Pages

Tampilkan postingan dengan label membantu sesama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label membantu sesama. Tampilkan semua postingan

14 Januari 2014

Membantu Sesama untuk Hidup dalam Damai

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berjumpa dengan orang-orang yang menolak sesamanya? Anda biarkan saja? Atau Anda berusaha mendamaikannya?

Suatu ketika seorang ibu tua mendatangi saya. Di tangannya ia memegang sebuah kantong plastik hitam berisi pakaian-pakaiannya. Air mata terus-menerus bercucuran dari matanya membasahi wajahnya yang penuh keriput itu.

Sambil menyeka air matanya, ia berkata, “Tolong saya, romo. Saya diusir anak saya.”

Saya bertanya kepadanya, “Kenapa ibu diusir?”

Ia menjawab, “Kata anak saya, saya terlalu cerewet. Saya terlalu banyak menuntut. Jadi lebih baik saya tidak tinggal di rumahnya saja.”

Saya berusaha mengerti keadaan ibu itu. Setelah mengetahui nama dan alamat anaknya, saya mengajak ibu itu pulang ke rumahnya. Kami naik becak sampai di depan pintu rumah anaknya. Saya kaget luar biasa. Saya berhadapan dengan sebuah rumah yang besar dengan halaman luas. Pasti penghuninya bukan orang miskin atau pas-pasan.

Dalam hati, saya berkata, “Sayang sekali rumah sebagus ini kurang dihiasi oleh cinta kasih. Masak, seorang anak tega mengusir pergi ibu yang telah melahirkannya? Tetapi inilah kenyataan zaman.”

Sambil mempersilakan saya duduk, ibu muda itu bertanya, “Oh, romo. Baru pertama kali ke sini?”

Saya menjawab, “Yah, pertama kali ini saya ke sini. Mudah-mudahan saya tidak mengganggu. Saya datang mengantar ibu Anda. Dia baru saja mendatangi saya, karena ia mengaku diusir oleh anak kandungnya sendiri.”

Ibu muda itu tampak tegang. Wajahnya yang ceria berubah menjadi pucat.

“Kenapa ibu saya, romo?” ia pura-pura bertanya.

“Yah, ibu Anda membutuhkan kasih darimu. Dia butuh diterima. Anda masih ingat kata-kata Tuhan Yesus sewaktu Ia ditinggikan di atas salib? Tuhan Yesus menyerahkan ibuNya kepada seorang muridNya. Murid itu menerima tanpa banyak kata,” saya mencecar ibu muda beranak dua itu.

Sambil mencucurkan air mata penyesalan, ibu muda itu berkata, “Maafkan saya, romo. Saya kilaf.”

Saya berkata, “Saya mengerti. Tetapi sekarang Anda mesti minta maaf dari ibu Anda. Katakan padanya bahwa Anda masih mencintainya.”

Ibu muda itu langsung memeluk ibunya, sambil berteriak, ia berkata, “Mama.....”

Sahabat, hari itu juga rekonsiliasi pun terjadi. Damai bersemi kembali. Kasih kembali mereka jalin. Sejak itu, saya tidak pernah mendengar lagi percekcokan di antara mereka. Terjadi suatu harmoni di antara mereka, karena mereka saling menerima sebagai murid-murid Tuhan Yesus.

Namun rekonsiliasi itu bukan berjalan tanpa peran Tuhan Allah yang lebih dahulu menerima kehadiran manusia apa pun dosa yang telah mereka perbuat. Tuhan tidak pernah melupakan ciptaanNya. Kalau pun manusia melupakan Tuhan, Allah tidak akan pernah melupakannya.

Nabi Yesaya berkata, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kadungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Benar, Tuhan menghendaki agar kita tidak saling melupakan, karena kita adalah saudara yang mesti saling menerima. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1020

11 Agustus 2011

Tuhan Selalu Membantu Kita melalui Sesama Rata Penuh

Suatu hari seorang pemuda terjatuh. Kakinya terpeleset saat berjalan di trotoar. Lututnya terpelecok. Ia merasakan sangat sakit. Ia berteriak meminta pertolongan. Orang-orang berdatangan mengerumuninya. Lantas empat orang lelaki segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia kemudian dirawat di rumah sakit tersebut dengan jaminan mereka.

