Pages

Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan

15 Maret 2014

Menghadapi Persoalan Hidup dengan Iman


Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda mesti berhadapan dengan seorang raksasa? Saya rasa, Anda akan mengalami kecemasan dalam hidup Anda.

Seorang anak gembala melawan seorang prajurit raksasa. Tentu saja hal ini sesuatu yang mengagetkan. Bagaimana mungkin, seorang anak yang lemah mampu menaklukkan seorang prajurit raksasa? Tetapi inilah yang terjadi dalam kehidupan ini.

Ribuan tahun yang lalu tampil seorang anak gembala bernama Daud. Ia menantang seorang prajurit raksasa bernama Goliat. Sang raksasa dikenal sebagai orang yang sangat kuat. Ia menggunakan senjata yang lebih hebat. Pedang bermata dua yang tajam siap menerjang Daud. Sedangkan Daud hanya menggunakan batu.

Namun tanpa rasa takut, Daud menantang Goliat. Raja Saul tergoda untuk melengkapi Daud dengan segala perlengkapan baju perang dan senjatanya. Daud menolaknya, karena tahu dia tidak bergantung pada itu. Daud siap berperang karena kuasa Tuhan menaunginya.

Dengan hanya sebuah katapel, Daud menembakkan sebutir batu kepada Goliat. Batu itu melesak ke dalam kepala sang raksasa. Daud menaklukkan raksasa itu bukan dengan kekuatan sendiri, namun oleh kekuatan Tuhan.

Batu itu mengenai dahi Goliat yang jatuh terjerembab ke tanah. Pedang Goliat bermata dua yang tajam menjadi tidak bermakna. Daud memenangkan pertempuran. Kemenangan itu berakibat bagi banyak orang. Orang-orang yang berada di pihak Daud mengalami pembebasan.

Sahabat, dalam kehidupan kita, kita juga berperang melawan raksasa-raksasa. Tentu saja raksasa-raksasa dalam arti kiasan, bukan seperti Goliat. Raksasa-raksasa yang kita hadapi dalam hidup kita adalah depresi, kekecewaan, penyesalan, kebimbangan, pencobaan, ketakutan, keputusasaan, kesepian, kekuatiran. Ada juga raksasa kecemburuan, penundaan waktu, kegagalan, kemarahan dan rasa bersalah yang menghantui hidup kita.

Kisah di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menaklukkan raksasa yang sering menghantui diri kita. Di kala kita menghadapi depresi, kita mesti berusaha untuk keluar dari depresi itu. Kita mesti berani memerangi depresi itu. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik. Kita menjadi lebih damai dalam menjalani hidup ini.

Memang, hal ini tidak mudah. Namun dengan bantuan rahmat Tuhan, kita akan mampu mengatasi depresi dalam hidup kita.

Namun sering manusia cenderung untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam hidupnya sendirian. Manusia merasa mampu melakukan hal-hal spektakuler sendirian. Manusia mengandalkan kekuatannya sendiri. Manusia menyombongkan dirinya. Padahal Daud mampu mengalahkan si raksasa Goliat dengan bantuan Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan senantiasa peduli terhadap hidup manusia. Yang penting adalah manusia mau membiarkan Tuhan masuk ke dalam kehidupannya. Yang penting, manusia mau menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan.

Mari kita libatkan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup kita terbebas dari ‘raksasa-raksasa’ yang mengganggu hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1076

07 Maret 2014

Membekali Diri dengan Iman



Iman merupakan kekuatan yang besar untuk menghadapi pergulatan hidup di zaman modern ini. Karena itu, orang beriman mesti berani menumbuhkan imannya.

Suatu hari seorang pemudi tampak bingung. Ia sudah banyak berdoa dan memuji Tuhan, tetapi hidupnya tetap biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan yang besar terjadi dalam hidupnya. Begitu banyak persoalan yang ia hadapi. Ia ingin agar persoalan-persoalan itu cepat berlalu. Tetapi mengapa ia masih saja bergulat dengan persoalan-persoalan? Bukankah Tuhan itu mahabaik dan mahapenyayang?

Pemudi itu terus-menerus bergulat dengan persoalan-persoalan yang silih berganti mendatanginya. Ia merasa ketahanan imannya ditantang. Tetapi ia tidak pernah menyerah. Ia tetap berdoa kepada Tuhan. Ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Ia yakin, Tuhan akan menolongnya.

Karena itu, meski persoalan-persoalan silih berganti menghadangnya, ia tetap bertahan di dalam imannya akan Tuhan. Ia membekali dirinya dengan hidup yang baik di hadapan Tuhan. Ia berusaha melakukan hal-hal yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

Sahabat, kita hidup di dalam dunia. Menjadi orang beriman tidak berarti kita dijauhkan dari persoalan-persoalan hidup. Bahkan orang mengatakan bahwa semakin beriman kepada Tuhan, orang semakin banyak mengalami tantangan hidup. Hidup itu tidak menjadi semakin mudah. Tetapi orang sering bergulat dengan imannya dalam dunia yang nyata.

Untuk itu, iman yang teguh kepada Tuhan menjadi dasar atau landasan bagi hidup di zaman modern ini. Yang penting adalah orang mau terus-menerus terbuka kepada Tuhan dan sesama. Keterbukaan hati kepada Tuhan dan sesama itu membantu orang untuk senantiasa bertahan dalam imannya.

Orang yang beriman itu orang yang mampu bertahan dalam berbagai persoalan yang dihadapinya. Mengapa? Karena orang seperti ini selalu menaruh pengharapan kepada Tuhan. Orang seperti ini tidak gampang hilang akal, ketika ada persoalan yang menghadang hari-hari hidupnya. Bahkan ia akan mencari jalan-jalan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Tentu saja dengan bantuan Tuhan yang ia yakini senantiasa menyertainya.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin agar iman kita semakin menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Karena itu, kita mesti tetap menaruh pengharapan pada Tuhan. Kita berharap, Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang itu senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri di dunia ini. Tuhan selalu bekerja bersama kita.

Untuk itu, pengaharapan itu juga mesti disertai dengan sikap pasrah setia kepada Tuhan. Orang yang takwa itu orang yang selalu kreatif dalam hidup ini. Orang yang tidak kehilangan akal saat berhadapan dengan berbagai persoalan hidup. Mari kita senantiasa menaruh pengaharapan kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1068

27 Februari 2014

Dengan Iman yang Teguh, Menghadapi Sakit dan Penyakit




Sakit merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tentu saja setiap orang pernah mengalami sakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Namun tidak berarti orang menyerah kalah terhadap sakit dan penyakit yang menyerangnya. Berbagai contoh telah memberikan inspirasi bagi manusia untuk berani melawan sakit dan penyakitnya.

Melanie Subono, misalnya, meski berkali-kali menjalani operasi tumor, mengaku tak pernah bersedih. Menurutnya, hidup yang selama ini dia jalani masih jauh beruntung daripada banyak orang lain yang sekadar untuk makan pun susahnya minta ampun.

Perempuan berusia 37 tahun ini berkata, ”Aku masih beruntung meskipun berkali-kali perutku dioperasi. Aku masih bisa kerja, cari duit, dan menikmati hidup ini.”

