Pages

Tampilkan postingan dengan label godaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label godaan. Tampilkan semua postingan

11 Juni 2014

Tetap Menaruh Pengharapan pada Tuhan


Apa yang Anda lakukan, kalau doa dan permohonan Anda belum dikabulkan? Apakah Anda masih menaruh pengharapan pada Tuhan?

Suatu ketika Tuhan berjanji kepada Abraham, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu’” (Kej 15:5).

Sayang, bertahun-tahun janji itu belum ditepati. Istri Abraham, Sara, tetap tidak memiliki anak selama bertahun-tahun. Bahkan saat usia kedua orang kudus itu sudah sangat tua, belum juga ada tanda-tanda bahwa Sara akan melahirkan seorang anak pun.

Namun Abraham tidak kecewa. Abraham tetap percaya bahwa suatu ketika Tuhan menepati janjiNya. Tuhan tidak pernah berbohong. Tuhan senantiasa setia pada janjiNya. Karena itu, dalam situasi seperti itu Abraham tetap setia kepada Tuhan. Ia memberikan hidupnya kepada Tuhan. Ia tidak menggerutu kepada Tuhan. Keyakinannya tetap, yaitu Tuhan akan tetap menepati janjiNya.

Penantian selama 39 tahun itu tidak sia-sia. Tuhan menepati janjiNya. Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankanNya. Sara pun mengandung. Lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan. Abraham berumur 100 tahun saat Ishak lahir, sedangkan Sara 90 tahun. Tidak ada kata terlambat bagi Tuhan! Dia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya.

Sahabat, secara manusiawi kita pasti akan kecewa saat janji yang telah diberikan kepada kita ternyata belum terpenuhi. Orang yang memberi pengharapan kepada kita sebut sebagai Pemberi Harapan Palsu alias PHP. Mungkin kita akan sakit hati. Ada yang mungkin menyerah pada keadaan. Ada yang berhenti berharap kepada Tuhan dan mulai memakai logika. Ada yang kemudian mencari pertolongan pada hal-hal di luar Tuhan. Misalnya, orang bepergian kepada dukun untuk memberi ketenangan batin, meski hanya semu.

Padahal nabi Yeremia berkata, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!” (Yer 17:5). Kisah Abraham menjadi contoh bagi kita untuk tetap berharap pada Tuhan, meski apa yang kita harapkan belum terpenuhi.

Dalam situasi sulit, kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon pertolonganNya. Kita menaruh harapan pada Tuhan. Namun kita sering tergoda untuk meninggalkan Tuhan, karena doa permohonan kita belum dikabulkan. Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah tetap bertahan pada iman kita akan Tuhan. Tuhan mengabulkan doa dan permohonan kita pada waktunya. Tuhan akan membahagiakan kita pada saat yang tepat.

Mari kita tetap menggantungkan harapan kita pada Tuhan semata. Mengapa? Hanya Tuhan yang menjadi pemenuhan pengharapan kita. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada kita. Berharap berarti kita juga belajar untuk tetap setia kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT



1103

04 Mei 2014

Kebenaran Masih Dibutuhkan dalam Hidup



Kebenaran sering menjadi taruhan dalam hidup ini. Banyak orang menyelewengkan kebenaran, karena ingin hidup aman dan tenteram. Mereka mengabaikannya, karena ingin menikmati hidup yang penuh dengan ketidakjujuran.

Suatu hari seorang anak menceritakan sesuatu yang salah yang dilakukan oleh teman kelasnya. Menurutnya, temannya itu telah nyontek selama ulangan. Ia menceritakan hal itu kepada teman-temannya yang lain. Akibatnya, teman-temannya marah terhadap teman yang disangka nyontek itu.

Mereka mendatanginya. Mereka meminta, agar dia mengakui bahwa dia nyontek. Tidak mengerjakan ulangan dengan jujur. Anak itu membela diri. Soalnya adalah ia tidak melakukan hal itu. Ia sudah belajar dengan baik. Ia mengerjakan soal-soal ulangan dengan baik pula. Ia yakin, ia akan memperoleh hasil yang baik.

Mereka tidak bisa membuktikan bahwa teman mereka telah nyontek selama ulangan. Mereka tidak apa-apakan dia. Biasanya mereka akan memarahi teman mereka yang kedapatan nyontek waktu ulangan. Kali ini mereka tidak bisa buat apa-apa, karena mereka mendengar cerita dari teman yang lain.

Selidik punya selidik, ternyata teman mereka itu mengatakan suatu kebohongan. Ia ingin merusak nama baik temannya itu. Ia benci terhadap sesamanya itu. Karena itu, ia mengatakan yang tidak benar tentang dirinya. Akibatnya, anak yang berbohong itu kehilangan banyak teman. Ia tidak disukai karena telah menyebarkan berita bohong tentang teman kelasnya. Kebohongan itu ternyata tidak bertahan lama. Ia akan menguap seperti air di samudera yang luas. Hilang tanpa bekas.

