Pages

Tampilkan postingan dengan label berkorban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berkorban. Tampilkan semua postingan

11 Maret 2014

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Mereka memilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyak orang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemani istrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istri mengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuh kesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suami berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan.

Sambil menatap suaminya dengan senyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasil tidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sang suami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enak untuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalani proses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyita perhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korban membuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntut kesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orang yang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indah dan nikmat.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah ada jari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban, bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepung akan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kue yang manis.

Ketika ada tangan yang mau bergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatu kebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orang yang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1071

03 Februari 2014

Berani Mencintai, Berani Berkorban

 
Hidup itu penuh tantangan. Ketika seseorang mencintai kekasihnya, ada banyak tantangan yang mesti dihadapinya. Kalau ia kuat menghadapi tantangan-tantangan itu, ia mampu menjalani hidup ini dengan normal. Kalau tidak kuat, ia bisa stress dalam hidup ini.

Ada seorang ibu yang mengalami stress. Soalnya adalah suaminya menceraikannya secara sepihak. Suaminya hidup dengan perempuan lain. Ia ditinggalkan sendirian dengan bayi yang masih dalam kandungannya. Hal yang semakin memilukan hatinya adalah anak-anaknya diambil oleh suaminya. Ia dilarang untuk menjenguk anak-anaknya. Sementara janin yang masih berada di dalam kandungannya itu pun diancam untuk diambil begitu dilahirkan.

Ibu itu seolah-olah tidak punya siapa-siapa lagi. Namun ia tetap mencintai anak yang masih ada di dalam kandungannya. Ia berusaha untuk menyelamatkan anak itu. Tidak ada pikiran sama sekali untuk menggugurkan anak itu. Ia bertekad untuk mengandung dan melahirkannya dengan selamat.

Beberapa hari setelah melahirkan anaknya, sang mantan suami datang. Ia meminta agar anak itu ia bawa pulang ke rumahnya. Ia mau mengasuhnya bersama tiga anaknya yang lain. Ibu itu mati-matian tidak mau memberikannya. Ia menuntut suaminya untuk membiarkan anak yang masih kecil itu berada dalam pelukannya. Ia ingin merawatnya dengan baik. Namun sang mantan suami tidak mau menggubris. Ia tetap memaksa untuk membawa pergi bayi itu. Ibu itu tidak berdaya. Ia terpaksa kehilangan bayi yang sangat dicintainya itu.

Hidup sebatang kara ternyata membuat dirinya semakin stress. Ia rindu untuk melihat anak-anaknya. Ia rindu untuk menimang bayi yang dilahirkannya. Namun ia tidak mendapatkan izin dari sang mantan suami. Akhirnya yang terjadi adalah suatu peristiwa yang mengenaskan. Ia meninggal dalam kesepian dan kerinduannya. Cintanya yang begitu besar menyebabkan hidupnya berakhir secara tragis.

Sahabat, mungkinkah cinta yang begitu mendalam dapat membuat seseorang mati? Bisa saja terjadi! Orang yang punya cinta yang begitu besar berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Seorang ibu yang melahirkan anaknya mengorbankan hidupnya demi hidup anaknya. Ia tidak memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Yang ia pikirkan adalah keselamatan anak yang hendak dilahirkannya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang begitu besar dapat menyebabkan hidup seseorang berakhir dengan tragis. Ibu itu sangat mencintai anak-anaknya. Bahkan ia berani mengorbankan hidupnya demi anak-anaknya itu. Ia membiarkan dirinya layu dan lusuh hanya demi kehidupan dan keselamatan anak-anaknya. Ia mencintai anak-anaknya sampai membiarkan hidupnya berakhir. Cintanya sampai habis untuk anak-anaknya.

Bagaimana dengan orang beriman? Apakah orang beriman berani berkorban demi cinta yang besar bagi sesama? Tentu saja orang beriman mesti berani mencintai sesama sampai sehabis-habisnya.

Orang beriman mesti berusaha untuk terus-menerus mencintai, apa pun korban yang akan dihadapi. Mengapa? Karena tiada cinta yang dilakukan tanpa korban. Orang yang mencintai sesamanya itu pasti memiliki korban yang besar. Bukan lagi dirinya yang menjadi pusat perhatiannya, tetapi sesama yang dicintainya itu.

Mari kita berusaha untuk mencintai sesama dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, hidup kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1042

21 November 2013

Berkorban sebagai Ungkapan Kasih yang Tulus


Apa yang akan Anda lakukan, ketika kasih menuntut korban? Anda menghindarinya? Atau Anda berani berkorban demi kasih yang tulus bagi sesama Anda?

Ada dua insan hendak melaksanakan pernikahan dalam beberapa bulan yang akan datang. Sang Gadis berambut panjang, sedang si cowok memiliki biola tetapi tidak memiliki tas biola. Hari Valentine merupakan saat yang tepat untuk saling memberikan kado.

Sang pemuda itu begitu terpesona oleh rambut panjang yang mengurai dari kepala gadis itu. Sayang, kadang-kadang rambut yang panjang itu awut-awutan. Mengapa? Karena tidak ada penjepit yang menyatukan rambutnya. Karena itu, pemuda itu berpikir untuk memberikan kado sebuah jepitan pita emas untuk rambut kekasihnya yang panjang itu. Soalnya, ia tidak punya uang untuk membelikan jepitan pita emas itu.

Karena rasa sayangnya kepada gadis pujaannya, pemuda itu memutuskan untuk menjual biola kesayangannya. Hasil penjualan biola itu ia belikan sebuah jepitan pita emas. Ia membungkusnya dalam sebuah kotak yang indah dengan kertas kado berwarna emas. Bungkusan itu akan ia berikan saat Valentine Day. Ia berpikir, gadis pujaannya akan bergembira luar biasa saat membuka kado itu.

