Pages

Tampilkan postingan dengan label kebaikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebaikan. Tampilkan semua postingan

25 September 2014

Melintasi Rute Menuju Kebaikan



Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Anugerah hidup itu tidak disegarkan oleh wewangian harum.

Seorang sahabat mengatakan, di saat seperti itu ia merasa mulai dipermainkan oleh keadaan. Ia merasa terombang-ambing oleh waktu. Apakah ia mesti menunggu untuk melakukan sesuatu tepat pada waktunya? Atau ia mesti segera melaksanakan keinginannya? Ia menjadi bingung.

Ia mengatakan, ia persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan sementara. Hujan yang sedang dinanti-nantikan anak katak itu.

“Sering kali saya seperti anak katak tersebut. Saya tidak menyadari bahwa hal yang tidak menyenangkan adalah rute menuju kebaikan. Ternyata kepekaan, kesadaran, kesabaran dan perjuangn saja tidaklah cukup! Untuk melewati rute itu perlu keberanian dan komitmen agar saya sampai pada titik kehendak Tuhan,” katanya.

Sahabat, banyak orang mengalami kebingungan dalam hidup ini. Ketika berada dalam kondisi demikian, orang lalu mulai kehilangan pegangan hidup. Orang kemudian berjalan tidak tahu arah yang pasti. Orang menjadi terombang-ambing. Apa yang semestinya diputuskan untuk dilakukan?

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap bertahan pada komitmen yang telah kita buat di saat kita berada dalam situasi terombang-ambing itu. Hal ini mengandaikan suatu konsitensi dalam hidup. Orang tidak plin-plan dalam mengelola hidupnya. Orang mesti berusaha untuk merasa mantap dalam perjalanan hidupnya.

Untuk itu, orang mesti setia dalam hidupnya. Orang mesti membangun kesetiaan itu tahap demi tahap, langkah demi langkah. Orang tidak bisa mau meraih kesetiaan itu dalam sekejap. Menjadi orang yang setia pada komitmen itu suatu proses yang berjalan terus-menerus dalam kehidupan manusia.

Rute menuju kebaikan mesti dijalani dengan penuh kesabaran dan kesetiaan. Orang yang tergesa-gesa melewati rute kebaikan hanya meraih kekosongan dalam hidupnya. Ada damai yang dialami, namun hanyalah damai yang semu. Damai yang tidak sepenuhya dialami dalam hidup yang nyata.

Karena itu, orang beriman mesti membuka hatinya terhadap rahmat Tuhan. Mengapa? Karena rahmat Tuhan itu membantu manusia untuk menjadi kuat dan bertahan dalam perjalanan hidupnya. Tuhan memberikan semangat dalam rute menuju kebaikan yang dijalani dengan penuh perjuangan. Tuhan tidak pernah mengabaikan setiap perjuangan manusia. Justru Tuhan senantiasa menghargai setiap usaha manusia melintasi rute menuju kebaikan itu.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk meraih hidup yang lebih baik. Dengan demikian, kita menjadi orang yang penuh sukacita menjalani hidup ini. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

11 April 2014

Menghidupi Kebaikan yang Telah Kita Rebut


Kebaikan tidak datang dengan sendirinya. Kebaikan mesti diperjuangkan terus-menerus. Karena itu, orang beriman tidak boleh berpangku tangan demi menghidupi kebaikan dalam hidup sehari-hari.

Ada seorang guru bijaksana yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa mencari yang baik. Murid-muridnya tidak boleh mengejar yang jahat dalam hidup mereka. Guru itu memberi alasan bahwa hidup dalam kebaikan itu membuahkan hal-hal yang indah. Sukacita akan dialami dalam hidup manusia. Kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup manusia itu bukan hanya dalam angan-angan.

Sedangkan mengejar yang jahat hanya menaruh hidup di ujung bahaya. Hidup orang hanya dipenuhi dengan kebencian, iri hati dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal jahat. Pikiran orang yang mengejar kejahatan itu hanya tertuju pada menghancurkan sesamanya.

Guru bijaksana itu berkata kepada murid-muridnya, “Cintailah yang baik. Hiduplah baik dengan semua orang. Yang harus ada dalam diri Anda adalah mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.”

Menurut murid-muridnya, ajaran seperti ini tidak gampang. Masih ada begitu banyak kecenderungan dalam diri mereka untuk membenci sesamanya. Mereka masih iri terhadap sesamanya yang melakukan hal-hal yang baik.

Tentang hal ini, guru bijaksana itu berkata, “Kalau kamu melihat ada orang yang baik, jangan kamu menaruh iri atau benci. Tetapi kamu harus menerimanya dengan baik. Kamu harus belajar dari orang itu bagaimana dia bisa melakukan kebaikan bagi sesamanya. Dengan cara itu, kamu mampu melakukan hal-hal yang baik.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang sering ngotot-ngototan. Banyak dari kita yang tidak mau orang lain melebihi kita dalam berbuat baik. Kita cenderung iri hati. Kita cenderung menyisihkan sesama yang melakukan kebaikan itu. Tentu saja hal ini mesti kita buang jauh-jauh. Mengapa? Karena hanya dalam kebaikan itu kita mampu memperjuangkan hidup ini. Hanya dalam suasana kasih dan persaudaraan kita mampu membawa hidup kita dan sesama menuju kebahagiaan.

Kisah pengajaran guru bijaksana di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk senantiasa mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Mencari dan menumbuhkan kebaikan dalam hidup kita lebih beruntung. Kita bebas dari konflik-konflik. Kita tidak perlu menempatkan hidup kita di ujung kebinasaan.

Untuk itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mengejar kebaikan dalam hidup kita. Artinya, dengan hidup dalam kebaikan itu, kita mau agar hidup ini menjadi lebih baik dan menyenangkan. Kita ingin membawa diri kita dan sesama kita menuju kebahagiaan yang menjadi dambaan hidup kita.

Mari kita mengejar kebaikan dalam hidup ini. Dengan demikian, kasih senantiasa tumbuh dan menjadi andalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1087

25 Januari 2014

Memaknai Kebaikan Tuhan dalam Hidup



Sering orang melarikan diri dari penderitaan yang dihadapi. Mereka kemudian menyalahkan orang lain atau menyalahkan Tuhan. Padahal Tuhan begitu baik terhadap hidup mereka. Tuhan memelihara hidup mereka.

Suatu hari seorang ibu kehilangan anak semata wayangnya. Ia sangat menyayangi anaknya itu. Namun karena suatu penyakit yang tak tersembuhkan, anaknya menutup mata untuk selama-lamanya. Ibu itu seolah-olah kehilangan pegangan hidup. Ia menjadi loyo dalam hidupnya. Ia enggan untuk memulai hidupnya lagi seperti sedia kala. Ia tenggelam dalam duka nestapa yang berlarut-larut.

Ia tidak mau menerima kenyataan itu. Ia berontak terhadap situasi itu. Ia menuduh Tuhan telah melupakan dirinya. Ia memutuskan untuk meninggalkan Tuhan. Ia berkata, “Mengapa Tuhan memberi penderitaan ini bagi hidup saya? Mengapa Tuhan tidak peduli terhadap doa-doa saya?”

