Pages

Tampilkan postingan dengan label penderitaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penderitaan. Tampilkan semua postingan

02 Juli 2014

Hati yang Tergerak oleh Penderitaan Sesama

 
Apa yang akan Anda lakukan terhadap sesama Anda yang kurang beruntung dalam hidup ini? Anda biarkan saja? Atau Anda tergerak hati untuk menolongnya?

Andras Peto menyaksikan sendiri banyak anak yang mengalami kerusakan otak usai Perang Dunia II. Ia tidak tinggal diam. Sebagai seorang dokter, ia tergerak hatinya untuk membantu sesamanya. Ia mendirikan sebuah pusat pelatihan untuk merehabilitasi otak anak-anak yang rusak. Namun ia juga memberikan pendidikan bagi anak-anak.

Ia yakin, otak anak-anak yang rusak itu seperti suka lupa, sensori dan motorik serta ketrampilan berbahasa yang rusak akan dibangun kembali. Hal itu dapat terjadi melalui latihan yang keras.

Sekarang ini, sekitar 1500 anak mengikuti pelatihan di Institut Peto di Budapest, Hungaria. Andras Peto sendiri telah meninggal dunia pada 11 September 1967, namun karyanya tetap dilestarikan hingga kini. Anak-anak yang mengalami kerusakan otak yang mendapatkan perawatan ketika berusia enam bulan hingga empat tahun akan mengalami kesembuhan. Mereka bisa masuk ke tingkat pendidikan sekolah dasar dengan normal.

Apa yang telah dimulai oleh Andras Peto tidak sia-sia. Ia membantu banyak orang untuk keluar dari persoalan hidup mereka. Tentu saja ini sebuah karya kemanusiaan yang sangat membantu banyak orang dalam kehidupan ini.

Sahabat, suatu kepekaan terhadap sesama yang menderita menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun kepekaan itu mesti disertai dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan ini. Mengapa? Karena suatu karya tanpa cinta yang mendalam hanyalah sebuah karya sosial biasa saja. Ketika ada rintangan yang menghadang, orang akan meninggalkan karya itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha Andras Peto menjadi sungguh-sungguh bermakna, ketika ia melakukannya dengan cinta yang mendalam terhadap kehidupan. Ia tidak sekedar membantu anak-anak yang mengalami kerusakan otak. Tetapi dengan cinta yang mendalam, ia ingin membantu generasi muda untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja ada banyak tantangan yang mesti ia hadapi. Namun ia mampu melewati segala tantangan itu.

Dalam kehidupan kita di zaman modern ini, kita juga berhadapan dengan kepedihan-kepedihan. Ada banyak sesama kita yang kurang beruntung dalam hidup mereka. Ada berbagai sebab. Namun yang pasti, kehadiran mereka menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan hal-hal baik dengan penuh kasih. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Mereka mesti mendapatkan perhatian dan kasih yang mendalam.

Bagi orang beriman, membantu sesama yang berkekurangan merupakan bagian dari penghayatan iman. Iman tidak hanya ada di dalam pikiran atau hati saja. Iman mesti tampak dalam kehidupan sehari-hari. Iman mesti tumbuh dalam proses hidup manusia. Untuk itu, kita mesti melaksanakan iman dalam kehidupan yang nyata, meskipun banyak rintangan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.

Mari kita berusaha untuk melaksanakan iman kita dengan membangun kepedulian terhadap sesama yang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1115

05 Juni 2014

Tuhan Meringankan Penderitaan Manusia


Ketika penderitaan menggerogoti hidup Anda, apa yang Anda lakukan? Saya yakin, Anda tidak mau menanggungnya sendirian. Anda akan menyertakan orang-orang yang ada di sekitar Anda. Anda juga akan menyertakan Tuhan dalam situasi penderitaan itu.

Seorang ibu menceritakan bahwa ia sangat menderita berhadapan dengan suaminya yang suka menyiksa dirinya. Setiap kali ia mengeluh tentang hidupnya, suaminya tidak mau peduli. Mendengar pun suaminya tidak mau. Kalau ia ngotot mengungkapkan kecemasannya tentang dirinya, sang suami tidak segan-segan main tangan. Pipinya kemudian memerah oleh telapak tangan sang suami yang keras menghantamnya.

Sudah sering ibu itu menangis dalam kesunyian. Ia mengalami derita batin yang luar biasa mendalam. Pada saat yang bersamaan, ia mesti membesarkan tiga orang anaknya. Kadang-kadang ia merasa kesulitan untuk mendampingi anak-anaknya. Namun ia mesti kuat dalam menjalani semua itu.

“Airmata ini sudah mengering. Bahkan sekarang tidak ada airmata lagi yang bisa tercurah dari mata ini,” kata ibu itu suatu kali.