Sementara itu, sang gadis juga ingin memberikan kado untuk pemuda pujaannya. Ia menyaksikan pemuda itu membawa biolanya ke mana-mana, tetapi tanpa tas. Ia kuatir, kalau biola itu rusak di kala diterpa hujan dan angin. Ia memutuskan untuk memotong rambutnya yang panjang itu.

Lantas ia menjual potongan rambut itu. Hasilnya ia gunakan untuk membeli tas untuk biola kesayangan kekasihnya. Ia membungkus tas itu dalam sebuah kotak dengan kertas kado berwarna emas. Ia akan hadiahkan kepada kekasihnya saat Valentina Day. Ia berharap, sang kekasih akan bergembira menerima kado dari tangannya.

Saat Valentine Day tiba, kedua insan itu ingin buat kejutan. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah taman yang indah. Sang gadis membawa kado yang cukup besar. Sedangkan sang pemuda membawa kado yang kecil. Saat berjumpa, keduanya saling terkejut. Sang pemuda terkejut luar biasa menyaksikan kekasihnya yang kini berambut pendek. Padahal ia ingin memberi hadiah sebuah jepitan pita emas untuk rambutnya. Sedangkan sang gadis terkejut, karena biola kesayangan kekasihnya itu sudah lenyap. Semuanya telah lenyap. Tetapi yang tertinggal dalam hati kedua insan itu adalah cinta yang berkobar-kobar.

Sahabat, kasih yang sejati selalu menuntut korban. Orang-orang yang saling mengasihi dengan tulus biasanya tidak memperhitungkan untung atau rugi. Yang mereka lakukan adalah mereka saling memberi diri. Mereka saling memberi hidup. Mereka menumbuhkan kasih itu dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Kisah imajinatif di atas memberi kita inspirasi untuk tetap berani berkorban sebagai ungkapan kasih kita yang tulus kepada sesama. Kasih yang tidak egois menumbuhkan buah-buah yang baik dalam kehidupan bersama. Dalam hidup berkeluarga, misalnya, suami istri yang saling mengasihi dengan tulus akan saling berkorban. Mereka saling memberi. Bahkan mereka memberi diri mereka sendiri. Apa pun yang mereka lakukan demi kasih, mereka lakukan dengan tanpa pamrih.

Ketika egoisme menguasai hidup manusia, orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kasihnya hanya berpusat pada dirinya sendiri. Kasih seperti ini tidak berbuah kebaikan bagi hidup bersama. Kasih seperti ini hanya berbuahkan nafsu menguasai yang lain. Orang tidak peduli terhadap sesamanya yang membutuhkan bantuan.

Orang beriman mesti bertumbuh dalam kasih yang tulus. Dengan demikian, hidup ini berbuah kebaikan. Setiap orang akan mengalami damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

985

04 September 2013

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Merekamemilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyakorang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemaniistrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istrimengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuhkesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suamiberkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknyamembosankan.

Sambil menatap suaminya dengansenyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasiltidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sangsuami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat danbagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kueitu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati inimenggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enakuntuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalaniproses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyitaperhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korbanmembuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntutkesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orangyang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indahdan nikmat.

Kisah tadi mau mengatakankepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah adajari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban,bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepungakan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kueyang manis.

Ketika ada tangan yang maubergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatukebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orangyang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini denganpenuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. ** (Frans deSales SCJ)

21 Maret 2013

Berkorban dengan Hati yang Tulus


 

Apa yang akan Anda lakukan, ketika menyaksikan orang yang Anda kasihi tergolek lemah karena penyakit? Anda biarkan saja? Atau Anda ambil inisiatif untuk memberikan pertolongan?

Ada seorang anak yang begitu antusias mendonorkan salah satu organ bagian dalam bagi ibu tercintanya. Untuk dapat melanjutkan hidupnya, sang ibu membutuhkan organ tubuh yang dicangkokan ke bagian yang sudah tidak berfungsi lagi.

Ketika keluarganya bingung mencari pendonor, sang anak langsung menyediakan dirinya. Ia tidak kuatir akan hidupnya. Baginya, mendonorkan salah satu organ tubuhnya bagi orang yang sangat dicintainya merupakan suatu perbuatan yang terpuji. Namun motivasi yang lebih dalam lagi adalah ia mencintai sang ibu. Ia tidak ingin sang ibu menderita terlalu lama. Ia ingin, agar sang ibu menikmati damai dan bahagia dalam hidupnya.

Anak itu berkata, ”Saya rela memberikan organ tubuh saya untuk mama tercinta. Dia telah begitu mencintai saya. Dia telah mengorbankan hidupnya saat melahirkan saya. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memberikan organ tubuh yang sangat dibutuhkan oleh mama.”

Hasil dari pengorbanan anak itu adalah sang ibu dapat melanjutkan hidupnya. Ia tidak perlu merasakan deraan penyakit yang menggerogti tubuhnya. Ia boleh hidup bersama mereka dalam suasana saling mengasihi. Operasi pencangkokan berhasil dengan baik. Sang anak juga mengalami kedamaian dan ketenteraman dalam hidupnya.

Ia berkata, ”Saya menjadi lebih bahagia lagi, ketika menyaksikan mama lebih ceria. Penyakitnya telah sembuh. Ia dapat hidup tenang bersama kami semua.”

Sahabat, pengorbanan yang dilakukan dengan hati yang tulus membawa sukacita dan damai. Orang yang berani berkorban untuk kebahagiaan sesamanya akan menemukan bahwa hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna. Makna kehidupan itu senantiasa diperjuangkan dalam setiap langkah hidupnya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi betapa hidup begitu bernilai. Seorang anak yang tidak ingin sang mama mengalami penderitaan dalam hidupnya rela mengorbankan dirinya. Ia tidak peduli akan sakit yang akan dideritanya. Baginya, yang penting adalah kebahagiaan bagi orang yang dicintainya.

Tentu saja dalam hidup kita, kita mengalami berbagai hambatan dalam hidup. Hambatan-hambatan itu bisa menjadi penghalang bagi kebahagiaan dalam hidup kita. Untuk itu, dibutuhkan korban untuk mengatasi hambatan-hambatan itu. Kadang-kadang korban itu tidak mendatangkan rasa sakit. Namun sering pula korban itu membuat orang merasa sakit dalam hidupnya.