Beberapa hari kemudian ia boleh pulang ke rumahnya dengan lutut yang diperban. Keempat orang lelaki itu sudah menghilang dari hidupnya. Namun mereka telah membayar semua biaya perawatannya. Pemuda itu tidak bisa mengerti mengapa di zaman seperti ini masih ada orang yang punya kepedulian yang begitu besar terhadap sesamanya.

Namun pemuda itu tetap bersyukur atas kebaikan keempat lelaki itu. Ia telah menerima kebaikan itu. Ia tidak perlu menderita lebih lama lagi. Apalagi ia sendiri tidak punya banyak uang untuk membiayai pengobatan lututnya. Sebagai gantinya, ia mendoakan mereka, agar Tuhan memberi mereka kesehatan yang baik.

Menurut pemuda itu, bantuan yang ia butuhkan itu berasal dari Tuhan sendiri. Tuhan telah menggunakan sesamanya untuk membantu dirinya. Ternyata Tuhan masih ada. Tuhan tidak meninggalkan dirinya di saat ia sangat membutuhkan bantuan. Tuhan membantunya melalui orang lain, meski ia sendiri tidak mengenal mereka.

Sahabat, kita sering terjebak dalam persoalan-persoalan hidup kita sendiri. Kita tidak tahu bagaimana kita mesti keluar dari persoalan-persoalan itu. Ada yang kemudian lari dari persoalannya. Akibatnya, orang seperti ini merasa selalu dikejar-kejar oleh persoalan hidupnya. Hidupnya menjadi tidak bahagia. Ia menjadi orang yang mudah dikuasi oleh persoalan-persoalan hidup.

Apa yang mesti dilakukan, agar orang tidak melarikan diri dari persoalan-persoalan hidupnya? Yang mesti dilakukan adalah orang membuka hatinya kepada sesamanya. Orang berani meminta bantuan dari sesamanya. Orang mesti yakin bahwa Tuhan bekerja melalui sesama dalam hidup sehari-hari.

Untuk itu, orang mesti berani merendahkan hatinya. Orang tidak boleh menganggap dirinya dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya dengan kekuatannya sendiri. Tuhan telah memberikan sesama bagi hidup kita untuk membantu kita dalam hidup ini. Karena itu, manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup untuk dirinya sendiri. Manusia selalu hidup bersama orang lain.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti selalu menghargai keberadaan sesama di sekitar kita. Kisah tadi memberi kita inspirasi untuk senantiasa menghargai kehadiran sesama itu. Tuhan hadir dalam setiap langkah hidup kita. Tuhan siap memberikan bantuan kepada kita di saat kita mengalami persoalan-persoalan dalam hidup ini. Karena itu, mari kita membuka hati kita kepada Tuhan melalui sesama yang ada di sekitar kita. Kita membiarkan diri kita dibantu oleh Tuhan melalui sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

755

15 Juni 2011

Menyediakan Diri untuk Melayani Sesama





Suatu hari seorang ibu tertegun. Darah di seluruh tubuhnya terasa berdesir lebih cepat. Jarum jam menunjuk pukul 12 tengah malam.

Seorang pemuda sedang menyikat lantai. Di sampingnya tergeletak sebuah ember berisi air. Tak jauh dari situ terdapat cairan pembersih. Mata ibu itu berkaca-kaca. Ia hampir tidak bisa percaya pemuda itu adalah anaknya sendiri.

Ia tidak menyangka anaknya mau melakukan hal itu. Menyikat lantai dan mengepel. Di dadanya masih melekat “celemek” warna hijau dengan sebuah logo yang sangat dikenal: Starbucks. Sudah hampir tiga bulan anaknya magang kerja di Starbucks. Pekerjaan utamanya adalah membuat kopi dan melayani pembeli. Menjelang tutup, bergantian dengan teman-teman sekerjanya, dia menyapu, bersih-bersih, buang sampah, termasuk mengepel atau menyikat lantai.

Menyaksikan anaknya melakukan pekerjaan itu, ada rasa haru yang menyesakkan dada ibu itu. Sudah sejak lama ia ingin anaknya bekerja seperti itu. Beberapa waktu lalu ia pernah sedikit memaksa, agar sang anak melamar di salah satu restoran cepat saji terkenal. Sayang, lamarannya tidak pernah mendapat jawaban. Berkali-kali dicoba, tetapi yang terakhir jawaban yang diterima adalah mereka belum membutuhkan tenaga magang.

