Pages

Tampilkan postingan dengan label kemarahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemarahan. Tampilkan semua postingan

28 Februari 2014

Mengolah Kemarahan Menjadi Kemampuan Mencintai




Pernahkah Anda mengolah kemarahan yang ada dalam diri Anda? Atau Anda biarkan saja kemarahan itu bertumbuh dalam diri Anda? Kalau hal terakhir ini Anda lakukan, Anda mesti menyadari diri Anda. Kemarahan Anda bisa menyebabkan orang lain sakit hati.

Seorang ayah bingung menghadapi anak laki-lakinya yang sering marah terhadap semua orang. Suatu kali, sang ayah menemukan cara menghadapi anaknya. Ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak, kalau kamu sedang marah ambillah paku dan tancapkan paku itu di pagar belakang rumah kita. Lampiaskan marahmu di sana. Nanti kalau kamu merasa amarahmu terhadap orang itu telah hilang, cabutlah paku yang engkau tancapkan tadi.”

Anak itu melaksanakan apa yang diperintahkan ayahnya. Suatu kali anaknya memanggil ayahnya. Dengan bangga dia berkata, “Ayah, lihatlah ke pagar belakang.”

Ayahnya pun bergegas ke sana. Ia mendapati tidak ada sebatang paku pun yang tertancap di sana. Yang ada hanyalah bekas lubang paku yang dalam, yang memenuhi pagar tersebut.”

Segera ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak... lihatlah, sekalipun engkau telah mencabut paku-paku tersebut, namun bekas lubangnya tetap ada. Itu artinya amarah yang engkau lampiaskan ke orang lain, akan tetap meninggalkan lubang yang dalam di hati. Sekalipun engkau telah meminta maaf bahkan melupakan amarahmu, namun bekasnya tetap ada di hati orang lain.”

Sahabat, tentu saja setiap orang pernah marah terhadap sesamanya. Berbagai alasan dapat diungkapkan dari seseorang yang sedang marah. Ada yang marah terhadap orang yang melakukan kesalahan terhadapnya, namun hanya sebentar saja. Tidak lama kemudian ia baik lagi dengan temannya itu.

Ada yang marah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terhadap orang yang dianggap melakukan kesalahan terhadapnya. Orang seperti ini tidak pernah lupa kesalahan orang lain. Orang seperti ini belum bisa mengolah emosinya. Semestinya hati yang panas itu diolah menjadi dingin dan sejuk. Dengan demikian, kemarahan itu tidak menjadi beban dalam hidup. Bahayanya adalah orang akan mengalami sakit hati. Luka batin akan menjadi bagian hidup orang seperti ini.

Karena itu, kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti mudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Marah boleh-boleh saja. Namun ketika tiba saatnya, kita mesti mengolah emosi kita menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup kita. Emosi yang negatif dapat diolah menjadi kekuatan bagi diri kita untuk maju setapak demi setapak.

Untuk itu, orang mesti berusaha keras untuk mengolah emosi jiwanya yang negatif itu. Orang tidak boleh membiarkan emosi atau kemarahan itu menguasai dirinya. Orang mesti berusaha untuk mengatasinya.

Orang beriman mesti mendekatkan diri kepada Tuhan, ketika kemarahan mendatanginya. Artinya, orang beriman mesti berani meminta bantuan kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan jalan baginya untuk mengolah emosi yang negatif menjadi kemampuan untuk mencintai semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1060

04 November 2011

Menahan Kemarahan demi Kebaikan Semua

Suatu siang seorang pemuda kelelahan. Baru saja ia marah-marah terhadap anak buahnya yang melakukan kesalahan. Kepada seorang teman dekatnya, ia berkata, “Saya kesal dengan semua ini. Mengapa mereka tidak melakukan apa yang saya instruksikan? Mengapa mereka kerjakan apa yang mereka inginkan? Dan itu salah. Saya lelah dengan semua ini.”

Pemuda yang punya usaha bengkel itu merasa jengkel terhadap para karyawannya. Ia menyimpan kekesalannya itu dalam hatinya. Akibatnya, ia tidak bisa melakukan apa yang menjadi tugas-tugasnya. Hari itu ia banyak kehilangan keuntungan. Seharusnya banyak penghasilan ia peroleh pada hari itu. Akibat kemarahannya itu, ia banyak kehilangan pelanggan. Ia mesti bangkit lagi. Ia mesti berusaha untuk mengembalikan lagi para pelanggannya. Mereka lari ke bengkel lain, karena kesalahan para karyawannya.