Terakhir ia baru menjalani operasi pengangkatan tumor Januari 2010 lalu. Melanie bercerita, tumor yang bersarang di perutnya seberat lima kilogram dengan panjang sekitar 30 centimeter.

Tentang tumor satu ini, penyanyi rock ini berkata, ”Awalnya tumor itu hanya satu sentimeter. Anehnya, dalam waktu tiga hari sudah berkembang menjadi 30 sentimeter. Tumor itu kemudian diteliti para ahli.”

Ia berharap, pengalamannya melawan tumor menjadi inspirasi bagi orang lain, agar tidak menyerah ketika berhadapan dengan penyakit yang sulit disembuhkan.

Sahabat, perjuangan tanpa kenal lelah untuk melawan penyakit yang diderita mesti menjadi bagian dari hidup kita. Banyak orang mudah menyerah kalah terhadap penyakit. Mereka pasrah. Mereka membiarkan saja diri mereka digerogoti penyakit. Padahal berbagai cara dapat ditempuh untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Kisah Melanie Subono dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa berusaha menghadapi sakit dan penyakit yang menyerang kita. Untuk itu, kita mesti punya keyakinan bahwa setiap penyakit dapat dilawan. Kemampuan dan keyakinan ini mesti ditanam erat-erat dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak hanya pasrah ketika diserang oleh penyakit.

Orang beriman itu orang yang tidak begitu saja menyerah kalah pada penyakit. Orang beriman mesti berani berjuang untuk mengalahkan penyakit yang dideritanya. Tentu saja usaha-usaha itu mesti dilandasi oleh iman akan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan senantiasa menyertai manusia. Tuhan telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan berbagai cara dalam mengatasi penyakitnya.

Karena itu, mari kita berusaha terus-menerus untuk menghadapi sakit dan penyakit yang kita derita. Kita berjuang bersama Tuhan. Sambil berjuang, kita pasrahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian, iman kita semakin diperteguh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1061

29 Januari 2014

Mewujudkan Iman dengan Berbuat Baik

 


Lindsay Lohan (24) adalah seorang bintang film yang sedang menanjak di Amerika Serikat. Awal Desember 2009 lalu ia berada di Inida untuk pengambilan gambar sebuah film dokumenter tentang perdagangan manusia.

Ia bekerja bersama BBC. Kesibukannya yang luar biasa itu tidak membuat Lindsay buta matanya terhadap sesamanya. Bintang film Means Girls ini merencanakan perjalanan amal ke Guatemala setelah kembali dari India.

Tentang kunjungannya ke India, ia berkata, ”Sejauh ini sudah 40 anak yang berhasil diselamatkan. Inilah hidup sesungguhnya. Melakukan semua ini membuat hidup lebih berarti.”

Rupanya kerja amal itu tidak hanya membantu orang lain. Menurut Ibunya, Dina Lohan, kerja amal yang dilakukan Lindsay Lohan telah mengubah dirinya yang temperamental menjadi lebih rendah hati dan sensitif. Karena itu, setelah kunjungannya ke India, Lindsay akan berkunjung ke Guatemala untuk kembali melakukan kerja amal bersama stasiun televisi milik Oprah Winfrey.

Ibunya berkata, ”Lindsay akan kembali memberi. Kami sedang merencanakan perjalanan untuk membantu anak-anak di Guatemala yang akan difilmkan oleh jaringan TV milik Oprah.”

Sahabat, hidup itu semakin bermakna ketika orang berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ketika berbuat sesuatu yang baik bagi sesamanya, sebenarnya orang melakukan hal yang indah bagi hidupnya sendiri. Lindsay Lohan telah membuktikannya. Pribadinya berubah menjadi lebih positif, karena kegiatan amal yang dilakukannya untuk sesamanya.

Melakukan sesuatu yang baik bagi sesama kita adalah panggilan kita sebagai orang beriman. Mengapa? Karena pada hakekatnya, orang beriman itu mesti melakukan yang baik bagi sesamanya. Itulah perwujudan iman orang beriman. Orang beriman yang enggan melakukan perbuatan baik bagi sesamanya kehilangan jati dirinya sebagai orang beriman. Ia menjadi lemah dalam hidupnya, karena tidak mempraktekkan ajaran imannya. Ia menjadi orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi hidup manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Orang beriman mesti beranai keluar dari egoismenya untuk melakukan sesuatu yang lebih luas. Dengan demikian, orang tidak terkungkung dalam cinta diri yang berlebihan. Mari kita berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1037

15 November 2013

Mewujudkan Iman dalam Hidup yang Nyata

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika tantangan dan rintangan menghadang Anda? Anda berhenti di tempat atau Anda berani menghadapinya?

Ada seorang perempuan sedang hamil tujuh bulan. Ia tetap bekerja seperti biasa. Ia seorang sopir taksi di Jakarta. Ia sedang mengandung anaknya yang keempat. Demi kelangsungan hidup, perempuan ini mesti bekerja dari jam 4 pagi hingga jam 12 malam. Karena jam kerjanya seperti itu, dia harus tidur di pool, malam libur baru pulang. Suatu pekerjaan yang tidak mudah bagi seorang perempuan yang sedang hamil. Tetapi ia mesti melakukannya demi keluarganya.

Tiga hari ia melakukan pekerjaan itu, satu hari libur. Saat libur itu, ia gunakan kesempatan itu untuk mengurus ketiga anak yang lain yang masih kecil-kecil. Sementara suaminya bekerja sebagai pengawas bangunan. Tuntutan hidup di Ibu Kota memaksa pasangan suami istri itu untuk bekerja. Mereka mesti membagi waktu untuk mengurus ketiga anak mereka.

Bekerja sebagai sopir taksi tidak selalu mulus. Suatu ketika ia dirampok oleh penumpangnya. Uang hasil kerja hari itu ludes. Black Berry-nya pun lenyap dirampas oleh penumpangnya itu. Dalam kondisi seperti itu, ia pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa melawan.

“Saya ingat anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Kalau saya melawan lalu dibunuh, siapa yang akan memberi mereka makan?” kata ibu itu.

Di waktu yang lain, seorang penumpang mabuk hampir memperkosa dirinya. Untunglah ia cepat-cepat membawa taksinya ke tempat yang ramai. Begitu berhenti, ia langsung berteriak-teriak. Akibatnya, penumpang mabuk itu pun ditangkap polisi. Bagi perempuan itu, inilah tantangan hidup yang nyata. Ia mesti menghadapinya dengan penuh resiko.

Pengorbanan perempuan itu tidak sia-sia. Hasil keringatnya ia gunakan untuk kebutuhan hidup keluarganya. Anak-anaknya boleh mengalami kasih sayang yang berlimpah. Mereka tidak perlu menderita kelaparan.

“Saya bahagia, meski saya mesti berkorban untuk keluarga saya. Kami hidup rukun dan damai,” katanya.

Sahabat, kebahagiaan itu diperoleh melalui korban. Dalam kehidupan keluarga, suami istri saling berkorban untuk saling memberikan kebahagiaan. Anak-anak akan terjamin hidupnya, ketika suami istri sungguh-sungguh menyadari tugas dan kewajiban mereka. Keluarga seperti ini hidup dalam realitas yang sesungguhnya.

