Pages

Tampilkan postingan dengan label mencintai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mencintai. Tampilkan semua postingan

21 September 2014

Mencintai dengan penuh Kasih Sayang


Mampukah Anda mencintai dengan hati yang tulus yang tidak hanya mementingkan diri Anda sendiri? Saya yakin, Anda pasti bisa melakukannya dalam hidup sehari-hari.

Ade Sara Angelina Suroto (19), Ahmad Imam Al Hafiz dan Assyifa Ramadhani dikenal sebagai teman satu SMA. Hubungan ketiganya yang diwarnai cinta, benci, cemburu dan berujung kematian menimbulkan tanda tanya. Ada masalah apa dengan mereka?

Kriminolog Univeristas Indonesia, Bambang Widodo Umar, mengatakan bahwa dari sisi kriminologi kasus pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina Suroto merupakan kejahatan ekstrem di luar batas kewajaran. Pelaku bisa saja meniru faktor internal ataupun eksternal dari lingkungan sekitarnya.

Ia juga mengutarakan bahwa tayangan kekerasan di massmedia bisa memicu perilaku meniru. Kadang mereka yang mengonsumsi tayangan kekerasan, meski bersifat imajinatif bisa dianggap sebagai sesuatu yang benar. Orang menampilkan cinta yang begitu besar, tetapi tidak mengenal kasih sayang.

Di sisi lain, kita melihat betapa menyentuh, tegar dan lapang sikap Ibunda dari Ade Sara yang jenasahnya di buang di Tol JORR, Bekasi. Elizabeth Diana, nama ibu itu, mengikhlaskan kematian anaknya. Di hadapan makam anaknya, sang ibu meminta agar Ade Sara memaafkan Ahmad Imam Al Hafiz (19), mantan kekasih yang tega membunuhnya.

Saat menaburkan bunga di makam Sara, TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (7/3), Elizabeth berkata, "Mama tahu Ade sudah tenang di surga. Mama sudah memaafkan Hafiz dan Shifa. Ade juga maafin yah."

Sahabat, kisah tragis seperti ini semestinya tidak menimpa manusia yang berakal sehat dan normal. Peristiwa tragis ini menunjukkan manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Manusia hanya mau menang sendiri. Manusia hanya mau menuntut untuk dikasihi, tetapi menolak untuk dikasihi.

Kita semua sadar bahwa mencintai itu membutuhkan korban dalam perjalanan hidup manusia. Korban itu mesti datang dari kedua belah pihak. Tidak bisa hanya satu pihak yang menampilkan korban itu. Kalau hanya satu pihak, cinta itu tidak murni. Cinta semacam ini hanya penuh dengan cemburu buta. Cinta semacam ini hanya menimbulkan kegalauan dalam hidup manusia. Akibatnya, manusia akan mengalami dukacita dalam hidupnya. Mencintai, tetapi tidak mengenal kasih sayang terhadap yang lain.

Untuk itu, kita mesti belajar dari peristiwa tragis seperti ini. Cinta mesti dibangun dengan ketulusan hati. Cinta mesti diproses dalam perjalanan hidup yang rela berkorban bagi orang yang dicintai. Ini tidak mudah, karena dalam mencintai orang juga masih memiliki egoisme. Orang masih mementingkan kesenangan dirinya sendiri.

Orang beriman mesti berani berkorban dalam cinta, sehingga orang mengenal kasih sayang terhadap yang lain. Hanya dengan memiliki kasih sayang yang mendalam, orang mampu membangun hidup dalam cinta kasih. Untuk itu, orang membutuhkan bantuan dari rahmat Tuhan. Orang mesti memohon kepada Tuhan untuk memberikan cinta yang tulus tanpa hanya mementingan diri sendiri. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1152

28 Februari 2014

Mengolah Kemarahan Menjadi Kemampuan Mencintai




Pernahkah Anda mengolah kemarahan yang ada dalam diri Anda? Atau Anda biarkan saja kemarahan itu bertumbuh dalam diri Anda? Kalau hal terakhir ini Anda lakukan, Anda mesti menyadari diri Anda. Kemarahan Anda bisa menyebabkan orang lain sakit hati.

