Pages

Tampilkan postingan dengan label persoalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persoalan. Tampilkan semua postingan

09 Oktober 2015

Banyak Persoalan, Tetap Setia kepada Tuhan

 
Apa yang Anda lakukan ketika duka nestapa mendera hidup Anda? Anda melarikan diri? Anda menyumpahi Tuhan? Anda menyalahkan orang lain?.

Suatu hari, seorang teman mengalami suatu masalah yang menurutnya berat. Ketika berada dalam situasi tersebut, imannya goyah. Ia mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Ia merasa Tuhan tidak hadir dalam hidupnya. Bahkan Tuhan menjauhi dirinya.

Apa yang ia lakukan kemudian adalah ia merasa marah. Ia merasa jengkel, mengapa Tuhan yang ia yakini selalu hadir dalam dirinya itu ternyata tidak buat apa-apa bagi dirinya. Ia bertanya dalam hatinya, “Mengapa Tuhan menjadi jauh? Apa salah saya?”

Namun kemudian ia sadar bahwa sebenarnya Tuhan selalu hadir dalam setiap peristiwa hidupnya. Tuhan hadir melalui orang-orang di sekitarnya. Ia pun menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap Tuhan.

Ia berkata, “Fokus saya terhadap masalah yang sedang saya hadapi membiaskan kasih karunia yang sebenarnya telah Tuhan berikan dalam kehidupan saya. Begitulah yang saat ini sedang terjadi dalam hidup saya. Saya tidak dapat melihat segala hal yang baik dari peristiwa yang menurut saya buruk."

Jangan Panik

Sering orang menjadi panik saat menghadapi persoalan-persoalan hidup. Orang kemudian merasa tidak kuat dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Orang pun mempertanyakan tentang kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Bukan hanya mempertanyakan, tetapi lebih dari itu orang menyangkal kehadiran Tuhan.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap setia kepada Tuhan, meski persoalan demi persoalan kita hadapi dalam hidup ini. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendirian. Tuhan selalu bekerja melalui rohNya dalam diri kita. Bahkan ketika kita tidak menyadarinya, Tuhan memberikan rahmat demi rahmat bagi kehidupan kita.

Memang, kurangnya iman sering membuat orang meragukan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Penderitaan yang dialami dapat membuat orang menolak kehadiran Tuhan. Namun yang mesti disadari adalah Tuhan hadir juga dalam penderitaan manusia. Dalam situasi seperti itu, Tuhan ingin memberikan penghiburan bagi manusia. Tuhan ingin menguatkan manusia.

Karena itu, orang beriman mesti tetap membangun kesetiaan kepada Tuhan dalam hidup ini. Orang mesti tetap yakin bahwa dalam situasi apa pun Tuhan selalu hadir. Tuhan yang hadir itu ingin memberikan yang terbaik bagi hidup ini. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah sikap hati yang terbuka lebar-lebar kepada Tuhan.

Sering saat persoalan atau penderitaan datang, manusia menutup hatinya bagi Tuhan. Manusia merasa bahwa kehadiran Tuhan justru membawa derita. Tentu saja pandangan seperti ini keliru. Mari kita selalu membangun pengharapan kepada Tuhan, karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Dengan demikian, kita boleh mengalami sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ
Tabloid KOMUNIO – Majalah FIAT
Palembang – Kota Asap


1167

13 Juli 2011

Berani Menghadapi Persoalan Hidup


Suatu hari ada seorang pemuda yang datang kepada seorang guru bijaksana. Ia mengaku ia sedang punya persoalan yang sangat sulit ia pecahkan. Persoalannya, ia harus menjalani studi yang tidak ia sukai. Studi yang sekarang ia jalani itu dipaksakan oleh orangtuanya. Karena itu, ia meminta nasihat kepada guru bijaksana itu untuk memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya itu.

Ia berkata, “Guru, saya tidak bisa mengikuti paksaan orangtua begitu saja. Saya ingin studi menurut apa yang saya kehendaki. Jurusan yang saya geluti sekarang tidak saya sukai. Saya mengalami kesulitan yang luar biasa.”

