Pages

Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2014

Terus-menerus Belajar dari Kehidupan

 
Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda berhadapan dengan sesuatu yang baru sama sekali bagi Anda? Anda meninggalkannya? Atau Anda ingin mempelajarinya dengan penuh kesungguhan?

Aktris Kristen Stewart (23) telah menjalani pelatihan militer dengan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mendukung aktingnya di film terbaru, Camp X-Ray. Dia pun menginginkan bisa lebih menghayati perannya sebagai tentara muda. Dia ingin terlihat seasli mungkin sebagai tentara.

Pertengahan tahun 2013 sempat beredar foto-foto Stewart yang mengenakan baju tentara sedang berlatih militer. Dalam film drama tersebut, Stewart berperan sebagai Amy Cole, seorang tentara yang bertugas di Guantanamo Bay dan berteman dengan seorang narapidana.

Bintang film Twilight ini berkata, "Saya menghabiskan beberapa waktu dengan para tentara Angkatan Laut. Saat itu, saya benar-benar merasa menjadi tentara. Keren sekali! Mereka sangat baik."

Film Camp X-Ray yang disutradarai Peter Sattler tersebut pertama kali diluncurkan di ajang Sundance Film Festival 2014 di Utah, Amerika Serikat.

Peraih penghargaan British Academy Film Awards 2010 ini berkata, "Kami ingin membuat film itu sebaik mungkin dan terlihat asli. Kalau akting saya tidak mirip dengan tentara, saya pasti kecewa dan membenci film itu. Kami berusaha supaya semua adegan berjalan seperti kehidupan nyata."

Sahabat, lain padang lain belalang. Begitulah pepatah kuno yang tetap laris manis di zaman modern ini. Artinya, orang mesti berani belajar sesuatu yang baru ketika dia mulai hidup di tempat yang baru. Orang mesti berani menyesuaikan diri dengan dunia yang baru. Dengan demikian, orang akan meraih kesuksesan dalam hidup ini.

Apa yang dilakukan oleh aktris Kristen Stewart merupakan suatu tindakan bijaksana. Belajar sesuatu yang baru menjadi kewajibannya sebagai seorang bintang film. Ia rela berlelah-lelah bersama para tentara Angkatan Laut. Hal itu menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga. Tentu bukan hanya untuk syuting film yang dibintanginya. Tetapi juga untuk hidupnya selanjutnya. Mengapa? Karena pengalaman itu melekat pada dirinya. Pengalaman itu guru yang sangat berguna bagi kehidupan.

Banyak orang berusaha menghindari belajar sesuatu yang baru. Mereka merasa bahwa belajar sesuatu yang baru itu membuat mereka capek. Apa-apa sedikit harus belajar. Akibatnya, mereka merasa malas untuk belajar. Padahal belajar sesuatu yang baru itu menyenangkan. Ada pengetahuan dan ketrampilan baru yang diperoleh. Hasilnya, orang memperkaya dirinya dengan sesuatu yang baru itu.

Setiap hari Tuhan memberi kita pengalaman-pengalaman baru. Namun manusia sering kurang menyadarinya. Manusia merasa bahwa hari ini sama saja dengan hari kemarin dan besok. Padahal selalu ada yang baru dalam kehidupan ini. Tuhan ingin agar kita mempelajari sesuatu yang baru itu. Tuhan ingin agar kita memperkaya diri dengan sesuatu yang baru itu.

Orang beriman mesti berani dan berusaha untuk senantiasa belajar ketika hendak melakukan sesuatu yang baru. Pepatah mengatakan, ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijinjing’. Artinya, orang mesti berani belajar sesuatu yang baru, ketika hendak memulai sesuatu yang baru. Mari kita menanamkan semangat untuk terus-menerus belajar dari kehidupan. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1131

19 Juli 2014

Memperjuangkan Kehidupan karena Berharga




Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menyaksikan terancamnya kehidupan sesama Anda? Anda diam dan menutup mata Anda rapat-rapat? Atau Anda mau memperjuangkannya?

Sebuah panel penyelidik PBB, Kamis (19/12/2013), mengatakan pihaknya yakin pemerintah Suriah sedang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan melenyapkan orang secara sistematis. Para pemberontak belum lama ini juga mulai melenyapkan para lawan mereka. Taktik perang digunakan pemerintah Presiden Bashar Assad. Taktik itu dapat dikatakan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Mengapa? Karena hal itu merupakan bagian dari kebijakan untuk menyebarkan teror dan penderitaan mental di kalangan orang-orang yang bertanya-tanya tentang orang yang mereka cintai.

Namun, kata panel itu, sebagian besar oposisi melakukan kejahatan perang dengan menculik pendukung hak asasi manusia, wartawan, aktivis, pekerja kemanusiaan, pemimpin agama dan orang-orang yang dianggap sebagai pendukung pemerintah Assad. Itu merupakan kejahatan perang karena walau tidak sistematis, para korban biasanya disandera untuk mendapatkan tebusan atau untuk dipertukarkan. Keberadaan mereka tidak disembunyikan.

Kelompok oposisi Suriah di pengasingan, yaitu Koalisi Nasional Suriah, mengatakan setiap kelompok oposisi yang secara ilegal menangkap dan manahan warga sipil tak berdosa sedang melanggar tujuan dasar pemberontakan Suriah. Juru bicara koalisi itu berkata, "Tindakannya melayani kepentingan rezim."

