Pages

Tampilkan postingan dengan label persoalan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persoalan hidup. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2014

Menghadapi Persoalan Hidup dengan Iman


Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda mesti berhadapan dengan seorang raksasa? Saya rasa, Anda akan mengalami kecemasan dalam hidup Anda.

Seorang anak gembala melawan seorang prajurit raksasa. Tentu saja hal ini sesuatu yang mengagetkan. Bagaimana mungkin, seorang anak yang lemah mampu menaklukkan seorang prajurit raksasa? Tetapi inilah yang terjadi dalam kehidupan ini.

Ribuan tahun yang lalu tampil seorang anak gembala bernama Daud. Ia menantang seorang prajurit raksasa bernama Goliat. Sang raksasa dikenal sebagai orang yang sangat kuat. Ia menggunakan senjata yang lebih hebat. Pedang bermata dua yang tajam siap menerjang Daud. Sedangkan Daud hanya menggunakan batu.

Namun tanpa rasa takut, Daud menantang Goliat. Raja Saul tergoda untuk melengkapi Daud dengan segala perlengkapan baju perang dan senjatanya. Daud menolaknya, karena tahu dia tidak bergantung pada itu. Daud siap berperang karena kuasa Tuhan menaunginya.

Dengan hanya sebuah katapel, Daud menembakkan sebutir batu kepada Goliat. Batu itu melesak ke dalam kepala sang raksasa. Daud menaklukkan raksasa itu bukan dengan kekuatan sendiri, namun oleh kekuatan Tuhan.

Batu itu mengenai dahi Goliat yang jatuh terjerembab ke tanah. Pedang Goliat bermata dua yang tajam menjadi tidak bermakna. Daud memenangkan pertempuran. Kemenangan itu berakibat bagi banyak orang. Orang-orang yang berada di pihak Daud mengalami pembebasan.

Sahabat, dalam kehidupan kita, kita juga berperang melawan raksasa-raksasa. Tentu saja raksasa-raksasa dalam arti kiasan, bukan seperti Goliat. Raksasa-raksasa yang kita hadapi dalam hidup kita adalah depresi, kekecewaan, penyesalan, kebimbangan, pencobaan, ketakutan, keputusasaan, kesepian, kekuatiran. Ada juga raksasa kecemburuan, penundaan waktu, kegagalan, kemarahan dan rasa bersalah yang menghantui hidup kita.

Kisah di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menaklukkan raksasa yang sering menghantui diri kita. Di kala kita menghadapi depresi, kita mesti berusaha untuk keluar dari depresi itu. Kita mesti berani memerangi depresi itu. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik. Kita menjadi lebih damai dalam menjalani hidup ini.

Memang, hal ini tidak mudah. Namun dengan bantuan rahmat Tuhan, kita akan mampu mengatasi depresi dalam hidup kita.

Namun sering manusia cenderung untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam hidupnya sendirian. Manusia merasa mampu melakukan hal-hal spektakuler sendirian. Manusia mengandalkan kekuatannya sendiri. Manusia menyombongkan dirinya. Padahal Daud mampu mengalahkan si raksasa Goliat dengan bantuan Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan senantiasa peduli terhadap hidup manusia. Yang penting adalah manusia mau membiarkan Tuhan masuk ke dalam kehidupannya. Yang penting, manusia mau menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan.

Mari kita libatkan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup kita terbebas dari ‘raksasa-raksasa’ yang mengganggu hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1076

13 Maret 2014

Bersama Tuhan, Mampu Mengatasi Persoalan Hidup



Mampukah Anda berjuang sendirian dalam mengatasi persoalan-persoalan Anda? Mungkin Anda mampu. Namun kemampuan Anda itu semu, karena Tuhan senantiasa menolong Anda dalam menghadapi persoalan-persoalan Anda.

Suatu malam yang dingin, seorang bapak bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah gelas besar yang diisi dengan gelas lebih kecil. Sebuah kelereng diletakkan di dalam gelas yang kecil berisi air, lalu ditutup rapat. Gelas besar lalu diisi dengan air hingga hampir penuh.

Lantas ada tangan yang mulai mengaduk-aduk gelas besar itu. Air mulai bergolak. Ada sebagian air yang tumpah. Semakin kuat adukannya, semakin besar pula air bergolak dan semakin banyak pula air yang tumpah ke luar. Tetapi gelas kecil dengan kelereng di dalamnya terlihat tetap tenang seperti tidak mengalami apa-apa. Tidak ada yang tumpah, meski di luar air tengah tergoncang ke sana ke mari.