Guru bijaksana itu memandang pemuda itu dengan wajah sedih. Ia menatap dalam-dalam mata pemuda itu. Dalam hati ia bertanya, “Mengapa pemuda ini begitu resah dengan hidupnya?”

Setelah beberapa lama terdiam, pemuda itu berkata, “Guru, bantu saya untuk keluar dari persoalan saya ini. Saya ingin pindah jurusan. Saya tidak kuat lagi.”

Sambil menatap matanya, guru bijaksana itu berkata, “Anakku, saya mengerti sekarang ini Anda sedang menghadapi persoalan. Tetapi apakah Anda tidak berpikir sebaliknya? Kalau dulu Anda sekolah di jurusan ini berdasarkan kehendak orangtua, sekarang Anda mesti berpikir bahwa studi Anda saat ini berdasarkan kehendak Anda. Mengapa? Karena saya tidak ingin Anda lari dari persoalan Anda. Anda mesti menyelesaikannya dengan bijaksana.”

Sahabat, sering orang mudah lari dari persoalan-persoalan yang dihadapinya. Orang tidak berani menghadapi persoalannya itu. Sebenarnya ketika seseorang melarikan diri dari persoalannya, persoalan itu tetap ada dalam dirinya. Persoalan itu akan tetap menjadi ganjalan bagi hidupnya. Karena itu, cara yang terbaik adalah menghadapi persoalan itu hingga tuntas.

Orang yang sering lari dari persoalannya menunjukkan bahwa orang itu tidak bisa bertanggung jawab atas hidupnya. Orang seperti ini lebih mudah meninggalkan setiap persoalan yang dihadapinya. Sebenarnya hal ini merugikan dirinya sendiri. Mengapa? Karena persoalannya menjadi banyak dan bertumpuk-tumpuk. Ia dililit oleh persoalan demi persoalan. Ia menjadi tidak tenang.

Karena itu, orang beriman itu mesti berani menghadapi setiap persoalan yang dihadapinya. Orang beriman itu mesti berani menyelesaikan persoalan demi persoalan yang dihadapinya. Hanya dengan cara ini, orang bertanggungjawab atas hidupnya. Orang tidak gampang melarikan diri dari persoalan-persoalan.

Mari kita berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi dengan lapang dada. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


728

30 Maret 2011

Menukik ke dalam Batin untuk Pecahkan Persoalan

Seorang suami punya masalah dengan istrinya. Ia merasa bahwa istrinyalah sumber segala masalah. Karena itu, ia pergi berkonsultasi kepada seorang konsultan spiritual. Ia tidak ingin kehilangan istrinya. Ia sangat mencintainya. Ia tidak mau keluarganya berantakan. Ia mau agar keluarganya tetap harmonis seperti keluarga-keluarga lain di tetangganya.

Kepada penasihat spiritual itu, lelaki itu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk menjaga keutuhan keluarga saya?”

Konsultan spiritual itu menasihatinya agar ia lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Menurutnya, suami itu hidup seperti orang yang tidak beriman. Ia tidak pernah berdoa dan menjalankan kewajibannya sebagai orang beriman.

Lantas konsultan spiritual itu berkata, ”Bicaralah masalah yang Anda hadapi dengan istri Anda. Mungkin dia mau membuka dirinya. Mungkin dia mau menceritakan persoalan yang dihadapinya.”

Suami itu pulang ke rumahnya. Ia melakukan apa yang disarankan oleh konsultan spiritual itu. Ia banyak merenung dan berdoa. Ia berusaha mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Situasi itu membuat suasana hidupnya berubah. Ia menjadi seorang suami yang lebih pengertian. Ia berusaha untuk lebih lembut terhadap istrinya.

Melihat perubahan situasi itu, istrinya penasaran. Ia berusaha untuk mengimbangi suasana batin suaminya. Hasilnya, keluarga itu kembali harmonis. Kebahagiaan semakin tumbuh di dalam keluarga itu.

