Pages

Tampilkan postingan dengan label masalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masalah. Tampilkan semua postingan

17 Januari 2013

Banyak Masalah, Tetap Setia kepada Tuhan



Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda mengalami kegalauan dalam hidup beriman Anda? Anda acuh tak acuh terhadap Tuhan? Atau Anda membuka diri Anda untuk menerima kasih karunia Tuhan?

Suatu hari seorang teman mengalami suatu masalah yang menurutnya berat. Ketika berada dalam situasi tersebut, imannya goyah. Ia mulai mempertanyakan peranan Tuhan di dalam hidupnya. Seingat dia, tidak pernah ada kata-kata berkat yang keluar dari mulutnya ketika itu.

Perhatiannya terhadap masalah yang sedang dihadapinya membiaskan kasih karunia yang sebenarnya telah Tuhan berikan dalam kehidupannya. Ia menjadi ragu-ragu untuk beriman. Ia tidak mau mendengarkan suara Tuhan lagi. Apa yang dia lakukan adalah menuruti keinginan dirinya sendiri. Hal itu berarti mengikuti kemauannya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Akibatnya, ia tidak mau berdoa. Ia menjadi orang yang malas untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Teman itu berkata, “Saya menjadi acuh tak acuh terhadap Tuhan dalam hidup saya. Saya merasa Tuhan tidak peduli terhadap hidup saya. Saya pun mengumpat-umpat Tuhan.”

Dalam kondisi seperti itu, teman saya itu mengaku ia semakin kehilangan rahmat Tuhan. Mengapa? Karena hatinya tertutup oleh belas kasihan Tuhan. Ia menolak kasih Tuhan yang begitu besar kepadanya. Padahal Tuhan senantiasa melimpahkan berkatNya, meski manusia tidak pernah memintanya.

Teman itu berkata, “Akhirnya saya sadar. Tuhan ternyata begitu baik. Tuhan terus-menerus mengejar saya dengan kasihNya. Saya menyerah. Saya mendengarkan kehendak Tuhan. Saya mau mengalami keselamatan dalam hidup ini.”

Sahabat, banyak orang merasa kuat dalam perjalanan hidupnya. Mereka merasa bahwa mereka dapat melakukan segala sesuatu tanpa bantuan Tuhan. Mereka mencari jalan mereka sendiri. Kondisi seperti ini tentu saja sangat memprihatinkan dalam hidup beriman. Orang semestinya sadar bahwa hidupnya merupakan anugerah dari Tuhan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa iman kepada Tuhan mesti senantiasa hidup dalam kenyataan sehari-hari. Ada banyak tantangan dalam hidup beriman. Ada rasa bosan. Ada rasa ragu-ragu tentang penyerahan diri kepada Tuhan. Tetapi orang mesti sadar bahwa hidup ini diselenggarakan oleh Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia mesti berpasrah diri kepada Tuhan.

Untuk itu, orang beriman mesti senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tuhan selalu hadir dalam setiap sepak terjang kehidupan ini, meski manusia kurang merasakannya. Tuhan bekerja di dalam diri manusia melalui rohNya. Tuhan memberi semangat dan dorongan, agar manusia tetap bertahan dalam imannya kepada Tuhan.

Persoalan hidup yang dihadapi dalam perjalanan hidup ini semestinya tidak melemahkan iman manusia. Semestinya persoalan hidup itu terus-menerus memacu manusia untuk tetap setia kepada Tuhan. Manusia mesti tetap bertahan dalam imannya, karena Tuhan tetap setia pula menyertai manusia. Mari kita tetap setia kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk mengalami kasih setia Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

931

27 Maret 2012

Menghadapi Masalah Hidup Bersama Tuhan

Apa yang menjadi penghalang bagi Anda untuk maju? Ketika Anda menghadapi persoalan hidup, apa yang akan Anda lakukan? Anda terpuruk dalam persoalan itu? Atau Anda bangkit untuk menghadapinya bersama Tuhan?