Ibu itu mendorong anaknya untuk magang di restoran cepat saji, karena ia ingin sang anak merasakan apa yang dirasakan para pelayan restoran. Ibu itu berkata, “Saya ingin dia berempati terhadap pekerjaan pramusaji. Sebab selama ini dia selalu berada pada posisi yang dilayani. Bagaimana rasanya jika sebaliknya, dia yang harus melayani?”

Setelah gagal magang di restoran cepat saji, sang anak akhirnya diterima magang di Starbucks. Sejak awal ibu itu sudah menyiapkan mental anaknya untuk menerima keadaan terburuk sebagai pelayan: mendapat perlakukan kasar dari pembeli.

Sahabat, seorang guru spiritual mengatakan bahwa ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Ia menyadari bahwa kedatangannya ke dunia ini untuk membawa kebahagiaan bagi manusia. Karena itu, manusia mesti diajar untuk saling melayani. Bukan hanya menunggu untuk dilayani oleh orang lain.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup untuk melayani sesama. Mengapa? Karena ketika saling melayani, kita mau menampakkan sikap kesiapsediaan untuk membantu orang lain. Karena itu, kita mesti belajar untuk saling melayani. Kita mesti belajar untuk menyediakan diri, ketika orang lain membutuhkan pelayanan dari kita.

Sering orang berpandangan bahwa menjadi pelayan itu menjadi orang rendahan. Orang yang martabatnya lebih rendah dari orang lain. Tentu saja pandangan seperti ini pandangan yang keliru. Menjadi pelayan berarti orang menyediakan dirinya untuk membahagiakan orang lain melalui pelayanannya. Orang yang dengan tulus hati mau mengabdikan hidupnya bagi sesama. Karena itu, melayani itu pekerjaan yang mulia. Suatu pekerjaan yang membahagiakan diri dan sesama.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa siap sedia melayani sesama. Artinya, kita mau menyediakan diri dengan setulus hati membahagiakan sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

699

14 Juni 2011

Hati yang Mudah Tergetar




Dr Tira Aswitama awalnya terpanggil menjadi relawan, ketika bencana tsunami meluluhlantakan Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004 lalu. Ia berkata, ”Mendengar dan melihat bencana tsunami itu hati saya tergetar. Dengan izin orangtua, saya pun berangkat ke Aceh. Padahal saya waktu itu baru diwisuda menjadi dokter.”

Tinggal di Aceh selama dua tahun itulah yang mengasah jiwa Dr Tira. Ia mengaku, di dalam dirinya memang ada ”panggilan” untuk membantu sesama. Pengalaman dari Aceh itulah kemudian membuat ia mengambil keputusan yang lebih hebat lagi, yaitu pergi bertugas ke Sudan, Afrika.

Rupanya panggilan untuk menjadi relawan adalah segalanya bagi dokter muda itu. Bahkan untuk pergi ke negeri yang sedang dilanda konflik perang saudara itu ia harus menunda pernikahannya dengan seorang pemudi yang ia cintai.

Tentang pengalamannya di Sudan, ia berkata, ”Ada pengalaman menarik, ketika saya betugas di Sudan. Saya menolong seorang ibu yang akan melahirkan di tengah gurun dengan peralatan seadanya. Tidak hanya itu, suasana di sekitar makin mencekam, karena ada peristiwa tembak-menembak karena perang.”

Karena belum berpengalaman menolong orang melahirkan, Dr Tira mengaku terpaksa menelpon dosennya di Jakarta melalui telepon satelit untuk meminta ‘bantuan’.

Sahabat Sonora, kita hidup dalam dunia yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Bencana alam yang sering menimpa dunia yang kita huni membuat hati orang tergetar untuk membantu para korban. Hati yang mudah tergetar ini mesti senantiasa dipelihara dalam hidup. Hal ini mampu membantu para korban untuk menghadapi hari-hari hidup mereka dengan lebih baik. Ada harapan dari para korban untuk melanjutkan hidup mereka.

Kisah dokter Tira memberi inspirasi kepada kita bahwa ia memiliki kasih sayang yang begitu mendalam terhadap orang lain. Kasih sayang itu mendorong dirinya untuk meninggalkan kesenangan dirinya sendiri. Ia rela mendahulukan kepentingan sesamanya. Ia memberikan dirinya untuk keselamatan hidup orang lain. Tentu saja ini suatu perbuatan yang indah yang mesti dilakukan juga oleh orang-orang lain.

