Pages

Tampilkan postingan dengan label sembuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sembuh. Tampilkan semua postingan

14 Mei 2014

Ampunilah maka Kita akan Sembuh




Memiliki hati yang lemah lembut membantu orang untuk menemukan damai dan kebahagiaan dalam hidup. Namun sering orang menjadikan hatinya keras seperti batu. Akibatnya, orang sulit sekali mengalami damai dan bahagia.

Seorang gadis merasa kecewa luar biasa, ketika ia harus putus hubungan dengan seorang lelaki pujaannya. Sudah hampir sepuluh tahun membangun relasi, tetapi akhirnya harus mengakhirinya dengan kesedihan. Bukannya kebahagiaan yang diraih dalam hidup, tetapi justru derita batin yang mesti ia bawa terus-menerus dalam hidupnya.

Gadis itu tidak bisa memaafkan tindakan kekasihnya yang memilih gadis lain untuk menjalani hidup perkawinan. Baginya, perbuatan kekasihnya itu sangat menyakitkan hatinya. Ia tidak bisa serta merta mengampuninya.

Karena itu, ia menaruh dendam terhadap mantan kekasihnya itu. Ia memusuhi mantan kekasihnya itu. Ia tidak pernah mau menegurnya di saat berpapasan dengan mantan kekasihnya itu. Ia mendoakan agar mantan kekasihnya itu tidak bahagia dalam hidup perkawinannya. Bahkan kalau boleh, Tuhan memberi mantan kekasihnya itu celaka.

Hidup dalam situasi seperti itu ternyata tidak membahagiakan gadis itu. Bahkan ia merasa selalu dikejar-kejar oleh rasa dendam. Hatinya selalu tidak terasa tenang. Selalu saja ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Lama-kelamaan ia pun mulai menyadari kondisi dirinya. Ia kemudian mendatangi seorang bijaksana. Ia meminta nasihat untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu.

Orang bijaksana itu menganjurkan gadis itu untuk mengampuni mantan kekasihnya. Kalau ia mengampuni mantan kekasihnya itu, ia akan melepaskan diri dari belenggu kebencian yang sedang menerpa dirinya. Setelah gadis itu berusaha untuk mengampuni mantan kekasihnya, hidupnya menjadi lebih baik. Batinnya terasa damai dan bahagia.

Sahabat, orang yang keras hatinya akan memanen hal-hal yang tidak baik dalam hidupnya. Kekerasan hati hanya membuat orang hidup dalam kecemasan. Hati tidak tenang. Hati selalu dikejar-kejar oleh kondisi hati yang tidak baik itu. Karena itu, orang mesti membuang hati yang keras itu. Orang mesti menggantinya dengan hati yang lemah lembut.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hati orang yang keras membuat orang tidak bahagia dalam hidup ini. Orang merasa terancam oleh orang yang menyakiti hatinya. Gadis itu bisa lepas dari situasi hati yang sakit setelah berani mengampuni mantan kekasihnya. Mengampuni orang lain ternyata mengobati dirinya sendiri.

Gadis itu kemudian mengalami damai dan bahagia dalam hidupnya berkat pengampunan tulus dari dirinya bagi mantan kekasihnya itu. Meski kekasihnya tidak tahu tentang pengampunan itu, gadis itu telah mengalami damai dan bahagia. Pengampunan yang tulus itu telah menyelamatkan jiwanya.

Memang, tidak mudah mengampuni orang yang menyakiti hati kita. Namun mengampuni menjadi lebih baik, karena orang dilepaskan dari suasana kebencian dan dendam yang menguasai dirinya.

Orang beriman mesti memiliki hati yang lemah lembut. Hati yang mudah mengampuni sesama yang bersalah terhadap dirinya. Hati yang lemah lembut itu hati yang mampu mengubah suasana hidup. Orang menjadi lebih bahagia dan damai dalam hidupnya. Mengampuni menjadi kunci merebut kebahagiaan dalam hidup.

Mari kita terus-menerus menciptakan hati yang lemah lembut. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup yang damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1095

22 Juni 2011

Andalkan Rahmat Penyembuhan dari Tuhan



Seorang gadis bercerita bahwa tahun 2005 merupakan tahun terberat bagi dirinya. Di saat usianya menginjak yang ke-32, ia dinyatakan menderita penyakit Idiopatic Thrombocitopenic Purpura atau ITP. Penyakit itu tidak diketahui penyebabnya. Ia begitu cemas. Ia tidak pernah merasakan sakit. Hanya pada suatu hari sekujur kakinya timbul bintik-bintik merah dan kebiru-biruan.

Beberapa hari kemudian terjadi pendarahan di sela-sela gusinya. Ia takut dan merasa lemas. Lalu ia pergi ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan diri. Begitu darahnya dicek di laboratorium, ternyata trombositnya hanya mencapai sebelas ribu. Padahal manusia normal mesti memiliki sekitar 150.000 - 250.000. Ia langsung dirawat hingga lima hari. Baru sekali itu ia merasakan terbaring lemas di rumah sakit.

