Pages

Tampilkan postingan dengan label kekerasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekerasan. Tampilkan semua postingan

23 Juli 2014

Mengenyahkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga



Apa yang akan Anda lakukan ketika kejahatan terjadi dalam rumah tangga Anda? Saya yakin, Anda pasti merasa sedih. Anda tentu saja tidak bisa menerima kondisi seperti itu. Apalagi Anda sendiri menjadi korban.

Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja! Lagu ratapan anak tiri itu mungkin pas menggambarkan mirisnya nasib Aditya, anak berusia delapan tahun yang menjadi bulan-bulanan pelampiasan kekesalan sang ibu tiri.

Ibu tiri itu mengaku sangat kesal terhadap Aditya. "Saya tak sabar menghadapinya. Makanya saya buang saja di kebun sawit dan semoga dijumpai orang. Itu lebih baik, daripada hilang kesabaranku, terbunuhku pulak dia nanti," kata sang ibu tiri.

Akibat dari perbuatan ibu tiri itu, Aditya mengalami penderitaan lahir dan batin. Ibu tiri dan suaminya tega menyiksa Aditya. Setelah itu mereka membuangnya di kebun sawit di areal perkebunan sawit PTP Nusantara V, Desa Talang Kanto, Kecamatan Tapung Hulu, Kampar, Riau, pada Minggu (15 Desember 2013) lalu.

Aditya nan malang menderita luka di sekujur tubuhnya. Bukan hanya itu, ia mengalami trauma psikologis, apalagi melihat sosok perempuan dan gunting. Ia kemudian berada di bawah relawan yang berusaha untuk mengembalikan kondisi psikologisnya.

Ketika digelandang aparat kepoisian, ibu tiri itu menangis tersedu-sedu. Ia akhirnya ditangkap bersama sang suaminya yang merupakan ayah kandung Aditya setelah menjadi buruan polisi. Ibu tiri itu punya beribu dalih hingga siap sumpah mati. Ia mengaku kesal bukan kepalang melihat tingkah polah Aditya yang dianggapnya nakal. Kedua sejoli ini pun mendekam di sel tahanan Mapolres Kampar.

Sang ibu tiri membantah, jika dia punya niat membunuh Adit. Ia berkata, "Saya minta ke suami agar Adit dibuang saja di kebun sawit biar dipungut orang. Karena saya tak tahan lagi mengasuhnya.”

Sahabat, suatu kejahatan terhadap kehidupan terjadi di depan mata. Sang anak manusia mesti menderita oleh perbuatan orang-orang yang sangat dekat dengan dirinya. Ia menjadi bukan siapa-siapa. Kehadirannya ditolak sama sekali. Kehadirannya tidak diperhitungkan oleh orang-orang yang semestinya mencintai dirinya.

Kisah di atas mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Penyiksaan terhadap sesama manusia mesti dihentikan, karena tidak sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Manusia tidak punya hak atas hidup orang lain. Hanya Tuhan yang punya hak terhadap diri manusia.

Manusia juga tidak bisa mengatasnamakan Tuhan untuk menyiksa sesamanya, apa pun kelakuan sesamanya itu. Mengapa? Tuhan yang memiliki kehidupan ini pun tidak akan menyiksa ciptaanNya. Bahkan Tuhan dengan sabar menantikan pertobatan dari manusia di kala manusia jatuh ke dalam dosa.

Karena itu, kita mesti mendidik diri kita sendiri. Para suami istri mesti mendidik diri untuk bertanggungjawab atas kehadiran anak-anak dalam keluarga. Para pasangan suami istri mesti belajar untuk memiliki kesabaran dalam mendidik anak-anaknya. Siapa pun anak-anak itu, mereka telah dipercayakan Tuhan kepada para pasangan suami istri. Orang mesti mendidik anak-anak itu dengan penuh kasih sayang.