Ibu itu terjerembab dalam pikirannya sendiri. Ia menjadi stress. Ia tidak ingin meneruskan hidupnya lagi. Untung, sang suami kemudian menyadarkan dirinya. Sang suami berkata kepadanya, “Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Anak kita meninggal karena penyakit yang menggerogotinya. Lebih baik baginya untuk kembali ke haribaan yang mahakuasa. Kalau dia masih hidup, penderitaannya akan lebih besar lagi.”

Ibu itu tersadar dari situasinya. Ia berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Berbulan-bulan kemudian ia dapat menerima kenyataan hidupnya.

Sahabat, kebaikan Tuhan sering kita temukan dalam hidup sehari-hari. Kita masih bisa bangun pagi-pagi untuk menghirup udara yang segar. Kita boleh menikmati sarapan pagi bersama orang-orang yang kita cintai. Kita masih boleh bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup kita sehari-hari.

Namun sering manusia kurang menyadari kebaikan Tuhan itu. Manusia merasa bahwa kalau Tuhan itu baik, itulah kewajiban Tuhan. Karena itu, ketika manusia mengalami penderitaan dan kegagalan dalam hidup, mereka cenderung mencari kambing hitam. Siapa yang sering dikambinghitamkan? Jawabannya adalah Tuhan sering disalahkan oleh manusia yang sedang menderita. Tuhan menjadi kambing hitam penderitaan dan kegagalan manusia.

Benarkah sikap demikian? Tentu saja sikap demikian bukanlah sikap orang yang beriman. Orang beriman itu orang yang bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang berani menghadapi resiko kehidupan ini. Bukan orang yang cengeng. Bukan orang yang mudah mengalihkan kesalahan yang dibuatnya kepada orang lain atau Tuhan.

Untuk itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia? Yang mesti dilakukan oleh manusia adalah memiliki hati yang lapang. Artinya, hati yang siap sedia menerima resiko apa pun yang dihadapinya. Hati yang lapang itu hati yang tidak kecut. Hati yang tidak takut terhadap setiap bentuk tantangan dan ancam. Hati yang lapang itu hati yang mau menerima sesama apa adanya.

Karena itu, kita mesti bertobat. Artinya, kita menerima setiap kenyataan yang terjadi atas diri kita dengan hati yang lapang dan besar hati. Lantas bersama Tuhan yang kita imani itu kita berusaha untuk mengatasi setiap persoalan hidup kita. Kita biarkan Tuhan berkarya di dalam diri kita dengan rahamatNya. Dengan demikian, kita mampu menanggung setiap beban derita yang kita hadapi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1033

19 November 2013

Menemukan Kebaikan-kebaikan dalam Diri

 

Apa yang membuat Anda memiliki semangat dan optimisme dalam hidup ini? Kelebihan-kelebihan Anda?

Ada dua orang pemuda yang saling bersahabat. Suatu kali sahabat yang satu, sebut saja namanya si Anton, merasa diri tidak berarti. Alasannnya adalah wajahnya kurang tampan, kurus dan sakit-sakitan. Akibatnya, hidupnya loyo dan kurang bersemangat. Tidak ada gairah untuk hidup. Ia menjadi malas-malasan dalam hidup ini.

Sahabatnya, sebut saja namanya, Budi, prihatin dan sedih menyaksikan hari-hari hidup Anton. Budi adalah seorang pelukis. Melihat si Anton yang sedih itu, maka ia mulai melukis wajah temannya itu. Dalam lukisan itu, Anton kelihatan gemuk, tampan dan sehat serta segar.

Setelah lukisan itu jadi, Budi menyerahkannya kepada Anton. Anton sangat terkejut melihat lukisan dirinya yang begitu segar dan semangat. Ia bertanya kepada Budi, “Apakah aku ini seperti ini?”

Tanpa pikir panjang, Budi menjawab, “Ya, kamu itu gemuk, tampan dan sehat.”

Karena kata-kata dari teman itu, kini Anton menjadi kelihatan segar dan bergairah untuk hidup lagi. Ia bangkit dari keterpurukan hidupnya. Ia memandang hidup ini secara lebih optimis. Ia mulai buka usaha untuk kelangsungan hidupnya. Setelah beberapa tahun, ia meraih sukses yang luar biasa. Usahanya menjadi besar. Ia menjadi salah seorang bos yang patut diperhitungkan di kotanya.

Sahabat, sering orang memandang hidup ini dari segi yang negatif dan jelek saja. Orang mengira bahwa banyaknya kekurangan dan kelemahan dalam dirinya akan menghambat perjalanan hidupnya. Akibatnya, orang mudah putus asa dalam usaha-usahanya. Orang bahkan tidak mau melakukan apa-apa untuk kemajuan dirinya sendiri.

Kisah imajinatif di atas memberi kita semangat untuk melihat hidup ini dari segi positif. Meski banyak kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri kita, tetapi masih ada sejumlah kebaikan yang bisa membantu kita untuk maju dalam hidup ini. Kita punya kemampuan untuk meraih sukses dalam hidup ini.

Untuk itu, kita mesti selalu menyadari bahwa Tuhan telah memberi kita begitu banyak hal baik. Hal-hal baik itu mesti kita gunakan sebagai modal untuk membangun hidup kita. Memang, tidak mudah. Ada berbagai tantangan yang mesti kita hadapi. Namun sebagai orang beriman kita mesti yakin bahwa Tuhan tetap membantu hidup kita.

Anton dalam kisah di atas dibantu untuk menemukan makna hidup melalui temannya yang seorang pelukis. Ia diberi semangat untuk menjalani hidup ini dengan baik. Ia diberi kesempatan untuk melihat hidup ini secara lebih optimis. Bantuan itulah yang membuat Anton berubah menjadi orang yang sukses dalam hidupnya.

Karena itu, kita mesti menemukan kebaikan-kebaikan kita untuk hidup yang lebih baik. Mari kita menatap hidup ini dengan penuh semangat. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


983

19 September 2012

Pusatkan Perhatian pada Yang Baik

Apakah anda merasa ada yang kurang beres dalam diri anda? Apa yang menyebabakan hal-hal yang kurang beres itu? Anda merasa ditinggalkan oleh sesama Anda? Atau pikiran Anda yang negatif membuat Anda kurang fokus pada hal-hal yang baik dan benar?

Motivator terkenal asal Amerika Serikat, Zig Ziglar dalam bukunya ‘Breaking To The Next Level” mengatakan bahwa bila kita terus terfokus pada kegagalan-kegagalan di masa lalu, masalah-masalah yang kita hadapi pada hari ini dan kecemasan akan apa yang akan terjadi di esok hari, maka kita akan bersikap negatif. Menurutnya, pendekatan kehidupan seperti ini akan memperpendek umur kita dan membuat waktu terasa seakan lama berputar.

Zig Ziglar memberikan solusi, agar seseorang tidak bersikap negatif. Ia berkata, “Mulailah dengan fakta bahwa Anda masih hidup sekarang ini. Kemudian, konsentrasikan pikiran pada pengalaman-pengalaman Anda yang positif dan menyenangkan”.

Menurutnya, dengan pergantian fokus ini, kita akan mendapat manfaat yang sangat mengagumkan.

