Pages

Tampilkan postingan dengan label kesedihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesedihan. Tampilkan semua postingan

22 November 2013

Bangkit dari Kesedihan dan Penderitaan

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika kesedihan dan penderitaan menimpa diri Anda? Anda tenggelam dalam situasi itu terus-menerus? Atau Anda mau bangkit dari situasi seperti ini untuk menatap hidup yang lebih baik?

Suatu hari, ada seorang pemuda meninggal dunia. Ia menderita leukemia, tetapi tidak pernah ada yang tahu. Ia meninggal secara tiba-tiba. Beberapa hari sebelumnya, ia baru saja melamar gadis pujaannya. Rencananya, tiga bulan kemudian mereka akan menikah. Tragis, pemuda itu begitu cepat meninggal dunia.

Kepergiannya untuk selama-lamanya itu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi orang-orang dekatnya. Orangtuanya begitu sedih menyaksikan peristiwa itu. Sang pacar pun mengalami duka yang mendalam. Ia tidak habis pikir, mengapa orang yang begitu dikasihi itu telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Sang pacar masih menangis selama beberapa hari setelah meninggalnya sang kekasih. Ia begitu sedih. Ia begitu menderita. Ia merasa seolah-olah hidup ini telah berakhir tanpa sang kekasih. Makan tak enak, minum pun tak segar. Ia tetap terpuruk dalam kesedihan yang sangat mendalam. Setiap hiburan yang diberikan kepadanya tidak berguna sama sekali.

Empat puluh hari kemudian, wajah sang pacar masih murung juga. Ia tidak mau bertemu dengan orang-orang. Bahkan sang ibu yang sangat dikasihinya pun ia tidak mau temui. Ia mengunci diri di kamarnya. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling malang di dunia. Kebahagiaan telah direnggut dari dirinya saat sang kekasih meninggal dunia.

Sahabat, penderitaan dan kesedihan boleh saja menimpa diri manusia. Sebenarnya hal-hal ini juga menjadi bagian dari kehidupan manusia. Ada situasi bahagia saat orang mengalami kasih yang begitu besar dari orang-orang di sekitarnya. Tetapi ada juga saat kesedihan dan penderitaan yang melanda hidup manusia.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada orang yang tidak begitu saja menerima kenyataan hidup. Orang menolak kesedihan dan penderitaan yang menimpa dirinya. Orang hanya ingin mengalami hal-hal yang bahagia dan sukacita. Orang hanya mau menerima hal-hal yang baik saja. Yang pahit dan kurang menyenangkan orang ingin cepat-cepat melepaskannya dari hidupnya.

Bisa jadi orang seperti ini kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Orang tidak membuka mata dan hatinya untuk melihat dan mengalami duka nestapa yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah orang berani membuka mata dan hatinya terhadap kesedihan dan penderitaan yang dialami manusia. Ada orang yang kehilangan suami. Ada orang yang kehilangan orang-orang terdekat yang begitu disayangi dalam waktu yang sekejap.

Tetapi orang-orang ini tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaan yang berlarut-larut. Mereka mudah bangkit dari situasi hidup seperti ini. Mereka berani menatap hidup ini dengan penuh optimis. Mereka berhasil keluar dari diri mereka untuk melihat dan menyaksikan kenyataan hidup sehari-hari.

Orang beriman mesti terus-menerus memupuk harapannya pada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan dirinya berjuang sendirian dalam perjalanan hidup di dunia ini. Tuhan memberi kekuatan dan semangat bagi manusia untuk bangkit dari keterpurukan hidup.

Mari kita berusaha untuk keluar dari kesedihan dan penderitaan yang kita alami. Kita buka mata dan hati kita terhadap peristiwa-peristiwa hidup kita. Dengan demikian, kita dapat menangkap makna kesedihan dan penderitaan yang sedang kita alami. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

986

28 Mei 2012

Memulihkan Hidup dari Kesedihan

Saya yakin, dalam hidup ini Anda pernah merasakan kesedihan yang mendalam. Ada banyak alasan yang membuat Anda bersedih hati. Namun Anda mesti bangkit, agar kesedihan Anda tidak menjadi bumerang bagi hidup Anda.

Suatu ketika Raja Daud mengalami pengkhianatan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Absalom, anaknya sendiri, merebut tahtanya. Saat tentara Raja Daud berperang melawan tentara Absalom, Absalom mati di tangan Yoab, panglima dari Raja Daud. Raja Daud sangat sedih mendengar kematian anaknya. Lalu Yoab mencoba untuk mendekati dan menenangkan Daud.

Kendati Raja Daud meratapi kesedihannya, ia perlu mendengarkan nasihat Yoab. Paling tidak ada tiga hal yang disampaikan Yoab kepada Raja Daud. Pertama, Raja Daud harus menghadapi kenyataan. Yoab berkata, “Jangan biarkan kesedihan atas kematian itu menutupi kebenaran, tuanku Raja. Bagi Yoab, kenyataan kadang sangat menyedihkan dan mengecewakan, tetapi orang tidak bisa membiarkan kenyataan itu mengendalikan seluruh hidup dan masa depannya.

Kedua, Yoab menasihati Raja Daud agar tidak mengasihani diri sendiri. Ia berkata, “Semua pikiran tertuju pada dirimu sendiri, kehilangan anakmu. Rasa kasihan pada diri sendiri yang disebabkan oleh rasa bersalah tidak bisa menghapuskan kenyataan bahwa engkau tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan anakmu.” Bagi Yoab, sikap mengasihani diri sendiri sering kali membuat seseorang tidak menghargai dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang berharga. Jika orang terus mengasihani diri sendiri, maka ia tidak punya waktu untuk mengasihani orang lain.

Ketiga, Yoab menasihati raja Daud agar ia meneguhkan mereka yang dekat dengannya. Yoab berkata, “Para pejuang yang berperang melawan musuh lebih dekat denganmu daripada anakmu sendiri. Kesedihanmu atas kehilangan anakmu tidak adil bagi keluarga mereka yang sedang bersedih. Beberapa di antaranya bahkan mati membela engkau.”

Sahabat, pernahkah Anda merasa dikhianati oleh orang yang terdekat dengan Anda? Apa reaksi Anda? Tentu hati Anda terasa sakit. Namun yang pasti Anda masih bisa melanjutkan perjalanan hidup Anda dengan damai dan sukacita. Anda tentu tidak ingin tenggelam dalam kesedihan yang terus-menerus.

Kisah tadi memberikan kita semangat untuk bangkit dari keterpurukan dan kesedihan kita. Raja Daud begitu sedih atas kematian sang pengkhianat yang adalah anaknya sendiri. Ia merasa kehilangan yang sangat besar. Tetapi ia tidak boleh terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Ia mesti bangkit untuk memimpin bangsanya. Ia mesti membangkitkan semangat orang-orang yang setia kepadanya.

Mengapa Raja Daud harus bangkit? Karena kesedihan bisa menular dan menurunkan semangat orang lain, apalagi jika yang sedih itu adalah pemimpin. Respons terhadap kesedihan mempengaruhi orang lain, apakah itu akan melemahkan atau membangkitkan semangat orang lain.

Sebagai orang beriman, kita bisa saja terpuruk dalam kesedihan. Namun yang diharapkan dari orang beriman adalah ia cepat pulih dari kesedihan itu. Dengan demikian, ia menumbuhkan semangat untuk melanjutkan perjalanan hidup ini dengan sukacita. Mari kita berusaha untuk melepaskan kesedihan dalam diri kita untuk hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ
Majalah MOGI

897