Paulo Sergio Pinheiro, seorang diplomat dan ilmuwan Brazil, mengatakan pihaknya menemukan "sebuah pola luas yang konsisten" yang dilakukan pihak keamanan, angkatan bersenjata dan milisi pro-pemerintah Suriah. Mereka menangkap orang secara massal atau pencarian dari rumah ke rumah, di pos pemeriksaan dan rumah sakit. Kemudian mereka melenyapkan orang-orang itu dan bahkan menyangkal mereka pernah ada. Dalam tiga tahun konflik, perang saudara telah menewaskan lebih dari 120.000 orang.

Sahabat, semestinya dunia yang semakin maju dan beradab tidak lagi mengandalkan perang untuk menyelesaikan konflik. Sayang, perang masih menjadi solusi bagi penyelesaian suatu masalah. Padahal akibat perang itu sangat mengerikan. Kemanusiaan selalu menjadi korban dari sebuah perang. Kehidupan manusia selalu menjadi sasaran kemusnahan.

Laporan panel PBB tadi membuat bulu kuduk kita berdiri. Mesti begitukah tingkah manusia terhadap sesamanya? Sampai-sampai melakukan pembunuhan secara sistematis terhadap sesamanya yang tidak berdosa? Semestinya di dunia yang semakin beradab ini, pemusnahan terhadap kehidupan telah dihentikan. Yang diandalkan manusia adalah hati yang berkelimpahan kasih. Hati yang melihat sesamanya sebagai saudara yang mesti diselamatkan ketika berada dalam bahaya.

Orang beriman mesti mengatakan ‘stop’ terhadap pemusnahan terhadap kehidupan. Orang beriman mesti senantiasa memperjuangkan kehidupan. Mengapa? Karena kehidupan itu sangat berharga. Kehidupan menjadi kesempatan bagi manusia untuk mengekspresikan kasih sayangnya terhadap sesamanya.

Karena itu, kita mesti mulai dari diri kita sendiri untuk senantiasa memperjuangkan kehidupan dalam peristiwa-peristiwa hidup kita. Memang, hal ini tidak gampang, karena kita masih memiliki egoisme. Namun dengan rahmat Tuhan, saya yakin kita akan dikuatkan untuk memilih memperjuangkan kehidupan daripada kematian. Mari kita terus-menerus berjuang untuk keselamatan umat manusia. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT



1118

11 Maret 2014

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Mereka memilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyak orang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemani istrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istri mengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuh kesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suami berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan.

Sambil menatap suaminya dengan senyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasil tidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sang suami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enak untuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalani proses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyita perhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korban membuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntut kesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orang yang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indah dan nikmat.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah ada jari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban, bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepung akan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kue yang manis.

Ketika ada tangan yang mau bergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatu kebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orang yang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1071

09 Maret 2014

Belajar tentang Makna Kehidupan


Apa yang Anda kuatirkan tentang hidup ini? Banyak orang kuatir akan persediaan bahan-bahan untuk makan dan minum. Ada yang kuatir tidak punya barang-barang mewah untuk menunjang hidupnya.

“Kami tidak terlalu kuatir, jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih kuatir, jika mereka tidak pandai mengantri,” kata seorang guru di Australia.

Sewaktu ditanya mengapa dan bisa begitu, ia mengatakan bahwa kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan secara intensif untuk bisa Matematika. Sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri. Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik proses mengantri.

“Tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu Matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian dari mereka ada yang jadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis, politikus. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan ‘Etika Moral dan Pelajaran Berharga’ dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak,” katanya.

Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik mengantri. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama, jika ia di antrian paling belakang.

“Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri,” tandasnya.

Di Jepang, biasanya orang akan membaca buku saat mengantri. Saat mengantri, anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat, mereka harus terima konsekuensinya di antrian.

Sahabat, berapa dari Anda yang mau peduli terhadap orang lain saat berada di antrian? Mungkin bisa dihitung dengan jari-jari tangan kita. Begitu banyak orang tidak ingin antri. Orang ingin berada di garis depan dalam suatu antrian. Karena itu, mereka mudah menyerobot. Tidak peduli terhadap keberadaan orang lain. Orang merasa diri jauh lebih penting daripada sesamanya. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang memiliki egoisme yang begitu besar.

Orang merasa dirinya yang paling penting. Orang tidak berani berhadapan dengan konsekuensi. Mokhtar Lubis, dalam bukunya Manusia Indonesia, mengatakan bahwa salah satu ciri orang Indonesia itu orang yang tidak bertanggungjawab. Orang yang tidak berani berhadapan dengan tanggung jawab. Selalu mengatakan ‘tidak’ atau ‘bukan saya’, ketika dimintai tanggungjawab atas kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah belajar mengantri di tempat-tempat umum. Orang yang dengan sukarela mengantri itu orang yang memiliki rasa sabar yang tinggi. Orang seperti ini tidak pernah cemas akan kehidupannya. Mengapa? Karena ia sudah tahu akan konsekuensi yang dihadapinya, kalau ia tidak disiplin waktu. Akan ada kreativitas saat mengantri. Bisa saja menyapa orang-orang yang berada di depan, belakang atau samping kiri kanannya. Keramahannya memberikan kesempatan baginya untuk memiliki teman dan sahabat baru.

Sayang, di negeri ini tidak ada pendidikan untuk mengantri. Otak anak-anak Indonesia lebih dijejali oleh angka-angka matematis. Bukan nilai-nilai moral dan kehidupan yang sebenarnya lebih mereka butuhkan untuk perjalanan hidup mereka.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran baru tentang makna kehidupan. Yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan hal-hal material. Tetapi juga hal-hal moral dan spiritual yang justru membantu orang untuk maju dalam kehidupannya. Mari kita belajar untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih harmonis. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1070

08 Maret 2014

Belajar dari Kehidupan Sehari-hari


Belajar dari kehidupan sehari-hari mulai ditinggalkan oleh anak-anak zaman kini. Mereka lebih memilih sesuatu yang jauh dari diri mereka untuk belajar kehidupan. Padahal sesuatu yang dekat itulah sesuatu yang nyata.