Sahabat, mengapa kebohongan mudah digerus oleh zaman? Karena kebohongan tidak punya kekuatan. Kebohongan tidak punya bukti-bukti yang kuat untuk mempertahankan diri. Karena itu, kebohongan sering bertahan untuk waktu yang tidak lama. Cepat lenyap dari hadapan manusia. Nilai kebenarannya tidak ada, sehingga tidak punya kekuatan apa-apa.

Sedangkan kebenaran itu penuh kekuatan. Kebenaran itu kuat seperti angin yang memporakporandakan. Kebenaran mampu menghancurkan tipu muslihat, karena kekuatannya yang dahsyat itu. Ketika orang menceritakan kebohongan, orang kehilangan hubungan dengan kekuatan yaitu kebenaran.

Memang, orang yang selalu berpegang teguh pada kebenaran selalu mengalami godaan-godaan. Bahkan orang seperti ini dipandang sebagai ancaman bagi orang yang hidupnya dipenuhi dengan kebohongan. Namun orang yang mengandalkan kebenaran mesti bertahan. Tidak boleh menyerah. Tidak boleh tergoda untuk mengikuti jalan orang yang suka berbohong. Orang seperti ini tidak boleh larut dalam tipu muslihat kebohongan.

Sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa mengandalkan kebenaran dalam hidup ini. Orang yang berpegang pada kebenaran selalu memperjuangkan kebaikan bersama. Sedangkan orang yang mengandalkan kebohongan hanya memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Yang penting dirinya senang dan orang lain mengalami susah dan derita.

Mari kita terus-menerus memperjuangkan kebenaran dalam hidup ini. Dengan demikian, kita berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1092

04 November 2013

Menghadapi Godaan dengan Cerdas


Hidup yang damai sering tidak terjadi, karena manusia terjebak oleh berbagai godaan si jahat. Apa yang Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan godaan-godaan dari si jahat? Anda lari ketakutan? Atau Anda berani menghadapinya dengan cerdas?

Suatu hari ada seekor kucing menjual cacing. Ia isi cacing-cacing itu dalam gerobak dorongnya. Hari mulai siang. Tetapi belum ada seekor burung pun berminat atas cacing-cacing itu. Ia kesal dengan keadaan itu, karena ia sendiri mulai merasa lapar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Namun kucing itu tidak hilang akal. Ia berpikir, kalau jual biasa-biasa saja seperti ini ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tidak ada pembeli yang datang untuk membeli cacing-cacing yang sudah ia dapatkan dengan susah payah itu.

Ia berkata, “Saya harus mengubah taktik penjualan. Saya tidak bisa menjual cacing-cacing ini dengan harga mahal.”

Lantas ia pun mulai menjatuhkan harga jualnya. Ia berteriak, “Dijual cacing murah…. Dijual cacing murah…”

Tiba-tiba dari kejauhan terbanglah seekor burung kutilang yang kelaparan. Kucing berteriak. Rupanya sudah lama ia mengincar cacing-cacing itu. Kini ia punya kesempatan untuk membelinya dengan harga murah. Ia akan menggunakan cacing-cacing itu untuk mengenyangkan perutnya.

Tawar-menawar pun dilakukan. Akhirnya disepakati bahwa kucing memberikan seekor cacing dan kutilang menggantinya dengan sebuah bulu sayapnya. Burung kutilang itu pun terbang ke atas pohon dengan seekor cacing setelah ia menukarnya dengan satu bulunya. Ia menyantap cacing itu dengan lahap.

Karena rasa enak dan nikmatnya, burung kutilang itu pun ketagihan. Ia kembali ke gerobak yang sedang didorong oleh kucing itu. Ia menukarkan lagi satu bulunya dengan seekor cacing. Ia lakukan hal itu terus-menerus. Lama-lama bulu di sayapnya mulai habis. Tatkala, burung kutilang tidak bisa terbang, karena bulunya mulai banyak berkurang, kucing itu pun dengan sigap menyergap burung kutilang itu. Kucing itu memangsanya.

Sahabat, si jahat selalu menggunakan berbagai cara untuk memikat manusia. Satu cara tidak berhasil, ia akan menggunakan cara-cara lain yang lebih berdaya guna. Ketika mangsanya lengah, si jahat akan segera menerkamnya. Ia merenggut mangsanya itu hingga hancur berkeping-keping.

Kisah imajinatif di atas mau mengingatkan kita akan kuat kuasanya godaan dalam hidup kita. Ketika kita lengah dalam hidup ini, kita akan menjadi mangsa di jahat. Akibatnya, hidup kita akan mengalami penderitaan demi penderitaan. Kita tidak bahagia dalam hidup ini, karena kita kehilangan damai. Si jahat hanya menawarkan kedamaian semu dalam hidup ini. Damai yang sesungguhnya tidak terjadi dalam hidup kita.

Karena itu, orang beriman mesti cerdas menghadapi godaan-godaan dalam hidupnya. Kita mesti tetap membentengi diri kita dengan iman yang kuat dan teguh kepada Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa berada di pihak kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membangun damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


975

31 Oktober 2013

Menghadapi Godaan dengan Kritis

Apa yang akan terjadi ketika Anda menghadapi berbagai godaan? Anda lari? Atau Anda tetap menghadapinya dengan penuh iman?