Kalau dunia ini dipenuhi oleh orang-orang seperti dokter Tira, tentu dunia ini menjadi tempat yang damai. Banyak orang akan menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup mereka. Banyak orang terbantu untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam cinta kasih.

Sayang, belum begitu banyak orang yang mampu tergerak hatinya oleh penderitaan sesamanya. Banyak orang masih mengandalkan egoisme dan cinta diri yang berlebihan. Banyak orang terlalu mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa sesama manusia juga membutuhkan uluran tangan dari diri mereka.

Karena itu, hati yang mudah tergetar oleh penderitaan sesama mesti selalu dipupuk terus-menerus. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang menyenangkan. Hidup yang damai menjadi bagian dari kita semua. Tuhan memberkat. **

Frans de Sales, SCJ


698

09 April 2011

Hati yang Mudah Tergerak oleh Penderitaan


Gempa bumi yang meluluhlantakkan Haiti ternyata mengundang perhatian banyak pihak. Salah seorang yang merasa terketuk hatinya untuk membantu sesamanya adalah Shakira. Penyanyi berusia 32 tahun ini ingin turut serta membangun sekolah yang hancur karena gempa bagi anak-anak Haiti.

Januari tahun 2010 lalu Shakira tampil dalam acara televisi bernama Hope For Haiti, yang digelar untuk amal atas prakarsa aktor George Clooney. Namun Secara pribadi, Shakira juga ingin membangun sekolah untuk anak-anak Haiti melalui Yayasan Barefoot yang dikelolanya. Untuk itu, Shakira bekerja sama dengan Architecture for Humanity.

Pelantun lagu ”She Wolf” ini berharap, sekolah yang akan dibangunnya itu bisa menjadi kelanjutan sukses fasilitas pendidikan yang dia bangun di negara asalnya, Kolombia. Fasilitas itu tak hanya menyediakan pengajaran. Tetapi juga gizi dan bimbingan bagi anak-anak yang kekurangan.

Shakira mengatakan bahwa Haiti membutuhkan bantuan segera dan bantuan bagi rekonstruksi jangka panjangnya. Ia berkata, ”Atas alasan itu, kami melakukan bagian kecil kami untuk Haiti, agar anak-anak memiliki kesempatan untuk terus belajar dan tumbuh dengan baik. Saya berharap kami dapat menggunakan hal-hal yang kami pelajari saat bekerja di Kolombia untuk membantu pemulihan anak-anak Haiti. Saat ini Haiti membutuhkan bantuan dari kita semua.”

Sahabat, tentu saja ini suatu kepedulian yang mesti didukung oleh banyak pihak. Hati yang mudah terketuk oleh penderitaan sesama mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Artinya, hati kita mesti mudah tergerak begitu menyaksikan sesama mengalami penderitaan. Penderitaan sesama sebenarnya penderitaan kita juga.

Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah kita mendidik hati nurani kita. Tujuannya agar hati nurani kita selalu memperjuangkan kebaikan sesama. Tidak hanya terkurung oleh kepentingan diri sendiri. Orang yang hanya terkurung oleh kepentingan diri sendiri biasanya punya wawasan yang sempit. Orang seperti ini mempersempit dunia hanya dalam lingkup dirinya saja. Ia tidak berani melangkah lebih jauh dari dirinya itu.

Orang yang mudah tergerak hatinya oleh kebutuhan sesamanya biasanya memiliki wawasan yang lebih luas. Yang ia lihat dalam penderitaan sesama itu bukan sekedar suatu fenomena. Namun penderitaan itu mesti segera diatasi. Dengan demikian, ada suatu sukacita bagi sesama.

Orang yang mampu membahagiakan sesama itu orang yang membawa terang bagi dunia ini. Orang yang menghidupi nilai-nilai kemanusiaan dalam hidupnya sehari-hari. Apa yang dipelajari itu bukan hanya menjadi suatu teori. Tetapi sungguh-sungguh menjadi nyata dalam hidup. Mari kita berusaha untuk memiliki kepedulian terhadap sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

648

23 Februari 2011

Memiliki Hati Baru yang Mudah Tergerak


Suatu hari seorang anak diajak oleh ibunya untuk berbelanja, karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Anak itu sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain. Ia bukan orang yang sabar. Tetapi ia berangkat juga ke pusat perbelanjaan.

Mereka mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita. Sang ibu mencoba gaun demi gaun, tetapi mengembalikan semuanya. Mereka pun mulai lelah. Sang ibu mulai frustasi. Akhirnya, pada toko terakhir sang ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya.