Kisah nyata di atas mau mengatakan kepada kita bahwa korban yang dilakukan dengan penuh cinta kasih akan membawa sukacita dalam hidup. Apa pun yang dilakukan dengan terpaksa hanya menjadi beban dalam hidup ini. Perempuan itu menyadari betul resiko menjadi seorang sopir taksi di kota besar. Namun demi kasih sayangnya kepada keluarga, ia mampu melakukannya dengan penuh sukacita.

Orang beriman mesti berani menampakkan imannya dalam hidup sehari-hari. Iman itu mesti mewujud dalam pengorbanan diri demi kasih sayang yang mendalam kepada sesama yang paling dekat. Korban seperti ini biasanya membawa damai dan sukacita dalam hidup.

Untuk itu, orang beriman mesti berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Tantangan dan rintangan itu menjadi motivasi dalam menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Hanya dengan berani berkorban, orang akan menemukan jati dirinya yang sesungguhnya dalam hidup yang nyata. Mari kita wujudkan iman dalam hidup sehari-hari dengan mengorbankan hidup kita demi kebahagiaan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

979

27 Januari 2013

Menghadapi Godaan dengan Iman

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika godaan menerpa diri Anda? Anda menyerah dan mengikuti godaan itu? Atau Anda tetap bertahan pada integritas diri Anda?

Suatu hari, dompet seorang gadis menipis. Ia tidak perlu kuatir akan hal itu. Mengapa? Karena ia membawa kartu ATM. Karena itu, ia bergegas memasuki sebuah bilik Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Saat itu, ia sangat membutuhkan uang tunai untuk belanja sebelum pulang ke rumahnya. Ia tidak mau pulang ke rumah dulu untuk ambil uang.

Begitu masuk ke bilik ATM itu, layar monitornya bertuliskan, "Apakah Anda ingin melanjutkan dengan transaksi yang lain?" diikuti pilihan "ya dan tidak". Hal itu berarti masih ada kartu ATM yang tertinggal dalam kondisi aktif di sana. Gadis itu mulai tergoda. Ia ingin mengambil uang tanpa harus kehilangan uang.

Setelah melihat kiri dan kanan, ia memastikan bahwa tidak ada orang lain yang melihat. Ketika ia pilih tombol "ya" dan mengklik info saldo, ternyata masih ada hampir Rp 20 juta uang tersisa. Ah, godaan itu semakin kuat menarik diri gadis itu.

Ia berkata dalam hati, “Bagaimana cara mendapatkan uang itu? Ditarik tunai atau ditransfer ke rekening pribadi?”

Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi wajah gadis itu. Degup jantungnya menjadi lebih kencang. Ia melihat kiri dan kanan lagi. Ia memastikan lagi bahwa tidak ada orang yang sedang mengamati dirinya. Tetapi ada dua suara dalam hati nuraninya sepertinya sedang berebut pengaruh. Yang satu mengatakan, "Ambil saja. Kapan lagi? Ini berkatmu..." Sementara suara yang lain berkata, "Ingat posisimu! Jaga integritas!"

Gadis itu sadar. Secepat kilat ia memilih untuk menaati larangan yang lain itu. Bagaimana pun uang itu hak milik orang lain, bukan miliknya.

Sahabat, godaan tidak pernah berhenti menyerang kehidupan kita. Bahkan godaan itu menyerang dari segala lini. Kita seolah-olah tidak bisa bergerak. Kita dilingkupi oleh godaan-godaan itu. Ketika kita lengah, kita dapat saja masuk dalam perangkap godaan itu. Kita jatuh ke dalam godaan itu.

Kisah di atas menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap bertahan pada kebenaran. Kita mesti berani mengatakan ‘tidak’ terhadap tawaran menggiurkan yang ditujukan kepada kita. Kita dituntut untuk memilih yang baik dan benar yang membawa kebahagiaan bagi diri kita. Ketika kita jatuh ke dalam godaan, dosa menjadi bagian dari hidup kita.

Orang yang hidup dalam dosa mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang tertekan oleh dosa-dosa itu. Orang tidak merasa bebas dalam menjalani hidup ini. Selalu saja suara kebenaran menuntut dirinya untuk berlaku jujur.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah mempertahankan integritas pribadi. Ketika orang berani membuat komitmen untuk hidup baik dan benar, orang mesti menepatinya. Orang mesti berusaha keras untuk tetap setia pada komitmen itu. Kalau hal ini yang dilakukan, orang akan mengalami damai dalam hidupnya. Sukacita dalam menjalani hidup ini menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Seorang bijaksana berkata, “Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya” (Amsal 11:6). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

15 April 2012

Menghadapi Rintangan dengan penuh Iman

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda menghadapi rintangan dalam hidup ini? Anda takut atau Anda memberanikan diri untuk menghadapinya?

Wilma Rudolph lahir dari keluarga yg sangat miskin pada 23 Juni 1940 di Tennesee, USA. Ia adalah anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ayahnya hanya seorang kuli angkut barang. Ibunya hanya tukang masak dan cuci baju tetangga. Hidup mereka benar-benar miskin.

Saat berusia empat tahun, ia menderita radang paru-paru dan demam tinggi yang menyebabkan kakinya lumpuh. Orgtuanya tidak mampu membeli obat, karena waktu itu di Amerika masih ada rasialisme yang membuat orang-orang kulit hitam mendapatkan perlakuan buruk dalam hal kesehatan dan pendidikan.

Akhirnya, Wilma harus menggunakan penyangga. Dokter menyatakan bahwa kakinya akan lumpuh selamanya. Tetapi ibunya terus berdoa kepada Tuhan dan memberi keyakinan pada Wilma bahwa ia pasti normal kembali. Di-saat yang buruk, kakinya yang lumpuh semakin mengecil. Kakinya hanya terjuntai ke bawah tak bereaksi apa pun.

“Aku akan menjadi wanita tercepat di dunia di lintasan lari,” kata Wilma, berangan-angan.

Konsekuensinya, ia terus mencoba berdiri, walau sudah ribuan kali ia mencoba dan jatuh. Ia tak menyerah. Pada usia 9 tahun, ia nekat melanggar nasehat dokter. Ia membuang tongkatnya dan melakukan langkah pertama yang menurut dokter-dokter takkan pernah dapat dilakukannya. Selama 3 tahun ia terus mencoba melangkah, berjalan dan berlari.

Pada usia 13 tahun, ia mengikuti lomba lari pertama kalinya. Ia menjadi satu-satunya peserta dengan kaki tak sempurna. Ia kalah. Tapi Wilma terus melaju. Ia terus bertanding di ratusan lomba dan mengalami ratusan kekalahan. Hingga suatu hari ia berhasil menang lomba lari dalam satu kejuaraan Provinsi. Untuk itu, ia berhasil meraih beasiswa di Tennesee State University. Hal itu mempertemukan Wilma dengan seorang pelatih atletik bernama Ed Temple.

“Saya ingin menjadi wanita tercepat di lintasan atletik dunia,” kata Wilma kepada Ed.