Seorang anak selalu protes terhadap orangtuanya, ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu. Setiap hari ia mesti menyelesaikan satu pekerjaan. Setiap anggota keluarga mempunyai tugas masing-masing. Sang Ibu bukan hanya memerintah anak-anaknya. Namun nasihatnya bak air terjun yang tidak pernah habis mengalir. Selalu saja muncul dari mulutnya kata-kata nasihat.

Suatu hari anak itu berkata, “Aku protes, mengapa setiap hari kami harus bekerja. Mengapa ibu selalu ngomel, memberi nasihat tanpa henti?”

Namun orangtuanya sudah punya alasan yang tepat untuk anaknya. Sang bapak berkata, “Kami minta kamu semua bekerja, bukan berarti kami tidak mencintai kalian. Kami sangat menyayangi kamu semua. Kami hanya ingin melatih kamu, supaya dapat bekerja.”

Rupanya kemandirian dalam hidup menjadi hal utama yang mau ditanamkan dalam diri anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat bekerja dan dapat memiliki masa depan yang cerah.

Suatu hari Sang Ibu berkata, “Semua itu kami lakukan karena cinta kepada anak-anak. Kami akan mewariskan hidup, iman dan cinta kepada anak-anak. Kami ingin hidup, cinta dan iman ini terus-menerus hidup. Anak-anak yang meneruskan usaha, perjuangan dan hidup kami.”

Sahabat, inilah suatu kesempatan yang sangat indah bagi anak-anak untuk belajar mengenai kehidupan. Orangtua menjadi contoh dan teladan bagi hidup anak-anak. Mereka dapat berbicara dari hati ke hati dan dapat saling menerima. Mereka dapat saling memahami.

Situasi seperti ini tentu saja sungguh-sungguh menyenangkan. Ada suasana saling berbagi kasih. Ada situasi orang saling belajar tentang makna kehidupan. Ternyata hidup itu tidak dijalani begitu saja. Hidup itu mesti diarahkan. Hidup itu mesti memiliki tujuan yang jelas.

Orangtua memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Ada pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Artinya, orangtua yang mengajarkan sesuatu yang baik melalui cara hidupnya yang baik akan berbuah kebaikan pula. Hal itu tampak dalam perilaku anak-anaknya.

Soalnya, di zaman sekarang banyak anak yang kurang mendapatkan contoh dan teladan yang baik dari orangtuanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis mereka. Peran mereka sebagai orangtua sudah digantikan oleh baby sitter atau pengasuh. Mereka tinggal menerima beres saja.

Benarkah hal ini? Semestinya orangtua mengambil peran yang lebih banyak dalam mendidik anak-anak mereka. Orangtua mesti lebih banyak berada bersama anak-anak mereka. Orangtualah yang semestinya mewariskan nilai-nilai hidup kepada anak-anak mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1069

04 September 2013

Belajar tentang Makna Kehidupan

Apa yang Anda kuatirkan tentang hidup ini? Banyak orang kuatir akan persediaan bahan-bahan untuk makan dan minum. Ada yang kuatir tidak punya barang-barang mewah untuk menunjang hidupnya.

Seorang seorang guru di Australia berkata, “Kami tidak terlalu kuatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika.Kami jauh lebih kuatir, jika mereka tidak pandai mengantri.”

Sewaktu ditanya mengapa dan bisa begitu, ia mengatakan bahwa kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan secara intensif untuk bisa Matematika. Sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri. Ia mengatakan bahwa ada pelajaran berharga di balik proses mengantri.

Guru itu berakata, “Tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu Matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian dari mereka ada yang jadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis, politikus. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelasyang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan ‘Etika Moral dan Pelajaran Berharga’ dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.”

Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik mengantri. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama, jika ia di antrian paling belakang.

Ia berkata, “Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri.”

Di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri. Saat mengantri, anak bisa belajar bersosialisasi menyapa danmengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat, mereka harus terima konsekuensinya di antrian.

Sahabat, berapa dari Anda yang mau peduliterhadap orang lain saat berada di antrian? Mungkin bisa dihitung dengan jari-jari tangan kita. Begitu banyak orang tidak ingin antri. Orang ingin berada di garis depan dalam suatu antrian. Karena itu, mereka mudah menyerobot. Tidak peduli terhadap keberadaan orang lain. Orang merasa diri jauh lebih penting daripada yang lain. Pertanyaannya, mengapa hal ini bias terjadi? Hal ini bias terjadi karena orang memiliki egoism yang begitu besar.

Orang merasa dirinya yang paling penting. Orang tidak berani berhadapan dengan konsekuensi. Mokhtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia mengatakan bahwa salah satu ciri orang Indonesia itu orang yang tidak bertanggungjawab. Orang yang tidak berani berhadapan dengan tanggung jawab. Selalu mengatakan ‘tidak’ atau ‘bukan saya’ ketika dimintai tanggungjawab atas kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah belajar mengantri di tempat-tempat umum. Orang yang dengan sukarela mengantri itu orang yangmemiliki rasa sabar yang tinggi. Orang seperti ini tidak pernah cemas akan kehidupannya. Mengapa? Karena ia sudah tahu akan konsekuensi yang dihadapinya, kalau ia tidak disiplin waktu. Akan ada kreativitas saat mengantri. Bisa sajamenyapa orang-orang yang berada di depan, belakang atau samping kiri kanannya. Keramahannyamemberikan kesempatan baginya untuk memiliki teman dan sahabat baru.