Sahabat, dalam hidup ini persoalan-persoalan selalu saja terjadi. Banyak orang lalu menyalahkan orang lain atas persoalan yang dihadapi. Atau menyalahkan situasi-situasi di luar dirinya. Padahal belum tentu orang lain yang salah. Belum tentu yang menyebabkan persoalan atas dirinya itu situasi di luar dirinya.

Kisah tadi mengatakan kepada kita bahwa situasi pribadi seseorang dapat menyebabkan orang itu punya masalah. Ternyata masalah itu ada di dalam diri orang itu. Bukan di luar dirinya. Baru setelah ia mampu berefleksi diri, persoalan-persoalan itu bisa diatasi.

Mengubah diri menjadi hal utama dalam memecahkan persoalan yang terjadi. Orang mesti mampu memiliki suatu kepekaan terhadap situasi pribadinya. Kepekaan itu dapat membantu seseorang mengubah sikap hidupnya yang membahagiakan bagi semua orang yang hidup di sekitarnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani menukik ke dalam batin kita untuk menemukan persoalan yang sesungguhnya. Mempersalahkan orang lain atas persoalan yang kita hadapi hanya membuang-buang energi. Menyalahkan situasi di luar diri kita hanyalah suatu usaha mengalihkan persoalan. Hasilnya tidak akan membantu kita untuk memecahkan persoalan-persoalan yang kita hadapi.

Mari kita berusaha untuk merefleksikan diri kita, ketika suatu persoalan melanda hidup kita. Dengan demikian, kita akan menemukan sukacita dan bahagia bagi diri sendiri dan orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

644

18 Juni 2010

Menyadari Keterbatasan Hidup



Seorang anak bercerita tentang maminya yang baik hati. Suatu kali maminya didatangi oleh seorang ibu tua yang miskin. Ia meminta kepada maminya untuk membantu sedikit uang untuk belanja makan. Tanpa pikir panjang, maminya langsung memberikan beras setengah karung yang masih mereka miliki. Ia juga memberikan mie instan, gula dan bahan sembako lainnya.

Melihat hal yang aneh seperti itu, anak itu bertanya kepada ibunya, mengapa ia memberikan semua itu kepada ibu tua yang miskin itu. Ia kuatir akan apa yang akan mereka makan keesokan harinya. Tetapi ibunya mengatakan bahwa ia tidak perlu kuatir akan apa yang akan mereka makan keesokan harinya. Besok punya kesusahan dan kegembiraannya sendiri.

Mendengar kata-kata maminya, anak itu menjadi yakin. Besok pasti ada sesuatu yang dapat mereka makan. Benar. Keesokan harinya, sang mami mendapat kiriman uang dari keluarganya yang tinggal di kota lain. Uang itu bahkan cukup untuk membeli sembako untuk hidup satu bulan.

Banyak orang sering kuatir akan hidup ini. Mereka bingung ketika menghadapi hal-hal yang tidak menentu dalam hidup ini. Akibatnya, mereka mulai mencari solusi pada hal-hal yang tidak masuk akal. Atau orang hanya menunggu apa yang akan terjadi atas dirinya. Orang tidak berani mengambil tindakan yang membantu dirinya keluar dari suatu kesulitan.

Tentu saja hal seperti ini tidak menghasilkan banyak hal untuk mengatasi kesulitan hidup. Orang mesti berusaha keras untuk keluar dari persoalan hidupnya. Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa sebenarnya kita tidak perlu membebani diri dengan kecemasan-kecemasan. Kita mesti membangun keyakinan bahwa hidup ini selalu bergerak terus. Hidup yang bergerak itu memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal yang baik bagi hidupnya.

Apa yang mesti dibuat oleh orang beriman berhadapan dengan kesulitan hidupnya? Orang beriman mesti percaya. Orang beriman mesti membangun iman yang mendalam kepada Tuhan. Artinya, orang mesti mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang tidak bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri. Kita ini manusia yang serba terbatas. Karena itu, bantuan dari Tuhan melalui sesama akan sangat memberikan kita kekuatan dalam mengatasi persoalan hidup kita.