Ibu itu merasa sangat menderita. Namun ia mesti bertahan dalam situasi seperti itu demi ketiga anaknya. Ibu itu bercita-cita bahwa suatu saat ia akan mengalami kegembiraan dalam hidupnya. Suatu suasana yang membuat ia bahagia lahir dan batin. Ia tidak tahu, kapan cita-citanya itu tercapai. Namun ia punya harapan yang besar akan meraih kebahagiaan itu.

Cita-cita itu menjadi nyata, ketika suatu hari suaminya mulai bersikap lembut terhadap dirinya. Bahkan sang suami berani meminta maaf atas segala tindakan kerasnya terhadap dirinya. Ibu itu sangat bergembira. Ia merasakan peristiwa itu sebagai suatu mukjijat dari Tuhan.

Sahabat, Kahlil Gibran menulis, “Hal yang membuatmu tertawa suatu saat akan membuatmu menangis. Apa yang kini membuatmu menangis adalah hal yang akan membuatmu tertawa.”

Gibran membidik dengan tepat situasi kehidupan manusia. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Dalam kisah di atas, sang ibu mengalami kegetiran batin yang begitu mendalam. Akibatnya, ia mengalami bahwa airmatanya telah mengering. Suatu simbol akan penderitaan yang begitu berat dalam kehidupan ini.

Semestinya kebahagiaan senantiasa menjadi bagian dari kehidupan manusia. Cita-cita setiap manusia adalah meraih kehidupan yang menggembirakan dan membahagiakan. Namun kadang-kadang orang mesti mengalami hal yang sebaliknya. Orang mengalami kegundahan dan kegetiran dalam hidup.

Orang beriman berani menghadapi kegetiran dan penderitaan dalam hidup ini. Mengapa? Karena orang beriman menghadapinya dengan penuh iman. Mereka yakin bahwa suatu ketika mereka akan menggapai cita-cita untuk hidup bahagia. Tentu saja dengan berbagai usaha yang baik dan benar.

Dalam situasi penderitaan itu, orang beriman menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Orang tidak menanggungnya sendirian. Tetapi orang meminta dalam doa yang penuh iman, agar Tuhan membantunya meringankan penderitaan hidupnya. Hanya dengan cara ini, orang mampu menjalani hidup ini. Orang tetap bergerak maju meski hidup ini terasa berat. Mari kita terus-menerus menyertakan Tuhan dalam setiap duka nestapa kita. Dengan demikian, kita mampu menemukan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1101

01 Juni 2014

Bertahan dalam Pengharapan Membawa Sukacita

 
Memiliki pengharapan merupakan bagian dari menumbuhkan iman dalam kehidupan sehari-hari. Namun sering orang mudah putus asa. Orang tidak mudah bertahan dalam pengharapan.

Seorang pemuda sedang memancing di sebuah tambak ikan. Ia berharap, hari itu ia mendapatkan banyak ikan. Ia ingin menghadiahkan ikan itu untuk mamanya yang tersayang. Hari itu, sang mama merayakan ulang tahun kelimapuluh. Setengah abad. Jadi ia ingin membuat kejutan bagi sang mama tercinta.

Sayang, hingga sore menjelang, belum banyak ikan yang ia peroleh. Rupanya ikan-ikan di tambak itu tinggal sisa-sisa. Ikan-ikan di tambak itu baru dua hari lalu dipanen oleh pemiliknya. Namun pemuda itu tetap punya pengharapan untuk mendapatkan ikan yang banyak.

Pemuda itu tidak putus asa meski setiap kali melempar pancing, ia tidak memperoleh ikan. Ia tetap tersenyum. Ketika matahari mulai tenggelam, ia pun beranjak pulang. Dengan lima ekor ikan yang ia peroleh, ia pulang ke rumah dengan gembira. Ia membersihkan ikan-ikan itu. Lantas ia membakar ikan-ikan itu. Itulah persembahan yang bisa ia berikan bagi sang mama tercinta.

Sahabat, banyak orang kehilangan harapan ketika ada aral yang melintang di hadapan mereka. Rasa putus asa kemudian menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada gairah lagi dalam hidup ini. Orang menjalani hidup ini dengan penuh pesimisme. Akibatnya menjadi jelas, yaitu orang akan mengalami stress dalam kehidupannya.

Kisah di atas memberi kita warna kehidupan yang berbeda. Kesulitan dihadapi dengan gairah hidup yang penuh pengharapan. Pemuda itu tidak mau putus asa dalam upayanya membahagiakan sang mama. Baginya, memiliki pengharapan itu jauh lebih baik daripada berhenti tidak melakukan apa-apa. Meski mendapatkan ikan yang tidak banyak, ia berbahagia. Ia boleh mengungkapkan rasa sayangnya kepada sang mama.

Orang yang memiliki pengharapan itu memberi kekuatan dan rasa aman bagi jiwa. Harapan adalah sikap yang sehat. Mengantisipasi yang baik membawa kenyamanan bagi pikiran dan hati.

