Pages

Tampilkan postingan dengan label damai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label damai. Tampilkan semua postingan

02 Oktober 2014

Hidup yang Damai membawa Sukacita

Hidup yang damai menjadi dambaan setiap orang. Namun orang sering sulit mengalaminya, karena egoisme yang berlebihan.

Di saat-saat terakhir hidup anaknya, seorang bapak mengunjungi anaknya itu di rumah sakit. Sang anak sedang mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia terserang leukimia. Terjadi pembengkakan di levernya. Sudah lama sang ayah tidak bertemu dengan anaknya. Pasalnya, sang ayah sedang merantau.

Lagi pula sang ayah pergi merantau lantaran terjadi percekcokan di antara mereka. Karena itu, beberapa bulan sebelum kematian anaknya ia sudah mendapat kabar. Namun ia tidak mau segera pulang. Ia masih merasakan sakit hati, karena diusir oleh anaknya itu. Tetapi sehari sebelum anaknya itu meninggal, ia tiba-tiba muncul di rumah sakit.

Sial baginya. Hanya lima menit ia berjumpa dengan anaknya. Ia berdoa untuk anaknya. Di ujung doanya, sang anak menghembuskan nafas terakhirnya. Bapak itu tidak habis pikir. Mengapa anaknya begitu cepat pergi sebelum ia sempat mengucapkan kata-kata permohonan maaf?

Ia sangat kecewa. Ia ingin berdamai dengan anaknya. Namun kesempatan itu tidak pernah ia rasakan. Pengampunan tidak pernah meluncur dari mulut anaknya. Semuanya berlalu begitu saja.

Sahabat, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita. Kita sepertinya menunggu akhir hidup kita masing-masing. Kapan akhir hidup itu tiba, kita sama sekali tidak tahu. Karena itu, yang dibutuhkan dari kita adalah kita memiliki hati yang bersih. Yang dibutuhkan adalah hidup yang baik dan berkenan kepada Tuhan dan sesama.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa berdamai dengan sesama mesti selalu tercipta dalam hidup ini. Damai itu kunci dari seluruh perjalanan hidup kita. Ketika kita mengalami damai dan sukacita, dunia ini menjadi suatu tempat yang aman bagi kita. Orang akan menyesal, kalau damai dan pengampunan tidak ia temukan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus memperjuangkan hidup yang damai. Hidup dalam damai itu menyadarkan kita akan kasih Tuhan kepada kita. Tuhan mengampuni dosa-dosa kita, karena Tuhan mengasihi kita. Karena itu, ketika kita berani mengampuni dosa dan kesalahan sesama, kita menciptakan damai bagi sesama. Hidup dalam damai akan membawa kebahagiaan bagi diri kita dan bagi semua orang yang ada di sekitar kita.

Mari kita berusaha untuk senantiasa memperjuangkan damai dalam hidup ini. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu menjadi dasar bagi kita untuk hidup dalam damai. Mengapa? Karena Tuhan itu sumber damai bagi kita. Tuhan memberikan rahmat damai itu bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1159

14 Mei 2014

Ampunilah maka Kita akan Sembuh




Memiliki hati yang lemah lembut membantu orang untuk menemukan damai dan kebahagiaan dalam hidup. Namun sering orang menjadikan hatinya keras seperti batu. Akibatnya, orang sulit sekali mengalami damai dan bahagia.

Seorang gadis merasa kecewa luar biasa, ketika ia harus putus hubungan dengan seorang lelaki pujaannya. Sudah hampir sepuluh tahun membangun relasi, tetapi akhirnya harus mengakhirinya dengan kesedihan. Bukannya kebahagiaan yang diraih dalam hidup, tetapi justru derita batin yang mesti ia bawa terus-menerus dalam hidupnya.

Gadis itu tidak bisa memaafkan tindakan kekasihnya yang memilih gadis lain untuk menjalani hidup perkawinan. Baginya, perbuatan kekasihnya itu sangat menyakitkan hatinya. Ia tidak bisa serta merta mengampuninya.

Karena itu, ia menaruh dendam terhadap mantan kekasihnya itu. Ia memusuhi mantan kekasihnya itu. Ia tidak pernah mau menegurnya di saat berpapasan dengan mantan kekasihnya itu. Ia mendoakan agar mantan kekasihnya itu tidak bahagia dalam hidup perkawinannya. Bahkan kalau boleh, Tuhan memberi mantan kekasihnya itu celaka.

Hidup dalam situasi seperti itu ternyata tidak membahagiakan gadis itu. Bahkan ia merasa selalu dikejar-kejar oleh rasa dendam. Hatinya selalu tidak terasa tenang. Selalu saja ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Lama-kelamaan ia pun mulai menyadari kondisi dirinya. Ia kemudian mendatangi seorang bijaksana. Ia meminta nasihat untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu.

Orang bijaksana itu menganjurkan gadis itu untuk mengampuni mantan kekasihnya. Kalau ia mengampuni mantan kekasihnya itu, ia akan melepaskan diri dari belenggu kebencian yang sedang menerpa dirinya. Setelah gadis itu berusaha untuk mengampuni mantan kekasihnya, hidupnya menjadi lebih baik. Batinnya terasa damai dan bahagia.

Sahabat, orang yang keras hatinya akan memanen hal-hal yang tidak baik dalam hidupnya. Kekerasan hati hanya membuat orang hidup dalam kecemasan. Hati tidak tenang. Hati selalu dikejar-kejar oleh kondisi hati yang tidak baik itu. Karena itu, orang mesti membuang hati yang keras itu. Orang mesti menggantinya dengan hati yang lemah lembut.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hati orang yang keras membuat orang tidak bahagia dalam hidup ini. Orang merasa terancam oleh orang yang menyakiti hatinya. Gadis itu bisa lepas dari situasi hati yang sakit setelah berani mengampuni mantan kekasihnya. Mengampuni orang lain ternyata mengobati dirinya sendiri.