Namun pemuda itu menyadari bahwa tenggelam dalam kemarahan tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Ia akan kehilangan semakin banyak keuntungan. Karena itu, ia mengumpulkan semua karyawannya. Ia memberikan pengarahan kepada mereka. Ia memberikan pelatihan untuk mereka, sehingga mereka dapat memperbaiki kesalahan. Dengan cara itu, dalam waktu singkat ia dapat mengembalikan lagi para pelanggannya. Suatu sukses kemudian ia raih dalam usahanya itu.

Sahabat, amarah atau kemarahan melemahkan manusia. Amarah membuat orang rugi dalam setiap usaha yang dilakukannya. Ketika Anda punya usaha yang sedang bertumbuh, Anda dianjurkan untuk mengekang kemarahan Anda. Mengapa? Karena kemarahan dapat menghilangkan kemajuan usaha Anda. Energi Anda terpusat pada diri Anda sendiri yang tidak ingin disepelekan.

Amarah biasanya berhubungan erat dengan egoisme seseorang. Mengapa seseorang itu marah? Benjamin Franklin mengatakan bahwa amarah tidak pernah terjadi tanpa alasan, tetapi jarang oleh alasan yang baik. Artinya, kemarahan atau amarah itu lebih didominasi oleh alasan yang kurang baik. Orang gampang marah, karena orang tidak mau dirinya disepelekan. Orang gampang marah, karena orang merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan yang lebih. Kalau ada orang yang kemampuannya lebih dari dirinya, ia akan marah. Ia tidak mau terima.

Dalam pengalaman hidup sehari-hari, orang bebal lebih gampang dikuasai amarah. Mengapa? Karena orang bebal tidak punya banyak akal untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya. Ia punya keterbatasan dalam hidupnya.

Sayangnya, orang bebal sering merasa diri serba tahu. Akibatnya, orang bebal biasanya merasa gampang tersaingi oleh orang lain. Sang Kebijaksanaan mengatakan bahwa orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.

Karena itu, orang beriman mesti selalu berusaha untuk menahan amarahnya. Orang beriman mesti menjadi orang yang bijak dalam hidup ini dengan mengarahkan dirinya kepada kebaikan. Kalau kita mampu menahan amarah dalam hidup ini, kita akan meraih sukses dalam perjalanan hidup kita.

Mari kita menahan diri dari rasa marah. Kita berusaha untuk menahan diri, agar kita memperoleh rahmat Tuhan yang berlimpah-limpah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


818

28 Mei 2011

Mengubah Kemarahan Menjadi Berkat



Akhir pekan lalu (akhir Februari 2010) ada dua peristiwa berdarah terjadi di Jawa Timur. Di Pasuruan, seorang anak tega membunuh bapak kandungnya, karena kesal adiknya dipukul. Di kawasan Tapal Kuda di Probolinggo kejadian serupa terjadi. Seorang pria warga Desa Menyono, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo membunuh bapak tirinya.

Bapak tirinya dibacok dengan sebilah celurit hingga tewas bersimbah darah di depan halaman rumahnya. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB, Minggu (28/2/2010). Keterangan yang dihimpun adalah sebelum kejadian, kakak pelaku yang bernama Ny Supaida pulang dari Arab Saudi. Selama beberapa tahun bekerja di Arab Saudi, Ny Supaida menitipkan anaknya, Mia (3) kepada bapak tirinya. Begitu pulang ke rumahnya di Desa Menyono, perempuan itu berencana membawa anaknya itu ke Banyuwangi, namun bapak tiri itu melarang.

Tidak terima, sang anak tiri datang bersama Ny Supaida. Mereka naik pitam. Terjadi perang mulut. Di tengah perang mulut itu, pelaku kalap dan langsung menyabetkan celurit ke tubuh bapak tirinya. Akibat sabetan sebilah celurit itu, bapak tiri itu mengalami luka di bagian kedua pergelangan tangan dan lehernya. Ia pun tewas seketika.

Sahabat, kemarahan yang tidak bisa dikendalikan dapat berakibat fatal bagi kehidupan. Orang yang kalap bisa menyebabkan nyawa orang lain melayang. Akibatnya, orang melanggar hak azasi manusia. Orang tidak peduli terhadap hak-hak hidup orang lain. Orang merendahkan martabat manusia.