Sahabat, banyak orang sering kurang fokus pada apa yang sedang mereka lakukan. Akibatnya, mereka berpindah-pindah tugas. Atau mereka cepat bosan dengan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka kurang punya ketekunan terhadap suatu pekerjaan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang kurang fokus dalam hidup. Orang kurang tekun dalam mengolah hidupnya. Orang merasa bahwa apa yang mereka lakukan kurang bermakna dalam hidup ini. Akibatnya, mereka mudah meninggalkan apa yang sedang mereka lakukan.

Zig Ziglar menasihati setiap kita untuk memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang positif. Ketika kita fokuskan diri pada hal-hal positif, kita akan mengalami bahwa hidup ini menjadi sungguh indah. Hidup ini menjadi saat yang bermanfaat untuk mengungkapkan hidup kita kepada sesama.

Kita percaya bahwa Tuhan senantiasa memberikan kita hal-hal positif. Tuhan menganugerahi kita hal-hal yang baik untuk menumbuhkembangkan hidup ini. Tentu saja hal ini menjadi sulit ketika kita kurang menanggapinya dengan baik. Kita lebih suka memilih untuk memenuhi kehendak kita. Karena itu, kita sering mengalami kesulitan dalam hidup kita. Kita mudah meninggalkan apa yang kita kerjakan. Kita berusaha untuk mencari dan menemukan hal-hal yang lebih menyenangkan hati kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengarahkan perhatian kita pada hal-hal positif. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan untuk menumbuhkembangkan hal-hal baik yang ada dalam diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT
920

17 Juni 2012

Berdoa bagi Kebaikan Semua Orang

Buah dari doa adalah kedalaman iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan, namun agar dapat berdoa kita membutuhkan keheningan hati. Sedangkan jiwa memerlukan waktu untuk beranjak dan berdoa untuk menggunakan mulut, untuk menggunakan mata, serta menggunakan seluruh tubuh. Kalau kita tidak memiliki keheningan itu, kita tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Kali ini kita mau menggunakan kelima jari kita untuk membantu kita menghayati doa-doa kita.

Pertama, Jari Jempol. Jari ini adalah jari yang paling dekat dengan diri kita. Ketika kita sedang melipat tangan dan berdoa bagi orang-orang yang sangat akrab dengan kita. Sebutkan nama-nama mereka yang kita kenal dengan baik. Mendoakan orang-orang yang kita kasihi adalah suatu pekerjaan yang manis.

Kedua, Jari Telunjuk. Jari ini biasa kita gunakan untuk menunjuk. Namun dalam doa kita tidak meminta Tuhan untuk mencelakakan orang yang kita tunjuk. Tetapi dengan menggunakan jari telunjuk, kita mendoakan mereka yang mengajar. Kita mendoakan guru-guru kita. Kita mendoakan orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan. Tujuannya agar mereka mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang bermutu. Dengan demikian, anak-anak bangsa ini sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang baik. Kita mendoakan para pendidik itu agar mereka dapat menunjukkan arah yang tepat bagi para peserta didik.

Ketiga, Jari Tengah. Ini jari yang paling tinggi, berarti kita harus ingat pada para pemimpin bangsa. Kita mendoakan presiden hingga para pejabat di bawahnya. Kita mendoakan para pemimpin organisasi sosial maupun bisnis. Mereka sering mempengaruhi bangsa kita dan membimbing opini publik. Mereka sangat butuh bantuan dari-Nya. Kita berdoa agar mereka memimpin bangsa ini dengan jujur dan setulus hati.

Keempat, Jari Manis. Jari keempat ini jari yang paling lemah. Guru piano pun biasanya cukup kebingungan ketika berhadapan dengan si jari yang lemah ini. Karena itu, mari kita doakan saudara-saudari kita yang lemah, yang sedang terkena musibah. Kita doakan bagi mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Kita doakan mereka sangat membutuhkan bantuan dan doa dari kita.

Kelima, Jari Kelingking. Jari terakhir ini paling kecil di antara jari-jari manusia. Inilah yang menggambarkan sikap kita yang seharusnya rendah hati saat berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Kita berdoa bagi diri kita sendiri, agar kita diberi kebijaksanaan dalam hidup. Dengan demikian, hidup ini menjadi indah bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

907

11 Desember 2011

Berani Berkorban demi Cinta yang Tulus


Pernahkah Anda mengorbankan hidup Anda bagi sesama Anda? Mengapa Anda rela berkorban? Tentu saja ada banyak alasan. Namun satu alasan yang pasti adalah Anda mengasihi sesama Anda itu.

Waktu saya masih kecil, saya sering pergi ke kebun kami yang ada di lereng gunung. Di sana ayah saya membuka ladang untuk menanam padi, jagung dan ubi jalar. Biasanya tiga jenis tanaman ini yang ditanam bersama-sama di atas satu bidang ladang yang sama. Biasanya jagung ditanam berjauhan setiap rumpunnya. Jagung biasanya dipanen lebih dulu. Panen berikutnya adalah padi dan yang terakhir adalah ubi jalar.

Masa-masa panen adalah masa yang paling menyenangkan bagi saya. Kami akan menginap di kebun sambil menikmati enaknya ibu memasak beras merah. Jenis padi yang biasa ditanam oleh ayah saya adalah padi merah. Biasanya di akhir panen padi, ibu memotong seekor ayam jantan sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Tuhan. Semua yang terlibat dalam panen padi itu akan mendapatkan bagian dari daging ayam jantan itu.

Suasana kekeluargaan tampak sangat dominan dalam situasi seperti itu. Semua orang bergembira ria, karena Tuhan telah memberi kebaikan-Nya kepada manusia. Kami saling bersenda gurau. Anak-anak berkejar-kejaran di ladang yang baru selesai dipanen. Persahabatan menjadi bagian yang kami tumbuhkan sejak kecil. Saya mengalami hidup bersaudara yang begitu membahagiakan.

Ayah saya berkata, “Kita mesti saling mencintai. Kalau kita tidak saling mencintai, untuk apa kita bekerja keras? Untuk apa saya mencangkul di lereng gunung ini? Tuhan telah memberi kita kekuatan untuk saling mengasihi.”

Sahabat, cinta tidak diraih dalam sekejap. Cinta yang tulus dan murni diraih melalui korban-korban. Seorang ayah mesti mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kelangsungan hidup keluarganya. Seorang ibu mesti rela mengorbankan nyawanya saat melahirkan buah hatinya.

Kalau korban itu dilakukan dengan penuh iman, korban itu membahagiakan. Orang tidak merasa terpaksa dalam memberikan hidupnya bagi sesamanya. Orang merasa bahagia, karena telah memberikan hidupnya bagi orang yang mereka cintai. Orang mengalami damai dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan bahwa hidup yang biasa-biasa menjadi semakin berguna, ketika dimaknai dengan baik dan benar. Persaudaraan dan persahabatan mesti dibangun dalam perjalanan hidup sehari-hari. Untuk memiliki persaudaraan dan persahabatan yang memiliki makna, orang mesti rela berkorban. Artinya, orang berani kehilangan dirinya untuk sesamanya yang membutuhkan kasihnya.

“Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan hidupnya bagi sesamanya,” kata seorang guru bijaksana. Artinya, orang yang sungguh-sungguh mengasihi sesamanya mesti menampakkan kasih itu dalam perbuatan yang nyata. Tidak hanya cukup kasih itu diungkapkan lewat kata-kata yang banyak dan panjang lebar.

Mengasihi sesama dibangun dengan rela merendahkan diri. Artinya, hanya orang yang memiliki kerendahan hati mampu memberikan hidupnya bagi sesamanya. Mari kita bangun kasih yang tulus dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


840

16 November 2011

Mengandalkan Kebaikan Hati


Suatu hari, saya pergi ke pasar 16 Ilir Palembang. Saya bertemu dengan banyak kuli yang sedang menarik gerobak. Beban yang mereka tarik bermacam-macam jenisnya. Ada yang sangat berat, tetapi ada juga yang sangat ringan. Di tempat yang ramai itu mereka mesti trampil menarik gerobak. Kalau tidak, gerobak mereka akan ngadat.

Waktu itu saya melihat dua orang penarik gerobak yang sedang berhenti. Barang yang mereka tarik itu ternyata terlalu berat. Keringat deras mengucur membasahi tubuh mereka. Selain karena berat, mereka juga mengalami macet. Dalam kondisi seperti itu, seorang berpakaian bersih dan rapi datang menolong kedua orang kuli itu.

Saya merasa kagum melihat orang itu. Tidak banyak kata-kata, ia membantu dua kuli itu untuk keluar dari kemacetan. Hasilnya, dua kuli itu dapat menarik gerobak mereka meninggalkan keramaian. Sedang orang yang membantu itu meninggalkan mereka tanpa perlu dibayar.

Sahabat, ternyata masih ada orang yang punya hati mulia dalam dunia yang serba maju sekarang ini. Ada orang yang tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Begitu ada sesamanya yang mengalami kesulitan dalam hidup, mereka langsung turun tangan. Mereka membantu dengan ikhlas hati, tanpa perlu diberi penghargaan.

Kebaikan hati itu membantu orang lain menemukan sukacita dalam hidupnya. Kebahagiaan itu juga diperoleh melalui hati yang tergerak oleh belas kasihan. Nah, masihkah kita menemukan orang yang mudah tergerak hatinya untuk kebahagiaan sesamanya?

Kita berharap masih ada begitu banyak orang yang mau peduli terhadap sesamanya. Orang seperti ini akan menemukan dalam hidupnya bahwa hidup ini memiliki makna yang begitu dalam dan indah.

Memang, tidak gampang orang memiliki hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan. Lebih gampang menemukan orang yang cuek terhadap situasi di sekitarnya. Lebih gampang menjumpai orang yang acuh tak acuh terhadap sesamanya. Orang tega membiarkan sesamanya mengalami penderitaan dalam hidupnya. Banyak orang lebih mudah mencari aman bagi diri mereka sendiri.

Seorang bijaksana berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Artinya, orang yang baik hati itu mesti menampakkan kebaikannya dalam hidup yang nyata.

Tentang kebaikan hati, Frederick W. Faber berkata, “Kebaikan hati telah mempertobatkan lebih banyak orang berdosa ketimbang semangat, kefasihan lidah, dan kepandaian.” Artinya, orang yang mengandalkan kebaikan hati itu membuka hatinya lebar-lebar bagi kebahagiaan sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sakes, SCJ

29 September 2011

Mengejar dan Menghidupi Kebaikan


Ada seorang guru bijaksana yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa mencari yang baik. Murid-muridnya tidak boleh mengejar yang jahat dalam hidup mereka. Guru itu memberi alasan bahwa hidup dalam kebaikan itu membuahkan hal-hal yang indah. Sukacita akan dialami dalam hidup manusia. Kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup manusia itu bukan hanya dalam angan-angan.

Sedangkan mengejar yang jahat hanya menaruh hidup di ujung bahaya. Hidup orang hanya dipenuhi dengan kebencian, iri hati dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal jahat. Pikiran orang yang mengejar kejahatan itu hanya tertuju pada menghancurkan sesamanya.

Guru bijaksana itu berkata kepada murid-muridnya, “Cintailah yang baik. Hiduplah baik dengan semua orang. Yang harus ada dalam diri Anda adalah mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.”

Menurut murid-muridnya, ajaran seperti ini tidak gampang. Masih ada begitu banyak kecenderungan dalam diri mereka untuk membenci sesamanya. Mereka masih iri terhadap sesamanya yang melakukan hal-hal yang baik. Tentang hal ini, guru bijaksana itu berkata, “Kalau kamu melihat ada orang yang baik, jangan kamu menaruh iri atau benci. Tetapi kamu harus menerimanya dengan baik. Kamu harus belajar dari orang itu, bagaimana dia bisa melakukan kebaikan bagi sesamanya. Dengan cara itu, kamu mampu melakukan hal-hal yang baik.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang sering ngotot-ngototan. Banyak dari kita yang tidak mau orang lain melebihi kita dalam berbuat baik. Kita cenderung iri hati. Kita cenderung menyisihkan sesama yang melakukan kebaikan itu. Tentu saja hal ini mesti kita buang jauh-jauh. Mengapa? Karena hanya dalam kebaikan itu kita mampu memperjuangkan hidup ini. Hanya dalam suasana kasih dan persaudaraan kita mampu membawa hidup kita dan sesama menuju kebahagiaan.

Kisah pengajaran guru bijaksana tadi menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk senantiasa mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Mencari dan menumbuhkan kebaikan dalam hidup kita lebih beruntung. Kita bebas dari konflik-konflik. Kita tidak perlu menempatkan hidup kita di ujung kebinasaan.

Untuk itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mengejar kebaikan dalam hidup kita. Artinya, dengan hidup dalam kebaikan itu, kita mau agar hidup ini menjadi lebih baik dan menyenangkan. Kita ingin membawa diri kita dan sesama kita menuju kebahagiaan yang menjadi dambaan hidup kita.

Mari kita mengejar kebaikan dalam hidup ini. Dengan demikian, kasih senantiasa tumbuh dan menjadi andalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


792

07 Agustus 2011

Wariskan Kebaikan kepada Sesama

Banyak orang merasa bahwa hidupnya akan menjadi lengkap, kalau mendapatkan warisan dari pendahulunya. Bahkan ada orang-orang yang memburu warisan itu. Akibatnya, sering terjadi konflik karena persoalan warisan. Orang-orang yang bersaudara pun bisa mengalami konflik, karena warisan itu. Hidup persaudaraan menjadi tidak harmonis. Sesama saudara menjadi saling curiga.

Ikang Fawzi merasa lega, karena satu dari dua anak gadisnya, si bungsu Chikita Fawzi, meneruskan jejaknya sebagai penyanyi rock. Chikita yang kini bekerja di bidang animasi di Malaysia memiliki band beraliran rock. Ia aktif tampil di pentas-pentas musik di Malaysia.

Pria berusia 51 tahun ini berkata, ”Di Malaysia, dia jadi animator. Meski banyak kerja malam, ternyata dia masih punya waktu untuk main band.”

