Pages

10 Februari 2014

Menghadapi Persoalan Hidup Bersama Tuhan




Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan persoalan yang mengganggu hidup Anda? Anda lari dari persoalan-persoalan itu? Atau Anda berani menghadapi persoalan-persoalan itu dengan hati yang penuh iman?

Suatu hari seorang bapak berolahraga di tempat fitness menggunakan ‘sepeda diam di tempat’. Bapak itu mengayuh sepeda itu seakan-akan ia sedang berada di jalan yang menurun atau menanjak. Awalnya ia mengayuh pelan-pelan saja. Tetapi makin lama makin kuat. Keringat mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia merasa segar tubuhnya. Ia merasa seolah-olah sedang berolahraga di jalan yang ramai bersama teman-temannya.

Untuk sejenak bapak itu melepaskan diri dari beban hidupnya. Ia merasa hal-hal yang selama ini merisaukan hatinya telah hilang. Ia meneruskan kayuhan sepedanya. Ia merasa seolah-olah sedang menaiki tanjakan yang tinggi, panjang dan berkelok-kelok. Meski terasa berat, tetapi batinnya terasa plong. Hilanglah beban deritanya untuk sesaat.

Beberapa hari belakangan ini bapak itu dilanda oleh masalah yang pelik. Ia dituduh melakukan korupsi di tempat kerjanya. Menurutnya, hal itu hanya tipuan belaka. Yang melakukan korupsi besar-besaran adalah bosnya. Tetapi dia yang dituduh. Karena itu, beberapa hari ini ia merasa stress. Ia butuh waktu untuk istirahat. Ia butuh waktu untuk menyegarkan diri. Ia merasa berolahraga adalah salah satu cara melepaskan diri dari masalah itu.

Sayang, setelah pulang ke rumah, masalah itu masih ada. Ia mesti menghadapi tetangga-tetangganya yang tidak respek lagi terhadap dirinya. Di kantor, ia dikucilkan oleh teman-teman sejawatnya. Serangan demi serangan terhadap dirinya ia rasakan semakin bertubi-tubi menyergapnya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia bersama orang lain. Kita tidak hidup sendirian. Karena itu, apa yang terjadi dengan diri kita sering melibatkan orang lain. Kita berusaha menghindari persoalan-persoalan yang terjadi atas diri kita, tetapi persoalan-persoalan itu masih tetap ada dalam diri kita.

Kisah di atas memberi kita contoh bahwa menghindari masalah tidak berarti kita telah menyelesaikan masalah itu. Mengapa? Karena ternyata masalah itu masih ada. Masalah itu masih menjadi bagian dari hidup kita. Memang, terasa enak dan nikmat, ketika kita meninggalkan sejenak persoalan-persoalan hidup kita. Tetapi kita mesti ingat bahwa masalah-masalah itu masih menjadi bagian dari hidup kita.

Untuk itu, setiap masalah yang kita miliki mesti kita hadapi dengan hati yang lapang. Kita tidak boleh menghindar atau melarikan diri dari masalah-masalah itu. Mengapa? Karena saat kita melarikan diri dari masalah-masalah itu sebenarnya kita terus-menerus dikejar oleh masalah-masalah itu. Kita menjadi tidak tenang. Hidup kita dipenuhi oleh kekuatiran demi kekuatiran.

Orang beriman mesti senantiasa menghadapi setiap persoalan bersama Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa hadir untuk menemani perjalanan hidup kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup ini.

Mari kita berusaha untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita bersama Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengalami kasih Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1045

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.