Gadis itu kemudian mengalami damai dan bahagia dalam hidupnya berkat pengampunan tulus dari dirinya bagi mantan kekasihnya itu. Meski kekasihnya tidak tahu tentang pengampunan itu, gadis itu telah mengalami damai dan bahagia. Pengampunan yang tulus itu telah menyelamatkan jiwanya.

Memang, tidak mudah mengampuni orang yang menyakiti hati kita. Namun mengampuni menjadi lebih baik, karena orang dilepaskan dari suasana kebencian dan dendam yang menguasai dirinya.

Orang beriman mesti memiliki hati yang lemah lembut. Hati yang mudah mengampuni sesama yang bersalah terhadap dirinya. Hati yang lemah lembut itu hati yang mampu mengubah suasana hidup. Orang menjadi lebih bahagia dan damai dalam hidupnya. Mengampuni menjadi kunci merebut kebahagiaan dalam hidup.

Mari kita terus-menerus menciptakan hati yang lemah lembut. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup yang damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1095

27 Maret 2014

Senyum Membawa Damai bagi Hidup Bersama


Banyak orang merasa bahwa senyumnya kurang berarti bagi sesamanya. Namun senyum ternyata membawa damai.

Ada seorang istri yang percaya bahwa sesungging senyum akan mengubah hidup suaminya yang berhati keras dan ganas. Setiap kali suaminya pulang kerja, ia siap menyambutnya di depan pintu rumah. Seutas senyum telah ia siapkan. Meski wajah suaminya kadang-kadang tidak menyambut senyum itu, ia tetap tersenyum menyambut kedatangan suaminya.

Disenyumi terus-menerus setiap hari seperti itu, sang suami pun membalas senyum sang istri. Hatinya pun menjadi lembut, tidak keras dan ganas lagi. Suaminya itu belajar untuk mendekati segala sesuatu dengan kelembutan hati. Suami itu berkata, “Hati yang lembut ternyata mampu mengubah pandangan orang. Orang yang semula keras ternyata dapat menjadi lembut.”

Sang istri menemukan damai dalam hidupnya. Ia tidak perlu mengalami kekerasan dalam hidup. Ia merasakan bahwa hidup yang tenang dan damai itu begitu berharga baginya. Ia merasa beruntung. Karena itu, dalam perkumpulan ibu-ibu ia menceritakan pengalamannya. Kaum ibu yang lain pun mengikuti cara yang telah dibuatnya. Hasilnya sungguh luar biasa. Rumah tangga mereka tidak perlu dilanda oleh percekcokan. Damai menaungi keluarga mereka berkat seutas senyum yang meluncur dari hati yang tulus.

Sahabat, damai ternyata dapat dimulai dari seutas senyum tulus yang tersungging di bibir kita. Mereka yang mendapatkan senyum itu mengalami kasih yang terpancar dari senyum yang tulus itu. Karena itu, senyum ternyata sangat berharga bagi hidup manusia. Orang yang sulit senyum menemukan dunia ini begitu keras dan kejam. Bagi mereka, dunia ini mesti ditaklukan dengan kekerasan.

Sayang, banyak orang kurang peduli terhadap senyum. Banyak orang mengabaikannya. Akibatnya, perang dapat terjadi karena hati yang keras. Hati yang membatu dapat menjadi sumber matapetaka bagi hidup bersama. Karena itu, tersenyumlah dalam hidup ini. Tersenyumlah berkali-kali dalam sehari kepada orang-orang yang Anda cintai. Yakinlah bahwa senyum Anda akan mengubah suasana yang beku. Seutas senyum Anda akan membawa sukacita bagi sesama Anda.

Ada pepatah Latin yang berbunyi, ‘Si vis pacem, para belum’. Artinya, kalau Anda ingin damai, siapkan perang. Bagi orang beriman, ungkapan ini tidak berlaku. Orang beriman mesti mengandalkan kelemahlembutan untuk menciptakan damai. Karena itu, seutas senyum yang tersungging di bibir kita menjadi awal damai. Mulailah hari-hari Anda dengan senyum. Hanya dengan cara itu, Anda akan merasakan kasih Tuhan yang hidup dalam diri Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

SIGNIS INDONESIA/Tabloid KOMUNIO


1084

14 Januari 2014

Membantu Sesama untuk Hidup dalam Damai

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berjumpa dengan orang-orang yang menolak sesamanya? Anda biarkan saja? Atau Anda berusaha mendamaikannya?

Suatu ketika seorang ibu tua mendatangi saya. Di tangannya ia memegang sebuah kantong plastik hitam berisi pakaian-pakaiannya. Air mata terus-menerus bercucuran dari matanya membasahi wajahnya yang penuh keriput itu.

Sambil menyeka air matanya, ia berkata, “Tolong saya, romo. Saya diusir anak saya.”

Saya bertanya kepadanya, “Kenapa ibu diusir?”

Ia menjawab, “Kata anak saya, saya terlalu cerewet. Saya terlalu banyak menuntut. Jadi lebih baik saya tidak tinggal di rumahnya saja.”

Saya berusaha mengerti keadaan ibu itu. Setelah mengetahui nama dan alamat anaknya, saya mengajak ibu itu pulang ke rumahnya. Kami naik becak sampai di depan pintu rumah anaknya. Saya kaget luar biasa. Saya berhadapan dengan sebuah rumah yang besar dengan halaman luas. Pasti penghuninya bukan orang miskin atau pas-pasan.

Dalam hati, saya berkata, “Sayang sekali rumah sebagus ini kurang dihiasi oleh cinta kasih. Masak, seorang anak tega mengusir pergi ibu yang telah melahirkannya? Tetapi inilah kenyataan zaman.”