Kisah orang tua yang miskin yang datang meminta bantuan itu menjadi salah satu contoh bagi kita tentang ketergantungan manusia kepada Tuhan dan sesama. Keterbatasan itu memberi kesempatan kepada kita untuk terbuka terhadap bantuan orang lain. Hal ini menunjukkan suatu kerendahan hati. Orang membiarkan dirinya diintervensi oleh orang lain dalam hal-hal yang baik.

Mari kita terus-menerus membuka hati kita pada bantuan Tuhan dan sesama. Dengan demkian, kita akan menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

412

Bagikan

03 Oktober 2009

Menemukan Solusi atas Persoalan


Suatu senja, seorang laki-laki mengendarai seekor kuda menuju ke laut dan sampai di sebuah penginapan. Ia turun dari kuda dan dengan keyakinan seperti pengendara lain yang menuju ke laut malam itu, ia menambatkan kudanya di sebatang pohon di samping pintu dan memasuki rumah penginapan.

Tengah malam, ketika semua sedang tidur, seorang pencuri datang dan mencuri kuda pengembara itu. Di pagi harinya, laki-laki itu bangun dan mendapati kudanya telah dicuri orang. Ia sangat bersedih hati karena kudanya. Mengapa ada orang yang tega mencurinya? Kemudian, tamu-tamu lain yang tinggal di penginapan itu datang mengerumuninya dan mulai berbicara.

Laki-laki pertama berkata, “Betapa bodohnya kamu menambatkan kuda di luar kandang.”

Laki-laki kedua berkata, “Lebih bodoh lagi karena tak kauikat kaki kuda itul"

Laki-laki ketiga berkata, “Terlampau bodoh menuju laut dengan mengendarai kuda.”

Dan yang keempat berkata, “Hanya kaki kudalah yang lamban dan malas.”

Pengembara itu semakin heran. Kemudian ia berteriak, “Sahabat-sahabatku, karena kudaku dicuri, kalian buru-buru mencerca kesalahan dan kekuranganku. Tapi aneh, tak satu kata pun kalian ucapkan untuk menyalahkan orang yang telah mencuri kudaku.”

Mengeritik orang lain itu sering terjadi dalam hidup manusia. Orang sering merasa dirinya yang paling baik dan benar. Ia tidak menyadari bahwa apa yang dikritiknya itu sebenarnya tidak mampu ia lakukan. Ada orang yang hanya bisa mengkritik orang lain. Apa saja yang dibuat oleh orang lain dianggap salah.

Kisah tadi menunjukkan bahwa orang mesti hati-hati dalam mengkritik sesamanya. Orang mesti berani memberi solusi-solusi, tidak hanya mengkritik sesamanya. Sebenarnya kritik itu baik sejauh kritik itu membangun atau memperbaiki situasi yang kurang beres menjadi beres. Sebuah kritik yang tidak memberi kemajuan dalam hidup bersama hanyalah sebuah kritik yang tidak bermakna.

Sebagai orang beriman, kita mesti menyadari diri kita sendiri. Kita boleh saja mengkritik kalau kritik itu memberikan suatu kemajuan dalam hidup bersama. Kritik yang baik selalu memberi kemungkinan-kemungkinan bagi pembangunan hidup bersama. Kita tidak begitu saja mengkritik perbuatan orang lain. Sebelum kita mengkritik, kita mesti tahu lebih dulu apakah kritik itu mampu memberi manfaat bagi hidup bersama atau tidak.

Kalau sebuah kritik hanya memecah belah hidup bersama, kita mesti bertanya diri apakah kritik kita itu relevan atau tidak. Karena itu, mari kita membangun suatu hidup bersama yang baik. Kita beri solusi-solusi yang baik terhadap setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup bersama. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


186

01 September 2009

Selesaikan Persoalan dengan Hati yang Dingin



Ketika Chung Tzu sedang berjalan-jalan, ada seorang pemuda menghampirinya. Pemuda itu meminta bantuannya untuk mengatasi sifat buruknya. Tanya Chung Tzu, “Apa masalahmu?”

Pemuda itu menjawab, “Guru, aku ini orang yang sangat emosional. Aku cepat marah. Bagaimana caranya menghentikan sifat buruk ini, Guru?”