Dalam kondisi seperti itu, ia mendapatkan dukungan dari teman-teman dan keluarganya. Mereka senantiasa memberinya semangat. Semangat itu untuk sementara menguatkan dirinya. Beberapa hari kemudian, ia diperbolehkan pulang. Ia menjalani pengobatan di rumah.

Namun baru empat bulan ia menjalani pengobatan, ternyata ia masuk kembali ke rumah sakit. Ia menjalani perawatan lagi. Setiap saat selalu diambil darahnya. Jarum suntik sudah tidak menakutkan lagi baginya. Begitulah seterusnya hingga ia masuk rumah sakit untuk keempat kalinya.

Ia mulai mengerti tentang penyakit yang dideritanya. Ia mencari informasi tentang penyakit yang dideritanya. Ia menemukan bahwa sel-sel darah merahnya terlalu sedikit atau terlalu rendah. Antibodi dalam tubuhnya itu menyerang sel-sel darah itu sendiri. Karena sel darah merah di tubuhnya rendah itulah yang menyebabkan bintik-bintik merah dan terjadi pendarahan.

Gadis itu terus berusaha untuk sembuh dan terbebas dari penyakitnya. Ia mencoba untuk menjadi sehat. Pola hidup sehat senantiasa ia terapkan, pengobatan medis tetap ia jalani.

Sahabat, usaha untuk memperoleh kesembuhan dari suatu penyakit menunjukkan tekad iman yang besar. Orang yang menyerah pada keadaan sebenarnya orang yang kurang beriman. Tuhan telah memberi berbagai potensi yang ada dalam diri untuk terus-menerus memerangi kelemahan. Karena itu, manusia mesti menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memperkuat dirinya.

Kisah tadi mengatakan kepada kita bahwa usaha untuk memperoleh kesembuhan memberi kekuatan kepada gadis itu untuk terus maju. Ia tidak mau menyerah. Ia berusaha untuk mencari cara-cara yang terbaik untuk kesembuhan dirinya. Ia mencari tahu jenis penyakit yang dideritanya. Dengan demikian, ia semakin mengerti dan tahu tentang penyakitnya itu.

Sebagai orang beriman, usaha untuk menyembuhkan diri dari suatu penyakit mesti selalu dibantu oleh rahmat Tuhan. Dalam kondisi sakit, orang mesti berusaha untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan sambil berharap rahmat penyembuhan. Dengan demikian, orang senantiasa mengandalkan kuasa Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


706

06 Mei 2011

Dengan Iman yang Teguh, Menghadapi Sakit dan Penyakit



Sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tentu saja setiap orang pernah mengalami sakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Namun tidak berarti orang menyerah kalah terhadap sakit dan penyakit yang menyerangnya. Berbagai contoh telah memberikan inspirasi bagi manusia untuk berani melawan sakit dan penyakitnya.

Melanie Subono, misalnya, meski berkali-kali menjalani operasi tumor, mengaku tak pernah bersedih. Menurutnya, hidup yang selama ini dia jalani masih jauh beruntung daripada banyak orang lain yang sekadar untuk makan pun susahnya minta ampun.

Perempuan berusia 33 tahun ini berkata, ”Aku masih beruntung meskipun berkali-kali perutku dioperasi. Aku masih bisa kerja, cari duit, dan menikmati hidup ini.”

Terakhir ia baru menjalani operasi pengangkatan tumor satu bulan lalu (Januari 2010). Melanie bercerita, tumor yang bersarang di perutnya seberat lima kilogram dengan panjang sekitar 30 sentimeter.

Tentang tumor satu ini, penyanyi rock ini berkata, ”Awalnya tumor itu hanya satu sentimeter. Anehnya, dalam waktu tiga hari sudah berkembang menjadi 30 sentimeter. Tumor itu tengah diteliti para ahli.”

Ia berharap pengalamannya melawan tumor menjadi inspirasi bagi orang lain, agar tidak menyerah ketika berhadapan dengan penyakit yang sulit disembuhkan.

Sahabat, perjuangan tanpa kenal lelah untuk melawan penyakit yang diderita mesti menjadi bagian dari hidup kita. Banyak orang mudah menyerah kalah terhadap penyakit. Mereka pasrah. Mereka membiarkan saja diri mereka digerogoti penyakit. Padahal berbagai cara dapat ditempuh untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Kisah Melanie Subono dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa berusaha menghadapi sakit dan penyakit yang menyerang kita. Untuk itu, kita mesti punya keyakinan bahwa setiap penyakit dapat dilawan. Kemampuan dan keyaninan ini mesti ditanam erat-erat dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak hanya pasrah ketika diserang oleh penyakit.

Orang beriman itu orang yang tidak begitu saja menyerah kalah pada penyakit. Orang beriman mesti berani berjuang untuk mengalahkan penyakit yang dideritanya. Tentu saja usaha-usaha itu mesti dilandasi oleh iman akan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan senantiasa menyertai manusia. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan berbagai cara dalam mengatasi penyakitnya.

Karena itu, mari kita berusaha terus-menerus untuk menghadapi sakit dan penyakit yang kita derita. Kita berjuang bersama Tuhan. Sambil berjuang, kita pasrahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian, iman kita semakin diperteguh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


672