Mari kita membangun kesadaran akan tanggung jawab dalam mendidik sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri, Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1120

20 Juni 2010

Lawan Budaya Kematian dengan Budaya Kehidupan

Beberapa hari yang lalu (Juni 2009), kita dikejutkan oleh tawuran sejumlah siswi SMP di sebuah Taman Rekreasi di Kalimantan. Terjadi duel satu lawan satu. Ada yang pakai rok, ada yang pakai celana panjang. Mereka saling menendang, tarik-tarikan rambut dan berguling-guling di tanah seperti para pegulat. Tragisnya lagi, teman-teman mereka justru bersorak-sorai. Mereka memberikan dukungan kepada teman-temannya yang sedang berkelahi itu.

Banyak yang mengalami memar di wajah. Wajah-wajah yang cantik itu menjadi biru dan lebam. Yang sakit adalah mereka sendiri. Yang malu mereka sendiri. Yang dipertanyaakn oleh banyak orang tentang rasa sopan santun adalah mereka. Semua mata tertuju kepada mereka. Lebih lanjut lagi adalah kebaikan orangtua mereka dipertanyakan. Sekolah mereka juga menjadi obyek tudingan sebagai sekolah yang kurang menanamkan rasa persaudaraan di antara murid-murid.

Kalau dicermati lebih dalam, kondisi seperti ini merupakan cerminan ketidakdewasaan diri. Memang, mereka masih anak-anak yang punya emosi yang meledak-ledak. Mereka masih perlu banyak belajar untuk menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Mereka masih butuhkan bimbingan dari berbagai pihak, agar mereka tidak dikuasai oleh egoisme mereka. Mereka mesti disadarkan bahwa egoisme berlebihan hanya merusak relasi dengan sesama.

Perkelahian massal antarpara pelajar bukan hal yang pertama terjadi. Hal ini sering terjadi di negeri ini. Inilah salah satu bentuk budaya kematian yang sedang melanda dunia. Budaya kematian itu diawali dengan cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri. Cinta seperti ini kemudian menumbuhkan rasa benci yang mendalam terhadap sesama. Akibatnya, sesama menjadi sasaran kebencian itu. Kawan jadi lawan. Sahabat berubah menjadi musuh bebuyutan.

Kalau budaya kematian ini tidak bisa diubah oleh tekad baik, kita akan tetap menyaksikan suatu situasi yang runyam. Suatu situasi yang mengenaskan yang menghancurkan kehidupan manusia. Lambat laun budaya kematian ini akan meresap ke dalam kehidupan bersama. Lama-kelamaan, orang akan mengiyakan budaya kematian ini. Orang merasa situasi seperti ini sudah menjadi biasa. Menyakiti orang lain sebagai hal yang biasa dan sesuai dengan kehidupan bersama. Kalau ini sampai terjadi, ini suatu tragedi kehidupan manusia. Ini suatu skandal kehidupan manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani memberantas budaya kematian ini sampai ke akar-akarnya. Budaya kematian tidak bisa ditolerir dalam kehidupan bersama. Yang mesti selalu tampil dalam kehidupan bersama adalah budaya kehidupan. Suatu budaya yang selalu memperjuangkan nilai-nilai kehidupan seperti cinta kasih, persaudaraan dan kedamaian.

Mari kita terus-menerus memperjuangkan budaya kehidupan dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, kita mampu membangun suatu hidup yang lebih aman dan tenteram dalam kehidupan bersama. Budaya kehidupan mesti menjadi andalan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

414



Bagikan

30 Oktober 2009

Ganti Kekerasan dengan Pengampunan


Suatu hari, seorang bapak ingin menagih utang kepada temannya sebesar lima juta rupiah. Sudah beberapa kali ia menagih, namun temannya itu tidak mau mengindahkannya. Karena itu, kali ini ia mendatangi rumah temannya dengan membawa seekor King Cobra.

Melihat King Cobra yang diacung-acungkan kepadanya, pengutang itu lari terbirit-birit. Ia sangat ketakutan. Ia bahkan menggigil karena takut. Ia bersembunyi tidak jauh dari rumahnya. Namun bapak itu tidak mau pergi juga. Ia tetap menunggu temannya itu.