Sayang, di negeri ini tidak ada pendidikan untuk mengantri. Otak anak-anak Indonesia lebih dijejali oleh angka-angka matematis. Bukan nilai-nilai moral dan kehidupan yang sebenarnya lebih mereka butuhkan untukperjalanan hidup mereka.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran baru tentang makna kehidupan. Yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan hal-hal material. Tetapi juga hal-hal moral dan spiritual yang justru membantu orang untuk maju dalam kehidupannya. Mari kita belajar untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini lebih harmonis. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Merekamemilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyakorang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemaniistrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istrimengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuhkesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suamiberkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknyamembosankan.

Sambil menatap suaminya dengansenyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasiltidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sangsuami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat danbagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kueitu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati inimenggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enakuntuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalaniproses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyitaperhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korbanmembuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntutkesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orangyang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indahdan nikmat.

Kisah tadi mau mengatakankepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah adajari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban,bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepungakan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kueyang manis.

Ketika ada tangan yang maubergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatukebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orangyang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini denganpenuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. ** (Frans deSales SCJ)

14 Januari 2013

Belajar Berproses dalam Kehidupan



Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menjadi seorang pemimpin dalam suatu komunitas? Anda begitu saja memimpin? Atau Anda mau mempelajari dulu seluk beluknya?

Suatu waktu, ada seorang konsultan sedang mengikuti wawancara tentang quality control. Konsultan itu begitu percaya diri dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara. Pada satu pertanyaan terakhir yang diberikan pewawancara kepadanya, ia ditanyakan mengenai pengalamannya di dalam bidang quality control.

Konsultan itu menjawab, "Dalam quality control, kita tidak peduli tentang produknya. Kita peduli tentang prosesnya. Jika prosesnya benar, produknya dijamin."

Pewawancara itu sangat kagum mendengar jawaban konsultan itu. Ia menjawabnya dengan benar. Ketika pewawancara itu bertanya, apakah dia melakukannya sendiri, konsultan itu mengatakan bahwa ia mengalami sendiri hal itu.

Konsultan itu mengatakan bahwa ilmu yang ia peroleh telah teruji dalam proses-proses di lapangan kehidupan. Dengan demikian, ia memberikan suatu pengarahan yang tepat bagi klien-kliennya.

Sahabat, orang tidak dapat memimpin siapa pun lebih jauh dibanding yang telah dilaluinya sendiri. Terlalu sering orang kuatir tentang hasil suatu produksi. Akibatnya, orang mencoba jalan pintas atas proses produksi. Orang ingin suatu produksi cepat-cepat jadi, sehingga lebih cepat pula dinikmati.

Pengalaman konsultan dalam kisah di atas memberi kita suatu pelajaran yang sangat bermakna. Kalau kita ingin meraih kesuksesan dalam hidup ini, ya kita harus taat pada proses yang berlaku. Janganlah kita cepat-cepat mencari jalan pintas. Janganlah kita cepat-cepat mencari yang instan. Yang instan itu biasanya tidak normal dalam prosesnya. Akibatnya, hasilnya pun tidak normal.

Yang dibutuhkan dalam perjalanan hidup ini adalah integritas atau satu kesatuan menyeluruh yang memberikan suatu kelengkapan dalam produksi. Bukan hanya hasil akhir yang diharapkan. Tetapi proses perjalanan itu yang mesti dilalui. Tidak ada jalan pintas, jika integritas terlibat.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah melakukan suatu produksi seperti saat berlatih untuk memproduksi. Menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana itu membutuhkan suatu proses. Tidak ada pemimpin karbitan. Seorang pemimpin karbitan biasanya kurang bertanggungjawab atas bawahannya. Ketika ada masalah, biasanya melemparkannya kepada orang lain. Tidak berani pasang badan.

Tentu saja kita ingin menjadi pemimpin yang baik dan bijaksana dalam hidup bersama. Kita ingin menjadi pemimpin yang tidak lepas tanggung jawab di saat terjadi masalah dalam kepemimpinan kita. Sebagai orang beriman, kita tentu memohon bantuan dari Tuhan untuk memberi kita rahmat kebijaksaan yang menguatkan perjalanan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

929

02 November 2011

Menghadirkan Tuhan dalam Hidup

Pernahkah Anda membaca buku The Ancient Mariner? Kalau Anda pernah membacanya, pasti Anda akan mengatakan bahwa buku ini merupakan salah satu novel dengan imajinasi paling aneh yang pernah dikarang. Apalagi ketika Anda baca pada bagian ketika pelaut kuno itu mewakili mayat semua orang mati yang hidup kembali untuk mengendalikan kapal. Ada mayat yang menarik tali, memegang kemudi, atau membentangkan layar. Betapa anehnya gagasan ini.

Bicara tentang mayat sebenarnya bicara tentang situasi sekitar kebisuan. Mayat mewakili kebisuan atau kekuan. Mayat itu tak bergerak. Kaku. Dingin. Kalau orang tidak punya inisiatif sama sekali akan dikatakan seperti mayat. Orang hidup, tetapi tidak punya gairah. Orang kehabisan akal untuk menjalani hidup ini.

Kalau suatu suasana dalam kehidupan bersama mengalami kebekuan, suasana seperti itu mencerminkan sesuatu yang dingin. Relasi menjadi kaku. Tidak bermakna sama sekali. Ada orang-orang yang hidup. Tetapi mereka tidak saling menghidupi. Mereka tidak saling menyapa dengan senyum yang terbuka lebar. Mereka kuatir dengan diri mereka sendiri. Mereka hanya berusaha untuk keselamatan diri mereka sendiri.