Ikan Fawzi semakin bangga setelah menyaksikan penampilan Chikita di atas panggung. Menurutnya, Chikita pantas diberi acungan jempol. Ia berkata, ”Ternyata dia bisa menyanyi dengan baik. Suaranya punya kekuatan. Dia enggak sekadar menyanyi di atas panggung.”

Ikang tidak menyangka Chikita akan mewarisi bakatnya. Tentang hal ini ia berkata, ”Sejak umur enam tahun memang dia belajar piano, gitar juga. Tapi, selebihnya dia belajar sendiri saja.”

Karena itu, yang ia lakukan adalah mendukung sepak terjang anak gadisnya itu. Apa pun yang dia mau, sebagai orangtua, ia mendukung. Ikang berkata, “Apalagi dulu, saya sempat sedih karena enggak ada yang meneruskan jejak saya. Sekarang saya bangga...”

Sahabat, apa yang Anda wariskan bagi anak-anak Anda? Harta yang berlimpah-limpah? Atau yang Anda wariskan adalah kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri Anda? Tentu saja Anda boleh mewariskan apa saja kepada anak-anak Anda. Namun satu hal yang penting adalah warisan yang Anda berikan itu mesti membantu anak-anak Anda menjadi orang-orang yang baik.

Pepatah mengatakan buah yang jatuh itu tidak jauh dari pohonnya. Bakat-bakat yang ada dalam diri seseorang itu juga diwariskan kepada anak-anaknya. Soalnya adalah apakah warisan berupa bakat-bakat itu dapat diteruskan dengan baik? Atau sebaliknya, bakat-bakat itu dibiarkan terlantar dan tidak dikembangkan dengan baik?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa warisan yang kita tinggalkan bagi penerus kita mesti sesuatu yang baik. Kebaikan yang ada dalam diri kita mesti kita wariskan kepada penerus kita. Semangat hidup kita yang baik menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka yang akan membangun hidup yang lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita wariskan iman yang baik dan benar kepada orang-orang yang kita jumpai. Orang mewariskan iman yang dimiliki itu kepada sesamanya. Dengan demikian, iman itu bertumbuh dan berkembang dalam hidup sehari-hari. Namun yang diwariskan itu bukan hanya iman. Yang diwariskan itu juga perbuatan-perbuatan yang baik. Mengapa? Karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman itu tampak dalam perbuatan yang baik dan benar. Mari kita wariskan perbuatan-perbuatan yang baik kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


751

14 Maret 2011

Memperjuangkan Kebaikan bagi Sesama



Saat terjadi krisis ekonomi global pada Perang Dunia II, Konosuke Matsushita ikut terkena dampaknya. Ia baru saja merampungkan pabrik dan kantor untuk memproduksi peralatan listirk bermerek National dan Panasonic. Modal usaha ia pinjam dari Bank Sumitomo. Belum sempat berproduksi secara maksimal, krisis sudah datang.

Kondisi badan Matshusita adalah sering sakit-sakitan akibat gizi kurang di masa kanak-kanak. Tambahan lagi, ia harus bekerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bisa bernafas.

Dengan punggung bersandr ke tembok rumah, Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk, ketika managemennya datang menjenguk. Bagaimana tanggapan Matsushita terhadap laporan itu? Ia berkata, “Kurang produksi separonya. Tetapi jangan mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja, tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari.”

Pihak managemen agak kaget mengdengar tanggapan Matsushita. Lantas Matsushita melanjutkan kata-katanya, “Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang. Tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua karyawan untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang.”

Kebijakannya itu ia petik enam belas tahun kemudian. Waktu itu, Jepang sudah menyerah kalah. Jendral MacArthur menangkap semua pengusaha Jepang yang membantu pemerintah Jepang memprodukusi senjata dan logistik militer lainnya. Matsushita termasuk salah seorang pengusaha yang ditangkap. Namun berkat petisi sebanyak 15.000 pekerja bersama keluarganya untuk membela Matsushita, ia pun dibebaskan. Ia tidak jadi ditangkap dan diadili.

Sahabat, setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah-buah yang baik pula bagi kehidupan manusia. Orang yang tidak haus akan kekuasaan dan uang akan menuai kebaikan demi kebaikan dalam hidupnya. Apalagi kalau orang itu memperjuangkan kehidupan banyak orang. Ia pun akan diperjuangkan, ketika ia mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Kisah Matsushita tadi memberi inspirasi bagi kita untuk senantisa melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi kehidupan orang lain. Artinya, dengan melakukan hal-hal yang baik dan benar itu, orang akan menemukan hidup ini semakin memiliki makna. Orang tidak perlu mencari-cari makna hidup dalam benda-benda atau uang. Orang cukup melakukan perbuatan baik dengan mengorbankan hidupnya bagi sesama.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk senantiasa menemukan cara-cara untuk berbuat baik bagi sesama. Ada begitu banyak cara yang bisa kita temukan dalam hidup ini. Cara-cara itu akan memberikan peluang bagi kita untuk membahagiakan sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna bagi banyak orang yang kita jumpai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

632

13 Maret 2011

Mewujudkan Iman dengan Berbuat Baik


Lindsay Lohan (23) adalah seorang bintang film yang sedang menanjak di Amerika Serikat. Awal Desember 2009 lalu ia berada di India untuk pengambilan gambar sebuah film dokumenter tentang perdagangan manusia. Ia bekerja bersama BBC. Kesibukannya yang luar biasa itu tidak membuat Lindsay buta matanya terhadap sesamanya. Bintang film Means Girls ini merencanakan perjalanan amal ke Guatemala setelah kembali dari India.

Tentang kunjungannya ke India, ia berkata, ”Sejauh ini sudah 40 anak yang berhasil diselamatkan. Inilah hidup sesungguhnya. Melakukan semua ini membuat hidup lebih berarti.”

Rupanya kerja amal itu tidak hanya membantu orang lain. Menurut Ibunya, Dina Lohan, kerja amal yang dilakukan Lindsay Lohan telah mengubah dirinya yang temperamental menjadi lebih rendah hati dan sensitif. Karena itu, setelah kunjungannya ke India, Lindsay akan berkunjung ke Guatemala untuk kembali melakukan kerja amal bersama stasiun televisi milik Oprah Winfrey.

Ibunya berkata, ”Lindsay akan kembali memberi. Kami sedang merencanakan perjalanan untuk membantu anak-anak di Guatemala yang akan difilmkan oleh jaringan TV milik Oprah.”

Sahabat, hidup itu semakin bermakna ketika orang berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ketika berbuat sesuatu yang baik bagi sesamanya, sebenarnya orang melakukan hal yang indah bagi hidupnya sendiri. Lindsay Lohan telah membuktikannya. Pribadinya berubah menjadi lebih positif, karena kegiatan amal yang dilakukannya untuk sesamanya.

Melakukan sesuatu yang baik bagi sesama kita adalah panggilan kita sebagai orang beriman. Mengapa? Karena pada hakekatnya, orang beriman itu mesti melakukan yang baik bagi sesamanya. Itulah perwujudan iman orang beriman.