Bapak itu kemudian terbangun. Ia bingung mengartikan mimpinya. Setelah beberapa saat, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia berdoa memohon ketenangan batin. Ia berkata, “Tuhan, semoga ini hanya sebuah mimpi. Semoga tidak terjadi apa-apa dalam hidup saya hari ini. Terima kasih, Tuhan, atas pernyertaanMu selama malam yang telah lewat.”

Sahabat, sering manusia ikut tergoncang oleh kegoncangan yang terjadi di sekitarnya. Mengapa? Karena manusia mudah diombang-ambingkan. Manusia mudah mengalami kecemasan dalam hidupnya oleh situasi di sekitarnya. Akibatnya, manusia sering mengalami duka nestapa dalam hidupnya.

Mimpi di atas mau mengatakan kepada kita bahwa meski terjadi banyak kegoncangan dalam hidup ini, kita mesti tetap bertahan. Ada berbagai persoalan yang kita hadapi, tetapi kalau kita hadapi dengan tenang, kita akan menemukan jalan keluar. Tuhan pasti membantu kita dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Kita mesti menyadari bahwa hidup ini tidak selamanya berjalan dengan mulus. Ada saat orang berada di puncak kejayaannya. Tetapi ada juga saat orang terpuruk dalam kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, orang mesti tetap bertahan. Orang tidak perlu menyombongkan diri di kala sukses menyertai kehidupannya. Orang pun tidak perlu merasa ditinggalkan oleh Tuhan saat dirinya berada dalam keterpurukan.

Orang beriman itu orang yang selalu percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Orang yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Memang, tidak mudah orang mau menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Mengapa? Karena manusia memiliki egoisme dan gengsi. Dua hal ini mengatakan bahwa manusia bisa berjuang sendiri, tanpa pertolongan dari Tuhan. Manusia mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapinya.

Tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Memang, manusia mampu melakukan apa saja untuk dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu hanya semu, karena Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Kekuatan Tuhan yang menuntun manusia menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Mari kita tetap setia kepada Tuhan dengan menerima pertolongan dari Tuhan. Kita juga mensyukuri kebaikanNya, karena Tuhan senantiasa berjalan bersama kita dalam kehidupan ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1073

10 Februari 2014

Menghadapi Persoalan Hidup Bersama Tuhan




Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan persoalan yang mengganggu hidup Anda? Anda lari dari persoalan-persoalan itu? Atau Anda berani menghadapi persoalan-persoalan itu dengan hati yang penuh iman?

Suatu hari seorang bapak berolahraga di tempat fitness menggunakan ‘sepeda diam di tempat’. Bapak itu mengayuh sepeda itu seakan-akan ia sedang berada di jalan yang menurun atau menanjak. Awalnya ia mengayuh pelan-pelan saja. Tetapi makin lama makin kuat. Keringat mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia merasa segar tubuhnya. Ia merasa seolah-olah sedang berolahraga di jalan yang ramai bersama teman-temannya.

Untuk sejenak bapak itu melepaskan diri dari beban hidupnya. Ia merasa hal-hal yang selama ini merisaukan hatinya telah hilang. Ia meneruskan kayuhan sepedanya. Ia merasa seolah-olah sedang menaiki tanjakan yang tinggi, panjang dan berkelok-kelok. Meski terasa berat, tetapi batinnya terasa plong. Hilanglah beban deritanya untuk sesaat.

Beberapa hari belakangan ini bapak itu dilanda oleh masalah yang pelik. Ia dituduh melakukan korupsi di tempat kerjanya. Menurutnya, hal itu hanya tipuan belaka. Yang melakukan korupsi besar-besaran adalah bosnya. Tetapi dia yang dituduh. Karena itu, beberapa hari ini ia merasa stress. Ia butuh waktu untuk istirahat. Ia butuh waktu untuk menyegarkan diri. Ia merasa berolahraga adalah salah satu cara melepaskan diri dari masalah itu.

Sayang, setelah pulang ke rumah, masalah itu masih ada. Ia mesti menghadapi tetangga-tetangganya yang tidak respek lagi terhadap dirinya. Di kantor, ia dikucilkan oleh teman-teman sejawatnya. Serangan demi serangan terhadap dirinya ia rasakan semakin bertubi-tubi menyergapnya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia bersama orang lain. Kita tidak hidup sendirian. Karena itu, apa yang terjadi dengan diri kita sering melibatkan orang lain. Kita berusaha menghindari persoalan-persoalan yang terjadi atas diri kita, tetapi persoalan-persoalan itu masih tetap ada dalam diri kita.