Ada cara unik untuk memburu serigala seperti yang dilakukan oleh orang Eskimo. Orang Eskimo melumuri mata pisaunya dengan darah dan membiarkannya membeku. Kemudian ia melumuri lagi dengan darah dan dibiarkan kering dan membeku lagi. Begitulah dilakukan berulang-ulang sampai pisau tersebut tidak kelihatan seperti pisau lagi.

Lalu orang Eskimo itu menaman sebagian pisaunya dengan menghadap ke atas di dalam tanah. Serigala yang mengendus bau amis itu akan mulai menjilati pisau itu. Semakin lama, ia semakin menikmatinya hingga tanpa terasa lapisan darah tersebut habis.

Tanpa sadar serigala ini mulai menjilati mata pisau. Akibatnya, lidahnya sendiri tergores mata pisau serta mengeluarkan darah segar. Masih belum sadar, ia terus menjilati darahnya sendiri dengan penuh nafsu sampai ia kehabisan darah. Maka matilah ia!

Sahabat, dalam kehidupan kita sehari-hari kita menghadapi banyak godaan. Godaan untuk menguasai yang lain menjadi suatu godaan yang sangat besar. Untuk apa orang menguasai yang lain? Ada banyak jawaban. Namun satu hal yang pasti adalah agar orang mau mengabdi kepada dirinya. Orang ingin mencari nama, supaya tenar. Orang ingin mengatakan kepada dunia bahwa ia sungguh-sungguh berkuasa dalam dunia ini.

Akibatnya, manusia lupa dirinya sendiri ketika sedang berkuasa. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kekuasaan itu menumbuhkan nafsu yang berlebihan. Sampai-sampai bahwa kekuasaan yang penuh nafsu itu akan menghancurkan dirinya sendiri. Serigala itu penuh nafsu meminum darahnya sendiri. Ia tidak mampu mengontrol dirinya lagi. Mengapa? Karena merasa enak dan nikmat.

Godaan-godaan menawarkan kepada manusia berbagai bentuk. Orang sering terkecoh oleh godaan-godaan seperti ini. Kalau orang tidak hati-hati, orang akan dikuasai oleh godaan-godaan itu. Orang bisa mati dalam situasi seperti ini. Karena itu, yang mesti dilakukan adalah orang mesti waspada dalam hidupnya. Artinya, orang mesti melihat setiap godaan dengan teliti atau cermat. Orang tidak boleh begitu saja menanggapi godaan-godaan itu sebagai sesuatu yang baik dan benar.

Orang beriman mesti senantiasa mewaspadai setiap tawaran yang datang kepadanya. Sikap kritis menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang kritis terhadap situasi yang ada di sekitarnya, orang akan mampu menghadapi godaan-godaan itu dengan mantap.

Untuk itu, ketakwaan kepada Tuhan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Bertakwa berarti orang mampu menempatkan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama dengan penuh iman. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk merebut kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

974

27 Januari 2013

Menghadapi Godaan dengan Iman

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika godaan menerpa diri Anda? Anda menyerah dan mengikuti godaan itu? Atau Anda tetap bertahan pada integritas diri Anda?

Suatu hari, dompet seorang gadis menipis. Ia tidak perlu kuatir akan hal itu. Mengapa? Karena ia membawa kartu ATM. Karena itu, ia bergegas memasuki sebuah bilik Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Saat itu, ia sangat membutuhkan uang tunai untuk belanja sebelum pulang ke rumahnya. Ia tidak mau pulang ke rumah dulu untuk ambil uang.

Begitu masuk ke bilik ATM itu, layar monitornya bertuliskan, "Apakah Anda ingin melanjutkan dengan transaksi yang lain?" diikuti pilihan "ya dan tidak". Hal itu berarti masih ada kartu ATM yang tertinggal dalam kondisi aktif di sana. Gadis itu mulai tergoda. Ia ingin mengambil uang tanpa harus kehilangan uang.

Setelah melihat kiri dan kanan, ia memastikan bahwa tidak ada orang lain yang melihat. Ketika ia pilih tombol "ya" dan mengklik info saldo, ternyata masih ada hampir Rp 20 juta uang tersisa. Ah, godaan itu semakin kuat menarik diri gadis itu.

Ia berkata dalam hati, “Bagaimana cara mendapatkan uang itu? Ditarik tunai atau ditransfer ke rekening pribadi?”

Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi wajah gadis itu. Degup jantungnya menjadi lebih kencang. Ia melihat kiri dan kanan lagi. Ia memastikan lagi bahwa tidak ada orang yang sedang mengamati dirinya. Tetapi ada dua suara dalam hati nuraninya sepertinya sedang berebut pengaruh. Yang satu mengatakan, "Ambil saja. Kapan lagi? Ini berkatmu..." Sementara suara yang lain berkata, "Ingat posisimu! Jaga integritas!"