Sahabat, mungkin Anda pernah mengalami suasana seperti ini. Anda mungkin merasa aneh, mengapa suasana yang beku justru terjadi dalam hidup Anda. Mengapa suasana yang kurang menyenangkan itu menghantui diri Anda? Anda terus-menerus bertanya. Namun Anda sendiri belum tentu berani untuk memecah kebekuan itu. Anda tidak berani mengubah situasi seperti itu, karena Anda merasa enggan.

Situasi yang beku dalam hidup kita sering menjadi penghalang bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Tidak ada kreativitas. Kalau orang beragama, orang hanya menjalankan agamanya sebagai suatu kewajiban. Yang penting beribadat. Yang penting berdoa ketika harus berdoa. Orang tidak peduli bahwa hidup beragama itu mesti berbuah kebaikan bagi kehidupan bersama.

Tentang orang seperti ini, Santo Paulus mengatakan bahwa orang seperti ini secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.

Karena itu, tugas umat beriman adalah menghidupi iman itu dalam perjalanan hidup sehari-hari. Iman mesti berbuah kebaikan bagi diri sendiri dan sesama. Iman yang sungguh-sungguh hidup itu tidak dijalankan hanya karena kewajiban. Orang beriman mesti berani mengubah situasi yang beku menjadi cair dan enak untuk semua orang.

Buah-buah iman itu mesti tampak dalam perbuatan-perbuatan baik. Orang yang memiliki iman yang sejati itu biasanya mengasihi pula sesamanya. Orang seperti ini biasanya peduli terhadap sesamanya. Orang seperti ini tidak membius sesamanya dengan janji-janji yang muluk-muluk. Orang seperti ini menghadirkan Tuhan yang hidup dalam perjalanan hidupnya.

Mari kita membawa Tuhan yang hidup kepada sesama kita. Kita hadirkan Tuhan yang baik itu kepada sesama kita. Dengan demikian, hidup beriman kita berbuahkan kebaikan dan damai dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

816

05 September 2011

Memperjuangkan Makna Kehidupan



Bayi berusia lima bulan bernama Ferry itu mesti terkapar di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, hingga pertengahan Juni 2010 lalu. Kedua tangan dan kakinya patah. Ia bukan jatuh dari ketinggian. Ia mengalami penderitaan itu bukan karena kenakalannya sebagai seorang anak. Namun ia mengalami penderitaan yang parah itu, karena disiksa oleh ibu kandungnya sendiri. Usai menganiaya sang anak, sang ibu kandung ditangkap polisi. Sedangkan sang ayah belum ditemukan. Menurut keterangan, sudah lama sang ayah meninggalkan Ferry dan kakaknya serta sang ibu.

Pertanyaannya, mengapa seorang ibu tega menganiaya anak kandungnya sendiri? Mengapa tangan yang biasa digunakan untuk membelai sang buah hati itu mesti digunakan untuk membanting sang anak? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tentu bermacam-macam. Namun satu hal yang pasti adalah penyiksaan itu sebagai ungkapan penolakan atas kehadiran sang anak.

Bisa saja kehadiran sang anak dianggap sebagai pengganggu. Ia bisa dianggap sebagai beban dalam kehidupan. Karena itu, lebih baik dienyahkan melalui penyiksaan itu. Dalam kondisi kalangkabut, orang bisa melakukan apa saja terhadap kehidupan. Bahkan orang nekat mengakhiri kehidupan sesamanya.

Menurut pihak Komnas Perlindungan Anak, dampak yang akan diderita oleh Ferry tidak hanya dari segi fisik. Namun dampak yang lebih besar adalah dampak psikologis. Ferry yang masih balita itu hanya bisa menahan rasa sakit tanpa bisa melawan.

Sahabat, tentu saja banyak orang akan merasa marah mendengar dan menyaksikan peristiwa kejam dari seorang ibu kandung ini. Tidak sepantasnya seorang ibu yang telah melahirkan anaknya kemudian menyiksannya habis-habisan. Hal ini bisa terjadi oleh suatu kebiadaban. Orang yang biadab itu orang yang tidak mengindahkan norma-norma kehidupan. Orang yang tidak ambil pusing terhadap kehidupan sesamanya.

Karena itu, kisah tragis Ferry tadi mesti menjadi peringatan bagi manusia. Kehidupan harus terus-menerus dipertahankan dan diperjuangkan. Apalagi oleh orang-orang yang terdekat seperti sang ibu dan anak itu. Mengapa kehidupan mesti dipertahankan dan diperjuangkan? Karena kehidupan itu berharga. Kehidupan itu memiliki nilai-nilai luhur yang mesti selalu dijunjung tinggi. Kehidupan itu hak setiap manusia. Setiap orang yang dilahirkan memiliki hak atas kehidupan yang sama dengan yang lain.

Kisah penyiksaan terhadap bayi berusia lima bulan tadi menunjukkan betapa kehidupan dianggap sepele. Kehidupan seolah tidak memiliki nilai-nilai luhur sedikit pun. Kehidupan seolah tidak memiliki makna. Karena itu, orang boleh menghancurkannya. Tentu saja sikap seperti ini sangat disayangkan. Orang beriman mesti selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, orang mesti memiliki kesadaran bahwa Tuhan yang telah memberikan kehidupan kepada manusia ingin agar kehidupan ini diperjuangkan. Orang yang menganggap remeh terhadap kehidupan dan kemudian menyiksanya itu orang yang tidak beriman. Imannya hanya sampai di bibir saja, tidak sampai merasuk ke dalam seluruh hidupnya. Mari kita terus-menerus memperjuangkan kehidupan. Dengan demikian, kita dapat menjadi manusia yang sungguh-sungguh beriman. Hidup ini akan menjadi semakin indah. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ



774

28 Juli 2011

Tumbuhkan Cinta dalam Hidup


Ada seorang ibu yang mesti memelihara anaknya sendirian selama empat puluh tahun. Suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan. Sedangkan satu dari tiga orang anaknya mengalami cacat fisik sejak kecelakaan bersama ayahnya. Sejak bangun pagi hingga beranjak ke tempat tidurnya, ibu itu selalu punya perhatian terhadap anaknya. Apalagi sang anak tidak bisa berjalan sendiri. Ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kaki dan tangannya lumpuh.

