Pages

11 Maret 2014

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Mereka memilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyak orang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemani istrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istri mengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuh kesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suami berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan.

Sambil menatap suaminya dengan senyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasil tidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sang suami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enak untuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalani proses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyita perhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korban membuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntut kesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orang yang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indah dan nikmat.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah ada jari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban, bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepung akan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kue yang manis.

Ketika ada tangan yang mau bergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatu kebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orang yang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1071

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.