Yang penting adalah sikap orang dalam berkorban. Orang yang tidak tulus dalam berkorban akan mengalami rasa sakit yang luar biasa, ketika harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam dirinya. Sebaliknya, orang akan mengalami situasi yang damai dan bahagia, ketika ia dengan hati yang tulus berkorban bagi sesamanya.

Karena itu, orang beriman diajak untuk memiliki disposisi batin yang baik dalam usaha berkorban bagi sesamanya. Untuk itu, dibutuhkan suatu latihan yang terus-menerus. Mengapa? Karena berkorban dengan hati yang tulus itu tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang menyertai suatu pengorbanan yang tulus. Mari kita berusaha berkorban dengan hati yang tulus. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


956

11 Desember 2011

Berani Berkorban demi Cinta yang Tulus


Pernahkah Anda mengorbankan hidup Anda bagi sesama Anda? Mengapa Anda rela berkorban? Tentu saja ada banyak alasan. Namun satu alasan yang pasti adalah Anda mengasihi sesama Anda itu.

Waktu saya masih kecil, saya sering pergi ke kebun kami yang ada di lereng gunung. Di sana ayah saya membuka ladang untuk menanam padi, jagung dan ubi jalar. Biasanya tiga jenis tanaman ini yang ditanam bersama-sama di atas satu bidang ladang yang sama. Biasanya jagung ditanam berjauhan setiap rumpunnya. Jagung biasanya dipanen lebih dulu. Panen berikutnya adalah padi dan yang terakhir adalah ubi jalar.

Masa-masa panen adalah masa yang paling menyenangkan bagi saya. Kami akan menginap di kebun sambil menikmati enaknya ibu memasak beras merah. Jenis padi yang biasa ditanam oleh ayah saya adalah padi merah. Biasanya di akhir panen padi, ibu memotong seekor ayam jantan sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Tuhan. Semua yang terlibat dalam panen padi itu akan mendapatkan bagian dari daging ayam jantan itu.

Suasana kekeluargaan tampak sangat dominan dalam situasi seperti itu. Semua orang bergembira ria, karena Tuhan telah memberi kebaikan-Nya kepada manusia. Kami saling bersenda gurau. Anak-anak berkejar-kejaran di ladang yang baru selesai dipanen. Persahabatan menjadi bagian yang kami tumbuhkan sejak kecil. Saya mengalami hidup bersaudara yang begitu membahagiakan.

Ayah saya berkata, “Kita mesti saling mencintai. Kalau kita tidak saling mencintai, untuk apa kita bekerja keras? Untuk apa saya mencangkul di lereng gunung ini? Tuhan telah memberi kita kekuatan untuk saling mengasihi.”

Sahabat, cinta tidak diraih dalam sekejap. Cinta yang tulus dan murni diraih melalui korban-korban. Seorang ayah mesti mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kelangsungan hidup keluarganya. Seorang ibu mesti rela mengorbankan nyawanya saat melahirkan buah hatinya.

Kalau korban itu dilakukan dengan penuh iman, korban itu membahagiakan. Orang tidak merasa terpaksa dalam memberikan hidupnya bagi sesamanya. Orang merasa bahagia, karena telah memberikan hidupnya bagi orang yang mereka cintai. Orang mengalami damai dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan bahwa hidup yang biasa-biasa menjadi semakin berguna, ketika dimaknai dengan baik dan benar. Persaudaraan dan persahabatan mesti dibangun dalam perjalanan hidup sehari-hari. Untuk memiliki persaudaraan dan persahabatan yang memiliki makna, orang mesti rela berkorban. Artinya, orang berani kehilangan dirinya untuk sesamanya yang membutuhkan kasihnya.

“Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan hidupnya bagi sesamanya,” kata seorang guru bijaksana. Artinya, orang yang sungguh-sungguh mengasihi sesamanya mesti menampakkan kasih itu dalam perbuatan yang nyata. Tidak hanya cukup kasih itu diungkapkan lewat kata-kata yang banyak dan panjang lebar.

Mengasihi sesama dibangun dengan rela merendahkan diri. Artinya, hanya orang yang memiliki kerendahan hati mampu memberikan hidupnya bagi sesamanya. Mari kita bangun kasih yang tulus dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


840

04 Oktober 2011

Berkorban Tanpa Pamrih



Suatu hari saya harus menjemput seorang teman di bandara. Ia datang pada siang hari. Namun ia mengalami penundaan penerbangan. Lama saya harus menunggu teman saya itu. Waktu menunggu itu saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitar bandara. Saya juga mampir di kafe untuk minum dan makan. Lama saya duduk di sana. Pesawat tidak datang-datang juga. Akhirnya saya putuskan untuk pulang. Soalnya, saya ada acara pada malam harinya.

Di tengah perjalanan, teman saya itu menelpon bahwa dia sudah mendarat. Ia minta saya untuk menjemputnya. Pasalnya, baru pertama kali itu ia ke Kota Palembang. Ia takut tersesat. Ia takut nyasar. Ia juga mengatakan bahwa ia belum makan sejak pagi. Jadi ia ingin mampir ke rumah makan untuk makan.

Saya langsung balik kanan. Saya kembali ke bandara. Saya mesti menjemput teman saya itu. Saya tidak ingin mengecewakan teman saya itu. Apalagi sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Itulah saatnya kami saling bertemu untuk bercerita tentang pengalaman kami masing-masing.

