Pages

Tampilkan postingan dengan label korban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korban. Tampilkan semua postingan

08 Januari 2010

Memadukan Kenyataan dan Mimpi


Sebut saja namanya Wartinem. Perempuan beranak enam ini menekuni profesi sebagai penjual jamu gendong. Ia sudah melakukan profesi ini selama 40 tahun. Gurat-gurat ketuaan mulai menghiasi wajahnya. Usaha kerasnya tidaklah sia-sia. Gelas demi gelas jamu yang dijualnya ternyata mampu menghantar keenam anaknya meraih gelar sarjana. Padahal suaminya tidak bisa bekerja lagi karena sakit.

Ketika ditanya tentang rahasia kesuksesannya, ibu sederhana ini menjawab dengan singkat, “Saya mencintai anak-anak saya. Karena itu, saya mesti bekerja untuk hidup mereka.”

Perjuangan Wartinem memang patut diacungi jempol. Banyak godaan dan tantangan yang dihadapi ketika berjualan jamu. Bahkan ia pernah dicopet. Semua uang hasil jualan jamu hari itu lenyap. Namun Wartinem tetap tabah. Ia tetap berjualan jamu. Semua itu ia lakukan demi keenam anaknya yang sangat dicintainya. Mereka mesti mendapatkan pendidikan yang baik. Begitu ia selalu berpikir dalam hatinya.

Karena itu, korban yang ia lakukan berkenan kepada Tuhan. Tuhan membalas korbannya dengan memberikan yang terbaik bagi keenam anaknya. Mereka berhasil meraih pendidikan yang tinggi. Mereka pun kemudian memperoleh pekerjaan yang lebih baik yang sesuai dengan keahlian mereka.

Kisah Ibu Wartinem menunjukkan iman yang hidup. Iman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang beriman itu orang yang tetap berjuang, meski berbagai godaan dan tantangan menghadangnya. Ia tidak peduli panas dan terik yang menerpanya.

Namun dalam dunia ini ada juga banyak orang yang mau enak-enak hidupnya. Mereka ingin meraih sukses yang tinggi, tetapi tidak mau bekerja keras. Mereka memiliki banyak mimpi, tetapi tidak menjadi kenyataan, karena mimpi itu tidak disertai dengan kerja keras. Akibatnya, orang-orang seperti ini mengalami stress dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini mudah putus asa di kala menghadapi godaan dan tantangan.

Orang beriman itu selalu memadukan mimpi dan kenyataan dalam hidupnya. Karena itu, orang yang beriman itu rela berkorban untuk meraih cita-cita hidupnya. Ia tidak peduli seberapa besar korban yang mesti ditanggungnya. Ia tidak malas-malasan sambil mengharapkan bintang jatuh dari langit. Bintang itu mesti ia kejar dan tangkap untuk kemajuan hidupnya.

Mari kita berusaha meraih cita-cita dengan memadukan antara kenyataan dan mimpi dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

287

Bagikan

22 Juli 2009

Mengutamakan Kelemahlembutan


Seorang guru bijak selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu menggunakan kelemahlembutan. Kekerasan sama sekali tidak boleh digunakan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Menurut guru itu, setiap bentuk kekerasan hanya mendatangkan luka yang tak tersembuhkan.

Terhadap pengajarannya ini, salah seorang muridnya protes. Dia berkata, “Bahkan ketika orang itu mengancam hidup kita?”

Guru itu menjawab, “Benar. Berikanlah hidupmu tanpa kekerasan kalau orang meminta.”

Murid itu bertanya, “Juga kepada mereka yang jahat pada kita?”

Dengan singkat guru bijak itu menjawab, “Ya.”

Para muridnya menjadi bingung dan jengkel dengan ajaran guru bijak ini. Sementara mereka mendiskusikan pengajaran guru mereka, pondok mereka diserang dan dibakar oleh musuh. Mereka kalang kabut. Beberapa murid tewas tertikam pedang dan terpanggang.

Ketika penyerang takut dan lari terbirit-birit, karena yang diserang tidak melawan, guru bijak itu berkata kepada yang masih hidup, “Betapa jauh lebuh porak poranda dan makan banyak korban kalau kita angkat senjata.”

Bagi mereka yang mengandalkan balas dendam, pandangan guru bijak ini tentu sangat bodoh. Bagi orang seperti ini, lebih baik yang jahat dibalas dengan kejahatan. Namun yang ditunjukkan oleh guru bijak dalam kisah di atas justru suatu tindakan tanpa kekerasan ketika menghadapi kekerasan.

Dalam hidup kita sehari-hari terjadi banyak kekerasan. Ada kekerasan dalam rumah tangga di mana suami menganiaya istri. Atau ibu menganiaya anak-anak atau pembantu. Ada kekerasan yang dilakukan oleh para preman yang memaksa penduduk untuk menyerahkan milik kepunyaan mereka. Kekerasan itu sering terjadi ketika kebutuhan hidup manusia tidak terpenuhi. Orang mudah melakukan kekerasan terhadap sesamanya.

Sebagai orang beriman, apa yang mesti kita lakukan? Bagi kita, kita mesti mengandalkan kelemahlembutan dalam hidup ini. Kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru kekerasan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru. Banyak korban akan berjatuhan, kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus mengajak murid-muridNya untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Tetapi ia menjauhkan hukum balas dendam. Tidak boleh lagi dilaksanakan hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang beriman mesti mengandalkan kasih dalam hidupnya. Kasih mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk selalu hidup dalam suasana kasih. Dengan demikian kita dijauhkan dari tindakan kekerasan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (96)