Orang beriman yang enggan melakukan perbuatan baik bagi sesamanya kehilangan jati dirinya sebagai orang beriman. Ia menjadi lemah dalam hidupnya, karena tidak mempraktekkan ajaran imannya. Ia menjadi orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi hidup manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Orang beriman mesti berani keluar dari egoismenya untuk melakukan sesuatu yang lebih luas. Dengan demikian, orang tidak terkungkung dalam cinta diri yang berlebihan. Mari kita berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


631

03 Maret 2011

Menebar Kebaikan bagi Sesama

Pada akhir tahun 2009 lalu pasangan Hollywood, Angelina Jolie (34) dan Brad Pitt (46), atau dikenal sebagai Brangelina, terus membuktikan diri untuk bisa memberikan yang terbaik bagi sesama. Untuk merayakan Natal waktu itu, mereka bukan membuat pesta besar-besaran. Tetapi mereka menebar kebaikan dengan memberikan sumbangan untuk anak-anak.

Sumbangan yang mereka berikan itu bukan main-main. Mereka memberi sumbangan sebesar 100.000 dollar AS. Dengan ini, Jolie dan Pitt menutup tahun 2009 sebagai tahun memberi. Mereka secara internasional memang dikenal sebagai pasangan yang rajin menyumbang untuk anak-anak yatim piatu. Kegiatan mereka menjadi inspirasi pasangan lain untuk turut memberikan donasi.

Sumbangan itu diberikan kepada organisasi nonpemerintah internasional bernama SOS Children’s Villages untuk program di dua tempat, yaitu Florida dan Illinois, AS. Dana itu diharapkan mampu membuat anak-anak tidak merasa terabaikan dan tetap menjaga keutuhan keluarga masing-masing.

Angelina Jolie berkata, ”Di liburan panjang ini banyak di antara kita yang sejak dari lahir sudah dipenuhi dengan cinta dari anggota keluarga. Namun, kondisi yang buruk masih menimpa orang-orang tak beruntung, ini memberikan indikasi bahwa kita harus masih berbuat banyak untuk membantu mereka.”

Sahabat, tentu saja apa yang dibuat oleh dua bintang film itu bukan hanya pamer kekayaan. Mereka ingin sungguh-sungguh peduli terhadap sesamanya yang berkekuraangan. Mereka ingin agar anak-anak yang terlantar dapat mengalami sukacita dan damai karena perhatian dari sesamanya.

Tentu saja menebar kebaikan seperti yang dilakukan oleh Angelina dan Bret Pitt ini dapat dilakukan oleh semua orang. Kita tidak butuh banyak uang dulu baru bisa menebar kebaikan kepada sesama kita. Kita bisa mulai dari apa yang ada pada diri kita. Mungkin kita tidak punya kekayaan untuk berbuat baik kepada sesama kita. Kita bisa gunakan keterlibatan kita pada organisasi-organisasi sosial yang memberikan bantuan bagi sesama. Kita bisa bantu tenaga kita untuk memperlancar kegiatan-kegiatan lembaga-lembaga sosial tersebut.

Dengan cara ini, kita pun tetap menebar kebaikan kepada sesama di sekitar kita. Ada begitu banyak orang yang belum beruntung di sekitar kita. Mereka butuh sapaan dari kita. Mereka butuh ketenteraman hati dalam hidup. Ini menjadi tugas kita semua yang mengaku sebagai orang beriman.

Orang beriman itu mau peduli terhadap sesamanya yang malang. Mari kita singsingkan lengan baju kita membantu sesama yang masih berkekurangan. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


624

21 Januari 2011

Bertahan dalam Kebaikan



Sebagai seorang mantan Hakim Agung, Bismar Siregar masih memperhatikan isu-isu hukum terkini. Menurut pria yang baru menginjak usia 81 tahun ini, potret mafia hukum saat ini begitu memprihatinkan. Ia berkata, ”Mafia itu seperti setan dan setan itu harus diganyang.”

Menurut kakek 11 cucu ini, mafia hukum tidak ubahnya musuh manusia yang harus diberantas. Mafia adalah setan yang mewujud pada diri manusia itu sendiri. Ia berkata, ”Karenanya tak ada kompromi dengan mafia.”

Bismar menjelaskan, tak ada upaya yang lebih baik dari setiap orang untuk menghindari praktek mafia hukum selain berpegang pada nurani dan agama. Selama ini, maraknya kasus mafia hukum membuktikan manusia Indonesia masih jauh dari ajaran agama.

Tentang hal ini, ia berkata, ”Agama mengajarkan agar kita selalu menjaga diri dari setan, balas kejahatan dengan kebaikan. Kalau saya mulai dari diri sendiri. Selama kita jauh dari agama dan nurani, maka setan akan tetap menguasai.”

Bismar sendiri mengikuti perkembangan kasus yang menimpa dua pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Bagi Bismar, Bibit-Chandra hanyalah korban dari adanya praktek mafia hukum. Ia berkeyakinan kasus yang menimpa Bibit dan Chandra membuka tabir hukum yang masih bobrok. Namun, Bismar percaya dengan adanya kasus ini, hukum Indonesia akan terus memperbaiki diri. Ia berkata, ”Saya yakin setiap peristiwa mengandung makna. Negara kita akan lebih baik lagi.”

Sahabat, mencermati situasi yang ada di negeri kita, ada banyak hal yang memang menjadi keprihatinan kita. Semua itu mesti menjadi suatu peringatan bagi kita untuk tetap berpegang teguh pada ajaran iman kita. Kesetiaan pada iman akan membawa manusia untuk tetap setia kepada Tuhan. Tuhan telah mengajarkan kebaikan kepada manusia. Tuhan ingin agar kebaikan itu menjadi andalan hidup manusia.

Soalnya adalah manusia sering kurang tahan terhadap gelimang harta kekayaan. Manusia gampangg terbuai oleh kenikmatan-kenikmatan. Akibatnya, begitu ada godaan manusia lupa akan ajaran agama dan imannya. Mata manusia menjadi takabur. Manusia tidak mampu menahan godaan-godaan itu.

Apa yang dikatakan oleh Bismar Siregar patut menjadi perhatian kita. Ketamakan mesti dijauhkan dari hidup manusia, kalau manusia ingin membahagiakan diri sendiri dan sesamanya.

Manusia mesti mulai sadar bahwa kebaikan yang dianugerahkan Tuhan menjadi bekal untuk mengalami kasih Tuhan. Hal ini bisa terjadi kalau manusia tetap setia pada Tuhan. Kalau manusia ingin tetap bertahan pada komitmennya pada kebaikan, manusia akan menemukan bahagia dan damai dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tetap setia kepada Tuhan. Artinya, kita berusaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan demikian, kita menjadi orang yang selalu peduli terhadap sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


596

21 Agustus 2010

Menanamkan Kebaikan dalam Hidup




Suatu hari seorang majikan mengeluh, mengapa salah seorang pembantunya suka memboroskan gajinya. Ketika baru beberapa bulan bekerja, pembantunya ini sudah minta dibelikan sebuah HP. Majikan itu tidak bisa menolak, karena uang yang digunakan adalah milik pembantu itu. Namun yang mengherankan adalah setiap bulan pembantu itu mesti mengeluarkan seratus lima puluh ribu rupiah untuk beli pulsa. Tambahan lagi, ia juga sering membelikan makanan dan pakaian untuk sanak keluarganya.