Chung Tzu berkata lagi kepada pemuda itu, “Tunjukan kemarahanmu itu kepadaku. Mungkin itu akan sangat menarik.”

Pemuda itu menjawab, “Aku sedang tidak marah saat ini. Jadi aku tidak bisa menunjukkannya kepadamu.”

Kata Chung Tzu, “Baiklah. Bawalah saja padaku, kalau suatu saat nanti kamu sedang marah.”

Pemuda itu mulai mengeluh kepada gurunya, “Tetapi aku tidak bisa membawanya kepadamu. Tentulah kemarahanku itu hilang, ketika kubawa kepadamu.”

Dengan bijak, Chung Tzu berkata lagi, “Jika demikian, menurutku, kemarahan itu bukanlah bagian dari dirimu. Maka jika bukan merupakan bagian dari dirimu, pastilah sifat burukmu itu datang dari luar. Jadi jika suatu saat nanti kamu marah lagi, pukullah dirimu sendiri dengan tongkat hingga rasa marah itu hilang. Dengan demikian sifat burukmu juga akan hilang.”

Sering kita mengeluh tentang persoalan yang sebenarnya tidak ada dalam diri kita. Kita begitu dalam memperhatikannya. Seolah-olah hal itu begitu penting. Seolah-olah hal itu yang sangat mendominasi hidup kita. Akibatnya, kita menjadi panik. Bisa-bisa menjadi stress, karena terlalu memikirkan hal itu. Siapa yang kemudian akan menderita? Kita sendiri.

Karena itu, kita mesti membedakan antara persoalan yang berasal dari dalam diri kita sendiri dan persoalan yang berasal dari luar diri kita. Kita mesti secara kritis menilai persoalan-persoalan itu. Lalu kita susun strategi-strategi untuk mengatasinya. Kita cari akar persoalan yang datang dari luar diri kita. Lalu segera kita selesaikan dengan hati yang dingin.

Lantas persoalan yang berasal dari dalam diri kita pun kita usahakan untuk diselesaikan dengan baik. Mungkin kita butuh bantuan orang-orang lain untuk melihat secara jeli persoalan yang sedang kita hadapi. Untuk itu, dibutuhkan suatu kerendahan hati. Kita mesti membuka hati kita lebar-lebar, sehingga persoalan yang ada dalam diri kita dapat diselesaikan dengan baik.

Sebagai orang beriman, kita ingin menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita bersama Tuhan. Kita ingin melibatkan Tuhan dalam suka dan duka hidup kita. Tuhan akan membantu, kalau kita berani membuka diri kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.153

08 Agustus 2009

Menghargai Hal-hal Kecil



Suatu hari, sebuah speedboat macet di tengah sungai yang lebar. Speedboat yang tampak perkasa itu tidak bisa melanjutkan perjalanan. Puluhan penumpang mulai merasa tidak nyaman. Namun mereka tidak bisa meninggalkan kendaraan air tersebut. Tidak ada speedboat yang dekat, sehingga mereka tidak bisa pindah dari speedboat yang macet itu. Anak-anak bayi mulai menangis karena panas. Beberapa penumpang mulai mengumpat dan menyalahkan sopir speedboat.

Ternyata mesin mengalami persoalan. Karet mesin putus. Tidak ada cadangan. Bagaimana bisa keluar dari permasalahan itu? Tidak mungkin berjam-jam terapung-apung di atas air tanpa kepastian. Tiba-tiba seorang anak kecil mengulurkan dua karet gelang miliknya.

Namun apalah artinya dua karet gelang untuk sebuah mesin speedboat? Sopir speedboat tersenyum sinis. Ia menganggap remeh pemberian anak kecil itu. Namun anak kecil itu meyakinkannya bahwa karet gelang itu dapat berguna untuk menyelamatkan semua penumpang. Beberapa saat kemudian sopir speedboat itu mengambil dua karet gelang itu dan memasangnya pada mesin. Begitu ia menghidupkan mesin, speedboat itu hidup. Ia pun siap melanjutkan perjalanan. Puluhan penumpang itu bisa selamat. Mereka pun dapat meninggalkan tempat itu yang bisa saja menjadi malapetaka bagi mereka.