Seorang ayah bingung menghadapi anak laki-lakinya yang sering marah terhadap semua orang. Suatu kali, sang ayah menemukan cara menghadapi anaknya. Ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak, kalau kamu sedang marah ambillah paku dan tancapkan paku itu di pagar belakang rumah kita. Lampiaskan marahmu di sana. Nanti kalau kamu merasa amarahmu terhadap orang itu telah hilang, cabutlah paku yang engkau tancapkan tadi.”

Anak itu melaksanakan apa yang diperintahkan ayahnya. Suatu kali anaknya memanggil ayahnya. Dengan bangga dia berkata, “Ayah, lihatlah ke pagar belakang.”

Ayahnya pun bergegas ke sana. Ia mendapati tidak ada sebatang paku pun yang tertancap di sana. Yang ada hanyalah bekas lubang paku yang dalam, yang memenuhi pagar tersebut.”

Segera ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak... lihatlah, sekalipun engkau telah mencabut paku-paku tersebut, namun bekas lubangnya tetap ada. Itu artinya amarah yang engkau lampiaskan ke orang lain, akan tetap meninggalkan lubang yang dalam di hati. Sekalipun engkau telah meminta maaf bahkan melupakan amarahmu, namun bekasnya tetap ada di hati orang lain.”

Sahabat, tentu saja setiap orang pernah marah terhadap sesamanya. Berbagai alasan dapat diungkapkan dari seseorang yang sedang marah. Ada yang marah terhadap orang yang melakukan kesalahan terhadapnya, namun hanya sebentar saja. Tidak lama kemudian ia baik lagi dengan temannya itu.

Ada yang marah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terhadap orang yang dianggap melakukan kesalahan terhadapnya. Orang seperti ini tidak pernah lupa kesalahan orang lain. Orang seperti ini belum bisa mengolah emosinya. Semestinya hati yang panas itu diolah menjadi dingin dan sejuk. Dengan demikian, kemarahan itu tidak menjadi beban dalam hidup. Bahayanya adalah orang akan mengalami sakit hati. Luka batin akan menjadi bagian hidup orang seperti ini.

Karena itu, kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti mudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Marah boleh-boleh saja. Namun ketika tiba saatnya, kita mesti mengolah emosi kita menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup kita. Emosi yang negatif dapat diolah menjadi kekuatan bagi diri kita untuk maju setapak demi setapak.

Untuk itu, orang mesti berusaha keras untuk mengolah emosi jiwanya yang negatif itu. Orang tidak boleh membiarkan emosi atau kemarahan itu menguasai dirinya. Orang mesti berusaha untuk mengatasinya.

Orang beriman mesti mendekatkan diri kepada Tuhan, ketika kemarahan mendatanginya. Artinya, orang beriman mesti berani meminta bantuan kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan jalan baginya untuk mengolah emosi yang negatif menjadi kemampuan untuk mencintai semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1060

03 Februari 2014

Berani Mencintai, Berani Berkorban

 
Hidup itu penuh tantangan. Ketika seseorang mencintai kekasihnya, ada banyak tantangan yang mesti dihadapinya. Kalau ia kuat menghadapi tantangan-tantangan itu, ia mampu menjalani hidup ini dengan normal. Kalau tidak kuat, ia bisa stress dalam hidup ini.

Ada seorang ibu yang mengalami stress. Soalnya adalah suaminya menceraikannya secara sepihak. Suaminya hidup dengan perempuan lain. Ia ditinggalkan sendirian dengan bayi yang masih dalam kandungannya. Hal yang semakin memilukan hatinya adalah anak-anaknya diambil oleh suaminya. Ia dilarang untuk menjenguk anak-anaknya. Sementara janin yang masih berada di dalam kandungannya itu pun diancam untuk diambil begitu dilahirkan.

Ibu itu seolah-olah tidak punya siapa-siapa lagi. Namun ia tetap mencintai anak yang masih ada di dalam kandungannya. Ia berusaha untuk menyelamatkan anak itu. Tidak ada pikiran sama sekali untuk menggugurkan anak itu. Ia bertekad untuk mengandung dan melahirkannya dengan selamat.

Beberapa hari setelah melahirkan anaknya, sang mantan suami datang. Ia meminta agar anak itu ia bawa pulang ke rumahnya. Ia mau mengasuhnya bersama tiga anaknya yang lain. Ibu itu mati-matian tidak mau memberikannya. Ia menuntut suaminya untuk membiarkan anak yang masih kecil itu berada dalam pelukannya. Ia ingin merawatnya dengan baik. Namun sang mantan suami tidak mau menggubris. Ia tetap memaksa untuk membawa pergi bayi itu. Ibu itu tidak berdaya. Ia terpaksa kehilangan bayi yang sangat dicintainya itu.

