Pages

Tampilkan postingan dengan label kejahatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejahatan. Tampilkan semua postingan

28 Juni 2014

Mencegah Kejahatan dengan Kasih Berlimpah

 
Apa yang akan Anda lakukan berhadapan dengan kejahatan dalam hidup Anda? Anda berlaku permisif? Atau Anda berusaha mencegahnya?

Pada tahun 1978, Mary Vincent kabur dari rumahnya di Las Vegas, Amerika Serikat. Ketika itu, ia berusia 15 tahun. Setelah tiga bulan, ia siap untuk pulang dan memutuskan mencegat mobil untuk tumpangan gratis. Lawrence Singleton (60) menaikkannya ke dalam van berwarna birunya. Ia kemudian memperkosa Mary dan memotong lengannya dengan sebuah kampak. Ia melemparnya ke dalam jurang dan meninggalkannya hampir mati.

Namun Mary masih hidup. Keesokan harinya, ia ditemukan berjalan di dekat jalan raya. Ia mengangkat tangannya ke udara untuk mencegah aliran darah yang semakin deras. Singleton ditangkap dan terbukti bersalah. Namun ia hanya mendapatkan hukum 8 tahun penjara atas kejahatannya itu. Ia berulang kali menulis kepada penasihat hukum Mary mengatakan bahwa ia akan membunuh Mary ketika ia keluar dari penjara.

Mary hidup tersembunyi, penuh ketakutan terhadap ancaman Singleton. Tahun 1997, Singleton dibebaskan dari penjara. Sembilan hari kemudian ia membunuh seorang pelacur di Florida.

Sementara itu, Mary telah sembuh dari ketakutannya, menikah dan memiliki dua orang anak. Sial, ia diceraikan oleh suaminya. Kemiskinan pun menjadi bagian dari hidupnya. Ia tinggal di sebuah POM Bensin tanpa penghangat di daerah dengan musim dinginnya. Bagi Mary, ini suatu penderitaan yang luar biasa hidup bersama dua orang anaknya.

Tampaknya penderitaan itu tidak berlangsung lama. Ia kemudian menikah dengan seorang pemuda. Inilah kesempatan lebar bagi Mary untuk mulai berkarya. Bersama suami baru, Mary mulai menghabiskan hari-harinya dengan melukis. Ia melukis dirinya sendiri di hadapan sang suami. Lukisannya berkualitas tinggi. Pada 2002, bersama beberapa temannya, ia mengadakan pameran seni.

Setelah mengalami semua penderitaan, terbitlah cahaya dalam kehidupan Mary. Ia kemudian mengikuti pencalonan menjadi walikota Seatle, Negara bagian Washington, Amerika Serikat. Ia menang. Kini ia menjadi walikota yang sangat peduli terhadap karya seni.

“Ia menghancurkan seluruh hidup saya. Cara berpikir saya. Cara hidup saya. Namun saya masih mengerjakan segala sesuatu yang dapat saya lakukan. Sekarang saya berhasil mengatasinya,” kata Mary.

Sahabat, menjadi suatu penderitaan yang sulit dilupakan bagi orang yang tidak menyangka akan menjadi korban. Apalagi hal itu terjadi atas harga diri. Sesuatu yang mesti dijaga dan diperjuangkan. Hal ini berlaku bagi siapa saja, karena memperjuangkan kehidupan tidak bisa ditawar-tawar.

Kisah di atas merupakan tragedi kehidupan manusia. Suatu tragedi yang menimpa anak manusia. Akibatnya, ia menderita dalam hidupnya. Tidak hanya penderitaan fisik. Lebih-lebih penderitaan psikis yang akan terbawa terus dalam hidupnya. Namun Mary Vincent dapat mengatasi dirinya. Dalam kondisi terjepit, ia justru menghasilkan karya yang spektakuler. Ia pun kemudian menjadi seorang pemimpin yang tidak menaruh dendam.

Kita hidup dalam dunia yang sering kurang menghargai kehidupan dan martabat manusia. Kejahatan demi kejahatan sering kita saksikan dalam kehidupan ini. Orangtua menganiaya anak. Suami menghabisi nyawa istri atau sebaliknya. Perampokan sering disertai dengan kematian dari korban. Seolah-olah hidup ini begitu mengerikan. Akibatnya, banyak orang takut akan kehidupan ini.

Orang beriman tentu mengasah hati dan tingkah lakunya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Orang beriman tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh kejahatan. Sebaliknya, orang beriman senantiasa dikuasai oleh kebaikan dan kasih.

Karena itu, kita mesti senantiasa memperjuang kebaikan dan kasih di atas segala-galanya. Kita mesti mencegah terjadinya ancaman terhadap hidup manusia dengan kasih yang berlimpah-limpah. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1113

06 November 2011

Jangan Balas Kejahatan dengan Kejahatan

Bagaimana sikap Anda terhadap orang yang kurang baik terhadap Anda? Anda ikut-ikutan bersikap kurang baik pula?

Suatu hari saya dan seorang teman berbelanja di salah satu supermarket di kota Palembang. Setelah mengambil barang-barang yang kami butuhkan, kami menuju kasir untuk membayar. Kami memegang nota pembayaran masing-masing di tangan. Yang kami jumpai adalah seorang kasir yang saat itu berwajah seram. Ia tampak sedang punya masalah. Entah masalah apa, yang penting dia sedang kurang begitu bersahabat.