Gadis itu sadar. Secepat kilat ia memilih untuk menaati larangan yang lain itu. Bagaimana pun uang itu hak milik orang lain, bukan miliknya.

Sahabat, godaan tidak pernah berhenti menyerang kehidupan kita. Bahkan godaan itu menyerang dari segala lini. Kita seolah-olah tidak bisa bergerak. Kita dilingkupi oleh godaan-godaan itu. Ketika kita lengah, kita dapat saja masuk dalam perangkap godaan itu. Kita jatuh ke dalam godaan itu.

Kisah di atas menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap bertahan pada kebenaran. Kita mesti berani mengatakan ‘tidak’ terhadap tawaran menggiurkan yang ditujukan kepada kita. Kita dituntut untuk memilih yang baik dan benar yang membawa kebahagiaan bagi diri kita. Ketika kita jatuh ke dalam godaan, dosa menjadi bagian dari hidup kita.

Orang yang hidup dalam dosa mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang tertekan oleh dosa-dosa itu. Orang tidak merasa bebas dalam menjalani hidup ini. Selalu saja suara kebenaran menuntut dirinya untuk berlaku jujur.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah mempertahankan integritas pribadi. Ketika orang berani membuat komitmen untuk hidup baik dan benar, orang mesti menepatinya. Orang mesti berusaha keras untuk tetap setia pada komitmen itu. Kalau hal ini yang dilakukan, orang akan mengalami damai dalam hidupnya. Sukacita dalam menjalani hidup ini menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Seorang bijaksana berkata, “Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya” (Amsal 11:6). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

12 November 2010

Menjauhkan Diri dari Godaan-godaan Iblis



Suatu hari, Iblis mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas-perkakas kerjanya. Pada saat penjualan, seluruh perkakasnya dipajang untuk ditonton calon pembeli. Lengkap dengan harganya yang ditempelkan pada setiap perkakas. Seperti kita masuk ke toserba, semua barang yang dijual tampak sanggat menarik. Semua barang tampak sangat berguna sesuai dengan fungsinya. Harganya pun tidak mahal.

Barang-barang yang dijual si Iblis antara lain dengki, iri hati, tidak jujur, tidak menghargai orang lain, tidak tahu terima kasih, malas, dendam dan masih banyak yang lain lagi.

Di suatu pojok display ada sebuah perkakas yang bentuknya sederhana. Sudah agak aus, tetapi harganya sangat mahal. Bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan yang lainnya.

Seorang calon pembeli bertanya kepada Iblis, “Ini alat apa namanya?”

Sambil tersenyum, Iblis menjawab, “Ini namanya Putus Asa.”

Pembeli itu penasaran. Ia bertanya lagi, “Mengapa harganya mahal sekali, padahal sudah aus?”

Iblis menjelaskan, “Ya, karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya bisa dengan mudah masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini dibandingkan dengan alat lain. Begitu saya berhasil masuk ke dalam hati manusia, saya dengan sangat mudah melakukan apa saja yang sangat saya inginkan. Barang ini menjadi aus, karena saya sering menggunakannya hampir kepada semua orang. Apalagi kebanyakan manusia tidak tahu kalau putus asa itu milik saya.”

Sahabat, setiap hari kita menyaksikan budaya kematian. Mengapa semua itu terjadi? Karena manusia tergiur oleh indah dan menariknya iklan si iblis yang dihadirkan dalam berbagai bentuk. Begitu banyak orang mesti mengakhiri hidupnya, karena tidak tahan terhadap begitu beratnya hidup ini. Apa yang mereka miliki untuk melanjutkan hidup ini musnah, karena digadaikan dengan bujuk rayu si iblis.

Begitu banyak orang mesti menderita sebagai akibat dari dendam kesumat oleh bangsa-bangsa tertentu. Dendam menjadi senjata ampuh bagi iblis untuk melumpuhkan kehidupan manusia. Yang kemudian hidup di tengah-tengah manusia adalah budaya kematian. Sementara manusia larut dalam jerit tangis, si iblis bersuka cita dalam pesta pora kemenangan.

Karena itu, manusia mesti mensiasati hidupnya. Manusia mesti tidak boleh mudah tergoda oleh iklan-iklan murahan yang mematikan dari iblis. Manusia tidak boleh mudah tergiur oleh bujukan-bujukan yang manis dari si jahat. Untuk itu, manusia mesti memupuk iman yang semakin kuat kepada Tuhan. Hanya dengan membangun iman yang semakin kuat, orang akan mengembangkan hidup ini untuk lebih mencintai.

Orang beriman mesti selalu sadar akan cara hidupnya bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman itu senantiasa menjauhkan diri dari dendam dan iri hati. Orang beriman mesti menjauhkan diri dari putus asa yang hanya menghancurkan hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan bagi banyak orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 20.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

549

06 Maret 2010

Ketika Manusia Tergiur Godaan


Ada seorang baik hati yang ingin menunjukkan kebaikannya. Pada suatu hari dia memperhatikan kondisi malang dari seorang tukang kayu. Orang baik yang kaya itu memanggil tukang kayu yang miskin itu dan menyerahkan wewenang kepadanya untuk membangun sebuah rumah yang indah.