Di bawah bimbingan Ed, Wilma terus berlatih siang malam, mengatasi berbagai rintangan, bertanding dalam ratusan lomba dan terus melaju. Akhirnya sejarah mencatat dirinya pada Olimpiade tahun 1960, Wilma Glodean Rudolph, seorang wanita kulit hitam pertama yang pernah menderita polio dan lumpuh, akhirnya menjadi juara Olimpiade. Ia memenangkan 3 medali emas di lintasan lari 100 meter, 200 meter dan estafet 400 meter. Ia menjadi wanita tercepat di dunia di lintasan lari.

Sahabat, apa yang membuat Anda masih bertahan hidup dalam dunia yang tidak menentu ini? Tentu saja Anda punya tekad. Anda punya kemauan untuk maju dalam hidup ini. Karena itu, berbagai rintangan dan halangan Anda abaikan. Yang penting Anda dapat maju dalam hidup Anda. Yang penting Anda dapat meneruskan perjalanan hidup Anda.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ketika ada tekad dan kemauan keras, orang akan mampu menembus berbagai rintangan. Orang akan berani menatap kehidupan ini dengan hati yang tenang. Orang akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih sukses dalam hidupnya.

Rintangan atau tantangan dihadapi sebagai semangat yang mengobarkan hatinya untuk maju dalam hidup ini. Orang seperti ini adalah orang yang beriman. Orang yang berani menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Kita hidup dalam dunia yang senantiasa memberikan kita tantangan. Pertanyaannya, apakah kita berani menghadapi rintangan-rintangan itu? Atau kita terpuruk tak berdaya?

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus berusaha menghadapi berbagai rintangan yang ada. Dengan demikian, kita boleh mengalami damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

889

04 Desember 2011

Ketika Iman dan Perbuatan Bertemu

Apa yang menjadi penghambat dalam hidup beriman Anda? Pernahkah Anda temukan hal-hal yang menghambat itu? Atau Anda merasa sudah menjadi orang beriman yang baik dalam hidup ini?

Seorang nelayan mengoperasikan perahu kecil untuk mengangkut para penumpang. Suatu hari, seorang penumpang memperhatikan bahwa di dua dayung yang dipakai oleh nelayan tersebut terukir kata “Iman” pada salah satu dayung dan kata “Perbuatan” pada dayung lainnya.

Kedua kata tersebut telah menggelitik hati sang penumpang untuk menanyakan maksudnya kepada si pendayung. Merasa bahwa itu adalah kesempatan yang baik untuk bersaksi, si pendayung pun berkata, “Baiklah, aku akan memperlihatkan kepadamu. Ia mengangkat satu dayung. Lantas ia mendayung hanya dengan satu dayung saja yang bertuliskan “perbuatan”. Beberapa kali mendayung, perahu itu hanya berputar-putar di sekitar tempatnya saja.

Setelah itu, ia menaikkan dayung tersebut dan memakai dayung yang bertuliskan “Iman”. Seperti ketika ia memakai dayung pertama, perahu itu juga hanya berputar-putar di tempatnya. Setelah demonstrasi yang ia lakukan, pendayung tersebut mengambil kedua dayung. Ia mulai mendayungnya bersama-sama. Perahu itu pun mulai meluncur maju.

“Ini adalah gambaran kehidupan orang beriman. Iman tanpa perbuatan adalah kemalasan. Sebaliknya, perbuatan tanpa iman adalah kesombongan. Tetapi ketika iman bekerja sama dengan perbuatan, itulah yang akan mendatangkan berkat dan kemajuan,” katanya.

Sahabat, banyak orang merasa bahwa hidupnya sudah cukup berarti dengan beribadat setiap hari. Mereka merasa, imannya telah menyelamatkan diri mereka. Ternyata tidak. Mereka menjadi lemah dalam kehidupan bersama. Mereka hanya memperhatikan hubungan mereka dengan Tuhan. Hubungan dengan sesama tidak mereka pedulikan. Padahal iman itu baru menjadi kuat saat orang menghidupinya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Kisah di atas memberikan kita gambaran betapa iman mesti menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seorang bijaksana mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Orang hidup seperti mobil yang tidak bisa bergerak, karena mesinnya mati. Orang tidak punya hati yang menjadi daya dorong untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan baik dalam hidup.

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh orang beriman adalah memadukan antara pengungkapan iman dan penghayatan iman. Pengungkapan iman menyangkut doa-doa, devosi-devosi, ibadat-ibadat, ziarah-ziarah ke tempat-tempat suci. Sedangkan penghayatan menyangkut cara hidup orang dalam kebersamaan dengan sesama,

Seorang koruptor yang rajin berdoa dan beribadat ibarat mobil yang rusak. Terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya. Antara pengungkapan iman dan penghayatan iman tidak menyatu. Tentu saja ini berbahaya bagi hidup bersama. Orang akhirnya bisa menghalalkan segala cara demi meraih keinginan dirinya.

Orang beriman adalah orang yang sungguh-sungguh memadukan hidup batiniahnya dengan hidup sosialnya. Dengan demikian, tidak terjadi ketimpangan dalam hidup. Mari kita berusaha untuk menghayati iman yang kita ungkapkan dalam doa-doa dan ibadat-ibadat kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dan kedamaian dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


836

01 Oktober 2011

Menumbuhkan Iman agar Menjadi Kokoh


Suatu kali saya bepergian dari kota Milwaukee, Wisconsin, ke Lexington, Kentucky, Amerika Serikat. Pesawat yang saya tumpangi transit di kota Detroit, Michigan. Saya harus naik pesawat yang lain untuk sampai di kota Lexington. Sekitar satu jam saya menunggu pesawat yang akan mengangkut saya dan penumpang lain menuju kota Lexington.

Begitu diumumkan nomor penerbangan yang akan kami gunakan, saya langsung menuju ke pesawat. Melihat pesawatnya, saya heran. Kok kami akan diterbangkan dengan pesawat kecil? Tambahan lagi pesawat tersebut dikendalikann seorang pilot yang masih muda. Tidak ada pramugari atau pramugara yang menyertai penerbangan itu. Begitu semua penumpang masuk, pilot sendiri yang menutup pintu pesawat. Lantas ia membagi-bagikan makanan kecil dan minuman kepada para penumpang yang berjumlah 12 orang. Beberapa saat kemudian, pilot menuju ruang kemudi. Pesawat pun take off.

Selama perjalanan saya berdoa, ”Tuhan, apakah Engkau mau kami semua hilang di belantara Amerika ini? Apa yang Engkau inginkan dari kami?”

Saya menjadi ragu dengan keselamatan kami. Seorang penumpang yang duduk di sebelah saya tahu apa yang saya rasakan. Ia tersenyum memandang saya. ”Anda tidak perlu takut. Pesawat kecil ini sudah terlatih untuk menjelajah daerah ini. Pilotnya masih muda. Tetapi dia sangat berpengalaman. Jadi, tenanglah,” kata orang itu.

Saya tidak begitu percaya dengan kata-katanya. ”Anda boleh saja berkata begitu. Tetapi kalau ada apa-apa dengan pesawat ini, kita akan terjun bebas. Tidak ada yang selamat,” jawab saya.