Dalam hati, bapak itu berkata, “Barang-barang di rumah ini kan bisa saya ambil. Saya akan hitung sampai seharga lima juta. Saya akan bawa pulang ke rumah.”

Bapak itu kemudian mulai mengangkat sebuah televisi layar datar. Ia memasukkannya ke mobilnya. Lantas ia masuk ke dalam rumah lagi untuk mengambil beberapa barang lagi. Begitu ia keluar dari rumah dengan sebuah DVD player, temannya itu keluar dari persembunyiannya. Ia langung berteriak, “Maling.... maling.... “

Kontan saja tetatangga-tetangganya langsung keluar dari rumah mereka. Dengan beramai-ramai mereka menangkap bapak itu. Mereka menggebukinya hingga babak belur. Lalu mereka menyerahkan bapak itu kepada polisi.

Bolehkah kita membalas kejahatan dengan kejahatan? Bolehkah kita main hakim sendiri tanpa tahu apa persoalan yang sebenarnya? Dalam kehidupan kita sehari-hari aksi main hakim sendiri sering terjadi. Para pencuri ayam yang kepergok sering menjadi bulan-bulanan massa. Orang berpikir bahwa kalau seorang pencuri dihukum secara beramai-ramai itu suatu tindakan yang baik. Padahal menyiksa orang lain, apa pun bentuknya, merupakan suatu perbuatan yang tidak berkenan di hati Tuhan.

Yang dikehendaki Tuhan adalah pengampunan. Yang dikehendaki Tuhan dari manusia adalah kasih satu terhadap yang lain. Kekerasan yang dilakukan bukan suatu jalan baik yang mesti ditunjukkan oleh orang-orang yang beriman kepada Tuhan.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita ditantang untuk meninggalkan kekerasan dalam bentuk apa pun. Kekerasan yang dilakukan hanya menumbuhkan balas dendam dalam diri sesama kita.

Mari kita berusaha untuk selalu menempatkan pengampunan di atas segala-galanya. Hanya dengan kerelaan hati untuk mengampuni sesama, kita dapat menciptakan suatu suasana hidup yang lebih baik. Dunia menjadi lebih damai, kalau ada pengampunan dan cinta kasih di antara kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


211

08 September 2009

Berusaha Mengenyahkan Kekerasan





Miss Venezuela, Dayana Mendoza, langsung menitikkan air matanya begitu juri mengumumkan bahwa dialah yang menjadi Miss Universe 2008, Senin (14/7/2008) lalu. Dia menangis haru, meski berkali-kali ia menebar senyum kegembiraan. Ternyata tangis haru Dayana Mendoza itu punya alasan lain. Mahkota kemenangan itu sekaligus membuat dia lega, karena bisa meneriakkan sikap antikekerasan.

Bertempat di Nha Trang, Vietnam, Mendoza berhasil menyingkirkan pesaing dari 80 negara. ”Saya menangis begitu dalam. Saya bangga bisa terpilih,” kata perempuan kelahiran Caracas, Venezuela, 1 Juni 1986.

Mendoza mengatakan, kesempatan ini akan digunakan untuk membangkitkan semangat kampanye antikekerasan. ”Saat ini sesuatu telah terjadi di negara saya dan saya ingin tetap meneriakkan suara saya bahwa kekerasan bukanlah jawaban,” katanya.

Model yang bercita-cita menjadi desainer interior ini pernah menjadi korban penculikan di negaranya. Peristiwa pahit itu telah membentuk pribadinya agar selalu tampil tenang di saat tertekan.

Kekerasan masih saja terjadi di sekitar kita. Ada begitu banyak orang menderita karena kekerasan. Ada orang yang menderita sebagai akibat dari perang yang tak pernah berhenti di daerahnya. Ada anak-anak yang mengalami kekerasan dari orangtua mereka. Ada istri-istri yang mengalami kekerasan dari suami mereka. Pertanyaannya, mengapa kekerasan bisa terjadi di sekitar kita?