Namanya adalah Roger Crawford. Ia bekerja sebagai konsultan dan pembicara motivator bagi banyak perusahaan fortune 500 di penjuru Amerika. Ketika masih di universitas, ia adalah pemain tenis untuk Marymount Layola University dan menjadi pemain tenis profesional.

Roger dilahirkan dengan kondisi yang disebut ectrodactylism. Ketika masih dalam kandungan, dokter hanya melihat seperti ada jari jempol keluar dari lengan kanannya dan jari-jari tumbuh di lengan kirinya. Namun ia tidak memiliki telapak tangan. Kaki kirinya terus menyusut hanya memiliki tiga jari. Kaki ini diamputasi saat ia berumur lima tahun. Orangtuanya diberitahu bahwa Roger tidak akan pernah memiliki kehidupan yang normal

Namun orangtua Roger tidak menyerah. Mereka membentuk Roger menjadi manusia normal dan mengajarinya hidup mandiri. Ketika Roger telah siap, ia disekolahkan di sekolah umum. Mereka mengajarinya berpikir positif. Jadilah Roger seorang pribadi yang positif.

Roger tidak membiarkan kekurangannya menghambatnya untuk berhasil. Ia menjalani hidupnya dengan maksimal, karena ia mempercayai bahwa Tuhan memberikan kelebihan unik dalam dirinya di balik semua kekurangan yang ada dalam dirinya.

Sahabat, banyak orang sering merasa ada berbagai penghalang yang menghambat hidup mereka. Karena itu, begitu ada tantangan yang menghadang, hati mereka menciut. Mereka tidak berani menghadapi tantangan hidup itu. Yang mereka inginkan adalah hidup yang mulus tanpa kesulitan.

Kisah Roger tadi memberi kita suatu inspirasi bahwa cacat bukanlah akhir dari segala-galanya. Ketika kita mengalami kesulitan dalam hidup, yang mesti kita lakukan adalah berani menghadapi kesulitan itu. Dengan berani menghadapinya, kita mampu menemukan solusi atas kesulitan-kesulitan itu. Ketika kita tidak berani menghadapi kesulitan hidup, kita akan tumbuh menjadi orang yang tidak kreatif. Kita tidak punya strategi yang baik untuk mengatasi kesulitan hidup kita.

Tentu saja kita juga mesti memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Iman itu memberi kita motivasi untuk menghadapi berbagai kesulitan yang kita hadapi. Iman itu menjadi cahaya bagi kita dalam kegelapan. Beriman berarti menyerahkan hidup kepada Tuhan. Beriman berarti membiarkan Tuhan masuk ke dalam hidup kita. Dengan demikian, kita mampu menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

Mari kita tetap berani memperjuangkan hidup ini dalam situasi apa pun. Bagi kita, hidup ini sangat berharga. Hidup ini menjadi kekuatan yang membawa damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

882

22 Desember 2011

Kesabaran dalam menyelesaikan masalah



Anda punya masalah dalam hidup Anda? Mengapa Anda dikuasai oleh masalah-masalah? Tentu saja banyak hal yang menyebabkan Anda dikuasai oleh masalah-masalah. Anda tidak ingin membiarkan masalah-masalah itu hadir dalam diri Anda.

Seorang mantan pengguna narkoba bercerita bahwa awalnya ia menggunakan narkoba, karena mengalami sulit tidur. Ia sudah berusaha untuk tidur, tetapi rupanya matanya sulit sekali diajak untuk menutup. Berbagai cara sudah ia coba untuk dapat membantu dirinya dapat memejamkan mata.

Awalnya, ia membaca buku-buku dari yang ringan sampai yang berat. Namun ia gagal. Ia tetap saja tidak bisa tertidur pulas. Lantas ia minum obat tidur setiap kali mau tidur. Namun cara ini pun tidak membantunya untuk menikmati tidur yang nyenyak. Hari-hari ia lalui dengan kepenatan. Kadang-kadang ia frustrasi. Ia sulit menjalani hidup dengan normal.