Sambil mempersilakan saya duduk, ibu muda itu bertanya, “Oh, romo. Baru pertama kali ke sini?”

Saya menjawab, “Yah, pertama kali ini saya ke sini. Mudah-mudahan saya tidak mengganggu. Saya datang mengantar ibu Anda. Dia baru saja mendatangi saya, karena ia mengaku diusir oleh anak kandungnya sendiri.”

Ibu muda itu tampak tegang. Wajahnya yang ceria berubah menjadi pucat.

“Kenapa ibu saya, romo?” ia pura-pura bertanya.

“Yah, ibu Anda membutuhkan kasih darimu. Dia butuh diterima. Anda masih ingat kata-kata Tuhan Yesus sewaktu Ia ditinggikan di atas salib? Tuhan Yesus menyerahkan ibuNya kepada seorang muridNya. Murid itu menerima tanpa banyak kata,” saya mencecar ibu muda beranak dua itu.

Sambil mencucurkan air mata penyesalan, ibu muda itu berkata, “Maafkan saya, romo. Saya kilaf.”

Saya berkata, “Saya mengerti. Tetapi sekarang Anda mesti minta maaf dari ibu Anda. Katakan padanya bahwa Anda masih mencintainya.”

Ibu muda itu langsung memeluk ibunya, sambil berteriak, ia berkata, “Mama.....”

Sahabat, hari itu juga rekonsiliasi pun terjadi. Damai bersemi kembali. Kasih kembali mereka jalin. Sejak itu, saya tidak pernah mendengar lagi percekcokan di antara mereka. Terjadi suatu harmoni di antara mereka, karena mereka saling menerima sebagai murid-murid Tuhan Yesus.

Namun rekonsiliasi itu bukan berjalan tanpa peran Tuhan Allah yang lebih dahulu menerima kehadiran manusia apa pun dosa yang telah mereka perbuat. Tuhan tidak pernah melupakan ciptaanNya. Kalau pun manusia melupakan Tuhan, Allah tidak akan pernah melupakannya.

Nabi Yesaya berkata, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kadungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Benar, Tuhan menghendaki agar kita tidak saling melupakan, karena kita adalah saudara yang mesti saling menerima. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1020

19 Juni 2012

Menumbuhkan Cinta yang Tulus

Apa yang akan Anda lakukan kalau orang yang sangat Anda cintai mengalami duka dan derita dalam hidupnya? Anda meninggalkannya sendirian, atau anda mengorbankan hidup Anda bagi dia?

Robertson MCQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel. Sang istri menderita sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak. Muriel seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu.

Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Suatu kali Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel. Di luar kesadarannya, Muriel malah menyerahkan air seninya sendiri kepada suaminya. Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya untuk menghentikannya.

Setelah itu, Robertson menyesal. "Apa gunanya saya memukulnya? Walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah. Namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, Tuhan," ia berkata dalam hatinya.

Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya. Robertson dan Muriel menikah pada 14 Februari 1948. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel. Lantas ia menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Pada malam harinya menjelang tidur, ia mencium dan menggenggam tangan Muriel.

Pada 14 Februari 1995, Robertson memandangi istrinya yang tak berdaya. Ia berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya. Jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam. Biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku.... sayangku...". Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

Sahabat, cinta yang tulus tetap tumbuh dalam hidup sehari-hari. Tidak peduli terhadap berbagai tantangan yang ada. Sakit dan derita bukan menjadi halangan bagi tumbuhnya cinta yang tulus. Justru pada saat-saat sakit dan derita semestinya cinta itu semakin hidup dalam diri setiap orang. Mesti ada solidaritas yang terus tumbuh di saat-saat sakit dan derita menerpa hidup seseorang.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada saat-saat sakit dan derita justru orang membutuhkan cinta yang lebih tulus dan mendalam. Perhatian menjadi suatu bukti tetap hidupnya cinta yang tulus itu. Robertson rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi demi cintanya kepada sang istri yang tak berdaya di atas tempat tidur. Namun pengorbanan itu tanpa sia-sia. Ia mendapatkan balasannya dengan sapaan mesra dari sang istri yang bertahun-tahun lamanya tak terdengar. Itulah sukacita. Itulah damai yang menggayut di hati, meski kata-kata itu sangat minim.

Sebagai orang beriman, kita juga dipanggil untuk senantiasa menumbuhkan cinta yang tulus dalam hati dan hidup kita. Cinta yang tulus itu mesti berbuah. Buahnya adalah kepedulian dan perhatian bagi yang lemah dan tak berdaya. Di saat-saat susah menyelimuti hidup kita, kita butuh cinta yang tulus dari sesama.

Mari kita tumbuhkan cinta yang tulus dalam hidup kita, agar damai menjadi bagian dari hidup kita. Untuk itu, kita butuh memiliki hati yang peka terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Cinta yang tulus dapat tumbuh saat orang membuka hatinya lebar-lebar bagi hidup sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

909

13 Januari 2012

Mengampuni Itu Kekuatan yang Mendamaikan

Adakah hari ini Anda melakukan dosa dan kesalahan? Adakah hati orang-orang yang dekat dengan Anda merasa tertusuk oleh perbuatan atau kata-kata Anda yang tidak menyenangkan?

Ketika Nelson Mandela memegang jabatan sebagai presiden Afrika Selatan, ia menunjuk sebuah komisi untuk menghukum orang-orang yang telah melakukan tindak kekejaman selama berlangsungnya politik apartheid. Setiap pejabat kulit putih yang dengan sukarela menemui pendakwa dan mengakui kesalahannya, tidak akan dihukum.