Sebaliknya, keadaan putus asa merupakan kondisi yang mengerikan. Kondisi ini menyedihkan bagi kehidupan manusia. Bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang hidup di sekitar kita. Orang yang kehilangan harapan berjalan dalam terowongan gelap yang panjang.

Orang beriman mesti selalu memiliki pengharapan dalam hidup. Mengapa? Karena pengharapan memberikan rasa optimis dalam hidup. Pengharapan mampu membangkitkan gairah dalam menjalani hidup ini. Pengharapan membuat orang memiliki kreativitas untuk membahagiakan diri dan sesamanya.

Mari kita menggantungkan harapan kita pada Tuhan semata. Tuhan akan melengkapi pengharapan kita dengan rahmat demi rahmat-Nya. Untuk itu, kita mesti berpasrah diri kepadaNya. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk menemukan kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/KOMSOS KAPal

1097

22 Januari 2014

Peduli terhadap Penderitaan Sesama



Beberapa waktu lalu, negeri kita dibanjiri oleh berbagai bencana alam. Ada gempa dahsyat yang menimpa manusia. Ada letusan gunung berapi yang memaksa manusia untuk mengungsi. Ada banjir bandang dan tsunami yang mengancam nyawa manusia. Lantas ada juga tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 milik Rusia.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang Anda mau buat bagi sesama yang menderita? Masihkah hati Anda mudah tergerak oleh penderitaan sesama Anda?

Tanggal 12 Desember 1992 lalu gempa besar menggoncang Kota Maumere, Flores dan sekitarnya. Gempa besar itu disusul oleh tsunami yang melululantakkan Pulau Babi. Dua ribu lebih orang meninggal dunia. Banyak orang hidup dalam ketakutan akan gempa susulan.

Bayangkan, banyak rumah roboh dan hancur berantakan. Kepanikan luar biasa menimpa diri manusia. Mereka tidak tahu mau lari ke mana. Mereka tidak tahu mau buat apa. Ada yang memutuskan untuk tidak lari ke mana-mana.

Hari-hari sebelum peristiwa tragis itu, tidak ada tanda-tanda. Orang hidup biasa saja dalam rutinitas mereka. Apa yang akan terjadi dalam hidup manusia, tidak pernah ada yang tahu. Orang tidak tahu kalau akan terjadi gempa atau badai dalam dirinya. Kadang-kadang semua peristiwa itu berada di luar nalar manusia.

Namun yang terjadi sesudah suatu bencana alam adalah tumbuhnya solidaritas dalam hidup manusia. Terlepas dari tulus tidaknya solidaritas itu, kita menyaksikan adanya hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Orang tidak ingin membiarkan sesamanya terpuruk dalam penderitaan.

Karena itu, tangan-tangan baik terus-menerus mengulur bagi sesama yang menderita. Tidak peduli apakah sesama itu dikenal atau tidak. Yang penting adalah sesama itu mendapatkan pengharapan untuk bangkit dari keterpurukannya itu. Keberpihakan hadir dalam diri manusia. Hasilnya adalah semangat juang tumbuh dalam diri para korban bencana alam itu.

Sahabat, apa yang dibutuhkan manusia dalam situasi mencekam atau krisis? Yang dibutuhkan adalah kita mampu menaruh kepercayaan kita pada orang lain. Kita percaya bahwa kita tidak sendirian dalam hidup ini. Masih ada orang lain yang siap mengulurkan tangan bagi hidup kita. Masih ada senyum yang tertuju kepada kita, saat kita mengalami duka nestapa ini. Masih ada hati yang mudah tergerak untuk krisis yang kita hadapi.

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita tidak perlu cemas akan hidup ini. Tuhan mengatakan, jangan cemas akan apa yang kamu makan besok. Pandanglah burung-burung di udara yang terbang kian ke mari. Mereka tidak menabur, tetapi mereka tetap mendapatkan makanan untuk hidup mereka. Tentu saja kita lebih berharga daripada burung-burung di udara. Kita diciptakan dengan akal budi yang dapat membantu kita untuk hidup lebih baik.

Tidak cemas tidak berarti kita tidak perlu berusaha lagi. Justru dalam ketidakcemasan itu ada kesempatan yang lebih besar untuk melakukan hal-hal yang besar bagi orang lain. Solidaritas terhadap orang lain menjadi lebih kuat tertanam dalam diri kita. Kalau kita punya hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan sesama, kita mampu membantu banyak orang.

Mari kita memelihara sikap solidaritas terhadap sesama kita. Dengan demikian, hati kita tetap terbuka terhadap penderitaan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1030

22 November 2013

Bangkit dari Kesedihan dan Penderitaan

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika kesedihan dan penderitaan menimpa diri Anda? Anda tenggelam dalam situasi itu terus-menerus? Atau Anda mau bangkit dari situasi seperti ini untuk menatap hidup yang lebih baik?