Akhirnya, seorang temannya menawarinya menggunakan narkoba. Merasa baik untuk dirinya, ia pun mulai mencoba sedikit demi sedikit. Awalnya, ia merasa enak dan menyenangkan. Ia dapat tidur dengan nyenyak. Ia pun meneruskan cara ini untuk mengatasi kesulitan tidurnya.

Namun lama-kelamaan ia ketagihan. Ia tidak bisa melepaskan diri dari narkoba lagi. Setiap kali mau tidur, ia gunakan narkoba. Ketergantungannya semakin besar, sementara kesehatan tubuhnya semakin menurun. Memorinya mulai berkurang. Akibatnya, ia menjadi orang yang linglung. Syukurlah, suatu hari ia bisa melepaskan diri dari cengkeraman narkoba. Ia meninggalkan diri dari narkoba. Ia menjalani masa rehabilitasi dari ketergantungan narkoba. Kini ia bisa tidur nyenyak tanpa narkoba.

Sahabat, begitu banyak orang kurang sabar menghadapi persoalan hidup mereka. Mereka ingin cepat lepas dari persoalan-persoalan hidup. Karena itu, mereka ambil jalan pintas. Mereka tidak peduli jalan pintas itu justru memerosokkan diri mereka ke dalam kegelapan hidup.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa butuh waktu untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup kita. Jalan pintas merupakan suatu usaha yang merugikan diri kita sendiri. Jalan pintas yang diambil biasanya tanpa melalui suatu pemikiran yang matang. Akibatnya, kita mesti membayarnya dengan lebih mahal.

Orang beriman mesti memiliki pemikiran yang luas dan dalam saat menghadapi suatu persoalan dalam hidupnya. Artinya, ada berbagai pertimbangan yang mesti dibuat. Ada berbagai dimensi yang mesti didekati, agar kita tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat buruk bagi hidup kita.

Dosa atau kekeliruan yang kita buat sering menimbulkan akibat negatif bagi hidup kita. Karena itu, orang beriman mesti merumuskan tujuan hidupnya dengan baik dan benar. Orang mesti berpegang teguh pada rumusan tujuan hidup itu. Konsistensi sangat diperlukan dalam hal ini. Suatu sikap yang konsisten akan membantu manusia dalam meraih kebaikan dalam hidupnya. Orang tidak perlu dikejar-kejar oleh hal-hal negatif yang menguasai dirinya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



847

13 Juli 2011

Berani Menghadapi Persoalan Hidup


Suatu hari ada seorang pemuda yang datang kepada seorang guru bijaksana. Ia mengaku ia sedang punya persoalan yang sangat sulit ia pecahkan. Persoalannya, ia harus menjalani studi yang tidak ia sukai. Studi yang sekarang ia jalani itu dipaksakan oleh orangtuanya. Karena itu, ia meminta nasihat kepada guru bijaksana itu untuk memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya itu.

Ia berkata, “Guru, saya tidak bisa mengikuti paksaan orangtua begitu saja. Saya ingin studi menurut apa yang saya kehendaki. Jurusan yang saya geluti sekarang tidak saya sukai. Saya mengalami kesulitan yang luar biasa.”

Guru bijaksana itu memandang pemuda itu dengan wajah sedih. Ia menatap dalam-dalam mata pemuda itu. Dalam hati ia bertanya, “Mengapa pemuda ini begitu resah dengan hidupnya?”

Setelah beberapa lama terdiam, pemuda itu berkata, “Guru, bantu saya untuk keluar dari persoalan saya ini. Saya ingin pindah jurusan. Saya tidak kuat lagi.”

Sambil menatap matanya, guru bijaksana itu berkata, “Anakku, saya mengerti sekarang ini Anda sedang menghadapi persoalan. Tetapi apakah Anda tidak berpikir sebaliknya? Kalau dulu Anda sekolah di jurusan ini berdasarkan kehendak orangtua, sekarang Anda mesti berpikir bahwa studi Anda saat ini berdasarkan kehendak Anda. Mengapa? Karena saya tidak ingin Anda lari dari persoalan Anda. Anda mesti menyelesaikannya dengan bijaksana.”