Sang anak yang tidak sabar itu ikut masuk dan berdiri bersama ibunya dalam ruang ganti pakaian. Ia melihat bagaimana ibunya mencoba pakaian tersebut. Dengan susah payah ibunya mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi. Dia tidak dapat melakukannya. Sang yang tidak sabar itu akhirnya jatuh kasihan terhadap sang ibu. Ia pun mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah. Sang ibu pun memutuskan untuk membelinya.

Anak itu berkata dalam hati, “Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.”

Suatu sore, anak itu pergi ke kamar ibunya. Ia meraih tangan sang ibu dan menciumnya. “Kedua tangan ibu ini adalah tangan-tangan yang paling indah di dunia ini. Terima kasih, ibu.”

Sahabat, kita sering kali mengukur kemampuan orang lain dari kemampuan diri kita sendiri. Kita sering kurang peduli terhadap kekurangan dan keterbatasan orang lain. Yang kita kehendaki adalah orang lain juga seperti kita. Kuat seperti kita ketika menghadapi berbagai persoalan hidup. Kita mau supaya orang lain tegar dan punya pendirian yang kuat seperti kita. Padahal tidak semua orang memiliki kekuatan seperti kita.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kepekaan kita terhadap situasi hidup orang lain akan memampukan kita mudah memahami kondisi orang lain. Tetapi kita tidak hanya berhenti pada pemahaman akan kondisi sesama kita. Yang dibutuhkan adalah kita memiliki hati yang baru. Hati yang baru itu hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Hati yang mau membantu sesamanya yang sedang sakit dan menderita.

Hati yang baru seperti ini hati mampu memberikan semangat hidup dan kesembuhan bagi sesama yang menderita. Karena itu, orang beriman mesti senantiasa memiliki hati yang mudah tergerak oleh penderitaan sesama. Orang beriman itu tidak membiarkan sesamanya berlarut-larut dalam penderitaan. Tetapi orang yang mudah tanggap terhadap situasi hidup sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

621

27 Februari 2010

Peduli terhadap Sesama yang Berkekurangan

Suatu hari yang sangat dingin seorang perempuan bangsawan keluar dari istana dan mengemis. Dia mengenakan pakaian compang-camping, kerudung kepala dan membawa sebuah keranjang. Dia ingin menguji cinta kasih dari para tetangganya. Pada beberapa rumah dia diberikan barang-barang yang sama sekali tidak bernilai. Di rumah lain ia dihujani dengan kata-kata kasar. Hanya di satu tempat dia diterima dengan ramah. Dan itu adalah gubuk seorang lelaki miskin. Dia dibawa ke dalam ruang yang hangat dan diberi makanan panas.

Pada hari berikutnya, semua orang yang pernah dikunjungi perempuan itu diundang masuk ke dalam puri. Mereka dihantar oleh para pelayan menuju ruang makan yang besar. Ada kartu nama untuk para undangan itu.

Di tempat duduk masing-masing undangan diletakkan barang-barang yang sama yang telah diberikan kepada perempuan yang menyamar itu. hanya lelaki miskin itu dilayani dengan piring penuh makanan yang lezat.

Beberapa saat kemudian perempuan itu masuk ke ruang makan. Ia menjelaskan kepada para tamunya, “Kemarin untuk menguji cintamu, saya memasuki desa dengan menyamar sebagai seorang pengemis. Hari ini saya melayani Anda dengan barang yang sama dengan yang telah kalian berikan kemarin kepadaku.”

Semua undangan itu sangat terkejut. Mereka merasa bersalah karena telah memperlakukan seorang bangsawan dengan kurang menyenangkan. Tetapi lelaki miskin itu bergembira, karena sudah melayani sesamanya dengan baik. Ia memberi tempat yang layak kepada perempuan itu, ketika ia membawanya ke ruang yang hangat dan memberinya makanan yang panas.

Cinta kasih yang sejati itu bersifat universal yang terbuka untuk semua orang. Berbuat baik kepada sesama itu membawa sukacita bagi yang mengalami kebaikan itu. Inilah bentuk cintakasih itu. Semua orang, pada dirinya sendiri, diberi kemampuan untuk mencintai seperti ini. Karena itu, kebaikan yang merupakan perwujudan cintakasih itu mesti menjadi bagian dari kehidupan seseorang.