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Namun yang pasti adalah kekerasan itu bisa terjadi karena matinya suara hati. Suara hati yang mati itu menyebabkan tidak ada cinta kasih dalam hidup manusia. Manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Egoisme menjadi andalan hidup manusia. Ketika menghadapi benturan dan kesulitan, kekerasan kemudian menjadi kata akhir.

Dalam rumah tangga kekerasan sering terjadi, karena melunturnya cinta kasih. Suami tidak memandang istri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Suami cenderung menguasai istri dengan segala bentuk kekuasaan yang dimilikinya. Relasi yang dibangun bukan lagi berdasarkan cinta kasih, melainkan siapa kuat dia menang. Hasil relasi seperti ini biasanya selalu tidak harmonis. Kekerasan pun dapat terjadi.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengandalkan cinta kasih dalam hidup kita. Cinta kasih itu mampu menghidupkan relasi yang kurang harmonis. Cinta kasih itu mampu membantu kita untuk mengenyahkan segala bentuk kekerasan dari kehidupan kita. Mari kita terus-menerus berusaha untuk meniadakan kekerasan dari lingkungan hidup kita. Dengan demikian hidup kita menjadi damai dan tenteram. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
160






22 Juli 2009

Mengutamakan Kelemahlembutan


Seorang guru bijak selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu menggunakan kelemahlembutan. Kekerasan sama sekali tidak boleh digunakan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Menurut guru itu, setiap bentuk kekerasan hanya mendatangkan luka yang tak tersembuhkan.

Terhadap pengajarannya ini, salah seorang muridnya protes. Dia berkata, “Bahkan ketika orang itu mengancam hidup kita?”

Guru itu menjawab, “Benar. Berikanlah hidupmu tanpa kekerasan kalau orang meminta.”

Murid itu bertanya, “Juga kepada mereka yang jahat pada kita?”

Dengan singkat guru bijak itu menjawab, “Ya.”

Para muridnya menjadi bingung dan jengkel dengan ajaran guru bijak ini. Sementara mereka mendiskusikan pengajaran guru mereka, pondok mereka diserang dan dibakar oleh musuh. Mereka kalang kabut. Beberapa murid tewas tertikam pedang dan terpanggang.

Ketika penyerang takut dan lari terbirit-birit, karena yang diserang tidak melawan, guru bijak itu berkata kepada yang masih hidup, “Betapa jauh lebuh porak poranda dan makan banyak korban kalau kita angkat senjata.”

Bagi mereka yang mengandalkan balas dendam, pandangan guru bijak ini tentu sangat bodoh. Bagi orang seperti ini, lebih baik yang jahat dibalas dengan kejahatan. Namun yang ditunjukkan oleh guru bijak dalam kisah di atas justru suatu tindakan tanpa kekerasan ketika menghadapi kekerasan.

Dalam hidup kita sehari-hari terjadi banyak kekerasan. Ada kekerasan dalam rumah tangga di mana suami menganiaya istri. Atau ibu menganiaya anak-anak atau pembantu. Ada kekerasan yang dilakukan oleh para preman yang memaksa penduduk untuk menyerahkan milik kepunyaan mereka. Kekerasan itu sering terjadi ketika kebutuhan hidup manusia tidak terpenuhi. Orang mudah melakukan kekerasan terhadap sesamanya.

Sebagai orang beriman, apa yang mesti kita lakukan? Bagi kita, kita mesti mengandalkan kelemahlembutan dalam hidup ini. Kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru kekerasan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru. Banyak korban akan berjatuhan, kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus mengajak murid-muridNya untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Tetapi ia menjauhkan hukum balas dendam. Tidak boleh lagi dilaksanakan hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang beriman mesti mengandalkan kasih dalam hidupnya. Kasih mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk selalu hidup dalam suasana kasih. Dengan demikian kita dijauhkan dari tindakan kekerasan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (96)