Penumpang itu tersenyum menyaksikan ketidakpercayaan saya. Setelah setengah jam penerbangan, pesawat kecil itu mendarat dengan mulus. Tidak ada benturan keras di landasan pacu. Ternyata pesawat kecil dan pilot yang masih muda itu bisa dipercaya.

Sahabat, kadang-kadang hati kita kecut menyaksikan sesuatu yang tampaknya tidak punya kekuatan. Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang kecil itu juga punya kekuatan yang besar. Kita cenderung menganggap remeh sesuatu yang kecil itu. Padahal seperti kisah pengalaman tadi, sesuatu yang kecil itu mempunya kekuatan yang luar biasa. Pesawat yang kecil itu ternyata mampu membawa kami sampai tujuan. Tidak ada gangguan apa-apa.

Karena itu, berhadapan dengan sesuatu yang kecil yang tampaknya kurang berarti, kita tidak boleh memvonis begitu saja. Kita mesti beri kesempatan bagi yang kecil dan kurang berdaya untuk bertumbuh. Dengan demikian, yang kecil itu dapat mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Iman yang kita miliki pun awalnya sesuatu yang kecil. Ketika kita pertama kali mengenal Tuhan, mungkin kita kurang begitu yakin bahwa Tuhan mampu menolong kita. Kita ragu-ragu, apakah Tuhan dapat membantu kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita. Namun lama-kelamaan, ketika kita sungguh-sungguh menumbuhkan iman yang kecil itu, kita menjadi orang yang percaya. Kita semakin membangun kesetiaan kepada Tuhan yang kita imani.

Mari kita bangun dan tumbuhkan iman kita yang kecil. Dengan demikian, kita semakin memiliki kesetiaan kepada Tuhan yang kita imani. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

27 Juni 2011

Menghayati Iman dalam Hidup


Seorang ibu bercerita bahwa suatu waktu ia mengalami sakit tenggorokan sampai suaranya hilang. Sakit itu ia alami selama satu tahun. Ketika ia berobat ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ia mengalami radang tenggorokan yang akut. Dokter menganjurkan dirinya untuk beristirahat selama satu minggu.

Anjuran itu tidak bisa dilaksanakan oleh ibu itu, karena profesinya sebagai guru TK yang menuntutnya untuk mengeluarkan suara. Ibu itu tidak bisa meninggalkan tugasnya. Ia tetap masuk ke kelas untuk mengajar anak-anak. Ia memaksakan diri untuk mengeluarkan suara, karena tuntutan profesinya. Akibatnya, penyakit radang tenggorokan itu malah menjadi-jadi sampai mengeluarkan darah.

Ia tidak tinggal diam. Seribu satu langkah ia ambil untuk menyelamatkan tenggorokannya. Ia terus mengobatinya. Namun ia juga memohon bantuan kepada Tuhan. ia yakin, mukjijat akan terjadi dalam hidupnya. Ia yakin, Tuhan akan selalu membantunya untuk kesembuhan tenggorokannya. Keyakinannya ini meneguhkan semangatnya untuk terus maju dalam hidup ini. Ia berhasil. Kombinasi antara usaha diri sendiri dan bantuan Tuhan telah menyembuhkan tenggorakannya.

Ibu itu berkata, “Melalui peristiwa tersebut, iman saya menjadi semakin kuat. Saya menyediakan waktu setiap hari untuk membaca Kitab Suci, berdoa dan beramal.”

Sahabat, banyak orang mengaku beriman kepada Tuhan. Namun kenyataan hidup mereka sering bertentangan dengan iman itu. Misalnya, ada orang yang rajin beribadat, rajin membaca Kitab Suci, namun ternyata ia seorang koruptor kelas kakap. Ada orang yang punya semangat sosial yang tinggi seperti memberi sumbangan untuk kegiatan-kegiatan sosial. Namun kemudian orang ini berurusan dengan polisi, karena menjadi bandar narkoba.

Tentu saja contoh-contoh tadi merupakan kehidupan yang menyimpang dari iman. Kehidupan iman ternyata tidak selaras dengan hidup sehari-hari. Iman yang luhur dan mulia itu tidak diimbangi dengan penghayatan hidup yang baik dan benar. Ada ketimpangan antara iman dan kenyataan hidup sehari-hari.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita masih tetap butuh iman yang hidup. Iman yang hidup itu tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Suatu sikap iman yang selaras dengan penghayatan iman. Orang tidak bisa hanya mengharapkan mukjijat. Orang juga mesti berusaha untuk menghayati imannya dalam hidup sehari-hari.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita senantiasa diajak untuk terus-menerus menghidupi iman kita dalam perjalanan hidup ini. Hanya dengan menjadikan iman kita nyata dengan melaksanakan ajaran-ajaran agama kita masing-masing, kita mampu menjadi orang beriman yang baik.

Mari kita berusaha untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan. Dengan cara ini, kita memiliki iman yang kuat dan tahan uji. Iman kita tidak hanya tampak dalam ibadat dan doa-doa. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


711

19 September 2010

Menghadapi Persoalan dengan Hati dan Iman




Suatu hari seekor elang terbang tinggi. Di kakinya ia membawa dua ekor anaknya yang sudah mulai dipenuhi bulu-bulu di sayap-sayap mereka. Begitu tinggi elang itu terbang. Sambil melihat ke punggung-punggung gunung dan bukit, induk elang itu melemparkan kedua anaknya itu ke bawah. Kontan saja kedua anaknya itu menjerit ketakutan.

Dalam hati mereka menyangka sang ibu telah marah terhadap mereka. Mereka dicampakkan begitu saja ke dalam jurang dan ngarai yang begitu dalam. Namun tidak berapa lama kemudian, keduanya dapat membuka sayap-sayap mereka. Mereka pun terbang menikmati keindahan alam pegunungan dan lembah-lembah yang indah.

Kata salah seekor anak elang, ”Ternyata ibu kita tidak membuang kita. Ibu memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati indahnya alam ini.”

Anak elang yang lain terus-menerus menikmati keindahan alam itu. Hampir-hampir ia menabrak dahan sebatang pohon. Untung saja matanya yang cerdik mampu membebaskan dirinya dari kecelakaan. Hari itu kedua elang itu mengalami sukacita yang mendalam. Mereka menemukan kesejatian diri sebagai elang yang terbang tinggi dan menukik ke darat untuk menangkap mangsa. Hari itu mereka belajar untuk menemukan diri mereka sendiri.

Sahabat, kalau Anda menganggap masalah sebagai beban, Anda akan menghindarinya. Anda akan merasa ngeri, ketika suatu masalah datang kepada Anda. Anda akan mencari cara-cara untuk melarikan diri dari masalah itu. Mengapa? Karena Anda tidak kuat memikul beban itu. Atau Anda tidak mau hidup Anda dipenuhi dengan beban permasalahan.

Namun kalau Anda menganggap masalah sebagai tantangan, Anda akan menghadapinya. Anda akan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut. Anda tidak akan lari menjauhi masalah itu. Bahkan Anda akan membangun optimisme dalam hidup ini untuk segera mengatasi masalah tersebut. Ketika masalah itu Anda atasi, Anda akan menemukan kebahagiaan. Tidak ada yang mengejar-ngejar Anda lagi.

