Pages

21 November 2013

Berkorban sebagai Ungkapan Kasih yang Tulus


Apa yang akan Anda lakukan, ketika kasih menuntut korban? Anda menghindarinya? Atau Anda berani berkorban demi kasih yang tulus bagi sesama Anda?

Ada dua insan hendak melaksanakan pernikahan dalam beberapa bulan yang akan datang. Sang Gadis berambut panjang, sedang si cowok memiliki biola tetapi tidak memiliki tas biola. Hari Valentine merupakan saat yang tepat untuk saling memberikan kado.

Sang pemuda itu begitu terpesona oleh rambut panjang yang mengurai dari kepala gadis itu. Sayang, kadang-kadang rambut yang panjang itu awut-awutan. Mengapa? Karena tidak ada penjepit yang menyatukan rambutnya. Karena itu, pemuda itu berpikir untuk memberikan kado sebuah jepitan pita emas untuk rambut kekasihnya yang panjang itu. Soalnya, ia tidak punya uang untuk membelikan jepitan pita emas itu.

Karena rasa sayangnya kepada gadis pujaannya, pemuda itu memutuskan untuk menjual biola kesayangannya. Hasil penjualan biola itu ia belikan sebuah jepitan pita emas. Ia membungkusnya dalam sebuah kotak yang indah dengan kertas kado berwarna emas. Bungkusan itu akan ia berikan saat Valentine Day. Ia berpikir, gadis pujaannya akan bergembira luar biasa saat membuka kado itu.

Sementara itu, sang gadis juga ingin memberikan kado untuk pemuda pujaannya. Ia menyaksikan pemuda itu membawa biolanya ke mana-mana, tetapi tanpa tas. Ia kuatir, kalau biola itu rusak di kala diterpa hujan dan angin. Ia memutuskan untuk memotong rambutnya yang panjang itu.

Lantas ia menjual potongan rambut itu. Hasilnya ia gunakan untuk membeli tas untuk biola kesayangan kekasihnya. Ia membungkus tas itu dalam sebuah kotak dengan kertas kado berwarna emas. Ia akan hadiahkan kepada kekasihnya saat Valentina Day. Ia berharap, sang kekasih akan bergembira menerima kado dari tangannya.

Saat Valentine Day tiba, kedua insan itu ingin buat kejutan. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah taman yang indah. Sang gadis membawa kado yang cukup besar. Sedangkan sang pemuda membawa kado yang kecil. Saat berjumpa, keduanya saling terkejut. Sang pemuda terkejut luar biasa menyaksikan kekasihnya yang kini berambut pendek. Padahal ia ingin memberi hadiah sebuah jepitan pita emas untuk rambutnya. Sedangkan sang gadis terkejut, karena biola kesayangan kekasihnya itu sudah lenyap. Semuanya telah lenyap. Tetapi yang tertinggal dalam hati kedua insan itu adalah cinta yang berkobar-kobar.

Sahabat, kasih yang sejati selalu menuntut korban. Orang-orang yang saling mengasihi dengan tulus biasanya tidak memperhitungkan untung atau rugi. Yang mereka lakukan adalah mereka saling memberi diri. Mereka saling memberi hidup. Mereka menumbuhkan kasih itu dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Kisah imajinatif di atas memberi kita inspirasi untuk tetap berani berkorban sebagai ungkapan kasih kita yang tulus kepada sesama. Kasih yang tidak egois menumbuhkan buah-buah yang baik dalam kehidupan bersama. Dalam hidup berkeluarga, misalnya, suami istri yang saling mengasihi dengan tulus akan saling berkorban. Mereka saling memberi. Bahkan mereka memberi diri mereka sendiri. Apa pun yang mereka lakukan demi kasih, mereka lakukan dengan tanpa pamrih.

Ketika egoisme menguasai hidup manusia, orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kasihnya hanya berpusat pada dirinya sendiri. Kasih seperti ini tidak berbuah kebaikan bagi hidup bersama. Kasih seperti ini hanya berbuahkan nafsu menguasai yang lain. Orang tidak peduli terhadap sesamanya yang membutuhkan bantuan.

Orang beriman mesti bertumbuh dalam kasih yang tulus. Dengan demikian, hidup ini berbuah kebaikan. Setiap orang akan mengalami damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

985

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.