Pages

Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

14 Februari 2014

Sukses Itu Bukan hanya Mimpi




Suatu hari seorang murid bertanya kepada Sang Guru, “Guru, ajarilah bagaimana caranya supaya saya bisa bermeditasi dengan baik.”

Sang Guru bertanya, “Sungguh-sungguhkah engkau dengan permintaanmu itu?”

Jawab murid itu, “Ya, Guru”

Jawab Guru, “Datanglah dan temuilah saya besok malam di sungai di belakang rumah.”

Besok malamnya, murid itu menemui Sang Guru yang telah menunggunya di pinggir sungai itu. Sang guru berkata, “Datanglah kemari dan masuklah ke dalam sungai.”

Murid itu melakukan apa yang diperintahkan gurunya. Tiba-tiba sang guru memegang kepala si murid dan menenggelamkannya ke dalam air. Ia menekan dan menahannya agak lama. Sang murid memberontak dan berusaha untuk keluar dari air. Beberapa detik kemudian, Sang Guru melepaskannya. Murid itu bisa bernafas kembali dengan lega.

Kemudian Sang Guru bertanya, ”Mengapa engkau tidak taat kepadaku dan memberontak saat berada di dalam air tadi?”

Murid itu menjawab, ”Maafkan saya guru, saya hampir mati kehabisan nafas. Saya ingin segera menghirup udara, agar tidak mati lemas.”

Sang Guru berkata, ”Kalau kerinduan dan usahamu untuk meditasi seperti perjuanganmu untuk bernafas tadi, maka engkau pasti bisa sukses sampai kepada doa dan meditasi yang sungguh fokus dan mendesak.”

Sahabat, banyak orang ingin sukses dalam hidupnya, namun ogah-ogahan untuk bekerja keras. Mereka hanya menunggu bintang jatuh dari langit. Padahal semestinya orang berusaha keras untuk meraih bintang itu. Orang tidak perlu menunggu sampai bintang itu jatuh. Orang mesti berinisiatif untuk menemukan sukses itu dalam hidupnya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan itu mesti dilakukan sungguh-sungguh. Orang mesti mengalami sungguh-sungguh perjuangan untuk meraih sukses itu. Orang tidak hanya menggantungkan cita-cita hidupnya setinggi bintang di langit. Namun orang mesti berani merealisasikan cita-cita itu dalam hidupnya. Dengan demikian, kesuksesan itu bukan hanya sebuah impian kosong.

Sebagai orang beriman, usaha-usaha kita meraih sukses dalam hidup ini mesti berada di bawah bimbingan kasih Tuhan. Kita melibatkan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu dalam setiap usaha kita. Dengan demikian, kita dapat meraih sukses itu dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1049

03 Mei 2011

Sukses Itu Bukan hanya Mimpi


Suatu hari seorang murid bertanya kepada Sang Guru, “Guru, ajarilah bagaimana caranya supaya saya bisa bermeditasi dengan baik.”

Sang Guru bertanya, “Sungguh-sungguhkah engkau dengan permintaanmu itu?”

Jawab murid itu, “Ya, Guru”

Jawab Guru, “Datanglah dan temuilah saya besok malam di sungai di belakang rumah.”

Besok malamnya murid itu menemui Sang Guru yang telah menunggunya di pinggir sungai itu. Sang guru berkata, “Datanglah ke mari dan masuklah ke dalam sungai.”

Murid itu melakukan apa yang diperintahkan gurunya. Tiba-tiba sang guru memegang kepala si murid dan menenggelamkannya ke dalam air. Ia menekan dan menahannya agak lama. Sang murid memberontak dan berusaha untuk keluar dari air. Beberapa detik kemudian sang Guru melepaskannya. Murid itu bisa bernafas kembali dengan lega.

Kemudian Sang Guru bertanya, ”Mengapa engkau tidak taat kepadaku dan memberontak saat berada di dalam air tadi?”