Ia berkata kepada tukang kayu itu, “Saya inginkan agar rumah ini menjadi sebuah rumah yang sungguh indah. Gunakan saja bahan-bahan terbaik, pekerja-pekerja terbaik dan jangan menghemat.”

Orang kaya itu mengatakan bahwa dia akan mengadakan perjalanan dan mengharapkan, agar rumah itu selesai dibangun pada saat dia kembali.

Tukang kayu itu melihat hal ini sebagai suatu kesempatan berharga yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Karena itu, dia menghemat bahan-bahan, menyewa pekerja-pekerja yang bermutu rendah dan dibayar rendah. Ia menutupi kekurangan mereka dengan cat dan memotong sudut-sudut sedapat mungkin.

Ketika orang baik yang kaya itu pulang, tukang kayu itu menyerahkan kunci rumah kepadanya. Ia berkata, “Saya telah mengikuti petunjuk tuan dan membangun rumah seperti yang tuan katakan.”

Orang kaya itu tersenyum memandangnya dan berkata, “Saya sangat senang.” Kemudian ia menyerahkan kembali kunci rumah baru itu kepada tukang kayu itu. Ia berkata, “Ini kunci-kuncinya. Inilah milikmu. Saya sudah menyuruh engkau membangun rumah untuk dirimu sendiri, engkau dan keluargamu harus memiliki itu sebagai hadiah dari saya.”

Tahun-tahun selanjutnya tukang kayu itu tidak pernah berhenti menyesal, karena telah menipu diri sendiri. Dalam rasa sesal yang mendalam, ia berkata, “Kalau saya tahu bahwa saya membangun rumah ini untuk diri saya, tentu akan jadi lain...”

Kejujuran dan kesetiaan ternyata masih menjadi barang mahal di dunia ini. Kesetiaan pada janji atau komitmen begitu mudah luntur, karena orang mudah tergiur oleh godaan-godaan. Orang tergiur untuk memiliki harta yang banyak, sehingga ia lupa akan kesetiaannya pada janji yang pernah diucapkannya. Hal ini terjadi di mana-mana di berbagai bidang kehidupan.

Dalam kehidupan berkeluarga, misalnya. Orang mudah mengingkari janji perkawinan yang telah mereka ucapkan. Cinta yang mereka ucapkan itu ternyata hanya manis di bibir saja. Setelah sekian tahun membangun hidup berkeluarga, terjadilah perselingkuhan. Suami hidup dengan perempuan lain. Istri mencari gandengan baru.

Karena itu, dibutuhkan kejujuran dalam hal-hal yang nyata. Orang mesti jujur menampilkan diri di hadapan sesamanya. Suami istri mesti tampil apa adanya. Tidak menyimpan misteri sendiri-sendiri. Kalau masih menyimpan rahasia sendiri-sendiri nanti menyesal kalau terjadi perceraian. Pepatah mengatakan bahwa sesal kemudian tidak berguna. Untuk itu, mari kita bangun kejujuran dari hati yang tulus dan bening. Bukan suatu kejujuran semu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

342
Bagikan

14 Februari 2010

Waspada terhadap Godaan


Seorang anak laki-laki Indian merasa bahwa dia siap menjadi pria dewasa. Kepala suku berkata, “Untuk menjadi pria dewasa, kamu harus mampu bertahan di pegunungan selama satu minggu. Jika kamu berhasil hidup, maka kamu dianggap sebagai pria dewasa.”

Pemuda itu pun pergi ke gunung untuk bisa menjadi seorang pria dewasa. Ketika dia mendaki gunung yang paling tinggi, dia melihat seekor ular derik sedang berbaring di atas salju. Pemuda itu terkejut, ketika ular itu berbicara kepadanya. “Tolong saya,” ujar ular yang bergetar kedinginan itu. “Saya kedinginan, tersesat dan jauh dari rumah. Tolong angkat saya dan bawa saya ke lembah yang hangat. Jika saya tetap di sini, saya pasti akan mati.”

Pemuda itu mendekati ular itu. Dia sangat berhati-hati. Pemuda itu berkata, “Saya tahu jenis ular sepertimu. Jika saya mengangkatmu, pasti kamu menggigit saya.”

Ular itu berkata, “Saya tidak akan menggigitmu. Saya akan menjadi temanmu, jika kamu mau membawa saya turun gunung. Percayalah kepada saya.”

Pemuda itu berpikir bahwa ular yang bisa berbicara pasti ular yang spesial. Ia pun mengangkat ular itu lalu membawanya ke lembah yang hangat. Begitu dia meletakkan ular itu ke tanah, tiba-tiba saja ular itu menggeliat dan memagut lehernya. Pemuda itu berteriak kesakitan. Ia berteriak, “Kamu menggigit saya. Kamu berjanji bahwa kamu tidak akan menggigit saya. Sekarang saya akan mati!”