Tetapi persoalannya adalah ada orang-orang yang sulit sekali berbuat baik bagi sesamanya. Mereka lebih banyak menuntut agar orang lain berbuat baik untuk mereka. Orang-orang seperti ini mesti belajar untuk memiliki kepekaan terhadap kebutuhan sesama yang hidup di sekitar mereka. Mereka dapat belajar memperhatikan sesamanya yang kekurangan yang memutuhkan bantuan dari mereka. Misalnya, memberi makan orang miskin yang ada di tetangga. Untuk itu, mereka mesti berani untuk keluar dari rumah mereka. Mereka mesti berani mengunjungi orang-orang di sekitar mereka.

Hari ini kita berjumpa dengan begitu banyak orang. Ada yang mungkin sudah memberikan bantuan kepada kita untuk kelancaran semua usaha kita. Ada yang sudah menyapa kita dengan ramah. Ada yang sudah tersenyum kepada kita. Mungkin kita juga sudah mengulurkan tangan kita untuk mereka yang kekurangan. Itulah hidup. Kita mesti saling mengasihi, karena untuk itulah kita telah dilahirkan ke dalam dunia ini.

Mari kita endapkan semua pengalaman baik kita sepanjang hari ini. Semua itu telah membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

334
Bagikan

22 Februari 2010

Membantu Sesama yang Kekurangan Pakaian




Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Suku Anak Dalam di Rantau Kloyang, Muara Bungo, Jambi. Mereka tinggal di hutan, namun biasanya mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka membangun gubuk-gubuk yang sangat sederhana untuk tinggal selama dua minggu atau lebih. Mereka mengumpulkan makanan dari hutan, sebab mereka tidak memiliki sawah atau ladang untuk diolah.

Ketika itu saya berjumpa dengan sebuah keluarga yang anak-anaknya dibiarkan telanjang, karena mereka tidak mempunyai pakaian yang cukup. Saya bertanya kepada anak-anak itu mengapa mereka telanjang. Ibu mereka menjawab, “Kami tidak punya uang untuk beli pakaian. Tambahan pula tidak ada seorang pun yang mau memberi kami pakaian. Jika bapak mempunyai sisa pakaian, berikan itu kepada kami.”

Saya tidak dapat berkata apa-apasetelah mendengar pernyataannya. Saya pulang ke kota Muara Bungo setelah berbincang-bincang dengan beberapa anak dan membuat foto-foto. Beberapa waktu lamanya saya tidak dapat tidur, karena pernyataan ibu itu selalu terngiang di benak saya.

Saya bertanya dalam hati, “Apa yang dapat saya buat bagi mereka?”

Saya tidak punya uang untuk membelikan mereka pakaian. Waktu itu saya juga tidak punya sisa pakaian. Namun suatu hari ada serombongan ibu-ibu yang memberi pakaian yang masih sangat layak pakai. Saya bawa pakaian itu untuk anak-anak Suku Anak Dalam itu.

Di dunia sekarang ini ada begitu banyak orang miskin yang tidak punya pakaian. Kondisi ini bisa menimpa jutaan orang yang mendiami bumi ini. Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita buat untuk sesama yang tidak cukup punya pakaian? Apakah kita akan membiarkan mereka kedinginan di musim hujan, karena tidak punya pakaian yang pantas?

Sebagai orang beriman, melihat kondisi seperti ini tentu membuat hati kita trenyuh. Kita tidak tega membiarkan sesama yang terlunta-lunta, karena ketiadaan pakaian. Karena itu, kita diajak untuk memberi perhatian kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan dari sesamanya.

Orang-orang yang malang seperti ini membutuhkan bantuan yang kita beri dengan kasih dan kegembiraan. Iman yang hidup itu tampak dalam perbuatan nyata. Orang yang menyatakan diri beriman, tetapi tidak berbuat sesuatu untuk sesamanya yang menderita itu bagai tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan kasih sayang bagi sesama.

Saudara, kita beruntung bahwa kita memiliki pakaian yang pantas yang dapat kita gunakan dalam berbagai acara. Karena itu, uluran tangan kasih yang kita berikan kepada sesama yang menderita akan memberi kesempatan bagi sesama untuk melanjutkan hidup ini dengan lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


329
Bagikan

22 Januari 2010

Menerima Sesama Apa Adanya




Suatu pagi, waktu saya masih SMA, saya disenggol oleh seorang pemabuk. Bahkan ia mengumpat-umpat saya dengan sangat kasar. Tidak hanya itu. Ia juga menampar saya dua kali. Saya sama sekali tidak tahu penyebabnya. Yang terjadi adalah saya melintas di jalan menuju rumah orangtua saya. Orang yang mabuk itu baru saja bangun dari tidur di pinggir jalan itu. Rupanya semalam suntuk ia begadang bersama teman-temannya dengan minum arak yang kadar alkoholnya sangat tinggi. Teman-temannya yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan dia sendiri tidak kuat berjalan sampai di rumahnya.