Murid itu menjawab, ”Maafkan saya guru, saya hampir mati kehabisan nafas. Saya ingin segera menghirup udara, agar tidak mati lemas.”

Sang Guru berkata, ”Kalau kerinduan dan usahamu untuk meditasi seperti perjuanganmu untuk bernafas tadi, maka engkau pasti bisa sukses sampai kepada doa dan meditasi yang sungguh fokus dan mendesak.”

Sahabat, banyak orang ingin sukses dalam hidupnya, namun ogah-ogahan untuk bekerja keras. Mereka hanya menunggu bintang jatuh dari langit. Padahal semestinya orang berusaha keras untuk meraih bintang itu. Orang tidak perlu menunggu sampai bintang itu jatuh. Orang mesti berinisiatif untuk menemukan sukses itu dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan itu mesti dilakukan sungguh-sungguh. Orang mesti mengalami sungguh-sungguh perjuangan untuk meraih sukses itu. Orang tidak hanya menggantungkan cita-cita hidupnya setinggi bintang di langit. Namun orang mesti berani merealisasikan cita-cita itu dalam hidupnya. Dengan demikian, kesuksesan itu bukan hanya sebuah impian kosong.

Sebagai orang beriman, usaha-usaha kita meraih sukses dalam hidup ini mesti berada di bawah bimbingan kasih Tuhan. Kita melibatkan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu dalam setiap usaha kita. Dengan demikian, kita dapat meraih sukses itu dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

670

08 Januari 2010

Memadukan Kenyataan dan Mimpi


Sebut saja namanya Wartinem. Perempuan beranak enam ini menekuni profesi sebagai penjual jamu gendong. Ia sudah melakukan profesi ini selama 40 tahun. Gurat-gurat ketuaan mulai menghiasi wajahnya. Usaha kerasnya tidaklah sia-sia. Gelas demi gelas jamu yang dijualnya ternyata mampu menghantar keenam anaknya meraih gelar sarjana. Padahal suaminya tidak bisa bekerja lagi karena sakit.

Ketika ditanya tentang rahasia kesuksesannya, ibu sederhana ini menjawab dengan singkat, “Saya mencintai anak-anak saya. Karena itu, saya mesti bekerja untuk hidup mereka.”

Perjuangan Wartinem memang patut diacungi jempol. Banyak godaan dan tantangan yang dihadapi ketika berjualan jamu. Bahkan ia pernah dicopet. Semua uang hasil jualan jamu hari itu lenyap. Namun Wartinem tetap tabah. Ia tetap berjualan jamu. Semua itu ia lakukan demi keenam anaknya yang sangat dicintainya. Mereka mesti mendapatkan pendidikan yang baik. Begitu ia selalu berpikir dalam hatinya.

Karena itu, korban yang ia lakukan berkenan kepada Tuhan. Tuhan membalas korbannya dengan memberikan yang terbaik bagi keenam anaknya. Mereka berhasil meraih pendidikan yang tinggi. Mereka pun kemudian memperoleh pekerjaan yang lebih baik yang sesuai dengan keahlian mereka.

Kisah Ibu Wartinem menunjukkan iman yang hidup. Iman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang beriman itu orang yang tetap berjuang, meski berbagai godaan dan tantangan menghadangnya. Ia tidak peduli panas dan terik yang menerpanya.

Namun dalam dunia ini ada juga banyak orang yang mau enak-enak hidupnya. Mereka ingin meraih sukses yang tinggi, tetapi tidak mau bekerja keras. Mereka memiliki banyak mimpi, tetapi tidak menjadi kenyataan, karena mimpi itu tidak disertai dengan kerja keras. Akibatnya, orang-orang seperti ini mengalami stress dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini mudah putus asa di kala menghadapi godaan dan tantangan.