Suatu hari, seorang wanita dipertemukan secara langsung dengan pejabat yang telah secara brutal membunuh anak laki-laki satu-satunya dan suami yang sangat dikasihi. Ketika ditanya apa yang ingin ia lakukan terhadap pejabat itu, ia menjawab, “Meskipun saya tidak memiliki keluarga, saya masih memiliki banyak cinta untuk diberikan.”

Kemudian ia meminta pejabat itu untuk mengunjunginya secara teratur, supaya wanita itu bisa memperlakukannya dengan penuh kasih. “Saya ingin memeluknya supaya ia tahu bahwa pengampunan saya itu nyata,” kata wanita itu.

Ketika wanita itu menuju tempat saksi, pejabat itu merasa sangat malu dan menyesal sampai ia pingsan. Kepedihan yang ditunjukkan wanita itu bukanlah balas dendam yang penuh dosa, melainkan api pemurnian cinta. Api itu dikaruniakan Tuhan yang dapat memunculkan penyesalan dan perdamaian. Kasih itu memberi dan mengampuni.

Sahabat, dunia akan menjadi lebih damai di kala kita saling memberi kebaikan. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan hanyalah menimbulkan kematian bagi hidup. Kita saksikan kejahatan Presiden Moamar Kadhafi yang dibalas dengan kejahatan Amerika dan sekutunya hanyalah menghasilkan kematian. Banyak rakyat tak berdosa yang mesti mengakhiri hidupnya dengan sia-sia.

Kisah perempuan pengampun tadi memberi kita inspirasi untuk terus-menerus memperjuangkan kehidupan. Caranya adalah dengan menumbuhkan pengampunan yang mendalam di dalam hatinya. Ia telah kehilangan segala-galanya. Ia tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan. Karena itu, ia berani mengampuni pembunuh suami dan anaknya. Ia ingin menyalurkan kasih yang telah ia perolah dari Tuhan kepada sesamanya.

Dalam hidup sehari-hari, kita tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan. Hal ini terjadi karena kita manusia lemah. Kita adalah manusia yang terbatas. Kita boleh saja berjanji untuk tidak melakukan lagi dosa dan kesalahan. Namun kita tetap saja jatuh ke dalam dosa dan kesalahan.

Karena itu, yang kita butuhkan adalah pengampunan. Yang kita butuhkan adalah hati yang penuh belas kasihan mau menerima kita kembali. Kalau kita menuntut atau mengharapkan pengampunan dari orang lain, mengapa kita merasa sulit untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Mengapa kita enggan untuk menerima permohonan maaf dari sesama kita?

Orang beriman mesti selalu punya hati yang berbelas kasih. Orang beriman mesti selalu menimba kasih Tuhan yang senantiasa mengalir dalam hidupnya. Untuk itu, kita mesti selalu membuka hati kita bagi rahmat Tuhan. Dengan demikian, kita mampu mengampuni sesama yang melakukan dosa dan kesalahan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


854

09 Januari 2012

Terus-menerus Mempromosikan Damai


Ada begitu banyak sesama kita yang mengalami penderitaan karena perang. Beberapa waktu lali di Libya terjadi perang yang melibatkan pemimpin negeri itu dengan rakyatnya yang dibantu oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Apa reaksi Anda? Anda diam saja? Atau Anda mau mempromosikan damai?

Yusup Kusnadi dan Kartini adalah TKI pasangan suami-istri asal Indonesia yang berada di Libya pada saat negara tersebut dilanda peperangan. Keduanya pun terpaksa tidur di ruangan bawah tanah untuk menjaga keselamatan diri mereka.

Yusup dan Kartini bekerja untuk seorang pengusaha Libya bernama Dr Hasan Husein Agil, yang memiliki hubungan dekat dengan anak pemimpin Libya, Saiful Islam Kadhafi. Keduanya digaji US$ 500 per bulan secara rutin dan diperlakukan secara baik oleh sang majikan.

Sejak berlakunya no-fly zone dan makin gencarnya serangan pasukan koalisi, kondisi negara pimpinan Muammar Khadafi itu makin mencekam. Akibatnya, kedua TKI asal Cianjur, Jawa Barat, ini terpaksa tidur di ruang bawah tanah bersama keluarga majikan.

Salah seorang staf KBRI Tunis, Muhammad Yazid, berkata, ”Mereka berdua beserta Hasan Husein Agil dan keluarganya tidur di ruang bawah tanah demi menjaga keselamatan akibat peperangan yang terjadi antara tentara pro-Kadhafi melawan pasukan koalisi.”

Menurut Yazid, Yusup dan Kartini telah berhasil dievakuasi oleh KBRI Tripoli yang terus melacak WNI yang masih tertinggal di Libya. Keduanya tiba di ibu kota Tunis dan disambut di Wisma Duta RI pada Kamis (31/3/) malam lalu.

”Evakuasi keduanya dari Libya menuju Tunisia berjalan lancar, meski melewati puluhan check-point sebelum sampai di perbatasan. Pemeriksaan di beberapa check-point cukup ketat, terutama jika pemeriksaan dilakukan oleh tentara pro-Kadhafi,” kata Yazid.

Agar lolos dari pasukan Khadafi, lanjutnya, sopir yang membawa kedua TKI tersebut juga harus menyebutkan nama majikan Yusup dan Kartini. Beruntung, majikan mereka adalah pengusaha terkenal di Libya. Dengan demikian, mobil mereka bisa masuk ke Tunisia dengan selamat melalui pintu perbatasan Ras Jedir.

Sahabat, perang, apa pun bentuknya selalu meninggalkan duka derita bagi kehidupan. Ada begitu banyak korban jiwa. Padahal mereka yang meninggal itu belum tahu tentang persoalan yang sebenarnya. Mereka menjadi korban suatu sistem kekuasaan yang arogan. Suatu sistem kekuasaan yang tidak menghormati kehidupan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa penderitaan karena perang sangat menusuk hati manusia. Orang tidak bisa hidup secara normal lagi. Orang mesti bersembunyi dari ancaman atas kehidupan mereka.