Suatu hari, ada seorang pemuda meninggal dunia. Ia menderita leukemia, tetapi tidak pernah ada yang tahu. Ia meninggal secara tiba-tiba. Beberapa hari sebelumnya, ia baru saja melamar gadis pujaannya. Rencananya, tiga bulan kemudian mereka akan menikah. Tragis, pemuda itu begitu cepat meninggal dunia.

Kepergiannya untuk selama-lamanya itu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi orang-orang dekatnya. Orangtuanya begitu sedih menyaksikan peristiwa itu. Sang pacar pun mengalami duka yang mendalam. Ia tidak habis pikir, mengapa orang yang begitu dikasihi itu telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Sang pacar masih menangis selama beberapa hari setelah meninggalnya sang kekasih. Ia begitu sedih. Ia begitu menderita. Ia merasa seolah-olah hidup ini telah berakhir tanpa sang kekasih. Makan tak enak, minum pun tak segar. Ia tetap terpuruk dalam kesedihan yang sangat mendalam. Setiap hiburan yang diberikan kepadanya tidak berguna sama sekali.

Empat puluh hari kemudian, wajah sang pacar masih murung juga. Ia tidak mau bertemu dengan orang-orang. Bahkan sang ibu yang sangat dikasihinya pun ia tidak mau temui. Ia mengunci diri di kamarnya. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling malang di dunia. Kebahagiaan telah direnggut dari dirinya saat sang kekasih meninggal dunia.

Sahabat, penderitaan dan kesedihan boleh saja menimpa diri manusia. Sebenarnya hal-hal ini juga menjadi bagian dari kehidupan manusia. Ada situasi bahagia saat orang mengalami kasih yang begitu besar dari orang-orang di sekitarnya. Tetapi ada juga saat kesedihan dan penderitaan yang melanda hidup manusia.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada orang yang tidak begitu saja menerima kenyataan hidup. Orang menolak kesedihan dan penderitaan yang menimpa dirinya. Orang hanya ingin mengalami hal-hal yang bahagia dan sukacita. Orang hanya mau menerima hal-hal yang baik saja. Yang pahit dan kurang menyenangkan orang ingin cepat-cepat melepaskannya dari hidupnya.

Bisa jadi orang seperti ini kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Orang tidak membuka mata dan hatinya untuk melihat dan mengalami duka nestapa yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah orang berani membuka mata dan hatinya terhadap kesedihan dan penderitaan yang dialami manusia. Ada orang yang kehilangan suami. Ada orang yang kehilangan orang-orang terdekat yang begitu disayangi dalam waktu yang sekejap.

Tetapi orang-orang ini tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaan yang berlarut-larut. Mereka mudah bangkit dari situasi hidup seperti ini. Mereka berani menatap hidup ini dengan penuh optimis. Mereka berhasil keluar dari diri mereka untuk melihat dan menyaksikan kenyataan hidup sehari-hari.

Orang beriman mesti terus-menerus memupuk harapannya pada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan dirinya berjuang sendirian dalam perjalanan hidup di dunia ini. Tuhan memberi kekuatan dan semangat bagi manusia untuk bangkit dari keterpurukan hidup.

Mari kita berusaha untuk keluar dari kesedihan dan penderitaan yang kita alami. Kita buka mata dan hati kita terhadap peristiwa-peristiwa hidup kita. Dengan demikian, kita dapat menangkap makna kesedihan dan penderitaan yang sedang kita alami. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

986

18 November 2013

Memaknai Penderitaan dalam Hidup Nyata

Pernahkah Anda mengalami kesedihan yang sangat mendalam? Saya rasa setiap orang pernah mengalaminya. Soalnya, apakah Anda terpaku menyerah pada kesedihan itu? Atau Anda bangkit untuk memaknai kesedihan itu?

Ada seorang ibu yang mengalami kesedihan yang amat mendalam. Orang yang paling dekat dengannya, yaitu sang suami, telah pergi untuk selamanya. Dia mesti berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya. Lantas ia pergi ke seorang tua yang bijaksana. Dia meminta nasihat bagaimana mengatasi kesedihannya yang amat mendalam itu.

Melihat ibu yang muram itu, orang tua itu pun berkata, “Saya dapat menolongmu. Tetapi engkau harus terlebih dahulu menyerahkan biji-bijian kepada saya.” Kata orang bijak itu sekali lagi, “Tetapi syaratnya, biji-bijian itu harus engkau dapatkan dari rumah orang yang tidak pernah mengalami kesusahan sama sekali!”

Mata ibu itu terbelalak. Ia berpikir, nasihat itu sangat mudah. Karena itu, dengan penuh semangat ibu itu mulai mencari biji-bijian. Namun, setiap mengunjungi sebuah rumah, ia selalu bertemu dengan orang-orang yang bermasalah. Ia menjadi lemas. “Kok tidak ada seorang pun di dunia ini yang bersih dari masalah?” ia bertanya dalam hatinya.

Akhirnya ia kembali kepada orang tua bijak itu, tanpa membawa satu biji pun. “Alangkah piciknya saya ini! Ternyata kesusahan bisa menimpa siapa saja,” ia berkata kepada orang bijak itu.