Suatu hari seorang teman kelasnya dulu datang mengunjungi ibu itu beserta anaknya. Temannya itu merasa tersentuh oleh situasi hidup ibu itu. Ia berkata, “Kamu pasti merasa capek. Kamu pasti merasa terbebani dengan kondisi anakmu.”

Ibu itu tersenyum mendengar kata-kata teman lamanya itu. Ia berkata kepadanya, “Saya tidak pernah merasa terbebani oleh kondisi anak saya. Sudah empat puluh tahun saya lakukan semua hal untuk dia. Saya merasa bahagia. Saya merasakan begitu besar cinta Tuhan terhadap saya. Tuhan telah memberi tanggung jawab ini kepada saya.”

Temannya terkejut mendengar kata-kata bijak ibu itu. Ia heran, mengapa kondisi seperti itu tidak sedikit pun membuat ia terbebani. Ia berdecak kagum mendengar kata-kata ibu itu. Ia bahkan merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa gagal dalam mendidik anak-anaknya. Dua anaknya tidak berhasil dalam hidup mereka. Mereka menjadi orang-orang yang sering menyusahkan dirinya.

Sahabat, cinta yang begitu besar telah mendorong seorang ibu menerima kehadiran anaknya yang cacat. Tampak cacat fisik yang dimiliki anaknya itu membuat ibu itu mengambil tindakan kasih yang nyata. Ia merawatnya dengan penuh perhatian. Ia tidak mau membiarkan sang anak menderita dalam kondisinya seperti itu.

Banyak orang sering merasa bahwa suatu perbuatan baik bagi sesama itu menjadi suatu beban. Melakukan suatu kebaikan itu memberikan beban terhadap hidupnya. Karena itu, orang enggan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain. Orang merasa bahwa melakukan hal-hal baik bagi orang lain itu membuang-buang waktu saja. Lebih baik melakukan sesuatu untuk diri sendiri saja.

Orang yang berpandangan seperti ini biasanya orang-orang yang kurang punya kasih. Cinta mereka terhadap sesama dibatasi oleh egoisme yang begitu besar. Orang hanya ingin mencari kepuasan bagi dirinya sendiri saja. Orang seperti ini lebih memperhitungkan untung rugi bagi dirinya sendiri saja. Karena itu, orang seperti ini lebih sering mengeluh ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Orang seperti ini lebih mudah sewot ketika terjadi jalan buntu dalam hidupnya.

Kisah ibu tadi memberi inspirasi bagi kita untuk memiliki cinta yang kuat terhadap sesama. Cinta yang kuat itu dilatih dalam pergulatan kehidupan. Cinta yang kuat itu dapat bertumbuh dan berkembang dalam perbuatan baik bagi sesama. Untuk itu, orang mesti terus-menerus menumbuhkembangkannya dalam hidupnya. Orang mesti yakin bahwa hanya dengan melakukan hal-hal baik bagi sesama, orang dapat mengalami cinta yang besar pula dalam hidupnya.

Mari kita bertumbuh dan berkembang dalam cinta kasih terhadap sesama. Kita berusaha untuk terus-menerus mengasihi sesama dengan segenap hati. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

740

12 Juni 2011

Uluran Tangan Sesama Memberi Kehidupan


Seorang ibu mengalami penderitaan luar biasa. Setelah ditinggal mati suaminya, ia mesti berjuang untuk membesarkan tiga orang anaknya sendirian. Dengan berbagai cara, ia berusaha untuk menyekolahkan tiga anaknya yang kini memasuki masa remaja itu. Ia bekerja siang dan malam tak kenal lelah.

Suatu hari ia merasa sakit di kedua payudaranya. Rupanya ada dua benjolan yang bersarang di sana. Apa yang mesti ia buat? Tubuhnya mulai terasa sakit yang tak tertahankan. Ia pun memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Hasil pemeriksaan itu sangat menyejutkan dirinya. Kedua payudaranya itu mesti dibuang, kalau ia masih mau tetap hidup.

Soalnya adalah biaya untuk operasi itu sangat besar. Ia tidak mampu membiayainya. Apalagi ia sendiri mesti membiayai tiga anaknya. Ia merasa berat. Ia merasa ia tidak berdaya. Biaya operasi yang besar selalu menghantui dirinya. Di saat-saat ia sendirian, airmatanya tiba-tiba bercucuran membasahi wajahnya.

Kadang, dalam keputusasaan ia berkata dalam hatinya, “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan akan terus hidup.”

Namun kemudian ia sadar bahwa ia seorang beriman. Orang beriman itu selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Karena itu, ibu itu berusaha terus-menerus menyerahkan hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Ia yakin, Tuhan akan membantu dirinya yang berada dalam kesulitan itu.

Benar! Tuhan membantunya. Melalui adiknya, ada seorang kaya yang peduli terhadap penyakitnya. Orang kaya itu mengirimkan cek untuk biaya operasi dan perawatannya di rumah sakit. Dengan uang itu, ibu itu dapat menjalani operasi. Ia tidak perlu kuatir akan biaya yang akan dikeluarkannya. Ia juga tidak perlu lagi kuatir akan biaya sekolah bagi anak-anaknya.

