Pages

Tampilkan postingan dengan label menabur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menabur. Tampilkan semua postingan

10 Januari 2010

Menabur Kasih, Menuai Kebaikan

Suatu hari seorang anak bertengkar dengan ayahnya. Soalnya sebenarnya sepele saja, yaitu ayahnya tidak mau membelikan permen kesukaannya. Anak itu memberontak. Anak itu bahkan mengancam ayahnya. Sang ayah pun tidak mau mengalah. Ia mengancam balik kepada anaknya itu.

Melihat anaknya tidak mau mengalah, sang ayah menampar pipinya kuat-kuat. Pipi anak itu merah. Ia langsung menangis. Segera ia berlari keluar rumah dan naik ke tebing karang yang terjal di tepi laut.

Dari atas tebing itu ia berteriak bahwa ia akan terjun dari atas tebing yang tinggi itu. Ia ingin mati tenggelam dalam laut itu. Orang-orang tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

Ayahnya berlari menyusul. Seluruh keluarga dan separuh desa ikut terlibat menyelamatkan anak yang nekat itu. Dengan berbagai upaya, akhirnya mereka berhasil menghentikan anak itu dan membawanya pulang ke rumah. Namun hubungan antara anak dan ayah itu tidak pernah pulih kembali. Meski ayahnya sudah meminta maaf atas tindakannya yang keras, anak itu tetap tidak mau memaafkan ayahnya. Anak itu tumbuh menjadi pria yang bermuka masam. Tampak ia tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya.

Pendidikan yang salah pada awal pertumbuhan seorang manusia sering membawa orang tumbuh menjadi pribadi yang mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Apalagi ada luka batin yang begitu dalam dan lama bertahan dalam diri seseorang. Orang hidup, namun ada hal-hal yang terpaksa yang dijalaninya. Kondisi seperti ini seringkali menghancurkan kehidupan manusia.

Karena itu, suatu pendidikan yang mendahulukan kasih dan persaudaraan mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia. Ada pepatah yang mengatakan siapa yang menabur angin akan menuai badai. Tetapi yang menabur kasih akan menuai kebaikan demi kebaikan.

Kiranya pepatah ini sangat tepat diterapkan dalam hidup manusia di jaman sekarang ini. Kini kita mengalami banyak kesulitan hidup karena berbagai kebobrokan yang terjadi. Ada KKN yang begitu menguasai hidup manusia menjadi penghalang bagi kehidupan bersama yang harmonis. Ada kecemburuan sosial yang begitu tinggi dalam kehidupan bersama. Ada juga kecurigaan di antara warga bangsa ini. Terjadi kesenjangan yang begitu dalam antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Untuk itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani mengubah cara pendidikan yang salah yang dilakukan oleh keluarga-keluarga. Cara-cara keras bukan lagi menjadi andalan dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Pendidikan mesti diarahkan pada pembatinan nilai-nilai cinta kasih dan persaudaraan. Mari kita coba mendidik generasi penerus bangsa ini dengan kasih yang mendalam. Kasih yang kita taburkan dalam diri mereka akan menghasilkan banyak kebaikan dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

288


Bagikan

08 Agustus 2009

Menabur Kebaikan dalam Hidup


Di suatu perkampungan puncak gunung Pegunungan Bintang, hiduplah sekelompok orang yang masih murni. Mereka belum mengenal kemajuan modern. Mereka masih mengandalkan hasil alam. Mereka percaya bahwa alam dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Suatu hari datanglah seorang dari negeri maju. Melihat kondisi masyarakat di perkampungan itu, ia merasa prihatin. Lantas timbul keinginannya untuk memajukan masyarakat di perkampungan itu. Ia mulai memperkenalkan bibit-bibit pertanian. Yang paling menarik adalah bibit yang terbungkus dalam plastik putih, yaitu ‘bibit angin’.

Menurut orang itu, kalau bibit angin itu ditabur, akan tumbuh mata angin yang menyemburkan angin segar. Hasilnya, udara akan makin segar dan menyehatkan. Puluhan bahkan ratusan bungkus bibit angin ludes. Bahkan masyarakat di kampung itu rela mengeluarkan kekayaan mereka untuk membeli bibit angin.

Selang beberapa hari, udara pegunungan mulai terasa sejuk, karena bibit angin mulai tumbuh. Angin mulai bertiup dari bibit kecil itu kian ke mari sampai pegunungan lain. Bulan berganti bulan. Tumbuhan itu semakin besar. Lobang untuk keluar angin pun semakin besar. Akibatnya, bukan lagi angin yang keluar. Yang keluar adalah badai angin yang tak terkendali. Masyarakat pun mulai ketakutan. Angin yang ditabur, ternyata badai yang dituai.

Seringkali manusia tidak bisa mengendalikan diri. Sudah memiliki barang-barang kebutuhan hidup yang sudah melimpah, tetapi masih juga ingin memiliki barang-barang itu. Mengapa Komisi Pemberantasan Korupsi mesti dibentuk oleh DPR? Jawabannya, karena manusia tidak bisa mengendalikan diri. Korupsi yang terjadi itu merupakan akibat dari kurangnya manusia mengendalikan dirinya. Manusia tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Yang diinginkan itu belum tentu sudah menjadi kebutuhan hidup.

Karena itu, dalam hal ini orang mesti sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan hidupnya. Keinginan manusia itu mesti diatur dan dikendalikan. Tujuannya agar manusia tidak dikuasai oleh keinginan itu. Orang yang berhasil menguasai keinginannya akan menikmati hidup ini dengan damai dan tenteram. Orang tidak dikejar-kejar oleh keinginan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita senantiasa berada di bawah kontrol diri kita. Untuk itu, kita perlu bertanya diri, apa yang sesungguhnya kita butuhkan dalam hidup ini? Mengapa sesuatu itu ingin kita miliki?

Kalau kita berani bertanya diri tentang kebutuhan hidup kita, saya yakin kita akan lebih kritis dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Kita akan menjadi orang-orang yang mampu mengendalikan diri kita terhadap setiap bentuk godaan. Mari kita berusaha terus-menerus menaburkan benih kebaikan dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak menuai badai yang menghancurkan diri kita sendiri. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
123