Kisah di atas memberi kita contoh bahwa menghindari masalah tidak berarti kita telah menyelesaikan masalah itu. Mengapa? Karena ternyata masalah itu masih ada. Masalah itu masih menjadi bagian dari hidup kita. Memang, terasa enak dan nikmat, ketika kita meninggalkan sejenak persoalan-persoalan hidup kita. Tetapi kita mesti ingat bahwa masalah-masalah itu masih menjadi bagian dari hidup kita.

Untuk itu, setiap masalah yang kita miliki mesti kita hadapi dengan hati yang lapang. Kita tidak boleh menghindar atau melarikan diri dari masalah-masalah itu. Mengapa? Karena saat kita melarikan diri dari masalah-masalah itu sebenarnya kita terus-menerus dikejar oleh masalah-masalah itu. Kita menjadi tidak tenang. Hidup kita dipenuhi oleh kekuatiran demi kekuatiran.

Orang beriman mesti senantiasa menghadapi setiap persoalan bersama Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa hadir untuk menemani perjalanan hidup kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup ini.

Mari kita berusaha untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita bersama Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengalami kasih Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1045

04 September 2013

Bersama Tuhan, Mampu Mengatasi Persoalan Hidup

Mampukah Anda berjuang sendirian dalam mengatasi persoalan-persoalan Anda? Mungkin Anda mampu. Namun kemampuan Anda itu semu, karena Tuhan senantiasa menolong Anda dalam menghadapi persoalan-persoalan Anda.

Suatu malam yang dingin, seorang bapak bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah gelas besar yang diisi dengan gelas lebih kecil. Sebuah kelereng diletakkan di dalam gelas yang kecil berisi air, lalu ditutup rapat. Gelas besar lalu diisi dengan air hingga hampir penuh.

Lantas ada tangan yang mulai mengaduk-aduk gelas besar itu. Air mulai bergolak. Ada sebagian air yang tumpah. Semakin kuat adukannya, semakin besar pula air bergolak dan semakin banyak pula air yang tumpah ke luar. Teapi gelas kecil dengan kelereng di dalamnya terlihat tetap tenang seperti tidak mengalami apa-apa. Tidak ada yang tumpah meski di luar air tengah tergoncang ke sana ke mari.

Bapak itu kemudian terbangun. Ia bingung mengartikan mimpinya. Setelah beberapa saat, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Kemudian ia duduk dipinggir tempat tidurnya. Ia berdoa memohon ketenangan batin. Ia berkata, “Tuhan, semoga ini hanya sebuah mimpi. Semoga tidak terjadi apa-apa dalam hidup saya hari ini. Terima kasih, Tuhan, atas pernyertaan-Mu selama malam yang telah lewat.”

Sahabat, sering manusia ikut tergoncang oleh kegoncangan yangterjadi di sekitarnya. Mengapa? Karena manusia mudah diombang-ambingkan. Manusia mudah mengalami kecemasan dalam hidupnya oleh situasi di sekitarnya. Akibatnya, manusia sering mengalami duka nestapa dalam hidupnya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa meski terjadi banyak kegoncangan dalam hidup ini, kita mesti tetap bertahan. Ada berbagai persoalan yang kita hadapi, tetapi kalau kita hadapi dengan tenang, kita akan menemukan jalan keluar. Tuhan pasti membantu kita dalam menghadapi persoalan-persoalanhidup.

Kita mesti menyadari bahwa hidup ini tidak selamanya berjalan denganmulus. Ada saat orang berada di puncak kejayaannya. Tetapi ada juga saat orang terpuruk dalam kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, orang mesti tetapbertahan. Orang tidak perlu menyombongkan diri di kala sukses menyertai kehidupannya. Orang pun tidak perlu merasa ditinggalkan oleh Tuhan saat dirinya berada dalam keterpurukan.

Orang beriman itu orang yang selalu percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Orang yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Memang, tidak mudah orang mau menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Mengapa? Karena manusia memiliki egoisme dan gengsi. Dua hal ini mengatakan bahwa manusia bisa berjuang sendiri, tanpa pertolongan dari Tuhan. Manusia mampu mengatasi segala persoalanyang dihadapinya.

Tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Memang, manusia mampu melakukan apa saja untuk dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu hanyasemu, karena Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Kekuatan Tuhan yang menuntun manusia menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Mari kita tetap setia kepada Tuhan dengan menerima pertolongan dari Tuhan. Kita juga mensyukuri kebaikan-Nya, karena Tuhan senantiasa berjalan bersama kita dalam kehidupan ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

02 Agustus 2011

Penantian yang Butuh Jawaban dari Sesama



Pernahkah Anda bayangkan bagaimana seorang istri menjalani hari-hari sebagai pasangan seorang serdadu yang tengah bertugas di medan pertempuran? Bukan perkara mudah untuk menjalaninya, bukan? Terlebih, hari-hari selalu dihantui dengan ketidakpastian akan nasib orang yang dikasihi. Apalagi godaan-godaan terus-menerus membahayakan hubungan mereka.

Kisah-kisah penuh warna ini dijalani oleh Claudia Joy Holden, Denis Sherwood, Roxy LeBlanc dan Pamela Moran. Empat perempuan ini bersuamikan serdadu Amerika Serikat. Suami-suami mereka, ditugaskan di medan pertempuran.

Berbagai persoalan hidup muncul mewarnai kehidupan mereka. Dari menjalani kehidupan sebagai "single parent" atau orangtua tunggal hingga menanti ketidakpastian akan nasib suami-suami mereka. Sebuah kisah yang mengugah. Menyelami kehidupan penuh warna yang nyaris serupa dengan kehidupan nyata para pasangan tentara.

Mereka dituntut untuk tetap setia dalam penantian. Mereka mengisi penantian tak menentu itu dengan berbagai kegiatan. Mengurus anak dengan baik merupakan satu sisi kehidupan mereka. Karena itu, kehidupan mereka jauh dari kesepian. Sisi kehidupan seperti ini menjadi suatu keutamaan yang mereka jalani sehari-hari. Hasilnya adalah suatu situasi yang membahagiakan. Suatu situasi yang juga membanggakan atas tugas militer sang suami di medan laga.

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita semua juga sedang menanti. Ada yang senang menanti orang yang dicintai. Ada yang menanti hadiah dari seseorang. Saya baru saja mendapat sms dari seseorang. Ia berkata, “Tolong bantuin aku, Tuhan. Aku sekarang ini lagi nggak ada uang belanja. Aku tak tahu mau ke mana aku harus minta bantuan.”

Orang yang saya tidak kenal ini sangat membutuhkan bantuan. Ia ingin meneruskan perjalanan hidupnya yang masih panjang. Ia sedang menantikan uluran tangan orang-orang yang berkehendak baik. Ia sedang mengalami kesulitan hidup. Pantaskah ia berlama-lama menanti uluran tangan dari sesamanya? Bukankah hidupnya mesti berjalan terus? Bukankah ia tidak ingin hidupnya berhenti lantaran tidak mendapatkan sesuap nasi?

Tentu saja pesan sahabat kita satu ini membangunkan insting manusiawi kita untuk memberi dari apa yang kita miliki. Bukankah setiap manusia telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki hati yang rela memberi? Karena itu, penantian penuh harapan dari sahabat kita satu ini sudah semestinya mendapatkan jawaban. Dengan demikian, ia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya dengan senyum bahagia.

Mari kita memupuk hati kita untuk mudah tergugah oleh penantian panjang sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


745

13 Juli 2011

Berani Menghadapi Persoalan Hidup


Suatu hari ada seorang pemuda yang datang kepada seorang guru bijaksana. Ia mengaku ia sedang punya persoalan yang sangat sulit ia pecahkan. Persoalannya, ia harus menjalani studi yang tidak ia sukai. Studi yang sekarang ia jalani itu dipaksakan oleh orangtuanya. Karena itu, ia meminta nasihat kepada guru bijaksana itu untuk memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya itu.

Ia berkata, “Guru, saya tidak bisa mengikuti paksaan orangtua begitu saja. Saya ingin studi menurut apa yang saya kehendaki. Jurusan yang saya geluti sekarang tidak saya sukai. Saya mengalami kesulitan yang luar biasa.”

Guru bijaksana itu memandang pemuda itu dengan wajah sedih. Ia menatap dalam-dalam mata pemuda itu. Dalam hati ia bertanya, “Mengapa pemuda ini begitu resah dengan hidupnya?”

Setelah beberapa lama terdiam, pemuda itu berkata, “Guru, bantu saya untuk keluar dari persoalan saya ini. Saya ingin pindah jurusan. Saya tidak kuat lagi.”

Sambil menatap matanya, guru bijaksana itu berkata, “Anakku, saya mengerti sekarang ini Anda sedang menghadapi persoalan. Tetapi apakah Anda tidak berpikir sebaliknya? Kalau dulu Anda sekolah di jurusan ini berdasarkan kehendak orangtua, sekarang Anda mesti berpikir bahwa studi Anda saat ini berdasarkan kehendak Anda. Mengapa? Karena saya tidak ingin Anda lari dari persoalan Anda. Anda mesti menyelesaikannya dengan bijaksana.”