Orang tua yang bijak itu pun berkata, “Bagus sekali, engkau telah mendapatkan pelajaran berharga. Karena engkau juga mengalami kesusahan, maka engkau dapat bersimpati dan menghibur mereka. Nah, dengan memberikan penghiburan kepada orang lain, maka kesusahanmu sendiri akan semakin berkurang.”

Sahabat, sering banyak orang merasa bahwa hanya diri mereka yang mengalami penderitaan dalam hidup ini. Orang lain mengalami hidup yang indah dan baik-baik, tetapi diri mereka selalu mengalami duka nestapa. Akibatnya, banyak orang menjadi stress menghadapi hidup ini. Mereka tidak tahu harus buat apa.

Kisah imajinatif di atas mau menyadarkan kita bahwa kita masing-masing memiliki duka dan derita dalam hidup ini. Duka yang kita alami tentu tidak sama dengan duka yang dialami oleh orang lain. Ibu itu merasa hanya dirinya sendiri yang sedang menderita. Orang lain tidak mengalami penderitaan seperti dia alami. Ternyata tidak. Setiap orang punya kesusahannya sendiri.

Bagi kita, yang penting dalam hidup ini adalah kita memaknai arti penderitaan itu. Tidak semua penderitaan membawa kehancuran bagi diri kita. Setiap kali kita mengalami penderitaan, kita mesti berusaha untuk menemukan makna di balik penderitaan itu. Tentu saja Tuhan tidak ingin kita binasa melalui penderitaan itu. Tuhan ingin agar kita semakin mengimani dirinya.

Karena itu, dalam duka dan derita itu kita diajak untuk mencari dan menemukan makna yang terdalam dari penderitaan itu. Penderitaan membuat kita kuat dalam iman. Mengapa? Karena kita berani menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, Sang Pencipta kita. Mari kita berusaha sekuat tenaga untuk berserah diri kepada Tuhan. Kita andalkan Tuhan dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


982

09 Juni 2012

Bertumbuh dalam Iman Saat Penderitaan


Apa yang biasa Anda lakukan ketika penderitaan melanda hidup Anda? Tentu saja Anda akan berusaha untuk keluar dari penderitaan itu. Orang beriman memandang penderitaan sebagai suatu kesempatan untuk bertumbuh dalam iman akan Tuhan.

Ada seorang perempuan yang menderita sakit yang mesti tinggal di kamar. Selama 40 tahun ia tinggal di dalam kamar itu. Kedua tangan dan kakinya telah diamputasi untuk menahan penyebaran penyakitnya ke seluruh tubuhnya. Namun perempuan itu hidup penuh damai dan sukacita. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena ia tidak mau menyerah begitu saja pada penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya.

Satu hal yang ia lakukan adalah ia menamai tempat tinggalnya Pondok Harapan Sukacita. Meski hanya di atas tempat tidur, ia berusaha untuk hidup secara kreatif. Di pondok ini ia menyerahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan dan aktif dalam pelayanan rohani. Bagaimana ia bisa melakukan pelayanan rohani dalam keterbatasan tubuh seperti itu? Perempuan ini punya cara sendiri.

Dengan pena yang diikatkan pada ujung lengannya yang buntung, ia berkirim surat ke seluruh dunia selama bertahun-tahun. Ia mampu membimbing ratusan orang kepada Tuhan.

Penderitaan yang dialami perempuan itu tidaklah membuatnya patah semangat dan menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak berguna. Justru sebaliknya, penderitaannya mendorongnya untuk menjadi lebih kreatif di dalam hidup dan pelayanannya. Sungguh luar biasa.

Sahabat, penderitaan memang menggangu hidup manusia. Penderitaan membuat orang terbatas dalam hidupnya. Penderitaan membuat orang bersedih hati. Namun penderitaan tidak selamanya membuat orang berdukacita. Penderitaan juga membuat orang bangkit untuk menghadapi penderitaan itu dengan sukacita.

Kisah perempuan tadi memberikan suatu perspektif yang berbeda dalam hidup manusia. Ia mesti menghadapi kenyataan penderitaannya. Namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia mau hidupnya sungguh-sungguh bermakna. Karena itu, dalam keterbatasannya, ia menulis surat mengenai kabar sukacita. Kabar sukacita itu kemudian menggugah hati begitu banyak orang. Mereka mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi orang beriman.

Tentu saja orang yang beriman secara berbeda memandang penderitaan dibandingkan dengan orang yang tidak beriman. Orang beriman memandang penderitaan sebagai bagian dalam hidup manusia. Penderitaan menjadi kesempatan untuk semakin menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Dalam situasi penderitaan itu orang beriman berdoa dengan penuh harapan.