Saya sangat terkejut, ketika dia mengumpat-umat saya. Apalagi dia sampai menampar saya dua kali. Saya tidak mau membalas, karena orang yang berada dalam keadaan mabuk berat biasanya kondisi kejiwaannya setengah sadar. Jadi saya biarkan saja. Yang saya lakukan adalah saya menuntunnya pulang ke rumahnya. Meski dia tetap mengumpat-umpat saya, saya berusaha untuk tidak membalasnya.

Rupanya sikap saya itu berhasil menenangkan orang yang mabuk berat itu. Setelah sampai di rumahnya, saya menyerahkannya ke keluarganya. Istrinya bahkan memarahinya habis-habisan. Ia tidak habis pikir, kalau suaminya masih juga mencicip arak dengan kadar alkohol yang tinggi itu. Bahkan ia mengambil sebatang kayu dan mulai memukuli suaminya.

Melihat hal itu, saya jadi heran. Saya tidak bisa mengerti. Mengapa tidak ada ampun bagi sang suami? Saya malah merasa bersalah, karena telah membawa pulang orang yang mabuk itu ke rumahnya. Kalau saja saya membiarkan dia tetap di pinggir jalan sambil hilang mabuknya, tentu dia tidak akan dipukuli istrinya. Tapi sudah terlanjur.

Dalam hidup ini bisa saja terjadi hal-hal aneh. Orang yang berada dalam keadaan lemah semestinya dibantu. Namun kadang-kadang kita menjumpai ada orang yang begitu kejam terhadap sesamanya. Ia tidak peduli bahwa yang dihadapi itu orang yang menjadi bagian dari hidupnya.

Karena itu, dibutuhkan pentingnya mengampuni dan menerima apa adanya sesama. Sering kali yang terjadi adalah kita terlalu banyak menuntut orang melakukan hal-hal yang baik untuk hidup kita. Kita tidak membiarkan orang itu melakukan sesuatu yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Kita semua menghendaki hidup ini baik dan harmonis. Namun kita juga mesti mengakui bahwa untuk sampai pada suasana seperti itu dibutuhkan suatu perjuangan. Ada kalanya usaha untuk mencapai suasana seperti itu terbentur oleh realitas yang sungguh-sungguh berbeda dengan harapan kita. Untuk itu, kita mesti menerimanya dengan lapang dada sambil berusaha untuk memperbaikinya.

Setiap hari kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita bawa semua itu dalam hidup kita hari ini. Dengan demikian, hari ini menjadi hari yang damai bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

305
Bagikan

27 Desember 2009

Kasih Itu Membahagiakan




Ada seorang tua yang tinggal di tepi sungai. Sungai ini adalah peralihan bagi para bebek dari udara dingin ke udara hangat menjelang musim dingin.

Pada suatu saat menjelang musim dingin, tiba-tiba datanglah angin kencang. Akibatnya, sebagian dari bebek-bebek yang sedang berenang di sungai itu terperangkap ke dalam gua yang terletak tidak jauh dari sungai itu.

Mengetahui hal ini, orang tua yang penuh cinta kasih ini kemudian setiap hari memberi makan bebek-bebek itu. Ia takut kalau bebek-bebek yang berada di dalam gua itu tidak memperoleh makanan dan mati kelaparan. Ia tidak tega melihat bebek-bebek itu tidak bisa bermain-main lantaran tubuh yang lemas. Ia mengulurkan tangan kasihnya untuk bebek-bebek itu.

Karena bebek-bebek itu diberi makan secara rutin setiap hari, mereka sampai lupa untuk pindah ke daerah yang udaranya hangat. Dari tahun ke tahun semakin banyak bebek yang menempati gua itu. Pada suatu hari ketika musim salju tiba, orang tua ini tiba-tiba meninggal dunia dan semua bebek yang berada di dalam gua itu menderita kelaparan.