Sahabat, banyak orang merasa putus asa ketika menghadapi persoalan-peroalan dalam hidupnya. Orang merasa tidak punya jalan untuk menyelesaikan persoalannya. Jalan seolah-olah buntu. Akibatnya, orang menyerah pada keadaan. Orang tidak mau berusaha lagi.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa semestinya manusia tidak boleh putus asa dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Manusia mesti berani menghadapinya. Manusia mesti mencari cara-cara yang terbaik untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Dengan cara ini, orang dapat membahagiakan dirinya dan sesamanya.

Untuk itu, orang mesti memiliki iman yang teguh kepada Tuhan. Orang mesti berani mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang mesti percaya bahwa Tuhan mampu membantunya dengan berbagai cara. Tuhan selalu punya cara untuk membantu manusia yang meminta kepadaNya dengan hati yang tulus.

Karena itu, penyerahan diri secara total merupakan suatu gerakan yang mesti selalu dilakukan oleh manusia. Kalau manusia berusaha untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, ia akan menemukan damai dalam hidupnya. Mari kita senantiasa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian, damai dan sukacita menjadi bagian hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora Palembang, pukul 22.00 WIB, bagi mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya.



696

20 Juni 2010

Lawan Budaya Kematian dengan Budaya Kehidupan

Beberapa hari yang lalu (Juni 2009), kita dikejutkan oleh tawuran sejumlah siswi SMP di sebuah Taman Rekreasi di Kalimantan. Terjadi duel satu lawan satu. Ada yang pakai rok, ada yang pakai celana panjang. Mereka saling menendang, tarik-tarikan rambut dan berguling-guling di tanah seperti para pegulat. Tragisnya lagi, teman-teman mereka justru bersorak-sorai. Mereka memberikan dukungan kepada teman-temannya yang sedang berkelahi itu.

Banyak yang mengalami memar di wajah. Wajah-wajah yang cantik itu menjadi biru dan lebam. Yang sakit adalah mereka sendiri. Yang malu mereka sendiri. Yang dipertanyaakn oleh banyak orang tentang rasa sopan santun adalah mereka. Semua mata tertuju kepada mereka. Lebih lanjut lagi adalah kebaikan orangtua mereka dipertanyakan. Sekolah mereka juga menjadi obyek tudingan sebagai sekolah yang kurang menanamkan rasa persaudaraan di antara murid-murid.

Kalau dicermati lebih dalam, kondisi seperti ini merupakan cerminan ketidakdewasaan diri. Memang, mereka masih anak-anak yang punya emosi yang meledak-ledak. Mereka masih perlu banyak belajar untuk menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Mereka masih butuhkan bimbingan dari berbagai pihak, agar mereka tidak dikuasai oleh egoisme mereka. Mereka mesti disadarkan bahwa egoisme berlebihan hanya merusak relasi dengan sesama.

Perkelahian massal antarpara pelajar bukan hal yang pertama terjadi. Hal ini sering terjadi di negeri ini. Inilah salah satu bentuk budaya kematian yang sedang melanda dunia. Budaya kematian itu diawali dengan cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri. Cinta seperti ini kemudian menumbuhkan rasa benci yang mendalam terhadap sesama. Akibatnya, sesama menjadi sasaran kebencian itu. Kawan jadi lawan. Sahabat berubah menjadi musuh bebuyutan.

Kalau budaya kematian ini tidak bisa diubah oleh tekad baik, kita akan tetap menyaksikan suatu situasi yang runyam. Suatu situasi yang mengenaskan yang menghancurkan kehidupan manusia. Lambat laun budaya kematian ini akan meresap ke dalam kehidupan bersama. Lama-kelamaan, orang akan mengiyakan budaya kematian ini. Orang merasa situasi seperti ini sudah menjadi biasa. Menyakiti orang lain sebagai hal yang biasa dan sesuai dengan kehidupan bersama. Kalau ini sampai terjadi, ini suatu tragedi kehidupan manusia. Ini suatu skandal kehidupan manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani memberantas budaya kematian ini sampai ke akar-akarnya. Budaya kematian tidak bisa ditolerir dalam kehidupan bersama. Yang mesti selalu tampil dalam kehidupan bersama adalah budaya kehidupan. Suatu budaya yang selalu memperjuangkan nilai-nilai kehidupan seperti cinta kasih, persaudaraan dan kedamaian.

Mari kita terus-menerus memperjuangkan budaya kehidupan dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, kita mampu membangun suatu hidup yang lebih aman dan tenteram dalam kehidupan bersama. Budaya kehidupan mesti menjadi andalan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

414



Bagikan

09 Mei 2010

Mendamba Kehidupan yang Damai, Tenteram, Aman





Seorang raja muda ingin menjadi orang baik, bijaksana dan memerintah rakyatnya menurut kehendak Tuhan. Dia mengumpulkan semua orang paling bijaksana dari seluruh kerajaan dan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua kebijaksaan ke dalam buku-buku. Dengan demikian dia dapat membaca dan belajar sendiri bagaimana memerintah dengan baik.

Orang-orang bijaksana itu segera memulai pekerjaan raksasa itu. Sesudah tiga puluh tahun pekerjaan itu baru selesai. Satu barisan unta panjang membawa lima ribu jilid buku berjalan menuju istana. Pada saat itu, raja sudah berusia lima puluh tahun. Ia dipenuhi dengan banyak tugas dan rencana. Dia melihat unta-unta yang bermuatan buku-buku dan berkata, “Saya terlalu sibuk untuk membaca begitu banyak buku. Bawa semua buku ini kembali dan ringkaskan lagi untuk saya.”