Orang yang berani menghadapi masalah menganggap masalah sebagai anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Masalah itu menjadi kesempatan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Masalah yang dihadapi dengan berhasil akan memberikan motivasi dan semangat bagi orang untuk menemukan kesuksesan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita tidak luput dari masalah-masalah. Selalu saja ada masalah yang kita hadapi. Namun masalah itu mesti kita hadapi dengan hati yang tenang dan iman yang kuat. Karena itu, kita mesti senantiasa membuka hati kita kepada Tuhan. Kita membiarkan Tuhan terlibat dalam hidup kita. Kita biarkan Tuhan masuk ke dalam hati kita untuk membantu kita memecahkan persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

502

21 Juli 2010

Tetap Bertekun dalam Iman

Ada seorang peziarah yang sudah berjalan sangat jauh untuk mengunjungi sebuah tempat ziarah. Ia memang memilih untuk berjalan kaki, meskipun banyak kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya. Ia ingin mengalami dan menghayati suka duka menjadi seorang peziarah. Ia ingin mengalami capek. Ia ingin mengalami hujan dan panas menerpa dirinya. Ia sadar bahwa hal itu tidak mudah. Ada banyak godaan dan tantangan mesti ia hadapi. Namun ia tetap memilih untuk melakukan peziarahannya dengan berjalan kaki.

Ketika ia tiba di tempat ziarah itu, ia merasakan lapar yang luar biasa. Ia merasa sangat capek. Ia merasa tenaganya sudah hampir habis. Tetapi di saat-saat seperti itu ia merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Ia mengalami bahwa ketika ia menjadi lemah, kuasa Tuhan justru menguasai dirinya. Ketika ia merasa diri kuat dan hebat justru Tuhan tidak bisa mendekati dirinya. Tuhan tampak semakin jauh dari hidupnya.

Ia merasakan Tuhan menempa dirinya. Tuhan membentuk imannya kepada Tuhan. Ia seperti tanah liat yang diremas-remas oleh Tuhan dan dibentuk sesuai dengan kehendak Tuhan untuk hadir dalam dunia ini. Karena itu, peziarah itu merasa bersyukur atas rahmat Tuhan yang ia peroleh bagi hidupnya. Tuhan ternyata begitu baik kepadanya. Tuhan tidak meninggalkannya berjuang sendirian di dunia ini.

Banyak orang merasa bahwa hidup mereka seolah-olah tidak memiliki makna. Mereka sudah berusaha mati-matian untuk menumbuhkan imannya, tetapi seolah-olah hidup ini tidak menunjukkan perkembangan yang bermakna. Mereka kecewa terhadap Tuhan yang mereka imani. Mereka menolak kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Mereka memilih jalan mereka sendiri tanpa bantuan Tuhan.

Tentu saja situasi seperti ini menunjukkan bahwa orang kurang bertekun dalam imannya akan Tuhan. Tuhan menuntut ketekunan dan kesetiaan kepadaNya. Tuhan ingin agar orang beriman itu tetap bertahan di dalam imannya. Iman yang tidak mudah luntur oleh berbagai tantangan dan godaan.

Sebagai orang beriman, apa yang mesti kita buat? Orang beriman mesti selalu setia mengembangkan imannya kepada Tuhan. Orang beriman mesti selalu menemukan cara-cara yang terbaik dalam menumbuhkembangkan imannya. Untuk itu, dibutuhkan suatu kesetiaan dan ketekunan dalam berproses menghidupi iman akan Tuhan.

Yang mesti selalu diingat oleh orang beriman adalah proses beriman itu tidak akan pernah selesai. Proses beriman itu terus berlangsung selama hayat dikandung badan. Orang mesti tetap melangkahkan kakinya bersama Tuhan yang juga selalu setia kepadanya. Mari kita berusaha untuk menemukan hidup ini sungguh-sungguh bermakna bagi kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang selalu setia dan bertekun dalam iman kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




445

Bagikan

20 Juli 2010

Berusaha Membangun Iman yang Tangguh


Suatu hari seorang guru agama bertanya kepada salah seorang muridnya, “Sampai seberapa jauh Anda percaya kepada Tuhan?”

Murid itu menjawab, “Lima puluh persen!”

Guru agama itu terkejut. Ia bertanya, “Mengapa hanya lima puluh persen? Bukankah selama ini Anda begitu rajin beribadat?”

Murid itu menjawab, “Bagi saya, Tuhan itu seperti baju yang kita pakai. Kalau kita tidak suka baju yang ini, kita bisa ganti dengan yang lain. Tuhan juga seperti itu. Kalau saya merasa bahwa Tuhan yang saya imani itu tidak membantu saya, saya cari tuhan yang lain.”

Guru agama itu semakin terkejut. Ia tidak bisa percaya, kalau muridnya itu mempunyai pandangan seperti itu tentang Tuhan. Selama ini ia sudah memberikan pelajaran yang begitu banyak dan mendalam tentang Tuhan. Ia berharap, muridnya itu dapat mengimani Tuhan seperti yang ia imani. Ia berharap agar muridnya itu tidak berpaling kepada tuhan-tuhan yang lain. Tetapi nyatanya sangat lain. Justru muridnya itu memiliki hati yang mendua.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada di antara kita yang tidak begitu saja seratus persen menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan yang diimani. Masih ada pegangan lain yang menjadi andalan hidup. Pegangan lain itu bisa roh-roh yang sering gentayangan dalam hidup manusia. Atau bisa saja kekayaan yang menjadi andalan hidup mereka. Tentu saja situasi seperti ini memprihatinkan bagi hidup manusia. Apalagi kalau sampai hal ini menimpa orang-orang yang sangat giat beribadat.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa iman seseorang itu masih mengalami proses. Orang tidak begitu saja memiliki iman yang tangguh. Orang masih tergoda untuk jatuh kepada usaha menduakan Tuhan. Suatu pandangan yang kurang begitu mendalam tentang Tuhan mesti dikoreksi dalam perjalanan hidup manusia. Tuhan bukan seperti baju yang dipakai. Ketika orang kurang beriman kepada Tuhan lantas orang tidak bisa dengan gampang meninggalkan Tuhan.

Karena itu, dibutuhkan suatu pendalaman iman. Orang yang beragama apa pun mesti terus-menerus mendalami imannya akan Tuhan. Orang tidak bisa mengatakan bahwa ia sudah cukup memiliki iman yang mendalam kepada Tuhan, kalau ia masih mendua hati. Orang mesti terus-menerus mendalami imannya sampai akhir hidupnya. Orang seperti ini akan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Orang seperti ini akan tetap bertahan dalam imannya akan Tuhan, apa pun yang terjadi atas dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus membangun iman kita kepada Tuhan. Mendalami iman kita menjadi tugas kita masing-masing untuk tetap bertahan dalam imannya. Orang mesti yakin bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi pegangan hidupnya. Orang mesti tetap menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan apa pun situasi yang dihadapi. Dengan demikian, orang dapat memiliki iman yang tangguh kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
444


Bagikan

21 Mei 2010

Tetap Setia pada Iman



Seorang perempuan terjebak dalam badai yang menakutkan di tengah samudera. Ketika itu ia sedang melakukan suatu perjalanan. Ribuan penumpang ada di kapal itu. Dalam kondisi seperti itu, perempuan itu berusaha menghibur anak-anak yang berlayar bersamanya agar tidak panik. Caranya ialah ia menceritakan kepada mereka kisah-kisah yang menarik. Anak-anak itu begitu tertarik kepada cerita-ceritanya, sehingga mereka lupa bahwa mereka sedang dihantam badai yang hebat.