Karena itu, penderitaan mesti menumbuhkan iman. Penderitaan mesti berbuahkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena dalam saat-saat penderitaan itu orang mudah meninggalkan Tuhan yang diimaninya. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus bertumbuh dalam iman. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan berharga dalam membangun kasih bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah MOGI (Cerdas dalam Kasih)

903

01 April 2012

Tinggal Sesaat Saja

 Minggu, 01 April 2012
Hari Minggu Palma - Mengenangkan Sengsara Tuhan

"Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula kamu akan melihat Aku" (Yoh. 16:16).

Sangat sering Yesus berbicara mengenai SAAT. Ketika ibunda-Nya Maria meminta anggur kepadanya waktu pesta perkawinan di Kana, dengan tegas Ia mengatakan bahwa saatnya belum tiba (bdk.Yoh-2:4; 8:20). Yesus juga berbicara mengenai akan tiba saatnya (Yoh.4:21). Yesus pun tidak segan-segan mengatakan bahwa saatnya sudah tiba (Yoh.12:23). Dan dalam ayat di atas Yesus menegaskan bahwa tinggal sesaat saja.

Gaya bahasa saat yang digunakan Yohanes dalam Injil-Nya menunjuk pada peristiwa penderitaan Yesus. Penderitaan yang tinggal sesaat saja itu merupakan suatu puncak pemuliaan oleh Allah. Allah yang berkenan kepada Yesus tidak membiarkan Yesus masuk dalam suatu penderitaan di luar kehendak-Nya. Yesus tetap berada dalam lingkup Bapa-Nya, sehingga peristiwa penderitaan itu menjadi karya penyelamatan Allah.

Pernyataan Yesus mengenai tinggal sesaat saja itu menimbulkan salah paham di antara para murid. Bagi mereka Yesus akan tetap tinggal bersama mereka. Ia akan mendirikan suatu kerajaan seperti yang dicita-citakan oleh orang Israel. Suatu kerajaan yang bebas dari belenggu penindasan dari penjajah Romawi. Dalam Kerajaan itu mereka akan memperoleh jabatan di sekitar Yesus (bdk. Mat. 4:21-22).

Yesus menjadi tumpuan hidup mereka. Ke mana saja Yesus pergi mereka siap mengikuti. Mereka ingin tetap terlibat dalam karya pewartaan Yesus di dunia ini. Mereka siap memberikan nyawa bagi Yesus (bdk. Yoh. 13:37).

Karena itu, sangat aneh kalau Yesus mengatakan bahwa tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi. Yesus mau ke mana? Apa maksudnya “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku?” (Yoh. 13:36). Bukankah selama ini Yesus selalu pergi bersama mereka?

Dalam pembicaraan tentang tinggal sesaat saja Yesus mengarahkan para murid kepada suatu situasi yang mencekam. Suatu peristiwa yang membuat mereka merasa takut dan seorang diri. Persaudaraan yang selama ini mereka jalin seolah-olah tidak bernilai sama sekali. Benang-benang persahabatan akan berubah menjadi kusam dan kusut. Mereka bagai layang-layang putus yang tercerai-berai kehilangan arah. Mereka terombang-ambing dihempas angin dan gelombang badai yang menerjang terjang. Mengapa? Karena orang yang mengendalikan mereka telah tiada.

Dalam situasi seperti itu mereka akan ditantang untuk benar-benar percaya bahwa Yesus sang guru itu masih tetap berada bersama mereka. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Jadi sabda Yesus di atas seolah-olah suatu ancaman atas kemapanan kelompok Yesus yang sudah begitu mantap bersama Yesus.

Namun Yesus juga menginagtkan bahwa ketidakpastian yang dialami para murid itu hanya bersifat sementara saja. Karena ternyata habis gelap terbitlah terang. Setelah saat yang mencekam itu muncul suatu saat yang membahagiakan. Mereka tidak perlu lama-lama tinggal dalam dukacita yang menakutkan. Ucapan belasungkawa segera diikuti dengan proficiat atas terang benderang yang datang.

Jadi dengan mengungkapkan sabda-sabda di atas, Yesus mengungkapkan dua segi yang saling berkaitan. Di satu segi sebagai murid-murid Yesus, Yesus menghendaki agar mereka selalu siap untuk memberi kesaksian tentang Yesus dan Kerajaan Allah yang dibawaNya. Artinya, siap untuk memasuki saat yang mencekam seperti ditolak, dicemooh, ditindas oleh orang-orang yang menentang kehadiran Yesus. Tetapi di sisi lain Yesus memberikan harapan akan datangnya saat yang membahagiakan bagi mereka yang tetap bertahan dalam namaNya. Jadi ada saat di mana orang masuk dalam solidaritas dengan penderitaan Yesus, tetapi ada saat orang ikut serta dalam kemuliaan kebangkitan Yesus.


