibat lanjutnya adalah ia enggan untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan gurunya. Ia mengaku tidak bisa menyelesaikan soal-soal itu. Baginya, soal-soal itu hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang brilian.

Ibunya yang menyaksikan sikap anaknya itu menjadi gelisah. Ia tidak yakin anaknya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya. Karena itu, sang ibu berusaha meyakinkan anaknya. Ia berkata, “Nak, kamu pasti bisa mengerjakan soal-soal itu. Kan tidak ada yang sulit.”

Anak itu tidak mau menggubris. Ia sama sekali tidak mau membuka buku pekerjaan rumahnya. Ia merasa yakin bahwa ia tidak mungkin mengerjakan soal-soal itu. Namun ibunya tidak mau menyerah. Ia sangat yakin, anaknya dapat mengerjakan soal-soal yang ditugaskan kepadanya itu.

Ia berkata, “Nak, coba kamu buka buku pekerjaan rumahmu. Ibu yakin, setelah kamu membacanya pasti kamu menyukainya. Kamu pasti mengerjakan soal-soal itu.”

Anak itu pun mulai membuka buku pekerjaan rumahnya. Satu demi satu ia perhatikan soal-soal itu. Tiba-tiba ia berteriak, “Ibu, ini soal-soal yang mudah. Aku pasti dapat mengerjakannya....”

Sahabat, banyak orang menganggap tugas-tugas yang diberikan kepada mereka itu sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Soalnya adalah orang tidak teliti. Orang sudah memiliki prasangka yang bukan-bukan. Akibatnya, orang tidak berani menggerakkan tangan dan kakinya untuk mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tanpa kreativitas, orang tidak akan berhasil mengerjakan suatu tugas pun. Hasilnya akan sangat mengecewakan.

Karena itu, yang mesti dilakukan adalah orang mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tidak perlu terlalu banyak memikirkannya. Mulai saja dan orang akan menemukan bahwa betapa pun beratnya suatu tugas akan dapat diselesaikan dengan baik. Tidak peduli tugas apa yang dikerjakan. Orang mesti memberi perhatian penuh dan yang terbaik. Orang tidak bisa setengah-setengah dalam menyelesaikan tugas itu.

Untuk itu, orang tidak perlu mencari kenyamanan dulu. Orang mesti menciptakan suasana kenyamanan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mengapa? Karena kenyamanan yang diciptakan sendiri itu akan bertahan lama. Tidak lekang oleh waktu. Orang akan menemukan betapa indahnya kenyamanan itu bagi hidupnya.

Orang beriman mesti melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. Mengapa? Karena hanya dengan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, orang beriman akan berhasil dalam tugas-tugasnya. Ia tidak bekerja sendirian. Ia bekerja bersama Tuhan yang terlibat dalam proses hidupnya. Ia senantiasa menyertakan Tuhan dalam tugas-tugasnya. Dengan demikian, tugas-tugas itu dikerjakan dengan penuh sukacita dalam kasih yang membara. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1038

29 November 2011

Sukacita karena Cinta


Ada seorang wanita yang menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Ia menikah hanya menuruti keinginan orangtuanya. Suaminya menyuruhnya untuk bangun pukul lima pagi tiap hari, membuatkan sarapan untuknya dan menyajikannya tepat pukul enam. Sang suami mengharapkannya selalu siap melayaninya.

Hidup wanita itu menderita, karena hanya berusaha melayani setiap kebutuhan dan permintaan suaminya. Sampai suatu waktu suaminya meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, wanita itu menikah kembali. Kali ini dengan seorang pria yang sangat dicintainya. Suatu hari, ketika sedang membereskan dan membersihkan kertas-kertas kuno, dia menemukan selembar kertas berisi peraturan yang harus dilakukan sebagai istri. Peraturan itu dibuat oleh mendiang suaminya.

Dengan hati-hati, dia membaca peraturan itu. “Bangun pukul lima. Hidangkan pada pukul enam tepat.” Dia terus membaca dan tiba-tiba berhenti serta merenung.

“Lho, bukankah apa yang saya lakukan sekarang pun persis dengan apa yang saya lakukan dulu? Mengapa sekarang saya bisa melakukannya dengan sukacita, tanpa merasa terpaksa?” katanya.

Ia tersenyum geli setelah menyadari perjalanan hidupnya. Lantas ia menjawab dalam hatinya, ”Ini karena cinta. Saya lakukan semua ini karena cinta. Saya merasakan sukacita atas apa yang aku lakukan ini.”

Sahabat, pernahkah Anda merasa melakukan sesuatu karena terpaksa? Apa hasil yang Anda peroleh? Tentu saja Anda tidak akan mengalami sukacita. Anda tidak merasa bahagia setelah melakukan semua hal yang baik itu. Anda justru merasa tertekan. Anda merasa apa yang telah Anda lakukan itu tidak membuahkan sesuatu bagi hidup Anda.