Sampai di bandara, teman saya itu sudah keluar ke pelataran bandara. Ia mencari-cari saya. Ia tampak agak cemas. Tiba-tiba saya muncul dari belakang. Saya menepuk punggungnya. Ia sangat terkejut. Lantas begitu melihat saya, ia langsung memeluk saya. Ia sangat bergembira. Ia tidak perlu cemas lagi. Ia telah menemukan sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa. Kegembiraan menjadi bagian dari hidupnya malam itu. Ia menemukan bahwa hidup ini semakin bermakna, ketika ada orang yang mau berkorban untuknya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang banyak perhitungan. Orang berhitung tentang berapa jumlah uang yang mesti mereka peroleh dari suatu pekerjaan. Orang berhitung tentang keuntungan yang mereka peroleh setelah membantu sesamanya. Orang ingin agar apa yang dikorbankannya memperoleh kembali gantinya.

Tentu saja situasi seperti ini sering membuat relasi antarsesama menjadi renggang. Orang terlalu memperhitungkan korban yang telah dikeluarkannya. Orang memiliki pamrih yang begitu besar terhadap sesamanya.

Pertanyaannya, sejauh mana peranan iman dalam kehidupan sehari-hari? Apakah iman hanya berperan untuk diri sendiri? Bukankah iman mesti hidup dalam kehidupan yang nyata dengan berani berkorban tanpa pamrih?

Sebagai orang beriman, kita mesti berani mengorbankan hidup kita bagi kebahagiaan sesama. Korban itu mesti dilakukan tanpa pamrih. Hanya dengan cara ini, kita dapat membahagiakan sesama. Kita yang berani berkorban itu pun akan menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Orang yang berkorban secara semu akan menemukan hidup ini menjemukan. Hidup ini kurang bermakna. Hidup ini tidak membahagiakan. Hidup ini tidak indah bagi dirinya. Orang seperti ini akan mudah frustrasi dan stress. Mengapa? Karena orang tidak menemukan makna yang terdalam dari hidup ini. Mari kita berani mengorbakan hidup kita bagi kebahagiaan sesama tanpa menghitung untung atau rugi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


796

28 September 2011

Berani Berkorban bagi Sesama


Ada seorang pembantu yang baik hati. Ia bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ia mengurus dengan baik rumah majikannya. Ia menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan majikannya. Makanan kesukaan majikannya selalu ia siapkan. Menu makanan yang lain ia selalu sediakan tanpa harus diperintah oleh majikannya.

Majikannya merasa bahwa pembantunya itu telah melakukan hal-hal yang sangat baik. Ia tidak perlu kuatir akan apa yang ia makan atau minum. Kalau ia harus keluar kota, ia tidak perlu kuatir. Semua ia serahkan kepada pembantunya. Ketika ia kembali ke rumahnya, segala sesuatu tetap seperti biasa. Sang pembantu mengatur segala-galanya dengan baik. Bahkan ia seperti sudah hafal semua kebiasaan majikannya.

Suatu hari rumah sang majikan didatangi perampok. Pembantu yang seorang perempuan itu sendirian berada di rumah. Majikannya sedang berada di luar negeri. Melalui kamera cctv, pembantu itu mengamati dua orang perampok mengendap-endap. Lantas mereka membobol salah satu jendela di rumah itu. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan mudah. Pembantu itu tidak gentar menghadapi mereka.

”Saya mesti mempertahankan rumah ini dan segala isinya. Saya tidak boleh menyerah kepada dua perampok ini,” katanya dalam hati.

Apa yang terjadi kemudian? Pembantu itu menghadapi dua perampok yang berbadan tegap itu. Ia mampu menghalau dua perampok itu keluar rumah. Untuk usahanya itu, ia mesti kehilangan satu jari ibunya. Pedang salah satu perampok sempat menyabet jarinya sebelum ia menghalau mereka keluar.

Sahabat, pengorbanan yang berani telah ditampakkan oleh pembantu itu. Ia rela kehilangan ibu jarinya demi kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Ia berani menghadapi resiko yang akan terjadi atas dirinya. Orang yang berani mengorbankan diri bagi sesamanya akan mengalami sukacita dalam hidupnya.

Seorang guru bijaksana mengatakan bahwa seorang gembala yang baik adalah orang yang berani mempertaruhkan nyawanya bagi gembalaannya. Ketika ada serangan terhadap domba-dombanya, ia mesti berani mempertahankan. Ia mesti berani menghalau serangan itu.

Kesetiaan pada tugas merupakan suatu panggilan hidup manusia. Orang yang setia pada tugas-tugasnya akan mendapatkan sukacita berlipat ganda. Hidupnya akan sejahtera. Hidupnya akan dipenuhi dengan kegembiraan. Memang, tidak gampang orang tetap setia pada tugas yang dipercayakan kepadanya. Ada berbagai godaan dan rintangan. Ada berbagai tuntutan yang mesti dijalankan.

”Barangsiapa kehilangan nyawanya karena cintanya yang besar kepada sesamanya, ia akan mengalami sukacita dalam hidup ini,” kata sang guru bijaksana.

Nah, beranikah Anda berkorban untuk sesama Anda? Saya yakin, Anda berani berkorban untuk sesama Anda. Hanya dengan berkorban, Anda akan mengalami hidup ini begitu indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


790

03 September 2011

Ketika Orang mesti Berkorban




Saya pernah menonton tarian balet yang dimainkan oleh para penari profesional di kota Milwaukee, Amerika Serikat. Tarian itu dipentaskan dalam beberapa babak dengan berbagai cerita. Pentas tari balet itu juga diiringi oleh sebuah orkestra yang sangat profesional. Paduan musik begitu mempesona, sehingga membuat tarian balet itu semakin menarik disaksikan. Semua kursi yang ada di teater itu diisi penuh oleh para penonton, meski tiket masuk cukup mahal.

Yang menarik dari tarian balet itu adalah dalam salah satu espisode, penari utama terjatuh. Ia seorang penari laki-laki yang sering mengikuti pentas tarian balet. Ia tergelincir. Ia menabrak dinding panggung. Ia tampak menahan rasa sakit yang luar biasa. Kakinya mengalami cedera. Namun ia berusaha untuk bangun. Dengan kaki yang pincang, ia meneruskan tarian itu hingga selesai. Ia memainkannya dengan sangat sempurna, seolah-olah kakinya tidak mengalami cedera.