Orang beriman itu selalu memadukan mimpi dan kenyataan dalam hidupnya. Karena itu, orang yang beriman itu rela berkorban untuk meraih cita-cita hidupnya. Ia tidak peduli seberapa besar korban yang mesti ditanggungnya. Ia tidak malas-malasan sambil mengharapkan bintang jatuh dari langit. Bintang itu mesti ia kejar dan tangkap untuk kemajuan hidupnya.

Mari kita berusaha meraih cita-cita dengan memadukan antara kenyataan dan mimpi dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

287

Bagikan

26 September 2009

Jangan Hanya Bermimpi


Di sebuah gunung yang tinggi terdapat satu sarang burung elang. Sarang itu berisi empat butir telur besar. Suatu hari, terjadi sebuah gempa yang mengguncang gunung itu, sehingga menyebabkan sebuah telur terlempar keluar sarang, bergulir ke kaki gunung, hingga berhenti di dekat peternakan ayam. Ayam-ayam yang melihat telur itu berpikir bahwa telur besar itu pun harus dilindungi dan dijaga. Ada seekor ayam bersedia mengerami dan memelihara telur elang itu.

Setelah beberapa hari, telur itu pun menetas dan lahirlah seekor elang yang indah. Sayangnya, elang itu dibesarkan untuk menjadi seekor ayam, sehingga sang elang kecil itu pun percaya bahwa ia tidak lebih dari seekor ayam. Sang elang mencintai rumah dan keluarganya, tapi jiwanya berteriak agar dia dapat melakukan lebih banyak lagi.

Ketika suatu kali elang bermain-main di halaman, dia melihat ke atas di mana ada segerombol besar elang sedang terbang dengan sangat gagahnya.

Elang itu berteriak, “Oh, saya ingin bisa terbang seperti burung-burung itu.”

Para ayam pun menertawakan keinginannya itu. Kata mereka dengan nada ejekan, “Kamu tidak bisa terbang seperti burung-burung itu. Kamu tidak dapat terbang dengan burung-burung itu. Kamu adalah ayam dan ayam tidak terbang tinggi.”

Sang elang terus memandangi kelompok elang itu. Keluarganya yang asli berada di atas sana. Dia bermimpi bisa hidup bersama mereka. Sang elang tidak bisa melupakan mimpinya. Tetapi setiap kali dia membicarakan hal itu, semua ayam mengatakan bahwa dia tidak bisa terbang. Dan dia pun percaya. Akhirnya, sang elang berhenti bermimpi dan melanjutkan hidupnya sebagai seekor ayam hingga akhir hayatnya.

Ada orang merasa bahwa mereka hidup dalam suasana yang salah. Dalam kondisi ekonomi sulit begitu, ada orang yang menyesal hidup saat ini. Mereka bermimpi seandainya mereka hidup di tahun tujuhpuluhan mungkin hidup mereka lebih baik. Atau ada juga yang bermimpi hidup di negeri yang makmur dan aman sentosa. Mereka yakin, hidup mereka jauh lebih baik.

Tetapi sekarang orang mesti realistis. Inilah hidup itu. Hidup di jaman sekarang banyak menantang manusia. Manusia dituntut untuk menerima kenyataan hidup ini. Namun manusia mesti tetap berusaha untuk keluar dari kesulitan-kesulitan hidup itu. Caranya adalah dengan menyatukan kemauan, kerja keras dan mimpi. Orang yang ingin keluar dari kesulitan hidup itu mesti berani kreatif melakukan berbagai hal yang baik dan positif untuk kemajuan dirinya.

Inilah iman yang hidup. Iman yang hidup itu iman yang tampak dalam hidup nyata. Orang yang mau mengamalkan imannya dalam hidup sehari-hari itu menjadikan iman itu nyata dan berguna. Iman yang nyata dan berguna itu memotivasi orang untuk tetap bertahan dalam kesulitan hidup. Iman seperti ini mendorong orang untuk tetap melakukan hal-hal yang baik untuk keluar dari kesulitan hidup itu.

Karena itu, mari kita bekerja keras. Jangan terlalu lama bermimpi tentang hidup yang enak dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB



179