Sahabat, sering orang mudah lari dari persoalan-persoalan yang dihadapinya. Orang tidak berani menghadapi persoalannya itu. Sebenarnya ketika seseorang melarikan diri dari persoalannya, persoalan itu tetap ada dalam dirinya. Persoalan itu akan tetap menjadi ganjalan bagi hidupnya. Karena itu, cara yang terbaik adalah menghadapi persoalan itu hingga tuntas.

Orang yang sering lari dari persoalannya menunjukkan bahwa orang itu tidak bisa bertanggung jawab atas hidupnya. Orang seperti ini lebih mudah meninggalkan setiap persoalan yang dihadapinya. Sebenarnya hal ini merugikan dirinya sendiri. Mengapa? Karena persoalannya menjadi banyak dan bertumpuk-tumpuk. Ia dililit oleh persoalan demi persoalan. Ia menjadi tidak tenang.

Karena itu, orang beriman itu mesti berani menghadapi setiap persoalan yang dihadapinya. Orang beriman itu mesti berani menyelesaikan persoalan demi persoalan yang dihadapinya. Hanya dengan cara ini, orang bertanggungjawab atas hidupnya. Orang tidak gampang melarikan diri dari persoalan-persoalan.

Mari kita berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi dengan lapang dada. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


728

12 Maret 2010

Berani Menghadapi Persoalan Hidup




Suatu hari seorang ibu rumah tangga tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya. Pasalnya, baru jam sepuluh pagi, bell rumah sudah berbunyi. Ia cepat-cepat menuju pintu untuk membukakan pintu. Dalam pikirannya terlintas berbagai pertanyaan. Mungkinkah ada seorang tamu dari jauh yang datang berkunjung? Mungkinkah ada keluarga dari kampung yang ada urusan di kota?

Pikiran-pikiran itu tiba-tiba berhenti, ketika ia membuka pintu. Ternyata putranya sendiri sedang berada di depan matanya. Padahal seharusnya putra bungsunya itu sedang berada di sekolah. Apalagi anak yang baru berusia tujuh tahun itu tidak pulang sendirian. Semestinya ada yang mengantar atau ia sendiri menjemputnya.

Ibu itu terheran-heran memandang wajah putranya yang kuyu. Setelah beberapa saat, ibu itu bertanya, “Ada apa denganmu?”

“Saya berhenti sekolah, ma,” jawab putranya sambil melempar tas sekolahnya di atas meja.

“Berhenti sekolah?” ibu itu bertanya lagi dengan nada suara yang tinggi. Ia sendiri sulit percaya dengan apa yang didengarnya.

Anaknya tidak peduli akan pertanyaannya. Ia langsung mencari permainannya. Sebagai seorang ibu, ibu itu tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia mesti bertindak demi masa depan anak bungsunya itu. Ia bertanya, “Mengapa kamu berhenti sekolah?”

Tanpa ragu-ragu anaknya menjawab, “Sekolah itu terlalu lama. Sekolah itu terlalu berat. Sekolah itu terlalu membosankan.”

Ibu itu semakin terheran-heran mendengar kata-kata anaknya. Ia menatap wajah anaknya dalam-dalam, lalu berkata, “Nak, seperti itulah kehidupan. Untuk mencapai cita-citamu, kamu harus berani menghadapi proses yang lama, berat dan membosankan ini. Sekarang, ke garasi. Ibu akan mengantarmu kembali ke sekolah.”

Manusia sering tergoda oleh hidup enak dan menyenangkan tanpa kerja keras. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena orang kurang memahami makna kehidupan ini. Orang berpikir bahwa hidup ini bisa dilalui tanpa kerja keras. Orang merasa bahwa orang bisa hidup dengan santai-santai.

Padahal hidup ini dapat berjalan terus, kalau orang mampu memaknainya dengan berani bekerja keras. Orang yang beriman mesti berani menghadapi hidup ini meski ada berbagai tantangan yang menghadang di depannya. Orang beriman itu orang yang mau menghadapi resiko kehidupan ini dengan penuh iman pula.

Karena itu, kita diajak untuk memaknai kehidupan ini dengan berani menghadapi setiap persoalan yang kita hadapi. Tuhan pasti memberi kita jalan, kalau kita mengikutsertakan Tuhan dalam setiap persoalan hidup kita. Tuhan akan memberi kita semangat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan tetap peduli terhadap kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

348
Bagikan