Dewasa Ini: Saat Itu Masih Ada


Akhir-akhir ini dunia semakin panas dan ganas. Ribuan bahkan jutaan manusia bergelimang darah terbujur kaku dalam kematian yang mengerikan. Mereka tidak lebih berharga daripada seekor anjung. Mereka bagai nyamuk-nyamuk yang sekali tepuk langsung mati terkulai tak ada yang mempersoalkan. Harkat dan martabat mereka sungguh-sungguh dilucuti moncong-moncong senjata pembasmi kehidupan.

Tibalah saatnya bagi mereka memasuki suatu situasi kegelapan yang paling gelap. Kalau saja masih ada belaskasihan dari sesama, barangkali masih ada air mata yang mengucur deras meratapi kegelapan mereka. Mereka sungguh-sungguh sendirian melintasi jalan penuh gelap gulita. Tiada teman yang dapat melipur lara jiwa mereka yang haus akan uluran kasih. Mereka tertatih-tatih di jalan panjang tak berujung. Sementara itu sorak-sorai, pekik tawa menambah luka-luka batin mereka. Banyak orang memalingkan wajah kepada mereka, tetapi hanya sekilas, karena kehadiran mereka hanyalah pengganggu keamanan dan ketenteraman yang sudah lama tercipta dari percikan darah-darah yang tertumpah di jalan-jalan.

Keadilan dan damai yang didambakan hanyalah sebuah ilusi yang sebentar saja menyejukkan hati yang dahaga. Saat yang datang menjemput mereka adalah saat yang sangat mencekam. Kalau begitu masih adakah harapan akan masa depan yang terang benderang bagi jiwa yang tetap menaruh harapan kepada Kristus?

“Tinggal sesaat saja pula kamu akan melihat Aku,” kata Yesus. Yesus tidak membiarkan manusia yang menaruh harapan padaNya mati konyol dan musna ditelan ketidakpastian. Bagi orang-orang yang demikian, penderitaan memiliki makna yang lebih dalam. Penderitaan bukanlah akhir dari segala-galanya. Justru bagi orang beriman penderitaan merupakan awal dari kebahagiaan yang gilang-gemilang bersama Yesus. Manusia yang menderita itu ikut memanggul salib bersama Yesus menapaki jalan-jalan berbatu menuju puncak kemenangan.

Di dunia ini kecemasan masih saja menggayut di wahaj-wajah manusia modern. Berbagai problem hidup yang dihadapi semakin menambah beban-beban kehidupan. Manusia akut akan masa depannya. Harta kekayaan dikumpulkan agar kenyamanan hidup di hari tua itu sungguh-sungguh terjamin. Maka tidak perlu heran kalau terjadi banyak penyelewengan demi egoisme, korupsi, manipulasi dan nepotisme. Hasilnya adalah penderitaan demi penderitaan baru bagi manusia lain.

Kecemasan dan ketakutan itu justru membawa manusia ke dalam jurang kegelapan. Manusia terjebak dalam terowongan hitam pekat tak berujung yang dibuatnya sendiri.

Dalam situasi seperti ini satu-satunya tindakan adalah pertobatan. Manusia mesti rela meninggalkan kegelapan yang memberikan kebahagiaan semu. Ia mesti berbalik ke jalan yang menar menjadi satu-satunya jawaban bagi suatu harapan untuk ikut serta dalam kemuliaan Kristus. Mengapa perlu bertobat? Karena hidup dalam kemuliaan Kristus menuntut hati yang murni. **



Frans de Sales, SCJ

(2)
Baca juga renungan dari Pastor Antonius Purwono, SCJ (klik disini)

14 Juni 2011

Hati yang Mudah Tergetar




Dr Tira Aswitama awalnya terpanggil menjadi relawan, ketika bencana tsunami meluluhlantakan Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004 lalu. Ia berkata, ”Mendengar dan melihat bencana tsunami itu hati saya tergetar. Dengan izin orangtua, saya pun berangkat ke Aceh. Padahal saya waktu itu baru diwisuda menjadi dokter.”

Tinggal di Aceh selama dua tahun itulah yang mengasah jiwa Dr Tira. Ia mengaku, di dalam dirinya memang ada ”panggilan” untuk membantu sesama. Pengalaman dari Aceh itulah kemudian membuat ia mengambil keputusan yang lebih hebat lagi, yaitu pergi bertugas ke Sudan, Afrika.

Rupanya panggilan untuk menjadi relawan adalah segalanya bagi dokter muda itu. Bahkan untuk pergi ke negeri yang sedang dilanda konflik perang saudara itu ia harus menunda pernikahannya dengan seorang pemudi yang ia cintai.

Tentang pengalamannya di Sudan, ia berkata, ”Ada pengalaman menarik, ketika saya betugas di Sudan. Saya menolong seorang ibu yang akan melahirkan di tengah gurun dengan peralatan seadanya. Tidak hanya itu, suasana di sekitar makin mencekam, karena ada peristiwa tembak-menembak karena perang.”

Karena belum berpengalaman menolong orang melahirkan, Dr Tira mengaku terpaksa menelpon dosennya di Jakarta melalui telepon satelit untuk meminta ‘bantuan’.

