Pages

Tampilkan postingan dengan label usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label usaha. Tampilkan semua postingan

16 November 2011

Meraih Sukses melalui Usaha Keras



Seorang senator Amerika Serikat, yang dihormati dan dikagumi karena pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengertian yang dimilikinya ditanya, “Senator, Anda tidak pernah kuliah. Bagaimana Anda bisa menjadi pakar di bidang masalah nasional dan internasional? Di mana Anda belajar begitu banyak hal?”

Jawabannya sangat sederhana dan langsung pada sasaran. “Saya membuat peraturan ketika masih berusia delapan belas tahun bahwa dalam satu hari saya harus membaca paling sedikit dua jam. Di atas kereta api, di hotel, di ruang tunggu, saya harus membaca majalah, ringkasan berita, laporan politik, buku-buku yang baik, puisi, dan Kitab Suci,” katanya.

Orang yang bertanya itu terkagum-kagum mendengar jawaban sang senator. “Cobalah anak muda. Dengan cara itu, engkau akan menjadi orang yang berpendidikan,” kata Senator itu lagi.

Sahabat, banyak orang bermimpi menjadi orang hebat dan pintar. Banyak orang bercita-cita setinggi langit dan menguasai dunia. Namun cita-cita itu sering hanya tinggal cita-cita. Mengapa? Karena orang tidak membekali diri dengan kerja keras. Cita-cita yang tidak dibarengi dengan usaha yang nyata hanyalah mimpi di siang bolong.

Kisah senator tadi memberi inspirasi bagi kita, agar kita berani membuat target dalam hidup kita. Kalau kita ingin maju dan meraih cita-cita yang kita canangkan, kita mesti berani berkorban. Kita mesti menyadari bahwa tidak ada keberhasilan yang diraih tanpa korban.

Untuk itu, orang mesti mulai merancang hidupnya. Orang mesti merancang strategi-strategi yang jitu untuk meraih sukses dalam hidup. Sukses itu diraih melalui butiran-butiran keringat yang mengucur untuk kebahagiaan diri dan sesama. Adakalanya ada butiran-butiran air mata yang meleleh.

Orang yang mau sukses itu juga berani menahan rasa sakit. Setelah semua derita dan kerja keras itu berlalu, orang mengalami sukacita. Orang mengalami hidup ini begitu bermakna. Hidup ini menjadi suatu kenangan yang tak akan pernah dilupakan. Hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Inilah panggilan setiap orang beriman, yaitu membawa sukacita bagi sesamanya melalui usaha-usaha kerasnya.

Mari kita berusaha untuk terus-menerus meraih sukses dengan berani mengorbankan hidup kita. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

823

04 September 2011

Menghargai Usaha Sesama




Piala Dunia 2010 sudah digelar di Afrika Selatan. Ratusan pemain dari 32 negara membuktikan aksi mereka dalam mengolah bola. Spanyol muncul sebagai kampiun. Sementara itu, banyak pula dari pemain-pemain berbakat ingin memperkuat negaranya. Mereka berkompetisi. Mereka berusaha untuk menjadi salah satu anggota dari tim mereka.

Tidak demikian dengan gelandang Inggris, Paul Scholes. Padahal ia sempat ditawari oleh pelatih Fabio Capello untuk masuk ke skuad untuk Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Ia menolak karena menghormati jasa rekan-rekannya yang telah berhasil membawa Inggris ke putaran final Piala Dunia.

Sejak Euro 2004, Scholes memutuskan mundur dari skuad tim Inggris yang berjuluk The Three Lions ini. Alasannya, ia lebih memilih berkonsenterasi bersama klubnya Manchester United. Komitmen Scholes itu pun tak sia-sia. Ia berhasil membawa "Setan Merah" meraih tiga gelar Premier League, juara Liga Champions dan juara Piala Dunia Antarklub.

Melihat performa yang cukup konsisten dan pengalaman yang dimilikinya, Capello berniat membawa Scholes ke Afrika Selatan. Selain Scholes, Capello juga memanggil bek tengah Liverpool, Jamie Carragher. Sementara Caragher mengaminkan keinganan Capello, Scholes malah menolak.

Scholes menolak karena tak ingin "mencuri" posisi rekannya yang telah berhasil membawa Inggris ke putaran final. Tentang penolakannya, Paul Scholes berkata, “Pemain dalam skuad telah menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk membawa Inggris lolos. Sedangkan aku sudah lama tak membela Inggris. Aku tidak ingin mencuri posisi seseorang yang telah berjasa mengantarkan Inggris ke Afrika Selatan.”

Sahabat, inilah sikap kesatria dari seorang kompetitor. Ia menyadari diri bahwa ia mesti memberikan tempatnya kepada mereka yang telah berjuang. Ia tidak ingin merebut tempat mereka hanya untuk popularitas dirinya sendiri.

Dalam hidup ini banyak orang haus akan popularitas. Mereka berjuang habis-habisan demi merebut popularitas itu. Mereka tidak peduli bahwa akibat ambisi mereka orang lain akan mengalami penderitaan. Mereka punya prinsip, yang penting saya senang dan meraih keinginan diri saya. Yang penting popularitas diri saya terus-menerus memuncak.