Akibatnya, kasir itu melayani kami dengan kurang begitu baik. Tiada seutas senyum pun menghiasi wajahnya. Wajahnya cemberut. Teman saya merasa jengkel terhadap pelayanan yang tidak bersahabat itu. Ia menendang-nendang kaki saya, seolah mendesak agar kami segera pergi dari hadapan kasir itu.

Sebaliknya, saya merasa tidak ada persoalan dengan wajah kasir itu. Saya menikmati saja pelayanan seperti itu. Toh, bagi saya yang penting saya bayar apa yang saya beli lalu saya segera pergi. Teman saya itu malah merasa saya tidak waras menyaksikan pelayanan yang buruk dari kasir itu.

Tidak lama kemudian kami pun pergi dengan barang-barang belanjaan kami. “Mengapa kamu bersikap sopan kepada penjual menyebalkan itu? Kamu kan lihat wajahnya yang cemberut seperti itu. Masak kamu malah meladeni dia dengan senyum segala?” tanya teman itu kepada saya.

Sambil tersenyum, saya menjawab, “Mengapa saya harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Biarin saja dia cemberut. Saya tidak perlu terpengaruh oleh sikapnya itu. Dia punya kebebasan untuk bersikap seperti apa terhadap kita. Kamu boleh marah terhadapnya, tetapi tidak bisa melarangnya.”

Sahabat, sering kita menghendaki agar orang lain sama seperti kita dalam segala hal. Namun keinginan kita itu tidak mungkin terjadi. Mengapa? Karena setiap orang punya keunikan. Kita tidak pernah dilahirkan sama. Kita dilahirkan berbeda. Bahkan anak kembar pun tidak sama dalam tindak tanduk mereka. Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita menghargai tingkah laku sesama kita. Kita sendiri mesti tetap bertahan dalam perbuatan baik yang kita miliki.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa melakukan suatu tindakan baik tidak tergantung dari tindakan orang lain terhadap kita. Orang boleh bersikap kurang jujur dan adil terhadap kita. Namun kita mesti tetap bertahan pada perbuatan baik kita kepada sesama. Hanya dengan cara seperti ini kita melestarikan cinta kasih yang telah kita perjuangkan selama bertahun-tahun.

Janganlah kita membalas kejahatan dengan kejahatan. Mengapa? Karena akan terjadi hidup yang tidak menyenangkan. Kita akan menemukan suatu situasi hidup yang tidak membahagiakan. Perbuatan kasih yang kita tampilkan dalam hidup ini akan membantu kita untuk bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik. Karena itu, mari kita hidup dalam kasih Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk menumbuhkan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

22 Juli 2009

Mengutamakan Kelemahlembutan


Seorang guru bijak selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu menggunakan kelemahlembutan. Kekerasan sama sekali tidak boleh digunakan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Menurut guru itu, setiap bentuk kekerasan hanya mendatangkan luka yang tak tersembuhkan.

Terhadap pengajarannya ini, salah seorang muridnya protes. Dia berkata, “Bahkan ketika orang itu mengancam hidup kita?”

Guru itu menjawab, “Benar. Berikanlah hidupmu tanpa kekerasan kalau orang meminta.”

Murid itu bertanya, “Juga kepada mereka yang jahat pada kita?”

Dengan singkat guru bijak itu menjawab, “Ya.”

Para muridnya menjadi bingung dan jengkel dengan ajaran guru bijak ini. Sementara mereka mendiskusikan pengajaran guru mereka, pondok mereka diserang dan dibakar oleh musuh. Mereka kalang kabut. Beberapa murid tewas tertikam pedang dan terpanggang.

Ketika penyerang takut dan lari terbirit-birit, karena yang diserang tidak melawan, guru bijak itu berkata kepada yang masih hidup, “Betapa jauh lebuh porak poranda dan makan banyak korban kalau kita angkat senjata.”

Bagi mereka yang mengandalkan balas dendam, pandangan guru bijak ini tentu sangat bodoh. Bagi orang seperti ini, lebih baik yang jahat dibalas dengan kejahatan. Namun yang ditunjukkan oleh guru bijak dalam kisah di atas justru suatu tindakan tanpa kekerasan ketika menghadapi kekerasan.

Dalam hidup kita sehari-hari terjadi banyak kekerasan. Ada kekerasan dalam rumah tangga di mana suami menganiaya istri. Atau ibu menganiaya anak-anak atau pembantu. Ada kekerasan yang dilakukan oleh para preman yang memaksa penduduk untuk menyerahkan milik kepunyaan mereka. Kekerasan itu sering terjadi ketika kebutuhan hidup manusia tidak terpenuhi. Orang mudah melakukan kekerasan terhadap sesamanya.

Sebagai orang beriman, apa yang mesti kita lakukan? Bagi kita, kita mesti mengandalkan kelemahlembutan dalam hidup ini. Kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru kekerasan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru. Banyak korban akan berjatuhan, kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus mengajak murid-muridNya untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Tetapi ia menjauhkan hukum balas dendam. Tidak boleh lagi dilaksanakan hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang beriman mesti mengandalkan kasih dalam hidupnya. Kasih mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk selalu hidup dalam suasana kasih. Dengan demikian kita dijauhkan dari tindakan kekerasan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. (96)