Sebaliknya, kalau Anda melakukan sesuatu dengan semangat yang dilandasi oleh cinta, Anda akan lakukan apa saja demi cinta itu. Tidak perlu diminta, Anda akan lakukan sesuatu untuk orang-orang yang Anda cintai itu. Meski berat pekerjaan itu, Anda akan merasa ringan karena menyenangkan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan demi cinta akan membahagiakan hidup kita. Untuk itu, kita mesti senantiasa menimba kasih dari Tuhan yang adalah sumber cinta. Tuhan memberi tanpa menarik kembali. Tuhan memberi tanpa meminta kita untuk membalasnya. Yang diinginkan Tuhan dari kita adalah kita mencintai sesama kita dengan setulus hati. Bukan dengan terpaksa. Mari kita mengandalkan kasih dalam hidup ini. Dengan demikian, kita mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



832

07 Juni 2011

Menemukan Peluang-peluang di Sekitar Kita

Apakah Anda suka melayani atau suka dilayani? Kalau Anda suka melayani, Anda akan dikatakan sebagai orang yang mudah tergerak melihat kebutuhan orang lain. Anda akan mudah mengulurkan tangan begitu melihat orang lain berada dalam kesulitan. Anda akan merasa bahagia, karena orang yang Anda layani itu menemukan sukacita dalam hidupnya.

Namun kalau Anda suka dilayani, Anda akan dianggap sebagai orang yang hanya mengulurkan tangan minta tolong. Anda akan dikatakan sebagai orang yang kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Bisanya menuntut orang lain melakukan sesuatu bagi Anda.

Deddy Mizwar, aktor dan sutradara film, merasa risih ketika segala sesuatu mesti dilayani oleh orang lain. Maret tahun lalu ia mengunjungi Yogyakarta. Begitu ia sampai di hotel, orang-orang langsung bergegas melayaninya. Padahal ia sendiri bisa melakukan apa yang harus ia lakukan. Karena itu, ia menamakan hal seperti ini sindrom melayani.

Sambutan seperti itu terutama ia alami ketika ia berada di luar Jakarta. Ia berkata, “Tiap kali ada orang dari pusat (Jakarta) datang, orang di daerah seakan terkena sindrom melayani. Padahal, tak semua orang merasa nyaman dan perlu dilayani seperti itu.”

Namun Deddy Mizwar yang kini berusia 55 tahun ini merasa hal ini dapat memberi inspirasi bagi para sineas muda untuk menemukan ide-ide. Ia mengatakan, ada begitu banyak ide cerita bagi sebuah film di sekitar kita. Karena itu, para sineas muda mesti mampu menangkap hal-hal tersebut untuk memperkaya karya mereka.

Sahabat, ada banyak hal baik di sekeliling kita yang dapat kita ambil untuk kemajuan diri kita. Melayani orang lain dengan sepenuh hati merupakan salah satu sisi kehidupan yang dapat membantu kita untuk semakin menemukan makna hidup bagi kita. Karena itu, kita mesti berani memaksimalkan sebaik-baiknya hal-hal itu bagi hidup kita.

Soalnya, banyak orang merasa bahwa hal-hal yang ada di sekitar mereka itu biasa-biasa saja. Karena itu, tidak bisa digunakan untuk kemajuan hidup mereka. Tentu saja padangan seperti ini berasal dari orang-orang yang kurang kreatif. Mereka memandang hidup ini dari satu segi saja. Mereka memandang hidup ini terlalu picik dan sempit. Mereka begitu gampang menyerah pada situasi yang ada.

Karena itu, orang mesti kreatif untuk menemukan hal-hal yang dapat membantu mereka untuk hidup lebih baik. Ada begitu banyak hal baik di sekitar kita yang dapat kita gunakan untuk kemajuan hidup kita. Untuk itu, kita diajak untuk senantiasa menemukan peluang-peluang yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



695

15 Maret 2011

Mengerjakan Tugas-tugas dengan Sukacita Rata Penuh


Ada seorang anak yang selalu mengeluh di kala mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Ia selalu merasa sulit. Akibat lanjutnya adalah ia enggan untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan gurunya. Ia mengaku tidak bisa menyelesaikan soal-soal itu. Baginya, soal-soal itu hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang brilian.

Ibunya yang menyaksikan sikap anaknya itu menjadi gelisah. Ia tidak yakin anaknya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya. Karena itu, sang ibu berusaha meyakinkan anaknya.

Ia berkata, “Nak, kamu pasti bisa mengerjakan soal-soal itu. Kan tidak ada yang sulit.”

Anak itu tidak mau menggubris. Ia sama sekali tidak mau membuka buku pekerjaan rumahnya. Ia merasa yakin bahwa ia tidak mungkin mengerjakan soal-soal itu. Namun ibunya tidak mau menyerah. Ia sangat yakin, anaknya dapat mengerjakan soal-soal yang ditugaskan kepadanya itu.