Sebagai manusia beriman, tentu saja kita menolak setiap bentuk perang yang ditawarkan oleh para penguasa. Mengapa demikian? Karena perang menimbulkan jiwa yang pilu. Perang meninggalkan berbagai bentuk kekacauan dalam hidup manusia. Ada manusia tak berdosa yang mesti meninggal sia-sia.

Untuk itu, kita diajak untuk senantiasa berusaha menciptakan damai dalam hidup. Hanya dalam damai, kita mampu membangun hidup yang lebih baik. Hanya melalui damai kita dapat mewujudkan hidup yang lebih baik dalam dunia ini. Mari kita terus-menerus mempromosikan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

850

16 Juli 2011

Dahulukan Karakter Damai



Kisah mengerikan terjadi di daerah Koja, Tanjung Priok, Rabu, tanggal 14 April 2010 lalu. Di jalanan, ribuan warga melempari aparat Satuan Polisi Pamong Praja dan polisi dengan apa saja. Sesekali mengejar petugas, kemudian merampas peralatan mereka. Aparat juga melawan. Mereka bergiliran melemparkan batu ke arah warga. Sesekali menembakkan meriam air atau gas air mata ke kerumunan warga. Kejar-kejaran tak terhindarkan.

Perang kota ini hanya berlangsung di jalan di wilayah Koja, Jakarta Utara. Perang tak terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja yang menjadi tempat perawatan korban-korban luka. Kedua pihak dirawat di satu ruang, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koja. Rumah sakit ini juga menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lelah berperang di jalan.
Rata Penuh
Di RSUD Koja tidak ada permusuhan. Semua yang berada di tempat ini hanya mereka yang memerlukan pertolongan. Pihak rumah sakit mengambil sikap tegas. Caroline, Wakil Direktur RSUD Koja, berkata, ”Kami harap tenang, sabar. Jangan ganggu kami memberi pengobatan. Semua warga akan kami tolong.”

Selama bentrok berdarah itu, kepanikan terpusat di Ruang IGD RSUD Koja. Sanak keluarga menunggu di depan pintu masuk ruangan itu. Hampir semua korban dibawa tim medis dengan ambulans ke ruangan ini. Suasana di IGD RSUD Koja hiruk-pikuk. Selama penantian para korban luka, mereka yang bertikai tak saling bentrok di rumah sakit. Kedua pihak sama-sama bisa menahan diri.

Sahabat, bentrokan fisik selalu meninggalkan kepedihan bagi mereka yang menjadi korban. Ada yang mesti menanggung penderitaan. Peristiwa yang terjadi di Tanjung Priok itu (atau di mana saja) menjadi sebuah bahan refleksi bagi manusia. Rakyat dan pihak yang memiliki kekuasaan mesti merefleksikan peristiwa yang terjadi. Mengapa harus terjadi bentrokan fisik di antara manusia? Bukankah ada cara-cara damai yang mesti dilalui untuk mengatasi bentrok fisik?

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup manusia ini adalah karakter manusia yang senantiasa mendahulukan damai. Tidak gampang menemukan orang yang memiliki karakter seperti ini. Orang mesti berusaha dengan berbagai cara untuk memiliki karakter yang kuat dalam memperjuangkan damai dalam hidup. Ada berbagai tantangan yang mesti dihadapi.

Orang beriman diajak untuk memiliki karakter yang senantiasa mendahulukan damai. Untuk itu, orang beriman mesti menjauhkan dirinya dari permusuhan dan kebencian dalam hatinya. Orang mesti melepaskan diri dari dua hal ini untuk menumbuhkan karakter damai dalam dirinya. Tentu saja hal ini tidak mudah.

Namun kita dapat menyerap contoh dalam tragedi Tanjung Priok dalam kisah tadi. Orang mesti berani untuk saling mengampuni dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


730

18 Maret 2011

Mengandalkan Cinta Kasih dalam Hidup

Siapa tidak kenal Aktris Halle Berry yang kini berusia 43? Tampilannya di film Cat Woman sungguh mempesona. Ia menarik perhatian banyak penonton saat bermain dalam salah satu serial film James Bond atau 007. Namun meskipun ia menjadi salah seorang bintang film tenar, ia masih prihatin terhadap kekerasan dalam rumah tangga yang dialami seseorang.

Kini ia masuk jajaran artis yang ikut menyuarakan kampanye antikekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga. Baginya, kekerasan dalam rumah tangga tak hanya membuat korban terluka. Tetapi juga membuat orang yang menyaksikannya, biasanya anak-anak, menjadi trauma.

Tentang kekerasan, ia berkata, ”Ketika seorang anak melihat ibunya dipukul, ditendang, dan dipukul wajahnya oleh ayahnya, kejadian itu tak hanya membuat anak itu merasa ketakutan. Tetapi ia juga merasa seolah dirinya tak berguna.”

Rupanya kata-kata Berry itu merupakan pengalaman nyata dalam hidup bintang X-Men: The Last Stand tahun 2006 ini. Ia berkata, ”Ayah saya sangat kejam dan kecanduan alkohol. Dia meninggalkan kenangan mengerikan dalam hidup saya.”

Waktu itu, ia mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah ini. Menurutnya, setiap anak yang hidup dalam situasi seperti ini akan mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Mereka cenderung tertutup.

Berry mengaku beruntung, karena ia memiliki seorang guru yang mengenali karakternya. Ia berkata, ”Guru saya melihat kalau saya membutuhkan perhatian. Dia menguatkan saya dengan kasih sayang. Saya merasakan kembali bisa berguna.”