Melihat kebiasaan yang boros itu, majikan itu berkata kepadanya, “Yang kamu lakukan itu tidak bijaksana. Kamu bekerja keras, tetapi kamu habiskan hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Kamu tidak bisa menikmati hasil jerih payahmu. Orang lain yang menikmati kerja kerasmu itu.”

Namun pembantu itu tidak mau mendengarkan nasihat majikannya. Ia tetap saja melakukan apa yang menjadi keinginannya. Ia merasa senang, ketika orang lain memuji dirinya yang mudah memberikan apa yang dimilikinya. Apa yang terjadi kemudian? Pembantu itu kemudian stress. Ia tidak punya apa-apa yang bisa ia banggakan. Gajinya habis hanya untuk hal-hal yang tidak berguna.

Banyak orang menghabiskan harta miliknya untuk hal-hal yang tidak perlu. Mereka melakukan itu demi gengsi, agar orang lain mengagumi diri mereka. Ternyata gengsi itu mahal harganya. Orang berani melepaskan milik kepunyaannya hanya demi gengsi.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa hidup apa adanya itu jauh lebih penting daripada mesti menonjolkan diri. Orang tidak perlu menunjukkan kebaikan dirinya secara berlebihan. Orang yang baik itu biasanya tidak menampakkan. Orang yang baik itu biasanya tidak menggembar-gemborkan diri.

Orang yang menampilkan kebaikan semu biasanya juga orang yang egois dalam hidupnya. Orang yang suka disanjung-sanjung. Kalau sanjungan itu sudah habis, orang seperti ini akan mengalami stress. Atau orang seperti ini akan mencari cara-cara baru untuk mempertahankan kebaikan semunya itu. Orang seperti ini akan selalu bersandiwara dalam hidupnya. Ketika sandiwara itu berakhir, orang seperti ini akan mengalami kekosongan dalam dirinya. Ia tidak punya jiwa yang kokoh lagi. Semangatnya menurun drastis. Habislah ia dalam perjalanan hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita diharapkan untuk meningkatkan kebaikan kita. Namun bukan kebaikan yang semu, melainkan kebaikan yang sejati. Artinya, orang beriman itu tidak bermain sandiwara dalam hidupnya. Orang beriman mesti menampilkan diri apa adanya. Dengan demikian, ia menemukan damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

477

10 Januari 2010

Menabur Kasih, Menuai Kebaikan

Suatu hari seorang anak bertengkar dengan ayahnya. Soalnya sebenarnya sepele saja, yaitu ayahnya tidak mau membelikan permen kesukaannya. Anak itu memberontak. Anak itu bahkan mengancam ayahnya. Sang ayah pun tidak mau mengalah. Ia mengancam balik kepada anaknya itu.

Melihat anaknya tidak mau mengalah, sang ayah menampar pipinya kuat-kuat. Pipi anak itu merah. Ia langsung menangis. Segera ia berlari keluar rumah dan naik ke tebing karang yang terjal di tepi laut.

Dari atas tebing itu ia berteriak bahwa ia akan terjun dari atas tebing yang tinggi itu. Ia ingin mati tenggelam dalam laut itu. Orang-orang tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

Ayahnya berlari menyusul. Seluruh keluarga dan separuh desa ikut terlibat menyelamatkan anak yang nekat itu. Dengan berbagai upaya, akhirnya mereka berhasil menghentikan anak itu dan membawanya pulang ke rumah. Namun hubungan antara anak dan ayah itu tidak pernah pulih kembali. Meski ayahnya sudah meminta maaf atas tindakannya yang keras, anak itu tetap tidak mau memaafkan ayahnya. Anak itu tumbuh menjadi pria yang bermuka masam. Tampak ia tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya.

Pendidikan yang salah pada awal pertumbuhan seorang manusia sering membawa orang tumbuh menjadi pribadi yang mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Apalagi ada luka batin yang begitu dalam dan lama bertahan dalam diri seseorang. Orang hidup, namun ada hal-hal yang terpaksa yang dijalaninya. Kondisi seperti ini seringkali menghancurkan kehidupan manusia.

Karena itu, suatu pendidikan yang mendahulukan kasih dan persaudaraan mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia. Ada pepatah yang mengatakan siapa yang menabur angin akan menuai badai. Tetapi yang menabur kasih akan menuai kebaikan demi kebaikan.

Kiranya pepatah ini sangat tepat diterapkan dalam hidup manusia di jaman sekarang ini. Kini kita mengalami banyak kesulitan hidup karena berbagai kebobrokan yang terjadi. Ada KKN yang begitu menguasai hidup manusia menjadi penghalang bagi kehidupan bersama yang harmonis. Ada kecemburuan sosial yang begitu tinggi dalam kehidupan bersama. Ada juga kecurigaan di antara warga bangsa ini. Terjadi kesenjangan yang begitu dalam antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Untuk itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani mengubah cara pendidikan yang salah yang dilakukan oleh keluarga-keluarga. Cara-cara keras bukan lagi menjadi andalan dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Pendidikan mesti diarahkan pada pembatinan nilai-nilai cinta kasih dan persaudaraan. Mari kita coba mendidik generasi penerus bangsa ini dengan kasih yang mendalam. Kasih yang kita taburkan dalam diri mereka akan menghasilkan banyak kebaikan dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

288


Bagikan

05 Desember 2009

Menghidupi Kebaikan

Suatu hari seorang anak muda berdoa kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaan daripadanya. Menurutnya, kalau Tuhan menyingkirkan penderitaan itu, ia dapat menjalani hidup ini dengan baik. Ia tidak perlu takut mengkonsumsi makanan dengan lemak tinggi. Ia tidak usah kuatir kalau nanti mengkonsumi narkoba bahkan dengan dosis tinggi.

Keinginan jahat seperti ini diketahui oleh Tuhan. Maka Tuhan menjawab, “Penderitaan itu bukan untuk Kusingkirkan. Tetapi penderitaan itu ada untuk kau kalahkan.”

Anak muda itu terkejut mendengar jawaban Tuhan. Ia menjadi bingung. Padahal baginya, Tuhan akan mengabulkan setiap permohonan yang diajukan kepadaNya. Ia tidak habis pikir, mengapa Tuhan tega memberi tantangan yang begitu besar kepadanya? Padahal ia ingin hidup bahagia. Ia ingin menikmati masa mudanya. Ia tidak mau penderitaan menimpanya di usia yang begitu muda.

Karena itu, ia agak kecewa terhadap Tuhan. Dalam hatinya, ia merasa enggan untuk berdoa memohon pertolongan dari Tuhan lagi. Setelah beberapa waktu lamanya baru anak muda itu sadar bahwa sebenarnya ia terlalu mengada-ada dengan permohonan itu. Tuhan tahu maksud jahatnya terhadap dirinya sendiri. Tuhan tidak ingin membinasakan hidupnya.

Banyak orang salah mengerti tentang kebaikan Tuhan. Mereka menyangka bahwa apa yang mereka minta mesti dikabulkan oleh Tuhan. Bahkan meminta sesuatu yang jahat untuk dirinya sendiri.