Sahabat, sering orang mudah lari dari persoalan-persoalan yang dihadapinya. Orang tidak berani menghadapi persoalannya itu. Sebenarnya ketika seseorang melarikan diri dari persoalannya, persoalan itu tetap ada dalam dirinya. Persoalan itu akan tetap menjadi ganjalan bagi hidupnya. Karena itu, cara yang terbaik adalah menghadapi persoalan itu hingga tuntas.

Orang yang sering lari dari persoalannya menunjukkan bahwa orang itu tidak bisa bertanggung jawab atas hidupnya. Orang seperti ini lebih mudah meninggalkan setiap persoalan yang dihadapinya. Sebenarnya hal ini merugikan dirinya sendiri. Mengapa? Karena persoalannya menjadi banyak dan bertumpuk-tumpuk. Ia dililit oleh persoalan demi persoalan. Ia menjadi tidak tenang.

Karena itu, orang beriman itu mesti berani menghadapi setiap persoalan yang dihadapinya. Orang beriman itu mesti berani menyelesaikan persoalan demi persoalan yang dihadapinya. Hanya dengan cara ini, orang bertanggungjawab atas hidupnya. Orang tidak gampang melarikan diri dari persoalan-persoalan.

Mari kita berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi dengan lapang dada. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


728

19 Agustus 2010

Bersiap Siaga Menghadapi Gelombang Kehidupan





Seorang bapak yang telah puluhan tahun bekerja keras untuk keluarganya mendapat tantangan di masa tuanya. Ia kehilangan istri yang sangat dicintainya. Ketika ia sukses dalam usaha-usahanya, sang istrilah justru yang memegang peranan yang sangat penting. Sang istri berhasil mengendalikan perusahaan di kala sang suami mesti mengurus berbagai hal untuk kelancaran usaha-usahanya.

Karena itu, kehilangan sang istri menjadi pukulan yang sangat besar dalam hidupnya. Ia tampak begitu murung mengarungi hari-hari hidupnya. Ia kurang punya semangat untuk meneruskan usaha-usahanya. Seolah-olah hidup ini sia-sia saja baginya. Padahal ia telah melewati berbagai tantangan yang menghadangnya.

Tentang kepergian istrinya untuk selama-lamanya, ia berkata, “Dia sangat berarti bagi hidup saya. Mengapa dia mesti meninggalkan saya seorang diri? Apalagi kami masih punya rencana yang besar untuk kemajuan usaha-usaha kami. Saya tidak bisa buat apa-apa lagi untuk kelanjutan usaha kami.”

Dia sangat terpukul. Dia merasa kehilangan pegangan hidup. Badai dan gelombang menghantam dirinya. Ia tidak kuat menghadapinya.

Gelombang kehidupan bisa menerpa siapa saja. Kapan gelombang itu datang, orang juga tidak tahu. Bisa saja gelombang kehidupan itu datang ketika orang sedang menikmati sukses kehidupannya. Tetapi bisa saja gelombang kehidupan itu menerpa orang yang sedang memulai usaha-usahanya. Dalam kondisi apa pun semestinya orang siap untuk menghadapi gelombang kehidupan itu.

Kisah tadi mengatakan kepada kita bahwa sang bapak tidak siap menghadapi hal yang terburuk dalam hidupnya. Ia belum rela sang istri yang dicintai itu pergi meninggalkannya untuk selamanya. Mengapa bisa terjadi? Karena bisa saja ia kurang punya iman yang mendalam.

Semestinya ia yakin bahwa kematian itu bukan akhir dari segala-galanya. Kematian itu suatu saat untuk beralih ke kehidupan yang lain. Suatu kehidupan yang diyakini oleh orang beriman sebagai kehidupan yang abadi. Di sana, tidak akan ada lagi penderitaan. Tidak ada lagi gelombang yang mampu menerpa hidup manusia.