Hidup sebatang kara ternyata membuat dirinya semakin stress. Ia rindu untuk melihat anak-anaknya. Ia rindu untuk menimang bayi yang dilahirkannya. Namun ia tidak mendapatkan izin dari sang mantan suami. Akhirnya yang terjadi adalah suatu peristiwa yang mengenaskan. Ia meninggal dalam kesepian dan kerinduannya. Cintanya yang begitu besar menyebabkan hidupnya berakhir secara tragis.

Sahabat, mungkinkah cinta yang begitu mendalam dapat membuat seseorang mati? Bisa saja terjadi! Orang yang punya cinta yang begitu besar berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Seorang ibu yang melahirkan anaknya mengorbankan hidupnya demi hidup anaknya. Ia tidak memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Yang ia pikirkan adalah keselamatan anak yang hendak dilahirkannya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang begitu besar dapat menyebabkan hidup seseorang berakhir dengan tragis. Ibu itu sangat mencintai anak-anaknya. Bahkan ia berani mengorbankan hidupnya demi anak-anaknya itu. Ia membiarkan dirinya layu dan lusuh hanya demi kehidupan dan keselamatan anak-anaknya. Ia mencintai anak-anaknya sampai membiarkan hidupnya berakhir. Cintanya sampai habis untuk anak-anaknya.

Bagaimana dengan orang beriman? Apakah orang beriman berani berkorban demi cinta yang besar bagi sesama? Tentu saja orang beriman mesti berani mencintai sesama sampai sehabis-habisnya.

Orang beriman mesti berusaha untuk terus-menerus mencintai, apa pun korban yang akan dihadapi. Mengapa? Karena tiada cinta yang dilakukan tanpa korban. Orang yang mencintai sesamanya itu pasti memiliki korban yang besar. Bukan lagi dirinya yang menjadi pusat perhatiannya, tetapi sesama yang dicintainya itu.

Mari kita berusaha untuk mencintai sesama dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, hidup kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1042

04 Mei 2011

Mengolah Kemarahan Menjadi Kemampuan Mencintai



Seorang ayah bingung menghadapi anak laki-lakinya yang seringkali marah terhadap semua orang. Suatu kali sang ayah menemukan cara menghadapi anaknya. Ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak, kalau kamu sedang marah ambillah paku dan tancapkan paku itu di pagar belakang rumah kita, lampiaskan marahmu di sana. Nanti kalau kamu merasa amarahmu terhadap orang itu telah hilang, cabutlah paku yang engkau tancapkan tadi.”

Anak itu melaksanakan apa yang diperintahkan ayahnya. Suatu kali anaknya memanggil ayahnya. Dengan bangga dia berkata, “Ayah, lihatlah ke pagar belakang.”

Ayahnyapun bergegas ke sana. Ia mendapati tidak ada sebatang pakupun yang tertancap di sana. Yang ada hanyalah bekas lubang paku yang dalam, yang memenuhi pagar tersebut.”

Segera ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak.. lihatlah, sekalipun engkau telah mencabut paku-paku tersebut, namun bekas lubangnya tetap ada. Itu artinya amarah yang engkau lampiaskan ke orang lain, akan tetap meninggalkan lubang yang dalam di hati. Sekalipun engkau telah meminta maaf bahkan melupakan amarahmu, namun bekasnya tetap ada dalam hati orang lain.”

Sahabat, tentu saja setiap orang pernah marah terhadap sesamanya. Berbagai alasan dapat diungkapkan dari seseorang yang sedang marah. Ada yang marah terhadap orang yang melakukan kesalahan terhadapnya, namun hanya sebentar saja. Tidak lama kemudian ia baikkan lagi dengan temannya itu.

Ada yang marah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terhadap orang yang dianggap melakukan kesalahan terhadapnya. Orang seperti ini tidak pernah lupa kesalahan orang lain. Orang seperti ini belum bisa mengolah emosinya.

Semestinya hati yang panas itu diolah menjadi dingin dan sejuk. Dengan demikian, kemarahan itu tidak menjadi beban dalam hidup. Bahayanya adalah orang akan mengalami sakit hati. Luka batin akan menjadi bagian hidup orang seperti ini.