Sahabat, mengapa terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya gampang, yaitu kurang cinta kasih. Semestinya cinta kasih menjadi andalan utama dalam hidup manusia. Namun cinta kasih itu menjadi suram dalam kehidupan rumah tangga. Alasannya adalah masing-masing anggota keluarga hanya mementingkan diri sendiri.

Pelaku kekerasan dalam rumah tangga hanya mengutamakan pemenuhan keinginannya. Ketika keinginan egoismenya tidak terpenuhi, anggota keluarga yang lain menjadi sasaran. Bisa saja kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi terhadap istri, suami atau anak-anak.

Persoalan yang mesti digarap dalam hidup rumah tangga adalah mengapa kurang adanya cinta kasih dalam keluarga itu. Bisa saja terjadi sejak proses terbentuknya sebuah keluarga. Suami istri tidak sungguh-sungguh saling mengenal. Bisa saja yang dikenal ketika masa-masa pacaran adalah hal-hal yang baik saja. Namun sisi-sisi gelap dari kedua orang itu tidak sungguh-sungguh dikenali atau ditemukan. Mungkin mereka saling menyembunyikan sisi-sisi gelap mereka.

Karena itu, sebuah perkawinan yang sehat adalah perkawinan yang sungguh-sungguh dilandasi oleh cinta kasih yang mendalam. Bukan hanya sekedar suka sama suka. Tetapi orang yang menikah itu sungguh-sungguh mengandalkan cinta kasih dalam hidup perkawinan mereka.

Orang yang hidup dalam cinta kasih yang mendalam pasti akan rela menerima kekurangan pasangannya. Tentu saja hal itu terjadi karena ada pengampunan terhadap pasangan yang melakukan dosa dan kesalahan. Mari kita andalkan cinta kasih dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini semakin damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

634

13 Agustus 2010

Berusaha Memiliki Hati yang Tenang dan Damai

Ada seorang gadis yang kurang begitu mudah menerima situasi hidup diri dan keluarganya. Orangtuanya tidak punya pekerjaan tetap, sehingga menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ia memberontak. Hatinya dipenuhi oleh dendam dan benci terhadap situasi itu. Namun ia sendiri tidak bisa berperan untuk mengatasi situasi hidup itu.

Akibatnya, hatinya selalu gundah. Seolah-olah ada setumpuk permasalahan yang sedang menimbun batinnya. Ia tidak bersemangat dalam hidupnya. Tidak ada gairah untuk keluar dari situasi hidup seperti itu. Ia terkurung dalam situasi dirinya sendiri, sehingga tampak tidak ada jalan keluar bagi dirinya.

Suatu hari ia diajak oleh seorang temannya untuk bertamasya. Mereka pergi ke sebuah telaga yang luas. Angin senja itu memberikan kesegaran bagi dirinya. Ia merasa beban-beban hidupnya sedikit demi sedikit mulai lepas.

Sambil berjalan menyusuri telaga itu, temannya itu berkata, ”Kamu lihat telaga yang tenang itu? Begitu indah dan menyenangkan menyaksikan telaga yang tenang dan damai. Hati kita juga semestinya tenang dan damai seperti telaga itu.”

Gadis itu tertegun mendengar kata-kata temannya. Ia merasa disentuh oleh kata-kata itu. Selama ini hatinya selalu gamang memikirkan kondisi keluarganya. Semestinya hatinya itu menjadi tenang, sehingga persoalan yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik.

Hati yang tenang dan damai menjadi titik awal bagi seseorang dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Seringkali keresahan meliputi hati manusia. Orang bingung menghadapi persoalan hidupnya. Orang kurang teguh dalam menemukan yang terbaik bagi hidupnya.

Mungkin orang butuh waktu untuk menenangkan diri. Orang butuh waktu untuk menggali dan merefleksikan pengalaman-pengalaman hidup hariannya. Orang tidak boleh hanya tenggelam dalam dukacita hidupnya. Masih ada secercah harapan bagi hidupnya. Masih ada telaga yang membentang yang mampu membantu manusia untuk menyadari keberadaannya.

Teman gadis itu memberikan suatu penyadaran yang sangat bermakna bagi hidup gadis itu. Ia menunjukkan bahwa hati manusia mesti jauh lebih tenang dan damai daripada telaga. Hati yang tenang dan damai akan membantu manusia dapat menangkap nilai-nilai yang baik dari hidup ini. Kalau orang dapat menciptakan hati yang tenang dan damai, orang akan mengalami sukacita. Orang akan merasakan bahwa Tuhan hadir dalam hidupnya. Tuhan senantiasa ada bersama dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki hati yang tenang dan damai. Hati yang galau menjauhkan kita dari Tuhan yang selalu mencintai kita. Hati yang tenang dan damai membantu kita untuk senantiasa terbuka terhadap suara Tuhan yang berseru kepada kita.

Karena itu, mari kita berusaha menciptakan hati yang tenang dan damai. Dengan demikian, Tuhan dapat tinggal dan menetap di dalam diri kita. Kita akan mengalami sukacita dan damai. Kita dapat memancarkan sukacita dan damai itu kepada setiap orang yang kita jumpai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


469

24 Juli 2010

Damai Mulai dari Seutas Senyum

Ada seorang istri yang percaya bahwa sesungging senyum akan mengubah hidup suaminya yang berhati keras dan ganas. Setiap kali suaminya pulang kerja, ia siap menyambutnya di depan pintu rumah. Seutas senyum telah ia siapkan. Meski wajah suaminya kadang-kadang tidak menyambut senyum itu, ia tetap tersenyum menyambut kedatangan suaminya.

