Pages

28 November 2013

Selalu Membangun Relasi dengan Tuhan


Apa yang Anda lakukan ketika hati Anda terasa penat dan kurang bersukacita? Anda melarikan diri dari Tuhan dan mencari jalan sendiri?

Suatu ketika, ada seorang ibu berkisah tentang keluarganya. Dia mulai mengingat kembali pengalaman-pengalaman indah, ketika banyak orang bertamu di rumahnya. Banyak tamu yang datang membawa persoalan dan minta diselesaikan. Bahkan tidak jarang ada tamu yang minta bantuan dana.

Waktu itu suaminya adalah seorang pemimpin dan sangat berpengaruh. Banyak orang menaruh hormat dan segan terhadap keluarga ibu tersebut. Di sisi lain, orang-orang pun selalu siap membantu keluarga tersebut apabila dibutuhkan. Itu dulu!

Sekarang keadaan telah berubah. Suaminya telah tiada. Dia meninggal mendadak karena serangan jantung. Rumahnya kini sepi. Orang-orang yang dahulu sering datang ke rumahnya, semuanya sudah menghilang. Semua jasa dan budi baik dari keluarga ibu itu dilupakan begitu saja. Apabila ibu itu minta bantuan orang, semuanya seolah-olah sibuk. Mereka tidak bersedia. Misalnya, ketika ibu itu meminta bantuan orang untuk membetulkan pagar depan rumah yang sudah rusak, tidak ada satu pun orang yang bersedia.

Ibu itu sangat kecewa atas persahabatan dan persaudaraan yang telah tercipta. Orang-orang hanya mau bersahabat pada waktu mereka dalam kesulitan. Keluarga ini ditinggalkan, ketika mereka tidak punya pengaruh lagi. Orang hanya mau berkawan di dalam suka, namun tidak di dalam kesulitan.

Sahabat, kedekatan dengan sesama merupakan suatu bentuk ungkapan kasih kita. Intensitas kasih itu semakin mendalam terjadi, ketika kedekatan itu pun semakin kuat dirasakan. Situasi seperti ini biasanya menumbuhkan persahabatan yang saling menguntungkan. Artinya, orang tidak hanya mencari kesenangan diri sendiri saat menjalin relasi dengan orang lain. Orang sungguh-sungguh memperhitungkan kedamaian dan kebahagiaan sesamanya.

Kisah di atas menjadi suatu pengalaman yang menyakitkan. Orang hanya mau dekat, ketika mengalami kesulitan dalam hidup. Orang menjadi jauh, ketika keuntungan yang dicari tidak ditemukan lagi. Tentu saja relasi seperti ini sebuah relasi yang semu. Ada aji mumpung yang diperjuangkan. Orang tidak peduli akan sesamanya lagi begitu mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan untuk hidupnya sehari-hari.

Kisah di atas membantu kita untuk senantiasa merefleksikan jalinan persahabatan yang selama ini kita bangun. Apakah relasi yang kita bangun itu suatu relasi yang tulus tanpa pamrih? Atau kita hanya mau menimba keuntungan bagi diri sendiri dalam membangun relasi dengan sesama?

Bagi orang beriman, dangkal atau dalamnya relasi dengan sesama menjadi cerminan relasinya dengan Tuhan. Dalam hal membangun relasi dengan Tuhan, orang beriman mesti senantiasa menyadari bahwa ia tidak hanya mendekati Tuhan saat membutuhkan bantuan dari Tuhan. Setiap waktu kita selalu mendapatkan rahmat demi rahmat dari Tuhan. Tidak kita minta pun Tuhan menganugerahkan kepada kita kasih setianya.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita hanya membangun relasi dengan Tuhan pada saat-saat kita membutuhkan bantuan dari Tuhan. Kita mesti selalu datang kepada Tuhan dalam setiap situasi hidup kita. Kita biarkan rahmat Tuhan bekerja atas diri kita. Dengan demikian, kita boleh mengalami hidup yang damai bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

993

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.