Begitu selesai, para penonton langsung berdiri. Serentak mereka bertepuk tangan. Mereka mengagumi sang penari yang melaksanakan tugasnya dengan sangat profesional. Keesokan harinya, berita-berita di koran lokal memuji kehebatan penari tersebut. Foto-foto yang dipasang di halaman depan koran-koran lokal itu adalah foto pemuda itu dengan kaki kanan yang digips.

Penari itu seolah tidak menghiraukan cedera kakinya. Ia membiarkan kakinya sakit. Yang penting adalah ia dapat menghibur para penonton. Yang penting adalah tanggung jawab profesi yang mesti ia tunjukkan. Untuk itu, ia mesti berani berkorban. Ia berani mengorbankan hidupnya bagi orang lain.

Sahabat, tidak semua orang berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Banyak orang membuat perhitungan demi perhitungan, ketika harus berhadapan dengan situasi yang menuntut korban. Orang tidak serta merta berani mengorbankan hidupnya untuk sesamanya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa korban itu bukan sekedar suatu tindakan heroisme. Tetapi berkorban itu suatu tindakan mulia. Suatu tindakan yang memberikan kemampuan orang untuk memiliki motivasi untuk memberikan hidupnya bagi sesama.

Kalau kita merefleksikan lebih dalam, sebenarnya hidup kita ini diwarnai oleh korban demi korban. Orang berkorban bagi sesamanya dengan bekerja keras dengan penuh tanggung jawab.

Ketika seorang ibu mesti menghadapi saat-saat yang mendebarkan untuk melahirkan anaknya, ia mengorbankan seluruh hidupnya. Baginya, yang penting adalah sang buah hati lahir dengan selamat. Ia tidak memikirkan lagi keselamatan dirinya. Ia seolah menyerah. Ia membiarkan tubuhnya sakit demi kehidupan sang anak.

Karena itu, kita diajak untuk berani mengorbankan hidup bagi orang lain. Berkorban itu membahagiakan. Berkorban itu menyenangkan, ketika orang berkorban dengan cinta yang mendalam. Suatu cinta yang memampukan seseorang untuk menyerahkan hidup bagi sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


772

24 Maret 2011

Berani Mencintai, Berani Berkorban

Ada seorang ibu yang mengalami stress. Soalnya adalah suaminya menceraikannya secara sepihak. Suaminya hidup dengan perempuan lain. Ia ditinggalkan sendirian dengan bayi yang masih dalam kandungannya. Hal yang semakin memilukan hatinya adalah anak-anaknya diambil oleh suaminya. Ia dilarang untuk menjenguk anak-anaknya. Sementara janin yang masih berada di dalam kandungannya itu pun diancam untuk diambil begitu dilahirkan.

Ibu itu seolah-olah tidak punya siapa-siapa lagi. Namun ia tetap mencintai anak yang masih ada di dalam kandungannya. Ia berusaha untuk menyelamatkan anak itu. Tidak ada pikiran sama sekali untuk menggugurkan anak itu. Ia bertekad untuk mengandung dan melahirkannya dengan selamat.

Beberapa hari setelah melahirkan anaknya, sang mantan suami datang. Ia meminta agar anak itu ia bawa pulang ke rumahnya. Ia mau mengasuhnya bersama tiga anaknya yang lain. Ibu itu mati-matian tidak mau memberikannya. Ia menuntut suaminya untuk membiarkan anak yang masih kecil itu berada dalam pelukannya. Ia ingin merawatnya dengan baik. Namun sang mantan suami tidak mau menggubris. Ia tetap memaksa untuk membawa pergi bayi itu. Ibu itu tidak berdaya. Ia terpaksa kehilangan bayi yang sangat dicintainya itu.

Hidup sebatang kara ternyata membuat dirinya semakin stress. Ia rindu untuk melihat anak-anaknya. Ia rindu untuk menimang bayi yang dilahirkannya. Namun ia tidak mendapatkan ijin dari sang mantan suami. Akhirnya yang terjadi adalah suatu peristiwa yang mengenaskan. Ia meninggal dalam kesepian dan kerinduannya. Cintanya yang begitu besar menyebabkan hidupnya berakhir secara tragis.

Sahabat, mungkinkah cinta yang begitu mendalam dapat membuat seseorang mati? Bisa saja terjadi! Orang yang punya cinta yang begitu besar berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Seorang ibu yang melahirkan anaknya mengorbankan hidupnya demi hidup anaknya. Ia tidak memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Yang ia pikirkan adalah keselamatan anak yang hendak dilahirkannya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang begitu besar dapat menyebabkan hidup seseorang berakhir dengan tragis. Ibu itu sangat mencintai anak-anaknya. Bahkan ia berani mengorbankan hidupnya demi anak-anaknya itu. Ia membiarkan dirinya layu dan lusuh hanya demi kehidupan dan keselamatan anak-anaknya. Ia mencintai anak-anaknya sampai membiarkan hidupnya berakhir. Cintanya sampai habis untuk anak-anaknya.

Bagaimana dengan orang beriman? Apakah orang beriman berani berkorban demi cinta yang besar bagi sesama? Tentu saja orang beriman mesti berani mencintai sesama sampai sehabis-habisnya. Orang beriman mesti berusaha untuk terus-menerus mencintai apa pun korban yang akan dihadapi. Mengapa? Karena tiada cinta yang dilakukan tanpa korban. Orang yang mencintai sesamanya itu pasti memiliki korban yang besar. Bukan lagi dirinya yang menjadi pusat perhatiannya, tetapi sesama yang dicintainya itu.

Mari kita berusaha untuk mencintai sesama dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian hidup kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

24 Februari 2011

Berkorban bagi Sesama yang Membutuhkan

Sehari dayung, tiga empat pulau didatangi. Begitulah pengabdian sang bidan di daerah terpencil Riau seperti Herawati. Rasa capek, lelah dan panas menjadi makanan sehari-hari Herawati yang dijuluki bidan pongpong, karena selalu setia melayani masyarakat kecil dengan sampannya.