Orang tua itu sudah tidak lagi memberi mereka makan. Bebek-bebek itu terancam mati dan punah. Namun ada orang lain yang mengunjungi gua itu terharu melihat perjuangan bebek-bebek itu untuk mencari makanan. Ia memulai aksinya dengan setiap hari datang ke gua untuk memberi makan bebek-bebek itu. Kehidupan bebek-bebek itu pun berlanjut. Mereka tidak mati. Mereka boleh meneruskan perjalanan hidup mereka.

Hidup ini dipenuhi dengan kasih yang bertumbuh dan berkembang setiap saat. Orang yang memiliki kasih itu orang yang peduli terhadap keaadaan di sekitarnya. Orang seperti ini tidak tega melihat sesamanya menderita. Begitu ia melihat ada sesamanya yang kekurangan, ia langsung mengulurkan tangan untuk membantu. Baginya, membantu sesama itu rahmat dari Tuhan. Tuhan menggunakan dirinya untuk membantu sesamanya yang menderita.

Banyak peristiwa hidup yang kita alami atau kita jumpai dalam hidup ini. Peristiwa-peristiwa itu membantu kita untuk menyadari bahwa hidup ini mesti terus berlanjut. Hidup ini tidak boleh berakhir dengan penderitaan. Hidup ini mesti terus mengalir dalam kebahagiaan.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita menjadi lebih bernilai bagi sesama di sekitar kita. Hidup seperti ini akan memberikan kepuasan batin dan kebahagiaan bagi kita. Karena itu, orang beriman itu orang yang selalu memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Artinya, ia hidup bukan hanya bagi dirinya sendiri. Tetapi juga bagi sesama yang membutuhkan bantuannya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


273
Bagikan

05 Agustus 2009

Membantu Sesama yang Butuh Bantuan



Suatu ketika dua buah jambangan tertinggal oleh tuannya yang pelupa di pinggir sungai. Yang satu adalah jambangan kuningan yang berkilat indah, yang lain adalah jambangan tanah liat yang tidak begitu keras.

Mengalami kondisi di luar rumah itu, jambangan tanah liat berkata, "Oh, sungguh menyenangkan berada di luar, di bawah sinar matahari!"

Jambangan kuningan tidak mau ketinggalan. Ia berkata, "Ya, lebih baik daripada di atas bufet yang kaku.”

Saat mereka asyik bercakap-cakap datanglah badai. Kedua jambangan itu tersapu ke dalam sungai. Mereka terapung-apung di sungai. Jambangan tanah liat ketakutan. Ia berkata, "Sungguh menakutkan, kalau tahu begini aku di rumah saja. Aku pasti akan tenggelam. Aku hanyalah jambangan yang rapuh."

Jambangan kuningan, sahabatnya, menghibur, "Jangan takut, sahabatku. Aku akan melindungimu. Merapatlah ke sisiku dan aku akan mendorongmu ke pinggir dengan lembut."

Jambangan tanah liat berteriak, "Jangan lakukan itu! Jangan dekat badanku. Jika kita berbenturan, aku akan segera hancur. Aku akan segera lebur menjadi air.”

Dalam hidup ini kita memang membutuhkan bantuan dari orang lain. Mengapa? Karena kita ini manusia yang serba terbatas. Kita dapat menjadi orang yang mampu, kalau sesama kita mengulurkan tangan.

Namun ada kalanya bantuan tidak kita butuhkan untuk kelangsungan hidup kita. Kisah di atas mau menunjukkan bahwa niat baik yang ingin kita berikan kepada sesama belum tentu bermanfaat. Kita perlu melihat situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita. Kita perlu melihat tanda-tanda jaman di sekitar kita. Untuk itu dibutuhkan kepekaan dalam hidup kita.

Orang yang memiliki kepekaan dalam hidup itu orang yang punya kepedulian terhadap sesama. Orang seperti ini tahu apa yang akan ia lakukan terhadap sesama yang membutuhkan bantuannya. Ia tidak sembarang memberikan bantuan. Namun tidak berarti ia mudah menutup diri terhadap kebutuhan orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diharapkan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar kita. Kita mesti berani mengulurkan tangan membantu sesama di kala mereka membutuhkan bantuan kita. Bantuan itu seberapa kecil pun biasanya sangat berarti bagi yang mendapatkannya.

Mari kita memiliki kepekaan terhadap sesama. Kita berikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan. Dengan demikian, ada kebahagiaan dalam hidup sesama kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.(117)