Manusia yang beradab adalah manusia yang mampu mengolah emosinya yang brutal. Orang yang punya kebudayaan yang tinggi itu orang yang mampu menundukkan kemarahannya. Emosi liar yang dimiliki itu mesti bertekuk lutut dalam dirinya. Ia tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh kemarahan atau emosi dirinya.

Untuk itu, orang mesti berusaha untuk mengendalikan emosi atau kemarahan yang membabibuta. Tentu saja usaha ini tidak berhasil dalam sekejap. Orang tentu mengalami berbagai tantangan dan kesulitan. Orang akan mengalami jatuh dan bangun dalam usaha untuk mengendalikan emosi dalam dirinya. Namun orang tidak boleh berhenti atau putus asa. Orang mesti yakin bahwa dengan mengendalikan emosi itu orang akan dapat menundukkan emosi yang ada di dalam dirinya.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk mengubah kemarahan yang bernyala-nyala di dalam diri kita menjadi berkat yang melimpah bagi sesama. Untuk itu, kita butuh bantuan dari Tuhan. Kita mesti berani mengandalkan Tuhan ketika kemarahan atau emosi sedang melanda diri kita. Kita biarkan Tuhan masuk ke dalam diri kita untuk bekerja bersama kita menundukkan kemarahan atau emosi itu. Dengan demikian, hidup kita menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ




687

04 Mei 2011

Mengolah Kemarahan Menjadi Kemampuan Mencintai



Seorang ayah bingung menghadapi anak laki-lakinya yang seringkali marah terhadap semua orang. Suatu kali sang ayah menemukan cara menghadapi anaknya. Ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak, kalau kamu sedang marah ambillah paku dan tancapkan paku itu di pagar belakang rumah kita, lampiaskan marahmu di sana. Nanti kalau kamu merasa amarahmu terhadap orang itu telah hilang, cabutlah paku yang engkau tancapkan tadi.”

Anak itu melaksanakan apa yang diperintahkan ayahnya. Suatu kali anaknya memanggil ayahnya. Dengan bangga dia berkata, “Ayah, lihatlah ke pagar belakang.”

Ayahnyapun bergegas ke sana. Ia mendapati tidak ada sebatang pakupun yang tertancap di sana. Yang ada hanyalah bekas lubang paku yang dalam, yang memenuhi pagar tersebut.”

Segera ia memanggil anaknya dan berkata, “Nak.. lihatlah, sekalipun engkau telah mencabut paku-paku tersebut, namun bekas lubangnya tetap ada. Itu artinya amarah yang engkau lampiaskan ke orang lain, akan tetap meninggalkan lubang yang dalam di hati. Sekalipun engkau telah meminta maaf bahkan melupakan amarahmu, namun bekasnya tetap ada dalam hati orang lain.”

Sahabat, tentu saja setiap orang pernah marah terhadap sesamanya. Berbagai alasan dapat diungkapkan dari seseorang yang sedang marah. Ada yang marah terhadap orang yang melakukan kesalahan terhadapnya, namun hanya sebentar saja. Tidak lama kemudian ia baikkan lagi dengan temannya itu.

Ada yang marah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terhadap orang yang dianggap melakukan kesalahan terhadapnya. Orang seperti ini tidak pernah lupa kesalahan orang lain. Orang seperti ini belum bisa mengolah emosinya.

Semestinya hati yang panas itu diolah menjadi dingin dan sejuk. Dengan demikian, kemarahan itu tidak menjadi beban dalam hidup. Bahayanya adalah orang akan mengalami sakit hati. Luka batin akan menjadi bagian hidup orang seperti ini.

Karena itu, kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti mudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Marah boleh-boleh saja. Namun ketika tiba saatnya, kita mesti mengolah emosi kita menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup kita. Emosi yang negatif dapat diolah menjadi kekuatan bagi diri kita untuk maju setapak demi setapak. Untuk itu, orang mesti berusaha keras untuk mengolah emosi jiwanya yang negatif itu. Orang tidak boleh membiarkan emosi atau kemarahan itu menguasai dirinya. Orang mesti berusaha untuk mengatasinya.

Orang beriman mesti mendekatkan diri kepada Tuhan, ketika kemarahan mendatanginya. Artinya, orang beriman mesti berani meminta bantuan kepada Tuhan, agar Tuhan memberikan jalan baginya untuk mengolah emosi yang negatif menjadi kemampuan untuk mencintai semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

671