Sering kita meremehkan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Kita merasa bahwa yang kecil itu belum tentu dapat memberikan suatu kontribusi yang besar terhadap hidup manusia. Namun kisah dua karet gelang milik seorang anak kecil itu sungguh-sungguh sebuah peristiwa yang menyelamatkan. Ini sebuah mukjijat dalam hidup manusia.

Karena itu, melalui kisah di atas kita diajak untuk senantiasa menghargai yang kecil dan tampaknya tak berguna. Hal yang kecil itu ternyata mampu memberikan sesuatu yang begitu besar bagi hidup manusia. Bahkan hal-hal yang kecil dapat menyelamatkan kehidupan manusia.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hal-hal yang kecil yang ada di sekitar kita bermanfaat bagi hidup kita. Penghargaan terhadap hal-hal kecil itu suatu keutamaan dalam hidup kita. Di dalam diri kita juga ada hal-hal yang kecil yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup kita. Tuhan menciptakan semua hal kecil itu bukan tanpa tujuan. Tuhan menciptakan hal-hal kecil itu untuk kita gunakan bagi kelangsungan hidup kita.

Untuk itu, kita mesti selalu memiliki kepedulian terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Mari kita memberi penghargaan dan penghormatan terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
121

22 Juli 2009

Mengutamakan Kelemahlembutan


Seorang guru bijak selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu menggunakan kelemahlembutan. Kekerasan sama sekali tidak boleh digunakan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Menurut guru itu, setiap bentuk kekerasan hanya mendatangkan luka yang tak tersembuhkan.

Terhadap pengajarannya ini, salah seorang muridnya protes. Dia berkata, “Bahkan ketika orang itu mengancam hidup kita?”

Guru itu menjawab, “Benar. Berikanlah hidupmu tanpa kekerasan kalau orang meminta.”

Murid itu bertanya, “Juga kepada mereka yang jahat pada kita?”

Dengan singkat guru bijak itu menjawab, “Ya.”

Para muridnya menjadi bingung dan jengkel dengan ajaran guru bijak ini. Sementara mereka mendiskusikan pengajaran guru mereka, pondok mereka diserang dan dibakar oleh musuh. Mereka kalang kabut. Beberapa murid tewas tertikam pedang dan terpanggang.

Ketika penyerang takut dan lari terbirit-birit, karena yang diserang tidak melawan, guru bijak itu berkata kepada yang masih hidup, “Betapa jauh lebuh porak poranda dan makan banyak korban kalau kita angkat senjata.”

Bagi mereka yang mengandalkan balas dendam, pandangan guru bijak ini tentu sangat bodoh. Bagi orang seperti ini, lebih baik yang jahat dibalas dengan kejahatan. Namun yang ditunjukkan oleh guru bijak dalam kisah di atas justru suatu tindakan tanpa kekerasan ketika menghadapi kekerasan.

Dalam hidup kita sehari-hari terjadi banyak kekerasan. Ada kekerasan dalam rumah tangga di mana suami menganiaya istri. Atau ibu menganiaya anak-anak atau pembantu. Ada kekerasan yang dilakukan oleh para preman yang memaksa penduduk untuk menyerahkan milik kepunyaan mereka. Kekerasan itu sering terjadi ketika kebutuhan hidup manusia tidak terpenuhi. Orang mudah melakukan kekerasan terhadap sesamanya.

Sebagai orang beriman, apa yang mesti kita lakukan? Bagi kita, kita mesti mengandalkan kelemahlembutan dalam hidup ini. Kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru kekerasan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru. Banyak korban akan berjatuhan, kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus mengajak murid-muridNya untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Tetapi ia menjauhkan hukum balas dendam. Tidak boleh lagi dilaksanakan hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang beriman mesti mengandalkan kasih dalam hidupnya. Kasih mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk selalu hidup dalam suasana kasih. Dengan demikian kita dijauhkan dari tindakan kekerasan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (96)