Setelah mereka selamat, kapten kapal itu mendekati perempuan itu. Rupanya selama di perjalanan ia memperhatikan perempuan bersama anak-anak itu.

Kapten itu bertanya, “bagaimana Anda dapat tetap tenang ketika semua orang takut kalau kapal ini akan tenggelam?”

Saat perempuan itu mengangkat wajahnya, kapten kapal itu menemukan kedamaian dan ketenangan di matanya. Perempuan itu telah mempertahankan hal itu sepanjang perjalanan di atas kapal itu.

“Saya punya dua putri. Seorang tinggal di Bali dan seorang lagi tinggal di surga. Di atas kapal itu saya tahu bahwa dalam waktu beberapa jam saya akan bertemu dengan salah seorang dari mereka. Siapa yang akan saya temui benar-benar tidak masalah bagi saya,” kata perempuan itu, menjelaskan.

Kapten itu terhenyak. Ia memandang penuh kagum terhadap perempuan itu. Ia sungguh-sungguh seorang yang beriman. Ia pasrah apapun yang akan terjadi atas dirinya. Adakah dalam dunia seperti sekarang ini kita temukan iman sebesar ini?

Dalam hidup ini orang sering kehilangan pegangan hidup. Orang merasa bahwa hidupnya terus-menerus dihantui oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Akibatnya, orang lari kepada hal-hal negatif seperti ke dunia perdukunan, perjudian, tahayul. Orang suka mencoba-coba hal-hal seperti itu. Kalau sudah tidak jalan lalu mereka frustrasi.

Mengapa semua ini mesti terjadi? Karena orang sudah kehilangan nilai-nilai luhur kehidupan. Orang menjalankan kehidupan agamanya hanya di permukaan saja. Orang tidak sampai pada transformasi nilai-nilai dan makna kehidupan yang telah diajarkan oleh agama yang dianut itu. Orang lebih suka mencari jalan pintas. Tidak peduli bahwa nilai-nilai yang diajarkan oleh agamanya membutuhkan suatu proses untuk mampu meresap ke dalam kehidupan seseorang.

Karena itu, orang beriman itu dituntut memiliki kesabaran, ketekunan, konsistensi dan keuletan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup ini. Kita perlu bertanya diri, apakah kita sudah memiliki keempat hal ini dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman? Apakah kita sabar ketika menghadapi berbagai persoalan dalam hidup? Apakah kita tekun menjalankan ibadah kita ketika begitu banyak tawaran yang menggiurkan atau godaan untuk meninggalkan ibadah kita? Apakah kita punya konsistensi dalam menghayati iman kepada Tuhan, ketika ada tawaran dari dunia perdukunan, perjudian dan bentuk-bentuk tahayul lainnya? Apakah kita ulet menghidupi iman dan amal perbuatan kita bagi sesama yang kekurangan di sekitar kita?

Setiap hari kita mengalami berbagai pergolakan hidup. Ada yang bertahan dalam pergolakan itu. Ada yang cemas dan ragu-ragu apakah mau terus atau berhenti di jalan. Ada yang terpuruk lemas, karena tidak tahu jalan benar yang mesti ia lewati. Karena itu, mari kita bawa ke hadapan Tuhan. Biar Tuhan yang akan memberikan kekuatan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


384



Bagikan

01 Mei 2010

Iman yang Hidup


Di suatu daerah terjadi kelaparan. Banyak anak yang mengalami gizi buruk. Ada yang mengalami busung lapar. Kondisi tubuh mereka sangat mengenaskan. Sementara orang-orang dewasa tampak kurus kering. Tiada makanan bergizi yang dapat membuat mereka tumbuh dengan baik. Akibat lanjut dari gizi buruk bagi anak-anak itu adalah pertumbuhan otak mereka juga terhambat.

Selidik punya selidik, ternyata akibat dari kelaparan yang melanda daerah itu adalah kaum lelaki malas bekerja. Yang bekerja di ladang dan sawah hanya kaum ibu. Sedangkan kaum lelaki menghabiskan waktu mereka di meja judi. Pagi-pagi buta kaum ibu itu berangkat ke sawah atau ladang. Mereka tidak sempat lagi menyiapkan makan untuk anak-anak mereka. Mereka baru tiba kembali di rumah pada sore hari. Akibatnya, anak-anak mereka terlantar. Apalagi suami-suami mereka tidak peduli terhadap anak-anak mereka.

Kelaparan tidak bisa dielakkan. Namun kaum lelaki tetap cuek. Mereka melanjutkan kebiasaan bermain judi. Mereka memaksa istri-istri mereka untuk memberi mereka uang untuk berjudi. Kalau tidak diberi, kaum istri itu menjadi sasaran pukulan. Mereka juga tidak segan-segan menggadaikan tanah yang mereka miliki untuk berjudi.

Salah satu penyebab kemiskinan adalah kemalasan. Dalam suasana malas itu orang tidak bisa berpikir kreatif. Seolah-olah tidak ada jalan untuk keluar dari kungkungan kemiskinan itu. Dalam keadaan seperti ini orang cenderung mencari yang enak dan menyenangkan bagi diri sendiri. Orang tidak peduli bahwa mereka juga makhluk sosial yang mesti terlibat dalam kehidupan bersama. Orang tidak peduli bahwa hidup mereka juga memiliki fungsi untuk memajukan kehidupan bersama.

St Paulus mengatakan bahwa kalau orang tidak bekerja janganlah ia makan. Melalui kerja seseorang mengekspresikan seluruh hidupnya. Melalui kerja orang mengungkapkan imannya kepada Tuhan yang disembahNya. Orang yang beriman itu tidak hanya mengungkapkan imannya dengan rajin beribadat dan berdoa. Tetapi orang yang beriman itu juga menghayati imannya dalam hidup yang nyata dengan bekerja untuk mencari nafkah.

Bekerja atau memiliki pekerjaan juga merupakan wujud tanggung jawab kita terhadap masyarakat di sekitar kita. Orang yang bekerja menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk memajukan masyarakatnya. Dengan gaji yang ia miliki, ia dapat menyumbang kepada masyarakat melalui pajak. Ia tidak menyumbang pengangguran kepada masyarakat. Ia tidak menyumbang kemiskinan kepada masyarakat di mana ia hidup.

Orang yang beragama itu orang yang selalu menghayati imannya dalam hidup sehari-hari. Bekerja atau memiliki pekerjaan yang baik itu menjadi suatu penghayatan iman kepada Tuhan. Karena itu, kesadaran untuk bekerja merupakan suatu tuntutan terhadap seorang yang beriman. Ia tidak cukup hanya mengatakan ia seorang beriman dengan rajin beribadat dan berdoa. Iman itu mesti ditunjukkan dalam perbuatan nyata. Caranya adalah dengan bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan sesama.