Tidak banyak memang, bidan yang pernah punya pengalaman membantu melahirkan bayi di atas sampan. Pengalaman itulah yang dialami bidan Herawati asal Riau. Untuk itu, ia dinobatkan sebagai bidan inspirasional pada Srikandi Award 2009.

Herawati adalah satu dari tiga bidan inspirasional yang dianggap memberi inspirasi dalam memajukan kesehatan masyarakat, khususnya di kepulauan Riau.

Bidan kelahiran Duaralingga, 20 Desember 1976 ini, setiap hari harus mengarungi 3 hingga 4 pulau untuk menemui masyarakat yang membutuhkan bantuannya.

Ia berkata, ”Di kepulauan Riau itu ada sekitar 8 pulau. Hampir seperempat penduduknya adalah suku laut. Jadi untuk menemui masyarakat saya harus berkeliling dari satu pulau ke pulau lainnya.”

Untuk mengarungi pulau-pulau tersebut, Herawati menggunakan sampan kayu khas Riau yang disebut Pongpong. Dengan demikian, masyarakat mengenalnya sebagai bidan pongpong.

Saat ini Herawati menangani 6 posyandu yang satu sama lain terpisahkan oleh laut. Untuk menempuh jarak antar pulau tersebut dibutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam.

Sahabat, pengorbanan seperti yang telah diperlihatkan oleh Herawati sungguh-sungguh menyentuh hati kita. Ia tidak kenal lelah mendatangi sesamanya yang membutuhkan uluran tangannya. Ia berusaha menyelamatkan sesamanya. Karena itulah panggilan hidupnya sebagai manusia.

Hati kita mestinya gembira mendengar kisah seperti yang dialami oleh Herawati. Mengapa? Karena begitu banyak kriminalitas yang kita alam dalam hidup ini. Begitu banyak orang kurang menghormati kehidupan. Dari berita-berita kita dengar atau lihat ada anak yang ditelantarkan orangtuanya. Ada anak yang dibuang oleh orangtuanya begitu dilahirkan. Bahkan ada janin-janin tak berdosa yang digugurkan.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi karena kurang cinta manusia terhadap sesama. Ada egoisme yang begitu kuat membentengi hati manusia. Ada penolakan manusia terhadap kehadiran sesamanya. Hati manusia tertutup oleh keinginan untuk mencari selamat bagi diri sendiri.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa berjuang untuk mengubah hati kita yang keras menjadi lembut. Hati yang lemah lembut adalah hati yang dirindukan oleh semua orang di jaman sekarang ini. Hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan dan cinta yang murni. Herawati telah menjadi contoh bagi kita. Ia memiliki hati yang mudah tergerak oleh kebutuhan sesamanya. Dengan dia berani berlayar dari pulau yang satu ke pulau yang lain untuk membantu sesamanya.

Mari kita berusaha memiliki hati yang mudah tergerak oleh kebutuhan sesama. Dengan demikian, dunia ini menjadi tempat yang indah untuk didiami oleh manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

622

28 Januari 2011

Rela Berkorban bagi Sesama




Umurnya baru sepuluh tahun. Namun anak lelaki ini tampak sangat licah siang itu. Dengan sigap ia menyalib di sela-sela kepadatan kendaraan di perempatan lampu merah simpang Charitas, Palembang. Dengan tangan yang menengadah, ia mengulur kepada setiap pengendara kendaraan siang itu. Ia menghampiri para pengendara itu satu demi satu. Ada yang memberinya sejumlah uang. Ada yang menoleh saja tidak. Namun anak itu tetap melakukan pekerjaannya. Ia tidak putus asa.

Suatu saat seorang pengendara bertanya kepadanya, “Untuk apa kamu lakukan semua itu?”

Tanpa malu anak itu menjawab, ”Saya lakukan semua ini untuk ibu saya yang terbaring sakit. Ayah saya sudah lama meninggalkan ibu dan kami. Kami tidak tahu dia ada di mana. Jadi saya harus mencari uang untuk menghidupi keluarga.”

Pengendara itu tertegun mendengar kisah anak itu. Lantas ia bertanya lagi, ”Jadi kamu tidak sekolah?”

Anak itu berkata, ”Tentu saja tidak! Kalau saya pergi ke sekolah, siapa yang akan mencari uang?”

Pengendara itu pun jatuh kasihan kepadanya. Ia memberinya sejumlah uang untuk anak itu. Hari itu, anak itu boleh bersukacita. Ia boleh pulang ke rumahnya dan membelikan obat untuk sang mama yang sedang sakit itu.

Sahabat, pengorbanan adalah salah satu keutamaan hidup orang beriman. Pengorbanan itu membuahkan kasih bagi orang lain. Orang yang rela berkorban itu orang yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Orang yang mempunyai hati bagi sesamanya.

Karena itu, pengorbanan mesti selalu ada dalam diri setiap orang beriman. Orang yang berani berkorban akan menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya. Orang yang mampu mendekatkan dirinya dengan Sang Khalik.

Kisah heroik anak kecil di atas sungguh menyentuh hati. Ia rela mengorbankan hidupnya untuk sesamanya yang paling dekat yang sedang sakit. Ia tidak peduli akan panas di siang hari yang menyengat tubuhnya. Ia rela kehilangan pendidikan yang sangat berharga bagi masa depannya. Hal itu ia lakukan demi kelangsungan hidup keluarganya.

Pertanyaan bagi kita yang hidup di zaman modern ini adalah masihkah kita rela berkorban bagi sesama kita? Bukankah pengorbanan itu mengambil begitu banyak hal dari diri kita?