Tuhan tidak menghendaki penderitaan dan kematian bagi ciptaanNya. Yang dikehendaki Tuhan adalah kehidupan yang bahagia. Bahkan Tuhan tidak pernah menghendaki satu pun ciptaanNya hilang musnah. Yang Dia kehendaki adalah seluruh ciptaanNya kembali kepadaNya.

Karena itu, Tuhan menyediakan surga bagi setiap orang yang menjadi ciptaanNya. Menurut ajaran agama kita masing-masing, orang yang boleh masuk surga itu orang yang suci hatinya. Orang yang tidak melakukan kejahatan atas dirinya sendiri maupun diri orang lain.

Untuk itu, perlu ada pertobatan selama masih hidup di dunia ini. Orang mesti mengarahkan hidupnya kepada kebaikan. Orang mesti melaksanakan kebaikan dalam hidupnya. Orang tidak hanya berkata-kata tentang kebaikan, tetapi mesti juga menghidupi kebaikan itu.

Mari kita berusaha untuk hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian kebahagiaan menjadi bagian dari hidup kita juga. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

251


Bagikan

08 Agustus 2009

Menabur Kebaikan dalam Hidup


Di suatu perkampungan puncak gunung Pegunungan Bintang, hiduplah sekelompok orang yang masih murni. Mereka belum mengenal kemajuan modern. Mereka masih mengandalkan hasil alam. Mereka percaya bahwa alam dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Suatu hari datanglah seorang dari negeri maju. Melihat kondisi masyarakat di perkampungan itu, ia merasa prihatin. Lantas timbul keinginannya untuk memajukan masyarakat di perkampungan itu. Ia mulai memperkenalkan bibit-bibit pertanian. Yang paling menarik adalah bibit yang terbungkus dalam plastik putih, yaitu ‘bibit angin’.

Menurut orang itu, kalau bibit angin itu ditabur, akan tumbuh mata angin yang menyemburkan angin segar. Hasilnya, udara akan makin segar dan menyehatkan. Puluhan bahkan ratusan bungkus bibit angin ludes. Bahkan masyarakat di kampung itu rela mengeluarkan kekayaan mereka untuk membeli bibit angin.

Selang beberapa hari, udara pegunungan mulai terasa sejuk, karena bibit angin mulai tumbuh. Angin mulai bertiup dari bibit kecil itu kian ke mari sampai pegunungan lain. Bulan berganti bulan. Tumbuhan itu semakin besar. Lobang untuk keluar angin pun semakin besar. Akibatnya, bukan lagi angin yang keluar. Yang keluar adalah badai angin yang tak terkendali. Masyarakat pun mulai ketakutan. Angin yang ditabur, ternyata badai yang dituai.

Seringkali manusia tidak bisa mengendalikan diri. Sudah memiliki barang-barang kebutuhan hidup yang sudah melimpah, tetapi masih juga ingin memiliki barang-barang itu. Mengapa Komisi Pemberantasan Korupsi mesti dibentuk oleh DPR? Jawabannya, karena manusia tidak bisa mengendalikan diri. Korupsi yang terjadi itu merupakan akibat dari kurangnya manusia mengendalikan dirinya. Manusia tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Yang diinginkan itu belum tentu sudah menjadi kebutuhan hidup.

Karena itu, dalam hal ini orang mesti sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan hidupnya. Keinginan manusia itu mesti diatur dan dikendalikan. Tujuannya agar manusia tidak dikuasai oleh keinginan itu. Orang yang berhasil menguasai keinginannya akan menikmati hidup ini dengan damai dan tenteram. Orang tidak dikejar-kejar oleh keinginan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita senantiasa berada di bawah kontrol diri kita. Untuk itu, kita perlu bertanya diri, apa yang sesungguhnya kita butuhkan dalam hidup ini? Mengapa sesuatu itu ingin kita miliki?

Kalau kita berani bertanya diri tentang kebutuhan hidup kita, saya yakin kita akan lebih kritis dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Kita akan menjadi orang-orang yang mampu mengendalikan diri kita terhadap setiap bentuk godaan. Mari kita berusaha terus-menerus menaburkan benih kebaikan dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak menuai badai yang menghancurkan diri kita sendiri. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
123

15 Juli 2009

Iman yang Berbuahkan Kebaikan

Suatu hari, Tamabana, seorang kepala suku Maori dari Selandia Baru, mendapat suatu kesempatan luar biasa, yaitu berdarmawisata ke Inggris. Sesampai di kota London, ia ditemani seorang pegawai kotapraja melihat-lihat keindahan kota London. Kepada Tamabana diperlihatkan istana-istana para bangsawan dan raja-raja Inggris. Bahkan istana Buckingham yang terkenal itu pun tidak dilewatinya.

Dengan penuh kebanggaan pegawai kotapraja itu berkata, "Hai Tamabana, bukankah istana-istana di Inggris ini sangat indah?"

Tamabana menjawab, "Ah... rumah Bapaku masih jauh lebih indah daripada istana ini."

Mendengar jawaban seperti ini, pegawai kotapraja itu menjadi heran sekali, ia berkata: "Masak rumah bapamu lebih bagus dari istana Buckingham ini?"

Dengan tenang Tamabana, seorang beriman yang saleh menjawab, "Ya, tentu saja rumah Bapaku di sorga lebih bagus daripada istana ini, sebab pondasinya saja dibuat dari 12 macam batu permata yang amat mahal harganya. Belum lagi pintu gerbangnya yang dibuat dari mutiara dan jalan-jalannya dibuat dari emas."

Mendengar jawaban semacam ini si pegawai kotapraja ini terdiam seribu bahasa, sebab ia mau tidak mau harus mengakui kebenaran kata-kata Tamabana ini.

Kesadaran akan hidup abadi sering kurang dirasakan selama orang masih hidup di dunia ini. Apalagi orang itu masih muda dan sedang aktif dalam berbagai kegiatan. Padahal hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Hidup ini seperti orang yang berkemah. Tidak lama. Orang akan beralih ke kehidupan yang lain.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan sudah menyediakan bagi kita kediaman yang abadi. Suatu kediaman yang tidak akan binasa oleh serangan rayap. Kalau manusia berani memperjuangkan kehidupan abadi, ia akan meraihnya kelak. Namun sebenarnya hidup abadi itu sudah dimulai sejak orang masih hidup di dunia ini.

Dalam salah satu pengajaran-Nya, Yesus mengatakan bahwa kehidupan abadi itu diperoleh dengan berbuat baik kepada semakin banyak orang. Caranya adalah dengan memberi makan mereka yang lapar. Memberi minum kepada yang haus. Orang mesti peduli terhadap sesamanya yang sakit dengan mengunjunginya. Orang beriman mesti memberi perhatian kepada sesamanya yang sedang berada dalam kesusahan dan kesulitan hidup.

Karena itu, orang beriman yang benar adalah orang yang mau melaksanakan imannya dalam hidupnya sehari-hari. Iman tanpa perbuatan yang nyata itu pada hakekatnya adalah mati. Iman itu mesti diwujudnyatakan dengan perhatian kepada sesama yang membutuhkan pertolongan.

Mari kita berusaha mewujudkan iman kita dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian iman kita berbuahkan kebaikan, cinta kasih dan pengharapan bagi kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB


(89)