Ia berkata, “Nak, coba kamu buka buku pekerjaan rumahmu. Ibu yakin, setelah kamu membacanya pasti kamu menyukainya. Kamu pasti bisa mengerjakan soal-soal itu.”

Anak itu pun mulai membuka buku pekerjaan rumahnya. Satu demi satu ia perhatikan soal-soal itu. Tiba-tiba ia berteriak, “Ibu, ini soal-soal yang mudah. Aku pasti dapat mengerjakannya....”

Sahabat, banyak orang menganggap tugas-tugas yang diberikan kepada mereka itu sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Soalnya adalah orang tidak teliti. Orang sudah memiliki prasangka yang bukan-bukan. Akibatnya, orang tidak berani menggerakkan tangan dan kakinya untuk mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tanpa kreativitas, orang tidak akan berhasil mengerjakan suatu tugas pun. Hasilnya akan sangat mengecewakan.

Karena itu, yang mesti dilakukan adalah orang mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tidak perlu terlalu banyak memikirkannya. Mulai saja dan orang akan menemukan bahwa betapa pun beratnya suatu tugas akan dapat diselesaikan dengan baik. Tidak peduli tugas apa yang dikerjakan. Orang mesti memberi perhatian penuh dan yang terbaik. Orang tidak bisa setengah-setengah dalam menyelesaikan tugas itu.

Untuk itu, orang tidak perlu mencari kenyamanan dulu. Orang mesti menciptakan suasana kenyamanan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mengapa? Karena kenyamanan yang diciptakan sendiri itu akan bertahan lama. Tidak lekang oleh waktu. Orang akan menemukan betapa indahnya kenyamanan itu bagi hidupnya.

Orang beriman mesti melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. Mengapa? Karena hanya dengan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, orang beriman akan berhasil dalam tugas-tugasnya. Ia tidak bekerja sendirian. Ia bekerja bersama Tuhan yang terlibat dalam proses hidupnya. Ia senantiasa menyertakan Tuhan dalam tugas-tugasnya. Dengan demikian, tugas-tugas itu dikerjakan dengan penuh sukacita dalam kasih yang membara. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


632

07 Februari 2011

Ciptakan Sikap Optimis dalam Hidup


Suatu hari seorang pemuda datang kepada seorang guru kebijaksanaan. Kepada guru itu ia bertanya, “Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki. Cuma yang aneh, setiap ada jalan menurun, sang arif konon agak murung. Tetapi kalau jalan sedang mendaki, ia tersenyum. Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini?”

Guru bijaksana itu menjelaskan, “Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan. Itu perlu kita jadikan cermin. Ketika kita sukses, sesekali perlu kita sadari bahwa suatu ketika kita akan mengalami kegagalan yang tidak kita harapkan. Dengan demikian, kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Pencipta. Ketika kita sedang terpuruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis. Tetapi optimis saja tidak cukup. Kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras.”

Pemuda itu terkagum-kagum mendengarkan penjelasan guru bijaksana itu. Namun ia masih ragu-ragu. Lantas ia bertanya, ”Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar saya sedang jatuh terpuruk?”

Guru bijaksana itu berkata, ”Alasannya ialah iman. Mengapa? Karena kita yakin akan pertolongan Sang Pencipta.”

Pemuda itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih mengajukan pertanyaan, ”Hikmah selanjutnya apa?”

Guru bijaksana itu berkata, ”Orang yang terkenal suatu ketika harus siap untuk dilupakan. Orang yang di atas harus siap mental untuk turun ke bawah. Orang kaya suatu ketika harus siap untuk menjadi miskin.”

Sahabat, banyak orang merasa bahwa mereka selalu berada di tempat yang tinggi. Artinya, kesuksesan selalu menyertai perjalanan hidup mereka. Padahal tidaklah demikian. Perjalanan hidup ini kadang mulus. Tetapi kadang-kadang juga terdapat jurang terjal yang mesti dilewati.

Ada kalanya orang berada di atas kemegahan dan kemewahan. Tetapi ada kalanya orang terpuruk di bawah. Nah, sering orang lupa akan hal ini. Orang kurang menyadari perjalanan hidupnya. Akibatnya, ketika mereka terpuruk, mereka sulit untuk bangkit lagi. Mereka tidak lagi menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa orang tidak boleh menyombongkan dirinya. Orang mesti menyadari kondisi hidupnya. Orang mesti berani menerima kenyataan bahwa orang beriman itu sering berhadapan dengan berbagai tantangan. Orang yang bertahan akan menemukan damai dan sukacita. Orang yang bertahan itu akan memiliki optimisme untuk melangkahkan kakinya menggapai kesuksesan dalam hidupnya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti tetap optimis dalam hidup ini. Keterpurukan dalam hidup ini boleh saja menimpa kehidupan kita. Namun hal itu tidak berarti akhir dari segala-galanya. Masih ada waktu dan kesempatan untuk bangkit dan maju. Masih ada berbagai cara untuk menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

609