Sebagai orang beriman, pengorbanan yang kita lakukan mesti didasarkan pada semangat kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita. Kita telah diberi begitu banyak rahmat oleh Tuhan bagi hidup kita. Karena itu, kita mesti berani mengorbankan hidup kita bagi rahmat Tuhan itu. Dengan demikian, semangat kasih Tuhan juga dialami oleh semua orang yang kita jumpai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

601

05 Januari 2010

Belajar Berkorban


Suatu hari, Ibu Lena menuturkan bahwa ketika pacaran, ia sungguh kagum terhadap suaminya. “Ia begitu semangat. Kendati harus berjalan kaki begitu jauh, ia tetap tempuh tanpa rasa lelah,” kata Ibu Lena..

“Hujan pun tak menjadi penghalang bagi dia untuk bertandang ke rumah keluargaku. Karena cintanya padaku, ia mempunyai semangat yang luar biasa. Semangat itu yang akhirnya mempersatukan kam,” tutur Ibu Lena dalam suatu pertemuan ibu-ibu wanita katolik.

Karang-kadang Lena jatuh kasihan terhadap calon suaminya. “Kalau pulang, saya antarkan dengan sepeda onthel. Dia saya boncengkan. Maklum, saat itu belum banyak motor seperti sekarang. Saya juga bersemangat dan tidak merasa berat memboncengkan dia, meskipun jalan menanjak. Semangat memupuk cinta itu menyatukan hati kami,” lanjut Ibu Lena.

Cinta yang tulus sering kali mengabaikan segala hal yang terasa berat dan penat. Orang yang mencintai itu selalu mengiringi hidupnya dengan korban. Karena korban itulah ia berhasil meraih cita-citanya. Biasanya cinta yang disertai dengan korban itu langgeng, lestari.

Cinta yang disertai dengan korban itu tidak digapai dalam sesaat. Tetapi melalui suatu proses yang sering berhadapan dengan berbagai tantangan. Kalau orang berhasil melewati tantangan itu, orang akan mengalami makna cinta yang mendalam bagi hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar cinta yang kita ungkapkan kepada orang lain itu tetap langgeng. Untuk itu, kita butuh korban dari diri kita sendiri. Cinta yang diucapkan tanpa bukti itu bagai tong kosong yang nyaring bunyinya. Beribu-ribu halaman buku boleh ditulis tentang cinta. Tetapi kalau tidak menjadi nyata dalam hidup, cinta seperti ini tetap tidak memiliki makna yang mendalam dalam hidup ini.

Karena itu, kita mesti belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Suatu hari seorang ibu tukang parkir ditanya mengapa ia melakukan pekerjaan seperti itu, ia menjawab bahwa ia lakukan itu demi cinta. Ia mencintai suami dan anak-anaknya. Karena itu, ia merelakan waktunya untuk mencari nafkah. Ia mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan suami dan anak-anaknya.

Melakukan korban itu indah, kata orang. Mengapa? Karena korban itu mendatangkan sukacita bagi diri sendiri dan bagi sesama. Karena itu, mari kita jangan takut berkorban bagi sesama. Buah yang kita petik dari korban adalah kebahagiaan diri kita dan sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



Bagikan

04 Desember 2009

Berkorban itu membahagiakan

Siang itu perempuan tua renta itu menyusuri aspal panas. Sebuah bakul seberat tujuh kilogram lengket di punggungnya. Sandal jepit yang mengalasi telapaknya menghindarkan perempuan tua itu dari pantulan panas dari aspal itu. Ia terus berjalan. Butir-butir keringat mengucur membasahi wajahnya.

Meski sudah tua, ia mesti bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang cucunya. Cucu laki-lakinya itu sudah enam tahun ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Mereka mengalami kecelakaan yang tragis di jalan raya. Perempuan tua itu kemudian menjadi tumpuan cucu satu-satunya itu.

Padi-pagi buta perempuan itu meninggalkan rumahnya. Ia berbelanja di pasar untuk dijual kembali di rumah yang juga berfungsi sebagai kios. Dengan cara itu, ia dapat menghidupi cucu dan dirinya sendiri. “Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bekerja. Selama saya masih kuat, saya tetap bekerja. Saya tidak ingin melihat cucu saya mati kelaparan,” kata perempuan itu suatu ketika.

Tekadnya untuk membesarkan cucunya itu sangat tinggi. Ia tidak peduli begitu banyak tantangan dan kesulitan yang mesti ia hadapi. Ia tetap setia untuk mengurus cucunya itu. Ia menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia mendapatkan kepuasan batin dengan cara seperti itu.

Sebagai balasannya, cucunya sangat menyayanginya. Ia belajar dengan rajin. Ia menjadi juara di kelasnya. Ia pun selalu taat dan setia kepada neneknya. Dengan cara itu, ia mau mengungkapkan kasih sayang dan rasa terima kasihnya atas jerih payah neneknya.

Hidup kita ini dipenuhi dengan korban dan kasih dari sesama yang ada di sekitar kita. Ada orang merasa bahwa korban itu menjadi beban hidup yang begitu berat. Karena itu, korban yang ia tunjukkan menjadi suatu keterpaksaan belaka. Ia merasa berat untuk menyelesaikan tugas-tugas atau pekerjaan yang mesti ia tanggung. Akibatnya, orang tidak mengalami kebahagiaan atas korban yang ia persembahkan. Orang seperti ini biasanya banyak mengeluh ketika ia mesti berkorban.

Namun ada orang yang memiliki hati yang begitu terbuka untuk berkorban bagi sesamanya. Salah satu contoh adalah perempuan tua dalam kisah tadi. Ia mengalami sukacita dalam mengabdikan diri bagi cucunya. Ia mengalami betapa bahagianya hidup ini meski ia mesti bekerja keras untuk menghidupi cucunya.

Orang yang memiliki kerelaan untuk berkorban biasanya mengalami sukacita dalam hidupnya. Ia tidak biasa mengeluh atas korban yang ia berikan. Bahkan ia menemukan rahmat istimewa melalui korban itu. Ia bahagia karena ia menemukan dirinya dalam melakukan korban bagi sesama. Ia menemukan diri sebagai orang yang dikasihi oleh Tuhan, sehingga ia boleh digunakan oleh Tuhan untuk mencintai sesama.