Dengan desis iblis, ular itu berkata, “Mau tidak mau saya harus melakukannya. Kamu sudah tahu persis apa yang akan saya lakukan, kalau kamu mengangkat saya. Selamat tinggal, tolol.”

Ini kisah tragis sebuah perhatian. Pertolongan yang begitu baik dibalas dengan kekejaman. Seperti itu pula kerja dosa. Dosa mencobai kita dan menarik kita, agar kita mendekat. Dosa menyebarkan kebohongan. Dosa membujuk kita untuk melawan akal sehat dan menguasai kita. Dosa meyakinkan kita untuk mempercayainya. Itulah dosa. Dosa justru menunjukkan kuasanya yang paling mematikan, jika kita mengira dia adalah teman kita.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin lebih hati-hati terhadap godaan-godaan di sekitar kita. Banyak orang tentu tidak ingin jatuh ke dalam dosa. Mengapa? Karena dosa itu menyebabkan penderitaan. Namun tidak jarang pula banyak orang tidak tahan terhadap godaan-godaan di sekitarnya. Sudah tahu kalau menggunakan narkoba itu merusak diri dan generasi penerus bangsa, tetapi banyak orang masih nekat menggunakannya.

Karena itu, kita senantiasa diajak untuk selalu waspada terhadap setiap bentuk godaan di sekitar kita. Ada begitu banyak godaan yang dapat membuat kita lengah terhadap bisikan suara hati kita yang jernih. Karena itu, kita mesti selalu mendengarkan suara hati kita yang jernih.

Setiap hari kita mengalami betapa hidup ini begitu indah. Tentu saja indahnya hidup ini tidak tercipta hanya dari yang baik-baik saja. Hidup ini juga tercipta dari kesulitan-kesulitan hidup. Karena itu, mari kita syukuri aneka pengalaman hidup ini. Kita mengsyukurinya karena aneka pengalaman itu mampu membentuk hidup kita seperti sekarang ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

320

Bagikan

08 Agustus 2009

Waspada terhadap Godaan





Pada suatu waktu ekor seekor serigala terperangkap pada sebuah jerat. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi tidak berhasil. Ia berteriak minta tolong sampai parau suaranya, tetapi tak ada seekor binatang pun yang datang menolongnya. Akhirnya dalam keputusasaan, daripada para pemburu menangkapnya ia memutuskan untuk meninggalkan ekornya. Ia kemudian kembali ke sarangnya tanpa ekor. Dalam perjalanan ia melewati sebuah sungai. Ia berhenti untuk melihat dirinya di dalam air yang jernih. Dia terkejut dengan dirinya yang begitu jelek.

“Oh, apa nanti kata binatang-binatang lain?” gumamnyya dalam hati. “Mereka tentu akan mengejekku.”

Akan tetapi bagaimanapun karena tidak ada jalan lain, serigala itu memutuskan untuk tetap pulang. Ketika bertemu dengan teman-temannya dia dengan sombong bertanya, “Apakah kalian suka dengan keadaanku sekarang? Aku memutuskan untuk meninggalkan ekorku karena selama bertahun-tahun membawanya ternyata menjadi suatu beban. Sekarang aku dapat berjalan lebih bebas. Mengapa kalian tidak mencobanya? Apakah kalian tidak sadar akan kekurangan pada diri kalian?”

Serigala-serigala muda tertarik dengan gagasan itu. Mereka kemudian berpikir untuk mengikuti gagasan itu. Akan tetapi seekor serigala tua yang biasanya diam mendengarkan kini angkat bicara. Dia berkata, “Rekan-rekanku, sebelum kita melakukan rencana itu tunjukkanlah apakah mungkin kita memasang ekor-ekor itu apabila kita ingin mempunyai ekor lagi.”

Tentu serigala itu tidak dapat menjawabnya. Serigala-serigala muda itu akhirnya menyadari bahwa mereka ditipu. Mereka kemudian pergi sambil menertawakan si serigala tanpa ekor itu.

Banyak godaan yang kita hadapi dalam dunia ini. Godaan-godaan itu sering memukau mata manusia. Orang yang tidak tahan terhadap godaan akan segera menanggapi godaan-godaan itu. Padahal godaan-godaan sering mengakibatkan manusia jatuh ke dalam dosa. Kisah di atas menunjukkan suatu godaan yang begitu menarik perhatian. Kalau saja serigala-serigala muda itu tergiur oleh godaan itu, mereka akan menyesal di kemudian hari. Mereka akan kehilangan ekor yang merupakan bagian yang sangat berharga dalam hidup mereka.

Untuk itu, orang mesti berlatih terus-menerus untuk menangkal godaan-godaan. Orang mesti bijaksana dalam menghadapi setiap godaan, sekecil apa pun godaan itu. Sering orang jatuh ke dalam dosa, karena godaan yang kecil. Awalnya dirasa tidak apa-apa. Kalau kesadaran datang terlambat, akibatnya akan fatal bagi hidup. Lama-kelamaan orang akan merasa kebal terhadap dosa-dosa yang dibuatnya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti berpikir sebaik mungkin sebelum mengambil suatu tindakan yang sangat berpengaruh bagi hidup. Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Keputusan yang kita ambil itu memiliki dampak bagi hidup kita dan banyak orang.