Disenyumi terus-menerus setiap hari seperti itu, sang suami pun membalas senyum sang istri. Hatinya pun menjadi lembut, tidak keras dan ganas lagi. Suaminya itu belajar untuk mendekati segala sesuatu dengan kelembutan hati. Suami itu berkata, “Hati yang lembut ternyata mampu mengubah pandangan orang. Orang yang semula keras ternyata dapat menjadi lembut.”

Sang istri menemukan damai dalam hidupnya. Ia tidak perlu mengalami kekerasan dalam hidup. Ia merasakan bahwa hidup yang tenang dan damai itu begitu berharga baginya. Ia merasa beruntung. Karena itu, dalam perkumpulan ibu-ibu ia menceritakan pengalamannya. Kaum ibu yang lain pun mengikuti cara yang telah dibuatnya. Hasilnya sungguh luar biasa. Rumah tangga mereka tidak perlu dilanda oleh percekcokan. Damai menaungi keluarga mereka berkat seutas senyum yang meluncur dari hati yang tulus.

Damai ternyata dapat dimulai dari seutas senyum tulus yang tersungging di bibir kita. Mereka yang mendapatkan senyum itu mengalami kasih yang terpancar dari senyum yang tulus itu. Karena itu, senyum ternyata sangat berharga bagi hidup manusia. Orang yang sulit senyum menemukan dunia ini begitu keras dan kejam. Bagi mereka, dunia ini mesti ditaklukan dengan kekerasan.

Sayang, banyak orang kurang peduli terhadap senyum. Banyak orang mengabaikannya. Akibatnya, perang dapat terjadi karena hati yang keras. Hati yang membatu dapat menjadi sumber matapetaka bagi hidup bersama. Karena itu, tersenyumlah dalam hidup ini. Tersenyumlah lima kali sehari kepada orang-orang yang Anda cintai. Yakinlah bahwa senyum Anda akan mengubah suasana yang beku. Seutas senyum Anda akan membawa sukacita bagi sesama Anda.

Ada pepatah Latin yang berbunyi, ‘Si vis pacem, para belum’. Artinya, kalau Anda ingin damai, siapkan perang. Bagi orang beriman, ungkapan ini tidak berlaku. Orang beriman mesti mengandalkan kelemahlembutan untuk menciptakan damai. Karena itu, seutas senyum yang tersungging di bibir kita menjadi awal damai. Mulailah hari-hari Anda dengan senyum. Hanya dengan cara itu, Anda akan merasakan kasih Tuhan yang hidup dalam diri Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

448




Bagikan

15 Juli 2010

Berusaha Menerima Apa yang Menjadi Hak



Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki
oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa di daerah ini tingkat stress masyarakatnya rendah. Mereka sangat gemar mengkonsumsi makanan berserat melalui buah-buahan dan sayuran. Alasan lain adalah budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum. Artinya, menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.

Tentu saja survei seperti ini menggembirakan bagi banyak kalangan. Pasalnya, survei ini memberikan suatu optimisme dalam hidup. Suatu bentuk hidup yang teratur akan membantu manusia mengendalikan dirinya. Stress tidak perlu terjadi dalam hidup manusia, kalau manusia tidak serakah dengan cara ingin memiliki segala-galanya untuk dirinya sendiri. Orang tidak perlu merasa resah dalam hidupnya, karena tidak perlu bersusah-susah menaklukkan orang lain dan mengambil harta milik orang lain dengan tidak adil.

Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran
seseorang. Banyak pengalaman telah kita dapatkan dari hal-hal seperti ini. Karena itu, kalau orang ingin sukses dalam hidupnya, ia mesti memiliki cara hidup yang baik. Orang tidak boleh serakah dalam hidupnya. Keserakahan akan membawa manusia kepada ketidakharmonisan dengan sesama. Relasi dengan sesama cepat atau lambat akan mengalami kebuntuan dalam hidup ini.

Relasi yang baik mesti selalu dibangun oleh manusia. Setiap bentuk relasi yang tidak harmonis selalu menghambat perjalanan hidup manusia. Bahkan akan membawa kehancuran dalam hidup manusia itu sendiri. Apakah Anda ingin hancur dalam hidup Anda? Tentu saja kita semua tidak ingin hancur dalam hidup ini. Kita ingin hidup kita selalu mengalami sukacita dan damai. Karena itu, kita mesti menjauhkan rasa iri dan serakah dari diri kita.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita menjadi rahmat bagi sesama. Kita ingin membangun hidup yang harmonis dengan sesama. Kita ingin agar sesama mengalami bahagia dalam hidupnya. Kita tidak ingin bahagia sendirian. Mengapa? Karena Tuhan ingin menyelamatkan semua orang. Tuhan ingin, agar semua orang mengalami kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena itu, tugas setiap orang beriman adalah membawa damai bagi semua orang.

Mari kita berusaha untuk senantiasa membangun relasi yang baik dengan sesama kita. Hidup kita bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup juga untuk sesama kita. Karena itu, kita mesti membantu sesama dalam mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com






Bagikan

18 Juni 2010

Menyadari Keterbatasan Hidup



Seorang anak bercerita tentang maminya yang baik hati. Suatu kali maminya didatangi oleh seorang ibu tua yang miskin. Ia meminta kepada maminya untuk membantu sedikit uang untuk belanja makan. Tanpa pikir panjang, maminya langsung memberikan beras setengah karung yang masih mereka miliki. Ia juga memberikan mie instan, gula dan bahan sembako lainnya.

Melihat hal yang aneh seperti itu, anak itu bertanya kepada ibunya, mengapa ia memberikan semua itu kepada ibu tua yang miskin itu. Ia kuatir akan apa yang akan mereka makan keesokan harinya. Tetapi ibunya mengatakan bahwa ia tidak perlu kuatir akan apa yang akan mereka makan keesokan harinya. Besok punya kesusahan dan kegembiraannya sendiri.