Karena itu, kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti mudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Marah boleh-boleh saja. Namun ketika tiba saatnya, kita mesti mengolah emosi kita menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup kita. Emosi yang negatif dapat diolah menjadi kekuatan bagi diri kita untuk maju setapak demi setapak. Untuk itu, orang mesti berusaha keras untuk mengolah emosi jiwanya yang negatif itu. Orang tidak boleh membiarkan emosi atau kemarahan itu menguasai dirinya. Orang mesti berusaha untuk mengatasinya.

Orang beriman mesti mendekatkan diri kepada Tuhan, ketika kemarahan mendatanginya. Artinya, orang beriman mesti berani meminta bantuan kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan jalan baginya untuk mengolah emosi yang negatif menjadi kemampuan untuk mencintai semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

671

24 Maret 2011

Berani Mencintai, Berani Berkorban

Ada seorang ibu yang mengalami stress. Soalnya adalah suaminya menceraikannya secara sepihak. Suaminya hidup dengan perempuan lain. Ia ditinggalkan sendirian dengan bayi yang masih dalam kandungannya. Hal yang semakin memilukan hatinya adalah anak-anaknya diambil oleh suaminya. Ia dilarang untuk menjenguk anak-anaknya. Sementara janin yang masih berada di dalam kandungannya itu pun diancam untuk diambil begitu dilahirkan.

Ibu itu seolah-olah tidak punya siapa-siapa lagi. Namun ia tetap mencintai anak yang masih ada di dalam kandungannya. Ia berusaha untuk menyelamatkan anak itu. Tidak ada pikiran sama sekali untuk menggugurkan anak itu. Ia bertekad untuk mengandung dan melahirkannya dengan selamat.

Beberapa hari setelah melahirkan anaknya, sang mantan suami datang. Ia meminta agar anak itu ia bawa pulang ke rumahnya. Ia mau mengasuhnya bersama tiga anaknya yang lain. Ibu itu mati-matian tidak mau memberikannya. Ia menuntut suaminya untuk membiarkan anak yang masih kecil itu berada dalam pelukannya. Ia ingin merawatnya dengan baik. Namun sang mantan suami tidak mau menggubris. Ia tetap memaksa untuk membawa pergi bayi itu. Ibu itu tidak berdaya. Ia terpaksa kehilangan bayi yang sangat dicintainya itu.

Hidup sebatang kara ternyata membuat dirinya semakin stress. Ia rindu untuk melihat anak-anaknya. Ia rindu untuk menimang bayi yang dilahirkannya. Namun ia tidak mendapatkan ijin dari sang mantan suami. Akhirnya yang terjadi adalah suatu peristiwa yang mengenaskan. Ia meninggal dalam kesepian dan kerinduannya. Cintanya yang begitu besar menyebabkan hidupnya berakhir secara tragis.

Sahabat, mungkinkah cinta yang begitu mendalam dapat membuat seseorang mati? Bisa saja terjadi! Orang yang punya cinta yang begitu besar berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Seorang ibu yang melahirkan anaknya mengorbankan hidupnya demi hidup anaknya. Ia tidak memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Yang ia pikirkan adalah keselamatan anak yang hendak dilahirkannya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang begitu besar dapat menyebabkan hidup seseorang berakhir dengan tragis. Ibu itu sangat mencintai anak-anaknya. Bahkan ia berani mengorbankan hidupnya demi anak-anaknya itu. Ia membiarkan dirinya layu dan lusuh hanya demi kehidupan dan keselamatan anak-anaknya. Ia mencintai anak-anaknya sampai membiarkan hidupnya berakhir. Cintanya sampai habis untuk anak-anaknya.

Bagaimana dengan orang beriman? Apakah orang beriman berani berkorban demi cinta yang besar bagi sesama? Tentu saja orang beriman mesti berani mencintai sesama sampai sehabis-habisnya. Orang beriman mesti berusaha untuk terus-menerus mencintai apa pun korban yang akan dihadapi. Mengapa? Karena tiada cinta yang dilakukan tanpa korban. Orang yang mencintai sesamanya itu pasti memiliki korban yang besar. Bukan lagi dirinya yang menjadi pusat perhatiannya, tetapi sesama yang dicintainya itu.

Mari kita berusaha untuk mencintai sesama dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian hidup kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