Untuk itu, kita mesti ikut sertakan Tuhan dalam mengambil setiap keputusan untuk hidup kita dan hidup sesama kita. Mari kita belajar untuk senantiasa tidak mudah tergoda oleh berbagai tawaran yang menggiurkan. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

124

Menabur Kebaikan dalam Hidup


Di suatu perkampungan puncak gunung Pegunungan Bintang, hiduplah sekelompok orang yang masih murni. Mereka belum mengenal kemajuan modern. Mereka masih mengandalkan hasil alam. Mereka percaya bahwa alam dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Suatu hari datanglah seorang dari negeri maju. Melihat kondisi masyarakat di perkampungan itu, ia merasa prihatin. Lantas timbul keinginannya untuk memajukan masyarakat di perkampungan itu. Ia mulai memperkenalkan bibit-bibit pertanian. Yang paling menarik adalah bibit yang terbungkus dalam plastik putih, yaitu ‘bibit angin’.

Menurut orang itu, kalau bibit angin itu ditabur, akan tumbuh mata angin yang menyemburkan angin segar. Hasilnya, udara akan makin segar dan menyehatkan. Puluhan bahkan ratusan bungkus bibit angin ludes. Bahkan masyarakat di kampung itu rela mengeluarkan kekayaan mereka untuk membeli bibit angin.

Selang beberapa hari, udara pegunungan mulai terasa sejuk, karena bibit angin mulai tumbuh. Angin mulai bertiup dari bibit kecil itu kian ke mari sampai pegunungan lain. Bulan berganti bulan. Tumbuhan itu semakin besar. Lobang untuk keluar angin pun semakin besar. Akibatnya, bukan lagi angin yang keluar. Yang keluar adalah badai angin yang tak terkendali. Masyarakat pun mulai ketakutan. Angin yang ditabur, ternyata badai yang dituai.

Seringkali manusia tidak bisa mengendalikan diri. Sudah memiliki barang-barang kebutuhan hidup yang sudah melimpah, tetapi masih juga ingin memiliki barang-barang itu. Mengapa Komisi Pemberantasan Korupsi mesti dibentuk oleh DPR? Jawabannya, karena manusia tidak bisa mengendalikan diri. Korupsi yang terjadi itu merupakan akibat dari kurangnya manusia mengendalikan dirinya. Manusia tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Yang diinginkan itu belum tentu sudah menjadi kebutuhan hidup.

Karena itu, dalam hal ini orang mesti sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan hidupnya. Keinginan manusia itu mesti diatur dan dikendalikan. Tujuannya agar manusia tidak dikuasai oleh keinginan itu. Orang yang berhasil menguasai keinginannya akan menikmati hidup ini dengan damai dan tenteram. Orang tidak dikejar-kejar oleh keinginan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita senantiasa berada di bawah kontrol diri kita. Untuk itu, kita perlu bertanya diri, apa yang sesungguhnya kita butuhkan dalam hidup ini? Mengapa sesuatu itu ingin kita miliki?

Kalau kita berani bertanya diri tentang kebutuhan hidup kita, saya yakin kita akan lebih kritis dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Kita akan menjadi orang-orang yang mampu mengendalikan diri kita terhadap setiap bentuk godaan. Mari kita berusaha terus-menerus menaburkan benih kebaikan dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak menuai badai yang menghancurkan diri kita sendiri. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
123

18 Juli 2009

Arahkan Hati dan Hidup kepada Tuhan


Seorang dukun diperintahkan oleh hakim sebuah pengadilan untuk mengembalikan uang seorang perempuan kliennya. Soalnya, perempuan itu kecewa karena jampi-jampi yang ia berikan gagal membuat mantan pacar perempuan itu kembali ke pelukannya. Dukun itu harus mengembalikan 10 juta rupiah plus denda sebanyak dua juta rupiah.

Dukun itu kena batunya. Sebelumnya banyak orang yang kena tipu oleh jampi-jampinya. Namun mereka tidak menuntut dukun itu ke pengadilan. Baru kali ini ia dituntut oleh perempuan muda yang kehilangan pacar itu.

Keinginan untuk mendapatkan kembali pacarnya itu membuat perempuan muda itu berjuang mati-matian. Berbagai cara ia lakukan. Termasuk mendatangi dukun. Tetapi ia tertipu. Biaya besar yang ia keluarkan itu ternyata tidak mendatangkan hasil yang memadai. Ia kecewa dan menuntut dukun itu ke pengadilan.

Dalam dunia yang serba modern ini ternyata masih ada orang yang percaya kepada hal-hal yang tidak masuk akal. Kisah di atas menunjukkan bahwa janji manis sang dukun itu ternyata hanya isapan jempol belaka. Ia bukan Tuhan yang punya kuasa untuk mengembalikan sang kekasih yang sudah berpindah tangan.