Kalau orang berani menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras bagi diri dan sesama, imannya sungguh-sungguh hidup. Karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman yang hidup itu mesti tampak dalam perbuatan yang nyata pula.

Karena itu, mari kita berjuang untuk menghayati iman kita dengan bekerja yang benar dan rajin. Itulah bagian dari iman kita kepada Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang. Sambil berdoa dan beribadat kepada Tuhan, kita terus bekerja untuk melepaskan diri dan masyarakat kita dari belenggu kemiskinan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


364


Bagikan

26 September 2009

Jangan Hanya Bermimpi


Di sebuah gunung yang tinggi terdapat satu sarang burung elang. Sarang itu berisi empat butir telur besar. Suatu hari, terjadi sebuah gempa yang mengguncang gunung itu, sehingga menyebabkan sebuah telur terlempar keluar sarang, bergulir ke kaki gunung, hingga berhenti di dekat peternakan ayam. Ayam-ayam yang melihat telur itu berpikir bahwa telur besar itu pun harus dilindungi dan dijaga. Ada seekor ayam bersedia mengerami dan memelihara telur elang itu.

Setelah beberapa hari, telur itu pun menetas dan lahirlah seekor elang yang indah. Sayangnya, elang itu dibesarkan untuk menjadi seekor ayam, sehingga sang elang kecil itu pun percaya bahwa ia tidak lebih dari seekor ayam. Sang elang mencintai rumah dan keluarganya, tapi jiwanya berteriak agar dia dapat melakukan lebih banyak lagi.

Ketika suatu kali elang bermain-main di halaman, dia melihat ke atas di mana ada segerombol besar elang sedang terbang dengan sangat gagahnya.

Elang itu berteriak, “Oh, saya ingin bisa terbang seperti burung-burung itu.”

Para ayam pun menertawakan keinginannya itu. Kata mereka dengan nada ejekan, “Kamu tidak bisa terbang seperti burung-burung itu. Kamu tidak dapat terbang dengan burung-burung itu. Kamu adalah ayam dan ayam tidak terbang tinggi.”

Sang elang terus memandangi kelompok elang itu. Keluarganya yang asli berada di atas sana. Dia bermimpi bisa hidup bersama mereka. Sang elang tidak bisa melupakan mimpinya. Tetapi setiap kali dia membicarakan hal itu, semua ayam mengatakan bahwa dia tidak bisa terbang. Dan dia pun percaya. Akhirnya, sang elang berhenti bermimpi dan melanjutkan hidupnya sebagai seekor ayam hingga akhir hayatnya.

Ada orang merasa bahwa mereka hidup dalam suasana yang salah. Dalam kondisi ekonomi sulit begitu, ada orang yang menyesal hidup saat ini. Mereka bermimpi seandainya mereka hidup di tahun tujuhpuluhan mungkin hidup mereka lebih baik. Atau ada juga yang bermimpi hidup di negeri yang makmur dan aman sentosa. Mereka yakin, hidup mereka jauh lebih baik.

Tetapi sekarang orang mesti realistis. Inilah hidup itu. Hidup di jaman sekarang banyak menantang manusia. Manusia dituntut untuk menerima kenyataan hidup ini. Namun manusia mesti tetap berusaha untuk keluar dari kesulitan-kesulitan hidup itu. Caranya adalah dengan menyatukan kemauan, kerja keras dan mimpi. Orang yang ingin keluar dari kesulitan hidup itu mesti berani kreatif melakukan berbagai hal yang baik dan positif untuk kemajuan dirinya.

Inilah iman yang hidup. Iman yang hidup itu iman yang tampak dalam hidup nyata. Orang yang mau mengamalkan imannya dalam hidup sehari-hari itu menjadikan iman itu nyata dan berguna. Iman yang nyata dan berguna itu memotivasi orang untuk tetap bertahan dalam kesulitan hidup. Iman seperti ini mendorong orang untuk tetap melakukan hal-hal yang baik untuk keluar dari kesulitan hidup itu.

Karena itu, mari kita bekerja keras. Jangan terlalu lama bermimpi tentang hidup yang enak dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB



179

15 Juli 2009

Iman yang Berbuahkan Kebaikan

Suatu hari, Tamabana, seorang kepala suku Maori dari Selandia Baru, mendapat suatu kesempatan luar biasa, yaitu berdarmawisata ke Inggris. Sesampai di kota London, ia ditemani seorang pegawai kotapraja melihat-lihat keindahan kota London. Kepada Tamabana diperlihatkan istana-istana para bangsawan dan raja-raja Inggris. Bahkan istana Buckingham yang terkenal itu pun tidak dilewatinya.

Dengan penuh kebanggaan pegawai kotapraja itu berkata, "Hai Tamabana, bukankah istana-istana di Inggris ini sangat indah?"

Tamabana menjawab, "Ah... rumah Bapaku masih jauh lebih indah daripada istana ini."

Mendengar jawaban seperti ini, pegawai kotapraja itu menjadi heran sekali, ia berkata: "Masak rumah bapamu lebih bagus dari istana Buckingham ini?"

Dengan tenang Tamabana, seorang beriman yang saleh menjawab, "Ya, tentu saja rumah Bapaku di sorga lebih bagus daripada istana ini, sebab pondasinya saja dibuat dari 12 macam batu permata yang amat mahal harganya. Belum lagi pintu gerbangnya yang dibuat dari mutiara dan jalan-jalannya dibuat dari emas."

Mendengar jawaban semacam ini si pegawai kotapraja ini terdiam seribu bahasa, sebab ia mau tidak mau harus mengakui kebenaran kata-kata Tamabana ini.

Kesadaran akan hidup abadi sering kurang dirasakan selama orang masih hidup di dunia ini. Apalagi orang itu masih muda dan sedang aktif dalam berbagai kegiatan. Padahal hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Hidup ini seperti orang yang berkemah. Tidak lama. Orang akan beralih ke kehidupan yang lain.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan sudah menyediakan bagi kita kediaman yang abadi. Suatu kediaman yang tidak akan binasa oleh serangan rayap. Kalau manusia berani memperjuangkan kehidupan abadi, ia akan meraihnya kelak. Namun sebenarnya hidup abadi itu sudah dimulai sejak orang masih hidup di dunia ini.

Dalam salah satu pengajaran-Nya, Yesus mengatakan bahwa kehidupan abadi itu diperoleh dengan berbuat baik kepada semakin banyak orang. Caranya adalah dengan memberi makan mereka yang lapar. Memberi minum kepada yang haus. Orang mesti peduli terhadap sesamanya yang sakit dengan mengunjunginya. Orang beriman mesti memberi perhatian kepada sesamanya yang sedang berada dalam kesusahan dan kesulitan hidup.

Karena itu, orang beriman yang benar adalah orang yang mau melaksanakan imannya dalam hidupnya sehari-hari. Iman tanpa perbuatan yang nyata itu pada hakekatnya adalah mati. Iman itu mesti diwujudnyatakan dengan perhatian kepada sesama yang membutuhkan pertolongan.

Mari kita berusaha mewujudkan iman kita dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian iman kita berbuahkan kebaikan, cinta kasih dan pengharapan bagi kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB


(89)