Sahabat Sonora, kita hidup dalam dunia yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Bencana alam yang sering menimpa dunia yang kita huni membuat hati orang tergetar untuk membantu para korban. Hati yang mudah tergetar ini mesti senantiasa dipelihara dalam hidup. Hal ini mampu membantu para korban untuk menghadapi hari-hari hidup mereka dengan lebih baik. Ada harapan dari para korban untuk melanjutkan hidup mereka.

Kisah dokter Tira memberi inspirasi kepada kita bahwa ia memiliki kasih sayang yang begitu mendalam terhadap orang lain. Kasih sayang itu mendorong dirinya untuk meninggalkan kesenangan dirinya sendiri. Ia rela mendahulukan kepentingan sesamanya. Ia memberikan dirinya untuk keselamatan hidup orang lain. Tentu saja ini suatu perbuatan yang indah yang mesti dilakukan juga oleh orang-orang lain.

Kalau dunia ini dipenuhi oleh orang-orang seperti dokter Tira, tentu dunia ini menjadi tempat yang damai. Banyak orang akan menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup mereka. Banyak orang terbantu untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam cinta kasih.

Sayang, belum begitu banyak orang yang mampu tergerak hatinya oleh penderitaan sesamanya. Banyak orang masih mengandalkan egoisme dan cinta diri yang berlebihan. Banyak orang terlalu mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa sesama manusia juga membutuhkan uluran tangan dari diri mereka.

Karena itu, hati yang mudah tergetar oleh penderitaan sesama mesti selalu dipupuk terus-menerus. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Hidup yang damai menjadi bagian dari kita semua. Tuhan memberkat. **

Frans de Sales, SCJ


698

14 Oktober 2009

Belajar Mendengarkan Penderitaan Sesama


Seorang pemuda termasuk seorang yang cepat bergaul. Ia seorang yang sangat supel. Ia punya banyak teman di lingkungan sekitarnya. Ia dikenal baik oleh orang-orang di lingkungannya.

Suatu malam, sepulang dari kuliah ia tidak langsung masuk ke rumah, karena ada tetangga yang sedang asyik ngobrol. Lalu ia segera gabung dengan mereka dalam pembicaraan mereka. Ternyata lama-kelamaan ia semakin jauh terlibat. Dan baru ia ketahui bahwa salah seorang temannya pernah menggunakan ekstasi jenis popeye. Ia mengaku tidak pernah merasa ada sugesti (kepingin) untuk mencoba lagi obat-obatan haram itu. Ketika ia tanyakan alasan ia meminum obat-obatan itu, ia mengaku karena malu cintanya ditolak cewek.

Persoalan bagi pemuda itu adalah apakah ia harus menjauhi temannya atau tetap berteman saja seperti biasa? Selama ini ia tidak pernah sekalipun menawarkan obat-obatan itu kepadanya. Yang membuat ia bingung adalah ada tulisan yang mengatakan pergaulan yang jahat merusak diri.

Menerima kehadiran orang lain tidaklah mudah. Apalagi orang yang mesti diterima itu seorang yang berbuat jahat. Kiranya banyak orang akan menolak kehadiran orang yang berbuat jahat itu. Ketika seseorang mau menerima seorang yang berbuat jahat, banyak orang akan menolaknya. Inilah dilema yang sering dihadapi dalam hidup bersama.

Memang, cara yang paling gampang adalah meninggalkan atau menolak teman-teman yang kedapatan melakukan suatu kejahatan. Kenapa pusing-pusing memikirkan mereka? Lagi pula kalau bergaul dengan mereka nanti bisa-bisa kena getah dari tindakan mereka yang ilegal itu. Jangan ambil resiko bila itu membahayakan dirimu. Saya yakin dengan sikap ini selesailah masalahmu.
Namun rasanya jawaban ini bukanlah yang dikehendaki. Orang mesti tanggap dan peka terhadap masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Situasi itu sekaligus mendorong orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesejahteraan masyarakat. Dengan cara ini, orang tidak perlu menjauhi teman-temannya yang melakukan hal-hal yang ilegal.

Manusia diberi bekal untuk berkarya secara konkrit di tengah masyarakat yang sakit. Ini bisa menjadi suatu panggilan untuk berkarya di tengah mereka yang membutuhkan. Kemampuan untuk mendengarkan ‘orang lain’ yang berkisah tentang diri dan perjuangannya bisa menjadi kesempatan untuk membimbing sesama ke jalan yang benar. Membantu mereka keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi.

Dalam masyarakat di mana aspek individualistis dominan, banyak orang tidak mampu mendengarkan penderitaan orang lain dengan baik. Mereka sibuk dengan diri dan masalahnya sendiri-sendiri. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memasang telinga kita untuk setiap bentuk penderitaan sesama. Kita mengulurkan tangan kita membantu mereka. Kita memberi mereka tempat untuk bangkit dari keterpurukan hidup mereka. Kita menerima kehadiran mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ
NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



197