Karena itu, kesiapsediaan menjadi suatu hal yang sangat penting dalam hidup manusia. Orang mesti menyiapkan dirinya untuk menghadapi peristiwa yang paling pahit dalam hidupnya. Orang beriman diajak untuk selalu bersiap siaga. Mengapa? Karena kematian itu seperti pencuri yang datang tiba-tiba, tidak direncanakan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk selalu siap siaga menghadapi gelombang kehidupan ini. Dengan cara ini, orang mampu menghadapi gelombang kehidupan ini dengan hati yang damai dan lapang. Mari kita berusaha untuk senantiasa menyertakan Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Dengan demikian, kita dapat menerima peristiwa-peristiwa yang terburuk yang akan menimpa diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

475

03 Oktober 2009

Menemukan Solusi atas Persoalan


Suatu senja, seorang laki-laki mengendarai seekor kuda menuju ke laut dan sampai di sebuah penginapan. Ia turun dari kuda dan dengan keyakinan seperti pengendara lain yang menuju ke laut malam itu, ia menambatkan kudanya di sebatang pohon di samping pintu dan memasuki rumah penginapan.

Tengah malam, ketika semua sedang tidur, seorang pencuri datang dan mencuri kuda pengembara itu. Di pagi harinya, laki-laki itu bangun dan mendapati kudanya telah dicuri orang. Ia sangat bersedih hati karena kudanya. Mengapa ada orang yang tega mencurinya? Kemudian, tamu-tamu lain yang tinggal di penginapan itu datang mengerumuninya dan mulai berbicara.

Laki-laki pertama berkata, “Betapa bodohnya kamu menambatkan kuda di luar kandang.”

Laki-laki kedua berkata, “Lebih bodoh lagi karena tak kauikat kaki kuda itul"

Laki-laki ketiga berkata, “Terlampau bodoh menuju laut dengan mengendarai kuda.”

Dan yang keempat berkata, “Hanya kaki kudalah yang lamban dan malas.”

Pengembara itu semakin heran. Kemudian ia berteriak, “Sahabat-sahabatku, karena kudaku dicuri, kalian buru-buru mencerca kesalahan dan kekuranganku. Tapi aneh, tak satu kata pun kalian ucapkan untuk menyalahkan orang yang telah mencuri kudaku.”

Mengeritik orang lain itu sering terjadi dalam hidup manusia. Orang sering merasa dirinya yang paling baik dan benar. Ia tidak menyadari bahwa apa yang dikritiknya itu sebenarnya tidak mampu ia lakukan. Ada orang yang hanya bisa mengkritik orang lain. Apa saja yang dibuat oleh orang lain dianggap salah.

Kisah tadi menunjukkan bahwa orang mesti hati-hati dalam mengkritik sesamanya. Orang mesti berani memberi solusi-solusi, tidak hanya mengkritik sesamanya. Sebenarnya kritik itu baik sejauh kritik itu membangun atau memperbaiki situasi yang kurang beres menjadi beres. Sebuah kritik yang tidak memberi kemajuan dalam hidup bersama hanyalah sebuah kritik yang tidak bermakna.

Sebagai orang beriman, kita mesti menyadari diri kita sendiri. Kita boleh saja mengkritik kalau kritik itu memberikan suatu kemajuan dalam hidup bersama. Kritik yang baik selalu memberi kemungkinan-kemungkinan bagi pembangunan hidup bersama. Kita tidak begitu saja mengkritik perbuatan orang lain. Sebelum kita mengkritik, kita mesti tahu lebih dulu apakah kritik itu mampu memberi manfaat bagi hidup bersama atau tidak.

Kalau sebuah kritik hanya memecah belah hidup bersama, kita mesti bertanya diri apakah kritik kita itu relevan atau tidak. Karena itu, mari kita membangun suatu hidup bersama yang baik. Kita beri solusi-solusi yang baik terhadap setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup bersama. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


186