Pekerjaan meringkaskan buku-buku itu memakan waktu lima belas tahun. Lantas orang-orang bijaksana itu dengan bangga menghasilkan lima ratus jilid. Ketika mereka menyerahkan kepada raja, ia berkata, “Masih terlalu banyak. Lima puluh cukup.”

Saat itu, banyak orang bijaksana telah meninggal dunia. Tetapi para pengganti mereka meneruskan karya itu. Dalam waktu sepuluh tahun mereka membawa lima puluh buku kepada raja.

Pada saat itu raja sudah tua dan kelelahan. Raja berkata, “Kamu harus dapat meringkaskannya ke dalam satu buku.”

Mereka dapat menyelesaikannya dalam waktu lima tahun. Tetapi ketika mereka membawa buku yang sangat berharga itu kepada raja, itu sudah terlambat. Raja sudah terbaring di dalam ranjang kematiannya.

Suatu pekerjaan yang bernilai akan lebih bernilai lagi kalau memiliki tepat guna. Sering kali orang menciptakan sesuatu yang bernilai harganya, tetapi hanya bisa disimpan untuk dirinya sendiri. Benda itu kemudian karat dan hancur oleh waktu. Tidak berguna bagi kehidupan manusia.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita ingin menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan kita. Kita ingin menciptakan damai, kerukunan dan ketenangan di tengah-tengah masyarakat. Kita yakin, melalui tiga hal ini kita dapat mencapai cita-cita membangun keluarga yang harmonis, aman, sejahtera dan tenteram.

Coba Anda bayangkan, kalau di sekitar Anda selalu terjadi keributan. Misalnya, selalu saja ada orang yang mabuk. Pasti Anda merasa tidak senang. Pasti Anda merasa terganggu oleh teriakan-teriakan orang yang mabuk di malam hari. Padahal di saat-saat seperti itu Anda sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat dari segala kelelahan sepanjang hari.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk menciptakan suatu kehidupan yang damai, tenteram, aman di sekitar kita. Untuk itu, orang berimanlah yang pertama-tama mesti menunjukkan keimanannya dengan hidup yang baik. Misalnya, selalu peduli terhadap lingkungan sekitar, selalu mau ikut berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Kalau hal-hal ini dilakukan, kehidupan yang lebih baik akan dapat tercapai. Orang berimanlah yang mesti memulainya dari lubuk hatinya yang terdalam. Mari kita bawa cita-cita kita untuk memiliki masyarakat yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


372

Bagikan

16 Oktober 2009

Membangun Keselarasan Hidup





Kita sering menyaksikan para pejabat baru yang diambil sumpah jabatan. Dengan yakin, mereka mengucapkan sumpah dengan didampingi oleh pemuka agama masing-masing yang memegang Kitab Suci. Para pejabat itu berjanji setia kepada sumpah mereka untuk bekerja dengan sebersih-bersihnya. Banyak orang kagum menyaksikan sumpah jabatan seperti itu.

Namun beberapa lama kemudian kita juga menyaksikan pejabat yang sama menjadi topik utama berita di berbagai media massa. Mereka terlibat atau tertangkap pihak berwenang entah karena tidak disiplin, menyelewengkan kekuasaan atau melakukan korupsi dalam berbagai bentuk. Kita dibuat tercengang dan berdecak getir.

Mengapa orang yang tampaknya begitu baik itu bisa jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang melawan hukum? Kita tidak habis pikir. Rasanya belum begitu lama pejabat itu begitu gencar memerangi kejahatan, korupsi, tetapi nyatanya dia sendiri tertangkap tangan.

Mengucapkan sesuatu itu tidak begitu sulit asalkan tidak bisu. Kita yakin bahwa mereka semua mengerti, tahu isi yang diucapkan dalam sumpah jabatan itu. Namun tahu atau mengerti saja belumlah cukup. Orang mesti memiliki kehendak baik untuk melaksanakan apa yang dijanjikannya. Orang mesti berjuang untuk menjaga keselarasan antara apa yang diucapkan dengan cara hidupnya. Ini tidak mudah. Ada banyak godaan dan tantangan yang mesti dihadapi.

Kata-kata yang diucapkan seseorang itu membawa konsekuensi yang besar bagi hidupnya. Ia bisa mendapatkan kepercayaan yang besar dari orang-orang di sekitarnya. Namun dengan kata-kata yang ia ucapkan, ia dapat ditolak oleh orang-orang di sekitarnya. Ada ungkapan bahwa kata-kata itu bagai pedang bermata dua. Orang bisa menggunakannya untuk hal-hal yang baik. Tetapi orang juga bisa menggunakannya untuk hal-hal yang jelek.

Karena itu, orang mesti menjaga kata-kata yang hendak diucapkannya. Orang mengatakan bahwa janji itu adalah utang. Sebesar janji kita, sebesar itu pula utang yang kita miliki. Dalam hidup sehari-hari, kita mesti menyelaraskan antara kata-kata yang kita ucapkan dengan perbuatan nyata kita. Kalau ada ketimpangan, kita tidak bisa dipercaya. Kalau kita banyak janji namun tanpa berbuat, kita akan disebut sebagai orang yang suka membual. Kita bagai tong kosong nyaring bunyinya.

Dari kata-kata dan perbuatan nyata yang kita lakukan orang akan menilai kualitas diri kita. Baik atau buruknya diri kita dapat dilihat dari keselarasan antara kata-kata dan perbuatan itu. Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani menghidup semangat untuk melaksanakan apa yang telah kita janjikan atau sumpahkan. Hanya dengan melaksanakannya dengan baik, kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



199