Anda mau berkorban untuk sesama? Begitu banyak orang membutuhkan kasih dan perhatian dari Anda. Bersediakah Anda berkorban untuk mereka? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



Bagikan

31 Oktober 2009

Rela Berkorban untuk Sesama


Seorang petani ladang bekerja dengan tekun di ladangnya. Setelah sarapan, ia pergi ke kebunnya. Di sana ia mencangkul, membersihkannya lalu menanam. Ia melakukannya hingga sore hari. Lantas ia pulang ke rumahnya untuk berjumpa dengan anak istrinya. Rutinitas seperti ini ia lakukan setiap hari. Bahkan pada akhir pekan.

Terik matahari tidak mampu menghentikan tangannya untuk menyiangi tanaman. Ia mencintai tanaman-tanamannya. Mengapa? Karena itulah sumber hidupnya. Tanpa bekerja di ladangnya, asap di dapur keluarganya tidak bisa mengepul. Kepenatan dianggapnya sebagai bagian dari hidupnya.

Itulah tanda cinta yang ia berikan untuk keluarganya. Itulah rasa tanggung jawab yang ia tunjukkan kepada seluruh anggota keluarganya. Namun ketika ditanya tentang cinta, petani itu bingung menjawab. Baginya, cinta itu tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata yang panjang lebar. Cinta itu cukup ditampakkan melalui perbuatan yang nyata.

Dewasa ini ungkapan ‘I love you’ sudah bukan hal baru lagi. Di jaman dulu ungkapan ‘saya cinta padamu’ menjadi hal yang begitu sakral. Tidak biasa diungkapkan di depan umum. Namun kini ungkapan ini sudah bisa didengar kapan saja dan di mana saja. Sudah biasa dan sudah menjadi bagian dari hidup kawula muda.

Soalnya adalah apakah ungkapan ini sungguh-sungguh suatu bentuk cinta yang mendalam akan sesama? Atau hanya sebuah lip service, kata-kata kosong sebagai basa-basi? Dalam hidup sehari-hari cinta itu mesti menduduki tempat tertinggi dalam hidup manusia. Mengapa? Karena manusia hanya bisa hidup kalau ada cinta kasih. Tanpa cinta kasih manusia tidak memiliki hidup.

Dalam kisah tadi, petani itu sungguh-sungguh mencintai sesamanya. Cintai itu ia tunjukkan dengan melakukan perbuatan yang nyata. Ia mengorbankan seluruh hidupnya untuk keluarganya. Ia tidak mesti mengatakan ‘I love you’ kepada seluruh anggota keluarganya. Mereka sudah tahu bahwa ia mencintai mereka dengan melakukan pekerjaan dengan tekun dan setia di ladangnya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mencintai sesama dan orang-orang yang dekat dengan kita. Caranya adalah dengan memberi perhatian dan berani mengorbankan hidup kita bagi sesama. Dengan cara ini, hidup kita akan menjadi lebih baik. Kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

212


Bagikan

09 Oktober 2009

Berani Berkorban bagi Sesama




Seorang gadis kesal sama papanya. Soalnya, papanya selalu menasihati dia untuk selalu tekun berdoa dan beribadat. Namun ia sendiri malas untuk melakukan semua itu. Kalau gadis itu mengingatkan papanya untuk berdoa dan beribadat, papanya selalu menegurnya dengan kata-kata yang pedas.

Akibatnya, gadis itu tumbuh menjadi anak yang cuek. Ia tidak begitu peduli terhadap papanya. Ia bosan berbicara dengan papanya. Baginya, tidak ada gunanya berkomunikasi dengan papanya dalam urusan ibadat. Pasti papanya tidak mau kalah, meskipun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia perjuangkan.

Suatu hari gadis itu merasa sikapnya yang cuek itu mesti ia akhiri. Ia mulai sadar bahwa sebenarnya ia tidak bisa mengubah apa-apa pada diri papanya. Bahkan papanya semakin malas saja untuk berdoa dan beribadat. Ia berkata dalam hatinya, “Lebih baik saya mengubah diri saya sendiri menjadi lebih baik. Saya akan melakukan puasa pada hari-hari tertentu. Saya mau berdoa untuk papa saya, agar ia mau mengubah sikap hidupnya.”

Setelah melakukan puasa dan doa untuk sang papa dalam waktu yang lama, gadis itu menemukan ada perubahan dalam diri papanya. Ia merasa sangat bersyukur atas hal itu. Ia berdoa, “Tuhan, terima kasih Engkau telah mengubah sikap hidup papa saya. Semoga ia dapat menemukan kehadiranMu dalam hidup sehari-hari bersama keluarga kami.”

Banyak orang lebih suka menyaksikan orang lain berubah daripada dirinya sendiri berubah. Dalam kenyataan hidup, sangat sulit mengubah watak seseorang yang sudah dewasa atau sudah tua. Sangat sulit mengajar sesuatu yang baru kepada orang yang sudah tua. Bagi orang yang sudah tua, lebih baik mereka hidup apa adanya. Hidup sejauh mereka mampu.

Kisah gadis tadi menunjukkan bahwa perubahan itu bisa terjadi melalui suatu proses yang lama dan berat. Mengubah cara hidup orang lain yang sudah tertanam puluhan tahun itu butuh kerja keras. Gadis dalam kisah tadi melakukannya dengan korban. Ia mesti puasa dan berdoa, agar papanya dapat mengubah tingkah lakunya yang kurang baik.

Pengorbanan itu ternyata begitu penting dalam hidup sehari-hari. Tanpa korban, orang tidak bisa hidup dengan damai dan tenang. Tanpa korban, perubahan akan sulit terjadi dalam hidup seseorang.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk rela berkorban bagi kebaikan sesama kita. Bahkan kita mesti berani berkorban bagi orang yang tidak bersabahat dengan kita atau musuh-musuh kita. Mampukah kita menjadi sahabat yang baik bagi musuh kita? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
192