Persoalannya adalah mengapa orang begitu mudah percaya kepada hal-hal yang tidak masuk akal? Jawabannya adalah karena orang kurang punya iman. Orang mudah mengambil jalan pintas. Orang tidak berpegang teguh pada imannya akan Tuhan. Karena itu, orang mudah goyah dalam hidupnya. Orang mudah terjerumus ke dalam kegelapan hidup.

Apa yang mesti dilakukan oleh orang beriman? Tetaplah bertahan dalam iman akan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan itu tidak ingin menyakiti hati manusia. Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hidup manusia. Tuhan senantiasa menyertai dan melindungi manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini.

Sebagai orang beriman, hati kita mesti selalu diarahkan kepada Tuhan. Banyak godaan yang akan mengganggu pikiran dan hidup manusia. Banyak tawaran kemudahan untuk dipegang oleh manusia. Namun kita mesti sadar bahwa godaan-godaan dan tawaran-tawaran itu sering membuat manusia menderita.

Orang yang mudah tergiur oleh janji untuk mendapatkan kekayaan secara mendadak biasanya akan mengalami penderitaan. Biasanya bukan untung yang diperoleh, tetapi justru kebuntungan yang dialami dalam hidup ini. Akibatnya, orang mengalami stress dalam hidupnya. Orang mengalami penderitaan demi penderitaan.

Karena itu, mari kita arahkan hidup hanya kepada Tuhan semata. Percayalah Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hidup kita. Tuhan selalu mengarahkan hidup kita kepada kebahagiaan dan kebaikan. Tuhan membekati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB (92)

15 Juli 2009

Bahaya Kenikmatan Semu

Ada seorang pria yang saat berusia 15 tahun mengalami kecelakaan yang membuat tulang punggungnya patah. Ia begitu menderita dan harus terbaring di tempat tidurnya selama bertahun-tahun dalam keadaan tidak berdaya. Dalam sehari tidak pernah sekalipun ia luput dari rasa sakit yang benar-benar menyiksanya.

Walau demikian, pria ini tidak pernah mengeluh dan selalu mendukung pelayanan doa-doa atas dirinya. Pada suatu hari, ada seorang pendoa terkenal mengunjungi tempat pria ini dirawat, yaitu di sebuah rumah sederhana. Ketika pendoa ini masuk ke dalam kamarnya, ia merasa bahwa tempat itu demikian dekat dengan sorga. Ada suatu sukacita mengalir dari dalamnya.

Pendoa itu bertanya kepada pria itu, "Apakah iblis pernah menggoda pikiranmu dengan mengatakan bahwa tidak ada gunanya berbakti kepada Tuhan?"

Pria tersebut menjawab, "Oh, tentu saja. Iblis datang berulang-ulang menggodaku dan berkata kalau benar Tuhan mengasihi engkau, tentu engkau tidak terbaring begini. Engka akan menikmati kesenangan seperti teman-temanmu yang lain, kaya-raya, segar bugar dan sehat walfiat. Kalau Tuhan itu baik, Dia tentunya bisa mencegah kecelakaan fatal itu terjadi."

Pendoa itu terdiam memandang pria itu. Ia merasa iba. Kenapa pria itu mesti dicobai iblis? Bukankah ia tak berdaya?

Pria itu melanjutkan, "Apabila iblis datang dengan cobaannya seperti itu, aku hanya tersenyum. Aku membawanya dalam doa. Aku merasa dikuatkan oleh Tuhan dalam doa.”

Dalam hati, pendoa itu mengagumi pria ini. Ia tidak memberi tempat bagi iblis di hatinya. Ia selalu memberi tempat untuk Tuhan dalam lubuk hatinya.

Godaan sering kita alami dalam hidup ini. Apalagi di kala kita mengalami susah dan derita. Di kala kita sendirian dan kesepian, iblis ingin ikut nimbrung. Iblis menawarkan berbagai keindahan dan kenikmatan dunia. Namun bayarannya adalah ketidaksetiaan kita kepada Tuhan. Padahal kasih Tuhan itu tak terbatas. Kasih Tuhan tidak menuntut dari kita.

Iblis yang jahat sering menuntut kita untuk meninggalkan hidup kita yang bahagia. Ia menawarkan kebahagiaan yang lain, yaitu suatu kebahagiaan sesaat. Kenikmatan sesaat itu berbahaya bagi hidup kita. Mata kita mudah tersilau oleh nafsu egoisme kita yang jahat.

Kisah tadi menunjukkan kepada kita bahwa iman dan penyerahan diri kepada Tuhan lebih indah dalam hidup ini. Iman yang dalam itu membawa kita untuk tetap setia kepada Tuhan. Kita dapat menolak usaha-usaha iblis yang mengganggu hidup kita dengan godaan-godaannya itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mementingkan nilai-nilai kehidupan yang lebih bermakna. Kenikmatan semu boleh berseliweran di sekitar kita. Tetapi yang kita utamakan dalah kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan dan sesama. Mari kita berusaha untuk senantiasa setia kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
(86)