Mendengar kata-kata maminya, anak itu menjadi yakin. Besok pasti ada sesuatu yang dapat mereka makan. Benar. Keesokan harinya, sang mami mendapat kiriman uang dari keluarganya yang tinggal di kota lain. Uang itu bahkan cukup untuk membeli sembako untuk hidup satu bulan.

Banyak orang sering kuatir akan hidup ini. Mereka bingung ketika menghadapi hal-hal yang tidak menentu dalam hidup ini. Akibatnya, mereka mulai mencari solusi pada hal-hal yang tidak masuk akal. Atau orang hanya menunggu apa yang akan terjadi atas dirinya. Orang tidak berani mengambil tindakan yang membantu dirinya keluar dari suatu kesulitan.

Tentu saja hal seperti ini tidak menghasilkan banyak hal untuk mengatasi kesulitan hidup. Orang mesti berusaha keras untuk keluar dari persoalan hidupnya. Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa sebenarnya kita tidak perlu membebani diri dengan kecemasan-kecemasan. Kita mesti membangun keyakinan bahwa hidup ini selalu bergerak terus. Hidup yang bergerak itu memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal yang baik bagi hidupnya.

Apa yang mesti dibuat oleh orang beriman berhadapan dengan kesulitan hidupnya? Orang beriman mesti percaya. Orang beriman mesti membangun iman yang mendalam kepada Tuhan. Artinya, orang mesti mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang tidak bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri. Kita ini manusia yang serba terbatas. Karena itu, bantuan dari Tuhan melalui sesama akan sangat memberikan kita kekuatan dalam mengatasi persoalan hidup kita.

Kisah orang tua yang miskin yang datang meminta bantuan itu menjadi salah satu contoh bagi kita tentang ketergantungan manusia kepada Tuhan dan sesama. Keterbatasan itu memberi kesempatan kepada kita untuk terbuka terhadap bantuan orang lain. Hal ini menunjukkan suatu kerendahan hati. Orang membiarkan dirinya diintervensi oleh orang lain dalam hal-hal yang baik.

Mari kita terus-menerus membuka hati kita pada bantuan Tuhan dan sesama. Dengan demkian, kita akan menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

412

Bagikan

09 Mei 2010

Mendamba Kehidupan yang Damai, Tenteram, Aman





Seorang raja muda ingin menjadi orang baik, bijaksana dan memerintah rakyatnya menurut kehendak Tuhan. Dia mengumpulkan semua orang paling bijaksana dari seluruh kerajaan dan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua kebijaksaan ke dalam buku-buku. Dengan demikian dia dapat membaca dan belajar sendiri bagaimana memerintah dengan baik.

Orang-orang bijaksana itu segera memulai pekerjaan raksasa itu. Sesudah tiga puluh tahun pekerjaan itu baru selesai. Satu barisan unta panjang membawa lima ribu jilid buku berjalan menuju istana. Pada saat itu, raja sudah berusia lima puluh tahun. Ia dipenuhi dengan banyak tugas dan rencana. Dia melihat unta-unta yang bermuatan buku-buku dan berkata, “Saya terlalu sibuk untuk membaca begitu banyak buku. Bawa semua buku ini kembali dan ringkaskan lagi untuk saya.”

Pekerjaan meringkaskan buku-buku itu memakan waktu lima belas tahun. Lantas orang-orang bijaksana itu dengan bangga menghasilkan lima ratus jilid. Ketika mereka menyerahkan kepada raja, ia berkata, “Masih terlalu banyak. Lima puluh cukup.”

Saat itu, banyak orang bijaksana telah meninggal dunia. Tetapi para pengganti mereka meneruskan karya itu. Dalam waktu sepuluh tahun mereka membawa lima puluh buku kepada raja.

Pada saat itu raja sudah tua dan kelelahan. Raja berkata, “Kamu harus dapat meringkaskannya ke dalam satu buku.”

Mereka dapat menyelesaikannya dalam waktu lima tahun. Tetapi ketika mereka membawa buku yang sangat berharga itu kepada raja, itu sudah terlambat. Raja sudah terbaring di dalam ranjang kematiannya.

Suatu pekerjaan yang bernilai akan lebih bernilai lagi kalau memiliki tepat guna. Sering kali orang menciptakan sesuatu yang bernilai harganya, tetapi hanya bisa disimpan untuk dirinya sendiri. Benda itu kemudian karat dan hancur oleh waktu. Tidak berguna bagi kehidupan manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita ingin menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan kita. Kita ingin menciptakan damai, kerukunan dan ketenangan di tengah-tengah masyarakat. Kita yakin, melalui tiga hal ini kita dapat mencapai cita-cita membangun keluarga yang harmonis, aman, sejahtera dan tenteram.

Coba Anda bayangkan, kalau di sekitar Anda selalu terjadi keributan. Misalnya, selalu saja ada orang yang mabuk. Pasti Anda merasa tidak senang. Pasti Anda merasa terganggu oleh teriakan-teriakan orang yang mabuk di malam hari. Padahal di saat-saat seperti itu Anda sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat dari segala kelelahan sepanjang hari.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk menciptakan suatu kehidupan yang damai, tenteram, aman di sekitar kita. Untuk itu, orang berimanlah yang pertama-tama mesti menunjukkan keimanannya dengan hidup yang baik. Misalnya, selalu peduli terhadap lingkungan sekitar, selalu mau ikut berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Kalau hal-hal ini dilakukan, kehidupan yang lebih baik akan dapat tercapai. Orang berimanlah yang mesti memulainya dari lubuk hatinya yang terdalam. Mari kita bawa cita-cita kita untuk memiliki masyarakat yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


372

Bagikan