Benarkah sikap seperti ini? Tentu saja orang boleh punya ambisi dalam hidup ini. Namun orang mesti sadar bahwa ambisi mesti diikuti oleh suatu kerja keras. Kalau orang tidak mau bekerja keras untuk meraih keinginannya, orang akan mengambil jalan pintas. Kalau orang punya harta yang banyak, orang akan menggunakannya untuk menghancurkan diri orang lain. Yang penting dirinya sendiri mengalami sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengajak kita untuk memiliki penghargaan terhadap orang lain. Kalau kita tidak mampu melaksanakan suatu pekerjaan, kita mesti ikhlas untuk menyerahkan kepada mereka yang mampu. Kalau kita tidak berjerih payah untuk suatu usaha, kita juga mesti fair untuk tidak memetik hasilnya. Janganlah kita menuai di tempat di mana kita tidak menanam dan merawatnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

773

14 Maret 2011

Memperjuangkan Kebaikan bagi Sesama



Saat terjadi krisis ekonomi global pada Perang Dunia II, Konosuke Matsushita ikut terkena dampaknya. Ia baru saja merampungkan pabrik dan kantor untuk memproduksi peralatan listirk bermerek National dan Panasonic. Modal usaha ia pinjam dari Bank Sumitomo. Belum sempat berproduksi secara maksimal, krisis sudah datang.

Kondisi badan Matshusita adalah sering sakit-sakitan akibat gizi kurang di masa kanak-kanak. Tambahan lagi, ia harus bekerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bisa bernafas.

Dengan punggung bersandr ke tembok rumah, Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk, ketika managemennya datang menjenguk. Bagaimana tanggapan Matsushita terhadap laporan itu? Ia berkata, “Kurang produksi separonya. Tetapi jangan mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja, tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari.”

Pihak managemen agak kaget mengdengar tanggapan Matsushita. Lantas Matsushita melanjutkan kata-katanya, “Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang. Tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua karyawan untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang.”

Kebijakannya itu ia petik enam belas tahun kemudian. Waktu itu, Jepang sudah menyerah kalah. Jendral MacArthur menangkap semua pengusaha Jepang yang membantu pemerintah Jepang memprodukusi senjata dan logistik militer lainnya. Matsushita termasuk salah seorang pengusaha yang ditangkap. Namun berkat petisi sebanyak 15.000 pekerja bersama keluarganya untuk membela Matsushita, ia pun dibebaskan. Ia tidak jadi ditangkap dan diadili.

Sahabat, setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah-buah yang baik pula bagi kehidupan manusia. Orang yang tidak haus akan kekuasaan dan uang akan menuai kebaikan demi kebaikan dalam hidupnya. Apalagi kalau orang itu memperjuangkan kehidupan banyak orang. Ia pun akan diperjuangkan, ketika ia mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Kisah Matsushita tadi memberi inspirasi bagi kita untuk senantisa melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi kehidupan orang lain. Artinya, dengan melakukan hal-hal yang baik dan benar itu, orang akan menemukan hidup ini semakin memiliki makna. Orang tidak perlu mencari-cari makna hidup dalam benda-benda atau uang. Orang cukup melakukan perbuatan baik dengan mengorbankan hidupnya bagi sesama.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk senantiasa menemukan cara-cara untuk berbuat baik bagi sesama. Ada begitu banyak cara yang bisa kita temukan dalam hidup ini. Cara-cara itu akan memberikan peluang bagi kita untuk membahagiakan sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna bagi banyak orang yang kita jumpai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

632

13 Maret 2011

Mewujudkan Iman dengan Berbuat Baik


Lindsay Lohan (23) adalah seorang bintang film yang sedang menanjak di Amerika Serikat. Awal Desember 2009 lalu ia berada di India untuk pengambilan gambar sebuah film dokumenter tentang perdagangan manusia. Ia bekerja bersama BBC. Kesibukannya yang luar biasa itu tidak membuat Lindsay buta matanya terhadap sesamanya. Bintang film Means Girls ini merencanakan perjalanan amal ke Guatemala setelah kembali dari India.

Tentang kunjungannya ke India, ia berkata, ”Sejauh ini sudah 40 anak yang berhasil diselamatkan. Inilah hidup sesungguhnya. Melakukan semua ini membuat hidup lebih berarti.”

Rupanya kerja amal itu tidak hanya membantu orang lain. Menurut Ibunya, Dina Lohan, kerja amal yang dilakukan Lindsay Lohan telah mengubah dirinya yang temperamental menjadi lebih rendah hati dan sensitif. Karena itu, setelah kunjungannya ke India, Lindsay akan berkunjung ke Guatemala untuk kembali melakukan kerja amal bersama stasiun televisi milik Oprah Winfrey.

Ibunya berkata, ”Lindsay akan kembali memberi. Kami sedang merencanakan perjalanan untuk membantu anak-anak di Guatemala yang akan difilmkan oleh jaringan TV milik Oprah.”

Sahabat, hidup itu semakin bermakna ketika orang berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ketika berbuat sesuatu yang baik bagi sesamanya, sebenarnya orang melakukan hal yang indah bagi hidupnya sendiri. Lindsay Lohan telah membuktikannya. Pribadinya berubah menjadi lebih positif, karena kegiatan amal yang dilakukannya untuk sesamanya.

Melakukan sesuatu yang baik bagi sesama kita adalah panggilan kita sebagai orang beriman. Mengapa? Karena pada hakekatnya, orang beriman itu mesti melakukan yang baik bagi sesamanya. Itulah perwujudan iman orang beriman.

Orang beriman yang enggan melakukan perbuatan baik bagi sesamanya kehilangan jati dirinya sebagai orang beriman. Ia menjadi lemah dalam hidupnya, karena tidak mempraktekkan ajaran imannya. Ia menjadi orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi hidup manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Orang beriman mesti berani keluar dari egoismenya untuk melakukan sesuatu yang lebih luas. Dengan demikian, orang tidak terkungkung dalam cinta diri yang berlebihan. Mari kita berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


631