Pages

Tampilkan postingan dengan label tenang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tenang. Tampilkan semua postingan

11 Februari 2011

Berusaha Memiliki Hati yang Tenang Rata Penuh


Suatu ketika saya kehilangan dokumen yang sangat penting dari komputer saya. Sedianya dokumen itu akan saya bawa ke percetakan untuk dicetak. Sebuah dokumen yang sudah saya disain sebagai sebuah tabloid. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi mungkin karena virus yang telah memakan dokumen saya itu.

Saya mencoba untuk terus mencari hingga tengah malam. Namun tidak juga saya temukan. Saya putuskan untuk matikan komputer dan beristirahat selama satu jam. Selama waktu itu saya tidur terlentang di kantor. Setelah itu, saya bangun. Saya buka komputer dan mencari lagi. Namun nihil. Dokumen yang sangat berharga itu tidak saya temukan.

Saya menjadi kecewa. Saya marah pada diri sendiri, mengapa bisa terjadi seperti itu? Mengapa sesuatu yang sangat berharga yang mau saya bawa keesokkan harinya ke percetakan malah hilang lenyap. Bahkan saya menyalahkan Tuhan, ”Tuhan kenapa Engkau tidak bantu saya? Tuhan, kenapa Engkau biarkan sesuatu yang sangat berharga itu hilang begitu saja?”

Saya kemudian sadar bahwa tidak ada gunanya saya menyalahkan Tuhan atau orang lain. Yang salah adalah saya sendiri. Yang mesti bertanggung jawab adalah saya sendiri. Tidak ada gunanya menyalahkan orang lain. Lebih baik saya mengerjakannya ulang daripada menyalahkan Tuhan atau orang lain. Malam itu juga saya mengerjakan ulang, mendisain tabloid yang hilang itu. Hingga pagi hari saya berhasil mengembalikan bahan-bahan yang hilang itu.

Sahabat, kita semua pasti pernah kehilangan sesuatu yang sangat penting dan berharga dalam hidup kita. Ada yang pernah kehilangan pacar. Ada yang kehilangan istri atau suami. Ada yang kehilangan harta, karena kebakaran atau karena dikorupsi oleh orang lain.

Pernahkah kita menyalahkan Tuhan atau orang lain atas kehilangan hal-hal yang sangat penting dan berharga itu? Atau kita menukik ke dalam diri kita sendiri merefleksikan kesalahan yang telah kita buat?

Yang semestinya kita lakukan adalah kita berusaha menemukan sebab-sebab kehilangan sesuatu yang sangat penting dan berharga dalam hidup kita. Setelah kita menemukan sebab-sebabnya, kita berusaha untuk mengatasinya. Dengan demikian, kita akan menemukan sesuatu yang berguna bagi hidup kita. Kita tidak perlu cepat-cepat menyalahkan pihak lain. Kita tidak perlu panik menghadapi situasi kehilangan itu. Justru kita mesti menghadapinya dengan hati yang tenang.

Karena itu, orang mesti berusaha menciptakan suasana tenang dalam hidupnya. Orang yang memiliki ketenangan hati itu orang yang mampu melangkah pasti untuk menyelesaikan berbagai situasi hidupnya. Orang seperti ini tidak mudah panik. Ia tidak cepat-cepat menyalahkan orang lain, ketika menghadapi suatu persoalan yang mengganggu hidupnya.

Sebagai orang beriman, ketenangan hati merupakan suatu keutamaan yang mesti dimiliki. Damai dan sejahtera dapat tercipta, ketika orang mampu menghadapi setiap persoalannya dengan hati yang tenang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

612

13 Agustus 2010

Berusaha Memiliki Hati yang Tenang dan Damai

Ada seorang gadis yang kurang begitu mudah menerima situasi hidup diri dan keluarganya. Orangtuanya tidak punya pekerjaan tetap, sehingga menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ia memberontak. Hatinya dipenuhi oleh dendam dan benci terhadap situasi itu. Namun ia sendiri tidak bisa berperan untuk mengatasi situasi hidup itu.

Akibatnya, hatinya selalu gundah. Seolah-olah ada setumpuk permasalahan yang sedang menimbun batinnya. Ia tidak bersemangat dalam hidupnya. Tidak ada gairah untuk keluar dari situasi hidup seperti itu. Ia terkurung dalam situasi dirinya sendiri, sehingga tampak tidak ada jalan keluar bagi dirinya.

Suatu hari ia diajak oleh seorang temannya untuk bertamasya. Mereka pergi ke sebuah telaga yang luas. Angin senja itu memberikan kesegaran bagi dirinya. Ia merasa beban-beban hidupnya sedikit demi sedikit mulai lepas.

Sambil berjalan menyusuri telaga itu, temannya itu berkata, ”Kamu lihat telaga yang tenang itu? Begitu indah dan menyenangkan menyaksikan telaga yang tenang dan damai. Hati kita juga semestinya tenang dan damai seperti telaga itu.”

Gadis itu tertegun mendengar kata-kata temannya. Ia merasa disentuh oleh kata-kata itu. Selama ini hatinya selalu gamang memikirkan kondisi keluarganya. Semestinya hatinya itu menjadi tenang, sehingga persoalan yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik.

Hati yang tenang dan damai menjadi titik awal bagi seseorang dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Seringkali keresahan meliputi hati manusia. Orang bingung menghadapi persoalan hidupnya. Orang kurang teguh dalam menemukan yang terbaik bagi hidupnya.

Mungkin orang butuh waktu untuk menenangkan diri. Orang butuh waktu untuk menggali dan merefleksikan pengalaman-pengalaman hidup hariannya. Orang tidak boleh hanya tenggelam dalam dukacita hidupnya. Masih ada secercah harapan bagi hidupnya. Masih ada telaga yang membentang yang mampu membantu manusia untuk menyadari keberadaannya.

Teman gadis itu memberikan suatu penyadaran yang sangat bermakna bagi hidup gadis itu. Ia menunjukkan bahwa hati manusia mesti jauh lebih tenang dan damai daripada telaga. Hati yang tenang dan damai akan membantu manusia dapat menangkap nilai-nilai yang baik dari hidup ini. Kalau orang dapat menciptakan hati yang tenang dan damai, orang akan mengalami sukacita. Orang akan merasakan bahwa Tuhan hadir dalam hidupnya. Tuhan senantiasa ada bersama dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki hati yang tenang dan damai. Hati yang galau menjauhkan kita dari Tuhan yang selalu mencintai kita. Hati yang tenang dan damai membantu kita untuk senantiasa terbuka terhadap suara Tuhan yang berseru kepada kita.

Karena itu, mari kita berusaha menciptakan hati yang tenang dan damai. Dengan demikian, Tuhan dapat tinggal dan menetap di dalam diri kita. Kita akan mengalami sukacita dan damai. Kita dapat memancarkan sukacita dan damai itu kepada setiap orang yang kita jumpai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


469